KuraKon - Jilid 2 Bab 3 - Lintas Ninja Translation

Bab 3
Serangan di Malam Hari

"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa!!"

Jeritan Akane menggema melalui distrik hidup (living district) yang seharusnya sudah tertidur (mati) sekarang.

"Apa yang terjadi!? Apakah seseorang dari Bintang Sentaurus menyerang!?" Saito tersentak dari ranjang, pikirannya masih samar-samar.

Akane duduk di ranjang, memegang lututnya, dan menggulung punggungnya, ketika dia menutupi kepalanya untuk membentuk posisi bertahan yang sepenuhnya. Dia menyerupai seekor armadillo yang meringkuk ketakutan dari serangan seekor puma.

"Han-Han-Hantu! Hantu muncul!"

"Hantu...? Di mana?"

"Di sebelah sana!" Akane menunjuk ke ujung sisi samping ranjangnya.

"...Tidak ada apa-apa di sana, kok!?"

"Tadi ada di sana beberapa saat yang lalu! Wajahnya putih pucat, menggumamkan omong kosong yang tidak dapat aku mengerti! Apakah itu boneka santet? Hantu gentayangan? Ngomong-ngomong, itu sesuatu yang berbahaya!"

"Benarkah sekarang. Baiklah, selamat tidur." Saito menyerahkan mendengar, dan masuk kembali ke bawah selimut.

"Banguuuuuun! Bangun! Jangan tinggalkan aku sendirian!" Akane dengan panik menggoyangkan badan Saito.

Tentu saja, ini bukanlah suasana yang menjamin tidur nyenyak. Jadi, Saito menunjukkan tangannya dari bawah selimut, dan memberikan Akane acungan jempol.

"Tidak apa-apa, kamu tidak sendirian. Ibu Pertiwi dan semua orang di dunia ini telah memberimu kekuatan mereka."

"Jangan hanya memberiku beberapa jawaban acak sehingga kamu bisa kembali tidur! Jika kita tidak membuka mata kita secara bersamaan, hantu itu akan mendekat!"

"Memangnya ada aturan yang seperti itu! Sudah kembali tidur saja!"

"Aku pasti tidak akan bisa! Dan aku juga tidak akan membiarkanmu tidur!" Teriak Akane, dan menarik selimut Saito.

Itu pengabaian diri yang seperti 'kita berkendara bersama, kita akan mati bersama'. Saito berencana untuk kembali tidur, tetapi sekarang matanya terbuka lebar. Ia memiliki tebakannya sendiri kembali ketika mereka bermain gim horor, tetapi ini baru saja mempertegasnya.

"Kamu... Kamu benar-benar takut, bukan?"

Akane tersentak kaget, dan namun mengangkat dagunya dengan sombong.

"A-Aku tidak takut!"

"Kamu gemetaran."

"Karena aku dingin."

"Aku tidak dingin tuh?"

"Cewek tidak memiliki massa otot yang sama untuk menjaga suhu tubuh seperti cowok, makanya aku dingin! Dan juga, apakah kamu tidak merasakan adanya bahaya di sini!? Apa yang kamu rencanakan jika hantu itu mengambil rohmu!?" Mata Akane serius, mundur ke pojokan.

"Bahkan jika kamu menanyakan itu padaku..."

Karena Saito bahkan tidak percaya dengan adanya hantu, tidak ada yang bisa dilakukan di sini, sungguh. Tentu saja, sains telah membuktikan semuanya adalah perkara yang berbeda, tetapi tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung fenomena gaib itu. Telah dikatakan bahwa, jika ia tidak dapat menenangkan Akane dalam waktu dekat, ini akan menjadi malam yang panjang tanpa tidur yang cukup. Ia mengeluarkan buku catatan dari laci meja di sisi samping ranjangnya, bertuliskan 'Roh Jahat, pergilah!' padanya, dan menyerahkannya pada Akane.

"Ini dia, ini adalah jimat yang efektif. Terus pegang itu, dan kembali tidur. Selamat tidur."

"Jangan mengolok-olokku!" Akane dipenuhi dengan amarah, dan tanpa ampun merobek kertas itu.

"Apa sih yang kamu lakukan, aku mencurahkan hatiku pada kertas itu."

"Kamu tidak mencurahkan sedikitpun dari hatimu pada kertas itu, dan itu sangat jelas!"

"Jadi aku ketahuan olehmu ya."

"Tentu saja kamu akan ketahuan! Sekarang karena sudah begini, kita perlu menawarkan dirimu padanya sebagai tumbal, dengan harapan itu akan meredam amarah hantu." Akane menggigit kuku ibu jarinya, dan mulai berpikir.

"Jadi pada dasarnya, aku juga akan berubah menjadi hantu gentayangan, bukan?"

"Kamu mungkin akan menjadi hantu yang lemah, jadi itu tidak masalah."

"Itu kasar, baiklah."

Saat mereka berdua sedang mengolok-olok begini di kegelapan malam, suara berderak dapat terdengar dari ruangan di sebelah kamar mereka.

"Kyaa!?" Akane tidak ragu-ragu melompat ke arah Saito.

"Wah, hei....!"

Ketika Akane menempel pada dada Saito, sikap keras kepala Akane yang biasanya tampak seperti kebohongan. Melalui baju tidur Akane yang tipis, Saito merasakan kelembutan gadis itu. Akane melingkarkan lengannya di sekitar punggung Saito, dengan erat menjepit Saito. Karena belum lama berlalu setelah Akane mandi, aroma wangi dan pekat dari shampo melayang ke hidung Saito.

Karena Akane gemetar ketakutan, Saito dapat merasakan embusan napasnya yang panik. Itu adalah situasi yang cukup merangsang dan sensasi yang luar biasa untuk dirasakan pada malam yang kelam seperti ini. Melihat sisi lemah dan rentan dari gadis yang selalu berlagak kuat itu, Saito tidak bisa apa-apa selain menganggap Akane imut.

"Aku akan pergi dan memeriksa apa itu."

"Ti-Tidak. Jangan. Tetap di sini!"

"Tetapi, jika aku tidak pergi, kita tidak akan pernah tahu."

"Aku mohon!"

Jadi agar tidak memberikan kesempatan bagi Saito untuk melarikan diri, Akane menempel pada Saito dengan jauh lebih agresif lagi. Menyadari bahwa ia tidak dapat meninggalkan cewek ini sendirian, Saito menghela napas.


Kita longkap ke malam keesokan harinya. Saito sedang membaca buku di ruangannya, ketika Akane menerobos masuk, sambil membawa buku referensi. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun saat dia berjalan ke ujung ruangan itu, dan tersungkur di lantai, merangkul lututnya.

"Tidak....Aku Tidak Bisa.... Memindahkan...Eksorsisme..." Gumam Akane, seperti dia sedang melantunkan sesuatu.

(TL Note: Eksorsisme = Pengusiran Roh Halus.)

"Baiklah, apa yang terjadi?"

Saat Saito telah sampai pada adegan ranjang di novel, ia buru-buru menutup buku itu. Karena dia tidak membaca novel erotis, tidak ada alasan tertentu untuk panik, tetapi ia masih merasa enggan mendapati salah satu teman sekelasnya yang cewek melihatnya sedang membaca itu.

"Itu muncul lagi...hantunya...Ketika aku sedang belajar di ruanganku, aku mendengar suara langkah kaki di ruang tamu...Tuk tik tak, tuk tik tak, kamu tahu..."

"Yang benar saja, kalau begitu ambil fotonya dong buat bukti."

"Mana mungkin aku melakukan itu!" Akane berteriak, wajahnya memucat dan tanpa warna apapun. "Aku akan ditakut-takuti, dan ponsel pintarku akan meledak!"

"Ya ampun, hantu zaman now punya banyak senjata api, ya."

"Mungkin dia hanya akan meledakkan keseluruhan rumah kita..."

"Apa hantu itu menggunakan rudal atau sesuatu?"

Bagaimana bisa hantu ikut campur dengan dunia nyata menggunakan cara ekstrem dan fisik? Namun, Akane tidak terlalu terganggu dengan sanggahan Saito, dan membuka buku referensinya dan kembali belajar. Dia bahkan membawa buku catatan dan alat tulisnya.

"Mengapa kamu melakukan ini di sini sekarang?"

"A-Aku waspada untuk memastikan kalau kamu tidak diserang oleh hantu!"

"Aku benar-benar baik-baik saja di sini, jadi kamu bisa balik." Saito mendekati Akane dalam upaya mengusirnya, tetapi dia mulai mendesis seperti kucing garong.

"Aku pastinya tidak akan pergi dari sini! Ini ruanganku!"

"Ini ruanganku, kok."

"Mulai hari ini, aku adalah ibu kost!"

"Ibu kost..."

Akane tidak menunjukkan tanda-tanda ingin pindah dalam waktu dekat. Dia memegang buku referensinya seperti sebuah perisai, dan pulpennya seperti sebuah pedang. Penampilannya menyerupai seorang prajurit yang hendak berangkat menuju pertempuran. Jika Saito mencoba untuk mendorong Akane keluar, dia mungkin akan menekan tuduhan pelecehan seksual. Melihat tidak ada peluang berubahnya situasi ini, Saito kembali membaca. Tentu saja, membaca adegan ranjang itu terlalu sulit bagi Saito pada saat itu, jadi ia melewatinya, dan melanjutkan.

–Ini menegangkan...

Tidak seperti di ruang keluarga, yang berperan sebagai ruang mereka bersama, tempat ini seharusnya menjadi oasis satu-satunya bagi Saito. Itu terasa seperti teman sekelasnya yang cewek mampir untuk berkunjung, dan sekarang sedang duduk di ruang pribadinya. Karena ini adalah ruang belajar pribadinya, jaraknya dengan Akane terasa lebih dekat, dan Saito semakin sadar akan adanya Akane.

Akane duduk dengan satu kaki, saat dia sedang memelototi buku referensinya. Ujung roknya terangkat sedikit, yang menampakkan pahanya yang mempesona. Ketika dia sedang mengangkat rambutnya yang tersangkut di wajahnya, aroma yang samar melayang di udara.

"...Mau menggunakan mejaku?"

Ketika Saito memanggil Akane, dia menunjukkan rasa permusuhan dan ketegangan yang jelas, saat dia dengan erat memeluk buku referensinya.

"Me-Mengapa kamu tiba-tiba sangat baik padaku? Apakah kamu ingin memikatku lebih dalam di ruanganmu, dan kemudian menyerangku!?"

"Kamu menerobos masuk ke ruanganku, ingat!?"

"Kamu putus asa karena ada aku di sini, jadi aku tetap bersamamu karena kebaikan hatiku."

Benar-benar pembuatan kenangan yang buruk, sungguh.

"Pasti tidak nyaman belajar di lantai seperti itu, jadi aku bilang kita bisa bertukar. Aku bisa membaca di lantai saja tidak apa-apa kok."

"Kamu bilang begitu, padahal kamu mau melihat rokku, kan!?" Akane menurunkan roknya, menutupi pahanya.

"Memangnya aku melakukan itu! Aku menghargai hidupku, oke."

"Ka-Kalau begitu..." Akane dengan enggan bangkit, dan duduk di bangku Saito.

Dia dengan hati-hati meletakkan buku referensinya dan catatannya di atas meja, dan menurunkan pulpennya di sebelahnya. Setiap gerakannya terasa canggung dan tidak pasti.

"Apakah kamu gugup atau apalah?"

"Ba-Bagaimana tidak!? I-Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam ruangan anak cowok!?"

"A-Aku mengerti..."

"A-Apakah itu buruk...?"

Akane menggenggam rok di lututnya, dan mulai gelisah dengan kakinya. Melihat reaksinya dengan cara yang begitu hidup, Saito merasa semakin canggung. Ia meletakkan bukunya di bawah, dan melangkah keluar pintu masuk. Akane tersentak, dan mengikutinya.

"Kamu mau pergi ke mana? Luar negeri!?"

"Ke toilet! Tetaplah di ruanganku, oke!"

"Maka aku akan mati! Orang-orang yang sendirian akan selalu diserang duluan!"

"Kamu pasti tidak akan diserang! Cuma lima menit saja kok, tunggu saja sebentar!" Saito berlari menuruni tangga untuk menjauh dari Akane, bergegas masuk ke kamar mandi, dan mengunci di belakangnya.

Akane sangat tidak menyukai itu, dan memukul-mukul pintunya.

"Buka woi! Biarkan itu terbuka sampai kamu selesai!"

"Memangnya aku mau melakukan itu!"

"Anjing menyelesaikan urusannya di depan manusia, bukan!?"

"Tetapi aku bukan seekor anjing, s*alan!"

Akane yang ketakutan itu benar-benar imut, tetapi harus ada batasan untuk ini,. Saat ini, Saito tidak memiliki ruang yang aman di rumah ini lagi, tetapi untuk alasan yang berbeda dari sebelumnya. Ketika ia melangkah keluar dari toilet, ia disambut oleh Akane, yang matanya berkaca-kaca, cemberut sambil marah saat dia berdiri di depan pintu. Bahkan ketika ia sedang mencuci tangannya, bahkan ketika ia  sedang berjalan menaiki tangga, kembali ke ruangannya, Akane tidak akan pergi dari sisinya.

–Apa yang seharusnya aku lakukan tentang ini...

Saito menghela napas, dan fokus membaca bukunya. Akane sepertinya khawatir kalau Saito akan meninggalkannya, karena dia terus memelototi Saito, sehingga dia tidak fokus belajar sama sekali. Malam terus berlanjut seperti ini, dan akhirnya sampai ke waktu untuk bersiap-siap tidur.

"...Aku ingin mandi."

"Yap."

Akane membereskan buku referensi dan catatannya, dan meninggalkan ruangan itu. Saito menghela napas lega, beranggapan kalau ia akhirnya mendapatkan ketenangan. Ia ingin membaca adegan ranjang yang sebelumnya itu, jadi ia membalik kembali halaman itu–.

"Em..."

"Apa!?"

Akane tiba-tiba kembali, sehingga Saito membanting bukunya hingga tertutup. Akane membawa baju tidurnya, mengintip ke dalam ruangan dari depan pintu. Mukanya memerah, ketika dia dengan enggan berbicara.

"Akan menjadi terlalu berbahaya bagiku untuk mandi sendirian, jadi....Bi-Bisakah kamu...ikut bersamaku....?"

"Haaaaah!?" Saito bingung.

Ia tidak pernah menduga kalau cewek yang mengancam akan menghancurkan jari-jarinya dalam satu sentuhan sekarang memohon padanya untuk hal semacam ini.

"Ikut bersamamu.....masuk ke kamar mandi?"

"I-Iya...Ketika aku sedang keramas, aku harus menutup mataku, jadi aku tidak ada penjagaan..."

"Tidak ada yang akan terjadi..."

Setidaknya, Saito akan dari serangannya sejenak.

"Apakah itu...tidak bagus?" Akane menatap Saito, dan menanyakannya.

Jika saja dia tetap diam, cantiknya dia akan sekelas model, jadi berjumpa dengan ekspresi yang tidak pasti ini memiliki kekuatan penghancur yang luar biasa.

"....Baiklah, hanya untuk hari ini." Saito menyatakannya dengan suara gemetaran.


Lima menit kemudian, berjaga-jaga di dalam ruang ganti. Hanya sebuah pintu yang menahan di antara dirinya dan Akane yang sedang mandi.

–Iya...Aku tahu. Oke, aku tahu kalau ini akan terjadi!

Saito mengangguk pada dirinya sendiri, dan menolak mentah-mentah segala rasa penyesalan di dalam dirinya. Bahkan jika orang yang bersangkutan adalah musuh bebuyutannya, tidak ada cowok yang seumuran dengannya yang dapat menahan godaan untuk ikut bersama cewek cantik seperti Akane saat dia sedang mandi. Di seberang pintu itu, ia mendengar suara Akane sedang keramas, juga suara air dari pancuran yang jatuh ke lantai. Melalui kaca yang buram, ia dapat melihat bayangan hitam dari tubuh telanjang Akane. Karena ia benar-benar sudah melihat Akane telanjang sebelumnya, ia tidak bisa tidak membayangkan adegan di luar pintu.

"Hei, apakah kamu di sana? Kamu di sana, kan? Kamu baik-baik saja, kan ya?" Akane bertanya dari ruang pancuran.

Semuanya tentang situasi ini terlalu merangsang bagi remaja lelaki yang sehat. Saito berusaha sekuat mungkin agar tidak merasakan keinginan penuh nafsu pada musuh bebuyutannya. Ia mencoba menghitung sosok-sosok bersejarah yang penting di dalam ingatan kepalanya, dan mengurutkan mereka berdasarkan tahun mereka hidup. Dengan melakukan itu, ia membebaskan dirinya dari pemikiran primitifnya.

–Akulah Dunia itu, dan Dunia itu ialah Aku.

"Mengapa kamu tidak menjawabku!? Aku akan marah, oke!" Akane menunjukkan wajahnya dari belakang pintu, sudah setengah menangis.

Kulit putihnya masih tertutup gelembung dari sabun. Bahunya menusuk Saito, begitu juga tulang selangkanya yang menarik. Dua gunungnya yang merah berguncang tepat di depan tatapan Saito.

KuraKon2-3-1

"Tutupi badanmu, dong!?"

Segala hasrat duniawinya meledak sehingga menghasilkan sebuah dentuman besar (big bang).


"Heeei, Saito-kun! Saito-kun! Bumi memanggil Saito-kun!"

Dipanggil berkali-kali, Saito akhirnya kembali ke kehidupan dunia. Himari menyandarkan wajahnya ke tangannya di meja Saito, dan menatap Saito. Ingatan terakhir yang Saito miliki adalah guru matematika yang berdiri di depan papan tulis. Benar-benar membosankan untuk dilihat, tetapi suara ketukan yang berirama menuntun Saito untuk tidur. Di pertengahan kesadarannya yang baru bangun, Saito bergumam.

"Apakah... dunia sudah berakhir?"

"Tidak, masih kuat kok. Mata pelajarannya sudah berakhir nih. Kita mesti pindah ke ruang kelas tambahan sekarang, ingat?"

Hampir tidak ada siswa-siswi yang tersisa di ruang kelas 3-A.

"Terima kasih karena telah membangunkanku. Aku hanya kurang tidur, akhir-akhir ini."

"Kamu mungkin menonton video p*rno sampai larut malam, kan?" Himari meletakkan tangannya di atas mulutnya, sambil cekikikan.

"Tidak kok."

"Ehhh, kamu berbohong~ aku tahu, oke? Anak cowok seusiamu itu selalu senang dengan hal-hal m*sum, kan?"

"...Tidak benar."

Namun, karena alasan ia kurang tidur adalah Akane setelah peristiwa kemarin, ia tidak bisa membantahnya. Tidak peduli seberapa lama Saito melantunkan kutipan sastra klasik, tubuh telanjang Akane yang basah tidak akan hilang dari pikirannya.

"Jadi? Hal semacam yang biasanya kamu tonton?"

"Baru saja aku bilang kalau aku tidak menonton itu, kan?"

"Kalau begitu, cewek seperti apa yang kamu suka? Seseorang bilang padaku kalau kamu setidaknya tidak terlalu senang dengan cewek yang seksi."

"Siapa?"

"Ahh, iya...itu rahasia~! Akan merepotkan jika aku kehilangan sumber informasiku jika aku membocorkannya sekarang~!" Himari meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, dan berkedip.

Sikapnya sangat imut, tetapi dia tidak akan jadi populer di kelas jika bukan karena itu.

"Aku benar-benar tidak mengerti, tetapi cinta benar-benar sesuatu yang kamu kategorikan berdasarkan tipe ya?"

"Jadi seperti orang yang kamu sukai itulah tipeku ya?"

"Sama sekali bukan. Maksudku, tipe itu hanyalah pola terbatas, kan? Tetapi, orang-orang tidak sesederhana itu, kamu perlu mengenal lebih banyak tentang mereka, dan kemudian mulai menyukai mereka apa adanya. Penampilan luar, bakat, hanya jatuh cinta karena paras seseorang itu kekanak-kanakan."

Saito berbicara berdasarkan pengalaman, karena meskipun cewek terlihat sempurna, dia bisa bertingkah seperti alien, misalnya Shisei, atau seekor naga yang agresif seperti Akane. Pria yang akan jatuh cinta dengan Akane hanya berdasarkan parasnya pastinya akan melewati neraka. Bahkan Saito kelelahan sampai ia takut akan botak.

"Haaa...aku tahu itu...Sangat bagus..." Himari bergumam dengan nada yang mengantuk, saat matanya tampak seperti di atas awan.

"Apa maksudmu?"

"Ah, tidak usah dipikirkan! Aku hanya memikirkan tentang betapa indahnya sudut pandangmu itu, Saito-kun! Semua cowok yang telah mengakui perasaannya padaku bahkan tidak mengenalku sedikitpun. Itu hanya membuatku membalas dengan 'Apa yang kamu sukai dariku!? Payudaraku ya!?' kamu tahu."

"Pasti sulit ya menjadi seorang cewek cantik sepertimu." Saito mengangkat bahu dengan polos, tetapi Himari tersipu.

"Ya-Ya ampun, menyebutku seorang cewek cantik! Kamu sangat berani, Saito-kun!"

"Cuma kesanku saja. Memangnya kamu tidak cantik?"

"Kamu menanyakanku itu? Bahkan jika aku bilang iya, kalau begitu aku akan dianggap narsistik, kan!?"

Saito mendengarkan ini, dan dengan tegas menyatakan.

"Kamu menganggap diriku orang yang jenius, bagaimana dengan itu?"

"Kamu itu narsistik!?"

Di mata masyarakat umum, itu pasti akan menjadi konsensus yang luar biasa. Namun, mampu untuk menilai kemampuan seseorang dan batasnya secara objektif juga tidak kalah penting, setidaknya itulah yang dinilai Saito. Di Jepang, kesederhanaan itu dilihat sebagai kebaikan, tetapi itu bukanlah apa-apa melainkan hanya kemunafikan belaka. Himari membersihkan tenggorokannya, dan menatap ke arah Saito.

"Kamu sepertinya cukup mengetahui tentang cinta dan semua itu, tetapi.... Saito-kun, kamu masih seorang perjaka, kan?"

"Me-Memangnya mengapa!?"

"Ahh, jadi kamu tidak menyangkalnya kalau begitu, aku tahu itu~."

"Apakah ada masalah dengan itu, ya?"

"Tidak kok, aku bahagia."

"Kamu bahagia bisa memandang rendah diriku, ya..." Saito semakin curiga dengan setiap katanya.

Himari hanya mengangkat bahunya, dan tersenyum.

"Kamu salah~ aku bahagia karena kita sama!"

"Sama...?"

Saito mulai memikirkan makna di balik kata-kata Himari, hanya merasa canggung setelah sampai pada jawabannya. Di saat yang sama, ia merasa bingung dengan mengapa ia membicarakan tentang sesuatu yang seperti ini dengan seorang teman sekelas sebelum tengah hari.

"Mari kita hentikan saja sampai di situ, kita harus pindah kalau tidak kita akan terlambat."

"Ah, satu pertanyaan terakhir! Kamu tidak jatuh cinta berdasarkan tipemu, tetapi jika itu seseorang yang kamu kenal dan tahu banyak tentangnya, kamu tahu setidaknya itu preferensimu, bukan?"

"Iya... Aku rasa." Saito mengangguk.

Himari meletakkan satu tangan di meja, dan mendekatkan telinga Saito dengan bibirnya. Rambut pirangnya yang panjang membuat leher Saito geli, saat aroma wangi dari parfum Himari sampai ke hidung Saito. Dengan suara yang hampir menghilang sedetikpun, Himari berbisik.

"Kalau begitu bagaimana dengan...ku?

"Eh...?" Tubuh Saito tersentak. "Apa maksudmu..." Ia bingung dengan apa yang barusan terjadi, ketika Himari sudah menjauhkan tubuhnya dari Saito.

KuraKon-2-3-2

"Cuma bercanda kok! Aku bercanda~ Ayolah, kamu terlalu tersipu, betapa menggemaskannya~."

"Kamu ini..."

"Maaf, maaf! Ngomong-ngomong, sampai jumpa lagi!" Himari berjalan menjauh, tetapi daun telinganya juga memerah.

–Untuk apa kamu merasa malu...?

Saito tidak mengerti dengan apa yang Himari pikirkan, atau apa rencananya selama ini. Jika ini dimaksudkan hanya untuk menggoda Saito, maka dia setidaknya harus lebih tenang daripada tadi. Saito mulai mengipasi wajahnya yang memerah, ketika ia mendengar suara di bawahnya.

"Menjadi terangsang di sekolah, hm."

Shisei menyelinap dari bawah meja Saito, meletakkan kepalanya di antara kedua lutut Saito.

"Tidak ada yang terangsang kok."

"Abang iya kok. Aroma hormon Abang yang menjadi liar itu sangat pekat." Shisei mendorong hidungnya pada Saito, terdengar mengendus-endus aromanya.

Namun Saito tidak membiarkan Shisei bebas berkeliaran, dan menghentikannya dengan cakar besi yang kasar ke dahinya.

"Kita akan lanjutkan pembicaraan ini setelah kamu keluar dari sana..."

"Aku menolak dengan tegas. Shisei akan selamanya tinggal di dalam selangkangan Abang."

"Itu bukanlah tempat yang cocok untuk ditinggali manusia!" Saito dengan paksa mengangkat Shisei keluar dari posisinya tersebut.


Semenjak keributan hantu itu, pertengkaran antara Saito dan Akane akhirnya berkurang, tetapi itu melelahkan dalam artian yang berbeda. Kapanpun Akane berakhir panik disebabkan oleh hantu itu, dia benar-benar melupakan kesan jarak yang sebelumnya mereka jaga. Dengan tujuan untuk memulihkan jiwanya yang lelah, Saito mengungsi ke atas atap selama istirahat makan siang.

Hanya ada Saito dan Shisei di atas atap, menciptakan suasana yang lebih tenang daripada yang mungkin terjadi di rumah Saito. Saito membawa satu kotak susu di tangannya, dan mulai mengeluh seperti orang biasa di bar.

"Baru-baru ini, dia baru saja..."

"Mengeluh tentang istri Abang?" Shisei protes, saat dia meneguk beberapa susu dari sedotan di kotak Saito.

"Abang tidak mengeluh. Lagipula bagaimana kamu tahu kalau Abang membicarakan Akane?"

"Dari nada suara Abang. Ketika Abang lelah karena istri Abang, Abang berlindung di dada Shisei. Shisei adalah wanita yang menggoda dan licik yang bisa menyembuhkanmu dengan cara itu."

"Jangan membuat Abang terdengar seperti semacam orang yang menyimpang."

"Tidak kok. Setiap orang butuh tempat pelarian mereka sendiri, sebuah tempat yang aman. Abang membutuhkan Shisei, dan Shisei juga membutuhkan Abang."

"Kamu tidak salah sih, tetapi..."

Bagi Saito, yang telah dibuang oleh orang tuanya, Shisei merupakan keberadaan yang paling dekat dengannya lebih dari siapapun, keluarga di atas keluarga. Bahkan sebelum seluruh pernikahan dengan Akane ini, dia sudah berada di sana, mendukung Saito.

"Jangan menahan diri, serahkan saja pada Shisei. Dengan kelembutan Shisei yang melimpah, aku akan merangkul semua milik Abang." Shisei dengan hati-hati membuka lengannya.

Ekspresinya lembut seperti ekspresi patung lilin, mengeluarkan pancaran yang jahat dan hampir mengerikan. Dia menyerupai peri yang menggemaskan, tetapi jika kamu termakan oleh godaan, kamu akan tenggelam sangat dalam ke sumber air.

"Itu berbahaya berdiri di susur (pegangan tangan) itu, jadi turunlah dari situ."

"Fuwah."

Saito menangkap Shisei, yang sedang berdiri di susur, dan dengan hati-hati menurunkannya. Tidak peduli betapa menawannya Shisei itu, dia masih muda, jadi dunia belum bisa terjatuh ke pelukannya.

"Jadi, ada apa dengan istri Abang?" Shisei bertanya.

"Akane membicarakan tentang beberapa hantu yang katanya muncul di rumah kami. Dia bilang bahwa seseorang kadang-kadang berdiri di sebelahnya, atau dia bisa mendengar suara langkah kaki, yang membuatnya ketakutan. Dia bahkan tidak mandi sendirian lagi."

"Abang mesum." Shisei memberi Saito tatapan yang tajam.

"Tidak ada yang mesum tentang ini! Kami tidak benar-benar mandi bersama!"

"Tetapi sebenarnya Abang mau, kan?"

"Ten-Tentu saja tidak!" Saito panik.

Memang sulit untuk mengakuinya, tetapi bukan berarti ia tidak memiliki pemikiran jahat apapun pada saat-saat seperti ini.

"Abang munafik."

"Abang juga bukan munafik!"

"Shisei tahu...Abang itu tipe cowok yang akan bersedia membuang nyawanya hanya untuk melihat seorang cewek telanjang...Karena kamu adalah tipe cowok yang mengintip ke jendela gedung bertingkat hanya untuk itu..."

"Cowok itu terlalu putus asa, iya kan." Saito lebih memilih hidup dengan kedua kakinya menapak tanah.

"Apa Abang melihat hantu itu?"

"Tidak, sama sekali tidak. Abang yakin kalau itu cuma seekor tikus, tetapi tidak peduli apa yang Abang bilang. Akane tidak mendengarkan Abang. Dia penuh dengan kecurigaan, mengatakan sesuatu seperti 'Apakah kamu sekutu dari hantu itu!?', Abang tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan."

Shisei menggulung tangannya, dan mulai berpikir.

"...Itu mungkin hantu sungguhan."

"Ayolah..."

"Itu tidak sepenuhnya mustahil. Kakek dibenci oleh banyak orang, jadi itu mungkin hantu dari seseorang yang bunuh diri setelah restrukturisasi, atau seseorang yang tinggal di tanah itu sebelumnya. Mereka tidak akan mengizinkan cucu Kakek untuk hidup bahagia dan sekarang mereka mencoba mengutuk dan membunuh kalian."

"Kalau begitu mereka kan bisa melampiaskannya secara langsung ke Kakek sendiri, iya kan."

Benar-benar cara yang memalukan untuk melampiaskan kemarahan. Juga, Saito dan Akane bahkan tidak tinggal bersama sebahagia kelihatannya. Malah, mereka hanya semakin dekat sebagai hasil dari serangan-serangan itu.

"Tidak mungkin hantu itu ada."

"Mereka ada kok. Shisei telah melihat satu." Dia mengatakannya tanpa mengedipkan satu mata.

"Serius!?"

"Serius. Dia memberiku roti melon."

"Abang rasa itu bukan hantu."

"Dia bilang dia tidak butuh terima kasih dan bilang padaku untuk menerima ini, dan yang satu lagi bahkan menyodorkan uang ke Shisei sambil menangis."

"Sekali lagi, itu sama sekali bukan hantu, tetapi para penggemarmu."

Tentu saja, menerima hadiah uang dari orang-orang acak itu sepertinya lebih menyeramkan dari hantu biasanya, tetapi membuat orang asing bertingkah seperti itu adalah kekhasan Shisei yang licik.

"Kamu lebih baik memberikan uang itu ke polisi, kan!?" Saito mengkonfirmasi, tetapi Shisei menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Mendingan dipakai buat main bersama Abang."

"Erk...Biar Abang dianggap sebagai rekan kejahatanmu...!" Saito memegang kepalanya dengan putus asa.

Ia menyadari kalau ia perlu memeriksa pendapatan dan pengeluaran Shisei di masa depan. Ia mencegah menggunakan uang yang kotor, atau malah, menakutkan.

"Bagaimanapun juga, itu adalah fakta bahwa 'Seseorang' itu ada di rumah Abang. Bahkan jika itu bukan hantu, kalian mungkin tidak seharusnya membiarkannya begitu saja terlalu lama."

"Iya... Kamu tidak salah, Abang rasa."

Saito memikirkan tentang itu lagi, dan jika itu seekor tikus, suara yang ia dengar ini jauh lebih keras. Jika itu semacam perampok atau maling dan sebagainya, baik Saito maupun Akane berada dalam bahaya besar.

"Shisei akan memeriksa apa yang sebenarnya yang mengganggu kalian. Karena Shisei tidak sesibuk Abang, aku akan mengungkap identitas dari hantu itu."

"Tetapi, itu berarti Akane akan mengetahui kalau kamu mengetahui semuanya."

Akane terus-menerus mengingatkan Saito agar tidak membocorkan apapun yang berkaitan dengan pernikahan mereka.

"Tidak masalah, serahkan saja pada Shisei, aku akan melakukan sesuatu tentang itu."

"Dan apa yang akan kamu lakukan?"

"Sesuatu ya sesuatu. Abang tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Shisei pasti akan melindungi Abang terpentingku dari penyerang berbahaya apapun." Shisei menunjukkan ekspresi yang bisa diandalkan.


Setelah kembali ke ruang kelas 3-A bersama Saito, Shisei langsung menuju ke bangku Akane.

"Akane, Akane, apa kamu punya waktu sebentar?"

"Eh...Aku? Ada apa?" Akane menunjukkan reaksi yang ragu-ragu.

Meskipun mereka sudah berada di kelas yang sama sejak mereka terdaftar di sekolah ini, mereka hampir tidak pernah berhubungan satu sama lain, dan Saito jarang sekali melihat mereka saling mengobrol. Shisei meletakkan tangannya di atas meja Akane, dan berbicara.

"Akane, kamu menikah dengan Abang, kan!?"

"!?" Akane terdiam.

–Mengapa dia mengatakan itu di sini!?

Saito bingung. Pendekatan Shisei terlalu berlebihan dan blak-blakan. Akane langsung mengarahkan tatapannya ke Saito, menatapnya seperti Akane ingin memasukkannya ke dalam daftar sasaran.

–Kamu yang memberi tahunya, kan?

–Aku tidak bersalah!

Saito dengan panik melambaikan tangannya untuk membantahnya. Biasanya, mereka itu saingan dan musuh, tetapi di saat-saat seperti ini, kontak mata sudah cukup untuk menyampaikan pikiran mereka. Namun Shisei bahkan tidak merekam reaksi mereka, dan melanjutkan.

"Shisei tahu semuanya. Kamu dan Abang tinggal bersa—."

"Baiklah, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, hmmmmm!?"

"Itu benar, jalan-jalan bersama kedengarannya menyenangkan."

Saito menutup mulut Shisei, mengangkat kepala Shisei, sedangkan Akane meraih kaki Shisei, dan mereka berdua bersama-sama menculiknya. Siswa-siswi di pintu masuk mengizinkan mereka lewat dengan tatapan hangat, mengatakan 'Sama seperti biasanya, ya...,". Saito dan Akane menerobos masuk ke ruang kelas yang kosong, mengunci pintunya, dan mengurung Shisei.

"Kerja sama tim yang hebat... Jadi ini yang namanya kekuatan pasangan suami istri..." Shisei menghela napas kagum.

"Jika kamu ingin membicarakan tentang itu, setidaknya pertimbangkan waktu dan tempatnya!"

"Sudah kok. Tidak ada yang di dekat kita, jadi Shisei tidak khawatir kalau seseorang mungkin akan mendengar kita."

"Kamu tidak akan pernah tahu kalau nanti ada seseorang yang lewat, kan!?"

"Inilah bagian dari sensasinya. Hidup itu layaknya pertaruhan."

"Tidak ada yang memerlukan sensasi di sini!" Saito protes, yang membuat Akane membanting tinjunya ke papan tulis.

"Saito, kamu..." Akane mendorong poninya dengan kesal, sampai kamu bisa melihat urat di dahinya.

Dia sangat marah, tidak diragukan lagi.

"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk tidak membocorkan hubungan kita ke orang lain!? Apa yang kamu pikirkan!? Apakah kamu ingin dihantam!?"

"Dihantam sebelah mana!?" Saito mundur sedikit untuk menciptakan jarak antara ia dan Akane.

Akane mengangkat tinjunya.

"Shisei sarankan selakangannya."

"Jangan sarankan apa-apa!" Saito menyembunyikan bagian bawah tubuhnya di bawah bayangan meja. "Kamu sepertinya telah salah paham tentang ini, tetapi aku tidak memberi tahu Shisei kok! Dia sudah tahu sendiri! Benar kan, Shisei!" Saito melihat ke arah Shisei untuk meminta pengiyaan, tetapi Shisei menghentikannya dengan telapak tangannya.

"Tunggu, Shisei sedang sibuk sekarang. Aku memiliki masalah dalam mengingat bagian lucu dari acara komedi yang aku tonton kemarin."

"Siapa yang peduli tentang itu!? Nyawa Abang bergantung pada hal ini!" Saito memohon.

Namun Shisei meletakkan satu tangan di dahinya, mengerang saat dia memikirkan ini.

"Nyawa Abang atau bagian lucu... yang mana ya..."

"Tidak usah ragu-ragu!? Apakah kamu di pihak Abang, atau melawan Abang!?"

Saito merasakan ketibaan akhir yang buruk yang ditutup dengan dirinya ditusuk dari belakang. Akane menyiapkan penghapus papan tulis di kedua tangannya, secara perlahan tetapi terus mendekati Saito. Ia belum tahu pasti serangan macam apa yang akan Akane luncurkan dengan penghapus itu, tetapi ia secara naluriah tahu kalau ini adalah situasi yang berbahaya.

"Tenanglah, Abang tidak berbohong. Shisei tahu sendiri soal pernikahan kalian."

"Benarkah...? Saito tidak membocorkan apapun...?" Ekspresi Akane masih setengah meragukan.

"Tidak peduli siapa sebenarnya kalian, kalian tidak dapat membodohi mata Shisei. Shisei itu pencari kebenaran, dan perwujudan asli dari kebenaran."

"Kamu bicara seperti semacam kultus agama... Setidaknya hindari membuat semua itu."

Dengan karisma Shisei, tidak akan aneh untuk memasukkan keberadaannya ke sebuah agama untuk banyak orang di dunia ini.

"Kakek tahu soal pernikahan kalian, jadi tidak mungkin beliau bisa menyembunyikannya dari Shisei. Bahkan bawahan beliau mendengarkan apapun yang Shisei katakan."

"Apakah kamu yakin kalau kamu tidak mencoba untuk mengambil alih Houjo Group?" Saito semakin cemas.

"Shisei bebas dari keserakahan. Semua yang aku inginkan hanyalah jiwa Abang."

"Apakah kamu iblis!?" Saito tidak ingat pernah membuat kontrak apapun dengan Shisei, yang membuatnya jauh lebih khawatir.

"Aku mengerti...Aku rasa itu masuk akal kalau keluarga Saito sendiri tidak akan menyadarinya...Maafkan aku karena tetap diam tentang semua ini, Shisei-san."

"Tidak perlu khawatir." Shisei mengacungkan jempol ke Akane.

–Cewek ini... Dia bersedia untuk minta maaf pada siapapun tetapi tidak denganku...?

Saito dipenuhi dengan perasaan yang meragukan, tepat setelah Akane memelototinya.

"Tetapi, mengapa kamu menyembunyikan fakta bahwa Shisei sudah tahu dariku!?"

"Karena aku tahu kalau kamu akan marah padaku..."

"Aku tidak akan marah karena hal itu!?"

"Kamu saja sedang marah saat ini, apakah kamu tidak sadar!?"

"Bisakah kamu menyalahkanku!?" Akane tampak seperti iblis yang bereinkarnasi.

Shisei menyaksikan ini, dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Shisei tahu kalian sudah menikah, tetapi apakah kalian perlu bermesra-mesraan di sekolah?"

""Kami tidak bermesra-mesraan!""

Saito dan Akane berteriak di saat yang sama. Shisei melompat ke atas meja, mengepakkan kakinya yang terbungkus celana ketat putih ke atas dan ke bawah, dan melanjutkan.

"Aku dengar dari Abang, kalau ada hantu yang mengganggu di rumah kalian?"

"I-Itu benar! Ditambah lagi cowok ini bahkan tidak percaya dengan hantu! Ia tidak mengerti seberapa parah situasinya!"

"Shisei tahu. Rumah itu...ternyata dihantui oleh oleh roh jahat."

"Sudah kuduga!?" Akane mendorong tubuhnya ke arah Shisei.

"Shisei dapat merasakan energi jahat yang tidak terduga dari kalian berdua. Karena keinginanmu begitu kuat, Akane, kamu berhasil menahan upaya gangguan roh jahat itu. Kamu melakukannya dengan baik secara mandiri."

"Hiks...Shisei-san..." Akane mulai menangis saat dia mengusap kepala Shisei.

"He-Hei, kalian berdua..."

Saito merasa bahwa situasinya malah jadi semakin buruk. Pastinya ini adalah pola di mana seseorang terpojok karena tekanan mental dan fisik, dan kemudian terjatuh ke dalam beberapa rencana jahat, dan mulai percaya tanpa memandang apapun yang orang lain katakan. Karena Akane kekurangan tidur, dan tekanan di bahunya, Akane gagal untuk melakukan penilaian yang tepat pada situasi ini.

"Jika kita mengusir hantu itu secepatnya, malapetaka akan datang pada akhirnya. Kamu mungkin akan kehilangan 50 poin di nilaimu pada setiap mata pelajaran."

"Benar-benar malapetaka yang mengerikan!!" Bahu Akane gemetar ketakutan.

Namun, saat Akane terpesona oleh pengusir hantu berpengalaman di depannya, kata-kata Saito tidak sampai ke telinganya.

"Apa yang harus kami lakukan, Shisei-san!?"

"Shisei hanya harus 'memeriksa' rumah kalian. Dengan melakukan itu, aku 'akan tahu' apa yang kalian hadapi, dan cara mengusir mereka, jadi percayakan pada Shisei." Shisei secara perlahan meletakkan tangannya di bahu Akane.

"Aku akan percayakan padamu! Berapa yang harus aku bayar!?" Mata Akane menyala.

"Berhenti menawarkan uang!?" Saito memutus di antara istrinya dan adik sepupunya untuk menghentikan pertukaran aset moneter.


Di perjalanan pulang, Saito, Akane dan Shisei semuanya jalan bersama. Itu adalah gang yang sangat panjang dengan pohon yang tumbuh di pinggir-pinggirnya. Siswa-siswi yang menggunakan sepeda melewati mereka bertiga, seragam mereka tertiup angin. Ekspresi Shisei tanpa emosi apapun seperti biasanya, tetapi karena langkah kakinya tampak lebih ringan dari biasanya, Saito pikir dia pasti dalam suasana hati yang baik.

"Ini sudah lama sejak Shisei dapat pulang bersama-sama dengan Abang. Dan ini mungkin pertama kalinya aku pulang bersama Akane."

"I-Iya..." Akane dengan canggung melihat ke sekelilingnya.

Dia pasti khawatir akan berpapasan dengan salah satu dari teman sekelas mereka.

"Mungkin kamu seharusnya pulang ke rumah terpisah dari kami, Akane?"

"Tidak! Shisei-san sangat menonjol, jadi seseorang mungkin mengikuti kita. Aku perlu melihat sekitar dan berjaga-jaga jika seseorang yang kita kenal ada di sekitar kita!"

"Aku sangat ragu orang-orang akan mengikuti kita." Saito memiringkan bahunya, tetapi Shisei menggelengkan kepalanya.

"Shisei sering diikuti. Sebelumnya, seorang cewek datang denganku dan ke rumahku, dan tersenyum dengan mengucapkan 'Selamat datang kembali' ketika mereka memasuki kamar Shisei."

"Itu terlalu menakutkan! Apakah kamu baik-baik saja setelah itu!?"

"Benar-benar tidak apa-apa. Kakek pikir ini akan terjadi, jadi beliau memberi tahu Shisei untuk memegang ini." Shisei tersenyum, dan mengeluarkan benda yang mirip seperti tongkat sihir.

Namun, di ujung dari elektroda, ada percikan yang terus menyala.

"Ini adalah Penemuan Pertahanan Diri Spesial Houjo—Pistol setrum uji coba yang pasti ampuh, tanpa meninggalkan jejak!"

"Meskipun memiliki tampilan yang seperti semacam khayalan (fantasi), itu jelas memiliki nama yang jahat, iya kan..."

"Tidak ada yang pernah berhasil bertahan melawan itu. Bahkan cewek itu memohon untuk disetrum lagi keesokan harinya."

"Apakah itu benar-benar ampuh untuk perlindungan diri, Abang penasaran?" Saito membalas.

Sebaliknya, itu terdengar seperti akan menjadi suatu kebiasaan bagi orang-orang tertentu. Meskipun begitu, Akane terlihat pada benda itu dengan minat yang besar.

"Sebuah pistol setrum...Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya dengan mataku sendiri. Itu tampak imut."

"Shisei punya dua nih, jadi kamu boleh ambil satu, Akane. Kamu bisa menggunakannya ketika Abang melecehkanmu secara seksual."

"Benarkah!? Terima kasih banyak!"

"Tahan dulu, jangan memaksakan semua ini." Saito mengangkat Shisei, menyeretnya menjauh dari Akane tepat sebelum dia dapat menerima pistol setrum itu.

Rumahnya sendiri sudah jauh lebih berbahaya, jadi ia memilih untuk tidak mengubah itu menjadi neraka hidup.

"Shisei sudah mengusir banyak roh dengan pistol setrum ini."

"Pistol setrum bisa untuk melawan roh!?"

Shisei mengangguk dengan percaya diri.

"Itu berhasil. Para hantu itu seperti gangguan di medan magnet, dan sinyal listrik di otak mereka mulai terpisah dan bertindak mandiri, jadi listriknya bekerja dengan sangat baik."

"Aku mengerti...Shisei-san itu sangat berpengetahuan luas..." Pandangan Akane dipenuhi dengan rasa hormat, menunjuk ke Shisei.

Saya rasa inilah makna sebenarnya apa yang orang bilang sebagai 'Orang yang hampir tenggelam akan mencari pegangan walau pada dahan yang kecil'. Biasanya, Akane itu cerdik dan bijak, tetapi dia sedang kacau, tidak mampu untuk berpikir dengan baik. Saito membisikkan sesuatu ke telinga Shisei.

"Jangan menipu Akane terlalu banyak, dong? Aku khawatir dia akan benar-benar jatuh ke lubang, dan pergi keluar untuk membeli pot keberuntungan atau apalah."

Shisei merespons dengan suara pelan.

"Tidak masalah, ini hanyalah bagian dari rencana Shisei. Jika Akane menganggap Shisei sebagai pemburu hantu profesional, dia akan tenang setelah Shisei menyatakan kalau 'Tidak ada hantu di rumah ini!', kan."

"Iya...kamu mungkin saja benar..."

Shisei menepuk-nepuk dirinya sendiri di bagian dada, penuh dengan rasa percaya diri.

"Shisei akan selalu menjadi sekutu Abang. Aku tidak akan melakukan hal buruk pada Abang."

"Itu benar-benar apa yang akan dikatakan oleh seseorang yang ingin menusuk Abang dari belakang..."

Meskipun begitu, Saito tahu kalau dia tidak akan mencoba melukainya, jadi ia seharusnya akan aman menaruh kepercayaan pada Shisei. Tidak lama setelah pembicaraan ini, mereka bertiga tiba di rumah mereka. Akane membuka pintu depan, dan Shisei menginjakkan kaki ke dalam rumah itu.

"Ini..."

"Apa yang kamu katakan, Sensei..." Rasa hormat Akane terhadap Shisei bertambah sampai ke titik di mana dia memanggilnya 'Sensei'.

–Sekarang, kasih tahu dia, Shisei! Katakan kalau tidak ada hantu di sini.

Saito menatap Shisei dengan harapan dan aspirasi, Shisei melanjutkan bagiannya.

"Beberapa hantu mendiami rumah ini... Segera, rumah ini akan jatuh ke tangan-tangan penghuni neraka."

"Shiseeeeeeeeeeeeei!?" Saito meragukan telinganya.

Akane semakin pucat.

"Ne-Neraka!? Jadi ini sudah terlambat!? Mungkin kita hanya perlu membakar habis keseluruhan rumah ini!?"

"Sekarang tunggu sebentar, oke!" Saito dengan panik menghentikan Akane, yang sedang berlarian menuju dapur.

Ia tidak bisa mengizinkan seorang teman sekelasnya melakukan kejahatan berat seperti pembakaran.

"Jangan khawatir, inilah sebabnya Shisei datang kemari. Dia akan menemukan inti dari masalah ini, dan menyebarkan roh-roh yang menyebabkan masalah ini."

"Tolong, Sensei...!" Akane menatap Shisei seperti dia seorang Mesias.

Di saat yang sama, Shisei melepaskan sepatunya, dan memasuki rumah itu. Bertingkah seperti itu rumahnya sendiri, dia dengan acuh tak acuh berjalan menuju dapur.

"Aku merasakan kehadiran hantu di sini." Dia membuka kulkas, dan berjinjit.

Menggunakan kedua tangannya, dia mengeluarkan wadah plastik.

"Itu... kinpira gobo yang aku buat..."

(TL English Note: Kinpira gobo: Akar gobo (dan kadangkala wortel) yang dicincang dan dimasak dengan gula dan kecap.)

"Itu mengeluarkan aroma yang berbahaya...jika tidak melakukan sesuatu tentang ini, kita semua mungkin akan pingsan kapan saja..."

"Tidak mungkin! Aku baru membuatnya tadi malam!" Akane melihat ke wadah plastik dengan terkejut dan tidak percaya.

"Ada satu metode untuk memecahkan masalah ini. Karena Shisei memiliki ketahanan terhadap hantu, jika dia memakan semua ini, kalau begitu..."

"Kamu bisa menyegel hantu itu di dalam perutmu...!? Tetapi, apa yang akan terjadi pada perutmu...!?"

"Mungkin akan meledak..."

"Meledak!?" Mata Akane terbuka sambil kaget.

"Namun, itu tidak masalah. Jika Shisei bisa melindungi kalian berdua, maka tidak masalah apa yang akan terjadi..."

"Kamu hanya memakan itu, bukan." Saito meraih lengan Shisei, yang baru saja ingin membuka tutupnya.

Shisei tidak mampu menyembunyikan keinginannya, karena iler bercucuran dari mulutnya.

"Sensei, tolong urus ini dengan serius!" Bahkan Akane melontarkan keluhan!

"Hmpf..." Shisei dengan enggan mengembalikan wadah itu ke dalam kulkas.

Setelah itu, pemburu hantu yang terlatih secara luas dan percaya diri melihat ke sekeliling dapur terbuka dan ruang keluarga.

"Di mana kamu melihat hantu itu?"

"Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, tetapi aku mendengar suara langkah kaki dari ruang keluarga. Aku rasa itu sekitar pukul 8 tepat di malam hari."

"Oh...?" Shisei berkedip.

"Apa kamu menyadari sesuatu, Sensei...!?" Akane menatap Shisei dengan penuh harapan.

"Hmmm... Hmm?" Shisei meletakkan jari telunjuknya ke pipinya, memiringkan kepalanya disusul seluruh tubuhnya.

"Apa ada sesuatu di sana? Pasti ada hantu anak kecil, kan! Aku bertaruh dia sedang melihat ke arah kita saat ini!" Akane panik seraya menyembunyikan tubuhnya di belakang meja dapur, mengeluarkan pisau dari laci di bawah bak cuci piring.

Atau sebaliknya, dia mengeluarkan satu, hanya untuk dihentikan dengan panik oleh Saito, yang menggunakan semua kekuatannya.

"Shisei kekurangan informasi, untuk penilaian yang tepat. Dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut." Shisei meninggalkan ruangan itu, disusul oleh Saito dan Akane.

"Kamu pasti memiliki semacam petunjuk, kan!?"

"Sampai Shisei tahu pasti, akan lebih baik untuk tidak memberi tahu siapapun yang masih amatir."

"Amatir..."

Shisei juga belum pemburu hantu profesional sih. Namun, Akane terlalu sibuk untuk memeluk tubuhnya yang gemetar untuk menyadarinya.

"Aku yakin bahwa banyak hantu yang tidak ada habisnya telah mengisi rumah ini dari kulkas itu...Pintu menuju ke neraka telah dibuka..."

"Mengapa rumah kami berubah menjadi tempat nongkrong para hantu? Jika benar begitu, itu akan sangat luar biasa."

"Mengapa!? Apakah kamu pelayan Neraka!?" Akane menjerit tidak percaya, saat dia memelototi Saito.

"Siapa yang kamu panggil dengan pelayan Neraka!? Aku tidak percaya dengan hal-hal semacam itu, tetapi bertemu dengan mahkluk gaib membuatku bersemangat."

"Tidak, itu sedikitpun tidak seru! Bagaimana bisa kamu merasa begitu!? Apakah kamu ini manusia!?"

Karena beberapa alasan, Saito jadi diragukan meski ia adalah makhluk yang sama dengan mereka. Di saat yang sama, Shisei berjalan naik ke atas tangga dengan langkah yang percaya diri, dan berhenti di depan sebuah pintu.

"Ruangan apa ini?"

"Ruang belajarku. Karena aku tidak menggunakannya untuk itu sih, itu lebih seperti tempat untuk membaca."

"Jadi Abang menggunakannya untuk membaca buku mesum!?"

"Saito...?"

Dua cewek itu menatap Saito dengan tidak percaya.

"Tidak, aku tidak membaca buku mesum."

Shisei menunjuk Saito, terdengar seperti seorang detektif.

"Shisei tahu. Buku yang Abang baca memiliki banyak adegan mesum dan tidak senonoh. Ketika Shisei ingin melihat sedikit, Abang akan buru-buru menutupnya."

"Ba-Bagaimana..."

"Shisei bisa tahu. Aku ingat ketebalan buku itu di halaman tempat Abang berhenti, dan kembali membaca halaman itu lagi ketika Abang sedang pergi."

"Urk..." Saito menggertakkan giginya.

Di saat yang sama, Akane ternganga.

"Membaca buku mesum di rumahku, aku tidak akan memaafkanmu! Menjijikkan!"

"Buku-buku cuma novel biasa kok! Bahkan banyak film yang memiliki adegan ranjang, kan!"

"Shisei perlu melihat ruang buku mesum Abang."

"Itu bukan ruang buku mesum!"

"Buku tidak senonoh apapun akan disita!"

Baik Shisei maupun Akane dipenuhi dengan rasa penasaran dan dorongan untuk mencari tahu lebih banyak, saat mereka menerobos masuk ke ruang belajar Saito.

"Bukankah tujuan kalian jadi berubah, oi!" Saito protes, tetapi para cewek tidak mundur sama sekali.

Shisei lebih dulu membusungkan tubuh kecilnya ke dalam lemari sempit.

"Ohhh."

Masuk ke dalam lemari, dia mengeluarkan suara terkejut.

"Apakah kamu menemukan sesuatu!? Hantu buku mesum!?"

"Sekarang malah kamu campur-campur! Fokus sama satu saja yang penting!" Saito meraih tangan Shisei, mendorongnya keluar dari lemari.

"Menemukan pakaian dalam Abang!" Namun, dia berhasil mengambil pakaian dalam Saito, melambai-lambaikannya.

"A-Apa yang kamu tunjukkan padaku!?" Akane tersipu sambil marah, menutup matanya.

Di saat yang sama, Shisei mengubur wajahnya ke dalam pakaian dalam Saito, mengendus-endusnya secara menyeluruh.

"Bukankah ini tidak tercium seperti bau Abang, melainkan deterjen. Jadi kamu mencucinya dengan baik!"

"Tentu saja Abang mencucinya?" Saito mencoba untuk mengambil kembali pakaian dalam itu, tetapi Shisei dengan mudah menghindari serangan itu."

"Harta karun pertama hari ini telah ditemukan. Shisei akan membawanya pulang sebagai milikku."

"Shisei-san, tanganmu akan busuk! Buang itu sekarang juga!"

"Apakah kamu mau aku berakhir tidak mengenakan pakaian dalam!?"

"Abang yang tidak mengenakan pakaian dalam memiliki cukup kekuatan untuk memecahkan segala masalah masyarakat."

"Memangnya Abang mau melakukannya!"

"Tidak mengenakan celana dalam, kamu benar-benar menyimpang!"

"Kamu yang berencana untuk membuangnya, kan!?"

Menghabiskan waktu yang lama untuk mengusir dua cewek ini, dan memulihkan pakaian dalamnya dengan selamat. Sebagai hasil dari itu, Saito terengah-engah, dan menguatkan tekadnya untuk menaruh kembali ke laci dan menguncinya. Membiarkan Akane melihat pakaian dalamnya itu sangat memalukan.

"Berikutnya, Shisei akan menyelidiki ruang belajar Akane."

"Tunggu...Shisei-san...tidak ada hantu apapun di ruanganku...tidak ada apa-apa di sana...jadi..." Akane menunjukkan ekspresi yang seperti dia berjalan ke neraka, saat dia meraih bahu Shisei.

Shisei berusaha berjalan di depan tanpa merespons, tetapi dia tidak bisa bergerak satu incipun.

"Apakah kamu tidak ingin celana dalammu diperlihatkan ke dunia?"

"Tentu saja tidak! Kita kan sedang mencari hantu!"

"Celana dalam terdengar lebih menarik sih."

"Tentu saja tidak!"

Tidak mampu untuk melewati penjaga besi, Shisei diseret menjauh oleh Akane. Saito dan Akane berdiri di samping kanan dan kiri Shisei, tidak mengizinkannya untuk melarikan diri. Tidak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan atau ke mana dia akan pergi selanjutnya. Mereka bertiga menuruni lorong, dan sampai di kamar tidur mereka. Akane menarik kembali tubuhnya, sangat jelas ketakutan.

"Ketika aku sedang tidur di sini, aku melihat sebuah bayangan berdiri di sebelahku."

"Seperti apa kelihatannya? Sesuatu seperti seekor chupacabra?" Shisei mencoba untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin apapun.

"Aku tidak memiliki gambaran tentang seperti apa chubacabra yang sebenarnya, tetapi bayangan ini tampak kecil, seperti bayangan seorang anak kecil."

"Apakah dia menggigitmu?"

"Tidak, ketika aku menjerit, dia menghilang."

"Aku mengerti..." Shisei menyilangkan lengannya, dan mulai berpikir.

"Apakah kamu tahu sesuatu?"

"......."

"Shisei-san?" Akane mencoba untuk menggoyangkan bahu Shisei, tetapi Saito menghentikannya.

"Tunggu sebentar. Ini mungkin tidak terlihat seperti itu, tetapi dia itu cekatan. Ada peluang yang bagus kalau sel-sel otaknya bekerja pada kecepatan Mach untuk mencari tahu apa yang terjadi di sini.... Mengingat ini Shisei, dia akan datang dengan kebenaran dalam sekejap."

"Be-Benar... Jika itu dia..."

Saito dan Akane memutuskan untuk mengawasi Shisei. Akhirnya, Shisei mengangkat tangannya dengan gerakan yang mendadak.

"Shisei mengetahui identitas dari hantu itu."

"Benarkah!? Apa itu!?" Akane mendorong tubuhnya ke depan.

"Seekor kucing, kan!? Atau seekor tikus!?" Saito juga Shisei untuk menjawab.

Keheningan mengisi kamar tidur itu. Begitu ketegangan sudah mencapai puncaknya, Shisei mengacungkan jari telunjuknya, saat dia mengumumkan.

"Identitas sebenarnya dari hantu itu tidak lain tidak bukan adalah ...... Shisei sendiri!"

(TL Note: Sudah kuduga!)

""...Apa?""

Baik Saito maupun Akane mengeluarkan suara tercengang.

"E-Em...Apa yang kamu maksud dengan itu?" Akane bertanya, kebingungan.

"Lokasi di mana hantu itu muncul, waktu dia muncul, dan tanda-tanda yang ditunjukkannya, semua menunjukkan fakta bahwa Shisei lah hantu itu. Lagipula, Shisei datang ke sini untuk main beberapa kali sebelumnya."

"Kalau begitu beri tahu kami lebih awal!"

"Mnnn!"

Saito tanpa ragu-ragu mencubit pipi Shisei, mendorongnya ke kanan dan ke kiri.

"Aku mengerti, jadi itu Shisei-san...Syukurlah. Kamu seharusnya bilang saja pada kami dong!" Akane bergejolak di antara rasa lega dan amarah, saat dia menegur Shisei.

Sekarang mereka telah mengetahui siapa biang keroknya, sekarang waktunya untuk bertanya. Saito menarik pipi Shisei yang seperti marshmallow, dan bertanya tanpa ragu-ragu.

"Aku memastikan untuk mengunci pintu rumah ini, bagaimana kamu bisa masuk?"

"Mwhaa."

"Aku senang ternyata cuma kalian berdua yang terus masuk ke rumah kami, tetapi mengapa kamu merahasiakan ini dari kami?"

(TL Note: Jangan tanya yang dimaksud "kalian berdua" ini siapa ya, tetapi sejauh ini baru ada lima orang yang masuk ke rumah itu, yaitu: Saito, Akane, Shisei, dan dua lagi si Kakek-nenek itu.)

"Fuwaaaah."

"Kamu tidak memiliki hak untuk menelepon pengacara, kamu tahu itu kan?"

"Mnnwaah."

"Saito, lepaskan pipinya, dong. Dia bahkan tidak bisa berbicara dengan benar." Akane memutuskan percakapan di antara mereka berdua.

"Baiklah kalau begitu, kamu punya waktu lima menit." Saito membebaskan narapidana itu.

KuraKon-2-3-3

Meskipun begitu, Shisei tidak menunjukkan tanda-tanda kalau seluruh hal ini melukai pipinya, dan malah tersenyum.

"Shisei akan menjawab semua pertanyaan Abang. Pertama, aku dapat kuncinya dari Kakek."

"Si tua bangka itu..." Ekspresi Saito berubah menjadi jijik.

Shisei disayangi oleh semua orang di seluruh dunia ini, jadi tentu saja kakeknya Tenryuu. Beliau benar-benar senang memanjakan Shisei, tidak seperti Saito, jadi tidak mengejutkan kalau beliau akan mendengarkan satu permintaan seperti ini. Untuk melanjutkan, Shisei menunjukkan tanda damai.

"Pertanyaan kedua. Alasan mengapa Shisei merahasiakan ini dari kalian berdua itu karena aku pikir kalau aku tidak dapat mengganggu malam kalian sebagai pengantin baru yang mesra."

"Ka-Kami tidak mesra!" Akane tersipu sambil marah, dan protes.

"Kalian itu mesra. Abang hampir saja terjatuh dari ranjang ketika ia sedang tertidur, dan kamu dengan putus asa mencoba untuk menjaganya dengan—"

"Gyaaaa! Waaaaaaah!" Akane berteriak untuk menenggelamkan kata-kata Shisei.

"Ketika aku hampir terjatuh dari...apa maksudnya itu?"

"A-Aku mencoba untuk menendangmu turun dari ranjang karena saat itu kamu sudah hampir terjatuh!"

"Mengapa sih kamu membenciku sampai segitunya!?"

"Itu salahmu karena lengah! Matilah jika kamu menunjukkan punggungmu, itulah peraturan di rumah ini!"

"Aku benci tinggal di sini kalau begitu! Aku ingin tinggal di rumah yang normal!"

"Akane tidak akan melakukan sesuatu seperti itu. Faktanya, dia–" Shisei mengungkapkan sesuatu, tetapi Akane menutup mulutnya sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya.

"Diamlah, oke! Mari kita berhenti saja membicarakan tentang hal itu untuk saat ini, yuk!? Dan sementara kita melakukannya, lupakan semua hal yang barusan kita bicarakan!"

"Apa sih yang sebenarnya kamu lakukan ketika aku sedang tertidur..." Keraguan dan kegelisahan Saito semakin bertambah parah.

Ia tidak bisa menemukan sesuatu yang lebih kejam dari dari ditendang dari ranjang. Jika ia tidak tahu yang sebenarnya, ia akan diasumsikan sudah mati.

"Semuanya telah diselesaikan dengan rapi, jadi Shisei ingin makan malam sebagai hadiahnya."

"Kamu itu bukan cuma detektif tetapi juga pelaku dalam kasus ini, Shisei!"

Penipuan macam apa ini seharusnya?

"Shisei memakan makanan buatan tangan Akane sebelumnya, itu enak banget. Shisei iri karena Abang dapat memakan masakan Akane setiap hari. Itu adalah kemewahan."

"Be-Benarkah...?" Bahu Akane berkedut.

"Shisei merasa seperti ingin menangis, itulah saking enaknya makanan itu. Masakan Akane memang terbaik di seantero dunia.

"Be-Begitulah, iya! Aku telah melakukan lebih banyak penelitian dan usaha ke dalamnya daripada orang lain! Orang-orang yang tahu bisa langsung menilai. Tidak ada satupun di seantero Galaksi Bimasakti...Bukan, di setiap kemungkinan dunia paralel yang memasak lebih enak dariku!" Akane mengangkat dagunya dengan percaya diri.

Dia jelas membiarkan ini masuk ke kepalanya.

"Shisei ingin memakan masakan Akane. Aku lapar..." Shisei mencolek pakaian Akane, dan menatapnya dengan tatapan yang semanis cokelat.

Itu adalah sikap yang dapat mematikan betapa menggemaskannya itu. Hanya Saito yang mampu untuk bertahan dari serangan semacam ini. Biasanya, mata Akane akan berputar.

"O-Oke! Aku akan membuat makanan favoritmu sebanyak yang kamu mau!"

Tidak butuh waktu semenit bagi Akane untuk luluh.


"Lezat.... Rasanya seperti di surga..." Shisei membawa mangkuk nasi, bergetar hebat.

Berjejeran di meja banyak sekali hidangan, yang masih mengeluarkan uap (baru jadi). Yakisoba, ayam panggang, ikan panggang, daging dan kentang tumbuk, panekuk, dan masih banyak lagi. Jejeran ini merupakan pemborosan yang tidak perlukan untuk mereka bertiga, tetapi ini semua dihasilkan dari fakta bahwa Akane menyiapkan apapun yang Shisei minta.

"Aku senang kalau kamu menikmatinya. Jika ada yang lain lagi yang kamu inginkan, katakan saja padaku!"

"Kalau begitu...rebusan dan kare dan nasi daging cincang dan ramen dan mi Tiongkok dingin..."

"Kamu tahan sedikit, dong!" Saito mendaratkan pukulan ke kepala Shisei.

Itu benar-benar menakutkan kalau dia kemungkinan akan berhasil memakan semua itu juga.

"Shisei tidak perlu melakukan itu, aku bisa menganggap ini sebagai rumahku sendiri."

"Bukan kamu yang seharusnya bilang begitu, Shisei."

"Jangan khawatir, Shisei-san, semakin senang dirimu, semakin tidak sia-sia semua usahaku selama ini. Tidak seperti orang tertentu yang bahkan tidak mengatakan 'Ini lezat' dari awal." Akane memberikan Saito tatapan penuh hina. "Lihat." Dia mengarahkan dagunya ke Shisei.

"Erk..." Saito membentuk tinju sambil menyesal.

Namun, makan malam dengan lebih banyak orang dari biasanya tidak sepenuhnya buruk. Itu membuat makan malam terasa lebih nyaman dan memiliki rasa kekeluargaan.

"Abang, potong ikan ini jadi beberapa bagian untukku."

"Iya iya." Saito mengeluarkan tulang dari ikan itu.

Shisei meletakkan ini di atas nasi tumpeng, dan mendorong itu ke mulutnya. Meskipun begitu, karena kecantikan batin yang dia miliki, itu bukanlah pemandangan yang memalukan dengan cara apapun, dan malah memikat dan juga menawan.

"Enaknya." Shisei menyerupai seekor tupai, mengisi pipinya sebelum hibernasi, saat dia menggigit ikan panggang dan nasi putih.

Sebagai hasil dari itu, dia memiliki butiran nasi di sekeliling mulutnya, tepat di tempat yang tidak seharusnya.

"Itu ada beberapa nasi yang menempel di pipimu."

"Mm..."

Saito mengambil nasi itu dengan jarinya, dan Shisei menyerahkan semua itu. Dia tampak seperti binatang kecil yang sedang dimandikan dengan Shampo.

"Ap..." Akane mengeluarkan suara kebingungan.

"Ada apa?"

"...Tidak, bukan apa-apa." Kata Akane, menunjukkan ekspresi enggan.

–Mungkin dia marah karena adab makan Shisei barusan sangat buruk....?

Saat Saito sedang merenungkan tentang alasan yang mungkin, Shisei mengambil beberapa ayam panggang dari piring Saito, menggunakan tangan kosongnya.

"Jangan makan makanan orang lain seperti itu."

"Mmmnn nom nom! Nom nom nom!"

Saito terlambat mengamankan makanannya sendiri, karena itu semua telah hilang dan masuk ke kerongkongan Shisei. Dalam menghadapi itu, Shisei sepertinya sedikit puas.

"Makanan Abang itu juga makanan Shisei."

"Memangnya begitu."

"Begitu kok. Itu dinyatakan dalam konstitusi kalau adik (perempuan) memiliki hak untuk semua hal yang abangnya miliki. Shisei sudah mencarinya."

"Jangan membuat omong kosong hanya untuk membuktikan pendapatmu."

Saito tentu saja tidak ingin tinggal di negara yang memperbolehkan seorang adik (perempuan) menginjak-injak hak abangnya seperti itu. Saito juga benar-benar menyukai ayam panggang Akane.

"Mau bagaimana lagi. Karena Shisei ini orangnya baik hati, aku akan memberikan Abangku yang egois ini, beberapa yakisoba-ku."

"Berhenti memegangnya dengan tanganmu!"

Shisei memegang yakisoba di tangannya, dan mendorongnya ke Saito. Tentu saja, tidak ada yang bagus dari pemandangan yakisoba yang menjuntai di kedua tangannya. Namun, dia tidak begitu peduli dengan hal itu, dan menjejalkan makanan itu secara langsung ke mulut Saito, saat dia memiringkan kepalanya, dan bertanya.

"Apakah itu enak?"

"Maksud Abang, itu enak, tetapi Abang ingin berharap bisa memakannya secara normal." Saito menelan yakisoba dengan ekspresi yang rumit.

Melihat ke atas dari sisi ini, ekspresi Akane sendiri mulai bertambah dan semakin tidak puas.

–Ini buruk ya...

Saito merasa seperti kedamaian dan ketentraman dari keluarga ini dalam bahaya, jadi ia diam-diam berbisik ke telinga Shisei.

"Bisakah kamu sedikit memperhatikan adabmu? Akane sangat getol dalam hal itu."

"Shisei memiliki adab yang sempurna. Aku saja kan berjoget di atas meja."

"Abang belum pernah melihatmu melakukan itu, dan jika Abang melihatnya, Abang akan mempertimbangkan ulang tentang hubungan kita saat ini."

"Itu akan merepotkan jika Abang memutuskan hubungan dengan Shisei. Jangan usir aku." Shisei menempel pada Saito.

"Lihat, Akane jadi marah tuh sekarang. Setidaknya tetap tenang saat makan malam, oke?"

"Oke. Shisei akan menelan rasa maluku, dan bertingkah seperti nona muda yang sangat beradab (santun)."

"Tetapi kamu kan memang nona muda sungguhan, apa sih yang kamu bicarakan?"

(TL Note: Nona muda = Ojou-sama.)

Ayah Saito mungkin hanyalah pekerja kantoran biasa yang ditendang dari Houjo Group, tetapi adiknya, yakni ibunya Shisei, saat ini menjabat sebagai pimpinan perusahaan dari bisnis cabang. Tidak seperti rumah (keluarga) Saito yang membosankan dan biasa saja, Shisei tinggal di kediaman yang mencolok dan mewah.

Shisei membetulkan posisi duduknya, dan meluruskan punggungnya. Dengan gerakan yang bermartabat, dia memegang pisau dan garpu, secara perlahan memotong panekuk, dan membawa sepotong ke mulutnya. Dia benar-benar terlihat seperti nona muda yang terhormat. Menambahkan kecantikan bawaannya pada hal ini, kalian mungkin akan berpikir kalau kalian sedang menatap ke arah lukisan daripada kenyataan.

"...Lihat, kamu bisa melakukannya." Saito menyuarakan kekagumannya, di mana Shisei meletakkan satu tangan di depan mulutnya sendiri.

"Tentu saja, ohoho."

"Ohohoho...?"

Dengan satu kalimat itu, hal-hal mulai terlihat buruk bagi Saito lagi.

"Jika Anda memberiku perintah, Abangku tersayang, maka aku harus memenuhi permintaan Abang tidak peduli seberapa buruk itu nantinya. Tolong, perintahkan aku untuk menghilangkan keinginan liar Anda malam ini lagi." Shisei menampilkan pose menunduk yang sopan.

Di saat yang sama, Akane mulai gemetar karena marah.

"Sa-Saito...Kamu selalu memaksa Shisei-san untuk melakukan hal semacam itu...?"

"Itu cuma salah paham! Shisei, jangan mencekokinya dengan omong kosong ini!"

"Ohoho."

Saito menggoyangkan bahu Shisei, tetapi dia terus mengeluarkan tawa provokatif.


Makan malam berakhir, dan Saito bertugas mencuci piring. Shisei duduk berlutut di bangku yang sama dengan sebelumnya, melihat Saito melaksanakan tugasnya.

"Jarang sekali melihat Abang melaksanakan tugas rumah tangga begini dengan sungguh-sungguh."

"Bagaimanapun juga Abang tidak bisa membiarkan Akane melakukan semuanya. Dia kan sudah memasak, jadi Abang yang bersih-bersih." Saito mengatakannya dengan suara lantang untuk menunjukkan daya tariknya terhadap Akane.

Karena Akane jelas sedang dalam suasana hati yang buruk, Saito harus mencoba metode apapun yang mungkin untuk menghiburnya. Namun, dia bahkan tidak memahami ini, dan hanya fokus pada belajarnya dalam diam.

"Biasanya Abang hanya akan menumpuk cangkir-cangkir itu sampai itu mulai membusuk."

"Cangkir tidak akan busuk tidak peduli seberapa lama kamu membiarkannya kotor."

"Shisei bisa melihat Abang tersenyum polos di sebuah mansion yang berubah menjadi kantung sampah raksasa."

"Bisakah kamu tidak memperlakukan Abang seperti Abang tersesat?" Saito menutup keran itu, menyeka tangannya yang basah sampai kering dengan kemejanya, dan duduk di sofa.

Shisei secara alami mengikuti Saito. Shisei terjun ke lutut Saito, terkapar.

"Karena Shisei akan menginap malam ini, aku ingin banyak bermain dengan Abang."

"Abang sih tidak masalah. Rencananya kamu mau main apa?"

"Sebuah gim. Guts Hazard 3, bersama."

"Guts Hazard!?"

(TL Note: Guts Hazard kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi Bahaya Usus.)

Mendengar kata-kata itu dari Shisei, tatapan Akane terangkat dari buku referensi yang sebelumnya dia fokuskan.

"Apa kamu suka usus, Akane?"

"Tentu saja tidak! Sesuatu yang berhubungan dengan organ dalam itu terlalu berlebihan!"

"Tetapi, usus itu kan sangat imut dan lucu..."

"Lucu...?"

Itu muncul seolah-olah orang biasa akan mengerti nilai kecantikan Shisei. Tentu saja, Saito juga tidak mengerti.

"Mari kita tidak bermain GuZard hari ini." Saito berbisik ke Shisei.

"Mengapa? Bukankah Abang suka GuZard? Makanya Shisei pilih..."

"Akane itu buruk dengan hal-hal yang berbau horor."

"Kalau begitu dia bisa pergi saja ke ruangan pribadinya dan belajar."

"Tidak seperti itu cara kerjanya..."

Jika Saito melakukan apapun yang hampir mendekati mengusirnya, ia memiliki alasan untuk khawatir dengan kehidupan pernikahan mereka bersama. Terutama dengan seseorang seperti Akane, yang bisa jadi sangat pemarah, ia ingin tidak menghasut apa-apa.

"Kalau begitu, Abang saja yang pilih deh, Shisei sih tidak masalah asalkan mainnya bersama Abang."

Shisei duduk di pangkuan Saito, menatapnya. Shisei tidak memiliki ekspresi seperti biasanya, tetapi telah dibesarkan bersamanya, Saito merasa seperti melihat senyum samar darinya di tengah-tengah percakapan itu.

"Abang telah membeli gim teka-teki tentang kucing. Meskipun daripada teka-teki, ini lebih seperti gim aksi. Mau bermain itu?"

"Jika Abang mengajariku caranya secara menyeluruh!"

Saito membiarkan Shisei duduk di pangkuannya, saat ia menyalakan gimnya dengan kontroler. Di layar beberapa ratus kucing. Mengenakan pakaian, memakai topi, mereka semua memiliki ciri khas masing-masing.

"Ini adalah gim di mana kamu bisa menangkap kucing yang datang dari luar angkasa dan berkeliling memainkan keisengan. Pada dasarnya ini adalah gum tangkap-menangkap. Abang sebenarnya membeli ini sehingga Abang dan Akane bisa bermain bersama karena dia suka kucing, tetapi..." Saito mengarahkan pandangannya ke Akane, yang bagaimanapun menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak usah, aku perlu bersiap-siap untuk besok."

"Kamu bisa memainkan ini sampai empat orang, kamu tahu."

"Jangan mencoba mendorongku ke beberapa sandiwara yang aneh!"

"Itu bukan sandiwara yang aneh, ini hanya gim video!"

"Aku bilang kalau aku tidak memiliki waktu ikut bermain gim kekanak-kanakanmu itu!"

Meski suara pulpen Akane yang mengetuk-ngetuk di kertas menakutkan. Itu adalah bukti bahwa dia sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, walaupun Saito tidak tahu karena alasan apa.

"Abang, Abang, ayo cepatlah dan mainkan." Shisei mengepakkan kakinya yang tertutup celana ketat putih ke atas dan ke bawah.

"I-Iya..."

Saito memilih mode dan arena, dan menyerahkan kontroler pada Shisei. Itu adalah arena yang terbuka lebar dengan banyak kucing berlarian dengan bebas dan sama sekali tidak peduli, saat Shisei sedang mengejar mereka dengan karakter yang dapat dimainkan. Namun, tidak membuat banyak kemajuan dalam menangkap alien kucing.

"Mereka cepat sekali larinya. Apakah kamu memiliki senjata seperti pelontar api?"

"Apa yang ingin kalian rencanakan dengan pelontar api!?" Akane protes dari mejanya.

"Dengan mengatur pemain di dalam api, Shisei berencana menangkap kucing-kucing yang khawatir dan mendekatiku."

"Baiklah, mungkin mari kita coba menangkap mereka dengan tindakan yang lebih damai. Kamu hanya perlu menggunakan lingkungan dan tanah lapang untuk keuntunganmu."

Saito meletakkan kedua tangannya ke tangan Shisei untuk mengoperasikan kontroler dengannya. Mengikuti itu, Saito dengan cepat menangkap kucing-kucing yang tersesat ke pipa tanah, atau yang berjalan ke jalan buntu.

"Ohh, Abang hebat."

"Benarkan? Cobalah sendiri."

"Tunggu, bantulah Shisei lebih lama lagi."

"Kamu kan sudah tahu cara melakukannya, kan?"

"Shisei memang sudah tahu, tetapi mendapati tangan Abang memegang tanganku terasa enak." Shisei menggosokkan pipinya ke tangan Saito.

Tangan Shisei yang seputih salju terasa selembut sutra. Di saat yang sama, Saito merasa seperti sedang membelai kucing yang menggemaskan. Tepat di sana, Akane menutup buku referensinya dengan bantingan,  tangannya berada di meja, dan menatap Saito dengan wajah yang sedikit merah.

"De-Dengarkan kalian berdua..."

KuraKon2-3-3


"A-Apa yang kamu mau...?" Saito merasakan ketegangan bertebaran di udara, dan mempersiapkan tubuhnya.

"..........Tidak ada apa-apa." Akane membuka buku referensinya lagi.

"Memangnya iya, tidak ada apa-apa! Sudahkah kamu marah untuk sementara ini?"

"Aku tidak marah!"

"Kamu pasti marah! Wajahmu tampak seperti iblis saat ini!"

"Teganya dirimu menyebut seorang gadis, iblis seperti itu! Haruskah aku membuat gigi-gigi  depanmu ompong!?"

"Menyeramkan!"

Tidak diragukan lagi, Akane itu iblis. Saito tidak mampu kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria di depan adik perempuannya, tetapi ia sebenarnya ingin melarikan diri dan mengurung diri di ruangannya. Sekarang karena sudah begini, Saito memutuskan untuk mengungsi dari tempat ini, tetapi menjaga kehormatannya. Karena itu, ia bangkit.

"Ini sudah sangat malam, jadi aku akan mandi sekarang..."

"Shisei akan ikut Abang." Shisei mengikuti Saito seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini.

"Tunggu sebentar? Shisei-san, kamu itu seumuran dengan kami, kan!?" Akane tersentak dari kursinya.

"Sejujur-jujurnya, kita tidak seumuran. Abang itu 18 tahun, sedangkan Shisei sekarang 17 tahun."

"Bukan itu masalahnya di sini! Maksudku kalian sudah bukan di usia di mana kalian boleh mandi bersama, kan!?"

Shisei hanya menempel pada pinggang Saito.

"Shisei selalu mandi bersama Abang."

"Selalu!?"

"Tetapi tidak sesering itu akhir-akhir ini, pastikan kamu menambahkan itu."

"Akhir-akhir ini!? Tidak sesering itu!?" Mata Akane berputar sambil kebingungan.

Shisei hanya memiringkan kepalanya.

"Jika kami berdua tidak boleh, mengapa kita semua tidak mandi bersama saja?"

"Tidak akan pernah!! Kalian berdua mandi masing-masing, secara terpisah! Tolong ingat itu!"

"Baiklah Tuan!"

Saito berlari keluar dari ruang keluarga sebelum bom berdetak yang dikenal sebagai Akane akan meledak.


Ketika Saito sedang membaca buku di ranjangnya, Akane memasuki kamar tepat setelah dia selesai mandi. Seperti biasanya, meskipun berada di rumah, dia tidak menunjukkan satupun yang terbuka dalam pakaiannya. Dia meletakkan ponsel pintar dan botol airnya di meja kecil, dan duduk di tempat tidur.

"Di mana Shisei-san?"

"Masih main gim. Aku menyiapkan futon tamu untuknya, dan meletakkannya di ruang tamu, jadi dia akhirnya akan masuk ke sana begitu dia lelah."

Belum lagi Saito menemukan piyama seukuran Shisei, jadi kakeknya mungkin memperkirakan bahwa Shisei akan datang untuk menginap pada akhirnya. Akane menghela napas.

"Jadi kita akhirnya bisa mengobrol berdua saja."

"Hm…? Apakah kamu ingin mengobrol denganku?" Saito terkejut mendengarnya, tetapi Akane dengan cepat mengoreksi dirinya sendiri.

"Ti-Tidak sama sekali! Aku hanya punya banyak keluhan untuk dilontarkan padamu! Lagipula itu sulit untuk dikatakan di depan Shisei-san!"

"Kamu terus-menerus berkelahi denganku di sekolah, bahkan jika itu di depan Shisei, kan?"

 Di dalam kamus Akane, kata 'pengekangan' seharusnya tidak ada.

"Di-Di-Diamlah! Berhentilah membalas ucapamku tentang setiap hal kecil, atau aku akan marah!"

"Tetapi kamu kan memang sudah marah?" Dan juga, Saito tidak membalas sama sekali, ia hanya menanyakan pertanyaan yang jelas. "Yah, apapun itu. Sudah, ayo tidur." Saito mengangkat satu sisi selimut.

"Ap…Berhentilah dengan omong kosong itu!" Akane tersipu malu.

"Mengapa?"

"Karena itu tidak senonoh!"

"Bagaimana bisa ini dibilang tidak senonoh?"

"Pastinya itu tidak senonoh! De-Dengan santainya mengajak seorang gadis...di sebelahmu ke ranjang…" Akane terlihat lebih malu sekarang, dan menutupi pipinya dengan kedua tangannya.

Mendapatkan reaksi tidak terduga ini, Saito menjadi bingung sendiri.

"A-Aku tidak mengajakmu! Aku baru saja berpikir kalau kamu tidak akan berhenti mengeluh sekali kamu memulainya, jadi aku mendesakmu untuk langsung tidur ke ranjang sebelum tubuhmu menjadi dingin setelah mandi!"

"A-Apa yang kamu rencanakan, tiba-tiba bersikap baik padaku…?" Akane menjadi curiga.

"Aku juga tidak merencanakan apapun! Aku cuma tidak ingin repot-repot mengurusmu lagi sampai sembuh kalau kamu demam lagi!"

"Aku ingin tahu... Mungkin aku seharusnya membeli beberapa bom untuk perlindungan diri..."

"Itu bukan perlindungan diri tetapi itu berlebihan!"

"Kamu tidak akan mati karena ledakan seperti itu."

 "Aku pikir kamu terlalu banyak menaruh kepercayaan padaku, oke."

Meskipun terus mengeluh, Akane masih meringkuk di ranjang. Saito menggunakan remote untuk mematikan lampu, dan lampu tidur menyinari mereka dengan warna jingga yang nyaman. Rambut Akane masih agak basah, saat itu menutupi bantal.

"Aku akan mendengar keluhanmu."

"Iya… Em… tadi pagi, kamu lupa membawa sampah, kan?"

 Saito mendengar ini, dan menunjukkan senyuman yang kemenangan.

"Hehe… aku tidak lupa. Aku hanya ingin melihat peristiwa seperti apa yang akan terjadi jika aku menyimpan sampah itu selama sepekan."

"Hentikan itu, kamu hanya akan menyebabkan tragedi." Akane merasa ngeri.

"Kamu tidak akan pernah tahu jika kamu tidak mencobanya. Apakah kamu sudah memastikannya dengan mata kepalamu sendiri?"

"Aku juga tidak mau melakukan itu!"

"Aku bersedia. Inilah rahasia kehidupan."

"Kalau begitu jangan coba-coba! Kamu hanya mencoba mencari alasan yang bisa dipercaya, kan!"

"Aku ketahuan, ya."

"Tentu saja, ya ampun…" Akane menghela napas lelah.

"Maaf, aku akan melakukan itu lain kali."

"Silakan lakukan itu."

Biasanya, Akane akan jauh lebih gelisah dari ini, tetapi anehnya dia jinak malam itu. Sepertinya tujuan utamanya bukan cuma untuk mengeluh, tetapi sebenarnya juga ingin mengobrol dengan Saito.

 —Tidak, aku berpikir terlalu jauh tentang hal ini.

 Saito merasa malu karena proses berpikirnya yang terlalu sadar diri telah berubah.

 "Apa ada hal lain lagi?"

"Hmm…Gim kucing itu, jika kamu benar-benar membelinya untukku, aku harap kamu memberi tahuku lebih awal."

 "Kamu selalu sibuk belajar, jadi aku tidak ingin mengganggumu."

"Kamu tidak akan menggangguku. Bahkan aku juga butuh istirahat dari waktu ke waktu. Belum lagi… aku ingin memainkannya duluan."

"Kamu ingin jadi lebih jago dariku, semua itu dilakukan untuk benar-benar menginjak-injakku, kan? Sangat jahat." Saito menggerutu.

"Tidak! Bukan itu maksudku. Aku ingin memainkannya sebelum Shisei-san…" Akane bermain-main dengan selimut sambil dengan canggung menggumamkan kata-kata ini.

 "Jadi kamu juga ingin mengalahkan Shisei… Benar-benar jahat."

"Sekali lagi, bukan begitu… Um, yah… Ahh, aku juga tidak mengerti! Mengapa aku ingin memainkannya duluan ya!?"

 "Bagaimana aku bisa tahu!?"

Riuh macam apa yang seharusnya terjadi? Saito tidak tahu.

"Kalau begitu tolong mengertilah! Apakah semua nilai kebaikan itu sia-sia!?"

"Maksudnya apa!"

"Maksudku tidak ada yang akan berubah bahkan jika kamu menempelkan komputer baru ke kamaboko!"

(TL English Note: Kamaboko: Terasi ikan bumbu kukus, usu. dalam bentuk setengah silinder di atas potongan kayu dan diiris lalu dimasukkan ke dalam sup, dll.)

"Aku tidak ingat pernah menjadi sampai segitunya!?"

"Ahh, betapa sangat disesalkan, ingatanmu telah dipermainkan… Kamu tidak diragukan lagi adalah porsi yang bagus dari kamaboko."

"Omong kosong!"

Meskipun sudah larut malam, keduanya berkelahi seperti biasa. Bahkan di tengah suasana yang memanas ini, ada suatu keintiman dan keakraban yang bisa ditemukan. Akane merentangkan tangannya dengan puas.

"Fiuh, aku merasa lega sekarang…"

"Karena kita bertengkar? Kamu ini gila ya."

"Aku perlu setidaknya menyampaikan satu keluhan padamu per hari, sepertinya."

"Bisakah kamu berhenti membuatnya terdengar seperti aku adalah karung tinju yang harus kamu pukul setidaknya sekali sehari?"

Namun, Saito sama-sama merasa jauh lebih lega. Melepaskan ketegangan dan perasaan tidak enakmu yang terpendam dalam perkelahian seperti ini mungkin adalah yang terbaik. Itu membuatnya merasa seperti mereka juga semakin dekat.

"Cuma itu?"

"Ah…Ada satu hal lagi."

"Apa itu?" Saito bertanya, dan Akane dengan canggung mengalihkan pandangannya.

"E-Em… Iya…tentang Shisei-san."

"Maaf karena aku membiarkannya tiba-tiba seperti itu."

"Tidak apa-apa! Aku ingin dia memakan makan malam buatanku. Dia juga sangat imut. Tetapi…bagaimana aku mengatakannya ya…apa kamu tidak terlalu menjaganya?"

"Dia itu tipe orang yang mulai memakan kerikil dari pinggir jalan jika aku tidak memperhatikannya. Apa itu masalah?"

"Tidak…sungguh…Tetapi…Hm…? Mengapa aku mengeluh…Erk…" Akane menggertakkan giginya.

"Hei sekarang, jangan biarkan aku mendengarkan perkataanmu yang menggantung seperti ini."

"Kamu tidak perlu tahu! Cukup tentang itu!" Akane berguling-guling di ranjang, memunggungi Saito.

"Tidak boleh begitu. Aku ingin mengenal lebih banyak tentangmu."

"Le-Lebih banyak tentangku!? Me-Me-Me-Mengapa!?" Bahu Akane tersentak.

"Sekarang kita tinggal bersama seperti ini, akan lebih baik bagi kita untuk mengenal lebih banyak tentang satu sama lain, bukan? Itu kan membuat segalanya berjalan lebih lancar."

"Ah, be-begitu maksudmu! Aku mengerti!"

"Mengapa kamu panik begitu?"

"Aku tidak panik sama sekali! Jangan bertingkah sombong sekarang!"

"Kok bisa aku dibilang bersikap sombong…" Saito bingung.

"Tetapi…aku sendiri juga tidak mengerti…Mengapa aku merasa terlalu bertentangan…"

 "Bertentangan? Perutmu sedang sakit?"

 "Bukan itu…Hanya saja…Eeek!?" Akane berteriak, berbalik ke arah Saito, dan cemberut.

"Ka-Kamu…kamu baru saja menyentuh bokongku, bukan…"

"Huuuuh? Tidak mungkin aku akan…Appp!?" Merasakan sesuatu menggelitik pahanya, Saito juga berteriak. "Kamu baru saja menyentuh pahaku juga, bukan!?"

"Apa manfaatnya buatku melakukan sesuatu yang begitu jahat!?"

"Kamu yang jahat! Aku tidak sebodoh itu untuk meletakkan tanganku di atas seekor naga!"

"Kok bisa aku disebut seekor naga!? Aku akan membakar rambutmu sampai gundul sehingga tidak ada sehelaipun yang tersisa, kamu dengar aku!?"

"Itulah yang aku maksud!"

Mereka mengundang percikan api satu sama lain, ketika...

"Diamlah, Shisei tidak bisa tidur kalau seperti ini." Shisei mendorong wajahnya dari bawah selimut.

Dia tampaknya telah meringkuk di ranjang mereka tanpa mereka sadari.

 "Shisei-san!?"

 "Sejak kapan!?"

 "Sebelum peradaban manusia dimulai."

 "Mana ada, kamu tidak begitu!"

"Tepat saat Abang mulai berbicara sendiri dengan mengatakan ‘He he he… begitu Akane kembali dari kamar mandi, aku akan merasakan bokongnya!’, seingat Shisei."

 “Saito…sudah aku duga…”

 "Itu juga bohong!"

Disambut dengan tatapan penuh niat membunuh, Saito dengan panik menyangkal omong kosong Shisei. Mempertaruhkan nyawanya di belakang seorang gadis, ketidakseimbangan itu terlalu besar baginya untuk mengambil risiko seperti itu.

"Shisei juga ingin tidur dengan Abang. Begitulah cara kami selalu melakukannya saat aku menginap di rumahnya."

"Selalu…Bukan cuma mandi, kalian juga tidur bersama…?" Alis mata Akane berkerut sambul curiga.

"Tidak selalu! Tepatnya ketika Shise tidak menyerah, seperti hari ini…"

"Shisei selalu bersama Abang sejak aku masih kecil, jadi berada di dekatnya adalah hal yang paling santai." Kaki ramping Shisei menempel di kaki Saito.

Dia merasakan sensasi kulit langsung ke tubuhnya. Mengubur wajahnya di dada Saito, Shisei mendesah puas.

"Te-Tetapi, ia telah menyiapkan kasur untukmu di ruang tamu, bukan?"

"Tidur sendirian terlalu sepi. Tidak adil kalau Akane bisa tinggal bersama Abang sepanjang waktu."

"I-Ini sama sekali tidak adil! Aku tidak melakukan ini karena aku ingin atau menikmatinya!"

"Benarkah?" Shisei menatap langsung ke wajah Akane.

"Sungguh! Pernikahan ini baru saja diputuskan karena kakek-nenek kita! Itu sebabnya ... iya! Jika ada orang lain yang ditambahkan sekarang, mereka akan marah!"

“Itu seharusnya baik-baik saja kalau begitu. Shisei menelepon Kakek dan mendapat izin. Kakek menyuruh Shisei untuk 'Lakukan apapun yang kamu mau'."

"Kakek benar-benar memanjakanmu berlebihan..."

Mengetahui bahwa kakeknya mungkin akan memberi Shisei seluruh perusahaan jika dia memintanya, Saito bergidik ketakutan. Agar Shisei tidak mencoba melakukan sesuatu yang buruk, Saito sekali lagi memutuskan untuk menyuapinya dengan benar kapanpun dia memintanya. Saat Shisei menyadari bahwa dia bisa mendapatkan roti kukus sebanyak yang dia mau hanya dengan mengambil alih Houjo Group, ini akan menjadi akhir bagi Saito.

"Jika kamu sangat ingin menyimpan Abang untuk dirimu sendiri, maka mau bagaimana lagi."

 "A-Aku tidak putus asa sampai harus melakukan itu atau semacamnya!"

"Agar Shisei tidak menghalangi saat bercinta, Shisei akan tidur di lantai."

"Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu!"

"Jadi kalian punya rencana malam ini? Shisei minta maaf karena mengganggu kalian." Shisei turun dari tempat tidur.

"Tidak ada rencana untuk melakukan itu juga! Jangan mengarang ceritamu sendiri seperti itu! Mari kita semua tidur bersama, oke!?" Akane dengan panik menarik Shisei kembali ke ranjang.


Saito akhirnya tertidur, meninggalkan Akane yang masih terjaga dengan perasaan yang bergejolak. Karena Shisei tidur di antara mereka berdua, dia merasa aman dan selamat dari segala potensi pelecehan seksual, tetapi meskipun begitu...Mendapati dua orang gadis, dua orang teman sekelasmu, tidur di sebelahmu, dan tertidur lebih cepat dari Akane sendiri, dia penasaran seperti apa ketahanan mental dan kekuatan yang dimiliki cowok ini. Mendengar dengkurannya yang samar hanya membuat Akane semakin gelisah.

"Akane, payudaramu sangat besar."

"Kyaaaaaa!?"

Merasakan tangan-tangan kecil dengan penuh semangat membelai dadanya, Akane menjerit. Dia menarik dirinya ke ranjang setelah berguling, dan menutupi dadanya.

"Kamu masih bangun!? Juga, Mengapa kamu menyerangku seperti itu!? Apakah kamu menyukai itu seseorang yang semacam itu!?"

"Ini bukan serangan seksual, Shisei hanya menyentuh payudara yang sudah ditakdirkan berada di depanku."

"Jika logika itu berhasil di pengadilan, maka segala macam pelecehan akan dimaafkan oleh hukum!"

"Gadis-gadis lain dengan putus asa memohon agar Shisei menyentuh payudara mereka."

"Aku rasa kamu mungkin harus mengadu pada gurumu tentang hal itu."

Akane mulai merasa khawatir dengan keselamatan Shisei. Dia mengerti bahwa Shisei sudah sangat dewasa, dan bahwa semua orang yang menjilat di sini, tetapi beberapa hal berjalan terlalu jauh.

"Jadi kamu cemburu, Akane."

"Eh, apa yang kamu bicarakan?"

"Ini tentang Abang. Ketika Shisei dan Abang sedang bermesraan, kamu marah, bukan?"

"H-Haaah!? Aku tidak marah sama sekali!”

Shisei menekankan ujung jarinya ke dagu Akane.

"Bohong. Kamu mencoba untuk menghentikan Shisei saat ingin mandi bersama dengan Abang. Sama halnya dengan saat tidur bersama."

"I-Itu…Kan akan aneh bagi seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan seusia kalian mandi bersama! Tentu saja aku akan menghentikan kalian jika kalian mencoba melakukan sesuatu yang tidak senonoh di rumahku!" Akane terus mengoceh, saat dia merasakan darahnya mulai naik.

 —Tentu saja aku tidak… merasa cemburu.

Dia tidak memiliki perasaan atau kasih sayang apapun terhadap Saito. Dia hanya merasa malu disalahpahami, itulah sebabnya darah langsung naik ke kepalanya.

"Kamu tidak bisa menipu mata Shisei." Shisei dengan lembut meletakkan telapak tangannya yang dingin di pipi Akane yang terbakar.

Seolah memastikan kehangatan Akane, dia dengan lembut mengusap wajah, leher, dan daun telinganya. Dengan matanya yang bersinar lebih terang dari langit malam berbintang, tetapi dengan ekspresi yang datar, dia menatap Akane. Akane merasa seperti jiwanya tersedot lebih dalam ke dalam keberadaan Shisei, tidak bisa melepaskannya.

"Akane, apakah kamu bingung?"

"Tidak sedikitpun!"

"Karena Abang itu sangat bodoh, ia tidak akan mengerti kecuali kamu memberi tahunya."

"Memberi tahunya apa!?"

Shisei menghela napas pelan.

"Shisei merasa sedikit lega sekarang. Aku khawatir kalau Abang bisa hidup bahagia di sini."

"…Maksudmu apa?" Akane bertanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Shisei hanya meringkuk ke dalam pelukan Saito, dan mengusap wajahnya ke dadanya.

"Selamat tidur."

"Hei, jangan biarkan aku mendengar perkataan yang menggantung seperti ini! Dan juga, kamu terlalu dekat! Apa kamu tidak punya rasa malu!?"

 Akane mencoba menarik Shisei dari Saito, tetapi Shisei langsung tertidur.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama