Genjitsu de Rabukome Dekinai to Dare ga Kimeta? [LN] - Jilid 4 Epilog 1 - Lintas Ninja Translation

[Peringatan 15+]

Epilog 1
Akhir Cerita yang Ideal

Baca-RabuDame-LN-Jilid-4-Epilog-1-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

Lalu, aku...

Aku berhenti bergaul dengan mereka.

Aku berangkat ke sekolah tepat waktu, lalu menghabiskan waktuku di suatu tempat sampai bel pra-jam pelajaran berbunyi.

Selama jam pelajaran, aku cuma fokus belajar tanpa banyak bicara. Saat kerja kelompok, aku cuma mengobrol secukupnya agar tidak mengganggu, lalu menyerahkan semuanya pada teman-teman sekelasku.

Saat istirahat makan siang, aku selalu mencari tempat yang sepi buat makan sendirian. Karena akan mencolok kalau selalu duduk di bangku yang sama, aku juga pernah makan di tempat-tempat kayak bagian dalam gudang olahraga atau di belakang tempat sampah.

Aku keluar dari ekskul. Lagipula, aku memang sebentar lagi akan pensiun, dan tidak ada lagi turnamen besar yang tersisa. Dengan alasan asal-asalan kayak mau fokus belajar mulai sekarang, aku keluar dari ekskul begitu saja tanpa mengadakan Pesta Perpisahan, bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Karena kebetulan saat itu semester kedua baru saja dimulai, aku memutuskan buat menolak pencalonan kembali sebagai Ketua Kelas. Bapak Wali Kelasku, Bapak Shimo Kitazawa, memang terus-menerus menanyakan alasannya, tetapi aku menolaknya dengan alasan yang sama kayak saat keluar dari Ekskul.

Sebagian besar teman sekelasku justru menjauhiku seakan-akan itu hal yang wajar. Tetapi, beberapa orang, kayak Kamiizumi-chan, justru mengkhawatirkanku dan mencoba menyapaku.

Tetapi, karena aku merasa sikap setengah-setengah tidak ada gunanya, aku memutuskan buat mengabaikan mereka sepenuhnya.

Sebenarnya, tidak berangkat ke sekolah itu pilihan terbaik… …tetapi karena aku tidak boleh membuat Orang Tuaku khawatir, di rumah aku bersikap kayak biasanya.

Setelah setiap hari menciptakan dan menceritakan kisah-kisah yang sebenarnya tidak pernah terjadi, aku jadi sedikit lebih mahir dalam membuat cerita masa muda yang asyik.

Tetapi, novel-novel masa muda yang dulu sangat aku sukai itu, kini bahkan tidak aku buka lagi.

─Paling tidak dengan begini, tidak akan ada lagi orang yang tidak dapat tertawa karena berhubungan denganku.

Cukup dengan mengucilkan diriku yang tidak biasa dan di luar kebiasaan ini. Dengan begitu, hal itu dapat tercapai.

Kalau begitu… …tidak ada alasan buat tidak melakukannya, bukan?

Dengan pemikiran kayak gitu, aku menjalani hari-hari itu dengan penuh semangat.

─Tetapi.

Beberapa waktu berlalu, suatu hari.

"─Kami menerima laporan kalau perundungan marak terjadi di kelas ini."

Ah….

Mengapa, bisa jadi kayak gini….?

"Kalian… …kapan kalian jadi seburuk ini? Sungguh memalukan, Bapak tidak dapat berkata-kata."

Suara Bapak Shimo Kitazawa yang penuh amarah.

Suasana kelas yang mendadak hening.

"Jangan beranggapan kalau karena ini SMP terpadu, maka segalanya dapat dimaafkan. Pihak sekolah akan mengambil tindakan tegas."

─Aku...

Apa aku tidak dapat hidup tanpa berhubungan dengan siapapun?

Baik berhubungan maupun tidak.

Apapun yang aku lakukan, apa aku memang orang yang membuat semua orang menderita?

─Aku kembali melakukan kesalahan.

Dengan begini, satu lagi senyuman dari kami semua pun lenyap.

Pada waktu yang sama, muncul obrolan soal mutasi Ayah.

Kali ini, mutasi Ayah ke Kota Kyokoku, tempat asal Ayah. Aku memang tidak begitu paham soal pekerjaan Ayah, tetapi kayaknya ini dapat dibilang sebagai sebuah kenaikan pangkat.

Dalam rapat keluarga, obrolan berjalan dengan asumsi kalau cuma Ayah yang akan pindah sendirian—.

"Aku juga… …mau ikut."

Iya, aku sangat menginginkannya.

Orang Tuaku terkejut mendengar usulku, dan mereka mencoba mencegahku dengan bilang kalau tidak perlu memaksakan diriku padahal aku sudah bersekolah di SMP yang menawarkan program pendidikan terpadu.

Tetapi, karena hal ini merupakan satu-satunya hal yang tidak dapat aku kompromikan, aku mengarang segala macam alasan demi meyakinkan mereka.

Akhirnya, kami sekeluarga tinggal menyewa kamar di rumah Kakek-Nenek, yakni Orang Tua Ayah, dan aku pun mengikuti Ujian Masuk SMA setempat.

─Syukurlah.

Dengan begini, kita tidak perlu lagi merepotkan semua orang.

Kalau akar dari segala masalah itu hilang, maka tidak perlu lagi memukul pengkhianat yang mengadu ke Bapak-Ibu Guru, atau saling menyalahkan satu sama lainnya dengan mengatakan si anu yang salah; Semuanya itu tidak akan diperlukan lagi.

Semua orang pasti akan kembali kayak semula, jadi orang-orang yang ceria dan ramah.

Kita dapat menganggap semuanya tidak pernah terjadi, dan memulai kembali di SMA.

"Kelas IX-A itu, bukan, sudah hancur berantakan?" "Itu akibat perbuatan mereka sendiri. Perundungan itu terlalu bodoh." "Mereka tidak punya sopan santun, ya. Mereka cuma saling menjatuhkan," "Nilai mereka juga anjlok," "Katanya karena situasinya terlalu parah, tahun depan mereka bakalan dipisahkan," "Eh, berarti kita mungkin bakalan sekelas lagi?" "Wah, aku mohon jangan. Aku tidak mau berhubungan dengan anak-anak bermasalah," "Mendingan kita jauhi saja. Nanti kebodohannya menular," "Sepakat!"

─Obrolan dari kelas lain kedengaran samar-samar.

─….

Bagaimana, ya….?

Aku, ini… …sebenarnya, mesti berbuat apa….?

Lalu─.

Aku, sampai akhir.

Tanpa dapat memilih, apa akan melakukan sesuatu atau tidak melakukan apa-apa.

Tanpa pernah melihat saat-saat ketika semua orang tertawa dari hatiku.

Aku meninggalkan SMP Swasta Akademi Akagawa.

…Suatu hari nanti.

Aku dulu berbincang dengan Mi-chan, hari-hari yang kayak novel remaja itu—.

Karena terus mengejar cita-cita dan cuma melakukan pilihan terbaik yang dapat aku lakukan.

Akhirnya, segalanya berakhir dengan akhir yang paling buruk.

—Aku berpikir keras.

Apa yang mesti aku lakukan selanjutnya, pikirku.

Kalau begini terus, meskipun aku pindah ke sekolah baru, tidak akan ada yang berubah.

Suatu saat nanti, mungkin aku akan kembali menghadapi akhir yang sama.

Tetapi, kalau ikut campur pun tidak bagus, tidak ikut campur pun tidak bagus.

Kalau cuma dengan kehadiranku di sana saja, semuanya jadi berantakan,

Maka, bagaimanapun juga….

"…Andai saja aku bukanlah diriku sendiri."

Di kamar tidur yang gelap gulita, gumaman tidak bermakna itu bergema.

─.

─…?

"Andai saja aku bukanlah diriku sendiri─"

─Ah.

Benar juga. Apa jangan-jangan?

Apapun yang dilakukan, jangan pernah berusaha sekuat tenaga.

Lakukanlah dengan santai, sesekali menyerah, dan kadang-kadang membuat pilihan yang kurang tepat.

Jangan menonjol, jangan memaksakan pendapat, dan jangan pernah jadi Pemimpin.

Aku tidak bergabung dengan kelompok teman dekat mana pun, melainkan memperlakukan semua orang dengan jarak yang sama, dan cuma berada dalam hubungan yang tidak terlalu penting—ada atau tidak ada, sama saja.

Apalagi, sahabat—aku sama sekali tidak akan punya itu.

Aku tidak memilih yang terbaik.

Aku tidak mengejar cita-citaku.

Aku tidak setia pada diriku sendiri.

─Benar juga.

Orang-orang biasa tidak dapat menerima hal itu karena itu merupakan cita-cita yang tidak biasa.

Maknanya. 

Agar semua orang dapat tertawa─.

"Aku─ ─"cukup" jadi 'biasa' saja."

Apa-apaan ini….?

Ternyata mudah saja.

Kalau cuma dengan begitu saja, semua orang dapat tertawa lagi.

Kalau semua orang tidak akan jadi sengsara karenaku—.

"Tidak ada alasan buat tidak melakukannya… ...bukan?"

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

Bahasa Inggris / English

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama