Genjitsu de Rabukome Dekinai to Dare ga Kimeta? [LN] - Jilid 4 Bab 4 - Lintas Ninja Translation

[Peringatan 15+]

Bab 4
Ajang Festival Budaya yang Sebenarnya

'Oke—Festival Budaya SMP Swasta Akademi Akagawa ke-44! Mari kita mulai!'

Teng, teng, teng, teng!

Seiring dengan pernyataan pembukaan dari Ketua OSIS, suara letusan petasan dan konfeti berhamburan dari segala penjuru.

Menyusul hal itu, sorak-sorai siswa-siswi menggetarkan Gimnasium.

Hari H Festival Budaya—.

Di tengah kemeriahan yang memuncak, aku diam-diam menghembuskan napas lega.

…Sepekan terakhir ini benar-benar hari-hari yang penuh gejolak.

Meskipun masalah pemesanan akhirnya dapat diatasi, kali ini mesin jahit rusak sehingga pengerjaan kostum tertunda, ditambah lagi terjadi perselisihan soal tata letak ruang kelas, sehingga masalah bermunculan secara tiba-tiba. Buat bagian Teater pun, baru kemarin dalam gladi resik kami berhasil menuntaskan seluruh adegan dari awal sampai akhir.

Hampir saja, memang benar-benar di ujung tanduk, tetapi akhirnya kami berhasil mencapai hari ini.

Jujur saja, semua orang sudah kelelahan menjelang pertunjukan, dan aku pun tertekan sampai-sampai bahkan di dalam mimpi pun masih memberikan instruksi, jadi kami memutuskan buat menunda Pesta Perayaan sampai nanti. Aku yakin, setelah ini tuntas, aku akan merasa kayak zombi buat beberapa waktu.

Saat aku melamun memikirkan hal-hal kayak gitu di tengah keramaian, pandanganku tertuju pada Zomu-kun yang sedang bercanda dengan teman-teman cowok sekelas kami. Tidak jauh dari sana, aku juga melihat Mi-chan yang sedang berdiskusi dengan anggota Tim Kostum.

…Lalu, di belakang sana.

Ada juga Oomori-kun yang sendirian, menyilangkan tangannya sambil bersandar di tembok.

─Belakangan ini, selain buat kerja sama Festival Budaya, aku tidak mengobrol dengan anggota grup lainnya.

Memang ada alasan karena aku sibuk, tetapi alasan utamanya itu karena aku mau menjaga jarak sebisa mungkin.

…Kalau perasaan yang aku rasakan sepulang sekolah hari itu memang salah, itu tidak apa-apa.

Tetapi, kalau ternyata memang benar, yang menanti di depan cuma masa depan yang menyedihkan, di mana tidak seorang pun dapat tersenyum.

Aku memang mesti memikirkan cara mengatasinya, tetapi saat ini aku tidak punya waktu luang buat memikirkannya. Di dalam situasi kayak gitu, aku tidak tahu bagaimana mesti bersikap pada semua orang, sampai-sampai akhirnya aku memilih buat menghindar.

Bagaimanapun juga, kami tidak dapat melibatkan seluruh kelas di dalam masalah kami. Kalau sampai terjadi masalah besar, seluruh usaha yang telah kami lakukan selama ini dapat sia-sia.

Saat ini, kesuksesan Festival Budaya merupakan hal yang paling penting, jadi kami terpaksa menunda urusan kami sendiri.

Lagipula—tidak apa-apa. Oomori-kun pasti tidak akan melakukan hal-hal ceroboh di Festival Budaya ini.

Oomori-kun itu bukan tipe orang yang terpengaruh oleh suasana yang riuh, dan ia pasti tahu kalau tidak ada gunanya bertindak sembarangan.

Euh…

Bukan cuma tidak akan mendapat apa-apa, tetapi Oomori-kun pasti tidak akan membuat pilihan yang cuma akan membuatnya kehilangan sesuatu.

'─Oke, setiap kelas, silakan mulai persiapan. Mulai dari siswa-siswi Kelas VII, silakan menuju pintu keluar─.'

Sambil mendengarkan pengumuman yang mengalir dari pengeras suara, aku menepuk kedua pipiku dengan keras.

Waktu penyelenggaraan Festival Budaya yakni pukul 09.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Dari waktu tersebut, sampai pukul 14.00 siang merupakan waktu beroperasinya kios-kios, sedangkan tiga jam sisanya diisi dengan pertunjukan panggung yang dihadiri seluruh siswa-siswi di Gimnasium.

Ajang kami pada dasarnya tidak terbuka buat umum, jadi penontonnya cuma siswa-siswi dari kelas dan angkatan lainnya.

Siswa-siswi itu juga masing-masing punya pertunjukan dari kelas atau ekskul mereka sendiri, sampai-sampai mereka mengatur waktu luang dengan baik buat mengunjungi kelas lainnya. Makanya, masalah kayak kerumunan yang padat di kios-kios pada jam makan siang—di mana orang-orang berkumpul secara bersamaan—secara sistematis itu sulit terjadi.

…Iya.

Mestinya hal ini tidak mudah terjadi.

"Hah, krim segarnya kurang!? Bukannya ada stok di kulkas!?" "Sudah habis semua, kataku!" "Lagipula, meringue-nya juga sama sekali kurang!" "Alat tambahan belum datang juga, ya!" "Aduh, s*alan! Adonannya sama sekali tidak mengembang!" "Ketimbang itu, pesanan sudah sampai mana!? Sampai mana yang sudah tuntas!?" "Mengapa pesanan tiba-tiba bertambah banyak begini!?" "Lagipula, panas banget, AC-nya rusak apa sih!"

─Dengan kesuksesan yang jauh melampaui perkiraan, dapur kedua buat kafe maid Kelas IX-A jadi sangat sibuk.

Tampaknya, upaya buat membedakan diri dari kelas lainnya dengan lebih fokus pada makanan dan minuman justru jadi bumerang.

Sama kayak aku yang kesulitan mengurus permohonan, makanan yang perlu dimasak memang sulit ditangani. Karena seluruh kelas enggan melakukannya dan memilih menyediakan produk siap saji, tampaknya situasi ini membuat orang-orang cuma dapat datang ke tempat kami kalau mau menikmati makanan yang layak.

Sekarang pukul 11.00 pagi. Kalau masih kayak gini sebelum siang, sistem pasti akan ambruk saat jumlah pengunjung agak bertambah.

"Zomu-kun dan yang lainnya sedang menyiapkan peralatan tambahan, jadi tahan sebentar lagi! Gunakan hot plate berdua secara bersamaan buat menghemat waktu! Cowok-cowok yang sedang tidak sibuk, fokuslah membuat krim kocok dan meringue! Jangan terburu-buru saat memanggang panekuk karena dapat gagal, jadi tetap tenang! Buat saat ini, prioritaskan penyajian minuman dulu!"

Sementara itu, aku sendiri, masih mengenakan seragam pelayan, terus-menerus memberikan instruksi tanpa henti.

Mestinya, pada jam ini kami sedang melakukan penyempurnaan buat pertunjukan drama. Tetapi, karena kekurangan tenaga, seluruh anggota kelas bekerja penuh buat menjaga agar toko ini tetap berjalan.

"Mei, maaf! RINE datang dari ruang kelas buat membantu!"

Lalu, Mi-chan, yang bertugas membantu mengenakan seragam sekaligus jadi penghubung, mengintip dari dalam dan berteriak.

"Oke, oke! Aku pergi dulu ya!"

Saat aku menjawab, aku langsung berlari keluar dari dapur.

Di lorong yang tidak ber-AC, udara panas terasa pengap, dan keringat mengalir menuruni pipiku.

Kayak yang seseorang bilang tadi, hari ini memang panas sekali… …Mungkin aku merasa begitu karena mengenakan seragam maid.

Sambil menyeka keringat di tanganku, saat sampai di lantai atas tempat ruang kelas berada, barisan yang membentang panjang langsung menarik perhatianku. Jelas sekali barisan itu berasal dari Ruang Kelas IX-A, jadi pasti semuanya merupakan tamu kami.

Wah, ini benar-benar sudah melebihi kapasitas… ...antreannya bahkan sudah sampai ke ujung lorong.

Kalau dilihat-lihat, di dalam ruang kelas juga kedengaran riuh.

Dengan firasat buruk, aku menyapa Mattsun yang sedang mengatur antrean di pintu masuk.

"Aku sudah datang! Ada apa?"

Menanggapi panggilanku, Mattsun berbalik sambil mengibaskan rok seragam maidnya.

"Me-Mei…!"

Wajah Mattsun tampak sangat pucat, sehingga aku kaget dan bertanya kembali.

"A-Ada apa!? Apa ada masalah!?"

"Bagian dalamnya sudah tidak tahan lagi! Mesti segera diatasi…!"

Lenganku ditarik dengan keras, lalu aku langsung dibawa ke arah pintu masuk.

Saat aku melirik ke dalam ruang kelas dari sela-sela antrean—.

"Hei, kami sudah menunggu 20 menit, loh!" "Ma-Maaf!" "Buruan dong, aku mau giliran berikutnya!" "Tolong tunggu sebentar lagi!" "Lagipula, kalian sama sekali tidak kayak maid!" "Ini penipuan, penipuan!" "Berikan layanan yang lebih baik!" "Kembalikan uangku!" "Panggil Penanggung Jawabnya!"

Ruangan itu riuh dengan keluhan yang bertebaran dan semua orang yang terus-menerus meminta maaf.

"Ah, Me-Mei!"

Lalu, cewek yang bertanggung jawab di lantai itu—Fujimi Rio-chan—berlari menghampiri kami.

"Bagaimana ya, sejak tadi situasinya sama sekali tidak dapat dikendalikan…"

Saat aku lihat, air mata menggenang di mata Fujimi-chan.

Fujimi-chan itu Pemimpin Kelompok Cewek terbesar di Kelas IX-A, sekaligus penggagas kafe maid.

Kekompakan Kelompok Fujimi-chan memang sangat kuat, dan di dalam pertarungan kelompok kayak gini, mereka selalu mendukung kelas dengan kerja sama tim yang luar biasa. Makanya, aku kira kali ini pun kami dapat melewatinya… …tetapi kayaknya kekacauan ini sudah melampaui kemampuan mereka buat mengatasinya.

"Tenang saja, tidak usah panik! Tetapi mengapa tiba-tiba jadi begini...?"

Paling tidak, saat aku datang tadi, situasinya belum separah ini. Memang penuh, tetapi mestinya masih dapat ditangani—eh?

"Apa jangan-jangan, kalian menambah bangku!?"

Ternyata, ada beberapa bangku tambahan yang cuma berupa deretan meja. Tentu saja ada orang yang duduk di sana, dan ruang kelas pun penuh sesak dengan pelanggan yang sedang menunggu pesanan.

"I-Itu karena antreannya tidak dapat ditangani..."

Oh, begitu ya…! Jadi makanya itu pesanan tiba-tiba meningkat!

Mungkin mereka menambah bangkunya berdasarkan penilaian di lapangan, tetapi menambah jumlah bangku tanpa pertimbangan yang matang itu memang langkah yang keliru.

Ada batas kemampuan kami dalam memberikan layanan, dan yang terpenting, jelas kalau kami tidak dapat menangani semua pesanan, jadi demi menghindari kekacauan yang tidak perlu, aku sengaja tidak memberikan instruksi buat menambah bangku.

Tetapi, kegagalanku yakni tidak menyampaikan alasan tersebut dengan jelas. Karena terlalu sibuk, aku belum sempat memikirkan hal itu…!

"Bagaimana keadaan pesanan sekarang!?" "Lagipula, urutannya berantakan!" "Siapa!? Mengapa tidak mengikuti aturan!" "Meskipun kamu bilang begitu…" "Aku sudah tidak tahan lagi…!" "Cukup sudah, ini mustahil!"

Semua orang di dalam kios benar-benar panik, dan bahkan jawaban yang mestinya sudah dilatih pun tidak dapat mereka sampaikan dengan baik.

Bahkan, pada saat mereka dengan terang-terangan mengeluh kayak gitu, citra kios sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

"Bagaimana nih, bagaimana nih…!"

Fujimi-chan pun kehilangan kemampuan kepemimpinannya yang biasanya, dan cuma dapat kebingungan saja.

Aku berpikir sejenak—.

"─Oke. Aku yang akan mengulur waktu."

Aku memutuskan kalau itulah satu-satunya cara.

"Eh…?"

Sambil mengikat kembali ikat pinggangku, aku memberi instruksi pada Fujimi-chan yang sedang menatapku dengan tatapan bingung.

"Penyebab utama kekacauan ini yakni keterlambatan proses memasak. Tetapi saat ini kapasitas kita sudah melebihi batas, jadi bagaimanapun juga kecepatan penyajian tidak dapat ditingkatkan. Sampai sistem produksi tambahan siap, kita mesti mencari cara buat menahan situasi ini."

"Eh? Eh?"

"Fujimi-chan, kumpulkan semua orang dan atur pesanan. Urutkan berdasarkan prioritas mulai dari minuman yang paling cepat disajikan, lalu sampaikan ke dapur. Di sini, cukup tinggalkan anak-anak yang bertugas mengatur antrean dan kasir saja, ya."

"Tung-Tunggu sebentar, Mei!"

Fujimi-chan berseru dengan nada yang menunjukkan kebingungan yang luar biasa.

"Mak-Maksudnya, 'mengulur waktu' itu, apa...?"

Seakan-akan buat menguatkan tekadku, aku mengikat tali seragam maid itu dengan erat—.

"—Aku akan melewati ini dengan mengikuti aturan kafe maid."

"Selamat datang kembali~♥ Tuan, Nona♥”

Begitu.

Dengan suara manja yang seakan-akan baru pertama kali aku ucapkan seumur hidupku, aku berdiri tegak di tengah ruang kelas.

Ruang kelas mendadak sunyi sepi, dan semua perhatian tertuju padaku.

Oke….

Tanpa ragu-ragu, aku mengangkat kedua ujung rokku, lalu sambil tersenyum lebar, aku membungkuk sedikit dengan bertumpu pada ujung jari kakiku.

"Hari ini~♥ Makasih telah berkunjung ke Kafe Maid Kelas IX-A♥"

Lalu, dengan suara 'Pacchin♥', aku melemparkan kedipan mata paling menggoda yang pernah ada.

Melihat serangan lanjutan itu, para pengunjung pun bersorak-sorai.

"Wah, wah…?" "Eh, tunggu, apa jangan-jangan itu Kiyosato…?" "Itu Mei-chan…! Ternyata Mei-chan benar-benar jadi maid!" "Wah, akhirnya bintang utamanya muncul di sini!"

Ahaha, sesuai rencana, sesuai rencana….

Eh, iya, kalau dipikir-pikir lagi, ini memang cukup memalukan.

Sambil berusaha mendinginkan pipiku yang memerah dengan segenap tekad, aku melanjutkan.

"Sekarang~, Mei-chan akan memulai 'Turnamen Batu-Gunting Moe-Moe♥' dengan kalian~♥"

"Wah!" Teriakan menggema.

"Buat yang berhasil bertahan sampai akhir~♥, aku akan memberikan karamel seni istimewa yang dipenuhi dengan cinta dari Mei-chan~♥ dan foto berdua yang manis, sebagai hadiah, meong♥"

Sambil bilang begitu, kedua tanganku membentuk tangan kucing, kaki kananku agak terangkat, dan roknya berkibar-kibar, aku pun berpose dengan sempurna.

Baca-RabuDame-LN-Jilid-4-Bab-4-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

─.

Wah! 

"Su-Suko! Suko-ko-ko-ko!" "Hah? Daya rusaknya terlalu tinggi, nih??" "I-Ini dia, maid cantik nomor satu di sekolah…!" "Jadilah istriku!" "Maksudku, roknya terlalu pendek banget!" "Serangan karpet yang mengagumkan!" "Apa aku boleh sentuh!? Boleh disentuh, bukan!?"

"Ahaha~♥ Jangan sentuh sekalipun, ya♥"

Dan video! Jangan rekam videonya! Aku mohon!

Sambil berteriak di dalam hatiku, aku menjalankan tugasku.

"Oke, kalau begitu, Tuan dan Nona yang mau ikut, angkat tangan kalian~♥"

"""""""""Aku!"""""""""

Ahaha, ahaha.

Hah….

…Tugas orang-orang yang berprofesi di bidang ini pasti sangat berat, ya….

─Begitulah.

Setelah berhasil meredakan kekacauan dan situasi mulai membaik sampai antrean mulai berkurang, aku pun keluar dari ruang kelas.

Di ruang ganti, aku berganti kembali ke seragam, lalu dengan kepala yang sudah benar-benar kosong, aku bersandar lemas di bangku.

"Eh... ...bagaimana ya, makasih sudah bekerja keras."

Dari Mi-chan yang tampak sangat canggung, aku menerima ucapan terima kasih dan minuman olahraga.

Alasan mengapa aku merasa canggung yakni, karena aku kebetulan ketahuan sedang mengucapkan "Semoga enak~♥" dengan segenap jiwa dan raga. Sungguh menyakitkan.

"Yah… …kalau dengan begini aku dapat melewatinya, itu harga yang murah. Lagipula, kalau cuma memberi perintah dengan sok tahu, aku tidak layak jadi Penanggung Jawab."

"…"

Meskipun banyak hal yang hilang, krisis sudah berlalu.

Kegiatan kios-kios sudah mendekati akhir, dan selanjutnya yakni Pertunjukan Drama setelah menyegarkan pikiranku.

Aku menghembuskan napas panjang sambil bilang, "Fiuh," lalu menepuk lututku dengan keras dan berdiri.

"Oke. Kalau begitu, aku pergi melakukan persiapan terakhir dulu. Tolong jaga kiosnya, ya!"

"…Iya."

Setelah memastikan Mi-chan mengangguk, aku bergegas menuju Gimnasium tempat ajang berlangsung.

Karena mesti memindahkan properti besar yang akan digunakan di atas panggung, pertunjukan Drama biasanya ditempatkan di bagian awal ajang.

Di antara semuanya, giliran kami yakni yang pertama. Karena sebagai penampil pembuka, kami dapat mendapat waktu persiapan yang agak lebih lama, jadi kami meminta anggota Pengurus OSIS buat mengatur jadwalnya demi hal itu.

Tersisa satu jam lagi sampai waktu dimulainya Pertunjukan Panggung. Sampai saat itu, aku mau menuntaskan penyesuaian terkait penampilan sebisa mungkin. Berdasarkan hasil gladi resik, aku masih merasa cemas dengan adegan panjang yang Mattsun perankan, jadi mungkin ada baiknya aku fokus membantu bagian itu….

Sambil memikirkan alurnya, aku memasuki Gimnasium dan langsung menuju ke belakang panggung.

"Maaf, sudah lama menunggu!"

Di belakang panggung yang remang-remang, para pemeran sudah berkumpul. Mereka semua tampak tegang, ada yang menatap naskah dengan cermat, ada yang mengulas kembali adegan yang telah dilatih, dan tampak tidak tenang.

"Hei, Kantoku… …eh, tunggu, cuma Mei aja? Matsubara mana?"

Zomu-kun langsung menyapaku saat melihatku. 

"Eh, Mattsun belum datang?"

"Iya nih. Aku kira Matsubara pasti datang bareng Mei."

Eh, aneh juga. Mestinya istirahat Mattsun sudah lama tuntas.

Saat aku sedang sibuk, aku biasanya meminta Mattsun buat mengatur antrean, tetapi karena aku kira dia pasti juga ingin berlatih, aku menyuruhnya istirahat lebih awal. Kalau dipikir-pikir lagi, sejak saat itu aku tidak melihat Mattsun lagi.

Mungkin Mattsun tidak lupa waktu berkumpul… ...mungkin aku akan pergi mencarinya sebentar.

"Ah, kayaknya Matsubara datang. Hei, Matsubara!"

Sebelum aku sempat bergerak, Zomu-kun sudah bilang begitu sambil melambaikan tangannya.

Ah, syukurlah. Ternyata Mattsun cuma agak terlambat saja.

Aku menoleh ke belakang, melihat Mattsun yang sedang menaiki tangga kecil menuju panggung.

"Eh…?"

…Tetapi.

Entah mengapa, ada yang aneh dari gerakan Mattsun.

Padahal cuma tiga anak tangga saja, tetapi setiap langkah Mattsun terasa berat, dan dia berjalan sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding seakan-akan buat menopang berat badannya.

─Begitulah pikirku, sesaat setelah itu.

Tubuh Mattsun tiba-tiba terhuyung.

"…Matsun!?"

Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari dan menopang tubuh Mattsun yang tergelincir dan bersandar di dinding dari samping.

"Mattsun! Ada apa!?"

Wajah Mattsun pucat.

Dan meskipun cuaca sangat panas, Mattsun sama sekali tidak berkeringat.

Maknanya—.

"Mattsun terkena serangan panas…! Zomu-kun, tolong bantu aku! Mari kita ke UKS!"

"Ah, oke!"

Aku memanggil Zomu-kun dengan suara keras, lalu menopang bahu Mattsun yang terhuyung-huyung.

"...Aku baik-baik saja…"

"Bodoh! Mustahil kamu baik-baik saja! Mengapa, bisa sampai jadi kayak gini…!"

Sejak kapan!? Saat Mattsun sedang mengatur antrean tadi─.

Saat mengingat pemandangan saat itu, bulu kudukku merinding.

─Apa jangan-jangan, tadi, wajah Mattsun tampak pucat?

Aku menepuk kakiku dengan keras.

Bodoh….

Aku, benar-benar bodoh!

Mengapa, aku tidak menyadarinya saat itu─!

Dengan cuaca panas begini, ditambah lagi dengan seragam maid yang tidak biasa Mattsun kenakan. Belum lagi mesti mengatur antrean di lorong yang AC-nya tidak berfungsi. Jadwal padat berhari-hari pasti sudah menguras tenagaku, ditambah lagi rasa gugup menjelang pertunjukan. Tidak heran kalau Mattsun jadi sakit.

Sungguh buruk… …sungguh buruk.

Hal kayak gini, sama sekali tidak lucu!

"Aku yang akan menggendong Matsubara! Yuta, tolong bantu aku!"

Aku menaikkan Mattsun ke punggung Zomu-kun yang berlari menghampiri, lalu memintanya buat membawa Mattsun ke UKS.

Di antara teman-teman sekelas yang tersisa, kegalauan pun menyebar dengan cepat.

"A-Apa yang mesti kita lakukan!? Tanpa pemeran utama, kita tidak dapat mementaskan Drama ini!" "Apa Mattsun dapat sembuh dalam satu jam lagi…?" "Lagipula, kalau Mattsun tidak sembuh juga bagaimana? Eh, apa Mattsun bakalan mundur?" "Mustahil… …buat apa kita sampai sejauh ini…!" "Siapa sih yang membuat Mattsun kerja sampai begini!?" "Entahlah. Lagian, jangan teriak-teriak!"

Prok!

"Tenanglah!"

Aku langsung menepuk tanganku sekali, buat menenangkan kegalauan mereka.

─Di sini, aku tidak boleh ikut panik.

Pokoknya, lakukan apa yang dapat dilakukan.

Kita cuma dapat mengambil pilihan terbaik yang dapat dilakukan saat ini.

Aku memastikan semua orang sudah tenang, lalu perlahan mulai bicara.

"…Pokoknya, buat saat ini, mari kita tunggu sampai Mattsun pulih dulu. Kalian semua terus lakukan penyesuaian agar siap kapan pun Mattsun kembali. Terutama dalam hal strategi bertarung."

Seakan-akan sedang meyakinkan diriku sendiri, aku bicara secara teratur.

"Nanti aku akan menanyakan kabar ke Ibu Guru, jadi kita putuskan langkah terakhirnya saat itu."

"La-Lalu apa yang mesti kita lakukan… …Kalau tidak bisa, berarti kita mesti menyerah!?"

Seseorang berteriak kayak gitu.

Aku menutup mataku dan mengatur napasku.

─Pada tahap ini, mengganti pemeran itu mustahil.

Semua orang sedang sibuk mempersiapkan peran masing-masing, dan tidak ada yang hafal dialog orang lain. Apalagi Mattsun itu pemeran utama, yang hampir selalu tampil di panggung. Situasinya sangat berbeda dengan pemeran pendukung yang cuma muncul di dalam satu adegan.

Tentu saja, ini bukan masalah yang dapat diselesaikan cuma dengan sedikit penyesuaian naskah, dan pertunjukan ini mustahil berlangsung tanpa pemeran utama.

Maknanya….

Kita benar-benar terjebak.

"Apa jangan-jangan?"

─Tidak.

Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Lagipula… …kita semua sudah berusaha keras sampai sejauh ini. Kalau kita menyerah di sini, semuanya akan sia-sia.

Mattsun pasti akan merasa bersalah dan terluka, dan usaha keras semua orang tidak akan terbayar, sehingga Festival Budaya ini akan berakhir dengan rasa tidak puas.

Hal kayak gitu, itu tidak lucu sama sekali.

Sama sekali tidak lucu, dengan begitu tidak ada seorang pun yang dapat tertawa.

Jadi—aku tidak akan menyerah.

"Kalau kondisi kesehatan Mattsun tidak membaik—"

Iya, cuma itu saja.

Demi mereka semua, kalau memang mesti begitu─.

Tidak ada alasan buat tidak melakukannya, bukan?

"─Aku. Akan melakukannya sebagai gantinya."

30 menit kemudian, di Ruang UKS.

"─Sekarang Matsubara sudah jauh lebih tenang. Matsubara sedang tidur di ranjang di sana."

"Begitu ya. Syukurlah…"

Setelah mendengar kata-kata itu dari Ibu Guru Dokter UKS, aku pun merasa lega.

"Tetapi, buat berjaga-jaga, sebaiknya Matsubara diperiksa di rumah sakit. Ibu sedang menghubungi Orang Tua Matsubara agar mereka datang menjemputnya."

"…Memang begitu, ya."

Aku mengepalkan tanganku dengan erat di atas lututku.

Aku memang sudah curiga, tetapi ternyata Mattsun memang masih belum dalam kondisi yang memungkinkan buat segera kembali, ya.

"…Kiyosato, Bapak tidak mau kamu menimbulkan masalah."

Bapak Wali Kelasku, Bapak Shimo Kitazawa, yang berdiri di sudut ruangan sambil menyilangkan tangan beliau, bilang begitu dengan raut wajah yang masam.

"Bapak mempercayai dan menyerahkan tugas ini padamu karena kamu bilang dapat menyeimbangkan di antara kios dan drama. Kalau hal kayak gini terjadi, Bapak tidak dapat lagi bilang hal yang sama di masa depan."

(TL Note: Ya gapapa Pak, udah kelas IX ini.)

"…Iya. Maafkan aku."

"Sudahlah, Bapak Shimo Kitazawa. Hal kayak gini memang sering terjadi di musim kayak gini."

Ibu Guru Dokter UKS itu memang mencoba menenangkan Bapak Shimo, tetapi kenyataannya aku memang telah melakukan kesalahan yang mengecewakan kepercayaan beliau.

Bahkan mengenai pekerjaan ganda kali ini, sejak awal Bapak Shimo sudah khawatir akan timbul masalah. Karena akulah yang memaksakan diriku dengan bilang kalau akan mengatasinya sendiri, wajar saja kalau beliau marah.

Bapak Shimo Kitazawa menghembuskan napas dengan berat, lalu membuka mulut beliau.

"Pokoknya, kembalilah sekarang. Kami Bapak-Ibu Guru yang akan mengurus Matsubara di sini."

"Iya… …Kalau begitu aku permisi."

Aku menundukkan kepalaku sekali lagi sebelum keluar dari Ruang UKS.

"─Bagaimana keadaan Matsubara? Kayaknya bisa, bukan?"

Zomu-kun, yang sudah menunggu di luar sejak tadi, bertanya dengan raut wajah cemas.

Aku menggelengkan kepalaku tanpa bilang apa-apa.

"Ah, begitu ya… …Eh, tidak usah terlalu dipikirkan, ya. Ini bukan salah Mei, kok."

Bahkan, Zomu-kun sampai mengucapkan kata-kata yang sangat penuh perhatian.

…Makasih, Zomu-kun.

Tetapi perhatian kayak gitu, terlalu berlebihan buatku.

"Sebenarnya, penyebab utamanya ada padaku. Aku yang menyuruh Mattsun bekerja, dan aku juga yang tidak menyadarinya. Nanti, aku mesti pergi meminta maaf pada Orang Tua Mattsun juga."

"Hei, Mei—"

"Tidak apa-apa, makasih, ya."

Aku tersenyum seakan-akan tidak mempermasalahkan hal itu, lalu melanjutkan.

"Bagaimanapun juga, sekarang mari kita lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan. Kalau kita biarkan ini berakhir begitu saja, itu baru benar-benar tidak pantas terhadap Mattsun."

Zomu-kun mengerutkan keningnya dengan raut wajah seakan-akan mau bilang sesuatu.

Karena tidak ada satu pun ruangan di sekitar sini yang digunakan sebagai kios, tempat itu terasa sunyi, seakan-akan terpisah dari keramaian Festival Budaya.

Sambil berjalan, aku menjelaskan pada Zomu-kun kalau aku akan menggantikan Mattsun serta rencana selanjutnya.

"—Begitulah kira-kira. Koordinasi dengan yang lainnya sudah dikonfirmasi, tinggal dengan Zomu-kun saja. Meskipun kita belum pernah berlatih bersama dan kamu mungkin khawatir, aku akan berusaha sebaik mungkin."

"…Ah, ini Mei, jadi aku tidak khawatir sama sekali soal itu. Soal itu sih."

Zomu-kun menjawab dengan ekspresi yang masih tampak tidak puas.

Itu bukan gaya bicara Zomu-kun yang biasanya, cara bicara yang penuh makna. Aku memang sudah tahu kalau Zomu-kun khawatir, tetapi kalau terus kayak gini, kayaknya akan mengganggu masa depan kami.

Saat aku sedang bingung apa aku mesti bilang sesuatu, tiba-tiba Zomu-kun berhenti.

"Eh… …mungkin ini memang bukan saat yang tepat buat bertanya, tetapi…"

Saat aku lihat, wajah Zomu-kun tampak sangat serius. Di mata Zomu-kun, tampak semacam tekad yang seakan-akan menunjukkan kesiapan.

Aku merasa ada firasat buruk, lalu bersuara buat menghentikan obrolan itu.

"Zomu-kun, mari kita segera kembali, ya? Semua orang sedang menunggu kita."

"…Kalau begitu, entahlah kapan kita dapat mengobrol lagi. Bukannya selama ini kamu terus-terusan menghindariku."

Aku kaget dengar kata-kata itu.

…Ternyata Zomu-kun sudah menyadarinya. Padahal, aku mestinya sudah berusaha agar Zomu-kun tidak curiga.

Mungkin karena kegalauan hatiku terbaca, Zomu-kun mendecakkan lidahnya dengan nada kesal, "Cih."

"Ternyata… …hari itu. Apa kamu dikritik oleh Asahi?"

─Deg-deg, begitu.

Jantungku berdebar kencang.

"Hari… ...itu?"

"Bukan… …yang baru-baru ini. Saat ada kesalahan pemesanan di Kamiizumi, sepulang sekolah."

"…!"

"Sebenarnya aku memang bawa camilan, tetapi... entah mengapa Mei tiba-tiba berlari keluar dengan sangat cepat."

Mustahil… …apa jangan-jangan aku ketahuan?

Mustahil. Aku sama sekali tidak melihat sosok Zomu-kun di mana pun, dan aku juga tidak ingat pernah berpapasan dengannya di lorong… ...memang tidak, tetapi, ah iya. Aku memang tidak memeriksa sampai ke sisi seberang, jadi mungkin aku tidak dapat memastikan dengan pasti….

Zomu-kun mengembuskan napas sekali sambil bilang, "Hah," lalu melanjutkan.

"Lagipula, meskipun aku tanya ke Asahi, ia juga tidak bakalan jawab apa-apa. Jadi… …eum, aku jadi kepikiran, apa Asahi tidak ngomong hal-hal aneh gitu?"

Saat aku paham makna dari "Hal-hal aneh" itu, punggungku langsung merinding.

"…Tidak ada apa-apa, kok? Kami cuma mengobrol biasa saja. Kalau Oomori-kun tidak ngomong apa-apa, mungkin karena memang tidak ada yang perlu diobrolkan."

Sambil menahan detak jantungku yang berdebar kencang tanpa dapat dikendalikan, aku berusaha menjawab dengan tenang.

Aku tidak berbohong. Aku cuma takut dengan hal-hal aneh yang aku bayangkan sendiri, lalu kabur begitu saja.

Lalu, Zomu-kun menunjukkan ekspresi kesal dan bilang.

"Ah, mustahil. Kalau begitu, lari kabur kayak gitu itu aneh, bukan?"

"Itu buat menyerahkan dokumen. Aku mesti buru-buru sebelum Ruang OSIS ditutup."

"Bohong. Jujur saja, aku pun tidak bakalan tertipu dengan alasan kayak gitu."

Zomu-kun tampak sangat kesal, wajahnya meringis sambil menyibakkan poninya di dahinya.

"Sejak saat itu, kalian tampak aneh. Kalian bahkan tidak banyak mengobrol, bukan? Lebih sedikit ketimbang aku."

"…"

"Kalau ada sesuatu... ...ceritakan, dong. Kalau terus-terusan cuma bilang 'Tidak ada apa-apa', aku tidak bakalan mengerti apa-apa."

Aku menggigit bibirku erat-erat, sambil berpikir keras apa yang mesti aku lakukan.

─Pasti memang tidak bagus kalau terus-terusan mengelak kayak gini.

Tetapi bukan berarti aku dapat menceritakan semuanya di sini.

Kebenarannya cuma akan jadi racun, dan hubungan kami pasti akan jadi canggung. Mustahil kami dapat menghadapi pertunjukan drama dalam kondisi kayak gitu.

Lagipula, semua orang sudah kelelahan karena masalah yang tidak ada henti-hentinya. Kalau aku dan Zomu-kun, yang jadi penopang mental mereka, berada di dalam kondisi kayak gitu, hal itu pasti akan berdampak buruk pada penampilan semua orang.

Hal kayak gitu cuma akan mendatangkan 💯 kerugian tanpa satu pun manfaat; Jauh dari pilihan terbaik, dan pasti akan jadi langkah yang sangat buruk yang pasti akan gagal.

Jadi, buat saat ini—.

"Hei, Mei—."

"Zomu-kun."

Aku mengabaikan rasa sakit di hatiku, lalu dengan tegas memotong obrolan Zomu-kun.

"Sekarang, mari kita fokus pada Drama, ya? Lagipula… …lagipula, kita sudah berusaha keras sampai sejauh ini."

"…"

"…Mari kita pergi."

Aku menganggap keheningan Zomu-kun sebagai persetujuan, lalu melangkah menuju Gimnasium.

─Tetapi tidak lama kemudian, dari belakang.

"Oke, Mei! Setelah Festival Budaya tuntas—dengarkan juga ceritaku, ya!"

"…Ah."

Aku menggenggam ujung rokku dengan erat, lalu mengatupkan gigiku.

─Ah….

Isi obrolan itu, apapun itu.

Sudah jelas, tidak perlu lagi aku dengar.

Aku, dengan kuat, dengan sangat kuat.

Dengan sungguh-sungguh, aku berharap, "Aku mohon, jangan melangkah lebih jauh lagi." 

…Aku mengambil langkah lebih dulu.

"Zomu-kun. Aku tidak mau mendengar cerita itu."

Dengan tegas.

Tanpa bilang itu secara tersurat, aku menegaskan hal itu.

"Hah!"

"Ketimbang itu, nih. Aku lebih mau mengobrolkan hal-hal yang dapat membuat kita semua tertawa bareng. Kalau soal itu, aku kapanpun dengan senang hati bakalan ikut…"

"─…"

"…Atau, coba bicarakan hal-hal yang tidak jelas gitu. Ahaha, maaf ya, kayaknya aku memang agak gugup, nih."

Aku memang merasa muak dengan ucapan yang dipaksakan itu, tetapi tetap saja aku memaksa obrolan itu berakhir.

Tetapi… …sekarang, masih bisa.

Cukup dengan menahan perasaan ini sendiri.

Perasaan yang terhenti di dalam ketidakpastian itu, dapat juga diganti dengan hal lainnya.

…Jadi, aku mohon.

Aku mohon, kayak sebelumnya. Pilihlah jalan di mana kita semua dapat tertawa bersama dengan gembira.

"…Waktunya sudah habis, ya. Aku akan pergi dulu."

Tidak sanggup lagi menahan keheningan, aku pun berjalan pergi dari tempat itu.

Entahlah ekspresi kayak apa yang Zomu-kun tunjukkan di belakangku.

Entahlah, tetapi—

Yang pasti, Zomu-kun tidak tersenyum.

"Biarkan aku bicara… …tetapi Mei tidak mau, ya."

─.

─…Maaf, ya.

'Oke, Program Nomor 1. Pertunjukan Drama oleh para sukarelawan Kelas IX-A berjudul "Dan Janji di Langit Biru Esok Hari─"'

Diiringi sorak-sorai "Wah", tirai pun terangkat.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu saling mengangguk dengan semua orang di sekitarku.

Lalu, aku melangkah satu langkah ke atas panggung.

─Alur ceritanya begini.

Para karakter utama, yang merupakan siswa-siswi SMP yang tinggal di sebuah pulau terpencil kecil di Jepang, menjalani hari-hari yang membosankan tetapi tenang.

Tetapi, pada suatu hari, mereka diberi tahu kalau Bumi akan musnah beberapa bulan kemudian akibat jatuhnya meteorit raksasa.

Meskipun menghadapi kematian yang tidak terelakkan, para karakter utama memutuskan buat menjalani kehidupan sehari-hari yang tidak berubah sampai akhir, tetapi keraguan mulai muncul menjelang hari-hari terakhir yang semakin dekat.

Hero Utama dan Heroin Utama, yang merupakan sepasang teman masa kecil sekaligus abang-adik tiri, terus merenungkan hubungan kayak apa yang mestinya mereka jalin saat menghadapi akhir, sampai akhirnya kehancuran semakin mendekat—cuma tinggal tiga hari lagi.

…Entah mengapa, saat mesti berdiri di atas panggung sebagai aktor-aktris kayak gini, tema cerita ini seakan-akan mengisyaratkan masa depan kami, sampai-sampai membuatku galau.

Ah, bodoh, apa yang aku pikirkan, sih?

Aku tidak boleh mencampurkan perasaan pribadiku yang tidak perlu. Aku cuma perlu fokus buat benar-benar menghayati peran ini.

Sambil mencubit pahaku dengan kuat sebagai peringatan, aku menarik napasku dalam-dalam sambil menghembuskan, "Su…"

Napasku dalam, suaraku mengalir dari sekujur tubuhku sampai ke atas kepalaku, seakan-akan mau mencapai ujung Gimnasium….

Dengan mengulanginya di dalam hatiku kayak mantra buat menenangkan diriku, akhirnya tirai pun terbuka sepenuhnya.

Di tengah kegelapan, cuma ada cahaya sorot lampu yang menerangi diriku.

─Pertunjukan dimulai dari monolog sang Heroin Utama.

'─Dewa-Dewi, aku mohon beri tahu aku. Apa janji yang mustahil dipenuhi itu punya makna?'

Wah, tiba-tiba kedengaran sorak-sorai dari siswa-siswi Kelas VII yang duduk tepat di depanku.

"Keren banget, Kiyosato-senpai kayak aktris profesional!" "Sangat menonjol di atas panggung!" "Eh, tetapi memangnya Kiyosato-senpai memang punya jadwal tampil di panggung…?" "Tidak apa-apa dong, lagipula cocok banget, kok."

…Iya. Awalnya memang lumayan.

Hanya saja, mungkin pelafalanku kurang jelas. Aku mesti mencoba mengucapkan setiap kata dengan lebih hati-hati, secara sadar dan perlahan.

'Tiga hari lagi, planet ini akan berakhir. Bagaimana ya caraku menghabiskan saat-saat terakhir bersamanya? Wataru-kun, teman masa kecilku? Wataru-chan, anggota keluargaku? Atau… ...Wataru, kekasihku?'

Iya, kali ini oke.

Tenang saja, dialognya sudah hafal di kepalaku. Drama ini memang tidak terlalu panjang, dan untungnya aku sudah menghafal seluruh naskahnya sebagai jaga-jaga.

Dengan semangat kayak gitu, monolognya berlanjut sebentar.

Lalu seluruh panggung jadi terang─.

'Hei, Umi! Sudah pagi, loh!'

Suara Zomu-kun yang nyaring bergema di Gimnasium.

Saat Zomu-kun muncul, sorakan riang "Kya! Nozomu-senpai!" pun bergema.

Suara-suara kayak gitu kedengaran dari segala penjuru, sampai-sampai tampak jelas kalau Zomu-kun itu sangat populer, baik di kalangan teman seangkatan maupun di kalangan para kouhai.

'Se-Selamat pagi, Wataru-kun.'

'Wah, rambutmu acak-acakan banget! Terus ada ilermu juga!'

'Eh!? Mustahil!'

'Bercanda!'

'Aduh, sudah deh! Wataru-chan!'

Begitulah, mereka berdua (karakter kami) terus-menerus terlibat dalam obrolan yang tidak jauh beda dari kami biasanya.

…Iya, bagus. Zomu-kun juga benar-benar menjalankan perannya dengan baik.

Aku merasa lega, lalu membayangkan alur cerita selanjutnya.

─Pertunjukan itu pun berlanjut tanpa hambatan.

Setelah itu, mereka berdua sarapan, berangkat ke sekolah, dan menuntaskan jam pelajaran terakhir.

Pulau yang selama ini tenang itu, kini dipenuhi dengan kesedihan. Suasana di sana seakan-akan menunjukkan kalau akhir sudah semakin dekat.

Di tengah situasi kayak gitu, mereka berdua mendayung perahu menuju markas rahasia di pulau kecil yang mereka buat saat masih bocil.

Di dinding markas rahasia yang dibangun di dalam gua kecil yang terkikis oleh laut, tertulis nama mereka berdua di bawah gambar payung berdua serta pesan kayak, 'Kalau sudah besar nanti, kita akan menikah.'

'Haha… …Aku benar-benar sudah lupa soal ini.'

'…Sebelum kita besar, hubungan kita sudah berakhir, ya.'

'…Benar juga.'

Mereka berdua saling berpelukan, sambil terus memandangi sang surya tenggelam di ujung cakrawala.

─Dan.

Kisah ini akhirnya mencapai babak penutup.

"Turunkan latar belakangnya! Pelan-pelan—"

Setelah sejenak mundur ke belakang panggung, aku memberi instruksi pada kru di belakang panggung, lalu melegakan tenggorokanku dengan minuman olahraga.

Oke… …akhirnya tinggal adegan terakhir.

Di atas mercusuar yang menghadap ke seluruh pulau, mereka berdua memandangi bintang terakhir yang seakan-akan bakalan jatuh setiap saat.

Pada akhirnya, mereka berdua memilih buat tidak memilih hubungan apapun. Memilih sesuatu berarti mesti melepaskan sesuatu, dan mereka masih terlalu muda buat memilih segalanya.

Makanya, mereka berdua cuma membayangkan angkasa biru esok hari yang penuh dengan segala cita-cita, sambil menyambut saat-saat terakhir mereka─.

…Iya. Baik dialog maupun aktingnya, tidak ada lagi hal yang sulit.

Sekarang tinggal berlari sampai akhir saja.

Dengan begitu, kerja keras kami semua akan terbayarkan.

"Oke, ini bagian terakhir, mari kita berjuang!"

Sambil menahan rasa tidak sabar, aku menepuk punggung Zomu-kun dengan lembut.

"Mm."

Tetapi, reaksi Zomu-kun terasa sangat datar. Mata Zomu-kun bahkan tidak menatap ke arahku.

…?

Padahal sampai barusan Zomu-kun masih berakting kayak biasanya, mengapa tiba-tiba begini─.

"Latar belakang sudah siap! Mari kita keluar, Mari kita keluar!"

Dengan didesak oleh teman-teman di belakang panggung, aku pun kembali ke atas panggung meskipun hatiku masih berat.

─Tidak bisa, aku tidak punya waktu buat memikirkannya terlalu dalam.

Yang penting sekarang, aku mesti menuntaskan pertunjukan ini.

'Dengan begini… …sudah benar, bukan?'

Aku menyipitkan mataku seakan-akan sedang memandang ke arah cakrawala yang jauh, sambil pura-pura menahan air mataku.

Dari ruangan yang sunyi senyap itu, kedengaran suara isakan pelan dari sebagian penonton.

…Syukurlah, kayaknya mereka terharu. Pilihan naskahnya sempurna, Mattsun.

Sambil merasa sangat menyesal karena orang yang berjasa itu tidak ada di sini, aku memusatkan perhatian buat lari cepat terakhir.

'Hari esok memang tidak akan datang lagi… ...tetapi, tidak salah kalau kita mempercayakan kebahagiaan terbesar kita pada angkasa biru esok hari.'

'─'

'Jadi… …jawaban kita itu "Sampai jumpa besok", bukan?'

'─'

…?

Kalimat terakhir Hero Utama itu tidak dilanjutkan.

Awalnya aku kira itu cuma jeda dramatis, tetapi─.

'─'

Kayaknya ada yang aneh.

Zomu-kun tetap menunduk.

Tinju-tinju itu dikepalkan erat, dan tampak sangat penuh tenaga sampai-sampai terkesan berlebihan buat sekadar akting.

Bahkan dialognya pun tidak sulit sama sekali. Cuma satu kalimat, 'Ah, sampai jumpa besok,' yang mesti Zomu-kun ucapkan. Lalu tirai pun diturunkan.

Lalu, mengapa─?

'─'

Mungkin karena merasakan ada yang tidak beres, penonton mulai bergemuruh.

Karena panik, aku mengisi jeda itu dengan improvisasi.

'Wataru-kun…?'

Mendengar seruan itu, akhirnya Zomu-kun mengangkat kepalanya.

Di wajah Zomu-kun yang diterangi sorotan lampu, terpancar tekad yang kuat.

─Lalu.

"Aku─"

Mata itu.

Mengapa ya?

Aku merasa seakan-akan itu ditujukan padaku─.

─!

Apa jangan-jangan?

"Aduh─!"

Dalam sekejap mata, darah di sekujur tubuhku seakan-akan mengering.

Aku melupakan peran, kedudukan, dan segalanya.

Aku mohon, jangan lakukan itu.

"Cuma itu saja, jangan," pikirku.

Aku mengulurkan tanganku seakan-akan sedang berdoa—.

Lalu.

"─Aku, menyukai Mei."

─.

─…Mus-tahil.

Dari atas panggung, dari tribun penonton.

Seluruh suara, menghilang.

Lalu.

Satu ketukan kemudian—Wah, dan.

Ruang Ajang itu, seketika bergemuruh seakan-akan terbakar.

"…Eh?" "Tadi, ia bilang apa?" "I-Ini, pernyataan cinta!" "Ini pernyataan cinta sungguhan, bukan!?" "Woh, gila!" "Kya-kya, luar biasa, luar biasa, sangat berani!!"

Bagaimana… …ini…?

Apa, ini….?

Justru di sini.

Di tempat kayak gini, menyatakan cinta─.

Kedua tanganku lemas, dan aku berdiri terpaku di tempat itu dengan bingung.

"Bagus, Mitaka!" "S*alan, tolak saja Mitaka!" "Kalau ini disetujui, siapa tahu mereka jadi pasangan, bukan!?" "Hei, Kiyosato, cepat jawab dong!" "Kiyosato-senpai, mau bagaimana sih!" "Cepat jawab!" "Jawab! Jawab!" "Ayolah, ayolah, ini jadi kayak Pertunjukan Drama, loh!"

Menerima ejekan yang dilontarkan pada kami, aku berpikir secara setengah otomatis.

─Aku tidak dapat membiarkan Drama ini hancur.

Tetapi, pada titik ini, skenario sudah berantakan. Mustahil lagi mengembalikan alur semula, dan bagaimanapun juga, aku mesti memberikan jawaban apapun.

…Kalau begitu, paling tidak.

Agar ceritanya agak lebih padat.

Aku mesti memberikan jawaban yang tepat sebagai 'Umi'.

─Lagipula.

Pasti, itu─.

Sama dengan jawabanku.

'─Maaf. Ternyata aku memang tidak bisa memilih satu jawaban.'

Demi sekian banyak senyuman, sejauh yang dapat aku jangkau.

Senyuman yang cuma ada satu itu ─ tidak akan aku pilih.

"Eh…" "Apa jangan-jangan itu, gagal?" "Gagal, bukan?" "Wah, Mitaka ditolak!" "Eh, mengapa sih!?" "Ahaha, cup-cup!" "Kamu payah banget, Nozomu!"

Aku berbalik, lalu berjalan meninggalkan panggung.

"─Turunkan tirainya."

"Eh, ah, oke..."

Saat sampai di belakang panggung, aku cuma menyampaikan hal itu.

Aku menutup telingaku dan mataku, lalu berjongkok di tempat itu.

─Mengapa?

Mengapa, mengapa?

Padahal mestinya aku sudah tahu betul kalau akan berakhir kayak gini.

Padahal mestinya aku sudah tahu kalau tidak ada pilihan lain selain melakukan ini.

Mengapa, Zomu-kun?

Mengapa, Zomu-kun─!?

"Mengapa, kok, pilihan yang paling tidak boleh dilakukan, malah aku lakukan...!?"

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

• Bahasa Inggris / English

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama