[Peringatan 15+]
[Peringatan 15+]
PrologNagasaka Kouhei, yang Bukan "Karakter Utama"
Kehidupan SMA, Liburan Musim Panas pertama telah dimulai.
Suara jangkrik yang kedengaran samar-samar dari balik jendela seakan-akan mengabarkan datangnya musim panas tanpa mempedulikan suasana hatiku.
Di kejauhan, tampak deretan pegunungan hijau yang menjulang tinggi dan langit biru yang jernih tidak terhalang. Pemandangan itu pun tampak kabur, seakan-akan berasal dari dunia lain.
Katanya tahun ini cuacanya memang sangat panas dan menyengat, tetapi aku yang hampir tidak pernah keluar rumah sama sekali tidak merasakannya. Justru, karena AC yang meniupkan angin dingin langsung ke tubuhku, aku malah merasa kedinginan.
"Hah…"
Aku berguling di atas ranjangku.
Lalu, aku mengambil ponsel pintarku yang aku letakkan bersandar di dinding, dan menutup video yang baru saja aku tonton sambil melamun.
Aku mulai bosan menjelajahi video-video terkait… …Mungkin selanjutnya aku akan menonton siaran langsung gim video dari Vtuber… ...Ah iya, apa tugas harianku sudah tuntas…?
Tanpa pikir panjang, aku mengetuk ikon gim video sosial itu. Tetapi, saat menunggu proses pemuatan, entah mengapa aku jadi tidak berminat lagi, sehingga aku menutup aplikasi itu sebelum layar judul muncul.
Aku pun berkeliling-keliling, melihat-lihat linimasa Tbitter, atau membuka aplikasi manga.
Tetapi pada akhirnya, semuanya terasa tidak pas, jadi aku kembali ke layar beranda dan menghela napas lagi.
Entah mengapa… …benar-benar tidak ada yang dapat aku lakukan….
Liburan Musim Panas baru dimulai, dan baru dua hari berlalu. Mungkin karena terus-terusan bermalas-malasan kayak gini, waktu terasa berlalu sangat lambat.
Waktu tidur pun cukup banyak, 9 jam, ditambah tidur siang. Aku bahkan mengalami gejala langka berupa sakit kepala karena tidur terlalu banyak. Padahal, kasus sakit kepala karena kurang tidur justru sering aku alami.
…Nah, saat aku sedang melamun memikirkan hal-hal kayak gitu, tiba-tiba layar ponsel pintarku berubah. Tanpa aku sadari, kayaknya jariku menyentuh ikon di suatu tempat.
Saat ini, yang ditampilkan di layar adalah─ ─"Catatan Teman-Teman".
"─!"
Aku tersadar seketika, lalu segera mematikan layar.
Tetapi sudah terlambat; Otakku secara beruntun mulai mengingat kembali kejadian sebelum Liburan Musim Panas.
─Pemilihan Umum Ketua OSIS, karena hasil yang tidak lazim itu, akhirnya diadakan ulang.
Tampaknya ada pendapat yang mempertanyakan apa pantas pihak sekolah campur tangan dalam hasil Pemilihan Umum Ketua OSIS… … Pada dasarnya, sistem yang tidak punya ketentuan mengenai suara tidak sah justru dianggap lebih bermasalah, sehingga diputuskan buat mengadakan Pemilihan Umum Ketua OSIS ulang.
Tetapi, jadwal kegiatan sekolah memang sudah sangat padat, dan Liburan Musim Panas sudah di depan mata. Tidak ada waktu luang buat membuka pendaftaran Calon Ketua OSIS lagi atau mengadakan kampanye ulang. Akhirnya, Pemilihan Umum Ketua OSIS ulang dilaksanakan dengan jadwal yang sangat ketat—cuma dengan menambahkan ketentuan mengenai suara tidak sah, tanpa mengganti Calon Ketua OSIS, dan dijadwalkan setelah Upacara Penutupan tahun ajaran.
Kemudian, tampaknya tekanan tidak terucap dari pihak sekolah yang berbunyi "Jangan membuat masalah lagi!" dan keinginan siswa-siswi yang bilo "Sudahlah, apapun itu, biarkan kami segera masuk Liburan Musim Panas!" saling sejalan, sehingga suara dukungan jauh melampaui mayoritas, dan Shiozaki-senpai pun ditunjuk sebagai Ketua OSIS periode berikutnya.
Bagaimanapun juga, pada akhirnya segalanya berakhir kayak yang semestinya… …tetapi kabarnya ada beberapa Bapak-Ibu Guru yang mengkritik, "Janji kampanyenya terlalu ekstrem," sehingga tampaknya masih belum jelas apa pengoperasian Pengurus OSIS dapat berjalan sesuai rencana semula.
Semua itu cuma rumor yang aku dengar dari orang lain, tanpa bukti pasti. Aku juga tidak punya informasi lebih rinci selain itu.
Karena aku tidak menyelidikinya sama sekali, entahlah.
'Soal Pemilihan Umum Ketua OSIS itu, pasti tidak apa-apa. Pada akhirnya, semua orang akan condong ke arah kepercayaan. Karena buat "Orang biasa", itu memang akhir yang paling tidak merepotkan.'
Hari itu, saat aku hendak pergi dari atap gedung.
Kata-kata yang terucap tanpa sengaja oleh Kiyosato-san tiba-tiba terngiang kembali, dan tanpa sadar tubuhku menggigil.
'Selebihnya, orang-orang yang "tidak biasa" itu tinggal menyerah saja. Cukup berkompromi saja. Kalau begitu, pada akhirnya kita semua pasti dapat tertawa sambil bilang, "Yah, sebenarnya tidak terlalu buruk, bukan?"'
Pasti—Kiyosato-san.
Pada saat itu, Kiyosato-san pasti sudah memperkirakan segalanya, termasuk hasil akhir Pemilihan Umum Ketua OSIS.
Kiyosato-san pasti sudah memperkirakan hal-hal yang sama sekali tidak dapat aku prediksi berdasarkan informasi yang aku kumpulkan.
…Atau, kalau menggunakan kata-kata Kiyosato-san.
Bagaimana "Orang biasa" akan bertindak.
Kiyosato-san sudah mengetahuinya dari pengalamannya.
"…S*alan."
Aku telah berkali-kali merenungkan masa lalu yang Kiyosato-san ceritakan.
Kesimpulan yang tersirat dari semua itu menusuk dadaku dengan tajam, dan aku pun meringkuk kayak sedang menunduk.
Dulu, demi mewujudkan cita-citanya—'Membuat "semua orang" tersenyum'—Kiyosato-san telah melakukan segala yang dapat dia lakukan dengan segenap tenaganya, namun akhirnya gagal.
Meskipun Kiyosato-san telah bertindak semata-mata demi "semua orang" tanpa memikirkan dirinya sendiri, dia tetap gagal.
Dan ironisnya, kegagalan itu justru datang dalam bentuk penolakan dari "semua orang" itu sendiri.
Kalau dipikir-pikir, waktu aku masih SMP juga begitu.
Semua itu hancur karena "semua orang" yang sama sekali tidak aku sadari.
Saat itu, aku selalu mengira kalau aku telah gagal karena menyerah di tengah jalan dan melarikan diri. Lagipula, teman-temanku yang tidak lari dan terus berjuang sampai akhir berhasil meraih "Akhir yang bahagia" masing-masing.
Tetapi—sebenarnya, mungkin justru sebaliknya.
Seandainya aku, kayak Kiyosato-san, terus berjuang sampai akhir.
Seandainya aku terus memperjuangkan cita-cita yang "tidak biasa" itu, melibatkan teman-temanku, dan terus berjuang tanpa menyerah...
Pada akhirnya, mungkin "semua orang" justru akan berakhir pada "akhir yang buruk".
Mungkin "semua orang" dapat bahagia justru karena aku menyerah pada cita-citaku.
"Aku..."
Cita-citaku itu—.
Baik "Heroin Utama" maupun "Karakter Teman", serta semua "Karakter Pendukung". Apa aku akan menyakiti mereka semua dan membuat mereka menderita?
Apa aku akan kehilangan "Karakter-karakter" penting yang ada di sekitarku?
Apa aku akan... ...ditolak?
"Aku, itu..."
"Teman Masa Kecil" sekaligus "Rekan"-ku.
Uenohara, yang ada di tempat paling dekat denganku.
Yang paling malang di antara semua orang, yang paling menyakiti.
Dan, pada akhirnya—.
Sebuah rasa merinding menjalar di punggungku.
"—S*alan!"
Dug, dan.
Dengan tanganku yang menggenggam ponsel pintarku, aku memukul bantalku.
Aku terus memukul bantalku dengan kepalan tanganku beberapa kali, lalu akhirnya menenggelamkan wajahku ke dalamnya sekuat tenagaku.
Ternyata….
Ternyata "Rencana" itu tidak dapat dilanjutkan.
"Rencana" yang akan membuat semua orang menderita tidak boleh dilanjutkan.
"Tetapi… …kalau begitu…"
Kami tidak akan lagi berkumpul buat rapat demi "Rencana" itu.
Kami juga tidak akan lagi pergi ke berbagai tempat buat melakukan survei setiap kali hari libur demi "Rencana" itu.
Hari-hari yang selama ini kami jalani kayak gitu bakalan lenyap seluruhnya.
'─Nagasaka-kun. Sungguh, aku mohonlah!'
─Tiba-tiba.
Sosok Kiyosato-san yang menatapku dengan datar terlintas di dalam benakku.
Setelah menyisipkan kembali rambutnya yang tertiup angin kencang ke belakang telinganya—.
'Sudahlah, berhentilah mengejar cita-citamu ─ mari kita berusaha agar dapat tertawa dalam kenyataan yang "Biasa", oke?'
─Ah.
Aku, apa yang mesti aku lakukan sekarang?
Apa aku dapat mencapai "Akhir yang bahagia"....?
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
