[Peringatan 15+]
Bab 3Persiapan Festival Budaya
Liburan Musim Panas berlalu dengan sangat cepat.
Aku sibuk berlatih buat Kejuaraan Tenis Nasional yang diadakan pada bulan Agustus, Zomu-kun berjuang keras dalam proses Serah Terima Kepemimpinan Ekskul Sepak Bola menjelang pergantian generasi, sementara Mi-chan dan Oomori-kun terjebak di dalam Bimbel Musim Panas.
Sebenarnya, kami memang sudah merencanakan buat pergi ke Festival Kembang Api Sungai Sumita, tetapi sayangnya tahun ini ajang tersebut dibatalkan karena cuaca buruk, jadi kami cuma menonton rekaman tahun-tahun sebelumnya di televisi.
Akhirnya, satu-satunya perjalanan jauh yang kami lakukan bersama-sama cuma ke Summer Park. Selebihnya, kayak biasanya, kami cuma mengeteh di restoran keluarga dekat sekolah atau pergi berbelanja pakaian dan barang-barang kecil ke toko langganan, dan begitulah Musim Panas Kelas IX SMP kami berakhir.
─Dan, memasuki bulan September.
Sekolah memasuki Masa Persiapan Festival Budaya.
"Iya, iya, bagus! Suaranya agak lebih keras lagi, ya!"
Lokasi: Di depan panggung, di dalam gimnasium.
Aku berteriak sambil menggunakan naskah yang digulung rapat sebagai pengganti megafon.
"Berhenti! Gerakannya agak kaku, nih. Dapatkah kalian memanfaatkan seluruh panggung?"
"Oke, Sutradara! Mari kita kembalikan properti panggung ke tempat semula!"
Zomu-kun, pemeran hero utama sekaligus Ketua Tim Drama di atas panggung, menjawab sambil melambaikan tangannya, lalu langsung memberi instruksi pada teman-teman sekelas kami yang bertugas di belakang panggung.
Sambil menyaksikan semua orang yang menerima perintah itu berkerumun ke atas panggung dengan riuh, aku duduk di bangku lipat sambil menghela napas, lalu melembabkan tenggorokanku yang kering dengan segelas air.
─Di Festival Budaya SMP Swasta Akademi Akagawa, ada sesi pertunjukan panggung.
Meskipun slot ini biasanya diisi oleh penampilan dari Ekskul Musik Tiup dan Ekskul Musik Ringan, sudah jadi tradisi kalau ada beberapa pertunjukan dari kelompok sukarelawan, kayak Band yang dibentuk oleh teman-teman atau Pertunjukan Komedi, yang juga ditampilkan.
Maka dari itu, kali ini kami, Kelas IX-A, akan menampilkan Drama Mini berdurasi 30 menit.
"Hah… …Aku benar-benar gugup sekali."
Tiba-tiba, Mattsun—Matsubara Yuina-chan—yang sedang menunggu giliran di sebelahku, bergumam dengan nada cemas.
Mattsun merupakan pemeran heroin utama dalam Drama kali ini. Mattsun memang sejak awal menyukai teater, tetapi karena sekolah kami tidak punya Ekskul Teater, dia cuma dapat menonton saja, dan sering bilang, "Suatu hari nanti aku mau coba jadi aktris."
Maka, karena aku menganggap ini kesempatan yang tepat, aku merekomendasikan Mattsun, dan setelah mendapat persetujuan dari semua orang, dia pun terpilih sebagai pemeran heroin utama.
"Eh, Mei... ...kamu yakin tidak apa-apa kalau kamu tidak jadi pemeran heroin utama?"
"Hm, mengapa tiba-tiba kamu bertanya gitu? Bukannya aku sudah bilang kalau kamu lebih cocok di posisi ini."
Aku menjawab sambil menepuk-nepuk naskah dengan tanganku.
Iya, bagaimanapun juga aku masih seorang cewek, jadi bukan berarti aku tidak terpesona dengan kata-kata 'Aktris Utama'. Cuma, aku yang pertama kali mengusulkan proyek ini, jadi sudah sepantasnya aku yang jadi Penanggung Jawab.
Tentu saja, kalau ada orang lain yang lebih cocok jadi Sutradara, itu lain ceritanya. Tetapi, di kelas kami banyak yang punya bakat akting, dan sudah jelas kalau yang terbaik itu menempatkan semua orang di posisi di mana mereka dapat memaksimalkan kemampuan mereka.
"Tetapi… …memang sih, Mei lebih cocok jadi pemeran heroin utama. Lagipula, lawan mainnya itu Nozomu-kun."
Hmm, ahaha.
Yah, sebenarnya ada juga alasan kalau karena pemeran hero utamanya itu Zomu-kun, ada baiknya aku tidak ikut langsung…
Saat aku tertawa samar sambil menggaruk pipiku, Mattsun melanjutkan dengan wajah cemas.
"Aku itu tidak imut-imut amat, tidak dapat menghafal dialog sama sekali, dan sering salah ngomong… …mungkin aku memang tidak cocok jadi aktris, ya. Lagipula, kalau sampai gagal saat pertunjukan nanti, atau kalau dipikir-pikir—"
"Oke, potong!"
Aku membenturkan naskah ke meja buat memotong obrolan itu, lalu menatap mata Mattsun.
"Lagipula, bukannya naskah ini yang Mattsun cari? Bukannya kamu sudah lama bilang kalau kamu mau main jadi pemeran heroin utama di drama romansa."
"Memang iya, sih, tetapi..."
"Tenang saja, tenang saja. Peran ini cocok banget buatmu, dan kamu semakin jago setiap kali latihan. Masih ada waktu persiapan, jadi mari kita berusaha sedikit demi sedikit, oke? Oke?"
"…Iya."
Setelah diam sejenak, Mattsun mengangguk pelan.
"Iya, iya," anggukku, lalu meletakkan kedua tanganku dengan lembut di pundak Mattsun seakan-akan mau menenangkannya.
"Tenang saja, Sutradara Hebat ini akan membimbing kita dengan sempurna! Khusus buat Mei, loh!"
"…Ahaha, konyol sekali."
Merasa lega karena Mattsun akhirnya tersenyum, aku kembali memusatkan perhatianku ke atas panggung.
"Ayolah, lanjutkan! Zomu-kun, apa kamu sudah siap?"
"Oke!"
Setelah mengantar Mattsun ke belakang panggung, aku kembali ke bangku Sutradara.
Fiuh… …Mungkin karena tadi terus-terusan gagal, aku jadi agak sensitif nih. Karena secara karakter aku memang agak cemas, mungkin itu yang membuatku jadi begini.
Sambil memandangi teman-teman sekelasku yang sibuk bergerak di atas panggung, aku berpikir dengan tenang.
─Faktanya, kami semua belum mencapai tingkat di mana kami dapat melakukan gladi resik.
Meskipun Masa Persiapan baru memasuki Pertengahan, akan sulit kalau bagian-bagian dasar kayak dialog dan gerakan belum dikuasai.
Tentu saja, teman-teman sekelasku sudah berusaha keras tanpa mengendurkan usaha mereka.
Jadi, yang kurang cuma waktu latihan.
…Ternyata, mungkin memang terlalu berlebihan kalau aku sampai ikut-ikutan main drama.
Dalam Festival Budaya, ada stan jajanan yang jadi ajang bersama buat seluruh angkatan. Ajang ini diselenggarakan kayak Pertandingan Olahraga antarkelas, dan setiap tahunnya dianggap sebagai ajang utama yang ditangani dengan serius oleh seluruh angkatan. Biasanya, hal itu saja sudah cukup menyibukkan, sehingga kelas-kelas biasanya tidak sampai mengadakan Pertunjukan Panggung.
Tetapi kali ini, teman-teman dari OSIS memohon, "Masih kurang satu kelompok peserta, tolong bantu kami," dan aku tidak dapat menolaknya, jadi akhirnya aku menerimanya.
Saat diusulkan, teman-teman sekelasku antusias dan tidak ada yang menentang… …tetapi ternyata lebih merepotkan dari yang diperkirakan, sehingga saat ini kami mesti berusaha penuh bukan cuma sepulang sekolah, tetapi juga pada pagi hari dan saat jam istirahat makan siang.
Karena sebagian anggota dialihkan ke Tim Drama, kemajuan Tim Stan pun tampaknya tidak bagus. Wakil Ketua yang mengawasi Tim Stan itu yakni anggota Ekskul Musik Tiup, dan tampaknya sulit buatnya untuk membagi waktu antara latihan ekskul dan tugas ini, sehingga kelelahan yang ia alami sudah tampak jelas.
Hmm… …Kayaknya, kami perlu meninjau kembali sistem kerja… …mungkin.
Awalnya aku merasa kalau akan lebih efisien kalau setiap Tim fokus pada tugas masing-masing, tetapi kayaknya hal itu tidak dapat diteruskan begitu saja. Mungkin sebaiknya kami menyatukan rantai komando dan membuat penempatan personel jadi lebih fleksibel.
Untungnya, aku masih punya kapasitas. Selain jadi Sutradara Drama, aku akan mengambil alih tugas Manajemen Stan juga.
Selain itu, katanya anggarannya juga sangat ketat, jadi perlu penyesuaian anggaran dan penyusunan ulang jadwal. Rencana Pesta Pembubaran juga sebaiknya segera dimulai. Aku juga mau memperhatikan kesehatan mental semua orang.
…Iya. Mungkin waktu tidurku akan sedikit berkurang, tetapi itu tidak apa-apa.
Kalau masalah ini dapat dituntaskan dengan mengorbankan waktuku, itu tidak seberapa. Teman-teman sekelasku sudah berusaha keras, jadi aku juga mesti melakukan yang terbaik.
Lagipula, rasa puas saat berhasil pasti akan luar biasa.
Teman-teman sekelasku pasti sangat puas dan dapat tertawa dengan perasaan yang lebih bahagia dari sebelumnya.
─….
Iya. Mestinya ini bukan pemikiran yang aneh.
"─Posisi kalian masing-masing sudah siap! Mari kita mulai!"
"Ah, oke!"
Tidak boleh, ini bukan saatnya lengah. Sekarang aku mesti fokus meningkatkan kualitas Drama ini.
"Oke, Adegan 12, Pengambilan 3! Aksi!"
Sambil menyimulasikan gerakan selanjutnya di dalam benakku, aku menepuk naskah dengan keras sebagai tanda dimulainya adegan.
◆
Sepulang sekolah keesokan harinya.
Sebelum memulai kegiatan hari ini, aku langsung mengumumkan sistem baru yang telah aku pikirkan.
"─Singkatnya, pada dasarnya kalian mesti mengikuti jadwal yang baru saja aku berikan, tetapi mungkin saja kalian akan diminta membantu tim yang kekurangan tenaga pada hari itu. Aku yang akan menentukan siapa yang akan membantu apa, jadi tolong periksa RINE kelas dengan saksama, ya."
Dari seluruh teman-teman sekelasku, kedengaran jawaban, "Oke!"
"Selain itu, kalau ada hal yang belum dimengerti atau terjadi masalah, silakan laporkan padaku, dan aku akan berusaha menuntaskannya dengan baik! Mohon kerja samanya!"
Kali ini, tawa kecil pun meluncur, "Hahaha."
Iya, memang suasana kelas kayak biasanya tidak buruk. Asal penyesuaiannya dapat dilakukan dengan sempurna, kayaknya aku masih dapat terus berusaha.
"Ah, eh... ...Kiyosato?"
Tiba-tiba, aku menyadari kalau Takki, yang merupakan Ketua Tim Stan, sedang mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.
"Hah? Takki, ada apa?"
"Jadi, soal struktur baru itu... ...maksudnya aku sudah tidak dibutuhkan lagi, ya...?"
Takki bertanya dengan raut wajah muram.
Takki, alias Takaido Arata, merupakan sosok yang bertugas menghibur teman-teman sekelasnya. Takki merupakan cowok yang ramah dan lucu, sering menirukan komedian terkenal buat menghibur semua orang.
Dari sikapnya yang santai, Takki memang tampak kayak cowok yang santai, tetapi sebenarnya ia cukup peka, dan kabarnya ia sering mengalami gangguan pencernaan karena gugup menjelang Turnamen Ekskul.
Aku berusaha menenangkan Takki dengan nada bicara yang lembut.
"'Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi', mustahil begitu. Aku dengar kalau sekarang ekskulmu sedang di puncaknya dan situasinya mendesak, bukan? Menyeimbangkan kedua hal itu pasti sulit, bukan?"
"Itu… …iya, memang begitu."
"Itulah alasan di balik perubahan tugas ini. Soalnya, kalau sampai kamu sakit karena itu, bukannya itu repot."
Takki menunduk dengan wajah muram, tampak canggung.
Sejak awal, Takki memang bukan tipe orang yang cocok buat urusan administrasi. Atau lebih tepatnya, di kelas kami, yang dapat mengurus hal-hal kayak gitu cuma aku dan Zomu-kun, ditambah Mi-chan yang cuma bertugas di belakang layar.
Tetapi aku dan Zomu-kun pun akhirnya terlibat dalam bagian Drama, dan aku pun menyerahkan urusan kostum pada Mi-chan. Aku cuma meminta Takki buat membantu tanpa mempertimbangkan kemampuannya, cuma karena ia punya jabatan sebagai Wakil Ketua.
Merasa ada suasana yang agak canggung, aku tersenyum nakal.
"Lagipula, tidak apa-apa! Takki akan banyak melakukan pekerjaan fisik yang paling berat mulai sekarang! Sisanya cuma belanja!"
"Eh, itu bukannya cuma jadi kurir!"
"Dapat dibilang begitu!"
Mendengar celetukanku, tawa teman-teman sekelasku kembali kedengaran.
Iya, kayaknya suasana sudah agak lebih santai sekarang.
Sambil tersenyum lembut, aku melanjutkan.
"Makasih sudah bekerja keras selama ini. Jadi, saat sedang kesulitan, silakan minta bantuanku. Oke?"
Mereka sudah cukup bekerja keras tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Sekarang giliranku buat membalas kerja keras mereka dengan semestinya.
Kemudian, Takki tetap menunduk dan terdiam sejenak sambil bergumam-gumam.
Hm…?
"…Yah, kalau Kiyosato bilang begitu. Mulai sekarang, aku akan berusaha keras sebagai Menteri Urusan Rumah Tangga!"
Begitu saja, seketika itu juga, ucapan jenaka itu terlontar dengan nada bercanda.
Tawa pun meledak dari semua orang, dan suasana kelas pun jadi ceria.
Hahaha, betul banget. Memang sih, sisi Takki yang dapat menghidupkan suasana itu yang jadi daya tarik utamanya.
Aku menepuk tangan dengan keras buat menarik perhatian semua orang.
"Iya, kalau tidak ada pertanyaan lainnya, mulai hari ini kita lakukan kayak gitu! Tim Drama kayak biasanya, berlatih penuh selama waktu yang dialokasikan di gimnasium. Di luar waktu itu, periksa dialog di ruang kelas kosong. Tim Stan Simulasi, ada hal yang mau dibagikan nanti, jadi tolong tetap di sini ya—"
Setelah mendapat persetujuan dari semua orang, kami membubarkan diri buat sementara waktu.
Di ruang kelas yang tiba-tiba jadi heboh, aku kembali ke bangkuku.
Oke, mari kita fokus lagi. Materi berikutnya yakni─.
"Mei."
Tiba-tiba, Zomu-kun datang kemari.
"Hah? Ada apa?"
"Kamu mengambil terlalu banyak tugas, apa kamu benar-benar tidak apa-apa?"
Nada suara Zomu-kun kedengaran agak cemas.
Kayak biasanya, Zomu-kun memang baik hati di saat-saat kayak gini. Biasanya Zomu-kun memang sama sekali tidak begitu, tetapi kalau ada orang yang sedang kesulitan atau tampak kesusahan, ia pasti akan menunjukkan kepeduliannya.
Perhatian Zomu-kun memang asyik, tetapi kali ini kekhawatirannya tidak perlu. Lagipula, selain masalah pengelolaan, tidak ada yang sulit, kok.
Aku mengencangkan otot lenganku, lalu menjawab dengan nada bercanda.
"Tenang-tenang saja. Lagipula, aku ini Mei-chan yang Tidak Terkalahkan! Hal sepele kayak gini mudah sekali buatku."
"Astaga… …Kamu memang selalu langsung memikul semuanya sendirian, ya, Mei?"
…Hah?
"Yah, sudahlah. Aku juga akan membantumu!"
Mendengar kata-kata itu yang diucapkan dengan ekspresi "Aduh, lagi-lagi", aku membelalakkan mataku.
Eh, apa yang aku bilang tadi tidak tersampaikan dengan baik?
"Aku memang tidak dapat berpikir keras, tetapi kalau cuma memaksakan Mei terus, itu bukannya tidak keren."
"Hmm, begini. Zomu-kun, buat saat ini fokus saja pada Drama, tidak apa-apa kok! Yang penting, cepat-cepat hafalkan dialog yang panjang itu."
"Tentu saja, aku tidak bakalan main-main soal itu. Itu sudah pasti."
"Ahaha, hmm..."
Eh, mengapa, ya? Biasanya Zomu-kun dapat mengerti dengan suasana kayak gini.
Apa Zomu-kun mengira kalau aku cuma berpura-pura? Apa aku terlalu berlebihan saat bilang begitu dengan nada bercanda?
Aku agak mengubah nada suaraku jadi lebih serius sebelum ngomong.
"Eh... ...seriusan, aku benar-benar tidak apa-apa, loh? Lagipula, yang dimaksud 'Penyesuaian' itu cuma sekadar pemeriksaan menyeluruh, dan hampir tidak ada yang perlu kamu bantu, kok."
"Ah, tidak, pasti ada saja tugas-tugas kecil yang mesti dilakukan. Tidak ada salahnya membagi tugas kayak gitu, bukan?"
…Hmm. Entah mengapa, Zomu-kun tampak sangat teguh kali ini.
Tentu saja aku sangat berterima kasih atas bantuan Zomu-kun. Tetapi Zomu-kun itu Ketua Tim Drama, dan mengingat Zomu-kun yang akan memimpin saat aku tidak ada, lebih baik ia tidak usah ikut campur dalam urusan operasional secara keseluruhan.
Lalu─.
Saat aku melirik ke arah sekelilingku, aku melihat beberapa orang cewek sesekali melirik ke arahku.
Jujur saja… …aku mau sebisa mungkin mengurangi kesempatan berinteraksi berduaan saja dengan Zomu-kun di Festival Budaya ini.
Memang benar kalau Festival Budaya ini cenderung dipenuhi suasana yang berbau percintaan. Banyak orang, baik cowok maupun cewek, yang bersemangat buat memanfaatkan kesempatan ini buat menyatakan perasaan cinta mereka pada orang yang mereka sukai.
Di antara cewek-cewek di kelasku yang menyukai Zomu-kun, ada juga yang menunjukkan tanda-tanda kayak gitu.
Bahkan tanpa itu, aku sudah jadi incaran Ririko-chan, buat jadi saingan, jadi ada baiknya aku menghindari tindakan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman lebih lanjut. Akan sangat tidak bagus kalau aku disalahpahami seakan-akan sedang memanfaatkan posisi sebagai Ketua buat bermesraan.
Lagipula─.
Zomu-kun sendiri pun, belum tentu kebal pada suasana kayak gitu.
Hal itu saja, mesti dihindari dengan segala cara.
Aku berpikir sejenak sebelum membuka mulutku.
"…Oke. Kalau nanti aku butuh bantuan, aku yang akan menghubungimu. Jadi, sampai saat itu tiba, tolong fokuslah pada pertunjukan drama ini."
Dengan nada yang agak lebih tegas dari biasanya, aku bilang begitu.
Perhatian Zomu-kun berasal dari niat baik, dan rasanya tidak enak hati kalau aku mengabaikannya begitu saja.
Jadi, buat saat ini aku akan menerima tawaran Zomu-kun, dan aku akan mengatur agar tidak ada kesempatan buat kami berdua untuk berduaan saja. Cara itu mestinya lebih kecil kemungkinannya menimbulkan masalah ketimbang kalau aku menolak Zomu-kun secara langsung.
Kayaknya Zomu-kun pun akhirnya setuju dengan itu, lalu dengan tegas ia melakukan gerakan hormat yang agak berlebihan.
"Dimengerti, Pelatih! Oke, aku akan berusaha keras menghafalnya!"
"Oke, tolong, ya! Ah, nanti aku akan menguji apa kamu sudah hafal. Setiap kali salah, kamu mesti mentraktirku jus."
"Eh? Itu agak kejam, ya…? Lagipula, kamu bakalan gemuk lagi..."
"Apa kamu bilang barusan?"
"Bukan apa-apa, kok."
Oke, kayak biasanya.
Aku mengembalikan jari-jariku yang tadi berbentuk cakar ke posisi semula, lalu melepas pandanganku ke arah Zomu-kun, dan menghembuskan napas pelan, "Hah."
Oke, sekarang saatnya mencetak, mencetak.
"…Hm."
Tiba-tiba, di sana, pandanganku bertemu dengan Oomori-kun yang duduk di bangku belakang.
Aku memang tersenyum dan melambaikan tanganku pelan, tetapi Oomori-kun bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa, lalu langsung berdiri dan keluar dari ruang kelas.
Hmm….
Memang sejak kejadian di kolam renang itu, rasanya ada jarak antara aku dan Oomori-kun, ya.
Saat bersama teman-teman sekelasku yang lain, Oomori-kun tidak berubah, dan karena ia memang orang yang sering tampak cemberut, dapat dibilang kalau ia tetap kayak biasanya.
Tetapi kadang-kadang aku merasa kayak sedang dihindari karena hal-hal sepele, kayak yang terjadi sekarang ini.
Kalau dipikir-pikir… …mungkin cuma obrolan saat naik bianglala saja─.
"Hei, Kiyosato, belum juga?" "Waktunya terbuang sia-sia, loh." "Cepatlah, cepatlah!"
"Ah, maaf, maaf!"
Didesak kayak gitu oleh semua orang, aku menggelengkan kepalaku buat mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu itu.
…Bagaimanapun juga, hal yang mesti dilakukan tetap sama.
Demi membuat semua orang tertawa, agar kami semua dapat tertawa bersama, aku akan melakukan yang terbaik.
Terlepas dari siapa aku ini, itu jelas bukanlah hal yang salah.
Pokoknya, saat ini kesuksesan Festival Budaya merupakan yang paling penting!
Aku menata kembali pikiranku dan mengambil tumpukan lembaran cetakan.
◆
─Keesokan harinya, sepulang sekolah.
Saat itu, kegiatan sedang berjalan lancar di bawah struktur baru.
Dengan papan klip di tanganku, aku berkeliling ke setiap Tim buat memberikan instruksi-instruksi kecil.
"Hei, Mi-chan!"
Saat masuk ke dalam kamar seragam, aku langsung memanggil Mi-chan dengan suara keras sambil melambaikan tanganku.
Suara mesin jahit yang semula berderak-derak itu berhenti, dan Mi-chan yang sedang duduk di meja di tengah dekat jendela tiba-tiba mengintip.
"Mei? Ada apa?"
"Apa kamu punya waktu sebentar?"
Sambil melirik kain yang sedang Mi-chan jahit, aku berjalan ke tengah ruangan.
Tim Kostum terdiri dari lima orang, jumlah yang cukup banyak, dan aku mempercayakan peran sebagai Koordinator pada Mi-chan.
Karena Drama ini bergenre kontemporer, sebenarnya tidak perlu kostum khusus, tetapi karena stan kami bertema kafe maid, persiapannya lebih memakan waktu. Selain itu, karena kami lebih fokus pada makanan di stan, anggaran kami sangat ketat, sehingga kami mesti mengurus sendiri hal-hal kayak memendekkan ujung rok atau menyiapkan aksesori.
Setelah menunggu Mi-chan datang kemari, aku mengalihkan pandanganku ke papan klip.
"Jadi begini. Aku mau memangkas anggaran sebisa mungkin mulai sekarang, jadi aku kepikiran buat mengurangi jumlah kostum... ...apa dapat diatasi dengan memendekkan ujung rok atau semacamnya?"
"Aku sudah menduga hal itu, jadi sejak awal aku sudah memilih yang sesuai dengan asumsi itu. Pada hari H, dapat langsung disesuaikan dengan peniti."
"Wah, hebat sekali!"
Hmm, Mi-chan memang sangat teliti dalam hal-hal kecil. Untung saja aku menyerahkannya pada Mi-chan!
"Sekarang aku sedang membuat ikat rambut. Waktunya memang sudah mepet, tetapi kalau beli yang begini harganya lumayan mahal, bukan?"
"Aku tidak dapat bilang apa-apa lagi. Aku suka itu!"
"Hei, jangan memelukku!"
Aku ditolak dengan cukup keras. Agak kaget.
"…Jadi, itu saja urusanmu?"
"Ah, soal kain yang katanya kurang tadi, aku sudah minta Zomu-kun dan Oomori-kun buat membelinya tadi, jadi kayaknya sebentar lagi akan tiba. Lalu, buat struk barang-barang kecil kayak benang dan kancing, nanti aku akan mengumpulkannya sekaligus, jadi tolong kumpulkan dulu di tempatmu, Mi-chan—"
Saat aku terus menjelaskan, tiba-tiba aku merasa Mi-chan melirik ke arah belakangku.
Hm…?
"Iya, iya, pokoknya di sini tidak apa-apa. Tidak usah khawatir."
Tetapi, sikap kayak gitu cuma sekejap, dan kali ini Mi-chan memberikan jawaban yang tegas.
Mungkin cuma perasaanku saja… …Ah, sudahlah.
Bagaimanapun juga, Tim Kostum sudah berjalan dengan lancar. Selanjutnya mungkin Tim Masak, ya.
Saat aku sedang bersemangat menandai daftar tugas—
"Bagus, kelihatannya asyik."
Tiba-tiba, dari meja di belakang kiri, kedengaran suara kayak gitu.
"…Ririko-chan?"
Saat aku menoleh ke arah belakangku, tampak Ririko-chan dan cewek-cewek Kelas IX-B di seberang mesin jahit.
Ah, begitu ya… …sekarang aku mengerti maksud reaksi Mi-chan.
Kayaknya, mereka sedang mempersiapkan kostum kayak kelas kami. Seingatku, mereka juga akan mengadakan acara kafe maid kayak kami, bukan?
Ririko-chan melanjutkan sambil tertawa kecil.
"Tetapi kelihatannya berat, ya. Saking sibuknya sampai ikut Drama juga, memang Kelas IX-A banget, deh."
Hmm, tadinya aku kira Ririko-chan yang memulai obrolan—hal yang jarang terjadi—ternyata cuma sindiran saja….
Biasanya aku lebih sering diabaikan, jadi mungkin sudah lumayan kalau Ririko-chan mau ngobrol. Tetapi rasanya sama saja, sih….
Bagaimanapun juga, karena Ririko-chan sudah menyapa, aku tidak dapat mengabaikannya. Aku mesti berhati-hati agar Ririko-chan tidak merasa tidak nyaman.
"Hahaha, memang repot sih. Tetapi asyik banget, loh."
"Kalau gagal, bakalan kelihatan ketinggalan zaman banget, loh? Benar-benar dapat tuntas tepat waktu?"
"Tentu saja kami semua berusaha keras agar dapat selesai tepat waktu. Tetapi kalau ada yang gagal, mungkin itu tanggung jawab Ketua Panitia, ya?"
"…Ah, begitu ya."
Kayaknya Ririko-chan belum puas dengan obrolan tadi, Ririko-chan mengerutkan jidatnya dan kembali fokus pada mesin jahit itu.
Astaga, apa aku gagal ya? Kayaknya aku memang tidak dapat bersikap baik kalau berhadapan dengan Ririko-chan….
Sambil menggaruk pipiku dan tanpa sengaja memandang Ririko-chan dan kawan-kawannya, tiba-tiba mataku tertuju pada kantong kertas di dekat sana yang berisi tumpukan kain.
Setelah diamati lebih dekat, di atas meja ada tumpukan pola yang kayaknya digunakan buat menjahit, dan jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan di kelasku.
Eh, apa jangan-jangan—?
"Eh, apa jangan-jangan, seluruh kostum kalian buatan tangan kalian!?"
Mendengar kata-kata yang aku ucapkan tanpa sengaja karena kaget, Ririko-chan menunjukkan reaksinya.
"…Kalau begitu memangnya mengapa?"
"Keren banget!"
Aku menghembuskan napas kagum, "Hah—."
Aku sudah dengar desas-desus kalau Ririko-chan memang anak yang modis, sering keliling toko-toko di Maruhachi atau di Ura-Sando. Faktanya, Ririko-chan memang sangat memperhatikan penampilannya, mulai dari modifikasi seragam sampai kuku, lebih dari siapapun.
Tetapi sungguh tidak terbayangkan, aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka dapat mengerjakan semuanya sampai ke tahap penjahitan. Aku memang tidak punya wawasan khusus soal busana, tetapi membuat kostum kayak seragam maid dari nol tampaknya sulit bahkan buat orang awam sekalipun.
Aku melanjutkan dengan mata berbinar.
"Kafe maid dengan kostum orisinal sepenuhnya ya… …cuma itu saja sudah membuat penasaran banget."
Ada beberapa kelas yang menjalankan kafe maid. Dalam kasus kami, kami memutuskan kalau kostum bukanlah prioritas dan lebih fokus pada makanan dan minuman, tetapi tetap saja, pilihan makanan yang dapat kami tawarkan terbatas, dan kelemahannya yakni orang-orang tidak akan tahu kelezatannya sebelum mencobanya.
Di sisi lain, keunggulan kostum dapat dilihat dari luar. Kalau dapat dibedakan dari barang jadi murahan kayak perlengkapan pesta, itu saja sudah cukup buat menarik perhatian.
Selain itu, penilaian kios-kios ini bukan berdasarkan omzet, melainkan hasil pemungutan suara, jadi menurutku lebih cerdas secara strategis kalau kami mengutamakan penampilan.
Ini mungkin akan jadi lawan terberat... ...mungkin kami juga mesti memikirkan strategi yang lebih matang.
Aku mengangguk-angguk sendiri sambil memutar-mutar pikiranku.
Lalu.
"...Hah."
Tiba-tiba Ririko-chan menghembuskan napas.
"Dapatkah kamu berhenti bilang hal-hal yang kedengaran kayak sindiran kayak gitu?"
"...Eh?"
Sindiran, apa maksudnya─?
Saat aku masih tercengang karena belum langsung memahami makna kata itu, Ririko-chan berdiri dengan raut wajah yang muram.
"Lagipula, kami tidak bakalan dapat mengalahkan Kelas IX-A yang ada kamunya di situ, bukan? Maaf ya, kami cuma dapat mengelak dengan kostum saja?"
"Tung-Tunggu dulu. Aku tidak bermaksud begitu..."
Me-Mengapa Ririko-chan menganggap kata-kataku sebagai sindiran? Aku tidak bermaksud menyisipkan nuansa kayak gitu, loh?
"Eh... ...Aku sih, dari awal memang tidak pernah kepikiran buat membuat kostum. Jadi, aku cuma merasa, 'Wah, keren banget,' secara tulus. Seriusan."
Aku menyampaikan hal itu sambil menatap mata Ririko-chan dengan lurus, berusaha agar kedengaran sejujur mungkin.
Tetapi Ririko-chan, memasang wajah cemberut seakan-akan merasa kesal.
"…Sungguh, mengapa sih kamu dapat bersikap seakan-akan lebih tinggi dariku dengan sangat alami? Sungguh menyebalkan."
Sikapku merendahkan Ririko-chan?
Mengapa ucapan barusan dapat ditafsirkan kayak gitu…?
"Bukan, bukan begitu. Aku tidak bermaksud─"
"Ah, ya sudah, sudahlah. Benar-benar rugi terlibat dalam hal ini."
Saat aku diam karena tidak tahu mesti menjawab apa, suasana di sekitar mulai riuh. Dari sudut mataku, aku melihat Mi-chan tampak cemas dengan raut wajah yang muram.
Tidak boleh begini... ...Kalau begini, orang-orang akan mengira kalau kami sedang bertengkar. Kalau suasana jadi tegang karena hal sepele kayak gini, tidak ada yang diuntungkan.
…Pokoknya.
Memang benar kalau aku telah membuat orang lain merasa tidak nyaman, jadi aku mesti meminta maaf agar situasi ini mereda.
Setelah memutuskan begitu, saat aku hendak menundukkan kepalaku—.
"Kamu yang mulai duluan, kok malah ngomong kayak gitu? Dasar cewek yang ribet banget."
Tiba-tiba punggung seorang cowok yang mengenakan kemeja muncul di hadapanku, dan kata-kata itu kedengaran di telingaku.
Saat aku menatap ke atas dengan wajah tercengang, di sana ada—.
"Oomori-kun…?"
Dengan membawa kantong kertas berisi kain di tangannya, Oomori-kun berdiri di sana.
Dari balik punggung Oomori-kun, Ririko-chan bersuara.
"…Eh? Asahi juga bertugas mengurus kostum, ya?"
"Kamu bukannya tidak mau terlibat? Mengapa masih mengobrol denganku?"
"…"
Apa jangan-jangan… …Oomori-kun sedang melindungiku?
Bahkan saat menengadah dari sini, aku tidak dapat melihat wajah Oomori-kun. Yang aku lihat cuma punggung Oomori-kun yang berdiri di antara aku dan Ririko-chan, bagaikan tembok.
Tidak, pasti begitu. Saat menyadari kalau ada masalah, Oomori-kun langsung datang buat menolongku.
Melihat perhatian Oomori-kun itu, tanpa sadar dadaku terasa hangat.
─Tidak.
Tetapi.
"…Makasih sudah belanja, Oomori-kun! Aku simpan ini ya!"
Aku merebut kantung kertas itu dari tangan Oomori-kun, lalu menepuk-nepuk punggungnya dua kali.
"Ayolah, sudahlah tidak apa-apa! Cepatlah kembali ke tugasmu di Tim Properti!"
Cara itu—.
Itulah cara yang bakalan membuat siapapun tidak dapat tertawa lagi, loh.
Mendengar kata-kataku itu, Oomori-kun menoleh cuma dengan bagian atas tubuhnya, lalu mengarahkan wajahnya ke arahku.
Raut wajah Oomori-kun, setengah marah.
Sisanya, kecewa.
"Kiyosato─."
"Ririko-chan, maaf ya sudah mengganggu!"
Aku berpura-pura tidak menyadari hal itu dan memotong kata-kata Oomori-kun, lalu berjalan ke arah Mi-chan sambil menggesek-gesek kantung kertas.
…Maafkan aku, Oomori-kun.
Aku memang senang karena Oomori-kun membelaku.
Tetapi dengan cara Oomori-kun, Ririko-chan jadi tidak punya tempat. Aku juga punya kesalahan, jadi jangan sampai Oomori-kun menjadikan Ririko-chan sebagai pihak yang salah secara sepihak.
Aku meletakkan kantung kertas itu dengan suara gedebuk di atas meja di samping Mi-chan.
"Ini dia, Mi-chan, kain tambahan yang tadi kamu minta. Tolong urus ini, ya."
"…, Oke."
Lalu, Mi-chan yang tadi menunduk dengan bibir terkatup itu menatapku.
Wajah Mi-chan, entah mengapa, tampak datar tanpa ekspresi.
─…?
"…Makasih, Mei. Selebihnya, serahkan saja padaku."
"Ah, oke…"
Raut wajah Mi-chan yang kayak gitu cuma sekejap saja, lalu dia langsung tersenyum lembut sambil bilang begitu.
Ada apa ya?
Mengapa Mi-chan tampak kayak gitu sekarang…?
"Cepatlah, ada baiknya kamu pergi ke tempat berikutnya. Kalau kamu tetap di sini, kayaknya kamu bakalan diganggu lagi."
"…Dimengerti."
Dengan perasaan berat, aku pun berjalan menuju pintu keluar yang terletak di samping Ririko-chan.
Kayak yang Mi-chan bilang… …tidak bagus buatku buat terus-menerus menetap di sini. Ada baiknya aku pergi sebelum keadaan semakin memburuk.
"─Ah, Mei!"
"Wah, apa-apaan ini?"
Tepat saat aku hendak melewati sisi Ririko-chan, Zomu-kun—yang mestinya juga sedang berbelanja—tiba-tiba muncul di hadapanku.
Aduh, kaget banget… …Ah, ternyata Zomu-kun kembali bersama.
Aku menatap sosok tinggi yang berdiri tepat di depanku.
Di wajah Zomu-kun yang ada di sana, entah mengapa terpancar ekspresi yang tampak panik.
"Eh, tadi... ...Kamu, tidak salah apa-apa, kok!"
Lalu tiba-tiba, kata-kata itu dilontarkan dengan suara yang menggema sampai ke dalam ruangan, dan aku kaget.
"Eh, Zo-Zomu-kun? Mengapa sih tiba-tiba ngomong begitu...?"
"Bukan, maksudku... ...tadi, bagaimanapun juga, Ririko yang salah, bukan? Yang mestinya minta maaf itu Ririko─"
"─!"
"Zomu-kun!"
Merasa kalau Ririko-chan di samping kami menahan napas, aku langsung mengangkat suaraku dan memotong ucapan Zomu-kun.
Pada Zomu-kun yang kaget, aku bicara lagi dengan nada tegas.
"Jangan lakukan hal kayak gini lagi. Aku baik-baik saja... ...bukan?"
Zomu-kun menahan kata-katanya, lalu memalingkan wajahnya dengan canggung.
Bahkan Zomu-kun, mengapa tiba-tiba menyalahkan Ririko-chan… …padahal biasanya Zomu-kun tidak pernah begitu.
Entah mengapa, aku merasa ada banyak hal yang janggal dari sikap mereka semua sampai-sampai aku jadi galau, lalu aku menggenggam papan klip itu lebih erat.
…Pokoknya, sekarang yang terbaik yakni aku pergi dari sini. Ayolah cepat.
Lalu, aku keluar dari ruangan seakan-akan menyelinap lewat celah pintu.
─Tetapi, saat aku pergi.
"─Sungguh, wajahmu selalu saja cantik. Semoga kamu tidak menyesal, ya?"
Dengan pelan, dan.
Kata-kata Ririko-chan yang diucapkan tanpa emosi.
Maknanya─pada saat itu, aku belum mengerti.
◆
Sejak saat itu, kami sibuk mempersiapkan segalanya.
Meskipun jadwalnya sangat padat, semua orang tetap ikut serta, dan baik stan kios makanan maupun pertunjukan drama teater berjalan lancar sesuai rencana.
Tanpa terasa, tinggal kurang dari sepekan lagi sampai hari H, dan sekarang kami sedang berada di tengah-tengah Tahap Akhir Persiapan.
Kelelahan semua orang memang sudah mencapai puncaknya, tetapi kalau kami bertahan sedikit lagi, semuanya akan berjalan lancar—.
Nah, di saat kayak gitulah.
Masalah memang dapat terjadi.
"─Apa bahan-bahannya kurang?"
Saat bahan makanan buat kios-kios itu tiba, dan kami sedang memeriksanya di ruang kelas.
Fakta yang tiba-tiba terungkap itu membuat suasana jadi ricuh.
"Eh, apa? Apa yang kurang?" "Gula!? Kok justru itu!?" "Tunggu dulu, kalau begitu kita tidak dapat membuat apa-apa, dong!" "Wah, wah, wah, bagaimana nih…!?"
"Hei, hei, hei, tenanglah, gaes!"
Zomu-kun memang menepuk-nepukkan kedua tangannya buat menenangkan keributan, tetapi kayaknya tidak ada yang mau tenang. Mungkin, rasa cemas mereka meledak karena masalah besar yang terjadi tepat saat mereka hampir mencapai tujuan.
"Bagaimana nih…? Kalau diajukan sekarang, pasti tidak bakalan keburu, bukan…?"
Mi-chan yang sedang menandai daftar di sebelahku menatapku dengan wajah cemas.
Aku berusaha tetap tenang, lalu balik bertanya pada teman-teman sekelasku yang bertugas mengurus bahan makanan—yang baru saja membuat pengakuan mengejutkan—Kamiizumi Mio-chan.
"Eh... ...kita sudah mengirimkan formulir pemesanan ke OSIS, bukan?"
Saat aku bergabung sebagai Manajer Tim Kios, pemesanan bahan-bahan yang dibutuhkan sudah selesai.
Menurut cerita yang aku dengar dari Takki, mereka mempercayakan pengurusan pemesanan itu pada Kamiizumi-chan, yang keluarganya punya toko kue—.
"Masalahnya..."
Kamiizumi-chan menjawab sambil menggosok matanya yang memerah dan bengkak.
"Kayaknya, ada satu lembar cetakan yang ketinggalan..."
─.
Kegemparan kembali melanda ruang kelas.
"Wah, ketinggalan?" "Eh, kok bisa begitu?" "Lagipula, itu bukan hal yang mesti dibicarakan sekarang!"
Ah, begitu ya... ...makanya Kamiizumi-chan tampak lesu terus selama beberapa hari ini....
Aku menyesal karena menganggap ini cuma kelelahan biasa, lalu mengepalkan tinjuku dengan erat.
Kamiizumi-chan itu cewek yang pendiam dan agak pemalu. Pasti Kamiizumi-chan mau bilang begitu, tetapi tidak bisa.
"Kamu ini benar-benar...! Mengapa tidak bilang lebih cepat...?!"
Di samping Kamiizumi-chan, cewek yang akrab dengannya—Komaba Rin-chan—berteriak dengan nada marah yang belum mereda.
Komaba-chan bertugas memasak, dan dia merupakan cewek yang sangat terampil dalam urusan rumah tangga, bahkan sampai membuat bekal makanannya sendiri setiap hari.
Selain itu, karena Komaba-chan juga cewek yang menghargai kerja sama, dia sangat tegas pada tindakan yang dapat mengganggu keselarasan kelompok.
Kayaknya Komaba-chan baru saja mengetahui kebenarannya, dan tampaknya mereka bertengkar hebat sebelum datang kemari.
Kamiizumi-chan kembali meneteskan air matanya, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Te-Tetapi...! Aku rasa mungkin pihak toko dapat menyediakannya...!"
"Mustahil dapat melakukan hal kayak gitu tanpa izin dari OSIS! Buat apa kita mengajukan permohonan dan membeli secara kolektif kalau bukan buat itu!"
"Dan-Dan lagi. Ka-Kalian sudah berusaha keras, aku tidak mau jadi beban..."
"Jadi... ...ah, jelas ini malah jadi beban buat kita! Dasar bodoh!"
"E-Euh...!"
"Tenang, tenang, tenang, tenanglah!"
Aku menenangkan Komaba-chan yang sedang emosi, lalu bilang begitu dengan suara yang cukup keras agar semua orang dapat dengar, penuh percaya diri.
"Tenang saja! Buat keadaan kayak gini, ada celah yang dapat dimanfaatkan, yaitu permohonan pembelian mandiri. Dulu aku pernah diajari oleh Pengurus OSIS!"
"Aku sudah tahu itu! Lagipula, uangnya bukannya sudah tidak bakalan turun lagi!"
"Hah. Sebenarnya, karena aku sudah menduga hal kayak gini dapat terjadi, aku sengaja menyisihkan sedikit anggaran di tempat lain."
"Hah…?"
Komaba-chan tercengang, mulutnya terbuka lebar.
Seluruh teman sekelasku pun tampak kaget dengan ekspresi, "Eh, benarkah?"
"Me-Mei-chan… …benarkah itu…?"
Menyapa Kamiizumi-chan yang tercengang, aku menepuk dadaku dengan keras.
"Benar, benar. Kecelakaan sekecil ini sudah diperhitungkan, loh!"
Lalu, buat menenangkan Kamiizumi-chan, aku tersenyum lembut dan mengeluarkan sapu tangan dari sakuku.
"Jadi, tidak usah menangis. Maaf, seandainya saja aku dapat menyadarinya lebih cepat."
Sebenarnya, ini juga kesalahanku karena tidak melakukan pemeriksaan ulang saat mengambil alih tugas. Semua orang bekerja dalam kondisi yang hampir melampaui batas kemampuan mereka; Mestinya aku bertindak dengan mengasumsikan adanya kesalahan.
"Mei-chan…! Ma-Maaf, aku sungguh minta maaf…!"
"Tidak apa-apa. Makasih sudah berusaha sendirian selama ini."
Para rekan kerja yang sebelumnya galau pun tampak lega setelah mengetahui kalau hal itu tidak fatal.
Fiuh. Mudah-mudahan ini dapat menuntaskan masalah....
"—Ngomong-ngomong, Kiyosato. Bukannya kamu bilang anggarannya kurang?"
Tetapi, eh.
Kali ini Komaba-chan yang bilang begitu dengan raut wajah yang kayaknya tidak puas.
"Padahal aku sudah sangat berhemat. Kalau ada sisa, pasti dapat dibuat lebih banyak lagi."
"Ah, eh... ...Memang aku bilang kalau itu 'sisa', tetapi sebenarnya bukan begitu. Katanya, dana cadangan itu merupakan dana yang disiapkan sebagai antisipasi kalau terjadi hal-hal tidak terduga, dan itu sudah jadi hal yang biasa dalam ajang-ajang kayak gini. Kalau sampai akhir tidak dipakai sama sekali, aku rencananya mau menggunakan itu buat biaya Pesta Pembubaran."
"...Aku memang tidak terlalu paham, tetapi kalau memang begitu mengapa kamu menyembunyikannya?"
"Tidak, aku tidak bermaksud menyembunyikannya! Cuma, membicarakan soal uang itu bukannya cuma membuat mengantuk buat orang-orang yang tidak tertarik? Jadi, aku cuma merasa kalau ditanya saja baru aku jawab."
"Ah, gitu ya..."
Komaba-chan masih tampak belum puas, lalu membelakangiku dengan sikap jutek.
Komaba-chan memang cewek yang berani, tetapi hari ini sikapnya sangat keras. Mungkin karena rasa tanggung jawab Komaba-chan yang tinggi dan stres menjelang pertunjukan, sehingga emosinya sedang memuncak.
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam agar sedikit pun ketulusan hatiku tersampaikan.
"Maaf. Benar juga, bukan, Komaba-chan yang bertanggung jawab atas masakan. Mestinya aku memberi tahumu sebelumnya."
"...Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan apa yang Kiyosato lakukan."
Komaba-chan bilang begitu dengan nada kasar, lalu berjalan pergi dengan langkah cepat.
Mungkin ada baiknya aku biarkan saja dulu… ...Nanti setelah Komaba-chan tenang, aku akan menindaklanjutinya lagi.
Aku mengalihkan pikiranku, lalu berbicara pada Kamiizumi-chan buat membahas langkah selanjutnya.
"Oke, waktunya sudah mepet, dapatkah kamu memberi tahuku mesti beli yang kayak apa? Aku yang akan mengajukan permohonan ke OSIS dan menyiapkan bahan-bahannya."
"Eh… …tetapi, tetapi bukannya aku yang salah, jadi semuanya mesti aku yang…"
"Tidak usah dipikirkan, tidak usah dipikirkan, buat hal-hal kayak ginilah aku jadi Ketua! Sisanya serahkan saja pada Mei-chan, Manajer Menengah super kita, dan Kamiizumi-chan, dapatkah kamu memeriksa lagi apa ada bahan yang terlewat? Kalian semua sudah dapat kembali ke tugas kalian masing-masing, loh!"
Setelah bilang begitu, aku dengan agak memaksa menggulung sisa-sisa pembungkusnya, lalu kami pun mengakhiri rapat itu.
─Oke, kali ini sudah benar-benar rapi.
Saat aku menghela napas lega, Mi-chan menyapaku dengan nada cemas.
"Mei─."
"Hmm?"
"…Ah, tidak, bukan apa-apa, kok."
Tetapi, seakan-akan hendak bilang sesuatu tetapi urung, Mi-chan menyerahkan Daftar Inventaris yang dipeluknya di dadanya padaku, lalu kembali ke posisinya semula.
Hmm, ahaha. Ada apa, ya?
Saat aku menundukkan kepalaku sambil berpura-pura tidak tahu apa-apa, Oomori-kun yang kayaknya diam-diam mengamati perkembangan situasi itu, melintas di sampingku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
…Dan, tiba-tiba.
"Dasar Pembohong."
Dengan suara pelan.
Setelah melontarkan kalimat itu, Oomori-kun pun keluar dari ruang kelas.
…Ah, s*alan, kalian semua menakutkan sekali.
Aku mengangkat bahuku, lalu memeriksa jumlah gula yang kurang pada Daftar Inventaris yang baru saja aku terima.
─Nah, begini.
Apa uang jajan ini cukup, ya….?
◆
─Sepulang sekolah.
Setelah Latihan Drama selesai.
"Hmm, lumayan merepotkan, nih!"
Sendirian di ruang kelas sambil mengisi formulir permohonan, aku menggerutu sambil menegakkan punggungku.
Aku memang sudah tahu karena ini soal makanan, jadi mesti hati-hati dalam banyak hal, tetapi apa perlu sampai menuliskan nama produsen atau di supermarket mana barang itu dibeli? Padahal ini bukan barang segar….
Tetapi kalau permohonan ini ditolak, pasti akan membuang-buang waktu, dan aku juga tidak punya waktu luang buat penasaran dengan santainya. Aku mau segera mengisi seluruh kolom dan mendapatkan persetujuan besok pagi.
Sambil memikirkan hal itu, aku melihat ke luar jendela, dan ternyata sang surya sudah tenggelam sepenuhnya, sehingga gelap gulita.
Suara-suara aktivitas yang tadi kedengaran di sana-sini pun tanpa disadari sudah berhenti, dan sekarang cuma kedengaran suara pintu lemari sepatu yang terbuka, berderak-derak, bergema dari kejauhan.
"…Wah."
Wajar saja, karena waktu pulang sekolah sudah lewat. Sebenarnya aku bermaksud menuntaskannya dengan cepat dan pulang, tetapi karena sesekali mesti mengerjakan tugas lainnya, akhirnya aku jadi terlambat.
Meskipun suasana agak longgar karena sedang Musim Festival Budaya, Bapak-Ibu Guru yang berpatroli pasti akan segera datang kemari. Tentu saja, kalau sudah ditegur, aku mesti pulang, jadi tenggatnya sampai saat itu. Masih ada hal lainnya yang mesti dilakukan, dan aku tidak mau membawa pulang tugas lagi.
Sambil menahan perutku yang mulai keroncongan, aku meneguk air yang aku masukkan ke dalam botol minum.
Biasanya aku akan mengemil sesuatu, tetapi… ...setelah menghitung-hitung, uang jajanku kayaknya akan habis total, jadi aku memutuskan buat menahan lapar dengan air dari dispenser ini.
Tidak, bukan begitu. Mari kita pikirkan kayak gini. Ini memang kesempatan buat diet. Kalau aku menganggapnya sebagai ujian untuk mengurangi konsumsi daging, pasti aku dapat menahan rasa laparku!
Mengabaikan suara protes "Krukukuk" dari perutku yang menentang tekadku itu, aku kembali fokus pada dokumen-dokumen tersebut.
Eh, nama produsen, nama produsen… …apa akan muncul kalau aku mencarinya?
─Gara-gara.
Tepat saat aku mulai mencari di ponsel pintarku, suara pintu kelas terbuka bergema.
Wah, hari ini cepat sekali, Ibu Guru!
"Ahaha, maaf ya! Aku mau pulang... ...eh?"
Saat aku buru-buru mencoba membereskan meja, aku menyadari kalau sosok itu mengenakan seragam sekolah.
Hmm...?
"...Oomori-kun?"
Dan, di sana—ada sosok Oomori-kun yang berdiri sendirian sambil memegang kantung plastik.
"Eh, Tim Properti masih ada di sini? Apa ada masalah?"
Tanyaku sambil mengedipkan mataku.
Oomori-kun tidak menjawab pertanyaan itu, melainkan berjalan ke arahku tanpa bilang apa-apa, lalu meletakkan tas yang ia pegang dengan suara berderak di atas meja sebelah.
"Bawaanmu."
"...Hah?"
Aku menatap kantung plastik yang terbuka.
Di dalamnya, ada beberapa camilan kayak cokelat dan kue.
…Eh.
"Apa maksudnya ini…?"
"Kamu mengganti kerugian akibat kesalahanmu dengan uangmu sendiri, bukan? Kamu memang cewek yang terlalu baik hati."
Tiba-tiba ditanya langsung ke intinya, aku pun menelan ludah.
"…Ah, jangan dong, mana mungkin ada hal kayak gitu."
"Pembohong."
"Bukan bohongan, kok…"
…Ternyata, kata "Pembohong" tadi memang maksudnya begitu.
Meskipun aku tahu kalau tidak ada gunanya mengelak, aku tetap membalas Oomori-kun karena merasa ada yang janggal.
"Eh... ...tidak usah dipikirkan. Lagipula aku juga tidak lapar."
"Ah, mustahil. Perutmu sampai bergemuruh sampai kedengaran di luar, kok bilang begitu?"
"Eh, bohong!?"
"Bohong?"
"Bohong, ya!"
Puk! Tanpa sadar, dengan nada kayak saat mengolok-olok Zomu-kun, aku meninju Oomori-kun dengan lembaran kertas yang digulung.
Astaga, aku bertindak secara spontan. Hmm, mungkin aku juga agak lelah.
Saat aku memukul-mukul diriku sendiri dengan lembaran cetakan itu, Oomori-kun duduk di meja sebelah dan membuka tutup kaleng kopi dengan bunyi "Kashu". Kayaknya Oomori-kun berniat buat tetap di sini.
Tetapi, Oomori-kun... ...benar-benar tajam. Aku kira cuma Mi-chan yang dapat menebak kebohonganku.
Selain itu, reaksiku sampai terbaca dan Oomori-kun malah menggodaku. Karena aku belum terbiasa dengan hal kayak gitu, rasanya agak aneh.
Tetapi ya sudahlah─.
Sambil menatap Oomori-kun yang diam-diam menyesap kopi, aku tersenyum kecil.
Kayak saat Ririko-chan tadi, kamu benar-benar baik hati ya… …Oomori-kun?
Mungkin saat Mi-chan kesulitan juga, Oomori-kun pasti sudah mengulurkan tangannya kayak gini. Meskipun Oomori-kun dapat melakukan apa saja dengan cekatan, caranya menunjukkan perhatian justru canggung, dan itu terasa imut.
Seandainya saja Oomori-kun lebih sering menunjukkan sisi kayak gini. Sangat disayangkan sekali kalau kebaikan hati Oomori-kun ini cuma ditujukan pada segelintir orang saja.
"…Oomori-kun, mengapa kamu menolong Mi-chan?"
"Hah? …Mengapa tiba-tiba kamu bertanya begitu?"
Oomori-kun menoleh ke arahku dengan raut wajah bingung.
Hal yang mau aku tanyakan tetapi tidak sempat aku tanyakan sebelumnya… …mungkin sekarang aku dapat menanyakan banyak hal.
"Begini, dulu waktu jadi anggota Komite Perpustakaan, kamu bukannya pernah menolong Mi-chan yang sedang ada masalah? Pasti, kira-kira kayak gini, deh."
"…"
"Mengapa kamu melakukan itu, ya? Aku agak penasaran."
Kayak yang pernah aku bilang sebelumnya, Oomori-kun sangat keras pada 'Orang asing yang tidak penting'.
Tetapi, karena Oomori-kun membantu, berarti Mi-chan tidak termasuk dalam kategori itu. Kalau aku dapat mengetahui alasannya, mungkin aku dapat menebak apa yang ada di dalam benaknya.
Oomori-kun kembali menunjukkan ekspresi datar, melirikku sekilas, lalu membuka mulutnya.
"…Sederhananya, apa yang Shinagawa bilang lebih masuk akal, sedangkan yang lainnya cuma menyembunyikan alasan kalau mereka merasa repot dan terus-menerus mengumbar argumen yang tidak masuk akal, dan itu yang membuatku kesal."
Sambil bilang begitu, Oomori-kun menyesap secangkir kopi.
"Menurutku, tipe kayak Shinagawa pasti akan mudah terpengaruh orang lain dan mengubah pendapatnya. Tetapi Shinagawa sama sekali tidak mau mengalah, jadi aku jadi tertarik."
"…Fufu, begitu ya, begitu ya."
Maknanya, Oomori-kun menyukai keteguhan hati Mi-chan, bukan?
Meskipun orang kadang menyebut Oomori-kun itu keras kepala, aku juga merasa itulah daya tarik terbesar Oomori-kun menurut Mi-chan. Itu berarti Oomori-kun punya sesuatu yang sangat berharga dan tidak dapat dikompromikan.
Dan karena hal itu diakui, berarti Mi-chan dinilai dengan tepat.
Itu memang hal yang paling membahagiakan.
"Tetapi — itu karena pengaruh Kiyosato, ya?"
"…Eh?"
Benar─.
Tiba-tiba, obrolan beralih padaku. Sesaat, aku kehilangan kata-kataku.
"Aku memang sudah curiga ada yang aneh, tetapi yang lain-lainnya lumayan normal."
…Tung-Tunggu dulu.
Tunggu sebentar.
"Eh, begini. Aku sama sekali tidak ada hubungannya, loh? Mi-chan memang sejak awal sudah cewek yang luar biasa."
"Tetapi, bukannya Kiyosato yang berhasil menggali potensi itu?"
Tiba-tiba tersadar, aku mengangkat wajahku.
Oomori-kun mendengus dan melanjutkan.
"Aku baru tahu sejak masuk kelas ini, tetapi setiap ada sesuatu, Kiyosato selalu mendukung, bukan. Rasanya kayak, 'Itulah kelebihan Mi-chan, itulah daya tariknya,' gitu deh."
"Memang sih, tetapi..."
"Sifat yang pada dasarnya dapat memicu pro dan kontra, kalau Kiyosato mengakui itu, berarti itu sah-sah saja, jadi dapat diungkapkan dengan tenang. Rasanya kayak mendapat restu dari orang yang kompeten."
"Bu-Bukan begitu. Hal kayak gitu—"
"Itu, kalau dimaknai lain, sama saja dengan doping. Kekuatan yang tidak dapat dikeluarkan tanpa Kiyosato, itu memang bukan kekuatan asli orang tersebut dalam makna sebenarnya, bukan?"
Kata Oomori-kun dengan datar, seakan-akan cuma menyampaikan fakta belaka─.
"Aku tidak suka kalau mesti bergantung pada orang lain. Kita sudah bukan bocil lagi, bukan?"
Saat Oomori-kun menegaskan dengan suara yang jutek.
Mendengar kata-kata yang suasananya bertolak belakang dengan kelembutan yang baru saja Oomori-kun tunjukkan, dadaku terasa sesak.
"Mengapa...?"
"?"
"Mengapa Oomori-kun… …merasa begitu?"
Perasaan peduli pada orang lain yang mestinya jadi inti dari diri Oomori-kun. Itu pasti bukan bohong, tetapi mengapa Oomori-kun dapat bersikap sangat jutek pada saat yang sama?
Menanggapi pertanyaanku, Oomori-kun terdiam sejenak.
"…Aku kesal melihat orang yang mampu malah dihambat oleh orang lain."
Dengan ekspresi yang tampak sedikit kesal, Oomori-kun meletakkan kaleng yang sudah kosong itu ke atas meja dengan bunyi "Klak".
"Biasanya orang yang mampu malah diganggu sama yang tidak mampu. Lalu, pada akhirnya, kita mesti menyesuaikan diri sama yang tidak mampu itu. Itu cuma buang-buang waktu saja, bukan?"
"…"
"Apa perlu sampai mengorbankan diriku sendiri buat menjaga orang lain? Biarkan saja mereka, orang-orang kayak gitu."
─Ah, apa jangan-jangan?
Dari kata-kata yang terucap seakan-akan dilontarkan bersama emosi yang terpendam, aku dapat merasakannya.
"Kiyosato juga, sebenarnya merasa kerepotan, bukan? Kayak kali ini, mesti membersihkan kekacauan orang yang tidak dapat diandalkan."
Oomori-kun bilang begitu dengan nada mengejek.
Pasti Oomori-kun—telah mengalami hal kayak gitu, begitulah.
Dulu Oomori-kun memang menunjukkan kebaikan hatinya pada banyak orang, tetapi itu tidak terbalas. Akhirnya, Oomori-kun jadi enggan berinteraksi dengan orang lain.
Jadi, aku dapat memahami apa yang mau Oomori-kun bilang, dan menurutku ia tidak salah.
Tetapi….
Aku─.
"Bukan begitu."
Kalau begitu, sekeras apapun aku berusaha.
Karena aku merasa tidak ada yang dapat tertawa dari hati.
"Bukan begitu. Apa yang aku lakukan ini, pasti tidak salah."
Maka dari itu, dengan tegas.
Lebih tegas ketimbang saat di bianglala, aku menegaskan.
"...Mengapa kamu tidak mengerti? Itulah yang aneh, bukan?"
Oomori-kun mengerutkan jidatnya seakan-akan tidak dapat menerima hal itu, lalu menyibakkan rambutnya dengan acak-acakan.
"Lagipula, mengeluarkan uang sendiri buat kesalahan orang lain itu aneh, bukan?"
"Itu kesalahanku. Aku yang bertanggung jawab."
"Itu cuma dalih. Kalau sejak awal Kiyosato yang mengerjakannya, hal kayak gini tidak akan terjadi."
"Aku yang mempercayakannya pada kalian, dan aku juga yang lalai memeriksanya. Jadi, akulah yang salah."
"…Apa kamu mau jadi penyelamat atau semacamnya?"
Oomori-kun mendecakkan lidahnya sambil menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan yang jelas.
Amarah Oomori-kun itu, semuanya demi aku. Meskipun kata-kata Oomori-kun kasar, aku tahu kalau di balik itu semua ada kepeduliannya padaku, jadi aku tidak marah.
─.
…Kepedulian Oomori-kun, padaku?
"Kalau terus begini, pasti tidak ada hasilnya, deh. Orang-orang di sekitar sini bahkan tidak sadar kalau mereka sedang dibantu olehmu."
Kepedulian, kepedulian─.
Sejak awal… …sejak awal, ya.
Mengapa sih Oomori-kun sangat peduli padaku?
Apa karena aku orang yang "mampu" kayak yang Oomori-kun bilang?
Apa karena Oomori-kun membayangkan diriku di dalam situasinya dan mengkhawatirkan nasibku?
…Benarkah, cuma karena itu saja, Oomori-kun rela melakukan semua ini?
"Lagipula, seberapa pun Kiyosato itu—"
"O-Oomori-kun!"
Tanpa sadar aku berseru, memotong paksa kalimat yang hendak Oomori-kun bilang.
Tanpa sadar aku bersuara, memotong paksa kata-kata yang hendak dilanjutkan.
Entah mengapa… …jantungku berdebar-debar.
Tidak bagus kalau obrolan ini berlanjut lebih jauh.
"Aku baik-baik saja. Jadi, tidak usah mengkhawatirkanku."
Aku menatap mata Oomori-kun lagi dengan lurus, lalu memintanya dengan nada yang lebih tegas ketimbang biasanya.
…Aku mohon.
Aku mohon, mundur saja.
Aku merasa… …aku merasa sangat tidak enak.
Jadi, aku mohon.
─.
"…Aku benci ini."
"Bagaimana-—?"
Menurutmu.
Tepat saat aku hendak menanyakannya kembali pada Oomori-kun secara spontan.
—Kalau aku melangkah lebih jauh, aku tidak dapat kembali lagi.
Iya, sambil menggigil.
Aku merasa ada firasat soal kebenarannya.
"Ma-Maaf! Aku pulang dulu!"
Dengan suara "Brak", aku menendang bangku dan berdiri.
Tanpa menunggu reaksi Oomori-kun, aku memeluk tasku yang ritsletingnya masih terbuka.
Tanpa menoleh sedikit pun, aku kabur dari tempat itu.
"Hahaha."
Aku berlari, berlari di lorong yang remang-remang.
Jantungku berdebar kencang, napasku terengah-engah.
─Bukan.
Aku mau percaya kalau itu tidak benar.
"Itu, cuma itu saja, tidak boleh…!"
─Yang ada di dalam hatinya.
Hati Oomori-kun.
Sambil bersikeras, "Aku tidak mau jadi jimat buat orang lain,"
Serangkaian tindakan yang Oomori-kun lakukan buat melindungiku.
Perasaan yang tersembunyi di balik semua itu.
"Kalau begitu… …Mi-chan…!"
─Itu memang rasa suka padaku.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
