[Peringatan 15+]
Belakang Panggung 1Uenohara Ayano, yang Bukan "Kaki Tangan"
"Ini, silakan, es kopi seduh dingin."
"Terima kasih banyak, Master."
Es berbunyi "Kling", lalu teko kaca tempat minuman itu diletakkan di atas meja.
Sinar sang surya di sore musim panas yang menyinari dari jendela menerangi wadah itu hingga berwarna merah. Cahaya yang memantul ke segala arah dan berkilauan itu menyilaukan mataku, sehingga tanpa sadar aku menyipitkan mataku.
Itu terjadi tidak lama setelah Liburan Musim Panas dimulai.
Aku sedang duduk sendirian di ruang sofa "Tempat Rapat D" — DRAGON CAFE.
Ini bukan pertama kalinya aku datang ke sini tanpa Kouhei. Aku cukup menyukai interiornya yang sederhana dan modern, suasana yang di sana-sini dipadukan dengan sentuhan ceria, serta sensasi terbungkus aroma kopi, sehingga aku sering mampir kemari.
"Tunggu sebentar buat makanan manisnya, ya. Stok hari ini sudah habis, jadi sedang dibuat ulang sekarang."
"Ah, begitu ya? Kalau begitu, tidak apa-apa—"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Justru, Ayano-chan sendirian saja sudah dapat menghasilkan omzet sehari, jadi aku sangat senang."
"…Itu terlalu lebai, bukan?"
Sang Pemilik Kafe mengangkat bahu beliau sambil tersenyum, lalu mulai membereskan meja di dekat beliau.
Pada jam-jam kayak gini, setelah waktu minum teh pukul 15 lewat, pengunjungnya sepi, dan aku satu-satunya tamu di sini. Di saat-saat kayak gitu, aku biasanya diperbolehkan duduk di sofa besar di samping konter.
Sambil membenamkan tubuhku ke dalam sofa yang empuk, aku memegang teko minuman dengan kedua tanganku. Sambil merasakan sensasi dingin di telapak tanganku, aku mendekatkan sedotan yang mencuat dari tutup teko ke mulutku.
Entah mengapa… …kayaknya sudah sekitar sepekan sejak terakhir kali aku datang ke sini. Dulu, saat aku sering datang, aku dapat datang lima kali sepekan, jadi rasanya sudah sangat lama sekali.
Tentu saja itu angka yang mencakup rapat. Atau lebih tepatnya, sebagian besarnya itu rapat.
Jadi….
Sekarang rapat sudah tidak ada lagi, wajar saja kalau aku jadi tidak datang sesering itu.
"─Jadi. Kamu tampaknya tidak kayak biasanya, ada apa?"
"Hah?"
"Soalnya, kopi itu tidak ada sirupnya, bukan?"
"Hmm..."
…Ah, begitu ya.
Pantas saja, aku merasa rasanya agak pahit.
Saat aku membuka tutupnya buat menambahkan sirup lagi, Sang Pemilik Kafe membawa bangku tinggi dari balik konter dan meletakkannya dengan keras di seberangku.
"Ayolah, nih. Kalau ada yang mau dibicarakan, aku siap mendengarkan, loh? Lagipula aku sedang senggang."
"Eh?"
Tiba-tiba mendengar ucapan yang tidak terduga, aku kaget.
Ini jarang terjadi. Biasanya beliau cuma bilang, "Oke, silakan nikmati waktumu," lalu langsung menghilang ke belakang.
Eh—maksudku.
"…Apa aku tampak kayak orang yang mau bicara?"
"Soalnya, hari ini kamu tampak sangat ringan. Biasanya kamu pasti selalu bawa buku tugas atau buku-buku, bukan?"
"…"
"Ayano-chan memang tipe orang yang selalu punya tujuan jelas sebelum datang. Jadi, aneh juga melihatmu datang begitu saja tanpa membawa apa-apa,"
Lalu, sambil bilang, "Lagipula," Sang Pemilik Kafe tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi putih beliau.
"Kalau kerja di bidang kayak gini, aku dapat merasakan suasana hati pelanggan kayak gitu, kok."
"Lagipula, kebanyakan orang datang ke sini justru buat curhat," Kata beliau sambil tersenyum kecut.
…Benarkah begitu?
Mungkin aku cuma mau mengobrol dengan seseorang.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Kouhei, bukan? Kalian tiba-tiba tidak datang bersama lagi."
Tiba-tiba mendengar ucapan itu, aku merasakan sensasi kayak dadaku tercekik.
…Apa ada sesuatu, ya?
Setelah meletakkan botol minuman di atas meja, aku perlahan membuka mulut.
"Jadi… …Master, Anda sudah tahu apa yang sedang Kouhei kerjakan, bukan?"
"Hm? Ah, iya, kurang lebih? Itu, rencananya Kouhei bakalan jadi penguntit gila, melakukan intrik di belakang layar, dan benar-benar jadi Karakter Utama di dalam kisah, bukan?"
"Yah… …kurang lebih kayak gitu, lah!"
Saat didengar lagi dari orang lain, rasanya kayak kami sedang mengerjakan hal yang cukup berbahaya. Padahal, perasaanku sudah benar-benar mati rasa.
"Kouhei juga sering berkonsultasi denganku, jadi aku rasa aku cukup tahu isinya. Ayano-chan juga jadi pendukung Kouhei, bukan?"
"…Iya, dulu memang begitu."
"Dulu, ya."
"…"
─Lalu, sedikit demi sedikit.
Dengan gaya bicara yang tidak kayak biasanya—yang terkesan tidak fokus—aku menceritakan keadaan saat ini.
◆
"─Hmm, begitu ya. Kouhei tiba-tiba bilang kalau ia akan menghentikan 'Rencana' yang seakan-akan jadi kehidupannya itu, dan meskipun kamu bertanya alasannya, ia tidak mau memberi tahumu apa-apa, jadi kamu tidak tahu mesti berbuat apa?!"
Sambil menyesap espreso yang diseduh sendiri, Sang Pemilik Kafe menyimpulkan begitu.
"Katamu, Kouhei memang terus-menerus bersikeras kalau ia 'Tidak dapat bicara' soal itu di RINE. Tetapi, apa kamu tidak pernah kepikiran buat menanyakan Kouhei secara langsung?"
"Awalnya memang begitu rencananya. Tetapi, Kouhei sama sekali tidak dapat aku temui."
Kayaknya Kouhei memang datang ke sekolah, tetapi baik saat aku pergi ke ruang kelasnya saat jam istirahat maupun ke beberapa "Tempat Rapat Rahasia", ia tidak ada di sana. Aku bahkan mencoba mengintai di pintu masuk dan keluar saat pulang sekolah, tetapi Kouhei tetap tidak muncul.
Sepatu Kouhei memang ada di loker, jadi aku heran mengapa ia tidak muncul… …tetapi setelah dipikir-pikir lagi, itu memang gayanya. Tidak aneh kalau Kouhei menyiapkan sepatu cadangan dan masuk-keluar secara diam-diam lewat semacam jalur pelarian darurat.
Tanpa aku sadari, Liburan Musim Panas pun tiba, dan Kouhei berhasil kabur sebelum aku dapat menangkap jejaknya.
"Mungkin, ini disebabkan oleh kejadian tidak terduga terkait Pemilihan Umum Ketua OSIS yang baru saja terjadi. Rencana Kouhei beruntun gagal, jadi…"
"Ah, begitu ya… …Tetapi mestinya ada penjelasan apapun, bukan? Lagipula, kalian sudah bekerja sama selama ini."
"Iya, memang begitu, tetapi…"
"?"
Tiba-tiba aku terdiam, dan Sang Pemilik Kafe memiringkan kepala beliau.
…Memang benar, sih, tetapi.
Aku menundukkan pandanganku ke meja, lalu bilang dengan pelan seakan-akan bergumam.
"Eh, kalau dipikir-pikir lagi… …sebenarnya, mungkin ini bukan urusanku buat berkomentar, bukan? Begitulah yang aku pikirkan."
"…Hah? Mengapa?"
Sang Pemilik Kafe mengerutkan kening beliau sambil bertanya.
"Bagaimanapun juga, aku cuma sekutu—pendukung Kouhei. Jadi, aku sadar kalau Kouhei bilang kalau ia mau berhenti, aku tidak punya hak buat menghentikannya, bukan?"
"Hm, hak…?"
"Pertama-tama, sebenarnya posisi sebagai 'Sekutu' itu tidak perlu ada. Itu cuma peran yang terpaksa disiapkan karena keadaan, dan pada dasarnya tidak diperlukan."
"Diperlukan…?"
"Iya… …Lagipula, tidak ada keharusan kalau itu mesti aku. Jadi, kalau Kouhei merasa, 'Aku sudah tidak butuh bantuanmu lagi'… …mungkin itu mau bagaimana lagi, bukan?"
"Eh, tunggu dulu. Soal hak atau kebutuhan, apa ini memang soal itu?"
Sang Pemilik Kafe tampak bingung.
…Kayaknya, aku mesti menjelaskannya dengan lebih sistematis agar beliau mengerti.
Aku memegang teko minuman dengan kedua tangan, lalu setelah beberapa saat, mulai bicara sedikit demi sedikit.
"Aku ini—tidak ada hal apapun yang cuma dapat aku lakukan sendirian begitu saja."
"…Hmm."
"Sejak kecil, aku memang sudah mencoba berbagai hal. Tetapi, meskipun dapat melakukannya dengan cukup baik, tidak ada satu pun yang dapat membuatku jadi yang terbaik."
Itulah yang disebut orang sebagai 'Terlalu serba bisa tetapi tidak jago dalam satu hal', lanjutku.
"Saat SMP, aku juga pernah ikut Ekskul Atletik, tetapi tetap saja tidak dapat mengalahkan para atlet papan atas. Tetapi, bukan berarti aku merasa sangat kecewa atau merasa mesti berusaha sekuat tenaga sampai mati… …Intinya, aku memang tidak cocok buat menguasai satu hal secara mendalam. Mungkin itu memang sifat dasar atau karakterku."
"…Ayano-chan, apa kamu tidak suka dengan hal itu?"
"Tidak, maksudku… …aku rasa memang begitulah adanya."
Lagipula, itulah kenyataannya, dan itulah diriku.
Tidak ada gunanya mengharapkan sesuatu yang tidak ada.
"Hubungan pertemanan juga sama, aku tidak punya sahabat karib. Karena aku dapat bergaul dengan siapa saja, aku tidak pernah kesulitan mencari teman di kelas atau teman buat jalan-jalan… …tetapi kalau jarak kami menjauh karena pindah kelas, kami jadi tidak saling menghubungi lagi."
Es yang mencair mengeluarkan bunyi "Kleng".
"Tetapi itu juga wajar saja. Lagipula, tidak mesti aku yang menemani Kouhei."
Benar─.
Aku tidak punya nilai yang unik dan tidak tergantikan, yang cuma dapat aku berikan.
Aku tidak punya nilai yang tidak tergantikan, yang cuma dapat aku lakukan atau yang tidak dapat terwujud tanpa kehadiranku.
…Maknanya, itu berarti.
Selama syaratnya terpenuhi, tidak ada masalah sama sekali kalau aku digantikan oleh orang lain.
"Asalkan kami dapat mengobrol santai kayak biasanya dan bersenang-senang bersama, tidak masalah kalau bukan aku. Cuma karena kebetulan Kouhei ada di dekatku dan tidak membuatku tidak nyaman, serta bersedia menyesuaikan diri denganku, itulah alasanku bersamanya. Itu sama sekali bukan pilihan terbaik."
Itu dapat diibaratkan kayak bekal dari toko swalayan.
Itu dipilih karena praktis dan nyaman, ataupun karena tidak ada pilihan lain, bukan karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik.
Aku dipilih sebagai rekan cuma karena kebetulan ada di sebelah Kouhei.
Kebetulan pulang bersama. Kebetulan ikut kegiatan yang sama—.
Kebetulan saat itu, aku muncul di atap.
Itu saja alasannya.
"Pemikiran kalau itu merupakan peran yang cuma dapat aku yang jalani… …itu cuma diberikan padaku karena kebetulan aku yang bilang pada Kouhei kalau aku akan membantunya. Tidak ada alasan sama sekali mengapa mesti aku yang melakukannya."
"Kaki Tangan" dan "Teman Masa Kecil" — peran istimewa yang mestinya cuma aku yang dapat jalani.
Tetapi pada akhirnya, itu cuma rekayasa belaka.
Kalau menggunakan kata-kata Kouhei, itu cuma "Pengaturan" saja. Hal itu dapat terjadi justru karena ada "Rencana", dan begitu Rencana itu hilang, semuanya langsung lenyap—itu cuma sesuatu yang istimewa yang cuma ditempelkan begitu saja.
Seberapa pun aku bertingkah laku sesuai Pengaturan itu, bukan berarti aku sendiri jadi punya nilai.
Dalam makna yang sebenarnya, itu bukanlah sesuatu yang cuma dapat aku lakukan.
…Iya.
Andai saja, hari itu, yang pergi ke atap bukanlah aku, melainkan orang lain.
Kalau orang itu bersedia jadi "Kaki Tangan" Kouhei─.
Jadi, sama sekali, tidak ada masalah.
Tidak ada masalah apapun… …sama sekali.
"Buat Kouhei, aku ini bukanlah sosok yang tidak tergantikan. Jadi, kalau Kouhei merasa kalau 'Aku sudah tidak dibutuhkan lagi'… …aku tidak punya hak apapun buat ikut campur."
Lagipula, Rencana itu rencana Kouhei. Aku cuma ikut-ikutan karena penasaran.
Selama ini, kami cuma melakukan berbagai hal bersama karena waktu kami berdua cocok.
Sejak awal, hubungan kami itu cuma hubungan kerja sama yang dangkal.
Segalanya cuma ilusi, hubungan yang semu.
Hal kayak gitu—
Ada atau tidak ada, itu sama saja.
Apa bedanya dengan hubungan pertemanan yang "biasa saja"?
"─"
…Tanpa aku sadari, tenggorokanku sudah kering sekali.
Aku meneguk sedikit kopiku dan menelannya. Mungkin sirupnya kurang, rasanya memang terasa lebih pahit dari biasanya.
"Jadi, yah… …kurang lebih begitu. Setelah membicarakannya, kayaknya aku sudah dapat memahaminya. Terima kasih banyak."
Sang Pemilik Kafe menundukkan kepala beliau, sambil membungkuk.
Entah mengapa… …tanpa aku sadari, aku malah bercerita soal diriku sendiri. Itu bukti kalau aku belum kembali ke kondisiku semula.
Tetapi, alasannya masuk akal dan aku rasa tidak salah.
Maknanya, kesimpulannya sudah jelas—begitulah.
…Iya.
Mestinya kesimpulannya sudah jelas.
Lalu, mengapa, sama sekali….
Mengapa aku masih sama sekali belum merasa lega, ya?
"─Ayano-chan, dengarkan aku, nih!"
Tiba-tiba, Sang Pemilik Kafe mengembuskan napas sambil bilang, "Fiuh."
"Ternyata kamu itu orang yang mengecewakan, ya…"
"…Eh?"
Hah?
Mengecewakan…?
"Eh… ...aku?"
Saat aku mengedipkan mataku berulang kali mendengar komentar yang sama sekali tidak terduga itu, Sang Pemilik Kafe menghela napas sekali lagi sebelum akhirnya bicara.
"Bagaimana ya… …orang yang terlalu terpaku pada logika? Atau, mungkin lebih tepatnya, orang yang terlalu banyak kepikiran?"
"Eh. Itu, tunggu sebentar."
Apa-apaan itu?
Ini pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar hal kayak gitu.
Saat aku diam-diam merasa terkejut, Sang Pemilik Kafe mengusap janggut beliau sebentar lalu bilang.
"Nilai yang cuma kamu punya sendiri, atau kebutuhan, atau hak... ...sebelum memikirkan hal-hal kayak gitu, bukannya yang pertama-tama mesti dipikirkan itu apa yang Ayano-chan mau?"
─Apa yang aku mau?
"Loh, di dalam obrolan tadi, bukannya bagian itu sama sekali terlewatkan?"
"…Eh. Tetapi, soal itu..."
Dengan terbata-bata, aku melanjutkan.
"Buatku, hal-hal kayak gitu... ...sama sekali tidak ada."
Kalau ditanya soal apa yang dapat aku lakukan, aku mungkin tahu.
Tetapi kalau ditanya soal apa yang mau aku lakukan... ...aku tidak terlalu mengerti.
Lagipula, "Rencana" itu dimulai atas permintaan Kouhei. Bukan sesuatu yang aku mulai karena aku sendiri yang mau mengerjakannya.
Bahkan sekarang pun, jujur saja, aku sama sekali tidak tertarik dengan "Rencana" itu sendiri—apapun yang berkaitan dengan Kisah Komedi Romantis.
Mendengar jawabanku itu, kali ini Sang Pemilik Kafe mengedipkan mata beliau.
"...Apa kamu serius?"
"Eh. Ah, iya…?"
"Ah, ternyata kamu bukan cuma mengecewakan, tetapi juga orang yang lamban."
"Lam-Lamban…?"
Apa-apaan itu?
Lagipula, ini pertama kalinya di dalam hidupku mendengar hal kayak gitu.
Saat aku merasa cukup—bukan, jujur saja, sangat—terkejut, Sang Pemilik Kafe menyilangkan tangan beliau sambil bergumam, "Hmm," dengan raut wajah bingung.
"Hmm, memang mudah diucapkan, tetapi… ...apa gunanya kata-kata seorang pria paruh baya dari luar yang tidak terlibat?"
Sang Pemilik Kafe terdiam sejenak, lalu mengangguk sambil bilang, "…Iya."
"Nah, begini. Apa kalian punya teman yang jago dalam hal kayak gitu? Orang yang sangat sederhana, atau orang yang cuma fokus melakukan apa yang mereka mau?"
Sederhana… …melakukan apa yang mereka mau….
Mendengar itu, wajah dua orang yang disebut Kouhei sebagai "Heroin Utama" terlintas di dalam benakku.
"Ada yang terlintas di dalam benakku… …bukan berarti tidak ada, sih."
"Ah, begitu ya. Kalau begitu, coba deh kamu curhat ke mereka. Siapa tahu ada hal baru yang dapat kamu temukan."
"Ah, tidak… …meskipun begitu, mereka itu bukan orang-orang yang cukup dekat denganku buat dapat membicarakan hal kayak gini."
Iya, meskipun buat Kouhei, mereka itu "Heroin Utama", tetapi buatku mereka itu cuma kenalan biasa, atau lebih tepatnya, orang-orang yang cuma punya sedikit hubungan denganku.
Atau lebih tepatnya, jujur saja, kalau tidak ada "Rencana" ini, aku bukanlah tipe orang yang akan secara aktif berusaha menjalin hubungan dengan siapapun. Mereka bukanlah orang-orang yang dapat diajak berkomunikasi dengan mengikuti aturan atau logika umum di dalam pergaulan.
"Ah, tidak-tidak, dalam hal kedekatan, aku juga tidak jauh berbeda, bukan? Aku cuma Pemilik Kafe biasa."
"Iya, memang begitu, sih, tetapi..."
"Yah, sesekali penting juga buat mencoba bicara dengan orang yang tipenya benar-benar bertolak belakang dengan dirimu. Aku rasa cuma itu saran yang dapat aku berikan."
"Semoga berhasil," kata Sang Pemilik Kafe sambil tersenyum kecil, lalu beliau berdiri seakan-akan obrolan telah usai.
Aku menatap punggung beliau dengan tatapan kosong, lalu menyesap tegukan terakhir es kopiku sambil merenung.
─Mencoba curhat pada mereka berdua, ya?
Aku masih belum terlalu paham efek apa yang akan kita timbulkan.
Tetapi, yah….
Lagipula, aku juga tidak punya hal lain yang dapat dilakukan.
Kalau hal ini dapat mengatasi perasaanku yang terlalu menggantung ini, mungkin tidak ada salahnya buat memikirkannya.
"…Tetapi."
Meskipun begitu—sekarang Liburan Musim Panas sudah dimulai, jadi sulit buat menghubungi mereka.
Aku memang tahu nomor kontak mereka karena tercantum di "Catatan Teman-teman", tetapi rasanya aneh kalau tiba-tiba menghubungi mereka lewat itu dan memanggil mereka ke suatu tempat.
Andai saja ada kesempatan buat bertemu mereka secara langsung...
"Hmm."
Saat pikiranku sampai di situ, jadwal ke depan tiba-tiba terlintas di dalam benakku.
─Dapat dibilang, ini waktu yang tepat sekali.
Mulai pekan depan, 'Kemah Belajar' Musim Panas rencananya akan dimulai.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
