Kurasu no Daikirai na Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta - Jilid 5 Bab 4 - Lintas Ninja Translation

Bab 4
Perang

Tidak bangun lebih awal pada hari Minggu pagi dan tidur sesuka hati merupakan harta karun yang mutlak. Karena sudah berjalan jauh kemarin, Saito merasa pulih karena dapat tidur selama itu. Tetapi tiba-tiba, Saito merasakan kehadiran di dekatnya, jadi ia membuka matanya. Matahari telah terbit dan cahaya yang menyenangkan masuk dari jendela di antara gorden. Di tengah suasana yang menyenangkan ini, Akane meletakkan kedua tangannya ke sudut tempat tidurnya, dan tersenyum pada Saito. Akane memasang ekspresi lembut bak seorang dewi, yang membuat Saito merinding. Semua rasa kantuk Saito segera hilang, lalu ia bangun dari ranjang.

"A-Apa yang kamu lakukan…?"

"Aku cuma menikmati wajah tidurmu yang bodoh. Mulutmu itu terbuka lebar, dan meneteskan air liur seperti pegas, berguling-guling seperti seekor babi di kubangan lumpur. Ini buruk, setidaknya."

Lupakan senyuman lembut bak seorang dewi tadi, Akane segera menembakkan serangan hinaan tanpa henti pada Saito di pagi hari. Seperti yang kamu harapkan dari "Si Cantik selama dia tetap diam." Karena itu, setiap kali dia berbicara, kata-katanya selalu sedingin es.

"Kalau kamu punya masalah dengan itu, jangan melihatnya?" Saito menggerutu.

"Tetapi itu seru saat melihat wajah seekor babi yang sedang tidur saat berada di kebun binatang, bukan?"

"Baiklah, aku serius akan membawa masalah ini ke pengadilan. Dan aku punya pengacara yang hebat, kamu dengar aku?"

"Dan aku yang akan menjadi hakimnya!"

"Kalau begitu, bagaimana kamu akan bersikap netral?!" Saito meninggalkan ruang tamu untuk mencuci muka.

Sarapan sudah disiapkan, dengan Akane menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalam mangkuk sup. Uap yang mengepul membawa rasa yang lezat, dan Saito tidak mau membuang waktu sedetikpun untuk mengisi pipinya dengan sendok porselen. Lobak bergaris tipis yang telah direbus hingga setengah transparan, sehingga mudah dikunyah. Telur itu terbuka dengan indah di mulut Saito, cocok dengan kepahitan tanaman honeywort dengan indah. Garam dan kaldu sup itu memang sederhana, tetapi itu menyembuhkan semua sisa kelelahan yang dimiliki Saito.

"…Ini lezat."

"Bagus. Aku kira kamu sudah banyak makan makanan enak tadi malam, tetapi perutmu mungkin sakit dan lelah."

"Iya. Aku berpikir untuk melewatkan sarapan, tetapi aku masih bisa makan beberapa mangkuk sup ini."

"Jangan makan terlalu banyak. Kamu akan mati."

"Apa kamu meracuninya?!"

"Tidak sama sekali, makan terlalu banyak itu tidak baik buat tubuhmu."

Dia mengkhawatirkan kesehatanku…?

Saito bingung, tetapi ia ingat kalau Akane selalu memperhatikan kesehatan mereka. Dan nyatanya, Saito merasa jauh lebih sehat sekarang ketimbang saat ia masih tinggal bersama orang tua kandungnya, dan karena kebiasaan higienis Akane yang ketat, mereka jarang sekali batuk dan bersin. Seperti yang kamu harapkan, Akane benar-benar bertujuan untuk menjadi dokter.

"Apa kamu punya rencana buat hari ini, Saito?"

"Tidak juga. Cuma kepikiran buat baca buku saja, mungkin."

"Kalau begitu bagaimana kalau kita menonton banyak film bersama? Kita mungkin tidak bisa keluar rumah, tetapi kita pasti tidak akan apa-apa kalau di dalam rumah kita saja."

"Kamu mau kita menghabiskan waktu bersama?"

Biasanya, Akane akan langsung menyangkal pertanyaan seperti itu, namun…

"Iya, aku juga tidak akan keberatan menonton beberapa film yang ingin kamu tonton." Jawab Akane tanpa ragu, sambil mengisi mangkuk di tangannya dengan nasi lagi.

Mengapa dia sangat baik hari ini...? Apa dia mencoba untuk membuatku lengah…?

Tingkat kewaspadaan Saito naik menjadi sepuluh, tetapi Akane tidak mengeluarkan niat membunuh, apalagi rasa permusuhan. Sebaliknya, Akane tampak dalam suasana hati yang murni, menatap Saito dengan senyuman yang enak dipandang di wajahnya. Mungkin Akane sangat senang karena Saito telah pulang lebih awal tadi malam?

"…Dimengerti. Kita juga dapat menonton beberapa film yang kamu mau tonton."

"Oke, kalau begitu mari kita tonton 'Nyamannya! 365 Hari Bersama Kucing – Versi Tanpa Dipotong'…"

"Mari kita tetapkan kedua pilihan kita dengan durasi yang sama! Kita akan lulus pada tingkat ini!" Saito menekankan cuma untuk memastikan.

Mereka menyelesaikan sarapan mereka dan menuju ke sofa. Saito membuka keripik yang dibelinya tempo hari dan meletakkannya di atas meja. Sementara itu, Akane membawa piring dengan beberapa kukis berbentuk kucing.

"Aku membuat kukis-kukis ini pagi ini. Mari kita memakannya sambil menonton film."

"Kamu benar-benar menyiapkannya, ya?"

Kalau saja Saito menolak tawaran untuk menonton film bersama, ia mungkin akan melihat piring itu dari dekat.

"Satu dari sepuluh kukis ini itu kukis yang spesial, jadi berhati-hatilah."

"…Spesial dalam hal apa?"

"Karena di dalamnya ada…Tidak, aku tidak bisa memberi tahumu!"

"Sekarang kamu membuatku berada di ujung kursiku... karena rasa ngeri dan takut."

"Nyawamu tidak akan ada dalam bahaya, jadi tenang saja."

"Fakta kalau kamu mesti menekankan itu cuma akan membuatku semakin takut."

Saito menyalakan televisi, mengoperasikan konsol gim untuk membuka layanan lansiran (streaming service) lalu ponselnya bergetar. Itu merupakan pesan dari Himari.

'Yahoooo! Apa yang sedang kamu kamu sekarang? Bolehkah aku menelponmu?'

'Aku agak sibuk sekarang.'

'Membaca?'

'Tidak juga, tidak.'

Akane melihat Saito bertukar pesan, memberi Saito tatapan bersalah.

"Bermesraan dengan Himari lagi?"

"Sama sekali tidak. Tetapi aku juga tidak bisa mengabaikannya, bukan?"

"Memang begitu katamu, tetapi kalian saling mengirim stiker kemarin, bukan?"

"Ka-Kamu melihat itu?"

Saito merasa Akane telah mengungkapkan rahasia terdalam Saito. Saito baru saja terjebak dalam kesenangan Himari sehingga ia menggunakan beberapa stiker yang ia punya, tetapi ia tahu kalau itu tidak sesuai dengan citranya.

"Aku melihatnya! Kalian terlihat seperti pasangan yang serasi!"

"Kami cuma mengirim stiker satu sama lain, kamu melebih-lebihkan, ah."

"Iya, cukup dekat! Da-Dan ada foto mesum yang terlibat!"

"Aku tidak mengirim satupun!"

"Tetapi Himari yang mengiriminya! Kamu tidak menyimpannya, bukan?!"

"Siapa yang mau melakukan itu?!"

Wajah Akane menjadi merah padam saat dia meraung.

"Aku yakin kamu menggunakan foto itu untuk sesuatu yang keterlaluan saat aku tidak melihatnya!"

"'Keterlaluan' apa yang kamu maksud?!"

"Se-Seperti memanggil iblis…?"

"Maksudmu aku akan menggunakan teman sekelasku sebagai tumbal?!"

"Kamu kan memang tipe cowok yang seperti itu!"

Tampaknya Akane kembali ke sikapnya yang biasa. Akane mengunyah kukis yang dia buat seperti monster yang memakan sisa-sisa manusia. Saito menjadi khawatir kalau Akane mungkin akan memakannya secara keseluruhan saat Akane sedang mengunyah kukis itu.

Dia tidak… cemburu, bukan?

Mengetahui ini Akane, seharusnya itu tidak mungkin. Akane mungkin tidak tahan dengan kenyataan kalau Saito mungkin akan mencuri sahabatnya darinya. Karena Saito tidak mau menyodok sarang tawon lebih jauh lagi, Saito memutuskan untuk meletakkan ponselnya di atas meja. Suara lembut Akane yang Saito dengar kemarin pasti cuma imajinasinya belaka. Saito merasa Akane itu mirip dengan cewek itu, jadi mungkin lebih baik bertanya langsung pada Akane tentang hal itu.

"Kita pertama kali bertemu di SMA, bukan?"

"Hah…? I-Iya…?"

"Kalau begitu saat kamu menyapaku di hari pertama kita, Mengapa kamu bilang 'Sudah lama sekali ya, Houjo-kun'…?"

"…Hah? Kamu ini bicara apa? Aku tidak ingat itu." Ekspresi Akane jadi menegang.

"Tidak, aku yakin kalau aku mendengarnya. Aku tidak meragukan ingatanku."

"Mungkin aku mengira kalau kamu itu orang lain? Kamu tidak terlalu menonjol, jadi meskipun aku sudah mengenalmu sebelumnya, aku tidak akan mendekatimu." Akane berdiri dan membalikkan punggungnya ke arah Saito.

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Aku sedang merasa tidak enak badan, sekarang. Aku akan beristirahat di ruanganku." Akane tidak berbalik dan cuma melangkah keluar dari ruang keluarga.

Aku rasa sepertinya dia itu bukan Akane…

Kalau itu memang benar, kalau begitu siapa cewek itu? Di mana dia sekarang? Saito tidak tahu.


Akane menerobos masuk ke ruang belajarnya, karena hatinya sedang kacau.

"Mengapa… kamu ingat itu…"

Wajah Akane terasa panas seperti terbakar. Kalau Akane tetap di ruang keluarga bersama Saito lebih lama lagi, Saito akan melihatnya, dan dia takut akan hal itu.

"Meskipun kamu tidak ingat apa yang lebih penting…" Akane menggigit bibirnya.


Pertama kalinya Sakuramori Akane bertemu Houjo Saito yaitu saat pesta kelulusan sekolah dasar. Nenek Akane, Chiyo mengajaknya ke kediaman pribadi Keluarga Houjo. Makanannya sangat mewah dan para tamunya berkilauan dengan dikelilingi oleh aksesori. Akane yang masih muda saat itu benar-benar bingung. Mereka tampak seperti selebriti yang Akane lihat di televisi, dan seorang pimpinan perusahaan terkenal sedang mengobrol dengan seorang pengisi suara wanita.

Akane mungkin telah melihat orang-orang macam itu sebelumnya di ruang tamu neneknya, tetapi mereka itu cuma pengunjung toko neneknya, dan Akane belum berpengalaman dengan pertemuan besar macam itu. Akane mengenakan gaun baru yang dibelikan oleh Chiyo untuknya dan mengikat rambutnya dengan gaya klasik, namun dia masih merasa kalau itu bukan tempatnya. Tidak butuh waktu lama buat Chiyo untuk menghilang, jadi Akane tidak yakin apa yang mesti dilakukan. Akane gugup, dan juga tidak tahan mengobrol dengan para tamu lain. Akane merasa seperti kucing nyasar.

Tidak butuh waktu lama buat Akane untuk merasa kelelahan, jadi dia lari ke balkon lalu dia bertemu dengan Saito. Saito mengenakan setelan yang ketat, menguap bosan saat ia melihat sekelilingnya. Saito merupakan penerus masa depan Houjo Group, serta bintang utama pada pesta ini. Namun, sepertinya Saito sendiri tidak menikmati pesta ini.

"Ha-Halo."

Sejak mata mereka saling bertatapan, Akane tidak punya pilihan lain selain menyambut Saito.

"Hai. Sepertinya kamu sedikit lelah?"

"I-Iya. Aku belum pernah pergi ke pesta semacam ini, jadi aku merasa sedikit lelah. Aku ingin mencari udara segar, makanya aku keluar…"

Akibat betapa gugupnya perasaan Akane, dia akhirnya berbicara dengan sangat sopan. Akane sedang mengobrol dengan seseorang yang seusianya, tetapi rasanya seakan-akan mereka hidup di dunia yang sama sekali berbeda. Akane telah melihat bagaimana semua orang terkenal di pesta itu berbaris untuk menemui Saito.

"Aku tidak ingin menghalangi, jadi aku akan balik la—."

"Tunggu!" Saito meraih bahu Akane saat dia berniat untuk pergi menjauh.

"A-Ada apa ya?"

"Ah maaf. Sebenarnya, aku tidak dapat berurusan dengan orang-orang itu lagi. Ini semua tentang bersikap sopan dan tidak membuat mereka marah, dan aku muak dengan itu. Jadi kalau kamu punya waktu, bisakah kita mengobrol sebentar?"

"…Tentu saja!"

Saito memang bilang sebentar, tetapi mereka akhirnya mengobrol sepanjang waktu sampai mereka berdua meninggalkan pesta. Tidak seperti cowok lain yang Akane ajak mengobrol sebelumnya, proses berpikir Saito itu jauh lebih dewasa. Sejarah, filsafat, dan bahkan sastra, Saito punya banyak pengetahuan di semua bidang yang memungkinkan, menceritakan kisah-kisah menarik pada Akane tanpa henti. Berbeda dengan teman-teman sekelas Akane yang cuma tertarik pada permen karet atau sepak bola.

Alasan Akane kebanyakan sendirian di sekolah bukan cuma karena dia buruk dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena Akane berada di puncak peringkat sekolahnya dalam hal nilainya, tidak ada yang benar-benar berharap untuk berada di tingkat yang sama dengannya. Walaupun Akane memberi tahu teman sekelasnya tentang sesuatu yang menarik yang dia baca di buku, teman sekelasnya cuma akan menunjukkan kebingungan. Metafora atau sarkasme juga tidak akan berhasil. Itu seperti kata-kata yang tidak sampai pada mereka. Namun, Saito sangat mengerti apa yang Akane obrolkan. Dan bukan cuma itu, Saito bahkan mengajari Akane segala macam hal baru.

Ini seru! Sangat seru!

Ini merupakan kali pertama hati Akane menari dengan gembira saat mengobrol dengan seorang cowok. Gestur Saito, postur berdirinya, aroma tubuhnya, ekspresinya saat ia tersenyum, dan nada suaranya, semuanya membuat dada Akane merinding. Waktu berlalu begitu cepat, dengan Akane menangis dalam perjalanan pulang di dalam taksi. Akane ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Saito, tetapi dia mesti pulang.

Dan karena Akane terlalu malu, dia tidak bisa meminta informasi kontak Saito. Akane mungkin tidak akan pernah bisa bertemu dengan Saito lagi. Akane itu cuma warga negara biasa, dan bagaimanapun juga Saito itu seseorang dengan banyak pengaruh di Keluarga Houjo. Itulah yang Akane asumsikan sampai titik tertentu.

Akane menjadi siswi kelas sembilan SMP, menuju ke SMA tertentu untuk mengikuti ujian masuk lalu dia melihat seorang cowok. Sekolah yang dimaksud tidak terlalu sulit atau bergengsi dalam hal apapun, namun Saito duduk di sana, beberapa kursi dari Akane. Tampang wajah Saito memang telah tumbuh semakin dewasa, tetapi matanya memancarkan getaran seorang penguasa mutlak. Seperti yang diduga, papan namanya dengan jelas menyatakan nama "Houjo."

Houjo-kun juga berencana untuk masuk ke sekolah ini? Kalau begitu kami mungkin bisa datang ke sini bersama-sama…?

Motivasi Akane naik jadi sepuluh kali lipat saat dia mengerjakan ujian. Bahkan pada hari saat hasilnya diumumkan, Saito datang ke sekolah yang dimaksud, bersama dengan seorang cewek kecil yang sepertinya merupakan adiknya. Saito tampaknya lulus dengan mudah, karena ia tidak bersemangat seperti siswa-siswi lain di sekitarnya.

Dan kemudian, hari pertama mereka di sekolah baru pun tiba. Saat mengenakan seragam baru yang segar, jantung Akane berdebar kencang. Mulai saat ini, Akane dapat menghabiskan setiap hari bersama Saito. Belajar bersama, makan siang bersama, dan bahkan mungkin berjalan pulang bersama. Mereka dapat melanjutkan apa topik yang mereka tinggalkan. Tentunya, Saito akan mengingat Akane dan menyapanya dengan senyuman. Dada Akane dipenuhi dengan kewaspadaan lalu dia mendekati kursi Saito. Lutut Akane jadi goyah karena tegang, dan dia merasakan dorongan untuk melarikan diri. Kepala Akane berputar dan dia tidak dapat melihat langsung ke arah Saito. Akane menarik lengan seragam Saito lalu dia berbicara dengan suara gemetaran.

"Su-Sudah lama sekali ya, Houjo-kun."

"…Kamu ini siapa?"

Ternyata, Saito tidak mengingat Akane.


Rasa sakit yang tajam menjalari dada Akane. Dua tahun telah berlalu sejak saat itu, tetapi cuma dengan kenangan itu saja sudah membuat dada Akane terasa sesak.

"Aku benar-benar… tidak tahan dengannya…" Akane membenturkan tinjunya ke dinding ruang belajarnya.

Pada akhirnya, Akane tidak akan pernah bisa memberi tahu Saito kalau mereka pernah bertemu di pesta itu. Fakta kalau Akane-lah satu-satunya yang ingat hal itu—satu-satunya yang menantikan pertemuan kembali mereka—Akane tidak bisa memberi tahu Saito cuma karena rasa malu dan frustrasi. Dan setelah itu, setiap kali Akane melihat wajah Saito, dia menjadi tidak masuk akal dan marah, yang menyebabkan pertengkaran mereka yang tanpa akhir. Bagaimana bisa Akane menjelaskannya sendiri sekarang? Mengatakan kalau jantungnya deg-degan dengan kewaspadaan saat dia berkata 'Sudah lama sekali ya, Houjo-kun,'?

Akane tidak akan pernah bisa. Harga dirinya melarangnya melakukan itu. Kenyataannya, Akane tidak bersenang-senang selama pesta itu. Akane mesti mengatakan hal itu pada dirinya sendiri dan menghapus kenangan itu.

"Saito, dasar bodoh…" Akane menekan tangannya ke dadanya untuk menahan rasa sakit, dan bergumam tanpa kekuatan.


Bahkan saat malam sudah bergulir, Akane tidak kunjung turun dari lantai dua. Saito telah berencana untuk menghabiskan hari itu dengan membaca, jadi ia tidak masalah dengan itu. Namun, Saito melihat ini sebagai sedikit penyesalan karena mereka tidak dapat menonton film-film itu bersama. Saito memutuskan untuk mengobrol dengan Akane, dan mengetuk pintu ruang belajarnya.

"… Akane, apa kamu tidak apa-apa? Kalau kamu tidak enak badan, aku bisa membawamu ke rumah sakit."

"Maaf, aku merasa baik-baik saja. Aku cuma...perlu menenangkan pikiranku."

Saito mendengar suara samar Akane dari balik pintu. Akane juga tidak tampak sangat marah, sehingga membuat Saito semakin khawatir.

"Apa aku mengatakan sesuatu yang membuatmu kesal? Kalau memang begitu, maka aku ingin meminta maaf..."

"Tidak perlu minta maaf. Aku akan pastikan untuk membuat makan malam, jadi beri aku sedikit waktu lagi."

"Aku juga bisa membuat makan malam sendiri kalau itu terlalu berat buatmu."

"Tetapi…"

"Tidak apa-apa, aku tidak menambahkan protein apapun. Kamu istirahat saja sana."

Saat Akane, yang terkenal dengan tenaganya yang tidak terbatas, merasa sedih, itu bahkan mempengaruhi kondisi kejiwaan Saito. Saito berpikir kalau menu yang seimbang didapatkan melalui trik dan memeriksa apa yang mereka punya di dalam kulkas. Sayangnya, Saito tidak punya bahan berharga yang tersisa. Cuma beberapa tauge, irisan wortel, dan sisa kubis. Dengan begini, Saito tidak dapat melakukan sesuatu yang berharga. Karena mereka berdua tidak bisa berbelanja bersama akhir-akhir ini, situasi makanan mereka saat ini tampak tidak terlalu baik.

Aku rasa aku mesti belanja dulu…

Saito mengambil dompetnya dan melangkah keluar dari rumah. Langit di luar sudah menjadi gelap, lalu malam menyebar ke seluruh kota. Meskipun berjalan kaki melewati kerumunan orang dan mobil yang dilewati Saito, kota itu terasa sepi. Mungkin perasaan yang mencengkeram hati Saito ini lahir karena ia tinggal bersama dengan Akane. Dalam perjalanan ke kawasan bisnis terdekat, Saito melewati stasiun kereta. Itu merupakan alun-alun besar yang diterangi oleh lampu jalan. Beberapa orang duduk di bangku, punggung mereka meringkuk lalu mereka melihat ke ponsel mereka. Para pegawai yang melewati gerbang tiket bubar seperti sekelompok laba-laba.

Saito mendapati Himari dari dalam alun-alun itu. Himari mengenakan pakaian wanpis rajutan dengan sepatu bot panjang, dan berdiri di sekitar itu. Rambut pirang Himari yang indah dan penampilannya yang mencolok membuat dia menonjol bahkan di tengah keramaian. Tentu saja, tidak butuh waktu lama bagi beberapa pria berpenampilan bak pria flamboyan (playboy) untuk mendekati Himari.

"Hei Mbak, kamu ini benar-benar menarik perhatian, ya?"

"Apa kamu punya waktu sekarang? Mari kita pergi ke pantai kapan-kapan."

"Mari kita bersenang-senang dan mabuk, oke?"

"Aku ini masih seorang siswi, dan aku tidak suka hal semacam ini." Himari dengan blak-blakan menolak mereka.

"Ayolah, kamu mungkin menikmatinya?"

"Aku yakin ini akan menyenangkan, jadi bergabunglah bersama kami!"

"Kami bisa memberimu uang kalau kamu mau."

"Tidak butuh, tuh." Himari mencoba pergi, tetapi salah satu pria itu meraih lengannya.

"Dengan penampilanmu yang begitu, kamu pasti mengharapkan hal semacam ini terjadi, bukan?"

"Sudah ikut kami saja!"

Para pria itu mencoba menyeret Himari keluar dari taman. Tidak satu pun dari orang-orang yang melewati mereka yang berusaha membantu Himari, dan cuma mengalihkan pandangan mereka. Mereka mungkin tidak ingin terlibat.

Para bajingan itu...!

Saito bergegas membantu Himari.

"Bisakah kalian membiarkan dia begitu saja?" Saito berkata.

"Kamu tidak ada hubungannya dengan ini, bukan?"

"Tersesat."

"Diamlah, dasar sampah."

Para pria itu memelototi Saito.

"Aku punya segala hak untuk terlibat dalam hal ini. Lagipula aku ini pacarnya."

"Hah? Pacar?"

"Jangan mengarang omong kosong belaka."

"Apa kamu memandang rendah kami atau semacamnya?"

"Tidak kok. Aku cuma mengatakan kebenarannya. Kami berdua itu pacaran." Saito menarik Himari lebih dekat padanya.

"…!" Jeritan samar keluar dari bibir Himari saat dia menempel pada Saito. 

"Kalau kalian tidak meninggalkannya sendirian, aku akan pastikan untuk mencungkil bola mata kalian dan melemparkannya ke lautan yang tampaknya sangat kalian sayangi. Apa kalian tidak masalah dengan itu? Aku juga tidak keberatan." Saito memelototi para pria itu.

"A-Ada apa dengan masalah ini?"

"Ia itu gila!"

"Menjijikkan, ia itu sangat aneh."

Para pria itu menggerutu sambil berjalan pergi.

"Te-Terima kasih, Saito-kun…" Himari tetap terpaku pada Saito saat dia mengucapkan terima kasih. "Tetapi…bukankah itu terlalu berlebihan? Bagaimana kalau mereka melaporkanmu ke polisi?"

"Kamu pikir begitu? Itu merupakan metode hukuman yang cukup populer yang diwariskan turun temurun oleh Keluarga Houjo."

"Keluargamu itu menakutkan! Apa kalian itu seperti mafia?!"

"Cuma terhadap musuh kami. Dan kami tidak melakukan hal itu lagi akhir-akhir ini."

Saito memutuskan untuk tetap diam tentang fakta kalau mereka berhenti melakukan itu karena mereka berhasil mengembangkan teknik penghapusan ingatan atau rekonstruksi pribadi. Ditambah efek sampingnya juga bisa sangat parah.

"Apa yang kamu lakukan di luar rumah malam-malam? Ketemuan dengan seseorang?"

"Tidak, aku sendirian. Cuma iseng jalan-jalan."

"Sudah gelap, jadi mengapa kamu tidak pulang saja? Kalau tidak, lebih banyak cowok yang seperti itu akan mengincarmu."

"…Aku tidak bisa pulang."

"Apa kamu kehilangan kuncimu atau semacamnya?"

Himari mengangkat bahunya.

"Tidak juga… Saat orang itu ada di rumahku, maka aku tidak bisa berada di dekat mereka."

"Orang itu?"

"Istri…ayahku."

Saito segera menebak apa yang sedang terjadi.

"Ibu tirimu, ya?"

Himari mengangguk.

"Setiap kali dia ada di rumah, aku mencoba untuk mencari kesibukan dengan bekerja atau cuma jalan-jalan keluar rumah, tetapi dia tiba-tiba sedang istirahat dari pekerjaannya."

"Iya... itu masuk akal kalau kamu tidak mau berada di rumah." Saito setuju karena ia pernah mengalami hal yang serupa.

"Karena aku tidak punya uang untuk menetap di Mekdi atau warnet sepanjang hari, aku cuma bisa berjalan-jalan ke luar."

"Iya, aku mengerti. Aku juga akan menggunakan taman umum untuk menghabiskan waktu."

"Yap… aku ingat." Himari bergumam, diliputi nostalgia. "Setiap kali aku di rumah, itu cuma akan menyebabkan lebih banyak rasa sakit. Terutama karena aku merupakan sisa dari hubungan lama Ayah, aku cuma pengganggu."

Saito ingin menyangkal kalau Himari itu pengganggu, tetapi ia tidak berhak melakukan itu. Bahkan Saito, anak yang punya hubungan darah dengan orang tuanya, dibenci oleh mereka. Ada dinding yang tidak dapat dirobohkan meskipun ikatannya tebal.

"Apa yang kamu lakukan, Saito-kun?"

"Aku sedang berbelanja, kami kehabisan bahan makanan."

"Oh, itu agak mengejutkan. Padahal kamu itu seorang cowok."

"Tugas semacam ini itu tidak terbatas pada cowok atau cewek."

Terlebih lagi, Akane juga sangat menakutkan.

"Terima kasih telah menolongku. Aku sudah baik-baik saja sekarang, jadi kembalilah ke Akane, oke?" Himari tersenyum, tetapi senyuman itu tampaknya akan segera menghilang ke dalam kegelapan.

Mana mungkin Himari sudah baik-baik saja sekarang. Himari menginginkan tempat yang dapat dia tempati, tempat yang memberinya kedamaian. Saito tahu apa yang Himari sembunyikan di balik senyuman itu, dan tidak bisa membiarkannya pergi.

"…Aku akan tetap bersamamu sedikit lebih lama."

"Mengapa?"

"Aku tidak butuh alasan. Itulah hal yang ingin aku lakukan."

"…" Mata Himari gemetar.

Pipi Himari berubah menjadi warna kemerahan.

"…Kamu bilang kalau kamu mau berterima kasih padaku dengan sesuatu sebagai gantinya karena telah memainkan peran sebagai pacar palsumu, bukan?"

"I-Iya."

Saito bingung, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Himari. Wajah Himari perlahan mendekati Saito. Aroma wangi dari parfum Himari...dan juga aroma bawaannya menyelimuti Saito. Himari perlahan membuka bibirnya, yang mengeluarkan napas yang samar. Lampu jalan di malam hari menyinari rambut Himari yang keemasan, dan dia tanpa diragukan lagi cukup cantik.

"Aku akan… suka ini." Himari memohon seperti anak kecil dan menempelkan bibirnya pada bibir Saito.

(TL Note: Dasar Pelakor.)


"Hei, Mas! Bangun, woi!"

Maho menggeleng-gelengkan kepala Saito, sehingga membuat Saito kembali ke dunia nyata. Saat Saito sadar, ia menyadari kalau ia sedang duduk di bangku taman di halaman sekolah, dengan Maho dan Shisei berdiri di depannya.

"…Apa yang kamu mau?"

"Ada apa dengan sikap itu?! Kami telah memanggil Mas selama beberapa menit dari tadi, tetapi Mas mengabaikan kami! Apa itu yang Mas sukai?! Dasar Mas mesum!"

"Jangan paksakan kesalahpahaman yang aneh, Mas cuma melamun kok."

"Abang sudah melamun sepanjang pagi ini. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Shisei bertanya.

"Tidak…"

Saito tidak bisa menyangkal itu sepenuhnya karena ingatannya dari tadi malam masih terlalu segar. Itu merupakan serangan mendadak yang tidak dapat dihindari Saito tepat waktu. Himari akhirnya melarikan diri dengan wajah memerah, meninggalkan Saito untuk menyelesaikan perjalanan belanjanya dalam kebingungan yang mutlak. Itu merupakan keajaiban, Saito bahkan berhasil pulang tepat waktu. Saito juga lupa membeli banyak barang, tetapi mana mungkin ia bisa tetap tenang setelah kejadian itu.

"Ah! Lihat wajah Mas, pasti ada sesuatu yang terjadi! Nah... aku tahu, Nih! Mas telah mencium Mbak, bukan?!"

"Bukan begitu!" Saito membantah dengan panasnya momen itu.

"Bukan begitu?! Kalau begitu siapa yang Mas cium?! Tunggu…Mas mencium Nenek?!" Maho terhuyung mundur.

"Mengapa Mas mah melakukan itu?!"

"Maksudku, usia dan ras tidak punya peran dalam hal cinta, bukan? Mas bisa saja punya hubungan romantis dengan kutu air."

"Kamu tentu saja tidak bisa!"

Maho terperangah.

"Apa kamu mengolok-olok kutu air?! Mas tidak akan maafkan kamu walaupun itu kamu, oke!"

"Mengapa Mas begitu dekat dengan kutu air?"

Apa hidupnya telah diselamatkan oleh kutu air atau semacamnya?

"Jadi, siapa yang Mas cium?"

"Tidak ada, harus dibilang berapa kali."

"Aku tidak percaya itu! Indra detektifku bereaksi! Pelakunya itu berwarna ungu!"

(TL Note: Thanos kah?)

"Penjahat macam apa itu?!"

"Abang, jujurlah." Shisei meraih dagu Saito.

Maho juga mengepalkan tangannya, saat mereka berdua mendekatinya.

"Kalian semua sedang apa?"

Tepat sekali, orang yang dimaksud muncul.

"Himarin! Waktu yang tepat, kami baru saja akan menyiksa Mas, jadi tolong bantu kami!"

"Aku lebih senang kalau tidak menyiksanya."

"Tidak apa-apa! Kita cuma akan biarkan Mas minum obat yang akan membuatnya merasa sangat baik, dan kemudian kita akan memberi Mas serangan gelitikan!"

"Kamu berencana untuk membunuh Mas?" Saito segera membuat rencana untuk melarikan diri dari keadaan itu.

"Tetapi tidak ada metode lain yang bisa kami lakukan untuk membuat Mas bicara..."

"Abang, beri tahu kami, siapa yang Abang cium?"

"…Ah, itu yang ingin kalian ketahui?" Himari duduk di sebelah Saito.

Himari mencondongkan tubuhnya ke depan lalu rambutnya berkibar ke bawah, tergantung di antara kedua pahanya.

"Himarin, kamu tahu sesuatu?"

"Hmm, aku mungkin tahu. Bisakah kalian tinggalkan kami sendirian sebentar?"

"Dimengerti! Pastikan untuk mendapatkan informasi dari Mas, ya!" Maho dan Shisei meninggalkan mereka.

Dengan begitu, cuma ada Saito dan Himari yang tersisa.

"……"

"……"

Keheningan yang canggung ini terlalu berlebihan, membuat Saito sulit bernapas. Karena kejadian ini terjadi sehari sebelumnya, Saito tidak tahu wajah macam apa yang mesti ia pasang saat bertemu Himari, namun mereka sekarang duduk bersebelahan.

"...Aku minta maaf soal ini, Saito-kun. Semua ini terjadi karena apa yang aku lakukan"

"Iya… kamu mengejutkanku, tentu saja."

"Aku tahu kalau aku seharusnya tidak melakukan itu, tetapi aku tidak bisa menahan diriku. Pikiranku jadi kosong, dan aku sangat menginginkanmu… aku langsung melakukannya begitu saja." Himari mengaitkan lengannya pada Saito, dan membawa tubuhnya lebih dekat pada Saito.

Himari mungkin tampak seperti cewek yang penurut, tetapi identitas aslinya itu sangat berbeda. Di dalam diri Himari, ada gairah kuat yang membara.

"Apa kamu... pernah mencium seseorang sebelumnya, Saito-kun?"

"Belum pernah."

"Begitu juga denganku. Kamu itu orang yang pertama buatku, jadi aku senang."

"Aku tidak sepenuhnya setuju dengan hal itu…" Saito menunjukkan senyuman pahit.

Semakin lama obrolan itu berlanjut, semakin jelas ingatan mereka dari malam sebelumnya. Saito masih dapat merasakan sensasi lembut itu, merasa seakan-akan ia telah tersedot. Bibir Himari menarik tatapan Saito. Himari mengetahui tatapan ini, dan mencibir.

"…Mau melakukannya lagi?"

"Tidak."

"Kita sudah melakukannya sekali, jadi dua atau tiga kali lagi tidak masalah, bukan? Kita bisa banyak berlatih dengan berduaan saja."

"Kamu itu cuma…"

Rayuan yang datang dari Himari begitu kuat sehingga Saito tidak dapat menemukan kata-kata.

"Aku suka kamu, Saito-kun." Himari meletakkan kepalanya di bahu Saito.


Saat memasuki kelas, Akane mendapati teman-teman sekelasnya sedang gelisah. Mereka telah berpencar menjadi beberapa kelompok, tetapi mereka semua mengeluarkan ponsel mereka, menatap layar dengan penuh rasa ketagihan.

"Asta…"

"Ini cukup gila, bukan?"

"Tangkapan gambar yang sangat indah!"

"Foto ini bagaikan lukisan!"

"Sepertinya Himari yang melakukan ini, bukan?"

"Himari tidak sepenuhnya buruk!"

Akane mendengar nama temannya di antara suara-suara itu, sehingga membuatnya penasaran. Akane mendekati salah satu siswi dan bertanya.

"Ada apa dengan Himari?"

"Kamu tidak tahu? Ini dikirim ke grup obrolan  kelas kita kemarin."

Siswi itu memperlihatkan ponselnya pada Akane. Tampil di layar ada satu foto. Itu berlokasi di depan stasiun kereta, menunjukkan adegan mutlak kalau Saito dan Himari saling berbagi ciuman. Saito menatap Himari dengan mata terbuka, lalu rambut Himari terjerat dengan wajah Saito.

"Ap..."

Suara tercengang tetapi samar keluar dari mulut Akane. Untuk sesaat, Akane salah mengira mereka berdua itu orang lain. Namun, begitu Akane sampai pada kesimpulan kalau kedua orang itu memang Saito dan Himari, dia merasakan detak jantungnya semakin cepat. Itu berdetak begitu keras hingga mencapai telinga Akane. Tidak lama kemudian, Akane merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Setetes kecil cairan yang hangat mendarat di telapak tangan Akane. Semakin banyak tetes cairan itu mengikuti, karena penglihatan Akane menjadi kabur. Rasa sakit yang tajam di dalam dada Akane membuatnya merasa pusing.

Mengapa aku... menangis…?

Akane tidak mengerti. Namun, berdiri di sekitar juga bukan pilihan yang tepat, dan Akane tidak tahan melihat foto itu lebih lama lagi, makanya dia berlari keluar dari ruang kelas. Berlari di lorong, Akane berpapasan dengan Himari.

"…Kalau kamu masih belum menyadarinya juga, maka aku akan merebutnya sungguhan, kamu tahu?" Himari bergumam saat mereka berdua berpapasan.


Akane tersungkur ke lantai saat dia tiba di ruang tamu. Sejak kejadian itu, materi mata pelajaran bahkan tidak kunjung sampai ke otak Akane, dan dia sudah melupakan sebagian besar dari materi itu setelah dia tiba di rumah. Semuanya yang dapat terpikirkan oleh Akane hanyalah foto Saito dan Himari yang berbagi ciuman. Akane ingin melupakan foto itu secepat mungkin, namun rasanya seakan-akan itu telah membara jauh ke dalam hatinya, dan menyala setiap kali dia lengah.

Mengapa Akane mulai menangis saat melihat foto itu? Apa yang mereka berdua lakukan seharusnya bukanlah urusan Akane. Satu-satunya alasan Saito dan Akane menikah adalah demi masa depan mereka, dan apa yang mereka lakukan selain itu dengan siapapun bukanlah urusan pihak lain. Himari merupakan teman Akane yang penting, dan dia ingin Himari bahagia, apapun yang terjadi. Mendukung Himari dalam cintanya dengan Saito…Namun, Akane tidak dapat melakukan itu. Akane tidak bisa memberi selamat pada Himari. Apa itu karena hati Akane terpelintir?

"Akane?"

"I-Iyah?!"

Sebuah suara tiba-tiba memanggil Akane, sehingga membuat Akane berbalik kaget. Saito yang menawari Akane sekantung plastik tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Hah…? Apa ini?"

"Emm… makanan ringan. Kamu tampaknya sedang sedih, jadi aku harap kamu akan ceria lagi setelah makan makanan ini."

Akane membuka kantung plastik dan mendapati ada kue sus. Kue sus itu berisi krim yang lezat, dan ada stroberi besar di atasnya. Sekali lagi, air mata mengalir ke pipi Akane.

"A-Ada apa?! Apa mungkin kamu tidak suka, ya?! Aku kira kamu lebih suka yang ada stroberinya, jadi…" Saito panik.

"Tidak apa-apa. Aku suka ini, kok."

"Kalau begitu mengapa kamu…"

"Karena aku bahagia."

Memang bukan hal besar yang dilakukan Saito ini, namun Akane dipenuhi dengan kegembiraan. Bagian dalam hati Akane menghangat seperti api yang lembut, pipinya memerah semerah stroberi, dan Saito tampak seperti berkilau di sekelilingnya. Dan kalau itu masih belum cukup, Akane belum pernah melihat halusinasi ini untuk pertama kalinya. Yaitu, kembali saat di pesta kelulusan Saito, dan apa yang Akane rasakan saat itu sama seperti yang dia rasakan sekarang. Yang pasti, itu…

Saito keluar dari ruang tamu, meninggalkan Akane sendirian dengan pikirannya.

Aku harus menghadapi perasaanku sendiri… untuk selamanya.

Akane tidak bisa menyangkalnya lagi. Akane menangis tanpa alasan, bingung, dan menderita begini…dia tidak bisa menahannya lagi. Mengapa Akane mulai terus menerus bertengkar dengan Saito setelah mereka masuk SMA? Itu karena Akane frustrasi karena Saito tidak pernah mengingatnya. Akane malu karena rasa cintanya bertepuk sebelah tangan, dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena terlalu berharap. Tentu saja, kehilangan posisinya sebagai murid terbaik di angkatan juga membuat Akane frustrasi, jadi dia ingin membalas Saito, dan ingin Saito menerimanya.

Namun, Saito tidak pernah sekalipun menatap Akane. Tidak peduli berapa banyak Akane berusaha, seberapa banyak dia berjuang untuk nilainya, Saito selalu memandang rendah Akane. Menyadari kalau Saito bahkan tidak peduli dengannya, Akane meledakkan semangatnya dengan bertengkar dengan Saito setiap hari. Akane menimpa rasa cintanya dengan permusuhan, sehingga membuat mereka berakhir dalam hubungan mereka yang saat ini.

Akane ingin membenci Saito. Akane mengatakan ini pada dirinya sendiri kalau dia membenci Saito. Tetapi pada akhirnya, Akane tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk pergi jauh-jauh. Dengan menikah dengan Saito, Akane belajar tentang kebaikan Saito, sentuhannya, sehingga membangkitkan kembali perasaan yang terkubur di dalam dirinya, dan dia tidak dapat menahannya lagi. Saito yang Akane temui saat pesta itu merupakan citra indah dari diri Saito yang Akane ciptakan, tetapi Saito yang selalu dia lawan di sekolah hanyalah sisi lain dari diri Saito. Saat ini, Akane tahu segala macam sisi yang tidak dia harapkan dari Saito.

Saito jauh lebih bodoh dari yang awalnya diasumsikan Akane, jauh lebih dapat diandalkan daripada yang dia harapkan, selalu arogan tetapi juga perhatian, ceroboh tetapi juga teliti. Akane menikmati memasak untuk Saito dan melihat senyuman Saito saat Saito memujinya. Akane suka saat Saito berterima kasih padanya. Menonton film bersama, pergi berbelanja, dan tidur bersebelahan…bahkan hal-hal kecil ini menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari menjadi sesuatu yang Akane hargai. Mereka memang masih sering bertengkar, tetapi itu jauh lebih baik daripada diabaikan.

Saat ini, Akane sudah mengerti perasaannya terhadap Saito. Dan di saat yang sama, Akane tahu apa yang dia rasakan terhadap Himari. Menelan semua hal ini dan berpura-pura seakan mereka tidak pernah ada mungkin jauh lebih mudah bagi Akane. Itu akan memungkinkan buat Akane untuk terus terlibat dalam kehidupan sehari-hari yang belum pernah berubah ini. Namun, itu cuma pemikiran cetek. Di dalam dada Akane, badai masih mengamuk. Akane mesti mengakhiri semua ini dengan jelas.

"…Aku tidak bisa terus-terusan begini." Akane menyeka air matanya dan berdiri.


Tidak ada anak-anak yang terlihat di taman umum kawasan perumahan. Apa itu karena matahari sudah mulai terbenam, atau karena anak-anak memang sudah jarang bermain di sini? Rumputnya tampak usang, dengan karat terlihat di batang logam. Tidak ada yang menggunakan ayunan, sehingga sekarang memeking saat angin membuatnya bergoyang dengan lembut ke depan dan ke belakang.

"Wah, ada kilasan nostalgia! Kita selalu bermain di taman ini saat kita masih anak-anak, bukan?" Himari membuka tangannya lebar-lebar dan melihat ke sekeliling taman. "Kamu ingat? Majalah yang aku bawa akhirnya jatuh ke genangan air, jadi aku mencoba membersihkannya dengan air dari dispenser air, tetapi itu cuma memperburuk keadaannya. Astaga, aku sangat panik saat itu." Himari menceritakan kisah masa lalu dengan senyuman, tetapi…

"Em…Himari. Hari ini, aku mau…"

"Aku tahu. Kamu tidak mengajakku ke sini untuk bermain-main, bukan?" Himari mengangkat bahunya sambil tersenyum.

Namun, mata Himari tidak senang sama sekali. Akane tidak pernah menerima tatapan dingin yang seperti itu dari Himari, sehingga membuatnya bingung. Himari tahu apa yang Akane minta di sini. Berlawanan dengan sahabatnya membuat Akane ketakutan. Akane tidak akan tahan kehilangan sahabatnya. Namun, Akane juga tidak bisa mundur atau menyembunyikan ini lagi. Akane menarik napas dalam-dalam dan menatap Himari.

"Aku mau kamu putus dengan Saito."

Mata Himari berubah menjadi titik-titik. Himari menutup mulutnya dan mengeluarkan kikikan.

"Aku dan Saito-kun kan tidak pacaran?"

"Yang aku maksud itu pacaran pura-puramu."

"Jadi kamu akan membuangku setelah aku memainkan peranku? Bukankah itu agak kejam?"

"Erh…"

Himari jauh lebih agresif daripada biasanya.

"Itu tidak masuk akal. Seharusnya itu cuma akting, tetapi kamu terus menempel pada Saito, berkencan dengannya…dan bahkan menciumnya…" Cuma dengan menceritakan kembali kejadian ini saja, Akane merasa kalau dadanya sesak.

"Sepertinya mereka memotret kami, ya? Jadi kamu melihat foto itu."

"Melakukan hal semacam itu… kamu sudah tidak pura-pura lagi, bukan? Kalian tampak seperti pasangan sungguhan. Ini terlalu berlebihan."

Himari menoleh.

"Jadi apa masalahnya? Ini tidak ada hubungannya denganmu."

"Tentu saja... ada."

"Mengapa? Kalian cuma menikah secara sah, bukan?"

"Tetapi…"

"Kalau kamu tidak beri tahu aku alasannya, maka aku tidak akan berhenti. Kami akan berkencan lagi, berciuman lagi, dan melakukan apa yang terjadi setelah itu juga."

"…"

Akane membayangkan apa yang dimaksud Himari dan merasakan serangan vertigo yang parah. Akane tidak bisa membiarkan itu terjadi. Akane harus menghentikannya. Akane mesti memberi tahu Himari tentang perasaannya sendiri.

"I-Itu karena…aku…"

Akane menekan tangannya di dadanya, mencoba mengeluarkan kata-kata. Jantung Akane terasa seperti akan meledak setiap saat, dan bahkan bernapaspun menjadi menyakitkan buatnya. Lutut Akane gemetaran, membuatnya sulit untuk berdiri. Mengucapkan kata "benci" menjadi begitu mudah buat Akane. Namun, satu kata yang benar-benar Akane rasakan ini jauh lebih sulit. Dan meskipun begitu, Akane berhasil mendorong kata-kata itu keluar, meskipun dengan suara yang hampir menghilang.

"Karena aku—suka Saito."

Saat Akane mengatakan itu, tubuhnya mulai terbakar. Rasa dan perasaan malu membuat pipi Akane memanas. Kepala Akane jadi pusing, dengan air mata yang menggenang di matanya. Akane sepenuhnya menerima kata-katanya itu. Akane mengakui perasaannya yang selama ini dia rahasiakan. Dan sekarang setelah Akane mengatakannya, tidak ada yang dapat menarik kata-katanya kembali.

"…Terus, mengapa?" Himari menyipitkan matanya.

"A-Apa maksudmu…"

"Yang kalian berdua lakukan cuma bertengkar. Kamu terus mengatakan betapa kamu membencinya."

"Itu…memang benar, tetapi…"

"Aku berbeda. Aku menyukai Saito sejak kita masih kelas sepuluh. Aku cuma menatapnya! Melihatnya terus bersamamu! Jangan bilang begitu padaku sekarang! Kamu itu cuma penghalang, jadi mundurlah!"

Bertemu dengan kemarahan Himari untuk pertama kalinya, Akane menjadi frustrasi.

"Kamulah yang penghalang! Aku sudah menyukainya jauh sebelum kamu! Saat kami masih berusia dua belas tahun, kami bertemu dalam sebuah pesta! Dan aku sangat menantikan untuk bertemu dengannya lagi di sekolah kita!"

"Hah…? Aku belum pernah mendengarnya. Maksudmu apa?"

"Nenek membawaku ke pesta di kediaman pribadi Keluarga Houjo. Nenekku dan kakek Saito itu berhubungan baik."

Himari membentuk tinju dengan tangannya.

"Kamu... Kamu benar-benar tidak bermain adil."

"Tidak adil…? Aku…?"

"Kamu bertemu dengan Saito-kun jauh lebih awal dariku itu berkat nenekmu, dan karena keluargamu, kamu bahkan mesti menikah dengannya! Ini tidak adil! Tanpa semua orang membantumu, kamu pasti tidak akan mengobrol dengannya secara normal! Kamu akan menjadi penyendiri!"

"Ap…!"

Himari menusuk Akane tepat di tempat yang sakit, lalu pipi Akane memanas.

"Dan kamu itu terlalu sempurna, itu membuatku jijik!"

Alis Himari mengkerut.

"Menjijikkan… iya, setidaknya aku lebih baik dalam tersenyum daripada kamu, robot berhati dingin!"

"Aku lebih suka menggigit lidahku dan mati! Apa kamu benar-benar berpikir senyumanmu yang payah dan palsu itu dapat meyakinkan Saito?!"

"I-Ia tidak tahu! Dan itu bukanlah senyuman palsu ataupun payah! Inilah akting yang sempurna!"

"Dan kamulah yang tidak bermain adil! Kamu cuma menerima peran sebagai pacar palsu, cuma untuk menggunakan itu sebagai alasan dan benar-benar merayunya!"

"Tentu saja?" Himari mengangkat bahunya.

"Mengapa kamu tidak menyangkalnya?!"

"Kamu terlambat. Maka dari itu temanmu ini akan merebut suamimu darimu."

"~~~!" Akane menggertakkan giginya.

Akane tidak mau begini. Akane ingin Himari menjauh dari Saito, tetapi dia tidak mau bertengkar dengan temannya. Akane tidak masalah terluka, tetapi menyakiti Himari karena tindakannya itu tidak mungkin. Akane mulai menangis lagi sambil berteriak.

"Kamu itu benar-benar bodoh! Mengapa kamu itu harus jatuh cinta dengan orang yang sama denganku?! Kamu kan punya banyak pilihan!"

"Itu kalimatku! Jangan mengambil apa yang aku inginkan! Dasar kamu bodoh!" Himari membalas.

"Siapa yang kamu sebut bodoh, hah?!"

"Aku menyebutmu begitu karena kamu memang bodoh!"

"Nilai-nilaiku itu lebih bagus darimu!"

"Dan cuma itu yang bagus darimu!

KuraKon-5-4-1

Mereka berdua saling memelototi satu sama lain. Mereka berdua sudah berada pada batas mereka, dan telah mencapai apa yang dapat dianggap sebagai pertengkaran anak-anak. Himari juga mulai menangis, dan gemetar hebat. Mengapa mereka mesti melawan orang yang paling mereka sayangi? Mengapa mereka berdua tidak bisa bahagia begitu saja? Himari membiarkan kepalanya menggantung.

"…Kamu tahu? Aku sudah tahu kalau kamu menyukai Saito-kun."

"Ap… se-sejak kapan?"

"Sejak kita masih kelas sepuluh. Mana mungkin kamu mengobrol dengan cowok begitu saja. Dan setiap kali Saito-kun izin sekolah, kamu kekurangan tenaga seperti biasanya."

"Mana mungkin ... apa aku sejelas itu?" Wajah Akane memanas karena malu.

"Tepat saat aku tahu bagaimana cara menjadi populer di kalangan teman-teman sekelas kita, aku memikirkan cara untuk memenangkan hati Saito-kun. Aku melihat dengan tepat bagaimana cara mengisi kekosongan di dalam hatinya, dan kata-kata yang ingin ia dengar."

Seperti yang dia katakan, Himari berjuang dalam pertempuran yang jauh lebih buruk, menggunakan trik-trik kotor. Setahun di SD, dia mulai memasang wajah palsu. Senyuman palsu, atau bisa dibilang begitu. Kecantikan Himari yang halus, dan suasana hangat di sekitarnya, serta perhatiannya terhadap orang lain, semuanya itu membuat orang-orang berkerumun di sekelilingnya. Anak yang dirundung di sekolah berubah menjadi penguasa yang mutlak.

"Kalau begitu mengapa kamu tidak melakukan itu pada Saito…"

"Karena aku tidak mau membuat itu nyata dengan metode ini."

"Dengan Saito?"

"Bukan cuma ia saja, tetapi juga kamu. Kalau kamu sadar kalau aku telah merebut Saito-kun darimu, kamu akan menyesalinya seumur hidupmu. Kamu tidak akan memaafkanku, dan kamu tidak akan datang ke pernikahan kami. aku… tidak mau persahabatan kita hancur…"

"Himari…"

Ini bukan masalah memaafkan atau tidak, tetapi adanya Himari di sekitar akan menyakitkan buat Akane. Tidak dapat mempercayai orang lain, mereka tidak akan dapat terus berteman.

"Apa kamu… melakukan semuanya untuk itu? Menerima peran sebagai pacar palsu agar membuatku sadar akan perasaanku, bahkan sampai menciumnya?"

Himari dengan agresif menggelengkan kepalanya.

"Aku ini bukan orang yang sebaik itu, kamu tahu? Kalau kamu belum menyadarinya, aku juga tidak akan peduli. Aku sudah berada pada batasku, dan kalau ia memberiku kesempatan, maka aku akan mengambilnya."

"…Maaf telah membuatmu menunggu selama dua tahun. Kalau saja kita tidak berteman, kamu mungkin tidak mesti melalui semua ini."

Dan saat ini, Himari mungkin sudah mendapatkan Saito, menghabiskan kehidupan SMA yang berwarna kemerahan. Walaupun Akane sudah lama menghilang dari muka bumi. Himari dapat melihat matahari terbenam yang menyinari kota dan bergumam.

"Meskipun kita jatuh cinta pada orang yang sama... kita, sahabat akan sulit buat berpisah atau bertengkar."

"…Aku setuju denganmu."

Mereka selalu punya selera yang sama sejak mereka masih SD, setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun bersama. Mereka tertawa karena hal yang sama, menangis karena hal yang sama, dan menjadi lebih dekat seperti adik kakak. Mempertimbangkan hal itu, tidak terlalu aneh untuk berpikir mereka akan jatuh cinta pada orang yang sama. Akane merasa lelah, jadi dia duduk di bangku taman. Himari bergabung dengan Akane di sisi yang berlawanan, lalu punggung mereka bersandar satu sama lain. Napas mereka berbaris. Kalau bisa, mereka tidak akan ingin bertengkar.

"Aku tidak akan menyerah padamu ataupun Saito-kun."

"Begitupula denganku. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Tetapi aku juga tidak akan pernah mau menyerahkan Saito."

Mereka mungkin sama-sama serakah, tetapi tanpa mengharapkan sesuatu, kamu tidak akan pernah bisa mencapai apapun.

"Apa yang akan kamu rencanakan sekarang? Aku cukup kuat." Himari menyeringai.

"Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan membuat Saito jatuh cinta padaku dan mengejarmu dalam sekejap."

"Aku tidak akan menahan diri lagi, paham?"

"Aku juga tidak mau kamu begitu, Himari."

Dengan mereka membelakangi satu sama lain, mereka menyatakan perang. Dan di antara mereka berdua, ini merupakan pertengkaran pertama mereka.

KuraKon-5-4-2


←Sebelumnya          Daftar Isi           Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama