Kurasu no Daikirai na Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta - Jilid 5 Bab 2 - Lintas Ninja Translation

Bab 2
Pacar (Palsu)

Tepat saat Saito berniat untuk meninggalkan rumahnya, Akane muncul di depannya dengan secepat kilat. Akane menghalangi jalan Saito dan menatapnya.

"A-Apa yang kamu mau? Aku sudah mencuci mangkukku dan memastikan kalau aku telah memisahkan sampahnya?"

Saito semakin khawatir kalau ia mungkin telah melakukan sesuatu yang membuat Akane marah tanpa disengaja. Saito segera menelusuri kembali ingatannya. Karena hari ini akan menjadi hari yang panjang, Saito lebih suka untuk tidak membuang-buang terlalu banyak waktu untuk bertengkar.

"Aku tidak marah karena pekerjaan rumah. Aku ingin memperingatkanmu."

"Kalau aku mesti berhati-hati saat aku keluar dan semacamnya di malam hari...?"

"Bukan itu!"

Saito mempersiapkan tubuhnya untuk kemungkinan serangan yang akan datang, merasa tegang karena tekanan dari Akane. Namun Akane cuma menarik-narik roknya dengan cemas

"Ya-Yah…kamu tahu? Bermain pacar-pacaran dengan Himari itu tidak masalah, tetapi jangan lupa kalau kalian itu bukan pasangan sungguhan. Itu saja yang ingin aku katakan."

"Aku sendiri tidak akan melupakan hal semacam itu. Mengapa kamu mengingatkanku tentang hal itu…" Saito bertanya, dan membuat Akane tersipu.

"Ka-Karena kamu itu bodoh! Kamu akan mendekati Himari, melupakan tujuan awal, dan kemudian mengikuti arus ke…!"

"Mengikuti arus ke mana?" Saito mencari tahu jawaban.

"Ja-Jangan buat aku bilang itu! Dasar kamu perundung!" Akane terhuyung mundur.

Wajah Akane semerah tomat, dan anehnya itu tampak menggemaskan di mata Saito. Saat ini, Saito merasa seperti sedang diatur. Saito memutuskan untuk menyerang.

"Kamu harus menggambarkan batasannya atau aku tidak akan melakukan itu. Seberapa jauh yang aku boleh ambil? Pelukan? Ciuman? Atau bahkan lebih…"

"~~~!" Akane menggigit bibirnya.

Saito melihat lebih dekat ke wajah Akane.

"Ayo, katakan. Kamu tadi yang mulai, bukan?"

KuraKon-5-2-1

Tidak dapat mengatasi hal ini, Akane mendorong Saito menjauh.

"Segalanya…"

"Hah…?"

"Aku akan bolehkan... segalanya... Tetapi sebagai imbalannya... kamu mesti membayar dan menebus itu dengan tubuhmu..."

Hukuman mati! Hukuman mati! Hukuman mati! Pesan-pesan ini berkedip-kedip dengan amarah di dalam pupil Akane. Akane tidak akan memaafkan Saito kalau ia sampai membuat Himari menangis, karena Akane nantinya akan membakar Saito menjadi abu.

"Aku berangkat!!"

Mungkin Saito sudah terlalu banyak menggoda Akane. Sebelum Akane mengamuk, Saito memilih untuk melarikan diri, ke luar pintu. Walau Saito punya keuntungan dari hal itu pun, menggertak Akane dengan berlebihan akan jadi bumerang. Akane mungkin terlahir ke dunia ini cuma untuk bertengkar dengan Saito. Karena Saito tidak mau bertemu dengan teman-teman sekelasnya di jalan, ia memilih untuk mengambil jalan memutar dalam perjalanan ke sekolah. Tidak dapat mengambil rute tercepat merupakan alasan lain dari kelelahan Saito baru-baru ini.

Saito cuma ingin menghilangkan semua rumor ini dan membuat semua ini normal kembali. Dan untuk mencapai hal itu, Saito mesti memainkan peran sebagai seorang pacar. Sesampainya ke sekolah, lorong-lorong dipenuhi dengan siswa-siswi, Himari dikelilingi oleh mereka. Tidak seperti Saito, yang cuma duduk di sudut ruangan sambil membaca buku, Himari menjadi pusat perhatian. Para siswa dan para siswi sama-sama berkerumun di sekeliling Himari, semuanya tersenyum saat Himari membalas senyuman mereka. Kalau saja Himari tidak pernah berteman dengan Akane, dan kalau saja Saito dan Akane tidak pernah bertengkar sejak awal, Saito mungkin tidak akan pernah mengobrol dengan Himari.

Bahkan hari ini saja, rasanya seperti mereka berada di alam semesta yang berbeda. Saito mencoba melewati Himari dan teman-temannya lalu Himari berbisik ke telinga Saito.

"…Saito-kun. Kita sudah mulai, ingat?"

Gumaman Himari hampir tampak bersinar, namun tetap membuat tenang. Suara Himari meresap jauh ke dalam otak Saito, membuat Saito merinding. Meski senyuman Himari mungkin tampak sama, tetapi itu punya tingkat gairah tertentu. Himari sudah beralih dari menjadi mode teman Saito ke mode bertindak sebagai kekasihnya. Itu merupakan kemampuan akting yang membingungkan yang bisa Himari tunjukkan, karena satu tatapan saja akan mengubah segalanya tentang Himari.

"Hei, Himari~ Apa yang kamu bisikkan dengan Saito-kun?"

Para siswi itu mencibir.

"Bukan apa-apa kok~."

"Itu mesti bohong~ aku tidak berhenti melihatnya sedetikpun."

"Sungguh, bukan apa-apa kok!" Himari mengangkat bahunya dengan sedikit rasa malu.

Memberikan jawaban yang tepat akan segera memperjelas pertanyaan itu, tetapi karena Himari membuatnya samar, itu cuma akan meningkatkan minat orang lain.

"Hi-Himari! Apa saja yang kamu bicarakan dengan Saito?!!" Akane bergegas ke arah mereka, dan menarik lengan baju Himari.

"Tidak banyak!"

"Katakan padaku! Apa dia mengancammu! Atau membungkammu?! Aku tidak akan memaafkannya kalau ia melakukan sesuatu padamu!"

"Te-Tenanglah, Akane. Aku benar-benar baik-baik saja." Himari tampak benar-benar bingung.

Mengapa Akane begitu keras kepala saat ini?! — Saito berkomentar di dalam pikirannya. Akane itu kebalikan dari Himari, selalu menyerang terlebih dahulu. Saito sekali lagi penasaran bagaimana mereka berdua dapat berakhir sebagai teman.


Begitu istirahat makan siang tiba, Himari mendekati Saito ke meja Saito.

"Saito-kun, Saito-kun! Haruskah kita pergi ke kafetaria bersama?"

"Bukankah kamu biasanya makan siang bersama Akane?"

"Tentu saja, tetapi aku mau makan siang bersamamu hari ini… Bisa tidak?"

"Aku tidak menentang itu, tetapi..."

Saito menelan keinginan untuk mengomentari fakta bahwa saat ini Akane sedang memelototi mereka. Akane tampak hampir merobek buku latihannya. Aura yang memancar dari tubuh Akane secara tidak langsung berteriak, "Beraninya kamu mencuri sahabatku dariku," meskipun Himari-lah yang memulainya.

"Bagus! Kalau begitu mari kita pergi!" Himari meraih tangan Saito dan mulai berjalan.

Himari memegang tangan Saito dengan kelembutan yang alami, tetapi tangan Himari sedikit gemetaran. Saito menatap ke arah sini, melihat Himari memasang senyuman yang tegang, menunjukkan betapa gugupnya Himari sebenarnya. Dan siapa yang dapat menyalahkan Himari? Himari sudah menyukai Saito lumayan lama, dan Himari sudah membantu mereka dengan ide terbaiknya. Dengan begini, Saito harus menanggapi tekad Himari. Himari sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat hubungan palsu ini sukses, namun Saito masih ragu-ragu. Dengan begitu, Saito benar-benar mengabaikan semua khalayak dan dengan erat menggenggam tangan Himari.

"Sa-Saito-kun…?" Himari tampak bingung.

"…Terima kasih." Saito berharap kalau  ia berhasil mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata ini.

"Tidak apa-apa." Himari sedikit tersipu, lalu mereka berjalan ke kafetaria sekolah.

Begitu mereka masuk ke dalam kafetaria, para siswa yang ada di sana langsung heboh. Jangankan kelas dua belas, adik-adik kelas mereka pun mengenal Himari dengan sangat baik. Dengan kepribadian Himari yang ceria dan penampilannya yang menawan, dia itu selalu menjadi pusat perhatian. Kalau ini memang SMA yang serius atau bergengsi, maka kalian tidak akan mendapati siswa-siswi dengan rambut pirang seperti rambut Himari. Lagipula, Himari itu bukan siswi yang tidak menganggap serius urusan sekolah, dan para guru juga tidak masalah dengan rambutnya.

Jadi kalaupun Himari datang ke kafetaria sekolah bukan dengan teman baiknya Akane, tetapi dengan seorang siswa (laki-laki) seperti Saito, itu wajar saja kalau itu akan mengumpulkan khalayak yang penasaran. Saito memesan semangkuk steik biasa sedangkan Himari memesan omuraisu. Menemukan meja terbuka di tengah kafetaria, mereka duduk saling berhadapan. Makan di dekat jendela mungkin sedikit lebih santai, tetapi ini bukanlah waktunya untuk pilih-pilih. Mereka mesti menarik perhatian sebanyak mungkin.

"Kamu itu sangat menyukai omuraisu, iya?"

"Err, bagaimana kamu bisa tahu?"

"Saat aku melihatmu makan di sini, kamu selalu memesan satu porsi itu."

"…!" Tubuh Himari menggigil.

"…Apa aku bilang sesuatu yang aneh?"

"Aku cuma berpikir kalau kamu sering memperhatikanku ya."

"I-Itu tidak disengaja. Aku cuma kebetulan melihatmu, begitu saja."

"Memangnya begitu ya~."

"Itu benar!" Saito merasa wajahnya menjadi semakin panas dalam hitungan detik.

Bahkan di masa kelas sepuluh mereka, Himari secara berkala memanggil Saito di kafetaria, dan Saito tidak bisa begitu saja melupakan apa yang Himari makan saat itu. Himari melihat reaksi Saito, dan menutup mulutnya dengan satu tangan, dan terkikik.

"Aku tahu aku tahu. Tetapi kamu tidak boleh bilang hal semacam ini kepada seorang cewek. Dia nantinya akan salah paham, kamu tahu?"

"Aku akan mengingat hal itu."

"Teman-temanku juga terus mengungkit hal itu. Bilang kalau kamu mungkin saja punya perasaan terhadapku."

"Sungguh…?" Saito memegangi kepalanya dengan putus asa.

Berpikir kalau para cewek menilai tindakannya sedemikian rupa saat Saito bahkan tidak ada seperti paku kayu yang ditancapkan ke hatinya. Saito harus memperjelas kesalahpahaman itu secepat mungkin.

"Siapa yang mengungkit hal itu? Seseorang dari kelas kita?"

"Itu rahasia. Aku tidak mau dapat saingan lagi."

"Saingan? Untuk apa?"

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengerti, Saito-kun."

"Ada…sesuatu yang aku tidak mengerti…?" Saito menggigit bibirnya sendiri karena malu.

Sejak Saito lahir, ia tidak kesulitan membaca buku atau karya tulis apapun yang ia temui. Namun, hanya satu pernyataan dari seorang siswi SMA saja sudah terlalu sulit untuk ia tangani, itu membuatnya lumpuh.

"Apa omuraisu di sini enak?"

"Kamu bisa ketagihan deh. Kalau saja aku tidak memakannya untuk waktu yang cukup lama, aku mungkin akan menderita gejala penarikan seperti berjabat tangan."

"Apa mereka menambahkan beberapa zat berbahaya di dalamnya?"

"Mereka cuma menambahkan peterseli."

"Paling tidak, itu tidak berbahaya."

"Mau coba gigit?" Himari mengambil beberapa omuraisu, menyodorkan sendok ke arah Saito.

"Tidak, itu…"

"Ah maaf. Kamu mungkin berpikir kalau itu menjijikkan karena aku sudah memakannya? Haha, apa sih yang aku lakukan… jadi terlalu bersemangat begini." Himari berusaha untuk menyembunyikan perasaannya dengan menertawakan hal itu, tetapi Saito menyadari kalau ia secara tidak sengaja telah menyakiti cewek itu.

Saito ingin memperbaiki keadaan ini, atau ia tidak akan bisa hidup lagi dengan rasa bersalah ini.

"Aku tidak merasa begitu sama sekali. Hanya saja itu... ciuman tidak langsung. Memikirkan hal itu saja cuma akan membuatku tegang."

Himari tampak bingung.

"Hah…? Kamu…gugup ya?"

"Tentu saja. Aku tidak pernah berkencan dengan seseorang, jadi bagaimana bisa aku tidak gugup."

"Oh… itu membuatku senang."

"Mengapa bisa begitu?"

Himari meletakkan tangannya ke pipinya yang memerah, dan menjelaskan dengan malu-malu.

"Karena itu berarti kamu melihatku sebagai seorang cewek."

"Ek…"

Himari memang benar dengan pernyataan itu, tetapi mendengar itu dari orangnya langsung cuma akan memberikan lebih banyak kerusakan pada Saito. Dan Himari masih belum selesai, lalu dia menatap Saito.

"Kalau begitu…haruskah kita melakukan itu? Ciuman tidak langsungnya."

"Berhentilah menggodaku."

"Aku tidak menggodamu. Aku serius… aku ingin melakukan hal itu denganmu."

"Ya ampun…" Saito merasakan suhu tubuhnya semakin naik, saat ia sedang mengunyah steik mangkuknya.

Saito tahu kalau ini memang diperlukan untuk mendapatkan kembali kehidupan SMA-nya yang tenang dan santai, tetapi ia juga sadar kalau bermain pacar-pacaran dengan Himari terlalu lama itu akan berbahaya. Kalau Saito santai sejenak, ia mungkin akan tertelan oleh pesona Himari. Makan siang mereka selesai, dengan Saito bahkan hampir tidak mengingat rasa steik itu, dan mereka berdua meninggalkan kafetaria di belakang mereka. Di jalan keluar, Saito merasakan tatapan penasaran dari siswa-siswi lain di sekitar mereka, serta tatapan dari niat membunuh Akane, bertabrakan di punggungnya, tetapi ini diperlukan untuk menghapus rumor buruk yang beredar saat ini.

"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Saito bertanya pada Himari dengan suara pelan.

"Pertanyaan yang bagus~ Kita sudah selesai makan siang bersama di kafetaria, jadi aku mau bermesra-mesraan di suatu tempat sampai jam pelajaran berikutnya dimulai."

"…Kamu mau?"

"Ah, tunggu, tidak! Aku cuma kepikiran kalau, kalau kita mau bertingkah seperti pasangan, kita mesti tetap bersama di suatu tempat!" Himari membenturkan satu tinju ke dadanya.

Mata Himari memancarkan kegembiraan. Jelas ini merupakan keinginan pribadi Himari sendiri. Namun, apa yang Himari katakan itu sangat masuk akal, jadi Saito tidak bisa membantahnya.

"Jadi tempat di mana kita bisa berduaan…Ruang persiapan biologi sepertinya kosong tuh."

"Terlalu banyak orang yang mengawasi kita!"

"Bukankah itu bagian terbaiknya? Atau apa kamu marah melihat mereka?"

"Aku bukan Shisei-chan, jadi tidak!"

"Kalau begitu tidak ada masalah bukan."

Pada hari saat Saito mengajak Shisei ke ruang persiapan, ia ketakutan saat mengetahui kalau jumlah orang berkurang setelah mereka bersama.

"Tidak ada sih, tetapi…Hmmm…"

Himari masih tampak ragu-ragu.

"Apa kamu takut dalam hal-hal yang aneh semacam itu? Aku ingat kalau kamu pernah bermain gim horor bersama Shisei sebelumnya."

"Aku biasanya tidak takut dengan hal semacam itu, aku cuma berpikir kalau lokasi yang romantis itu akan sedikit lebih baik. Diperhatikan oleh bola mata di setiap sudut cuma akan membuatku gelisah.”

(TL Note: Halah modus, dasar pelakor.) (Also TL Note: Bacot lo, Min.)

"Aku rasa begitu…?"

Saito tidak terbiasa dengan keinginan seorang cewek gadis, tetapi kalau mereka tidak dapat mengatur suasana hati yang baik, mungkin akan lebih sulit untuk meyakinkan orang-orang kalau mereka sedang pacaran. Himari menawarkan sebuah usulan.

"Mengapa tidak di ruang kelas kosong di dekat kelas kita saja?"

"Bukankah orang-orang dari kelas akan mendapati kita?"

"Itulah intinya. Mereka mesti melihat kita menghabiskan waktu bersama, atau mereka tidak akan pernah berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi."

"Benar…"

Mereka berdua menuju ke atas tangga. Dalam perjalanan mereka, setiap kali mereka bertemu dengan siswa-siswi lain, mereka akan menyapa Himari layaknya seorang ratu yang berjalan melalui istananya. Sesampainya di lorong lantai 4, Saito membuka pintu ruang kelas yang kosong, memeriksa kalau tidak ada orang di dalamnya. Saito masuk ke dalam, dengan Himari menyusulnya segera. Mereka membiarkan pintunya terbuka cukup untuk membiarkan khalayak memeriksa bagian dalamnya. Himari melangkah maju dan bersembunyi di balik bayangan meja dan kursi, dengan Saito di sebelahnya.

"Ini terasa seperti kita melakukan sesuatu yang terlarang." Himari terkikik.

"Jangan bilang begitu."

Menyadari hal ini membuat Saito merasa semakin tidak nyaman.

"Jadi... apa yang mesti kita lakukan supaya dicap bermesraan?"

"Aku juga penasaran..." Himari membalas pertanyaan asli dengan wajah datar.

"Kamu sendiri yang memulainya, tetapi malah kamu yang tidak tahu?!"

"Aku tahu! Aku sebenarnya tahu! Cuma ada terlalu banyak hal yang mau aku lakukan! Aku ragu kalau aku akan mendapatkan kesempatan ini lagi, jadi aku berusaha untuk hati-hati memilih apa yang aku inginkan tanpa rasa sesal!"

Melihat Himari yang sangat panik dan kebingungan, Saito tidak dapat menahan tawanya.

"Me-Mengapa kamu tertawa?" Himari bertanya.

"Biasanya kamu itu akan sangat cuek, jadi melihatmu kebingungan di antara keinginanmu terlalu lucu."

Umumnya, Himari itu orang yang selalu menghentikan amukan Akane, menjernihkan suasana hati di kelas, dan bertindak sebagai guru mereka dalam kehidupan. Karena Himari dapat memprioritaskan kebutuhan orang lain ketimbang dirinya sendiri dan mendukung kebahagiaan semua orang, dia disayangi sebagai balasannya. Namun, Himari yang saat ini tidak sempurna, tetapi agak kikuk dalam mencoba menangani perasaannya pada Saito.

"…Bagaimana aku bisa tenang. Aku sangat menyukaimu, aku tidak dapat menahannya." Himari cemberut yang mengirimkan kejutan menembus dada Saito.

"Jadi apa yang mau kamu lakukan? Aku akan lakukan apapun yang kamu mau."

"Apapun?!" Himari segera menangkap kata-kata itu, yang membuat Saito terhuyung mundur.

"Selama kita tidak melewati batas-batas tertentu..."

"Kalau begitu.... Aku mau kamu menggendongku."

"…Menggendongmu?"

Tinggi Himari itu hampir sama dengan tinggi Saito, tidak melupakan sosok Himari yang hebat, jadi Saito tidak menduga permintaan kekanak-kanakan semacam ini. Untuk sesaat, Saito penasaran apa ia barusan salah dengar. Himari tampak bingung saat dia menjentikkan jari telunjuknya.

"I-Iya…Kamu sering membiarkan Shisei-chan duduk di pangkuanmu, bukan? Aku selalu iri akan hal itu. Itu membuat dia benar-benar dekat denganmu, dan sepertinya kamu dapat memanjakannya seperti itu, jadi…ya."

"A-Aku mengerti…"

Meskipun begitu, hal-hal itu sedikit berbeda saat membandingkan seorang cewek yang sekecil siswi SD, dan seorang cewek yang berperawakan dewasa yang subur. Saat menggendong Himari, segala macam tempat akan menabrak Saito atau akan ada yang keluar. Himari pasti melihat keraguan di wajah Saito, karena…

"I-Iya, aku rasa aku telah meminta hal yang mustahil! Dengan betapa beratnya aku, aku mungkin malah akan membuatmu hancur! Maaf, lupakan saja itu!" Himari menutupi wajahnya karena malu.

"Tidak… aku tidak keberatan. Kamu tidak akan menyakitiku, aku yakin."

"Be-Benarkah? Bukankah aku mungkin akan mematahkan kakimu?"

"Kamu harus lebih percaya pada kekuatan otot cowok sejati." Saito merasa harga dirinya terluka.

"Kalau begitu… tidak apa-apa kalau aku mau melakukan itu." Himari bangkit dan menghadap ke arah Saito.

Karena Himari mengenakan rok yang sependek biasanya, Saito dapat menengadah sambil melihat pahanya, dan hampir melihat apa yang ada di luar wilayah suci itu. Setelah itu, Himari duduk di pangkuan Saito, dan langsung menghadapnya. Yang terjadi selanjutnya yaitu adanya sensasi lembut, saat payudara Himari tertekan tepat ke wajah Saito, dan mencekiknya. Himari kemudian bertanya dengan khawatir.

"A-Apa aku berat…?"

"Tidak sama sekali sih, tetapi…"

Kekuatan serangan dada Himari itu cukup untuk menimbulkan kerusakan yang serius pada Saito. Saito mencoba menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari jebakan ini, tetapi ia terus tenggelam lebih dalam ke pasir hisap yang penuh kenikmatan ini. Aroma semanis madu itu melelehkan sel-sel otak Saito dan membuatnya semakin tak berdaya. Dan itu saja masih belum cukup, Himari dengan lembut berbisik.

"Posisi ini…membuat kita terasa seperti sedang melakukan sesuatu yang cabul. Mengapa ya…"

"Tidak tahu tuh…"

Aroma yang terpancarkan dari tubuh Himari saja sudah cukup untuk merampas kemampuan Saito untuk bernalar. Saito mencoba mengalihkan perhatiannya dari cewek di depannya, tetapi semua panca indra Saito tertarik ke arah Himari sampai Saito dapat mendengar desahannya.

"Mungkin ini sudah terlalu berlebihan…" Saito berusaha melarikan diri lalu Himari berbisik ke telinganya.

"Semua orang sedang menyaksikan... kita mesti melakukan hal ini dengan benar."

Seperti yang dikemukakan Himari, Saito merasakan tatapan yang datang dari arah pintu, serta suara samar dari teman-teman sekelas mereka. Mereka berusaha untuk menjaga suara mereka tetap pelan tetapi kegembiraan mereka tertekuk. Ini, tentu saja, memaksa mereka berdua untuk bersandiwara sampai akhir.

"Jadi... apa yang aku lakukan?"

"Mmm..." Himari tiba-tiba mengejang dengan erangan yang samar.

"A-Ada apa?"

"Napasmu itu membuatku geli…"

"Ma-Maaf."

"Tidak apa-apa. Rasanya enak jadi... aku tidak keberatan..."

(TL Note: Sekali lagi, dasar pelakor.) (Also TL Note: Bacod Lo, Min, berusahalah untuk netral.)

KuraKon-5-2-2

Apa sebenarnya yang Himari maksud dengan itu? Saito merasa seperti ia akan kehilangan sesuatu yang penting, jadi ia menghentikan pemikiran itu. Stimulus menjadi sedekat ini dengan Himari sudah lebih dari cukup yang harus Saito khawatirkan.

"Kalau kita mau lebih pamer, maka…Aku juga ingin dipeluk."

"Begini…?"

"Ah…"

Saat Saito dengan lembut memeluk Himari, embusan napas yang lembut namun gembira keluar dari bibir Himari. Tubuh Himari gemetaran karena terkejut tetapi juga senang, langsung tersampaikan ke lengan Saito. Sinar matahari yang lembut bersinar dari jendela menyinari rambut pirang Himari lebih jauh. Suasana manis ini melelehkan otak Saito. Dia khawatir bahwa gerakan terkecil akan memungkinkan dia untuk merasakan tubuh Himari lebih dekat, membuatnya benar-benar membeku. Napas Himari yang menggelitik Saito, tubuhnya yang berdenyut, dan dadanya ditekan padanya… itu terlalu berlebihan.

"Apa segini... sudah cukup?"

"Be-Belum, orang-orang masih menyaksikan." Himari menekan tubuhnya ke dada Saito.

Suara penasaran para khalayak sudah menghilang, tetapi Himari tentu dapat melihatnya dari posisinya.

"Sampai kapan kita mesti terus begini?"

"Aku tidak tahu… Sebentar… lagi saja ya…" Himari memohon seperti anak kecil, menempel pada Saito.


Ketika mereka berdua kembali ke ruang kelas kelas 3-A, teman-teman sekelas mereka langsung mendekat ke arah mereka.

"Himari-chan, yang barusan itu maksudnya apa?!"

Orang pertama yang mendekati Himari yaitu seorang siswi yang tampak sama mencoloknya. Karena Saito sering melihat mereka berdua bersama-sama, jadi tidak heran kalau mereka berhubungan baik.

"Err, ap-apa yang kamu bicarakan?" Himari pura-pura polos.

"Apa yang baru saja kamu lakukan dengan Houjo-kun! Beberapa siswi melihatmu bermesra-mesraan dengannya di ruang kelas yang kosong! Kok kalian langsung melekat satu sama lain, aku minta penjelasan lengkapnya!"

"Ah, jadi kalian melihat kami…Ahaha, itu agak mengganggu…" Himari tampaknya benar-benar terganggu dengan fakta ini.

Sekali lagi, Himari menunjukkan bakat aktingnya yang luar biasa. Kalau saja Akane yang berada pada posisi ini, mereka pasti sudah ketahuan sejak lama.

"Aku juga melihat mereka makan siang bersama!"

"Apa yang sedang terjadi?!"

"Ishikura-san?!"

"Coba kamu sendiri yang jelaskan!"

Teman-teman sekelas lainnya mendekati Himari tanpa penyesalan sama sekali. Obrolan rahasia di lorong, makan siang bersama di kafetaria, pertemuan di ruang kelas yang kosong, semua peristiwa ini membangun rasa penasaran teman-teman sekelas mereka yang kini sudah meledak. Menyaksikan hal ini, Himari melirik ke arah Saito.

"Apa yang mesti kita lakukan tentang ini? Haruskah kita memberi tahu mereka?"

Bahkan bagian itu dieksekusi dengan sempurna. Menambahkan kata "kita" ke dalam pertanyaannya saja sudah membantu membuat teman-teman sekelasnya jadi lebih gusar. Ruangan itu dalam kendali Himari, siswa-siswi menari di telapak tangannya.

"Iya… aku tidak keberatan."

Saito dipenuhi dengan setengah rasa kagum tetapi juga rasa takut saat ia mengangguk. Saito sekali lagi menyadari kalau individu yang paling berbahaya di kelas ini mungkin itu Himari. Menerima izinnya, Himari mendekat ke arah Saito, gelisah dengan canggung.

"Se-Sebenarnya...Saito-kun dan aku akan keluar."

"""Haaaaaaaaah?!"""

Suara teman-teman sekelas meraung keras.

"Apaan itu barusan?!"

"Aku kira kalau Houjo-kun dan Akane-chan tinggal bersama?!"

"Mungkin saja mereka sudah putus?!"

"Apa ia mendua?!"

"Houjo… aku akan membunuhmu!"

"Ia itu iblis! Bunuh ia! Sekarang juga!"

"Seseorang bawalah cabai merah agar kita bisa menaruh itu ke bokongnya!"

Para siswi kebingungan, dan para siswa penuh dengan rasa haus darah. Ruang kelas itu perlahan berubah menjadi tempat ritual, teman-teman sekelasnya sudah siap untuk membakar Saito sebagai taruhannya, lalu Himari melangkah di antara mereka.

"Maaf, tetapi semua kekacauan ini sebenarnya itu salahku. Aku cuma bercanda saat aku bilang kalau Saito-kun dan Akane tinggal bersama.”

"Bercanda…?" Seluruh siswi tampak kebingungan.

"Kami sebenarnya sudah pacaran cukup lama, tetapi saat aku melihat Saito-kun dan Akane akrab begitu, rasa cemburu mulai menguasaiku. Aku mengatakan hal itu sebagai bahan bercandaan dan di saat yang cukup panas." Himari dengan lembut memeluk bahunya sendiri untuk menekankan kelemahannya. "Aku seharusnya memperjelas hal ini lebih cepat, tetapi lalu semua ini sudah melebar, jadi aku tidak tahu mesti berbuat apa. Karena Saito-kun akan mewarisi Houjo Group, aku tidak mau membuatnya terganggu dengan mengumumkan hubungan kami, jadi…Maaf, semuanya." Himari sangat menundukkan kepalanya, menjelaskan dasar dari rumor tersebut. Himari dengan sempurna memainkan perannya yang bahkan Saito pikir kalau dia sedang mengatakan yang sebenarnya. Namun, pada kenyataannya, mereka semua dipermainkan oleh Himari.

"Kamu tidak perlu minta maaf, Himari-chan!"

"Kamilah yang seharusnya minta maaf, oke?"

"Aku senang kalau kamu dan Houjo-kun akhirnya bisa bersama-sama!"

"Selamat!"

"Jangan berani-berani kamu membuatnya menangis, Houjo!"

Menerima restu dan kata-kata dukungan, Himari tampaknya berhasil menimpali rumor Akane dan Saito tinggal bersama. Himari menatap ke arah Saito dengan mata berair, tersenyum dengan sedikit rasa lega yang bercampur di dalamnya.

"Syukurlah… Sekarang kita tidak perlu berbohong lagi. Kita bisa terbuka dengt hubungan kita, bukan?"

"…Ya."

Saito tidak bisa tidak mengagumi apa yang telah ia saksikan. Dari gerakan tubuh Himari sampai ekspresi dan nada suaranya, semuanya berhasil dengan sempurna untuk mengendalikan pikiran teman-teman sekelas mereka. Bakat akting Himari ini jauh melampaui apapun yang Saito bayangkan. Bahkan pegawai Humas yang ahli dari Houjo Group pun tidak dapat melakukan bakat semacam itu.

"Terima kasih atas semua dukungannya, teman-teman!" Himari melihat ke sekeliling, dan teman-teman sekelasnya mengangguk dengan serempak.


"Saaaaito-kun~."

Jam pelajaran kelima telah berakhir, dan tepat saat Saito memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas sekolahnya, Himari memeluknya dari belakang. Lengan Himari yang ramping melingkari dada Saito, dan pipi Himari digosokkan ke leher Saito.

"Hei... jangan lakukan hal itu secara tiba-tiba."

"Mengapa? Aku rasa seorang pacar punya hak untuk memeluk pacarnya, bukan?"

"Itu benar, tetapi kita kan…" Saito ingin membantah dengan kalimat kalau mereka cuma berpura-pura, tetapi Himari berbisik.

"…Jangan lengah."

"…!"

Saito mengamati ke sekeliling mereka, melihat beberapa teman sekelas mencuri-curi pandang ke arah mereka. Himari tampaknya berhasil meyakinkan sebagian besar temannya, tetapi masih ada beberapa orang yang masih meragukan. Himari berusaha sekuat tenaga untuk menghapus rumor itu, jadi satu kata ceroboh dari Saito saja dapat merusak semuanya. Saito mesti mencurahkan semua fokusnya untuk bersandiwara.

"Melakukan hal ini... di depan orang-orang itu sedikit..."

"Semua orang sudah tahu kalau kita pacaran, jadi apa masalahnya? Malahan, aku mau membual tentang itu."

"Membual…"

Merasakan kekuatan dalam pelukan Himari, Saito menyadari kalau Himari itu serius, dan bukan cuma karena orang-orang menyaksikan.

"Kamu itu bisa sangat posesif, ya?"

"Tentu saja. Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun."

Genggaman Himari semakin kuat. Merasa kalau ia sudah menjadi milik Himari, membuat dada Saito berdebar-debar. Himari biasanya cukup berpikiran terbuka terhadap segala hal dan semua orang, tetapi anehnya, tampaknya dia itu sangat bersemangat dalam urusan cinta.

"Mari kita pergi ke ruang kelas sebelah, oke?"

"Oke."

Saito bangkit dengan Himari menempel pada lengannya.

"Aku tidak dapat berjalan kalau begini."

"Tidak masalah~."

"Ini masalah yang besar bagiku."

"Merasa malu karena payudaraku mengenaimu?" Himari bertanya dengan nada yang menggoda.

"Kalau kamu sudah sadar maka hentikan!"

"Ini juga hak istimewa sebagai pacarmu."

"Dan ada berapa banyak hak istimewa yang ada?"

"108, menurutku."

"Seperti 108 kilesa dalam ajaran Buddha?!"

Dengan sedikit olok-olokan yang berputar-putar, mereka berdua berjalan menyusuri lorong. Himari tampaknya menikmati reaksi Saito karena dia berpegangan pada Saito dengan lebih erat. Himari jelas jauh lebih dekat daripada rata-rata teman-teman kalian di sekolah, itulah sebabnya mereka menarik banyak perhatian dari siswa-siswi lain yang berjalan di lorong. Bahkan para siswi dari kelas lain pun memanggil mereka.

"Himari, jadi kamu jadi benar-benar pacaran dengan Houjo-kun?"

"Benar sekali. Kami itu sangat mesra."

"Aku juga bisa tahu cuma dengan melihatnya! Aku sangat cemburu."

"Kamu sebaiknya begitu~."

Para siswi itu mengobrol dengan penuh semangat. Saito seharusnya menjadi bagian dari obrolan ini, namun para siswi itu cuma memperlakukannya seperti aksesori. Ini pasti yang dirasakan seorang cowok ketika pacarnya berpapasan dengan temannya yang sedang pacaran.

"Sudah seberapa jauh hubungan kalian berdua? Apa kalian sudah berciuman?"

"Emm…sudah seberapa jauh ya hubungan kita, Saito-kun…?" Himari bertanya sambil menatap Saito.

Saito mau sekali melontarkan bantahan tetapi mampu menahan dirinya.

"Kami... masih belum, saat ini."

"Belum? Aku merasa tidak kasihan padamu, Himari."

"Aku tidak keberatan melakukan hal itu sesegera mungkin…kamu tahu, Saito-kun?"

"Aku yakin~." Saito cuma berkomentar dengan respons yang monoton.

Wajah Saito pasti datar di luar kepercayaan.

"Kalau begitu turuti permintaannya, Houjo-kun~."

"Secepatnya…"

"Mengapa tidak di sini saja?"

"Penyiksaan macam apa yang kalian usulkan ini?!" Saito merasakan dorongan untuk melarikan diri sebelum ia dipaksa melakukan sesuatu yang aneh.

Apa pacaran itu benar-benar selalu semelelahkan ini? Karena Saito belum pernah berhubungan dengan percintaan sebelumnya, ia cuma ingin kembali membaca. Mereka berdua akhirnya terbebas dari para siswi tadi, sudah terlambat untuk masuk ke jam pelajaran mereka berikutnya. Mereka berlari menyusuri lorong sambil terengah-engah.

"Maaf, aku terlambat, Saito-kun!"

"Jangan bicara sambil berlari atau lidahmu akan tergigit!"

"Ah, benar! Tunggu sebentar!" Himari berpegangan pada lengan Saito dan berhenti.

Saito hampir tidak dapat berhenti, yang membuat mereka hampir saja terjatuh.

"Kita akan terlambat pada titik ini."

"Tidak apa-apa. Mari kita datang terlambat beberapa menit."

"Mengapa kita harus melakukannya…?"

"Percayakan saja padaku~."

Himari pasti punya pemikiran tersendiri tentang hal ini. Saat punya ide untuk mengendalikan pendapat orang lain, Saito menduga akan lebih baik untuk menyerahkan hal ini pada Himari. Dengan keputusan itu, mereka berdua menghabiskan waktu tambahan di dekat tangga. Bel berbunyi dengan cepat dengan sebagian besar siswa-siswi menghilang dari lorong, karena cuma ada mereka berdua yang tersisa di dekat jendela. Himari mengacak-acak rambut panjangnya, menatap Saito dengan ekspresi yang agak malu-malu. Matahari menyinari punggung Himari, menciptakan sesuatu yang bersinar seperti bidadari.

"…Begini, mengapa kita tidak bolos mata pelajaran saja?" Himari menyeringai saat dia bertanya.

"Apa kamu biasanya itu tipe orang yang suka bolos mata pelajaran?"

Himari mungkin tampak seperti seorang gyaru, tetapi dia punya kepribadian yang cukup rajin meskipun tampak begitu.

"Aku biasanya tidak begitu. Tetapi aku rasa itu akan menyenangkan kalau aku bisa membuatmu menurutiku. Jadi mari kita lakukan?" Himari duduk di ambang jendela di sebelah Saito.

Rok Himari berkibar sedikit karena angin sepoi-sepoi.

"Lalu apa yang akan kita lakukan, kalau begitu?"

"Biar aku pikir-pikir dulu... Kita bisa naik kereta secara acak untuk meninggalkan negara ini dan tidak akan pernah kembali?" Himari berbicara tentang petualangan liar.

"…Apa kamu sebegitu stresnya?"

"Sama sekali tidak kok. Pergi ke Antartika itu akan menyenangkan, bukan? Tidak ada yang mengenal kita, dan kita tidak akan bertemu siapapun. Kita dapat membangun rumah yang jauh dari penguin dan anjing laut untuk hidup dalam isolasi selama 100 tahun ke depan."

"Ada sesuatu yang aneh denganmu, bukan?" Saito benar-benar khawatir pada Himari.

Himari mungkin cuma menderita dari kekhawatiran dan masalah yang tidak disadarinya.

"Lalu bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota?"

"Kita dapat melakukannya setelah jam pelajaran selesai, bukan?"

"Kamu mau melakukannya denganku?" Mata Himari berbinar.

"Ehh…"

"Pasangan sejati pasti akan pulang bersama, bukan? Dan agar yang lain benar-benar percaya kalau kita pacaran, kita mesti mesra bahkan di luar sekolah."

"Itu mungkin benar, tetapi…"

Himari melingkarkan kedua tangannya ke sekitar tangan Saito, berbicara dengan semangat yang meluap dari suaranya.

"Kalau begitu mari kita berkencan sepulang sekolah, oke? Ini bisa jadi kencan pura-pura! Aku akan membayar semuanya, dan kita dapat melakukan apapun yang kamu suka! Aku bahkan akan membawakan barang-barangmu!"

Melihat betapa tulusnya Himari dengan ajakannya, Saito kesulitan untuk menolaknya. Rasa bersalah karena sebelumnya menolak Himari yang masih melekat di dadanya, dan Saito tidak mau menyakiti Himari lebih jauh. Melihat Himari sebagai manusia lajang, bagaimanapun juga, Saito agak menyukainya.

"…Mengerti. Kalau itu dapat membantu kita untuk berpura-pura."

"Yei~! Kamu sangat baik, Saito-kun!"

"Ap…"

Himari melompat ke pelukan Saito, membuatnya bingung dan tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Menyingkirkan Himari begitu saja pasti tidak sopan, tetapi sesuatu menghalangi Saito untuk membalas pelukan itu.

"Pokoknya kita mesti pergi sekarang. Kalau kita terlambat, itu akan berdampak negatif pada nilaimu."

"Aku tahu itu, kamu sangat baik. Kamu khawatir padaku, bukan?"

"Tentu saja. Kalau nilaimu turun lebih jauh lagi, kamu akan berada dalam masalah besar."

Himari cemberut.

"Hm? Maksudnya itu apa ya?"

"Tepat seperti yang aku katakan."

"Iya, itu akan baik-baik saja! Bapak akan membantu meningkatkan nilaiku sepuluh kali lipat, jadi aku tidak khawatir sama sekali, Pak Guru!"

"Sejak kapan aku jadi gurumu?"

Langkah kaki mereka bergema melalui gedung sekolah yang sepi saat mereka menuruni tangga. Namun, Himari tampaknya bersenang-senang, hampir menuruni tangga dengan ritme. Begitu mereka memasuki ruang kelas kimia, suara heboh meledak dari teman-teman sekelas mereka.

"Mereka terlambat!"

"Apa yang mereka lakukan sampai datang terlambat?!"

"Apa kamu benar-benar harus menanyakannya?"

"Terkutuklah kamu, Houjo…"

"Sangat mesra!"

Mereka dihujani dengan tatapan kegembiraan dan disambut dengan sorak-sorai.

"Tenanglah, kita sedang di tengah-tengah jam pelajaran." Guru memarahi mereka, tetapi obrolan itu tidak berhenti.

—Begitu, jadi itu yang Himari mau...

Cuma dalam waktu lima menit, kesan mereka berdua dalam berpacaran semakin kuat. Itu dilakukan dengan terampil, sekali lagi. Saito meminta maaf karena terlambat dan duduk di kursinya. Tepat saat Saito membuka buku pelajarannya, ia merasakan keringat dingin mengalir di tulang punggungnya. Melihat ke sampingnya, Saito mendapati Akane sedang memelototinya. Akane memancarkan niat membunuh yang jelas, yang membuat Saito kewalahan dengan tekanan yang mengintainya. Di tangannya, Akane punya pulpen yang dia patahkan menjadi dua. Saito merasa ketakutan, berpikir kalau ia mungkin akan terbunuh begitu ia pulang hari itu.


Saat bel berbunyi untuk kedua kalinya, Akane menyadari kalau tidak ada Saito ataupun Himari. Akane bertanya-tanya apa yang mereka lakukan, mengirim pesan Himari di sana-sini. Namun, tidak ada balasan yang datang. Himari bahkan tidak mau membaca pesannya. Begitu mereka berdua bergegas ke kelas, Akane dapat melihat kalau pipi Himari memerah. Akane belum pernah melihat ekspresi macam itu pada Himari sebelumnya. Rambut Himari yang acak-acakan. Himari cuma menempel pada lengan Saito seperti dia itu seekor kucing.

—Yang benar saja deh… apa sih yang mereka lakukan?

Bagi Akane, rasanya seakan-akan mereka berdua telah meninggalkannya, menuju ke tempat lain tanpa dia. Akane merasa ketakutan, seperti dia akan terjatuh dari kursinya, jadi dia berpegangan pada sudut mejanya. Akane tidak tahu mengapa hatinya merasa galau begini. Akane tahu kalau mereka cuma berakting, namun… Saat Akane melihat mereka berdua saling tersenyum lagi dan lagi selama jam pelajaran, rasanya seperti satu jarum kecil ditusukkan tepat ke dadanya. Ketika jam pelajaran berakhir dan Akane mendapati Himari memperbaiki dasi Saito yang bengkok, dia merasakan dorongan untuk memutuskan antara mereka berdua...Tetapi, dia tidak bisa.

Kalau Akane melakukan itu, itu akan membuat teman-teman sekelas mereka meragukan hubungan mereka lagi. Himari berusaha sekuat tenaga untuk meredakan situasi ini untuk mereka, jadi Akane akan merusak semua itu. Akane tidak dapat mendekati Saito dengan cara apapun. Bahkan pertengkaran sehari-hari mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir sekarang ditahan. Tepat saat kelompok di sekitar Himari melemah, Akane melihat kesempatannya untuk mendekati temannya.

"Jadi…Himari? Apa kamu tidak berlebihan?"

"Apa maksudmu?" Himari terdengar bingung.

Akane menerka-nerka penjelasannya, berusaha untuk berbicara.

"Ten-Tentang Saito. Kamu tidak mesti berlebihan, bukan? Kalian tampak seperti… pasangan yang cuma saling memperhatikan satu sama lain."

"Kami tampak seperti itu ya?" Suara Himari memendam kegembiraan.

"Mengapa kamu kedengarannya sangat bahagia?!"

"Maksudku, menjadi pasangan macam itu dengan Saito-kun itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan! Jadi kami tampak seperti itu ya…? Hehe, aku sangat senang." Himari tersenyum senang.

Melihat temannya senang, tentu membuat Akane juga senang…atau begitulah seharusnya. Namun untuk beberapa alasan, Akane tidak bisa senang. Akane cuma memeluk buku paketnya dekat dengan dadanya, seakan-akan untuk melindungi hatinya.

"Ngomong-ngomong, aku tidak merasa kalau kamu mesti bersikap sangat menempel padanya."

"Itulah intinya. Itu akan menghilangkan rumor ini lebih cepat. Paling lebih baik dari melakukannya setengah hati."

"Tetapi tetapi…"

Karena Himari berbicara semata-mata dengan alasan, Akane tidak punya ruang untuk berdebat. Mengapa Akane bahkan berusaha untuk menghentikan mereka dari bertindak sebagai pasangan dari awal? Kalau rencana pura-pura pacaran mereka saat ini berhasil, seharusnya tidak ada alasan untuk menghentikan itu. Saat Akane sedang bingung dengan perasaannya sendiri, Himari sekali lagi dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya, tidak membiarkan Akane berbicara sepatah katapun, yang cuma bisa melenggang pergi dengan kekalahan.

"Apa kamu benar-benar harus menanyakannya?"

"Terkutuklah kamu, Houjo…"

"Sangat mesra!"

Mereka dihujani dengan tatapan kegembiraan dan disambut dengan sorak-sorai.

"Tenanglah, kita sedang di tengah-tengah jam pelajaran." Guru memarahi mereka, tetapi obrolan itu tidak berhenti.

—Begitu, jadi itu yang Himari mau...

Cuma dalam waktu lima menit, kesan mereka berdua dalam berpacaran semakin kuat. Itu dilakukan dengan terampil, sekali lagi. Saito meminta maaf karena terlambat dan duduk di kursinya. Tepat saat Saito membuka buku pelajarannya, ia merasakan keringat dingin mengalir di tulang punggungnya. Melihat ke sampingnya, Saito mendapati Akane sedang memelototinya. Akane memancarkan niat membunuh yang jelas, yang membuat Saito kewalahan dengan tekanan yang mengintainya. Di tangannya, Akane punya pulpen yang dia patahkan menjadi dua. Saito merasa ketakutan, berpikir kalau ia mungkin akan terbunuh begitu ia pulang hari itu.


Saat bel berbunyi untuk kedua kalinya, Akane menyadari kalau tidak ada Saito ataupun Himari. Akane bertanya-tanya apa yang mereka lakukan, mengirim pesan Himari di sana-sini. Namun, tidak ada balasan yang datang. Himari bahkan tidak mau membaca pesannya. Begitu mereka berdua bergegas ke kelas, Akane dapat melihat kalau pipi Himari memerah. Akane belum pernah melihat ekspresi macam itu pada Himari sebelumnya. Rambut Himari yang acak-acakan. Himari cuma menempel pada lengan Saito seperti dia itu seekor kucing.

—Yang benar saja deh… apa sih yang mereka lakukan?

Bagi Akane, rasanya seakan-akan mereka berdua telah meninggalkannya, menuju ke tempat lain tanpa dia. Akane merasa ketakutan, seperti dia akan terjatuh dari kursinya, jadi dia berpegangan pada sudut mejanya. Akane tidak tahu mengapa hatinya merasa galau begini. Akane tahu kalau mereka cuma berakting, namun… Saat Akane melihat mereka berdua saling tersenyum lagi dan lagi selama jam pelajaran, rasanya seperti satu jarum kecil ditusukkan tepat ke dadanya. Ketika jam pelajaran berakhir dan Akane mendapati Himari memperbaiki dasi Saito yang bengkok, dia merasakan dorongan untuk memutuskan antara mereka berdua...Tetapi, dia tidak bisa.

Kalau Akane melakukan itu, itu akan membuat teman-teman sekelas mereka meragukan hubungan mereka lagi. Himari berusaha sekuat tenaga untuk meredakan situasi ini untuk mereka, jadi Akane akan merusak semua itu. Akane tidak dapat mendekati Saito dengan cara apapun. Bahkan pertengkaran sehari-hari mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir sekarang ditahan. Tepat saat kelompok di sekitar Himari melemah, Akane melihat kesempatannya untuk mendekati temannya.

"Jadi…Himari? Apa kamu tidak berlebihan?"

"Apa maksudmu?" Himari terdengar bingung.

Akane menerka-nerka penjelasannya, berusaha untuk berbicara.

"Ten-Tentang Saito. Kamu tidak mesti berlebihan, bukan? Kalian tampak seperti… pasangan yang cuma saling memperhatikan satu sama lain."

"Kami tampak seperti itu ya?" Suara Himari memendam kegembiraan.

"Mengapa kamu kedengarannya sangat bahagia?!"

"Maksudku, menjadi pasangan macam itu dengan Saito-kun itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan! Jadi kami tampak seperti itu ya…? Hehe, aku sangat senang." Himari tersenyum senang.

Melihat temannya senang, tentu membuat Akane juga senang…atau begitulah seharusnya. Namun untuk beberapa alasan, Akane tidak bisa senang. Akane cuma memeluk buku paketnya dekat dengan dadanya, seakan-akan untuk melindungi hatinya.

"Ngomong-ngomong, aku tidak merasa kalau kamu mesti bersikap sangat menempel padanya."

"Itulah intinya. Itu akan menghilangkan rumor ini lebih cepat. Paling lebih baik dari melakukannya setengah hati."

"Tetapi tetapi…"

Karena Himari berbicara semata-mata dengan alasan, Akane tidak punya ruang untuk berdebat. Mengapa Akane bahkan berusaha untuk menghentikan mereka dari bertindak sebagai pasangan dari awal? Kalau rencana pura-pura pacaran mereka saat ini berhasil, seharusnya tidak ada alasan untuk menghentikan itu. Saat Akane sedang bingung dengan perasaannya sendiri, Himari sekali lagi dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya, tidak membiarkan Akane berbicara sepatah katapun, yang cuma bisa melenggang pergi dengan kekalahan.


Setelah jam pelajaran berakhir, Himari tidak mau membuang-buang banyak waktu dan  meninggalkan kelas bersama Saito. Mereka mengaitkan lengan mereka seperti pasangan sungguhan, dan langsung pamer.

Apa mereka akan pergi berkencan…?

Akane ditinggal, bersiap untuk pulang dengan dadanya dipenuhi perasaan yang samar dan suram. Akhir-akhir ini, Akane dan Saito tidak dapat pergi berbelanja bersama, semua fokus itu tertuju pada Himari.

Tunggu, ini malah seperti aku ingin pergi ke suatu tempat bersama Saito! Sama sekali bukan begitu!

Akane dengan keras menggelengkan kepalanya lalu Maho datang dengan tergesa-gesa ke dalam ruang kelas itu.

"Mbak! Adik Mbak yang menggemaskan ini datang ke sini untuk menjemput Mbak! Mari kita pulang bersama!"

"Iya, mari." Akane merasa seperti sedang disembuhkan oleh adiknya yang bertingkah energik ini.

Akane merasa seperti dia akhirnya punya tempat untuk berpangku. Setidaknya satu juta kali lebih baik daripada saat Akane berada di sekitar Saito. Maho meraih tangan Akane, dan mereka pergi melalui pintu depan.

"Aku barusan melihat Mas dan Himarin berjalan di lorong! Mereka tampak sangat dekat seperti mereka itu pasangan sungguhan!"

"Mereka cuma akting, tidak lebih!" Akane menginjak-injak lantai sambil marah.

"Mbak pikir begitu? Himarin sudah lama menyukai Mas, jadi aku tidak akan terkejut kalau-kalau mereka akan benar-benar pacaran. Mas sendiri juga kelihatannya senang."

"Itu palsu! Semua palsu! Itu cuma akting!"

"Mengapa Mbak sangat kesal begitu?"

"Mbak tidak kesal sama sekali!"

Akane jelas kelas. Bahkan sampai-sampai, Akane sendiri juga menyadarinya. Akane tidak bermaksud bertingkah begini di depan adiknya sendiri, tetapi dia tidak dapat menahan diri. Emosi Akane meluap ke mana-mana. Akane biasanya punya kecenderungan untuk mengamuk kalau berkaitan dengan hal emosinya sendiri, tetapi ini menjadi semakin buruk ketika Saito terlibat di dalamnya. Begitu Saito ada di dekatnya, Akane akan secara alami menjadi galau, dan ketika Saito memperlakukan Akane dengan baik, Akane akan jadi bahagia tanpa henti. Itu seperti aliran emosi yang membingungkan tanpa henti. Tidak peduli apa alasannya, hubungan mereka berdua selalu buruk. Itulah mengapa emosi Akane sangat kacau bahkan saat ini.

"Mbak, mungkin Mbak mesti mengeluarkan stres yang dipendam?" Maho berbicara dengan nada khawatir saat dia melirik ke wajah Akane, sehingga menariknya kembali ke dunia nyata.

"Mbak tidak apa-apa, sungguh."

"Apakah Mbak benar-benar tidak apa-apa? Aku khawatir kalau Mbak mungkin akan meninju orang asing secara acak."

"Mbak itu bukan berandalan!"

"Tidak apa-apa, aku akan melakukan yang terbaik untuk menghapus dan menghilangkan bukti apapun yang dapat digunakan di pengadilan dan berbohong selama sesi kesaksianku untuk memastikan keselamatan Mbak!"

"Mbak tidak akan lakukan apapun yang mengharuskanmu melakukan hal semacam itu! Dan juga, kamu tidak boleh melakukan itu, kamu akan dituntut atas kesaksian palsu!"

Akane merasa sakit hati karena adiknya melihatnya dengan cara yang begitu enteng.

"Mari kita pergi ke pusat gim! Kita bisa menembak beberapa zombi untuk menyingkirkan semua juju jahat itu!"

"Mbak tidak mau yang ada zombi-zombiannya!"

"Oke, kalau begitu kita akan pergi kencan!"

Akane tidak dapat menolak permintaan adiknya, yang menariknya begitu saja. Akane tidak menyukai gim yang aneh dan keji macam itu, tetapi ini jauh lebih baik ketimbang cuma menunggu di rumah selama berjam-jam tanpa henti. Itulah sebabnya Akane setuju untuk ikut. Mereka berpindah dari jalur yang biasa mereka tempuh dari sekolah untuk memasuki kawasan pertokoan yang seperti biasanya dipadati siswa-siswi. Karena mereka tidak mau mengambil risiko ketahuan oleh teman-teman sekelas mereka, Akane dan Saito belum pernah datang ke sini sebelumnya. Akane sering melewati jalan ini bersama Himari, biasanya dalam perjalanan pulang, tetapi itu juga berhenti akhir-akhir ini. Akane selalu diganggu oleh pekerjaan rumah tangga, dan Himari telah menemukan pekerjaan paruh waktu, jadi jadwal mereka tidak pernah cukup cocok. Akane dan Maho berjalan menyusuri jalan yang ramai sambil berpegangan tangan lalu Maho angkat bicara.

"Sekarang kalau aku ingat-ingat, Mbak pernah pergi ke pesta ini beberapa tahun yang lalu, bukan?"

"Pesta…?"

"Mbak tahu, saat Mbak akan wisuda dari SD. Nenek mengajak Mbak ke pesta itu, bukan? Aku sendiri ingin pergi ke sana, tetapi aku merasa belum siap untuk itu. Pesta diadakan di kediaman terpisah itu, milik teman Nenek yang itu…"

"…!" Akane terdiam.

Akane belum pernah pergi ke pesta manapun sebelumnya, tetapi kalau bicara soal satu pesta di kediaman, cuma ada satu. Itu merupakan kediaman mewah dan terpisah yang dimiliki oleh Houjo Group dan tampak seperti istana kerajaan keluarga bangsawan. Semua tamu mengenakan pakaian mahal, menikmati makanan yang belum pernah dilihat Akane sebelumnya. Yang paling mendapat perhatian saat itu yaitu putra Kaisar Tenryuu, penjabat pangeran dan penerus grup—Saito.

"Mbak dalam suasana hati yang sangat baik saat Mbak kembali dari pesta itu, bukan?"

"Apa Mbak begitu…?"

"Iya. Mbak tampak gelisah, galau, merana, dan benar-benar berbeda dari biasanya. Mengapa bisa begitu?"

"Itu…"

Akane mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu lebih dia merasakan tubuhnya memanas. Kenangan yang kembali, rasa malu yang membakar yang memenuhi diri Akane, dicampurkan dengan rasa frustrasi… Rasanya seakan-akan dia telah membuka kotak Pandora, jadi Akane dengan panik membanting kotak itu hingga tertutup kembali.

"Tidak ada apa-apa kok!"

"Hah? Itu tidak benar, bukan~ Dan juga, pertama kalinya Mbak bertemu dengan Mas bukan di SMA, tetapi saat pesta itu, bukan?" Maho menatap wajah Akane dari dekat.

"Mbak tidak tahu! Dan Mbak tidak mau mengingatnya!"

"Jadi memang ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak ada sama sekali! Tidak saat pesta itu!"

"Jadi setelah pesta itu?"

Akane menyilangkan tangannya dan membuang muka.

"Tidak ada yang terjadi! Kita sudahi mengobrol soal ini! Dan kalau kamu tidak mau sudahi, Mbak akan membuatmu makan bubur nasi!"

"Tega-teganya Mbak mengancamku begitu?!"

"Dan agar membuat bubur itu jadi lebih sehat, itu cuma terbuat dari air dan nasi!"

"Jangan! Setidaknya beri aku hamburger yang banyak dilumuri saus!" Maho mulai menangis.

Akane mulai merasa sedikit bersalah, tetapi ini merupakan satu-satunya metode yang bisa dia pikirkan untuk menghentikan pertanyaan tidak akan berakhir ini.

"Oke, baiklah! Mbak tidak perlu memberi tahuku kalau begitu! Aku cuma akan menganggap kalau Mbak dan Mas saling jatuh cinta dan kemudian berpisah."

"Serius deh, tidak ada yang terjadi kok…" Akane menggigit bibirnya.

Setelah pesta itu, sampai ujian masuk SMA, Akane tidak melihat Saito.

Makanya aku…

Akane diliputi perasaan yang sama seperti yang dia rasakan selama upacara penerimaan mereka, jadi dia menamparkan pipinya untuk melupakan hal itu. Akhir-akhir ini, ada yang salah dengan Akane. Bahkan hari ini, pikiran Akane selalu berada di tempat lain… dan sudah begini untuk waktu yang cukup lama. Terutama setelah dia mendengar Saito dan Maho berbicara di rumah sakit.

Mereka berdua masuk ke pusat gim. Biasanya, Akane akan bermain gim jangkar dengan Himari, berfoto di kotak foto, atau bermain gim ritme, tetapi Maho segera berjalan ke belakang dengan gim yang lebih serius.

"Mari kita mainkan gim tembak-tembakan ini, Mbak!"

Maho berhenti di depan tanda yang bertuliskan 'Krisis Pertempuran Senjata.' Layar besar di depan mereka menunjukkan adegan aksi seperti di film, dengan dua senjata yang disediakan pada para pemain.

"Mbak tadi sudah bilang tidak kalau ada zombi-zombiannya, bukan?!" Akane menutupi matanya.

"Yang ini tidak ada zombinya! Mbak akan melawan prajurit manusia atau robot-robot!"

"Be-Benarkah…?"

"Iya, iya! Jadi tidak perlu takut!"

"M-M-Mbak sama sekali tidak takut!"

Akane perlahan-lahan melepaskan tangannya dari matanya dan melihat gim itu sendiri. Akane tidak melihat ada zombi di manapun sejauh ini. Dan juga tidak ada zombi yang menjadi bagian dari rekaman yang diputar di layar. Akane mencarinya secara daring, tetapi situs resminya juga tidak menyebutkan kata "zombi". Melihat semua usaha persiapan ini membuat Maho menghela napas.

"Mbak tidak harus secermat ini, tahu?"

"Cu-Cuma untuk memastikan!" Akane memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sekolahnya.

Maho biasanya itu cewek yang baik tanpa niat buruk, tetapi dia punya kecenderungan untuk mengerjai Akane kapanpun dia mau. Oleh sebab itu, Akane tidak dapat lengah bahkan untuk sedikitpun. Akane memasukkan cukup uang untuk mereka berdua bermain ronde dan mengambil pistol. Itu disederhanakan tetapi terasa dan bertindak seperti pistol asli. Sempurna sekali untuk suasana hati Akane saat ini. Maho membantu menjelaskan kendalinya.

"Mbak memegang pistolnya di tangan dominan Mbak, meletakkan jari di sini pada pelatuk. Kalau Mbak mau mengganti senjata Mbak, Mbak bisa tekan tombol ini, dan untuk memuat ulang itu dengan tombol ini."

"…Apa ini punya peluru sungguhan?"

"Kalaupun iya, nanti Mbak malah akan membunuh orang di kiri dan kanan dengan peluru nyasar!"

"Mbak rasa begitu…Mbak akan membawa Saito ke sini, kalau tidak…"

"Jangan katakan hal-hal yang akan dapat digunakan sebagai bukti di pengadilan! Dan mengapa Mbak ingin menggunakan peluru sungguhan pada Mas?! Apa kalian berdua sedang bertengkar?!"

"Mbak tidak akan menembak Saito, cuma ingin membuatnya geli dengan beberapa peluru... Mbak punya keinginan yang tidak terpuaskan untuk menguji bayi ini padanya."

"Menakutkan! Perasaan jujur Mbak itu menakutkan!"

Sementara mereka mengobrol berputar-putar, adegan berhenti berputar dan gim dimulai. Akane tidak menontonnya sedetikpun jadi dia tidak tahu bagaimana ceritanya, tetapi yang mesti dia lakukan cuma memusnahkan musuh yang datang padanya. Prajurit musuh pun muncul, lalu Akane dan Maho menodongkan senjata ke arah mereka. Setiap kali tembakan peluru itu bergema, retakan muncul di layar. Setiap kali mereka melawan, para prajurit mulai bersembunyi di balik bayangan, menyerang saat Akane kehabisan peluru.

"Ahhh, ini sangat membuat frustrasi! Tetaplah tenang, oke!"

Para prajurit yang menyerang mulai tampak seperti Saito. Akane menuangkan semua tekanannya yang terpendam ke dalam peluru, tanpa henti menembaki para musuh. Saat Akane membayangkan Saito menghindari peluru itu, bidikannya menjadi jauh lebih akurat. Perlahan tetapi pasti, kepala prajurit musuh diledakkan. Ketika Akane mengambil kotak yang tampak seperti senjata, dia mendapatkan senjata (buff) pada pelurunya. Akane berbaris melalui medan perang penuh dengan teriakan, saat dia mengincar musuh dari kiri ke kanan. Ketika Akane sadar kembali, layar tertulis 'Babak Selesai! Skor Tinggi!’ dalam teks tebal. Itu diikuti sorakan keras dari sekeliling mereka. Akane bahkan tidak sadar kalau dia sudah menarik banyak perhatian dari pengunjung lain.

"Wah, wah! Kita dapat skor tinggi, Mbak! Yang terbaik ketiga di seluruh negeri! Apa Mbak diam-diam seorang pemain gim?!"

"Mbak belum pernah memainkan gim ini sebelumnya."

"Kalau begitu bagaimana Mbak bisa sangat jago dalam memainkannya?!"

"Mbak cuma menganggap semua musuh itu sebagai Saito, dan kemudian tubuh Mbak bergerak dengan sendirinya… Memberi tahu Mbak untuk membunuh mereka secepat mungkin."

"Mengapa Mbak sangat membenci Mas sih?!"

"Mbak bersyukur karena kita tidak tinggal di Amerika Serikat. Kalau begitu Mbak mesti sudah membeli senjata sekarang…"

"Ya ampun, aku sama bersyukurnya! Aku merasa kasihan pada Mas! Mas akan mati seratus kali lipat."

Karena gimnya sudah selesai, Akane dengan cepat melarikan diri dari sana. Maho tampaknya berencana untuk memecahkan rekor nasional, tetapi Akane mau menghindari perhatian yang tidak perlu. Sudah ada kehebohan di sekolah, jadi Akane sudah lebih dari lelah.

"Hei, mari kita mainkan ini bersama! Atau lebih tepatnya, mainkan ini untukku!" Maho berpegangan pada lengan Akane, menunjuk pada apa yang tampaknya seperti gim arkade tinju.

Sebuah samsak merah menjuntai di mesin seperti kotak, dengan sarung tinju tersedia di dekatnya.

"Maho…apa menurutmu Mbak ini semacam pembunuh bayaran? Mana mungkin Mbak bisa melakukan ini!"

"Tentu saja Mbak bisa! Anggap saja samsak merah itu sebagai Mas dan pukul ia dengan benar!"

"Saito itu… samsaknya…" Akane tiba-tiba dipenuhi dengan dorongan motivasi.

Akane memakai sarung tinju itu, menatap ke samsaknya. Samsak itu tiba-tiba tampak seperti membesar, wajah Saito menyeringai pada Akane seakan-akan ia sedang mengejek Akane, mengatakan sesuatu seperti "Kikiki, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku."

"Lihat saja… aku akan menghancurkan wajah sombongmu itu…"

"Wajah?! Di mana Mbak melihat wajah?! Mbak tidak berbicara tentang wajahku, bukan?!" Maho benar-benar khawatir.

Akane menarik napas dalam-dalam, menarik kembali lengannya, dan memukulkannya pada samsak itu dengan sekuat tenaga. WHAPOW, suara ledakan terdengar, bersama dengan musik perayaan dari mesin, saat suara mekanik mengatakan "Skor Tinggi!" Karena senang, Maho melompat-lompat ke arah Akane.

KuraKon-5-2-3

"Astaga, Mbak! Mbak mendapatkan skor tertinggi kedua!"

"Tampaknya Mbak dapat menghancurkan wajah Saito dengan baik."

"Wajah Mas sudah bukan masalah lagi sekarang! Tetapi Mbak itu luar biasa, itu merupakan kekuatan amarah yang mendorong Mbak! Mari kita incar skor tertinggi!"

"Kamu benar…Mbak butuh lebih banyak kekuatan untuk melenyapkan Saito…" Akane mengangguk puas.


Saito berjalan melewati kawasan perbelanjaan lalu ia kebetulan masuk ke dalam pusat gim tertentu. Kalau saja itu cuma pusat gim biasa, Saito mungkin tidak perlu ketakutan begini. Namun, apa yang benar-benar membuat Saito merinding yaitu Akane yang benar-benar menghancurkan mesin tinju dengan sekuat tenaga. Khalayak menyaksikan ini dengan takjub, dengan Maho melompat-lompat kegirangan. Dan kemudian, Akane berteriak, "Saito, dasar kamu bodoh!" dari atas paru-parunya. Saito menyaksikan semua hal ini terungkap.

Untuk sepersekian detik, Saito merasa seperti ia melihat dirinya sebagai samsak itu. Dan tanpa ragu, Akane juga merasakan hal yang sama dalam pikirannya.

"Ada apa, Saito-kun?" Himari menatap wajah Saito saat dia berhenti di sampingnya.

"Ma-Mari kita pergi ke sebelah sana, mungkin." Saito memegang tangan Himari dan mengajaknya pergi dari sekitar pusat gim.

"I-Ini pertama kalinya…kamu pernah memegang tanganku, bukan…?" Himari tersipu.

Itu sangat menggemaskan, tetapi Saito tidak melakukannya karena maksud romantis. Saito cuma merasakan insting yang mendesaknya untuk melarikan diri. Kalau saja Akane melihat mereka berdua berkencan di kawasan bisnis sekarang—bahkan kalaupun itu cuma berpura-pura—dia kemungkinan besar akan menghancurkan kepala Saito. Itulah seberapa banyak amarah yang menumpuk di dalam diri Akane saat ini.

Kawasan bisnis ini dipenuhi dengan sesama siswa-siswi yang mengenakan seragam yang sama dengan Saito dan Himari, mulai dari teman biasa hingga pasangan yang tampak terbuka. Seperti yang dikatakan Himari sebelumnya, kalau mereka pamer sebagai pasangan yang sedang berkencan, itu akan membuatnya semakin tampak seperti mereka sedang pacaran sungguhan.

"Jadi apa yang mesti kita lakukan sekarang?" Saito angkat bicara.

"Kamu menanyakan hal itu pada seorang cewek?"

"Aku sama sekali belum punya pengalaman dalam hal semacam ini, dan aku rasa kamu mungkin tahu satu atau dua hal."

(TL Note: Ah, masa' Bang?!)

"Jangan buat aku terdengar seperti cewek murahan! Hari ini...juga pertama kalinya aku berkencan dengan seorang cowok..." Himari tampak sedikit terganggu oleh komentar Saito, dan cemberut secara terbuka.

Himari mungkin tampak seperti seorang gyaru dari luar, tetapi dia itu sangat polos. Kalau saja Himari berambut hitam dan mengenakan seragamnya dengan benar, Saito mungkin tidak akan melihatnya sebagai seorang gyaru.

"Maaf, ini mungkin kencan pertamamu, tetapi ini tetap saja cuma kencan pura-pura."

Himari dengan panik melambaikan tangannya.

"Ti-Tidak apa-apa! Cuma dengan pulang dengan Saito-kun yang aku cintai saja itu sudah lebih dari cukup buatku, sungguh!"

Sisipan itu membuat Saito semakin merasa bersalah. Meskipun ini cuma kencan palsu, Saito ingin Himari sendiri menikmatinya. Ini merupakan tugas Saito, dan apa yang pantas Himari dapatkan.

"Kamu maunya pergi ke mana, Himari?"

"Aku tidak masalah ke manapun yang kamu mau, Saito-kun."

"Tetapi aku mau tahu kamu maunya pergi ke mana."

Himari meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya, sambil berpikir.

"Hmm, kalau begitu… hotel, mungkin?"

"Pada kencan pertama kita?!"

"Ahaha, aku rasa aku sedikit terlalu cepat…Tetapi, aku rasa akan baik-baik saja dengan begitu, kamu tahu?" Mata Himari, yang penuh dengan gairah, menatap Saito.

Apa Himari ini cuma murni menguji reaksi Saito, atau apa dia itu tulus? Tubuh Himari, dan pinggangnya ramping, didorong ke arah Saito. Saito merasakan air liur menumpuk jauh di dalam mulutnya. Jantung Saito berdetak dengan sangat cepat, bahkan tidak memungkinkannya untuk menelan ludah.

"…Aku tidak bisa melakukan itu."

"Mengapa? Padahal di sampingmu ada seorang cewek yang bersedia mendengarkan permintaan apapun yang mungkin kamu punya. Kamu bahkan juga dapat meninggalkanku begitu kamu selesai melakukannya denganku."

"Aku tidak mau menyakitimu. Kalaupun kita memang mau melakukan itu, itu mungkin akan terjadi setelah kita benar-benar pacaran."

"Saito-kun…" Mata Himari berbinar, saat seringai tipis keluar dari bibirnya dan bahunya santai. "Kamu itu benar-benar bodoh. Kalau saja kamu bertindak lebih mementingkan dirimu sendiri dan memanjakan dirimu sendiri, kamu mungkin bisa saja membuatku membencimu. Kalau kamu menghargaiku sebanyak ini, aku malah akan semakin jatuh cinta padamu."

"Maaf."

"Tidak usah minta maaf. Aku sangat senang." Himari menempel ke lengan Saito. "Ajak saja aku ke manapun yang kamu mau. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."

"Dimengerti."

Kalau Himari menginginkannya, maka Saito harus menurutinya. Saito memutuskan untuk membawa Himari ke toko buku di gang belakang di mana ia selalu membeli rilisan terbaru dalam perjalanan pulang. Itu merupakan toko kecil dengan majalah manga yang dijajakan di rak dan buku-buku yang ditujukan untuk anak-anak dipajang. Tugas tulisan tangan digantung di jendela kaca luar, menciptakan perasaan yang akrab. Bermacam-macam buku yang juga tidak spesial, tetapi pilihan mereka itu agak sopan, sering kali sesuai dengan selera Saito. Aroma tinta yang samar di sekitar, dan pemilik yang tidak ramah menciptakan suasana yang tenang dan menyenangkan. Himari melihat sekeliling beberapa kali dan menarik napas dalam-dalam.

"Tempat... ini punya suasana yang hebat."

"Oh, kamu bisa tahu, ya?"

"Iya. Ini cukup sederhana, tetapi itulah yang bagus dari itu. Seperti kita berada di dunia yang berbeda dari luar."

Saito mengangguk dengan kuat.

"Betul sekali. Ini tidak terlalu menonjol, yang membuat semua pelanggan aneh keluar. Ini membuatku merasa seperti memasuki perpustakaan kuno, dan tanpa ada orang yang membuat keributan, aku dapat meluangkan waktu untuk mencari buku baru. Mencari buku secara daring itu memang satu hal yang praktis, tetapi memeriksanya dengan tanganmu sendiri secara langsung akan memberimu rasa keakraban. Mengerti segala sesuatu tentang buku dengan semua indramu merupakan bagian yang terbaik dari membaca buku."

Himari tertawa terbahak-bahak.

"Aku rasa aku belum pernah melihatmu berbicara dengan penuh semangat tentang sesuatu."

"Aku tidak berencana melakukan itu…" Saito tiba-tiba merasa malu.

Karena Saito telah menemukan jiwa yang sama dalam diri Himari yang mengerti perasaannya, ia baru saja mulai melontarkan apa yang ia pikirkan selama ini.

"Saito-kun yang tenang dan kalem seperti biasanya juga cukup keren. Tetapi aku suka saat kamu bersemangat karena sesuatu. Jadi, ceritakan lebih banyak tentangmu?"

"…Iya."

Himari tidak mengolok-olok Saito dalam artian apapun, tetapi itu cuma akan membuat Saito semakin gelisah. Saito mendapati dirinya tidak dapat menatap langsung ke mata Himari, yang terasa seperti bisa menerawang dirinya.

"Buku macam apa yang kamu sukai, Saito-kun?"

"Aku ini tidak secara khusus berpaku pada genrenya. Kadang-kadang aku cuma sesuaikan dengan urutan di rak buku."

"Sungguh!? Itu luar biasa!"

"Namun, itu sangat tidak efisien, dan itu membebani anggaranku, jadi aku berhenti melakukan itu."

Saito mungkin orang yang akan mewarisi  Houjou Group, tetapi orang tuanya itu cuma orang biasa. Saito mungkin menerima cukup uang untuk bertahan hidup dari mereka, tetapi itu tidak cukup untuk membeli buku secara acak begitu saja.

"Aku ingin baca buku favoritmu. Punya saran?"

"Hmmm…Aku tidak tahu mesti menyarankan apa pada seseorang yang kepalanya akan meledak kalau dia membaca buku…"

"Kepalaku akan baik-baik saja! Dan aku akan membaca apapun yang kamu sarankan padaku!"

"Kalau begitu aku akan membelikanmu buku sebagai tanda terima kasih atas segalanya."

Mata Himari terbuka lebar karena terkejut.

"Sungguh?! Aku pasti akan membacanya! Berulang-ulang sampai aku dapat melafalkannya dengan hati! Tentu saja, ini kan hadiah dari Saito-kun!" Himari tampak sangat gembira, saat Saito membawanya masuk ke toko.

Dengan Himari yang sangat termotivasi ini, Saito berusaha memilihkan buku yang akan membantunya dalam beberapa hal. Untuk masa depan Himari, lebih dari apapun. Dengan pemikiran itu, Saito mengambil ringkasan hukum dari rak buku.

"Err… ada apa ini? Batu bata?" Himari bergidik melihat gumpalan tebal di depannya.

"Ini merupakan ringkasan dari semua hukum di Jepang. Ada konstitusi, hukum perdata, hukum pidana, dan hukum dagang tertulis di sini. Itu akan banyak membantumu."

"Aku tidak ingin jadi pengacara, kamu tahu?!"

"Aku kenal pengacara yang mungkin mendapatkan lisensi mereka dari pasar gelap dengan bagaimana mereka menolak pertanyaan mereka sendiri, jadi aku yakin kamu bisa melakukannya juga kalau kamu memutuskan untuk melakukannya. Kamu setidaknya akan jauh lebih baik pada para saksi di pengadilan. Dan juga, mengetahui tentang hukum itu penting meskipun kamu tidak ingin jadi pengacara. Orang-orang yang tahu sistem akan tahu jalan menuju kemenangan. Kalau kamu tidak tahu apa-apa, kamu akan berakhir di pengadilan melawan beberapa mantan suamimu yang gila, yang menuduhmu melakukan kekerasan dalam rumah tangga."

"Aku tidak tahu kalau masyarakat itu tempat yang menakutkan! Aku tidak akan pernah lolos selama sisa hidupku!"

"Iya, jika kamu terus-terusan begini… kamu tahu."

"Aduh?! Kehadiranku itu benar-benar sempurna, setidaknya!" Himari menekankan, tetapi Saito mengabaikannya dan menuju ke kasir.

Sebuah buku seukuran ini cukup menguras banyak isi dompet Saito, tetapi itu merupakan tanda terima kasih, jadi Saito dapat menanganinya.

"Tung-Tunggu sebentar! Aku maunya sesuatu yang lain sebagai tanda terima kasih, sebenarnya!"

"Jadi kamu… tidak suka literatur hukum? Padahal aku sangat suka, kamu tahu…" Saito tampak sedih.

"Aku tidak tahu apa aku akan menyukainya atau tidak, tetapi mana mungkin aku dapat mengingat semua itu! Dan aku akan merasa tidak enak kalau membiarkan benda ini berdebu di laci!" Himari menggigil ketakutan.

Memaksa seseorang untuk mempelajari sesuatu biasanya akan memiliki efek yang sebaliknya, dan Saito tahu akan hal itu.

"Mengerti. Pikirkan saja apa yang kamu mau dan katakan padaku, oke?"

"Itu juga tidak mesti sesuatu yang berupa fisik, bukan. Misalnya…Aku bisa saja meminta Anda melakukan 5000 kali tolak angkat (push-up), atau menggali lubang untukku yang akan kamu kunjungi setiap hari."

"Apa kamu mau aku mati?"

Karena memang seperti itulah kedengarannya.

"Itu cuma sebuah contoh! Aku cuma ingin tahu seberapa jauh yang bisa aku minta!"

"…Iya, sebagian besar, aku akan biarkan kamu meminta apapun."

Saito tahu kalau Himari tidak akan meminta sesuatu yang aneh-aneh. Tidak seperti Akane, yang akan membuat Saito diasingkan dari bumi, dan Maho yang meminta kesuciannya, Himari pasti meminta yang aman. Setelah mereka berdua masuk ke dalam toko sebentar, mereka pun akhirnya keluar. Karena rilisan baru yang ditunggu-tunggu Saito sudah keluar, ia juga membelinya di samping. Mereka terus berjalan menyusuri kawasan perbelanjaan lalu aroma harum melayang ke arah mereka. Himari melihat sebuah toko krep dengan papan reklame yang berwarna-warni, yang punya antrean besar siswa-siswi yang menunggu di depannya.

"Saito-kun, apa kamu suka krep?"

"Kalau krimnya tidak terlalu banyak. Aku terkadang makan krep bersama Shisei."

"Aku belum pernah makan krep yang tidak manis. Mari kita saling suap-suapan, oke?"

"Seperti kita ini pasangan…"

"Kita ini memang pasangan, bukan?" Himari mengedipkan mata pada Saito, yang tidak punya bantahan.

Mereka mengantre di belakang siswa-siswi lain dan memesan krep. Saito memilih yang rasa tuna dan keju sebagai camilan sore yang lebih banyak, sedangkan Himari memilih es krim tiga lapis vanila coklat karamel, yang sejujurnya terdengar seperti guna-guna untuk mengucapkan mantra sihir. Seperti namanya, krep itu penuh sesak, dan hampir runtuh. Saito khawatir cuma dengan melihat krep bergoyang. Namun Himari tampak tenang seperti biasa, dan cuma mengunyahnya.

"Hm, enak! Krep dari tempat ini merupakan yang terenak!"

"Jadi ada perbedaan rasa ya, antartoko?"

"Tentu saja! Ayolah, coba digigit."

"Nyam."

Himari tiba-tiba menyodorkan krep itu ke mulut Saito, yang secara refleks menggigitnya.

KuraKon-5-2-4

Manis.

Itu jauh lebih manis daripada permen atau krep apapun yang Saito rasakan hingga saat ini. Rasa manis ini meleleh di dalam tubuh Saito, membuatnya merasa pusing.

"Itu merupakan sebuah ciuman tidak langsung buatku!"

"Bukankah aku yang mendapatkannya…?"

Darah Saito mengalir deras ke kepalanya. Yang ini tidak dapat dihindari, jadi itu tidak masuk dalam hitungan— itulah yang ingin Saito katakan pada dirinya sendiri, tetapi ia menyadari kalau ia sudah menggigit dari tempat yang tepat Himari menggigitnya. Perasaan dan rasa malu memenuhi tubuh Saito seakan-akan ia telah menjilat bibir Himari secara langsung. Himari pada ujungnya cuma tersenyum sendiri.

"Aku selalu memimpikan ini."

"Memimpikan apa?"

"Pergi kencan sepulang sekolah dengan orang yang aku cintai, jajan-jajan, makan makanan lezat, dan cuma menghabiskan waktu berduaan. Aku sudah lama ingin mengalami hal semacam ini sejak aku masih SD."

"Bukankah kamu itu cukup romantis?"

"Aku tidak romantis kok, ini biasa saja!"

"Aku, misalnya, tidak pernah memikirkan hal ini."

Jangankan di SD, Saito tidak pernah kepikiran topik ini sampai sekarang di SMA. Yang Saito pedulikan hanyalah buku, dan ia memutuskan untuk tidak terlibat dengan orang-orang yang dapat memberinya pengetahuan substansial. Namun, di sinilah Saito, pura-pura berkencan dengan cewek yang paling populer di sekolah.

"…Aku punya beberapa keraguan di sini, tetapi kita ini cuma pura-pura berkencan, bukan?"

"Hmm? Iya. Memangnya menurutmu bagaimana?"

"Aku merasa kalau kita melakukan cukup banyak hal yang biasa dilakukan untuk kencan sungguhan. Mana bedanya antara kencan sungguhan dan kencan pura-pura?"

"Ah ..." Himari terdiam.

"Woi, apa-apaan dengan kesan 'Ups, aku ketahuan'-mu itu?!"

"Aku masih belum ketahuan!"

"Apa maksudnya itu?!"

Himari panik.

"E-Emm, oke! Kalau ini memang kencan sungguhan, maka kamu pasti sudah mati sekarang!"

"Aku tidak tahu kalau kencan itu pertempuran sampai mati."

Saito menganggap kencan itu sebagai aktivitas yang lebih damai. Karena itu, Himari pasti jauh lebih berpengalaman daripada Saito, jadi dia mungkin akan tahu.

"Pada kencan sungguhan, kita pasti sudah berciuman sekarang! Karena kita cuma pura-pura, kami mengganti hal itu dengan ciuman tidak langsung! Dan kamu sudah bertahan!"

"Aku lebih baik…"

Saito tidak paham apa yang sebenarnya Himari bicarakan, tetapi ia menebak-nebak apa yang Himari coba katakan. Pada dasarnya, karena ini cuma kencan pura-pura, Himari menahan diri demi Saito.

"Pokoknya, biarkan aku coba gigit krepmu!" Himari kemungkinan besar mau mengganti topik, dan dengan panik mengunyah krep Saito. "~~~?! Sa-Sa-Sangat pedas!" Kepala Himari memerah jadi semerah tomat.

(TL Note: Azab seorang pelakor.)

"Ini tidak terlalu pedas. Ini cuma 'Krep Keju Tuna Cabai Merah Rawit Setan', seperti yang kamu lihat."

"Namanya saja sudah terdengar pedas!"

"Ini sangat biasa saja. Mereka bahkan punya krep yang 50 kali lebih pedas kalau kamu mau. Cuma kamu mesti memeriksa menu tersembunyi mereka."

"Mengapa kios krep butuh menu tersembunyi?! Air! Aku butuh air!" Himari mulai berlari.

Himari dengan panik mencari mesin penjual otomatis tetapi tidak berhasil. Himari mulai gemetaran sambil menggigit bibirnya, dan segera mencapai batasnya.

"Sebelah sini!" Saito ingat taman terdekat dan berlari.

Himari mencapai air mancur, mendorong tubuhnya ke depan, dan menyesapnya dengan cepat. Akibatnya, air itu benar-benar terciprat ke wajahnya, membuat Himari basah kuyup, tetapi dia benar-benar mengabaikannya. Begitu Himari berhasil bertahan hidup melalui pedasnya cabai, dia langsung duduk di bangku taman.

"Ya ampun, itu pedas... Aku kira lidahku akan terbakar..."

"Kamu itu lebai ah. Itu masih di tingkat yang lebih biasa, jadi kamu tidak dapat menembus tingkat ini, ya."

"Siapa yang aku lawan?! Aku tidak akan ikut lomba makan cepat!"

"Kalau kamu secara tidak sengaja membeli ramen pedas yang sepuluh kali lipat dan mesti hidup selama seminggu, kamu akan berterima kasih padaku." Saito bilang begitu seperti ia pernah mengalami hal ini sebelumnya.

"Oh... Begitu…?" Himari tampak bingung, tidak menyadari kalau rambut dan seragamnya basah kuyup.

Blusnya menempel di dadanya yang berisi juga basah, tanpa sadar memperlihatkan pakaian dalamnya. Roknya juga mengalami nasib yang sama, memperlihatkan tetesan air di pahanya yang berkilauan di bawah sinar matahari.

"Aku rasa kamu mesti pulang hari ini, kalau tidak kamu akan masuk angin."

"Aku baik-baik saja, aku masih bisa melanjutkan ini!"

"Jangan paksakan dirimu, kamu dengar aku."

"Aku tidak begitu! Aku sedang berkencan dengan Saito-kun, jadi aku tidak mau pulang!"

Himari menangis seperti anak kecil, yang merupakan pertama kalinya bagi Saito. Biasanya, Himari sendiri tetap mempertahankan aura dewasa, makanya Saito tidak dapat bilang tidak.

"Ini." Saito melepas blazernya dan meletakkannya ke bahu Himari.

"Ap…"

"Kamu tidak dapat jalan dengan keadaan begini. Aku akan mengantarmu pulang, jadi mari kita pulang?"

"O-Oke…" Himari tersipu saat dia memegang blazer Saito.


Rumah Himari berada di dalam rumah susun 7 lantai, terletak di lantai tiga. Mereka melewati ruang penjaga yang kosong, memasuki ke dalam lift kecil. Bagian dalam dipenuhi dengan pengingat untuk hari pengumpulan sampah atau informasi lain tentang orang-orang mencurigakan yang muncul di area tersebut. Kotak itu perlahan naik ke lantai, karena Saito tidak tahu mesti melihat ke mana. Himari mengenakan blazer Saito, tetapi ia masih dapat melihat blazer Saito yang basah kuyup, membuatnya terganggu. Biasanya, Himari sangat ceria dan bersemangat, namun dia sekarang seperti anak kecil yang lemah lembut.

Bel berbunyi dan pintu lift terbuka, yang membuat Saito menghela napas lega. Beberapa sistem kunci tergantung di dinding lorong ini, dengan mainan anak-anak berserakan di sana-sini. Akhirnya, Himari berhenti di depan plat pintu yang bertuliskan "Ishikura." Dia mengobrak-abrik tas sekolahnya, mengambil kunci dengan beberapa gantungan kunci di atasnya.

"Ngomong-ngomong, aku akan…" Saito mengulurkan tangannya, menunggu untuk menerima blazernya dari Himari.

Namun Himari punya rencana lain, dan dia meraih tangan Saito.

"…Maukah kamu mampir sebentar?"

Tidak butuh banyak waktu buat Saito untuk menyadari betapa gugupnya Himari. Tangan Himari yang meraih Saito tampak gemetaran.

"Aku tidak bisa…"

"Blazermu jadi basah kuyup karena aku! Aku tidak ingin sampai kamu masuk angin. Jadi aku bisa membuatkan teh untukmu! Ini teh herbal enak yang aku dapatkan dari pemilik kafe tempatku bekerja!"

Saito mendapati dirinya tidak dapat langsung menolak tawaran Himari. Saito biasanya lemah dalam hal yang berkaitan dengan Himari, dan Himari juga sudah sangat membantunya selama kasus ini. Himari pada dasarnya terseret ke dalam seluruh situasi dengan Houjo Group.

"…Boleh deh. Kalau itu cuma sebentar, aku rasa."

"Bagus!" Himari menarik Saito masuk seakan-akan dia sedang berjoget kegirangan.

Saito menduga kalau itu kamar anak cewek pada umumnya dengan warna merah muda dan mainan yang mewah, tetapi itu jauh. Kamar itu diwarnai dengan warna putih yang mencolok, memberikan kesan yang lebih santai, dan dilengkapi dengan laci besar. Sebuah meja kaca berdiri di atas permadani di tengah. Bagian dalam bersih dan rapi, tidak menunjukkan tanda-tanda kotoran di sudut manapun. Di atas meja belajar Himari ada sebotol parfum, dan juga bingkai-bingkai foto. Yang satu menunjukkan Himari dan Akane, dengan yang satunya itu foto Saito sendiri.

"Ini itu…"

Saito melihat foto itu, sehingga membuat Himari panik.

"A-Ah, maaf! Aku tidak mengambilnya secara diam-diam! Aku cuma membeli foto ini saat kunjungan wisata kita! Pasti menjijikkan melihat seseorang menyimpan foto ini! Aku akan mengembalikannya padamu!"

"Kamu tidak perlu melakukannya."

Saito benar-benar merasa malu, tetapi begitulah.

"A-Apa kamu yakin?"

"Kamu membelinya, jadi kamu berhak memasangnya."

"Kalau begitu bolehkah aku meminta foto tambahan yang bisa aku pajang di kamarku?!"

"Kalau itu... aku rasa lebih baik tidak."

"Aku akan membelinya! Aku dapat gaji dari pekerjaan paruh waktu, jadi aku dapat membayar 100 ribu untuk satu foto!"

"Foto-foto ini tidak semahal itu!"

Saito tidak tahu mengapa Himari menghargai satu foto semahal itu. Malahan, Saito benci mengingat hal-hal tentang masa lalu, tetapi tidak ada yang dapat ia lakukan pada kenangannya. Makanya Saito tidak membeli foto dari kunjungan wisata. Dan karena orang tua Saito tidak pernah terlalu peduli untuk menjaga pertumbuhan yang telah ia alami, juga tidak ada foto dirinya di dalam rumah mereka.

"Aku akan ganti baju dengan sangat cepat, jadi tunggu saja di sini."

Himari melangkah keluar ke lorong, meninggalkan Saito sendirian di kamar cewek itu. Saito tidak tahu mesti duduk di mana, jadi ia cuma berdiri seperti anjing yang mandi di tengah hujan, sambil melihat-lihat ke sekeliling kamar lagi. Di rak buku meja belajar, Saito melihat ada majalah wanita, buku tentang gaya rambut, seni kuku, dan buku spesialis lainnya. “Mekanisme Nafsu dan Keinginan”, “Studi Psikologi Massa”, “Proses Bimbingan Emosional”, dan seterusnya. Banyak buku tentang psikologi karena beberapa alasan. Dan buku-buku itu juga tampak cukup usang.

Dia...membaca semua ini? Apa dia ini sebenarnya cukup pintar?

Saito mengambil sebuah buku acak. Membalik halaman, Saito melihat beberapa bagian teks digarisbawahi, dengan tambahan catatan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan cewek. Himari tidak cuma membaca buku itu, tetapi dia juga mempelajarinya dengan benar. Himari memang tidak terlalu ahli dalam belajar untuk mata pelajaran sekolah, tetapi dia dapat bersemangat tentang hal-hal yang dia pedulikan.

"Maaf sudah membuatmu menunggu!"

Himari kembali ke kamar, jadi Saito dengan cepat mengembalikan buku itu. Himari membawa nampan dengan teko di satu tangan, memamerkan keahliannya dalam melayani...dan dengan sendirinya itu baik-baik saja, tetapi Saito agak bingung dengan pakaian Himari. Himari mengenakan pakaian rajutan dengan bahu terbuka dan sweter panjang yang sampai ke pinggangnya, yang nyaris tidak menutupi pahanya. Di bawah itu adalah pertanyaan tingkat Schrödinger apakah Himari mengenakan celana pendek atau rok.

"Oi, kamu tidak mengenakan apapun di bawah sweter itu!"

"Hah?! Tunggu, aku mengenakan pakaian dalam!”

"Bukan itu! Aku tidak melihatmu mengenakan baju ataupun celana!"

"Ah, itu? Jangan khawatir, sweter ini memang dirancang seperti itu. Ini seperti gaun satu setelan (one-piece)." Himari tertawa dengan cara yang lucu dan meletakkan dua cangkir ke atas meja.

Karena Himari meletakkan lututnya ke lantai, pahanya sekali lagi tampak jelas, mengganggu Saito ke mana dia harus melihat.

"Aku sudah lebih dari khawatir..."

"Apa aku membuat jantungmu berdebar kencang?"

"…Sedikit."

"Yei~!" Telinga Himari menjadi sedikit merah, saat dia menuangkan teh ke dalam cangkir.

Aroma yang menyegarkan memenuhi kamar itu, memberikan kehangatan dan kenyamanan.

"Jangan cuma berdiri. Silakan duduk! Sebelah sini, sebelah sini~." Himari menarik lengan Saito, menyuruhnya duduk di ujung ranjang.

Saito ragu-ragu terlalu lama dan mendapati dirinya mematuhi keinginan Himari. Saito punya perasaan seperti duduk di sebelah seorang cewek di ranjang cewek itu akan lebih dari sekadar ranjang, tetapi pergi sekarang cuma akan menyakiti perasaan Himari. Melihat tidak ada jalan keluar dari hal ini, Saito mengambil cangkirnya dan menyesapnya. Rasa yang enak memenuhi mulut Saito, tenggelam jauh ke dalam tenggorokannya.

"Ini cukup enak."

"Benar, kan? Mereka biasanya tidak menjual daun teh ini di toko biasa."

Himari juga mencoba tehnya, menghela napas puas. Himari mengulurkan kakinya yang mulus dan panjang dan meletakkan tangannya ke ranjangnya. Setelah itu, Himari membuka aplikasi perpesanannya dan menunjukkan layarnya ke Saito.

"Coba lihat, ini grup obrolan kelas kita."

"Kita punya itu? Aku bukan bagian dari grup itu, kamu tahu."

"Begitu juga Akane. Katanya dia tidak boleh diganggu."

"Dan aku bahkan tidak diajak…"

"Kamu tampaknya memang tidak tertarik sejak awal."

"Aku rasa begitu sih, tetapi…"

Saito masih merasa sakit hati karena tidak ada yang mau repot-repot mengajaknya. Terlebih lagi saat Saito melihat Shisei menjadi bagian dari obrolan, mengirimkan emoji secara acak.

"Yang lebih penting, lihat ini. Semua orang sedang membicarakan kita." Himari menggesekkan jarinya ke sepanjang layar, menampilkan lebih banyak pesan.

'Ishikura-san dan Houjo-san sepertinya sangat dekat, ya!'

'Aku melihat mereka berjalan melalui kawasan bisnis beberapa jam yang lalu!'

'Sungguh? Apakah mereka sedang berkencan?'

"Mereka itu sangat mesra.'

'Himariii, beri tahu kami!'

'Bodoh, dia pasti sedang sibuk sekarang!'

'Ah…'

'Aku tahu~'

'Astaga~'

…Begitulah dan seterusnya. Semua rumor tentang Saito dan Akane segera dilupakan, karena teman-teman sekelas mereka haus akan lebih banyak materi Himari♥Saito. Saito dipenuhi dengan rasa kagum.

"Itu gila ... rencanamu berhasil dengan sempurna."

"Ahaha, itu cuma kebetulan, sungguh."

"Aku sangat meragukan hal itu. Di rak buku di sana, aku dapat melihat begitu banyak buku tentang psikologi. Apakah kamu mempelajari hal ini?"

"Ah… aku rasa."

"Kamu benar-benar jago memanipulasi orang, ya?"

"Jago…Iya, aku mesti menguasainya atau aku tidak akan dapat bertahan."

"Apa maksudmu?"

Himari membungkus lengan panjangnya ke sekitar cangkir teh, dan menatap permukaan air.

"Aku sudah cerita padamu tentang bagaimana aku dulu dirundung waktu SD, bukan?"

"Iya."

Karena Himari terlihat mencolok dengan rambut pirang, dia selalu menarik banyak perhatian negatif. Konsensus umum itu mengasingkan apapun selain diri kalian sendiri.

"Berkat bantuan Akane, perundungan itu akhirnya berhenti, tetapi itu mulai lagi ketika kelas kami berubah. Akane akhirnya dibenci karena dia membelaku, jadi aku rasa aku tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Aku juga tidak mau merepotkan Akane lebih dari yang diperlukan." Himari berbicara dengan nada yang tegas.

Tidak seperti Akane, Himari itu cewek yang baik hati, tetapi dia punya kehendak saat dia perlu.

"Makanya aku banyak belajar. Sehingga tidak ada yang berani menyerang kami. Agar semua orang menyukaiku. Dan untuk itu, aku mesti mengendalikan hati mereka."

"…Begitu."

Alasan Akane berhasil mempertahankan tempatnya di kelas meskipun kepribadiannya yang keras mungkin karena bantuan Himari. Tidak ada siswa-siswi yang berani melawan teman siswi yang paling populer di sekolah. Himari menatap Saito dengan sedikit kekhawatiran di matanya.

"…Aku yakin cewek sepertiku itu tidak ada imut-imutnya sama sekali."

"Tidak, aku menghargai apa yang telah kamu lakukan untuk temanmu."

Keluarga Houjo tidak pernah ragu dalam memilih metode apapun untuk mencapai tujuan mereka. Dibandingkan dengan tindakan Tenryuu di masa lalu, upaya Himari agak tampak lucu bagi Saito, dan motifnya juga sederhana. Namun, ada satu hal yang mengganggu Saito.

"Aku agak takut... kalau kamu mungkin menggunakan teknik itu padaku."

Mata Himari terbuka lebar karena terkejut.

"Aku tidak akan menggunakannya pada orang yang aku sayangi! Itu tidak adil! Memperoleh sesuatu melalui cara ini tidak akan membuatku bahagia sama sekali!"

(TL Note: Ah masa'?)

"Aku rasa begitu."

Namun, pacaran dengan seseorang berarti menggunakan teknik-teknik ini sampai tingkat tertentu, setidaknya. Saito memastikan untuk memasak makanan favorit Akane, memberinya hadiah, dan umumnya bekerja keras agar mereka dapat akur. Dalam hal mengutak-atik hati seseorang, Saito tidak ada bedanya dengan Himari.

"Ngomong-ngomong, kamu itu benar-benar banyak membantuku. Tanpa dirimu, kami mungkin akan terjebak dalam kekacauan ini selamanya. Maaf kamu harus melalui ini." Saito menundukkan kepalanya ke arah Himari.

"Tidak apa-apa, aku juga mendapat banyak  keuntungan dari ini."

"Kamu mendapat keuntungan?"

"Lagipula, aku tidak pernah menduga untuk melakukan hal semacam ini sebelumnya. Kamu belum pernah mampir ke rumahku sebelumnya. Meskipun saat ini kita sedang pura-pura jadi kekasih…dimulai dari kebohongan, tetapi…tidak mesti berakhir begitu juga, bukan?"

(TL Note: Kata-kata seorang pelakor.)

Ranjang Himari berderit. Himari meletakkan satu tangannya ke ranjang, mendorong tubuhnya ke arah Saito. Aroma wangi melayang dari bahunya yang terbuka.

"Aku sudah menikah…"

"Memang benar sih, tetapi itu cuma pernikahan paksa, bukan? Karena keluargamu. Atau, apa kamu benar-benar punya perasaan terhadap Akane?"

"Aku tidak punya."

Saito seharusnya tidak punya. Saito telah melihat ekspresi menggemaskan Akane dari waktu ke waktu, tetapi Akane memberi Saito terlalu banyak masalah. Dengan penampilan Akane, Saito tidak dapat disalahkan karena hampir menjadi korban mereka. Namun, dengan Akane menjadi manusia yang setara dengan naga yang kejam, mana mungkin Saito dapat jatuh cinta pada seseorang macam itu. Setelah keheningan singkat, Himari meletakkan tangannya ke pangkuan Saito, mendekatkan wajahnya.

"Kalau begitu… aku punya kesempatan, bukan? Aku tidak masalah…menjadi simpananmu, kamu tahu?" Himari berbisik dengan penuh semangat.

Mata Himari dipenuhi dengan nafsu dan keinginan, menjebak Saito. Saito dapat merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Menyadari kalau Himari serius dan kalau dia akan menerima Saito kapan saja, tubuh Saito mulai memanas.

"Jangan jadi cewek murahan." Saito mencoba menghentikan Himari, tetapi Himari tidak mau mendengarkan.

"Aku tidak begitu kok. Asalkan aku bisa mendapatkanmu, aku tidak masalah melakukannya dengan cara apapun yang mungkin."

"Bahkan sebagai simpanan?"

"Ada seorang cewek yang bahkan berhasil mengalahkanku dalam hal itu."

"Hah…?"

"Ah…"

Saito menyipitkan matanya lalu Himari menutup mulutnya.

"Siapa yang kamu bicarakan?"

"Ma-Maaf, lupakan saja tentang itu."

"Kamu tahu aku tidak dapat lupakan hal itu. Apa maksudmu?"

"Aku sangat menyesal. Itu salahku. Aku tahu kalau tidak akan ada yang senang meskipun aku mengeluh tentang hal ini." Himari terdiam.

Meskipun Saito menanyai Himari lebih jauh, mendapatkan informasi itu akan sulit. Saito menghela napas pasrah.

"Aku akan bertingkah seakan-akan aku tidak mendengarnya."

"Iya ..." Himari menundukkan kepalanya.

Untuk menghilangkan suasana yang canggung ini, Himari berbicara dengan suara yang energik.

"Oh iya! Saito-kun, apa kamu tidak lapar? Mari kita makan malam bersama. Aku mungkin tidak sejago Akane, tetapi aku ini cukup pandai memasak."

"Aku tidak bisa menetap di sini untuk makan malam, kamu tahu?"

"Benarkah. Baik Ayah maupun…dia…tidak pulang hari ini."

"Apa mereka sedang dalam kunjungan?"

Himari menyebut "dia" bukan ibunya, yang membuat Saito angkat bicara.

"Bukan kunjungan. Saat aku afa di sini ... mereka berdua tidak pulang." Himari menyatukan tinjunya ke pangkuannya.

Himari berbeda dari siswi populer pada umumnya di sekolah, menunjukkan sisi lemahnya. Kesunyian yang menusuk terpancar dari diri Himari.

"…Kita sama."

"Hah?"

"Kedua orang tuaku juga membenciku. Mereka tidak pernah pulang, atau mereka datang untuk menontonku selama festival olahragaku atau selama hari pembagian raport. Ini lucu, bukan?"

"…Aku rasa tidak." Himari menghela napas.

Iya, itu sama sekali tidak lucu.

"Tetapi… aku senang mengetahui kalau aku tidak sendirian." Himari tersenyum.

Meskipun tidak ada untungnya kalau mereka menjadi jiwa yang sama, cuma berbagi rasa sakit yang sama itu semacam anugerah yang menyelamatkan bagi Himari. Menyadari hal itu, kalau Saito tetap berada dalam suasana yang manis namun menindas ini lagi, ia mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak dapat diubah.

"Aku mesti pulang sekarang."

"Kamu tidak boleh." Himari menempel ke pinggang Saito.

Jarak antara mereka berdua semakin melebur, saat panas mereka berubah menjadi satu. Lengan Himari tidak akan membiarkan Saito pergi, apapun yang akan terjadi.

"Hei…"

"Cuma sebentar… saja lagi, tolong? Aku sangat kesepian…"

Saito tidak dapat menghilangkan tangisan Himari.


Bahkan sudah larut malam, Saito tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Akane melihat mereka berdua meninggalkan kelas bersama, jadi kencan mereka pasti masih berlangsung. Apa yang mereka lakukan sekarang, dan di mana? Mungkin saja mereka menginap semalam di suatu tempat? Memikirkannya saja, Akane jadi merasa gelisah dan dia tidak dapat fokus pada pelajarannya. Setelah mengerjakan satu halaman pertanyaannya, Akane sadar kalau dia sedang mengerjakan sesuatu di luar lingkup ujian satu jam kemudian.

"Aku tidak bisa…Dan itu semua salah Saito…"

Haruskah Akane menelepon Himari untuk menanyakan lokasi Saito sekarang? Tetapi kalau Himari memberikan tanggapan langsung, itu cuma akan lebih menyakiti Akane. Mungkin Akane tidak akan melihat Saito pulang karena ia mungkin sedang duduk di ruang belajarnya. Secercah harapan ini mengilhami Akane untuk mengambil buku referensinya ke lantai satu dan menunggu di sana. Akane duduk di sofa di ruang tamu dan mencoba mengerjakan pekerjaan rumahnya, tetapi tidak berhasil.

Akane menyalakan televisi, tetapi tidak ada acara menarik yang ditayangkan. Akane mengikutinya dengan mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan menonton video kucing secara daring, tetapi itu juga tidak berpengaruh. Setelah apa yang terasa seperti kesendirian yang menyiksa tanpa akhir, Akane mendengar pintu depan terbuka.

Saito!

Akane secara refleks bangkit, dan tidak lama duduk kembali dan memperbaiki posturnya. Kalau Akane bergegas ke pintu masuk untuk menyambut Saito, itu akan membuatnya tampak seakan-akan dia sedang menunggu kepulangan Saito. Seperti anak anjing yang menunggu pemiliknya pulang. Akane tidak akan tahan dihina seperti itu. Sebaliknya, Akane tetap duduk di sofa, berpura-pura membaca buku referensinya. Akhirnya, Saito melangkah ke ruang tamu, masih mengenakan seragam sekolahnya. Ada kerutan yang terlihat di blazernya, dan Saito tampak kelelahan secara keseluruhan.

"Aku pulang."

"……"

Saito dengan canggung menyapa Akane, yang tidak memberikan jawaban.

"Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa sama sekali. Makan malam sudah ada di atas meja, jadi makanlah dan tidurlah."

"Makan malam…" Saito meringis saat melihat  ramen gelas di atas meja. "Bukankah kamu bilang kalau ramen gelas buruk bagi tubuh? Bahkan ketika kita bertengkar, kamu akan memasak makanan buatku."

"Aku tidak peduli! Kamu menyukainya, bukan? Kalau begitu makan saja dan hancurkan tubuhmu!"

"Mengapa kamu sangat marah?"

"Aku tidak marah!" Akane membentuk tinju ke pangkuannya saat dia meraung.

Akane tidak benar-benar marah. Akane tahu kalau rencana kencan palsu ini diperlukan untuk membuat hidup mereka kembali normal, dan Saito kemungkinan besar bekerja keras untuk itu. Saito tidak dapat disalahkan. Akane seharusnya tidak mencela Saito. Apa yang Saito lakukan dengan Himari, di mana Saito tetap bersama Himari, semua itu tidak ada hubungannya dengan Akane. Atau begitulah seharusnya, tetapi Akane tetap tidak bisa menahan rasa penasarannya. Pikiran dan perasaannya benar-benar kacau, Akane di luar kendali.

"Apa kamu... bersama Himari selama ini?"

"I-Iya. Setelah berjalan-jalan keliling kota, kami mampir ke rumahnya."

"Ru-Rumahnya…Bagaimana dengan orang tuanya?"

"Sedang tidak ada di rumah hari ini."

"…!"

Akane tidak bisa menatap ke wajah Saito lagi, jadi dia memilih untuk kabur. Akane bergegas menaiki tangga dan langsung masuk ke ruang belajarnya sendiri. Mendorong punggungnya ke pintu yang tertutup, Akane menarik napas dalam-dalam. Detak jantung Akane mulai terasa sakit, seperti yang dia rasakan di telinganya. Perasaan apa yang Akane miliki? Akane sendiri tidak tahu. Mengapa benjolan hitam yang terletak di hatinya ini sangat mengganggu Akane? Itu membuatnya gila. Dan pada saat itu, Akane menerima telepon masuk dari Himari.

"Halo…"

'Akane, apa Saito-kun sudah pulang dengan selamat?'

Suara Himari tetap energik dan ceria seperti biasanya. Atau lebih tepatnya, Himari terdengar jauh lebih bersemangat dari biasanya.

"…Iya."

'Bagus! Ia sudah makan malam denganku, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang itu.'

"Aku tidak pernah begitu. Dan juga itu tidak menghasilkan apa-apa."

'Sempurna, kalau begitu. Dengarkan ini, Akane, saat aku bilang kalau ia bisa bergabung denganku untuk mandi, ia merasa sangat malu!'

"Aku tidak mau mendengar itu!" Akane meraung.

Himari, tentu saja, tidak tahu bagaimana harus bereaksi terhadap hal itu.

'A-Akane? Apa yang membuatmu begitu nyaring? Kamu akan membuatku tuli jika kamu berteriak begitu.'

"Ma-Maaf…" Bahu Akane menegang.

Himari tidak dapat disalahkan untuk ini. Yang Himari coba lakukan cuma membantu Saito dan Akane di saat mereka membutuhkan, didorong oleh niat baik.

"Em, Himari…menjadi kekasih pura-pura pasti sangat membebanimu, bukan? Kamu bisa berhenti kalau ini sudah berlebihan…"

'Aku tidak merasa terganggu sama sekali. Walaupun itu tidak sungguhan, aku tidak masalah punya hubungan semacam ini dengan Saito-kun.'

"Tetapi... rumornya sebagian besar sudah hilang..."

'Itu masih belum cukup. Kita mesti berbuat lebih banyak lagi.'

"Berapa lama kalian berencana untuk melanjutkan ini…?"

'Selama sisa hidup kami, mungkin?' Himari tertawa.

Selama sisa hidup mereka…

Apakah dia bersungguh-sungguh sebagai pasangan palsu, atau sebagai pasangan asli? Tiba-tiba, nada suara Himari turun drastis.

'...Apa kamu tidak menginginkan ini? Saito-kun dan aku berakhir dalam hubungan semacam ini? Kalau kamu merasa cemburu, maka aku akan berhenti.'

"A-Aku tidak cemburu! Aku tidak punya perasaan apapun untuk cowok itu!" Akane merasakan panas mengalir ke tengkuknya dan lebih jauh ke atas.

'Kalau begitu tidak apa-apa! Kamu dan Saito-kun bisa tinggal bersama seperti sebelumnya, dan aku diizinkan untuk mesra-mesraan seperti yang aku inginkan dengannya! Semua orang senang, dan kita tidak akan punya masalah, bukan?'

"Iya…tidak ada masalah sama sekali…"

(TL Note: Akane-nya juga nyebelin, gaes.)

Jadi begitulah yang Akane katakan, tetapi sensasi gelisah di dadanya ini tidak mereda tidak peduli apa yang dia katakan pada dirinya sendiri.


←Sebelumnya          Daftar Isi           Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama