KuraKon - Jilid 2 Bab 3 Bagian 9 - Lintas Ninja Translation

Bab 3
Serangan di Malam Hari
(Bagian 9)

Ketika Saito sedang membaca buku di ranjangnya, Akane memasuki kamar tepat setelah dia selesai mandi. Seperti biasanya, meskipun berada di rumah, dia tidak menunjukkan satupun yang terbuka dalam  pakaiannya. Dia meletakkan ponsel pintar dan botol airnya di meja kecil, dan duduk di tempat tidur.

 "Di mana Shisei-san?"

 “Masih main gim. Aku menyiapkan futon tamu untuknya, dan meletakkannya di ruang tamu, jadi dia akhirnya akan masuk ke sana begitu dia lelah.”

Belum lagi Saito menemukan piyama seukuran Shisei, jadi kakeknya mungkin memperkirakan bahwa Shisei akan datang untuk menginap pada akhirnya. Akane menghela napas.

 “Jadi kita akhirnya bisa berbicara hanya berdua.”

 “Hm…? Apakah kamu ingin berbicara denganku?” Saito terkejut mendengarnya, tetapi Akane dengan cepat mengoreksi dirinya sendiri.

 “Ti-Tidak sama sekali! Aku hanya punya banyak keluhan untuk dilontarkan padamu! Lagipula itu sulit untuk dikatakan di depan Shisei-san!”

 “Kamu terus-menerus berkelahi denganku di sekolah, bahkan jika itu di depan Shisei, kan?”

 Di dalam kamus Akane, kata "pengekangan" seharusnya tidak ada.

“Di-Di-Diamlah! Berhentilah membalas ucapamku tentang setiap hal kecil, atau aku akan marah!”

"Tetapi kamu kan memang sudah marah?" Dan juga, Saito tidak membalas sama sekali, ia hanya menanyakan pertanyaan yang jelas. “Yah, apapun itu. Sudah, ayo tidur.” Saito mengangkat satu sisi selimut.

 “Ap…Berhentilah dengan omong kosong itu!” Akane tersipu malu.

 "Mengapa?"

 “Karena itu tidak senonoh!”

 "Bagaimana bisa ini tidak senonoh?"

 "Pastinya itu tidak senonoh! De-Dengan santainya mengajak seorang gadis...di sebelahmu ke ranjang…” Akane terlihat lebih malu sekarang, dan menutupi pipinya dengan kedua tangannya.

Mendapatkan reaksi tidak terduga ini, Saito menjadi bingung sendiri.

 “A-Aku tidak mengajakmu! Aku baru saja berpikir kalau kamu tidak akan berhenti mengeluh sekali kamu memulainya, jadi aku mendesakmu untuk langsung tidur ke ranjang sebelum tubuhmu menjadi dingin setelah mandi!

 “A-Apa yang kamu rencanakan, tiba-tiba bersikap baik padaku…?” Akane menjadi curiga.

 “Aku juga tidak merencanakan apapun! Aku cuma tidak ingin repot-repot mengurusmu lagi  sampai sembuh kalau kamu demam lagi!

 "Aku ingin tahu... Mungkin aku seharusnya membeli beberapa bom untuk perlindungan diri..."

 "Itu bukan perlindungan diri tetapi itu berlebihan!"

 "Kamu tidak akan mati karena ledakan seperti itu."

 "Aku pikir kamu terlalu banyak menaruh kepercayaan padaku, oke."

Meskipun terus mengeluh, Akane masih meringkuk di ranjang. Saito menggunakan remote untuk mematikan lampu, dan lampu tidur menyinari mereka dengan warna jingga yang nyaman. Rambut Akane masih agak basah, saat itu menutupi bantal.

 "Aku akan mendengar keluhanmu."

 “Iya… Em… tadi pagi, kamu lupa membawa sampah, kan?”

 Saito mendengar ini, dan menunjukkan senyuman yang kemenangan.

 “Hehe… aku tidak lupa. Aku hanya ingin melihat peristiwa seperti apa yang akan terjadi jika aku menyimpan sampah itu selama sepekan.”

 "Hentikan itu, kamu hanya akan menyebabkan tragedi." Akane merasa ngeri.

 “Kamu tidak akan pernah tahu jika kamu tidak mencobanya. Apakah kamu pernah memastikannya dengan mata kepala sendiri?

 "Aku juga tidak mau melakukan itu!"

 "Aku bersedia. Inilah rahasia kehidupan.”

 “Kalau begitu jangan coba-coba! Kamu hanya mencoba mencari alasan yang bisa dipercaya, kan!”

 "Aku ketahuan, ya."

 “Tentu saja, ya ampun…” Akane menghela napas lelah.

 "Maaf, aku akan melakukan itu lain kali."

 "Silakan lakukan itu."

Biasanya, Akane akan jauh lebih gelisah dari ini, tetapi anehnya dia jinak malam itu. Sepertinya tujuan utamanya bukan cuma untuk mengeluh, tetapi sebenarnya juga ingin mengobrol dengan Saito.

 —Tidak, aku berpikir terlalu jauh tentang hal ini.

 Saito merasa malu karena proses berpikirnya yang terlalu sadar diri telah berubah.

 "Apa ada hal lain?"

 “Hmm…Gim kucing itu, jika kamu benar-benar membelinya untukku, aku harap kamu memberi tahuku lebih awal.”

 “Kamu selalu sibuk belajar, jadi aku tidak ingin mengganggumu.”

 “Kamu tidak akan menggangguku. Bahkan aku juga butuh istirahat dari waktu ke waktu. Belum lagi… aku ingin memainkannya duluan.”

“Kamu ingin jadi lebih jago dariku, semua itu dilakukan untuk benar-benar menginjak-injakku, kan? Sangat jahat.” Saito menggerutu.

 "Tidak! Bukan itu maksudku. Aku ingin memainkannya sebelum Shisei-san…” Akane bermain-main dengan selimut sambil dengan canggung menggumamkan kata-kata ini.

 “Jadi kamu juga ingin mengalahkan Shisei… Benar-benar jahat.”

 “Sekali lagi, bukan begitu… Um, yah… Ahh, aku juga tidak mengerti! Mengapa aku ingin memainkannya duluan ya!?”

 “Bagaimana aku bisa tahu!?”

Riuh macam apa yang seharusnya terjadi? Saito tidak tahu.

 “Kalau begitu tolong mengertilah! Apakah semua nilai kebaikan itu sia-sia!?”

 "Maksudnya apa!"

 "Maksudku tidak ada yang akan berubah bahkan jika kamu menempelkan komputer baru ke kamaboko!"

(TL English Note: Kamaboko: Terasi ikan bumbu kukus, usu. dalam bentuk setengah silinder di atas potongan kayu dan diiris lalu dimasukkan ke dalam sup, dll.)

 “Aku tidak ingat pernah menjadi sampai segitunya!?”

 “Ahh, betapa sangat disesalkan, ingatanmu telah dipermainkan… Kamu tidak diragukan lagi adalah porsi yang bagus dari kamaboko.”

 "Omong kosong!"

Meskipun sudah larut malam, keduanya berkelahi seperti biasa. Bahkan di tengah suasana yang memanas ini, ada suatu keintiman dan keakraban yang bisa ditemukan. Akane merentangkan tangannya dengan puas.

"Fiuh, aku merasa lega sekarang…"

 "Karena kita bertengkar? Kamu ini gila ya."

"Aku perlu setidaknya menyampaikan satu keluhan padamu per hari, sepertinya."

"Bisakah kamu berhenti membuatnya terdengar seperti aku adalah karung tinju yang harus kamu pukul setidaknya sekali sehari?"

Namun, Saito sama-sama merasa jauh lebih lega. Melepaskan ketegangan dan perasaan tidak enakmu yang terpendam dalam perkelahian seperti ini mungkin adalah yang terbaik. Itu membuatnya merasa seperti mereka juga semakin dekat.

 “Cuma itu?”

 “Ah…Ada satu hal lagi.”

 "Apa itu?" Saito bertanya, dan Akane dengan canggung mengalihkan pandangannya.

 “E-Em… Iya…tentang Shisei-san.”

 "Maaf karena aku membiarkannya tiba-tiba seperti itu."

 "Tidak apa-apa! Aku ingin dia memakan makan malam buatanku. Dia juga sangat imut. Tetapi…bagaimana aku mengatakannya ya…apa kamu tidak terlalu menjaganya?”

“Dia itu tipe orang yang mulai memakan kerikil dari pinggir jalan jika aku tidak memperhatikannya. Apakah itu masalah?”

 “Tidak…sungguh…Tetapi…Hm…? Mengapa aku mengeluh…Erk…” Akane menggertakkan giginya.

 "Hei sekarang, jangan biarkan aku mendengarkan perkataanmu yang menggantung seperti ini."

“Kamu tidak perlu tahu! Cukup tentang itu!” Akane berguling-guling di ranjang, memunggungi Saito.

 “Tidak boleh begitu. Aku ingin mengenal lebih banyak tentangmu.”

 “Le-Lebih banyak tentangku!? Me-Me-Me-Mengapa!?” Bahu Akane tersentak.

 “Sekarang kita tinggal bersama seperti ini, akan lebih baik bagi kita untuk mengenal lebih banyak tentang satu sama lain, bukan? Itu kan membuat segalanya berjalan lebih lancar. ”

 “Ah, i-itu maksudmu! Aku mengerti!"

 "Mengapa kamu panik begitu?"

 “Aku tidak panik sama sekali! Jangan bertingkah sombong sekarang!”

 “Kok bisa aku dibilang bersikap sombong…” Saito bingung.

 “Tetapi…aku sendiri juga tidak mengerti…Mengapa aku merasa terlalu bertentangan…”

 “Bertentangan? Perutmu sedang sakit?”

 “Bukan itu…Hanya saja…Eeek!?” Akane berteriak, berbalik ke arah Saito, dan cemberut.

“Ka-Kamu…kamu baru saja menyentuh bokongku, bukan…”

 “Huuuuh? Tidak mungkin aku akan…Appp!?” Merasakan sesuatu menggelitik pahanya, Saito juga berteriak. “Kamu baru saja menyentuh pahaku juga, bukan!?”

 "Apa manfaatnya buatku melakukan sesuatu yang begitu jahat!?"

 “Kamu yang jahat! Aku tidak sebodoh itu untuk meletakkan tanganku di atas seekor naga!”

 “Kok bisa aku disebut seekor naga!? Aku akan membakar rambutmu sampai gundul sehingga tidak ada satu helaipun yang tersisa, kamu dengar aku!?”

 "Itulah yang aku maksud!"

Mereka mengundang percikan api satu sama lain, ketika...

 "Diamlah, Shisei tidak bisa tidur kalau seperti ini."  Shisei mendorong wajahnya dari bawah selimut.

Dia tampaknya telah meringkuk di ranjang mereka tanpa mereka sadari.

 “Shisei-san!?”

 "Sejak kapan!?"

 “Sebelum peradaban manusia dimulai.”

 "Mana ada, kamu tidak begitu!"

 “Tepat saat Abang mulai berbicara sendiri dengan mengatakan ‘He he he… begitu Akane kembali dari kamar mandi, aku akan merasakan bokongnya!’, seingat Shisei.”

 “Saito…aku tahu itu…”

 "Itu juga bohong!"

 Disambut dengan tatapan penuh niat membunuh, Saito dengan panik menyangkal omong kosong Shisei. Mempertaruhkan nyawanya di belakang seorang gadis, ketidakseimbangan itu terlalu besar baginya untuk mengambil risiko seperti itu.

 “Shisei juga ingin tidur dengan Abang. Begitulah cara kami selalu melakukannya saat aku menginap di rumahnya.”

 “Selalu…Tidak hanya mandi, kalian juga tidur bersama…?” Alis mata Akane berkerut sambul curiga.

 "Tidak selalu!  Tepatnya ketika Shise tidak menyerah, seperti hari ini…”

 "Shisei selalu bersama Abang sejak aku masih kecil, jadi berada di dekatnya adalah hal yang paling santai." Kaki ramping Shisei menempel di kaki Saito.

Dia merasakan sensasi kulit langsung ke tubuhnya. Mengubur wajahnya di dada Saito, Shisei mendesah puas.

 “Te-Tetapi, ia telah menyiapkan kasur untukmu di ruang tamu, bukan?”

 “Tidur sendirian terlalu sepi. Tidak adil kalau Akane bisa tinggal bersama Abang sepanjang waktu.”

 “I-Ini sama sekali tidak adil! Aku tidak melakukan ini karena aku ingin atau menikmatinya!”

 "Benarkah?"  Shisei menatap langsung ke wajah Akane.

"Sungguh!  Pernikahan ini baru saja diputuskan karena kakek-nenek kita! Itu sebabnya ... iya!  Jika ada orang lain yang ditambahkan sekarang, mereka akan marah!”

“Itu seharusnya baik-baik saja kalau begitu.  Shisei menelepon Kakek dan mendapat izin. Kakek menyuruh Shisei untuk 'Lakukan apapun yang kamu mau'."

 "Kakek benar-benar memanjakanmu berlebihan..."

Mengetahui bahwa kakeknya mungkin akan memberi Shisei seluruh perusahaan jika dia memintanya, Saito bergidik ketakutan. Agar Shisei tidak mencoba melakukan sesuatu yang buruk, Saito sekali lagi memutuskan untuk menyuapinya dengan benar kapanpun dia memintanya. Saat Shisei menyadari bahwa dia bisa mendapatkan roti kukus sebanyak yang dia mau hanya dengan mengambil alih Houjo Group, ini akan menjadi akhir bagi Saito.

"Jika kamu sangat ingin menyimpan Abang untuk dirimu sendiri, maka mau bagaimana lagi."

 "A-Aku tidak putus asa sampai harus melakukan itu atau semacamnya!"

 “Agar Shisei tidak menghalangi saat bercinta, Shisei akan tidur di lantai.”

 “Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu!”

"Jadi kalian punya rencana malam ini? Shisei minta maaf karena mengganggu kalian.” Shisei turun dari tempat tidur.

“Tidak ada rencana untuk melakukan itu juga! Jangan mengarang ceritamu sendiri seperti itu! Mari kita semua tidur bersama, oke!?” Akane dengan panik menarik Shisei kembali ke ranjang.


Saito akhirnya tertidur, meninggalkan Akane yang masih terjaga dengan perasaan yang bergejolak. Karena Shisei tidur di antara mereka berdua, dia merasa aman dan selamat dari segala potensi pelecehan seksual, tetapi meskipun begitu...Mendapati dua orang gadis, dua orang teman sekelasmu, tidur di sebelahmu, dan tertidur lebih cepat dari Akane sendiri, dia penasaran seperti apa ketahanan mental dan kekuatan yang dimiliki cowok ini. Mendengar dengkurannya yang samar hanya membuat Akane semakin gelisah.

 "Akane, payudaramu sangat besar."

 “Kyaaaaaa!?”

Merasakan tangan-tangan kecil dengan penuh semangat membelai dadanya, Akane menjerit. Dia menarik dirinya ke ranjang setelah berguling, dan menutupi dadanya.

 “Kamu masih bangun!? Juga, Mengapa kamu menyerangku seperti itu!? Apakah kamu menyukai itu seseorang yang semacam itu!?”

 "Ini bukan serangan seksual, Shisei hanya menyentuh payudara yang sudah ditakdirkan berada di depanku."

 "Jika logika itu berhasil di pengadilan, maka segala macam pelecehan akan dimaafkan oleh hukum!"

"Gadis-gadis lain dengan putus asa memohon agar Shisei menyentuh payudara mereka."

 "Aku rasa kamu mungkin harus bercerita pada gurumu tentang hal itu."

 Akane mulai merasa khawatir dengan keselamatan Shisei. Dia mengerti bahwa Shisei sudah sangat dewasa, dan bahwa semua orang yang menjilat di sini, tetapi beberapa hal berjalan terlalu jauh.

 “Jadi kamu cemburu, Akane.”

 “Eh, apa yang kamu bicarakan?”

 “Tentang Abang. Ketika Shisei dan Abang sedang bermesraan, kamu marah, bukan?”

 “H-Haaah!? Aku tidak marah sama sekali!”

 Shisei menekankan ujung jarinya ke dagu Akane.

"Bohong. Kamu mencoba untuk menghentikan Shisei saat ingin mandi bersama dengan Abang. Sama halnya dengan saat tidur bersama.”

“I-Itu…Kan akan aneh bagi seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan seusia kalian mandi bersama! Tentu saja aku akan menghentikan kalian jika kalian mencoba melakukan sesuatu yang tidak senonoh di rumahku!” Akane terus mengoceh, saat dia merasakan darahnya mulai naik.

 —Tentu saja aku tidak… merasa cemburu.

Dia tidak memiliki perasaan atau kasih sayang apapun terhadap Saito. Dia hanya merasa malu disalahpahami, itulah sebabnya darah langsung naik ke kepalanya.

"Kamu tidak bisa menipu mata Shisei." Shisei dengan lembut meletakkan telapak tangannya yang dingin di pipi Akane yang terbakar.

Seolah memastikan kehangatan Akane, dia dengan lembut mengusap wajah, leher, dan daun telinganya. Dengan matanya yang bersinar lebih terang dari langit malam berbintang, tetapi dengan ekspresi yang datar, dia menatap Akane. Akane merasa seperti jiwanya tersedot lebih dalam ke dalam keberadaan Shisei, tidak bisa melepaskannya.

 "Akane, apakah kamu bingung?"

 “Tidak sedikit pun!”

 “Karena Abang sepadat batu bata, ia tidak akan mengerti kecuali kamu memberi tahunya.”

 “Memberi tahunya apa!?”

 Shisei menghela napas pelan.

 “Shisei merasa sedikit lega sekarang. Aku khawatir kalau Abang bisa hidup bahagia di sini.”

 "…Maksudmu apa?" Akane bertanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban.

 Shisei hanya meringkuk ke dalam pelukan Saito, dan mengusap wajahnya ke dadanya.

 "Selamat tidur."

 “Hei, jangan biarkan aku mendengar perkataan yang menggantung seperti ini! Dan juga, kamu terlalu dekat! Apakah kamu tidak punya rasa malu!?”

 Akane mencoba menarik Shisei dari Saito, tetapi Shisei langsung tertidur.


←Sebelumnya            Daftar Isi         Selanjutnya→


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama