Genjitsu de Rabukome Dekinai to Dare ga Kimeta? [LN] - Sekuel Jilid 4 - Lintas Ninja Translation

[Peringatan 15+]

Sekuel
Aku Tidak Akan Menerima Cita-Cita Kayak Gitu

SMA yang aku pilih itu SMA Kyougoku Nishi.

Alasannya sederhana saja, karena letaknya dekat dari rumahku dan nilai rata-ratanya paling mendekati nilaiku. Lagipula, aku memang belum mengenal daerah itu, jadi aku sama sekali tidak tahu SMA mana yang bagus.

Lagipula, yang mesti aku lakukan tidak akan berubah.

Menurutku, kalau cuma buat menjalani kehidupan sekolah yang "biasa-biasa saja", di mana saja sama saja.

─Dan hari ini itu Hari H Ujian Masuk SMA Kyougoku Nishi itu.

Di ruang kelas yang ditetapkan sebagai tempat Ujian Masuk SMA, aku sedang menatap lembar jawaban yang sudah aku tuntaskan.

Mungkin karena sempat fokus belajar saja selama beberapa waktu, aku dapat mengerjakannya tanpa ragu-ragu. Aku rasa, mungkin aku dapat meraih nilai yang cukup bagus.

Maknanya… …dengan begini, aku tidak dapat jadi "biasa-biasa saja", bukan?

Kalau aku terus-terusan jadi peringkat pertama di seluruh mata pelajaran kayak biasanya, aku tidak akan jadi "biasa-biasa saja" lagi. Aku mesti mengatur nilainya agar cukup buat lulus Ujian Masuk SMA.

Eh, kalau begitu… …mungkin aku akan membuatnya seakan-akan cuma nilai bahasa Jepang-ku saja yang bagus.

Dengan begitu, tidak akan terasa janggal kalau aku memilih jurusan humaniora di SMA swasta saat pemilihan kelas, dan hal itu juga dapat jadi alasan buat tidak masuk ke kelas tingkat tinggi.

Setelah memutuskan hal itu, aku menghabiskan sisa waktu dengan sedikit mengubah jawaban-jawaban yang sudah aku tulis.

Waktu berlalu—mata pelajaran terakhir hari ini, menjelang akhir Ujian Masuk SMA.

Tiba-tiba, "guling-guling," sebuah penghapus menggelinding di lantai di depan mejaku.

"~~!"

Selanjutnya, dari bangku di sebelah kanan kedengaran tanda-tanda jeritan yang tidak terucap.

Astaga… …mungkin penghapus itu terpeleset dan jatuh?

Aku melirik sekilas ke samping buat mengamati situasinya.

Cowok di bangku sebelah tampak sangat panik; Aku mengeluarkan penghapus cadanganku, tetapi kayaknya aku tidak berniat memanggil Pengawas Ujian. Matanya terus-menerus berpindah-pindah antara jam dan lembar jawaban.

Kalau cowok itu dapat sedikit lebih tenang—eh, tidak juga. Cowok itu sedang berjuang mati-matian buat Ujian Masuk SMA, jadi wajar saja kalau ia panik.

Di saat yang sama, aku merasa bersalah karena sengaja mengendurkan usaha di samping cowok kayak gitu, sehingga aku pun berpikir, "Apa ada cara buat membantu cowok itu?"

─Apa membantu di sini benar-benar "biasa-biasa saja"?

Tetapi, pikiran itu segera terlintas di dalam benakku, dan aku menggigit bibirku dengan erat.

Mungkin, pada saat kayak gini, membiarkan cowok itu begitu saja dengan merasa "Aku tidak ada hubungannya" itu hal yang "biasa-biasa saja", ya.

Sambil berpikir begitu, aku mencoba menarik kembali tanganku yang tanpa sadar telah terulur ke kotak pensil, lalu tiba-tiba menyadari.

Hmm… …Tetapi, tunggu sebentar.

Kalau hubungan ini cuma sebatas saat ini saja, apapun yang aku lakukan, bukannya tidak akan menyeret ini ke dalam kesengsaraan di masa depan…?

Kalau cowok ini bukan orang yang aku kenal, dan tidak ada rencana buat mengenalnya di masa depan, apapun yang aku lakukan tidak masalah, bukan?

Kalau begitu─.

Sedikit saja. Tidak apa-apa bukan kalau aku membantu cowok ini…?

Lalu aku segera mengeluarkan penghapus yang sudah aku siapkan sebagai cadangan.

Sebenarnya aku bisa saja langsung memberikannya begitu saja, tetapi aku rasa itu belum cukup buat menenangkan cowok itu, jadi aku menulis pesan dengan spidol.

'Tenanglah, masih baik-baik saja.'

…Iya, sekadar ini saja sudah cukup.

Aku melirik sekeliling sebentar, memastikan Bapak-Ibu Guru yang sedang berpatroli sedang membelakangi kami, lalu melemparkannya ke meja cowok itu.

Cowok itu menatapku dengan wajah terkejut, tetapi aku tetap menunduk sambil menunjuk-nunjuk penghapus.

Baru setelah itu kayaknya cowok itu menyadari pesanku, lalu ia mengangguk-angguk sebelum perlahan-lahan kembali memusatkan perhatiannya pada lembar jawaban.

…Syukurlah. Mudah-mudahan cowok itu sudah dapat tenang sekarang.

Semoga saja masih sempat.

─Sekitar 10 menit kemudian, pengumuman berakhirnya Ujian Masuk SMA disiarkan.

Di ruang kelas yang suasananya tiba-tiba jadi santai, aku segera menuntaskan tugas beres-beresku.

Nah… …kalau wajahku sudah dikenali, itu tidak ada gunanya. Sebelum ada yang menyapaku, aku mesti segera pergi.

Saat cowok itu tidak sedang menatap ke arahku, aku diam-diam berdiri, lalu keluar dari ruang kelas lewat pintu belakang.

Oke, ini sudah beres.

Setelah menghembuskan napas lega, aku mulai berjalan menuju tangga di ujung lorong.

Ah, tetapi apa aku masih meminjamkan penghapus itu? Yah, sebetulnya hal sepele kayak gitu tidak masalah juga, sih….

Sambil memikirkan hal itu, aku berjalan melewati samping pintu di depan.

Tanpa sadar, mataku tertuju ke arah ruang kelas—.

Mataku bertemu dengan mata cowok itu.

Ah—.

Apa cowok itu sedang tersenyum…? 

Wajah cowok itu yang cerah, dengan senyuman lembut itu.

Tampak sangat… …sangat indah.

Perasaan hangat perlahan-lahan membanjiri dadaku.

Tanpa sadar—aku pun.

Aku tersenyum, lalu tanpa sadar melambaikan tangan balik.

─Tidak boleh, tidak boleh lebih dari ini.

Segera setelah menyadari hal itu, aku dengan cepat mengalihkan pandanganku dan berlari meninggalkan tempat itu.

Dengan terburu-buru aku menuruni tangga, mengenakan sepatu, dan keluar dari gerbang sekolah — di sana barulah aku dapat bernapas lega.

"Hah… …hampir saja…"

Di saat-saat mendadak kayak gini, aku sering tanpa sadar bereaksi apa adanya… …Aku mesti belajar mengendalikan diriku sendiri dengan lebih sadar.

Aku mengembuskan napas panjang sambil bilang, "Fiuh…," lalu menata kembali pikiran dan tekadku.

Tetapi—.

Sudah lama sekali aku dapat tertawa tanpa memikirkan apapun….

Lalu, pengumuman hasil Ujian Masuk SMA.

Di depan papan pengumuman di aula serbaguna (konon bernama Byakko Kaikan), sambil tersenyum melihat siswa-siswi yang bersuka cita, aku memeriksa nomorku sendiri.

Apa cowok itu lulus, ya….

Aku tidak tahu nomornya, dan sekilas tampak kayaknya cowok itu tidak ada di sekitar sini, jadi hasilnya tidak akan diketahui sampai saat masuk sekolah.

Lagipula, meskipun cowok itu menyapaku, aku berencana berpura-pura tidak mengenalnya, dan kami sudah tidak ada hubungannya lagi… ...meskipun begitu.

Sambil berhati-hati agar kali ini tidak melakukan kesalahan, aku mengambil berkas pendaftaran dan pulang.

Di tengah perjalanan, di depan gerbang sekolah, seorang cowok yang mengaku "dari Pengurus OSIS" (karena dasinya berwarna merah, mungkin ia seorang senpai) memintaku mengisi Kuesioner Survei Preferensi Kelas.

Baca-Rabudame-LN-Sekuel-Jilid-4-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

Sesaat aku waspada, mengira kalau itu ajakan buat bergabung dengan sesuatu, tetapi karena kuesioner itu anonim dan kayaknya ia juga menanyai orang lain, mungkin ini bagian dari kegiatan Pengurus OSIS. Karena cowok itu tampak kesulitan melakukannya sendirian, aku memutuskan buat membantu.

Bagaimanapun, dengan begini, penerimaanku ke SMA ini sudah pasti.

Mulai sekarang, aku mesti benar-benar serius berusaha sebagai diriku yang "biasa-biasa saja".

Kalau begitu, pasti….

Teman-teman sekelas baruku di sekolah di mana aku baru bergabung pasti akan selalu dapat tersenyum.

Sesuai harapanku, aku ditempatkan di Kelas X-D yang berencana masuk universitas swasta jurusan humaniora.

Saat ini, Upacara Penerimaan Siswa-Siswi Baru telah usai. Selanjutnya, kami akan berkumpul di masing-masing kelas buat mengikuti Masa Orientasi Siswa-Siswi Baru.

Di tengah suasana yang terasa agak galau, aku berhenti di depan ruang Kelas X-D dan menarik napas pelan-pelan.

Teman-teman sekelasku yang tampak di balik pintu masuk tampak tidak tenang, duduk di bangku yang telah ditentukan sementara.

Meskipun aku sudah terbiasa pindah sekolah, kali ini situasinya sangat berbeda dari biasanya, jadi aku pun merasa gugup.

─Aku bersikap ramah pada siapapun dan menyesuaikan cara bersikap sesuai sifat masing-masing orang, tetapi tidak membiarkan mereka terlalu masuk ke dalam urusanku.

Orang yang aku ajak bicara atau temani, aku ubah secara acak setiap hari agar tidak ada yang dominan.

Saat berbicara, pada dasarnya aku tidak menceritakan hal-hal soal diriku. Kalau kesulitan menjawab pertanyaan, aku menjawab dengan "Kurang lebih begitu".

Aku tidak membentuk kelompok yang dianggap sebagai anggota tetap, dan aku juga tidak bergabung dengan kelompok semacam itu. Meskipun tidak aneh kalau aku berada di mana saja bersama siapa saja, aku tidak mau orang lain merasa kalau aku cuma ada di satu tempat saja.

Buat gaya rambut, aku memilih potongan bob yang paling aman, sementara mekap dan penataan rambut aku buat sesederhana mungkin. Dalam mengenakan seragam, aku memilih gaya yang tidak terlalu santai tapi juga tidak terlalu rapi—tepat di tengah-tengah.

Sebenarnya aku bisa saja tampil lebih ketinggalan zaman, tetapi ada batasnya dalam menyembunyikan penampilan. Jadi, sebaliknya, aku berusaha agar orang-orang cepat terbiasa melihatku, sehingga penampilanku jadi bagian dari pemandangan sehari-hari. Selain itu, aku memberikan kesan yang meniadakan bagian-bagian yang dianggap menarik, sehingga pada akhirnya penilaian pada diriku jadi biasa-biasa saja.

─Iya, oke.

Setelah sekali lagi memastikan penampilan "biasa-biasa saja"-ku, aku melangkah masuk ke dalam ruang kelas.

Sesaat, pandangan semua orang serentak tertuju ke arahku, tetapi aku berjalan menuju tempat dudukku dengan wajah seakan-akan tidak menyadarinya.

"Wah, ini dia cewek yang tadi aku kira, 'Wah, imut banget!'"

Saat aku duduk, seorang cowok berambut pendek yang tampak kayak atlet dan duduk di dekatku menyapaku.

"Segera begitu?" Pikirku sambil meningkatkan kewaspadaan, lalu aku mengubah ekspresiku jadi senyuman.

"Ahaha, senang berkenalan denganmu. Eh—"

"Ah, aku Tokiwa Eiji! Lulusan SMP Shinonami!"

Cowok itu—Tokiwa-kun—bilang hal itu sambil tersenyum lembut dengan raut wajah yang ramah.

"Bagaimana denganmu?"

"Namaku Kiyosato Mei. Asalku… …eum, asal SMP-ku di luar Prefektur."

Meskipun aku tahu Tokiwa-kun mungkin tidak akan mengerti, aku tetap menjawab dengan samar-samar buat berjaga-jaga.

Mendengar itu, mata besar Tokiwa-kun pun bersinar terang.

"Wah, siswi pindahan! Keren, ternyata berasal dari SMP di kota, juga ada yang kayak gitu, ya."

"Ahaha, kira-kira begitu. Senang berkenalan denganmu."

"Senang bertemu denganmu juga! Pasti sulit sampai kamu terbiasa, jadi kalau ada masalah, jangan ragu minta bantuan, ya."

Mendengar ucapan itu dengan nada suara yang tenang dan menenangkan, hatiku pun tanpa sadar jadi lebih lembut.

─Cowok yang sangat alami dalam menunjukkan kepedulian, ya.

Secara alami aku merasakan hal itu, lalu aku tersenyum kecil.

Iya… …meskipun kepribadian Tokiwa-kun sama sekali berbeda, tetapi kebaikan dan kemurnian hatinya itu, persis kayak Zomu-kun—.

"Eh, maaf. Aku mau keluar sebentar."

"Oke, sampai jumpa."

….

…Aku mesti waspada agar tidak terlalu akrab dengan Tokiwa-kun.

Aku berdiri dan kembali menuju pintu masuk.

Bukan karena ada urusan khusus, tetapi setelah bilang hal kayak gitu, rasanya aneh kalau aku tetap di sini. Mungkin aku akan ke toilet saja buat menghabiskan waktuku.

"─Ah, maafkan aku, ya."

"…"

Lalu, di pintu masuk, aku hampir bertabrakan dengan seseorang begitu keluar.

Setelah berhasil berhenti sejenak dan menengadah, aku lihat seorang cowok bertubuh tinggi dan ramping. Wajah cowok itu sangat tampan, dan caranya mengenakan seragamnya pun tampak sangat rapi sejak hari pertama.

"Ahaha, eh… …kita sekelas, ya?"

"─"

Setelah bertanya dengan nada yang tidak menyinggung, cowok itu tetap diam sambil menatap ke arahku.

─Wah, tatapan cowok itu agak menakutkan, ya.

Tatapan yang terasa sangat tajam, seakan-akan dapat menembus sampai ke dalam diriku.

Secara alami, aku menilai kalau cowok ini pasti termasuk cowok yang cakap.

"Namaku Kiyosato Mei. Kamu?"

"…Torisawa Kakeru."

Sambil meningkatkan kewaspadaan, aku memperkenalkan diriku, dan jawaban yang kasar pun datang. Paling tidak, kayaknya Torisawa-kun merespons.

"Kalau begitu, kamu itu Torisawa-kun, ya. Senang berkenalan denganmu!"

Saat aku bilang begitu sambil tersenyum, Torisawa-kun mendengus, "Hmf."

"Yah, kalau kamu benar-benar berniat buat bekerja sama dengan baik."

"…Ahaha, tentu saja aku akan bekerja sama dengan baik."

Hmm… …Ternyata, memang menakutkan.

Aku menyelinap melewati Torisawa-kun, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

Kemudian, setelah bersembunyi di balik suatu benda, aku menoleh ke belakang dan mengamati situasinya dari kejauhan.

Torisawa-kun masuk ke ruang kelas seakan-akan tidak terlalu mempedulikanku, lalu dengan percaya diri—seakan-akan ini bukan kelas pertamanya—ia duduk di bangkunya dan menundukkan kepalanya di atas mejanya.

Baik ketenangan Torisawa-kun maupun ketajamannya. Seakan-akan, mirip Oomori-kun─.

….

Aku mestinya tidak pernah… …mendekati mereka begitu saja.

Aku menghembuskan napas sambil bilang, "Hah," lalu menepuk-nepukkan kedua pipiku.

─Aku mesti berusaha keras.

Pasti, kali ini pasti. Aku tidak boleh membiarkan mereka mengalami nasib buruk.

"Selamat pada kalian semua atas penerimaan di sekolah ini. Nama Ibu Toshima Kyouko, yang akan jadi Wali Kelas kalian."

Beberapa saat kemudian, penjelasan dari Ibu Wali Kelas pun dimulai.

Mulai dari peraturan sekolah, cara menggunakan kantin dan koperasi sekolah, jadwal pelajaran, dan sebagainya, penjelasan tersebut berlangsung berdasarkan bahan-bahan yang telah dibagikan.

Saat sesi perkenalan diri di tengah-tengah ajang, aku melewatinya dengan perkenalan yang "biasa-biasa saja" dan aman, yang telah aku persiapkan sebelumnya.

Aku sama sekali tidak punya tujuan buat membuat mereka cepat mengingat namaku atau meredakan ketegangan di antara mereka.

"─Oke, selanjutnya kita akan memilih Ketua Kelas. Adakah yang mau mencalonkan diri kalian?"

Ibu Toshima bertanya sambil memandang sekeliling kelas.

…Ketua Kelas, ya. Di awal-awal masa SMA, apalagi di kelas yang isinya orang-orang asing, kayaknya tidak akan ada yang mengangkat tangan mereka….

Pasti akan ditentukan lewat undian atau penunjukan, jadi aku mesti mencari cara buat menghindarinya─.

"Iya!"

─Hah?

Terkejut dengan jawaban yang tidak terduga itu, aku menoleh ke arah sumber suara itu.

Di bangku tiga deret di sebelahku, seorang cowok mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

Cowok itu, seingatku─.

"Nagasaka Kouhei, ya?"

Ibu Toshima bergumam sambil melihat daftar nama.

Cowok itu—Nagasaka-kun—menjawab dengan lantang sambil matanya berbinar-binar.

"Iya, aku Nagasaka! Kalau tidak ada yang lain yang mau mencalonkan diri, tolong izinkan aku yang mencalonkan diri jadi Ketua Kelas kalian!"

Sangat antusias… …ya.

Kayak saat perkenalan tadi, Nagasaka-kun satu-satunya yang tampak sangat bersemangat. Seakan-akan Nagasaka-kun sudah tidak sabar menantikan kehidupan SMA-nya.

Kalau cuma itu, aku mungkin cuma akan menganggap Nagasaka-kun agak menggelikan saja—.

Aku mengamati Nagasaka-kun dengan saksama, yang tangannya masih terangkat tegak.

Penampilan Nagasaka-kun—yah, baik atau buruk, dapat dibilang tidak ada ciri khas, atau mungkin kesan yang muncul cuma cowok yang sederhana. Aku memang belum pernah berbicara langsung dengan Nagasaka-kun, jadi tidak tahu kayak apa kepribadiannya, tetapi paling tidak, tidak terasa ada kepribadian yang menonjol kayak yang Tokiwa-kun atau Torisawa-kun punya.

Intinya, ya.

Nagasaka-kun itu orang yang paling cocok dengan citra "biasa-biasa saja".

Tetapi justru makanya itu, rasanya ada yang janggal, bukan… "Mengapa Nagasaka-kun mencalonkan diri sebagai Ketua Kelas di sini?"

Saat aku sedang memikirkan hal itu, Ibu Toshima kembali angkat bicara.

"...Apa kamu yakin? Mungkin ini akan lebih sulit ketimbang yang kamu bayangkan."

Ibu Toshima bertanya seakan-akan mau memastikan, tetapi entah mengapa wajah beliau tampak agak bingung.

Eh… …apa ya? Apa ini sesuatu yang perlu dikhawatirkan sampai sejauh itu?

Saat aku memiringkan kepalaku, Nagasaka-kun mengangguk dengan tegas dan menjawab dengan penuh percaya diri.

"Tentu saja tidak masalah. Biarkan aku yang melakukannya."

"…Oke. Kalau begitu, Nagasaka-kun akan jadi Ketua Kelas. Buat yang setuju, silakan bertepuk tangan."

Tepuk tangan bergema dari seluruh kelas. Suasana yang tercipta lebih mirip rasa lega karena ada yang bersedia mengambil alih tugas yang merepotkan, ketimbang ucapan selamat.

Tetapi, ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku sejak tadi… …Mengapa ya?

Sebelum aku menemukan jawaban atas rasa janggal itu, obrolan terus berlanjut.

"Oke, Ketua. Mengenai pergantian bangku, silakan maju ke depan dan lanjutkan obrolan."

"Oke!"

Nagasaka-kun dengan penuh semangat maju ke depan dan berdiri di atas panggung.

Kemudian, Nagasaka-kun memandang sekeliling seluruh kelas, lalu mulai berbicara dengan ekspresi seakan-akan sudah siap sepenuhnya.

"Eum... ...Aku baru saja ditunjuk sebagai Ketua Kelas kalian. Namaku Nagasaka Kouhei. Eum, aku lahir di Kota Baru Timur yang terkenal dengan lift miringnya. Karena aku itu orang desa, mungkin ada beberapa hal yang kurang sopan, namun mohon dukungan dan bimbingan kalian semua. Terima kasih."

Begitulah, entah mengapa Nagasaka-kun tiba-tiba memulai perkenalan diri dengan gaya pidato, sampai-sampai seluruh kelas pun jadi sunyi senyap.

…Mungkin Nagasaka-kun mau membuat teman-teman sekelas kita tertawa. Eh.

"…Ehem. Oke, mari kita tinggalkan lelucon itu."

Sambil pipinya memerah seakan-akan merasa gagal, Nagasaka-kun berdehem lalu memulai kembali.

"Langsung saja, aku mau menentukan susunan bangku buat semester ini. Kecuali ada alasan khusus, kayak penglihatan yang kurang baik sehingga lebih baik duduk di depan, aku berencana menentukan susunannya lewat undian. Apa kalian setuju?"

Tidak ada yang keberatan dari teman-teman sekelas.

Setelah memastikan hal itu, Nagasaka-kun mengangguk pelan.

"Oke, sekarang aku akan menggambar skema undian di papan tulis. Silakan maju ke depan sesuai urutan nomor absen, lalu tarik satu garis horizontal di salah satu tempat sambil menyebutkan nama kalian."

Sambil bilang begitu, Nagasaka-kun dengan cekatan menggambar 40 buah garis vertikal di papan tulis, lalu menuliskan nomor secara berurutan di bawahnya.

Nagasaka-kun sangat cekatan… …mungkin sebenarnya ia sudah terbiasa dengan tugas kayak gini.

Atau, apa jangan-jangan Nagasaka-kun sudah mengantisipasi hal ini dan mempersiapkannya… …atau semacamnya? Tetapi kayaknya mustahil….

"Oke, silakan mulai dari yang nomor satu secara berurutan—"

Seiring seruan itu, teman-teman sekelas kami berbaris ke depan dan menuliskan nama mereka.

Aku pun menggambar satu garis di tempat yang sembarangan di samping namaku, lalu mengibaskan tanganku yang berlumuran kapur.

"Makasih atas bantuannya."

"Ah, eh, tidak apa-apa."

Tiba-tiba Nagasaka-kun menyapaku, jadi tanpa sadar aku tersenyum membalasnya.

…Hah?

Saat melihat wajah Nagasaka-kun dari dekat, entah mengapa aku merasa pernah melihatnya sebelumnya.

Apa jangan-jangan, kami sempat salah paham di suatu bagian…?

"Oke, giliran yang berikutnya—"

Saat kata Nagasaka-kun sambil melanjutkan urutan, jadi aku pun kembali ke bangkuku agar tidak mengganggu.

Beberapa saat kemudian, setelah semua orang selesai menuliskan namanya.

"Oke, terakhir ini kita akan menggambar garis secara acak—"

Nagasaka-kun menggambar beberapa garis dengan kapur sambil mengeluarkan suara "Kashi-kashi" dari sisi kiri, dan saat selesai menggambar garis terakhir, ia bergumam pelan, "...Oke."

"─Oke. Nah, aku akan memanggil nomor bangku secara berurutan mulai dari nomor satu, jadi silakan pindah saat nama kalian dipanggil. Eum, pertama-tama, Anayama Shun-kun─"

Semua orang mulai bergerak dengan riuh.

Aku nomor 19, dan duduk tepat di sekitar tengah kelas.

Sebenarnya aku lebih suka tempat yang tidak terlalu mencolok… …tetapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi.

Eh, jadi orang di sebelahku itu─.

"Selanjutnya nomor 27… …ah, itu aku. Kalau begitu, nomor 28 berikutnya itu─"

─Nagasaka-kun di sebelahku, ya.

Atas hasil itu, entah mengapa aku kembali merasa ada yang janggal.

Beberapa hari setelah itu, aku menuntaskan berbagai agenda kayak Cek Kesehatan, Pengambilan Buku Paket, dan Masa Orientasi Ekskul di Gimnasium. Dan akhirnya, mulai hari ini, Jam Pelajaran Reguler pun dimulai.

Sepulang sekolah, aku baru saja menuntaskan hari pertama bergabung dengan Ekskul Tenis dan sedang menuju gerbang sekolah.

Ekskul Tenis SMA Kyou-Nishi tampaknya tidak terlalu kuat, sehingga mereka sangat kaget saat aku menceritakan hasil Turnamen Tenis Tingkat Nasional. Tetapi, karena aku berbohong dengan bilang, "Aku tidak dapat menunjukkan kemampuan terbaikku karena cedera," kayaknya mereka tidak akan mengandalkanku.

Makanya, mereka sangat bersimpati padaku dan hatiku terasa sakit, tetapi demi tetap bersikap "biasa-biasa saja", mau bagaimana lagi. Pada akhirnya, cara ini justru lebih baik buat semua orang, jadi rasa sakit kayak gini mesti aku terima dengan lapang dada.

Aku menggendong raketku kembali, lalu berjalan menuju halte bus.

Tiba-tiba, di sana—.

"Eh, Kiyosato-san?"

Ternyata, di halte bus tujuan itu, ada sosok Nagasaka-kun.

"Kebetulan sekali. Apa kamu naik bus ke sekolah, Kiyosato-san?"

Nagasaka-kun menutup buku saku yang ia pegang dengan keras, lalu bertanya sambil tersenyum ceria.

…Hmm, entah mengapa. Rasanya memang agak aneh.

Mestinya tidak ada yang istimewa… …tetapi setiap kali melihat Nagasaka-kun, aku jadi merasa aneh dan galau.

Ditambah lagi soal pengaturan bangku beberapa hari yang lalu, rasanya dalam beberapa hari terakhir ini kami sering sekali bertemu. Mungkin tidak dapat dibilang berlebihan, tetapi rasanya terlalu kebetulan buat sekadar kebetulan.

Meskipun bingung, aku tetap tersenyum dan menanggapi Nagasaka-kun tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bingung itu.

"Ahaha, bagus sekali. Nagasaka-kun juga naik bus?"

"Ah, aku cuma sementara. Sebenarnya, sepeda yang biasa aku pakai ke sekolah rusak."

Nagasaka-kun menggaruk pipinya sambil bilang begitu dengan raut wajah bingung.

Itu bohong… …bukan?

Aku menilai hal itu berdasarkan instingku, dan rasa curigaku pun semakin kuat.

─Mengapa Nagasaka-kun berbohong di sini, ya?

Mungkin buat membenarkan alasan Nagasaka-kun naik bus ke sekolah… …atau semacamnya? Apa ada hal yang tidak boleh orang lain ketahui?

Kalau begitu—mungkin aku terlalu peka, tetapi ini bukan sekadar alasan buat mendekatiku, bukan?

…Tunggu, mungkin aku coba cari tahu sedikit.

Ini pertama kalinya kami berdua mengobrol kayak gini, tapi mungkin ini kesempatan yang bagus. Aku akan mengamati berbagai reaksi Nagasaka-kun dan mencoba memastikan apa sebenarnya yang membuatku merasa janggal. Aku cuma mesti waspada agar tidak tampak aneh karena berlebihan.

Aku memutuskan begitu, lalu tersenyum sebelum melanjutkan.

"Wah, itu s*al sekali. Kamu mau ke mana naik bus?"

"Sampai stasiun saja. Dari sana aku naik kereta ke sekolah."

"Ah... ...eh, tetapi stasiunnya bukannya tidak terlalu jauh dari sekolah, ya? Tidak sayang ongkos kalau naik bus?"

Aku melontarkan pertanyaan enteng itu.

Jarak ke stasiun terdekat sekitar 15 menit jalan kaki. Semua orang datang dengan sepeda karena ada tempat parkir sepeda gratis, jadi tidak ada masalah kalau berjalan kaki. Buat memilih naik bus di tengah situasi kayak gitu, pasti ada alasannya.

Kalau alasan Nagasaka-kun kedengaran tidak wajar, atau ia tidak dapat menjawabnya, pasti ada sesuatu yang disembunyikan di balik itu.

Saat aku mengamati dengan saksama sambil berpikir begitu, Nagasaka-kun melanjutkan dengan senyuman kecut.

"Itu cara berpikir orang kota. Di sini, berjalan kaki pada dasarnya bukan pilihan yang dipertimbangkan."

"Eh… …benarkah begitu?"

Mendengar jawaban yang tidak terduga itu, aku mengedipkan mataku.

"Soalnya, semua orang sudah terbiasa bepergian dengan kendaraan. Bahkan ke toko swalayan yang jaraknya lima menit jalan kaki pun, mereka pergi naik mobil."

"Be-Begitu ya."

Aku… …tidak berbohong. Ah, begitu ya, di pedesaan memang ada budaya kayak gitu….

"Lagipula, kalau jalan kaki, bukannya tidak bisa sambil baca buku."

Nagasaka-kun sekilas mengangkat buku yang baru saja ia baca buat diperlihatkan padaku.

Saat melihat sampul belakangnya sekilas, aku sadar kalau itu novel karya pengarang yang dulu aku sukai.

"…Kamu suka buku?"

Tanpa sadar aku bertanya begitu, lalu tiba-tiba tersadar.

Astaga, aku bertanya dengan jujur. Kalau begini, ini cuma obrolan biasa saja.

Tetapi… …mungkin ada baiknya aku lanjutkan saja bertanya. Siapa tahu Nagasaka-kun bakalan berbohong lagi di saat yang aneh.

Nagasaka-kun menjawab sambil tersenyum.

"Yah, lumayanlah. Meskipun begitu, biasanya aku sama sekali tidak tertarik dengan label sastra kayak gini. Tetapi karena aku sedang mengikuti seri lain dari pengarang yang sama, jadi ikutan saja deh."

"Apa kamu tahu?" Tanya Nagasaka-kun sambil menyebut judulnya, dan aku menggelengkan kepalaku.

Apa ada seri kayak gitu, ya… …padahal aku belum pernah melihatnya di rak buku. Tetapi, kayaknya Nagasaka-kun tidak berbohong juga, sih….

Nagasaka-kun tersenyum masam sebelum melanjutkan.

"Yah, ini label novel ringan, sih. Tetapi sebenarnya tidak sesederhana kelihatannya."

Ah, jadi begitu ya. Itu bukan bidang keahlianku.

"Begitu ya. Aku sih, hampir tidak pernah baca buku-buku hiburan."

"Wah… …tetapi kalau boleh pilih, unsur detektif atau pertarungan akal-akalan itu yang jadi inti ceritanya, bukan?"

"Ah, benarkah? Kalau gitu, mungkin aku tertarik!"

"Nanti aku pinjamkan, ya? Aku bawa nanti."

"Eh, boleh? Kalau begitu, sebagai balasannya aku juga akan─"

…Eh, bukannya sudah aku bilang tidak boleh.

Sambil di dalam hati menegur diriku sendiri yang kembali terbawa suasana, aku mengembuskan napas pelan-pelan.

Tetapi, cara bicara Nagasaka-kun memang kayak cowok yang rajin membaca. Kayaknya Nagasaka-kun memang benar-benar suka membaca, bukan bohong.

Selain itu, cara Nagasaka-kun menanggapi dan mengobrol juga tidak ada yang aneh. Nagasaka-kun tidak berusaha mendekati secara terang-terangan atau tampak terlalu agresif kayak kebanyakan cowok lainnya.

Aku merasa ada yang aneh, tetapi… …mungkin aku salah paham saja. Mungkin aku terlalu peka.

Lagipula, ketimbang memikirkan apa yang orang-orang pikirkan di sekitarku soalku, yang lebih penting itu apa aku sendiri tampak "biasa-biasa saja" atau tidak, jadi aku tidak boleh salah memaknainya.

Justru, lebih baik memanfaatkan momen ini buat memperkuat kesan itu. Kalau begitu, obrolan yang tidak menyinggung siapapun, kayak membicarakan hobi, sangat cocok.

…Iya. Aku akan mencobanya dengan cara itu.

Tepat saat aku memutuskan hal itu, bus tiba, dan kami berdua naik ke dalam bus.

─Selama perjalanan menuju stasiun, kami menghabiskan waktu dengan membicarakan buku.

Cara bicara Nagasaka-kun sangat alami, sehingga aku tidak lagi merasa ada yang janggal.

Sejak saat itu, semuanya berjalan lancar.

Hubunganku dengan teman sekelasku dan teman seekskulku sangat baik; Aku dapat mengobrol dengan siapa saja, tetapi tidak terlalu dekat dengan siapa saja—dan aku berhasil mempertahankan posisi itu.

Meskipun masih terasa kalau aku diperlakukan secara istimewa terutama karena penampilanku, aku berusaha secara bertahap memasukkan perilaku yang mengurangi daya tarikku, jadi buat saat ini aku mesti bersabar. Tidak masalah apa ada tujuan atau tidak, karena aku itu sosok yang bagaikan udara; Jadi, sampai aku mencapai titik itu, aku akan terus berusaha tanpa lengah.

Meskipun sampai sekarang aku masih kadang bingung bagaimana cara bergaul dengan Tokiwa-kun dan Torisawa-kun… …paling tidak sampai sekarang, mereka belum menunjukkan pendekatan yang jelas padaku. Mereka berdua kayaknya tipe yang pasif, jadi kayaknya tidak akan terjadi apa-apa lagi kalau aku tidak mengambil inisiatif.

Lalu── ada Nagasaka-kun.

Nagasaka-kun kadang-kadang tampak segar dan tenang, tetapi kadang reaksinya lebai kayak sedang akting; Kadang bersikap sangat serius, tetapi tiba-tiba bertingkah kayak komedian—ia memang cowok yang agak tidak konsisten.

Tetapi, bukan cuma aku saja yang merasakannya, teman-teman sekelasku yang lainnya juga merasakan hal yang sama, jadi kalau dianggap kalau Nagasaka-kun sedang terbawa suasana karena baru masuk SMA dan kehilangan kendali diri, hal itu tidaklah aneh. Masuk ke SMA tanpa punya satu pun teman tampaknya juga memengaruhi hal tersebut.

Selain itu, rasa janggal dan aura kebohongan yang aku rasakan pada awalnya tidak lagi aku rasakan sejak saat itu, dan cara Nagasaka-kun memperlakukanku juga tidak berubah secara signifikan.

Jadi, rupanya itu memang cuma karena aku terlalu peka saja.

─Kalau terus begini, pasti.

Kalau terus begini, pasti kali ini.

Semuanya akan berjalan lancar.

Tanpa menduga apapun lagi.

Cuma terus mempertahankan diriku kayak sekarang ini, dan terus mempertahankan hubungan yang ada saat ini.

Tanpa ada yang istimewa maupun buruk, menjalani kehidupan SMA yang biasa-biasa saja, begitu saja.

Kalau terus begitu—.

Kita dapat menghindari akhir terburuk yang membuat tidak seorang pun dapat tersenyum lagi.

Kita semua pasti dapat terus tersenyum selamanya.

Iya.

Ternyata, inilah.

Di dalam kenyataan ini.

Itulah satu-satunya jawaban yang benar yang boleh aku pilih.

─Paling tidak, begitulah yang aku kira tadinya.

"Me-Mengapa…?"

─Tiba-tiba saja.

Benar-benar, tanpa ada tanda-tanda apapun.

Perasaan aneh yang aku rasakan pada Nagasaka-kun itu.

Muncul dalam bentuk yang paling buruk (surat cinta) di loker sepatuku.

….

…Mestinya tidak ada tanda-tanda kayak gitu.

Mestinya Nagasaka-kun tidak mungkin melakukan gerakan yang tidak wajar kayak gitu.

Kalau begitu, mengapa?

Mengapa─?

Justru...

"Apa... ...Nagasaka-kun benar-benar akan... mencoba... ...menyatakan cintanya padaku...?"

Kenangan masa lalu kembali muncul.

Kenyataan paling buruk yang dimulai—yang terlanjur dimulai—dari pernyataan cinta itu teringat kembali.

Sebuah rasa merinding menjalar ke sekujur tubuhku.

Tanpa pikir panjang—.

Aku melemparkan surat itu ke dalam rak sepatu di sebelahku, lalu melarikan diri dari tempat itu.

—Mengapa? Mengapa?

Berlari, berlari, melewati halte bus.

Cuma berlari tanpa henti di pinggir sungai.

Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Mestinya kali ini semuanya berjalan lancar, semuanya berjalan sesuai rencana.

"Mengapa, Nagasaka-kun…!?"

─Cowok itu.

Cowok itu…!

"Mengapa begini…! Aku akan melakukan hal yang tidak biasa, loh─!"

─Bagaimanapun juga.

Kenyataan yang dulu Kiyosato Mei hadapi,

Tidakkah itu akan membawa kita pada senyuman teman-temanku semua─?

…Sejak saat itu, perilaku Nagasaka-kun mulai menyimpang secara nyata dari yang "biasa-biasa saja".

Justru, aku dimasukkan ke dalam kelompok yang sama dengan Tokiwa-kun dan Torisawa-kun. Padahal aku sudah berhasil menghindari keanggotaan di dalam kelompok mana pun, kini aku terpaksa mesti berinteraksi dengan kelompok lain.

Bahkan, tanpa sengaja aku memancing emosi Ayumi, sampai melibatkan seluruh teman sekelasku, dan akhirnya kami terpojok sampai hampir mencapai situasi terburuk.

Di situlah, aku jadi yakin.

Di balik penampilan Nagasaka-kun yang tampak "biasa-biasa saja", ia menyimpan sesuatu yang tidak biasa.

Nagasaka-kun pasti memeluk cita-cita yang buat orang biasa cuma sebuah bahaya.

Iya—.

Seakan-akan, kayak diriku dulu.

"…Satu-satunya jawaban yang benar yakni, aku mesti tetap 'biasa-biasa saja'."

Itu saja, tidak cukup.

Itu saja, masih belum cukup.

Jadi.

"Satu-satunya jawaban yang benar yakni—membuat semua orang jadi 'biasa-biasa saja'."

Benar.

Aku sendirian saja, masih belum cukup.

Kayak diriku yang dulu.

Semua orang yang mengabaikan hal-hal biasa-biasa saja demi mengejar cita-cita mereka, pada akhirnya mesti menerima kenyataan kalau semuanya mesti kembali ke hal-hal yang biasa-biasa saja.

"Nagasaka-kun—"

Peringatan yang tidak langsung itu belum sampai pada Nagasaka-kun.

Kalau begitu—.

Satu-satunya cara agar Nagasaka-kun mengerti yakni dengan menceritakan masa lalu yang telah aku lalui.

Cuma dengan memperlihatkan gambaran masa depan yang akan datang, kita dapat membuat Nagasaka-kun menyerah.

Dan, kalau memang cuma itu satu-satunya cara—.

Tidak ada alasan buat tidak melakukannya.

"Diriku di masa lalu… …itu musuhku. Cita-cita kayak gini—Aku, sama sekali tidak akan menerimanya."

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

Bahasa Inggris / English

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama