[Peringatan 15+]
Bab 2Bab Liburan Musim Panas
Psst, klek.
Seiring dengan bunyi pintu bus yang terbuka, hawa panas yang pengap pun masuk.
Aku menuruni tangga dengan langkah ringan, lalu menginjak aspal yang dipanaskan oleh terik sang surya musim panas.
Sambil merasakan udara panas yang membakar yang langsung menyelimuti tubuhku, aku menutup mataku dan menghirup udara dalam-dalam.
Suara jangkrik yang terdengar dari sekeliling, "Krik-krik, krik". Gemericik sungai yang mengalir di dekat sana. Suara dedaunan yang sesekali berdesir─.
Inilah dia, suaranya Liburan Musim Panas.
Inilah dunianya Liburan Musim Panas.
Saat aku merasakannya dengan segenap tubuhku, aku tidak dapat lagi menahan diriku─.
"Sampai─!"
"Wah!" Seruku sambil mengangkat tanganku dan melepaskan teriakan kegembiraan.
─Perjalanan dengan kereta api dari Pusat Kota memakan waktu sekitar satu jam lebih sedikit.
Setelah berganti bus dari stasiun kecil terdekat, akhirnya kami tiba di Summer Park.
Saat memandang ke atas dari halte bus di depan pintu masuk, bangunan itu tampak kayak gimnasium serbaguna yang besar.
Di sekelilingnya penuh dengan orang, orang, dan orang, kerumunan yang kira-kira 10 kali lipat dari yang aku bayangkan. Memang ada rumor kalau tempat ini cukup ramai, tetapi aku tidak menyangka kalau akan sesibuk ini. Ngomong-ngomong, apa Kolam Arus ini dapat digunakan buat berenang?
"Ayolah, cepat masuk! Cepatlah, cepatlah!"
Lalu, Zomu-kun yang sudah turun lebih dulu dari bus, dengan wajah yang tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya, perlahan-lahan mendekati pintu masuk.
"Kamu dapat tetap bersemangat kayak gitu, ya. Kamu ini bocil, ya?"
Sambil melontarkan sindiran kayak biasanya, Oomori-kun mengibaskan kemejanya dengan riang. Kayaknya Oomori-kun benar-benar tidak tahan panas, wajahnya tampak lebih lesu ketimbang biasanya.
"Eh, coba deh sembunyikan sedikit niat jahatmu? Terlalu jelas sampai-sampai aku jadi malu sendiri."
"Hah? Eh, apa yang kamu bicarakan, Asahi-kun? Bukan gitu, cuma karena panas jadi aku mau cepat-cepat masuk kolam renang saja!"
Ah, bohong deh.
Aku melemparkan tatapan dingin ke arah Zomu-kun yang terus-menerus mengoceh dengan berbagai alasan, lalu menoleh ke belakang.
"Kamu tidak apa-apa? Mau aku bantu bawakan barangnya?"
"Tidak, aku memang tidak apa-apa. Tetapi aku juga mau cepat-cepat masuk, nih… …kakiku, panas banget."
Sambil bilang begitu, Mi-chan berlari ke tempat teduh di dekat sana. Memang, dengan cuaca sepanas ini, kayaknya panasnya dapat menembus sandal bertumit tebal sekalipun.
Ngomong-ngomong, Mi-chan tampil dengan gaun putih dan topi jerami, penampilan klasik Liburan Musim Panas di perkampungan. Selain itu, karena akan masuk ke air, Mi-chan melepas kacamata biasanya dan memakai lensa kontak.
Rambut hitam panjang Mi-chan dikuncir dua di kedua sisi, dan tergeletak rapi di atas bahunya yang ramping. Mi-chan benar-benar tampak kayak cewek cantik yang malang, yang kayaknya akan muncul di tengah ladang bunga matahari.
Iya, tentu saja, aku sengaja memakaikannya, loh? Karena aku tahu itu sangat cocok buat Mi-chan.
"…Mei, tatapanmu agak menyeramkan, loh."
"Ehem, ehem."
"Astaga, kalau begini, aku tidak beda jauh dari Zomu-kun...."
"Ya-Ya sudah, mari kita masuk saja! Aku bawa kupon diskon, jadi aku bagi-bagi ya!"
Sambil bilang begitu seakan-akan buat mengalihkan perhatian dari tatapan berkaca-kaca mata Mi-chan, dia mendorong punggung semua orang dengan keras menuju pintu masuk.
Ayolah, hari ini kita main sepuasnya!
◆
Summer Park terbagi jadi tiga area: Adventure Cave, area kolam renang dalam ruangan yang buka sepanjang tahun; Adventure Beach, area kolam renang luar ruangan yang cuma buka pada musim panas; dan Thrill Forest, area taman hiburan yang dilengkapi dengan kereta luncur dan bianglala.
Di seluruh tempat tersebut memang dapat dimasukkan dengan tiket 1Day Free Pass yang sama, tetapi cuma di Thrill Forest saja yang tidak boleh masuk dengan pakaian renang. Jadi, rencananya kami akan bermain di kolam renang dulu, lalu berganti pakaian sebelum menjelajahi wahana-wahana lainnya.
"Wah, keren banget! Rasanya kayak di laut banget!"
Setelah selesai berganti pakaian, aku dan Mi-chan langsung masuk ke Adventure Cave.
Yang tampak di depan mata yakni Kolam Ombak yang meniru pantai. Sekilas memang tampak kayak kolam renang biasa, tetapi rupanya kolam renang ini dirancang agar ombak muncul secara berkala.
Dulu waktu bocil, aku cuma dapat mengapung-apung di Kolam Anak-anak, jadi ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati kolam renang kayak gini. Ah, aku tidak sabar mau masuk!
"Hei, hei, benar-benar aneh, bukan?"
Mi-chan yang berdiri di sampingku terus-terusan memeriksa penampilannya sambil bersuara dengan nada cemas.
"Aduh, masih mengobrolkan hal itu? Bukannya pegawai tokonya juga bilang itu cocok banget."
"Tetapi, kalau dibandingkan dengan Mei..."
Mi-chan melirik ke arahku sebentar, lalu merunduk sambil memeluk kedua bahunya.
Ah, sudah deh, terlalu imut. Mi-chan memang selalu ngomong kayak Heroin Novel Romansa, ya.
"Lagipula, itu bukan hal yang dapat dibandingkan. Aku ya aku, dan kamu, Mi-chan, punya gaya yang cocok buat dirimu sendiri. Kalau dapat menonjolkan pesona diri kita masing-masing secara maksimal, itu sudah menang, bukan?"
Bikini Mi-chan itu memang bikini flare putih bersih dengan ruffle. Dengan tubuh Mi-chan yang ramping dan kesederhanaannya, kontras antara rambut dan bikininya tampak sangat menawan.
Kalau soal cocok atau tidaknya, jelas banget cocok, bahkan seakan-akan desain ini disiapkan oleh Dewa-Dewi khusus buat Mi-chan.
Lagipula, aku yang malah tampak agak dipaksakan. Terutama lemak di perutku.
Ah, aku tidak gemuk kok? Memang aku tidak gemuk sih, tetapi rasanya ada sedikit lemak yang lembut di sana!
"Lagipula, aku rasa Oomori-kun tidak peduli dengan hal-hal kayak gitu, bukan? Oomori-kun itu tidak kayak Zomu-kun."
"…"
Dengan tubuh yang agak menggeliat, pipi Mi-chan memerah.
Ya sudah deh, itu langsung keluar. Silakan tunjukkan itu di depan Oomori-kun sendiri.
Setelah obrolan yang berlarut-larut itu, kami berdua pun berjalan menuju payung yang telah kami tentukan sebagai titik pertemuan.
Setelah berjalan sebentar sambil langkah kaki telanjang kami bergemuruh, tidak lama kemudian sosok Zomu-kun yang tinggi itu pun tampak. Ternyata kedua orang cowok itu kayaknya sudah tiba lebih dulu.
Zomu-kun yang tampak dari kejauhan kayaknya belum menyadari kehadiran kami. Zomu-kun terus-menerus melihat ke sekelilingnya, mengulurkan tangannya ke sana-kemari, dan melakukan gerakan membungkuk-bungkuk sambil mendengus-dengus, seakan-akan bergerak tanpa tujuan.
…Iya, itulah Zomu-kun, cowok yang benar-benar terpesona oleh cewek-cewek berbusana renang.
Melihat Zomu-kun yang terus-menerus tampak melamun sejak kami berangkat, aku merasa heran, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.
Fufun. Aku akan memberi Zomu-kun sedikit hukuman ilahi.
"Hei, Mi-chan, diamlah ya."
"Hah?"
Sambil menempelkan jari telunjukku ke bibirku dan bilang, "Ssst," aku berjongkok dan perlahan-lahan bergerak ke belakang Zomu-kun.
Lalu, sambil meredam suara langkah kakiku, aku merayap mendekat, selangkah demi selangkah.
Lalu, saat aku sudah berada tepat di belakang Zomu-kun, di tempat yang dapat aku jangkau─.
"Ma, af, la, ma, me, nung, gu!"
Puk!
"Aduh─!!"
─Aku menampar Zomu-kun dengan sekuat tenaga.
Aku menunjuk ke arah Zomu-kun yang melompat sambil membungkuk ke belakang dengan suara "Eh copot eh copot!" dan tertawa.
"Hahaha, ada dua daun merah yang indah!"
"Aduh s*alan, sakit banget! Mei, kamu berani sekali─"
Sambil melingkarkan tangannya di punggungnya, Zomu-kun menoleh ke arah belakang.
Lalu, seketika itu juga, Zomu-kun berhenti bergerak.
"As-Astaga, Mei, astaga…!"
"Hei, hei, menatapku kayak gitu itu melanggar etika, loh."
Terutama perutku, jangan lihat perutku. Kalau kalian lihat perutku, aku akan marah, loh.
"Hah, bikini bermotif bunga…! Siluetnya memang menonjolkan kesan dewasa, tetapi pita jingga yang ceria itu malah membuatmu tampak imut…!? Cocok banget!"
"Rasanya ada banyak penjelasan yang tidak perlu, nih… …Yah, makasih."
Sambil menyilangkan tanganku dengan santai buat menutupi perutku, aku pun mengucapkan terima kasih.
Zomu-kun berlari menghampiri Oomori-kun, lalu memeluk bahu Oomori-kun dengan erat.
"Eh, eh, eh, tunggu dulu, itu, seriusan deh, gila banget, ukurannya mustahil punya cewek Kelas IX SMP, bukan…!?"
"Jangan ngomong begitu padaku, ya? Aku tidak mau dianggap sama kayak kamu."
Oomori-kun dengan sangat kesal menepis Zomu-kun yang berbisik di telinga Oomori-kun. Lagipula, suara Zomu-kun terlalu keras, jadi tidak ada gunanya berbisik.
"Eum..."
Tiba-tiba, dari belakang kedengaran suara yang ragu-ragu.
Aku menoleh dan mengomel dengan kesal.
"Hei, Mi-chan, jangan cuma aku yang jadi bahan olok-olok, dong!"
"Bukan begitu maksudku..."
Meskipun bilang begitu, Mi-chan sama sekali tidak mau bergerak.
Aku langsung berputar ke belakang Mi-chan, lalu mencengkeram kedua bahunya dengan kuat.
"Aduh, tunggu, tunggu dulu, Mei!"
"Ayolah, angkat!"
Lalu, aku mendorong Mi-chan ke depan dengan keras.
Mi-chan berjalan terhuyung-huyung dua atau tiga langkah, lalu berhenti tepat di depan Oomori-kun.
Lalu, dengan ragu-ragu, Mi-chan mengangkat wajahnya dan bergumam pelan sambil menatap ke atas.
"Eh, itu... ...bagaimana dengan pakaian renangku, ya?"
"Yah, bukannya itu cocok denganmu?"
Mendengar kata-kata itu, Mi-chan menghela napas lega dan melembutkan raut wajahnya, lalu menyatukan kedua tangannya di dadanya.
Ah, sumpah, imut banget…
"Ah, pakaian renangnya Miharu-chan yang tampak sopan dan anggun tapi juga agak berani itu imut banget! Apalagi warnanya putih, justru bikin semakin seksi! Keren banget!"
"...Mitaka-kun, kamu terlalu menjijikkan..."
"Zomu-kun, popularitasmu sudah anjlok sejak tadi. Kalau kamu ngomong hal bodoh lagi, aku bakalan mencungkil matamu."
"Wah, apa-apaan jarimu itu? Bukan cuma mau mencungkil mataku, tetapi kayaknya kamu mau mencabut mataku, mengerikan sekali…!"
◆
─Kolam Ombak.
"Wah, wah, wah, keren banget! Ombaknya besar sekali!"
Tepat saat ombak mulai muncul, kami pun melompat ke kolam di depan kami.
Kami memang mencoba menuju ke bagian yang ombaknya paling tinggi, tetapi ternyata lebih dalam dari yang kami kira, sampai-sampai kaki kami tidak dapat menyentuh dasar. Tidak heran ada peringatan kalau anak di bawah 9 tahun dilarang masuk.
"Hah, mestinya kita melompat pas ombaknya datang, hah, kalau tidak, kita bakalan tersapu!"
"Hei, aku baik-baik saja, kok?"
Zomu-kun berdiri tegak sambil menahan ombak. Memang benar, dengan tinggi badan Zomu-kun yang kayak gitu, kayaknya ia masih punya banyak ruang gerak.
"Ini, lumayan, bahaya, hujung!"
Mi-chan yang berpegangan pada ban pelampung tidak dapat melawan ombak yang mendekat dan terus terdorong kembali ke arah pantai.
Tiba-tiba, Oomori-kun berdiri di depan Mi-chan kayak tembok dan mencengkeram ban pelampung itu dengan kuat.
"Kalau mau, pegang saja lenganku?"
"Ma-Makasih!"
Wah, wah, bagus sekali. Benar-benar masa muda.
Saat aku tersenyam-senyum sambil mengamati pemandangan itu, tiba-tiba ada beban berat yang menekan kedua bahuku.
"Eh. Tung-Tunggu dulu, Zomu-kun?"
"Hehe, ini balas dendam pukulan telapak tanganmu!"
"Tung-Tunggu, wah!"
Karena tertekan ke dasar, aku tidak dapat melompat, sehingga gelombang menghantamku tepat di depanku.
"Hah, hen-hentikan! Aku tenggelam!"
"Wahaha, belum selesai!"
─Selanjutnya yakni zona olahraga di luar ruangan.
"Wah, wah, ini goyangnya lebih dari yang aku bayangkan."
Sambil memegang tali yang menjulur di atas kepalaku, aku berjalan di atas pelampung yang mengapung di air.
Secara sekilas tampaknya memang tidak terlalu sulit, tetapi saat dicoba ternyata cukup sulit menjaga keseimbangan. Kalau salah menempatkan pusat gravitasi, kayaknya aku akan langsung terbalik.
"Hah, hah, hah, eum."
Zomu-kun, dengan keseimbangan yang luar biasa, melangkah dengan lincah tanpa perlu memegang tali. Kemampuan motorik Zomu-kun memang sudah terkenal.
"Hei, Mei, mau bertaruh siapa yang lebih dulu sampai ke garis finis?"
Zomu-kun berhenti dan menoleh ke belakang, lalu menatapku sambil tersenyum lebar.
"Yang menang traktir es serut, ya?"
…Hah?
"Aku ikut. Tetapi aku yang akan traktir semuanya, ya."
"Wah, berani banget, ya? Padahal kamu tidak dapat maju tanpa tali."
Hihihi, Zomu-kun tertawa sinis.
Tanpa bilang apa-apa, aku berjalan terhuyung-huyung ke depan, lalu turun ke ban pelampung tepat di samping Zomu-kun.
"Mi-chan, tunggu aba-abaku, ya!"
Lalu aku menyapa Mi-chan yang sedang menonton di pinggir kolam.
Nah, kalau ini soal pertarungan… …aku akan mengeluarkan kemampuan terbaikku.
"Mari kita mulai. Siap─ mulai!"
Seiring teriakan Mi-chan, aku menendang ban pelampung itu dengan keras sampai menimbulkan bunyi "Plak".
"Hah?"
Di sebelahku, Zomu-kun memang berteriak dengan suara yang benar-benar gila, tetapi sudah terlambat.
Aku berlari melintasi atas ban pelampung itu dengan ritme yang teratur, sambil terus bergerak maju.
"Hei, apa-apaan tadi itu!?"
"Ahahaha, itu pasti jebakan buat bikin kita lengah, bukan!"
Aku sudah lama menguasai trik berjalan di atas ban pelampung itu. Yang tadi itu cuma aku lagi memikirkan cara biar aku bergerak lebih cepat dengan memanfaatkan tali.
Lagipula, ini Zomu-kun, jadi aku sudah tahu kalau aku menunjukkan kelemahannya, ia pasti bakalan menantangku kayak gini.
"Mei, semangat!"
"Mitaka, ikan kecil!"
Mi-chan dan Oomori-kun yang sedang menonton melontarkan ejekan.
"Hei, ada yang mau mendukungku? S*alan, aku tidak bakalan kalah!"
─Perosotan Air.
Kami naik perahu karet berkapasitas empat orang, lalu meluncur sambil berputar-putar di dalam terowongan yang dialiri air.
"Aduh, Mei, jangan diputar!"
"Hahaha, belum selesai!"
"Ayolah, serangan gelitikan di sini! Jatuh saja, Asahi!"
"Kamu terlalu kekanak-kanakan, deh..."
"Aku bakalan mengebut lagi, nih!"
"Menakutkan! Aku bilang menakutkan!"
"Aku bakalan bikin kamu tidak dapat bersikap acuh tidak acuh lagi!"
"Ketimbang begitu, mendingan lihat ke belakang, dong?"
Bem!
Tidak lama kemudian, perahu karet itu mendarat di air sambil memercikkan air dengan hebat, dan aku serta Zomu-kun yang sedang bercanda kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke kolam renang seakan-akan dilempar.
"Hah, air! Aku minum air!"
"Guah, hidungku perih banget!"
"…Itu akibat perbuatan kalian sendiri, ya ampun."
"Kuno banget."
◆
Begitulah, setelah menikmati semuanya sebentar, tibalah waktunya makan siang.
Katanya ada restoran di dekat sini yang dapat makan di tempat, jadi kami pun mencoba pergi ke sana─.
"Wah, ramai banget, nih."
Zomu-kun langsung berseru saat melihat ke dalam restoran.
Memang benar, bukan cuma bangku yang beratap, bahkan meja-meja di luar pun sudah penuh sesak sehingga kayaknya tidak ada bangku yang kosong.
"Ah, benar juga. Bagaimana ya, kita tunggu sampai ada yang kosong?"
"Tetapi antrean ini, semuanya antrean buat menunggu, bukan…?"
Sambil memandang konter pemesanan buat makan di tempat, Mi-chan bergumam.
Antrean orang-orang membentang jauh ke depan tanpa henti dan tidak tampak ujungnya. Memang ada beberapa toko lainnya, tetapi pasti situasinya sama di mana-mana.
Hmm, ini salah langkah nih. Mestinya aku bertindak lebih terencana.
"Tadi ada orang yang makan di ruang istirahat gratis. Mendingan kita beli bawa kembali dan pergi ke sana, ya?"
Kata Oomori-kun sambil menunjuk ke arah kubah dengan jempolnya.
Memang benar, mungkin itu mendingan ketimbang menunggu berlama-lama di bawah terik sang surya. Kalau bawa kembali, pelayanannya pasti lebih cepat.
"Tetapi, kalau tidak salah, ruang istirahat itu tempat yang kayak tanah, bukan? Kayaknya bakalan butuh alas duduk atau semacamnya."
"Kalau begitu, aku bawa tikar piknik. Sekarang masih di dalam loker sih..."
"Wah, kayak yang sudah aku duga, Mi-chan, persiapanmu bagus banget."
Hmm... ...kalau begitu, ya sudah deh.
Tiba-tiba, aku mendapat ide bagus, lalu aku mencengkeram lengan Zomu-kun dan menariknya ke arahku.
"Hm, hmm!?"
"Okelah, kalau begitu, kita bagi dua saja! Aku dan Zomu-kun akan beli makanannya, sementara Mi-chan dan Oomori-kun tolong cari tempat sambil ambil barang di loker!"
"Eh, tunggu dulu, Mei—"
"Boleh kan, Zomu-kun?"
Aku memotong ucapan Mi-chan yang kedengaran panik, lalu tersenyum pada Zomu-kun.
Kalau aku mencoba meminta persetujuan Mi-chan di sini, kayaknya dia bakalan merasa cemas. Kalau aku dapat meyakinkan Zomu-kun yang paling mudah dibujuk, hasilnya pasti oke.
"A-Aku, tidak keberatan, kok!"
Entah mengapa, Zomu-kun menjawab dengan bahasa yang terputus-putus, lalu mengangguk-angguk dengan penuh semangat sebagai tanda setuju.
Perilaku Zomu-kun memang agak mencurigakan sih… …tetapi, ya sudahlah.
"Oke, sudah diputuskan! Oke, aku akan mencatat pesanan kalian!"
Mi-chan dan Oomori-kun saling memandang dalam diam, lalu setelah beberapa saat, mereka menyerahkan pesanan mereka dan berjalan menuju kubah.
"Iya, iya, sempurna! Dengan begini, aku dapat membiarkan Mi-chan dan Oomori-kun berduaan saja sebentar!"
Meskipun ide ini muncul begitu saja, rencana ini cukup bagus, dan aku pun mendengus puas, "Hmf."
"─Ya-Yahaha, yahahahaha─"
Saat aku menoleh ke samping, Zomu-kun tampak menganga kayak ikan yang terdampar di darat.
"Aduh, sejak tadi apa yang terjadi─"
Dan, saat aku berbalik buat bertanya.
….
…, Ah. Ini ya.
Aku langsung melepaskan lengan Zomu-kun yang tanpa sadar telah memelukku.
"…Eum. Maaf."
"Wah…!"
…S*alan.
Eh, aku malah memberi layanan berlebihan.
◆
Di konter khusus bawa kembali, kami menunggu antrean bergerak.
Sang surya musim panas telah mengeringkan kulit kami yang baru saja basah kuyup. Meskipun sudah memakai tabir surya, panasnya terasa menusuk seakan-akan menembus tabir surya itu.
"Semoga tidak ada bekas terbakar sang surya," pikirku sambil memeriksa bagian tali bahu, saat Zomu-kun yang duduk di sebelah depan tiba-tiba bergumam.
"...Hei, Mei,"
"Hah?"
"Mengapa sih, kita yang jadi kelompok belanja?"
Zomu-kun bilang begitu tanpa menoleh ke arahku, tetap menatap ke depan.
Buat saat ini, aku memutuskan buat menyampaikan alasan yang lainnya.
"Gini loh, kasihan kalau Mi-chan mesti mengantre di bawah terik sang surya begini, bukan? Memaparkan kulit putih Mi-chan yang mulus ke sinar UV itu dosa, dosa banget."
"Kalau gitu, aku sama Asahi saja, bukan? Miharu-chan pasti juga tidak mau kulit Mei terbakar sang surya, bukan?"
"Aku sudah terbiasa karena ekskul."
Latihan Ekskul Tenis itu semuanya di luar ruangan. Aku iri dengan SMP yang punya lapangan latihan dalam ruangan.
Saat aku mencoba mengelak begitu, Zomu-kun tiba-tiba ngomong dengan nada yang jarang sekali kedengaran serius.
"Eh, Mei itu, ya. Kamu itu orang yang benar-benar baik, ya."
─Hah?
"Bagaimana ya, kamu selalu mengutamakan orang lain ketimbang dirimu sendiri. Maksudku, kamu itu orang yang penuh dedikasi."
"Hmm, benarkah? Padahal aku sama sekali tidak merasa sedang mengorbankan diriku, loh."
Aku merasa tidak enak kalau membalas Zomu-kun dengan bercanda kayak biasanya, jadi aku menjawab dengan serius.
Sebenarnya, aku tidak pernah merasa kalau aku sedang berkorban. Aku cuma melakukan apa saja yang mau aku lakukan, sejauh kemampuanku saja.
Zomu-kun menggerutu, "Hmm," seakan-akan sedang bingung, lalu melanjutkan.
"Tetapi, menurutku, boleh juga kan kalau kamu lebih memprioritaskan dirimu sendiri? Misalnya, dengan bersikap agak egois?"
"Eh, bukannya aku sudah sering melakukannya? Bilang, 'Ayolah lakukan ini, ayolah lakukan itu,' bukan?"
Sebenarnya, datang ke Summer Park itu usulanku. Atau lebih tepatnya, biasanya aku yang memimpin dalam menentukan rencana bermain.
Mendengar hal itu, Zomu-kun tampak bingung dan menyilangkan tangannya.
"Aku tidak dapat membicarakannya dengan jelas, sih. Tetapi, entah mengapa, kalau soal Mei, kemauanmu itu tidak kayak kemauan orang yang biasanya. Kemauanmu yang sebenarnya itu tidak kayak gitu, bukan... ...maksudku..."
Hmm?
Apa maksudnya, ya. Jarang-jarang aku tidak mengerti apa yang Zomu-kun mau bilang....
Saat aku mengernyitkan jidatku, Zomu-kun menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar.
"Ah, tetap saja aku tidak mengerti! Pokoknya, jangan dipaksakan, begitu deh."
Lalu Zomu-kun tiba-tiba memalingkan wajahnya, dan berdehem.
"Aku... ...eh. Aku tidak bakalan benci denganmu. Walaupun Mei semanja apapun."
─Sekejap mata.
Merasa secara intuitif makna yang tersembunyi di balik kata-kata itu, aku mendadak menegang.
"…Ahaha, begitu ya—."
Kata-kata barusan itu diucapkan karena Zomu-kun peduli padaku. Zomu-kun memang bukan tipe orang yang suka basa-basi, jadi aku dapat merasakan kalau ia benar-benar memikirkannya.
Tentu saja, aku senang dengan perasaan Zomu-kun itu.
Aku memang senang, tetapi—.
Kalau, di balik itu semua...
Kalau memang ada perasaan kayak gitu...
"Makasih, Zomu-kun. Sisi lembutmu kayak gitu—sebagai temanmu, aku sangat menyukainya."
—Aku tidak boleh membiarkan perasaan itu berkembang jadi cinta.
Saat aku menekankan hal itu dengan jelas, raga Zomu-kun gemetaran sejenak.
…Iya, baguslah.
Kayaknya pesanku sudah tersampaikan dengan jelas.
"…Eh, apa, benarkah!? Ulangi lagi yang tadi! Bilang lagi!"
Lalu, tidak lama kemudian, Zomu-kun langsung membalas dengan bercanda kayak biasanya.
Menganggap itu sebagai tanda persetujuan, aku pun menanggapi Zomu-kun dengan nada yang sama.
"Tidak boleh, aku tidak akan bilang begitu dua kali."
"Ah, apa salahnya! Bukannya tidak akan berkurang!"
"Berkurang, berkurang, rasa syukurnya jadi berkurang banget."
Dan kayak biasanya, kami berdua pun tertawa.
─Aku sungguh beruntung punya teman-teman yang luar biasa.
Membuat orang-orang kayak gitu tertawa merupakan kebahagiaan buatku.
Iya—Makanya itu.
Aku tidak boleh membalas perasaan mereka.
◆
—Saat aku duduk di Kelas V SD.
Saat itu, ada seorang cowok yang paling dekat denganku yang pernah menyatakan perasaannya padaku.
Cowok itu ceria, jago segala macam olahraga, dan populer di kelas. Selain itu, cowok itu juga dikenal tampan; Benar-benar kayak Zomu-kun. Karena kami bergabung di Ekskul Tenis yang sama, aku sering menghabiskan waktu bersama cowok itu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Sejak awal, aku merasa kalau kami itu cocok, dan aku juga mengagumi betapa cowok itu selalu berusaha lebih keras dari orang lain, serta berani menghadapi lawan yang lebih kuat tanpa menyerah.
Dan, yang terpenting.
Cowok itu merupakan cowok yang selalu membuatku tertawa saat bersamanya.
Jadi, saat cowok itu menyatakan perasaan cintanya padaku, aku benar-benar senang. Aku berpikir, kalau aku menerimanya, pasti aku dapat tersenyum bahagia setiap hari. Begitulah yang aku pikirkan, tadinya.
Tetapi, aku─.
Aku sudah tahu kalau ada cewek lain yang menyukai cowok itu.
Bahkan bukan cuma satu orang saja.
Teman sekelas cewekku, teman masa kecilku, cewek yang sudah berlatih tenis bersamaku sejak sebelum aku─.
Dan mereka semua itu merupakan temanku.
Mereka semua, sungguh-sungguh dengan perasaan cinta mereka.
…Perasaan cintaku, dibandingkan dengan perasaan cinta mereka, pasti jauh lebih lemah.
Soalnya, aku belum pernah merasakan kegalauan yang mereka ceritakan, kayak rasa galau cuma karena berada di dekat cowok itu, atau detak jantung yang berdebar kencang cuma karena kami saling bersentuhan tangan.
Aku juga belum pernah merasakan sakit hati yang menusuk hatiku saat melihat cowok itu tertawa riang bersama cewek-cewek lainnya.
Aku yang kayak gini, mengabaikan perasaan mereka, dan menerima pengakuan cinta cowok itu─.
Itu, pasti.
Itu sama saja dengan tertawa sendirian sambil mengorbankan senyuman mereka.
Makanya aku menolak pernyataan cinta cowok itu padaku.
Karena itu bukanlah hal yang mestinya aku lakukan.
Yang mesti aku lakukan yakni membuat semua orang di sekitarku tersenyum, dan di tengah-tengah mereka, aku pun ikut tersenyum.
Padahal mestinya itu memang hal yang paling membahagiakan buatku, tetapi mengapa aku malah melakukan hal yang sebaliknya?
Hanya saja… …cowok itu setelah aku menolak pernyataan cintanya padaku.
Cowok itu jadi tidak lagi tersenyum padaku kayak dulu.
Bahkan bukan cuma padaku, bahkan saat bersama orang lain pun wajah cowok itu sering tampak muram.
Fakta bahwa aku yang membuat cowok itu kayak gitu, memang sungguh menyakitkan dan payah.
─Aku tidak dapat memilih opsi yang akan membuat banyak orang kehilangan senyuman mereka.
Tetapi, mengetahui kalau ada orang yang akan kehilangan senyumannya karena pilihan itu juga tidak tertahankan buatku.
Jadi, intinya, ini merupakan situasi di mana aku mesti membuat pilihan─.
Fakta bahwa aku membiarkan cowok itu mengungkapkan perasaan cintanya padaku, itu sendiri merupakan kesalahanku.
Demi melindungi senyuman mereka semua, mestinya aku mencegah cowok itu sebelum ia mengungkapkan perasaan cintanya padaku.
Dan, itu berarti─.
Hal itu sama saja dengan mencegah cowok itu jatuh cinta padaku.
Sejak memutuskan hal itu, aku selalu bersikap kayak saat berhadapan dengan Zomu-kun barusan.
Kalau aku merasakan sedikit pun tanda-tanda, aku langsung menahan si cowok, dan tidak akan membiarkan si cowok melangkah lebih jauh. Aku mau si cowok segera menyadari kalau hubungan ini tidak akan berkembang jadi cinta, sehingga ia sudah menyerah sebelum terluka.
Dan hasilnya, aku tidak pernah terjebak dalam situasi yang sama. Tidak ada satu orang cowok pun yang tidak bisa tidak tertawa lagi setelah pernyataan cinta yang sama.
Jadi, inilah pilihan terbaik—begitulah yang aku pikirkan.
◆
Setelah berhasil menyelesaikan belanja, kami berjalan menuju Adventure Cave.
Zomu-kun memesan nasi tako, nasi gapao, lalu kebab dan roti sosis. Aku memegang jus buah tropis buat semua orang dan teh ulong buat diriku sendiri di kedua tanganku.
Tetapi, pilihan makanan ini benar-benar terasa kayak di pantai. Semuanya tampak lezat, dan nanti aku dapat minta sedikit dari masing-masing… …tidak, tidak boleh. Ingatlah buat apa aku menahan diri buat tidak minum jus, daku.
Aku menenangkan suara perutku yang mulai bergemuruh dengan tekad, lalu kembali ke lantai tempat berkumpul yang punya ruang terbuka.
Nah, bagaimana kabar mereka berdua ya?
"…Hm, apa itu?"
Lalu, kami melihat sosok mereka berdua yang sedang duduk di samping kolam ombak, tepat di depan panggung terbuka, dan pada saat yang sama menyadari kalau ada kerumunan orang di sekitar sana.
"Hmm? Ada orang lain di sana?"
Zomu-kun kayaknya juga menyadarinya, dan ia mengamati situasi di sana dengan mata terpejam.
Dari kejauhan, tampak sekelompok 7 atau 8 orang yang terdiri dari cowok-cowok dan cewek-cewek sedang mengobrol dengan mereka berdua. Oomori-kun menanggapi dengan sikap kasar kayak biasanya, sementara Mi-chan memeluk lututnya dengan raut wajah yang canggung.
Apa jangan-jangan terjadi masalah...?
"Mari kita cepat-cepat ke sana."
"Hmm, iya, benar juga."
Kami pun bergegas menuju ke arah mereka berdua.
Saat kami sampai di tempat yang suaraku dapat kedengaran, aku menyapa mereka dengan suara yang agak keras.
"Gaes, maaf sudah membuat kalian berdua menunggu!"
Mi-chan, yang menyadari kehadiranku, menatap ke arahku dengan ekspresi terkejut.
Bersamaan dengan itu, orang-orang di sekitar pun menoleh ke arah kami─.
─Hm.
"Hah? …Ririko?"
Zomu-kun bergumam dengan wajah terkejut.
Lalu, cewek yang berada di tengah-tengah kelompok itu—Ootemachi Ririko-chan dari Kelas IX-B—wajahnya langsung bersinar cerah.
"Ah! Zomu-kun, ternyata kamu ada di sini!"
Sambil mengibaskan rambutnya yang dikepang jadi dua, Ririko-chan berlari menghampiri kami. Entah aroma tabir surya atau aroma harum kayak susu, keduanya tercium samar-samar.
Saat aku lihat, sekelilingku dipenuhi anak-anak Kelas IX-B. Mereka merupakan kelompok sahabat yang dipimpin oleh Ririko-chan.
─Wah, bagaimana ya?
Di satu sisi aku lega karena ternyata bukan masalah serius, tetapi di sisi lain, di dalam hati aku berpikir, "Ini jadi masalah," sambil menggaruk-garuk kepalaku.
"Aku yakin pasti ada di sini! Kayaknya belakangan ini Zomu-kun dekat banget sama Asahi-kun!"
Dengan nada bicara yang lembut kayak rumbai di pakaian renangnya, Ririko-chan bilang begitu sambil agak membungkuk ke depan dan mengintip Zomu-kun.
Ririko-chan itu Manajer Ekskul Sepak Bola, dan merupakan teman lama Zomu-kun yang sudah beberapa kali sekelas dengannya sejak SD.
Ririko-chan punya wajah yang imut, dengan mata besar dan bulat serta bibir berbentuk hati, serta rambut panjang berwarna coklat yang lembut dan bergelombang. Meskipun bertubuh mungil, postur tubuh Ririko-chan itu proporsional; Ririko-chan merupakan sosok yang modis yang rajin memakai aksesoris, cat kuku, dan mekap—tanpa tampak norak.
Sifat Ririko-chan tenang dan polos bagaikan putri, dan dia itu sosok yang disukai oleh seluruh teman sekelasnya serta jadi pusat perhatian di Kelas IX-B.
Tetapi, meskipun perilaku Ririko-chan tampak santai dan mengikuti ritme sendiri, prestasinya di SMP sangat baik sampai-sampai dapat bersaing dengan Mi-chan, dan Ririko-chan juga jago olahraga, sehingga dia termasuk tipe yang unggul dalam bidang akademik maupun olahraga.
Sayangnya, aku memang belum pernah sekelas dengan Ririko-chan, tetapi karena kelas kami sering sebelahan, kami sudah saling kenal.
Kami memang sudah pernah bertemu sebelumnya─.
"Halo, Ririko-chan."
"…Eh? Ternyata Kiyosato-san juga ada di sini? Aku sama sekali tidak sadar, loh."
Begitulah, sambil melemparkan tatapan tajam, Ririko-chan jawab kayak gitu.
…Yah, begitulah kira-kira.
Sisi "alami" yang jadi ciri khas Ririko-chan itu, ditambah dengan kesan buatan, membuatnya jadi cewek yang agak berbahaya, sih.
"Ahaha, lama tidak ketemuan. Hari ini kalian semua dari Kelas IX-B datang main juga?"
"Hei, hei, Zomu-kun, dengarkan aku dong!"
Tetapi, Ririko-chan sama sekali mengabaikan pertanyaanku, dan kembali bicara pada Zomu-kun.
Hmm, memang agak menyebalkan… …meskipun aku agak mengerti alasannya….
Sambil memikirkan apa yang mesti kami lakukan, aku mengamati situasinya.
"Asahi-kun, sejak tadi ia tidak mau jawab apapun yang aku tanya, loh? Kejam banget, bukan?"
"Hmm," Ririko-chan mengerucutkan bibirnya sambil menunjuk ke arah Oomori-kun.
Kalau dipikir-pikir, mereka berdua itu tahun lalu sekelas, tepatnya di Kelas VIII-C. Aku memang belum pernah dengar kalau mereka itu dekat, dan kayaknya mereka juga tidak terlalu cocok....
Zomu-kun menghembuskan napas dengan ekspresi yang seakan-akan merasa heran.
"Yah, ini kan sang surya terbit, jadi wajar-wajar saja lah. Ngomong-ngomong, mengapa Ririko ada di sini? Bukannya hari ini ada Rapat Gabungan Manajer."
"Eh? Jelas dong, aku datang buat main!"
Ririko-chan tertawa kecil sambil meletakkan telapak tangannya di mulutnya, seakan-akan mengakui, "Aku bolos Rapat."
"Aku datang dengan niat 'Mari kita ke kolam renang saja', tetapi aku tidak menyangka kalau aku dapat ketemuan dengan Zomu-kun secara kebetulan! Senang banget!"
…Hmm, itu bohong, sih.
Aku dapat menebak begitu secara intuitif dari setiap kata yang Ririko-chan ucapkan.
Aku memang sengaja tidak mengumumkan jadwal hari ini agar terhindar dari masalah kayak gini, tetapi mungkin ada yang bocor.
Bagaimanapun juga, kalau ini berakhir dengan ucapan "Kebetulan sekali, ya", itu tidak ada masalah.
Tetapi, mungkin saja.
"Ah, hei-hei! Karena sudah begini, mari kita main bareng! Aku mau naik perosotan air!"
Dengan wajah berseri-seri seakan-akan itu ide yang cemerlang, Ririko-chan menepuk-nepuk dada Zomu-kun dengan tangannya.
Tuh kan, memang begitulah kelanjutannya….
"Ah..."
Zomu-kun menatap kami dengan wajah canggung, lalu melirik ke sekeliling.
Mi-chan memeluk lututnya dengan wajah tertunduk, sedangkan Oomori-kun tampak sangat tidak nyaman. Jelas sekali suasana ini tidak menunjukkan kalau mereka setuju dengan usulan itu.
─Kayak yang tampak, Ririko-chan sangat tergila-gila pada Zomu-kun.
Menurut kabar, Ririko-chan baru saja putus dengan pacar yang lebih tua, dan sejak itu dia mulai mendekati Zomu-kun secara agresif. Sikap Ririko-chan yang kasar padaku mungkin karena aku ini cewek yang paling dekat dengan Zomu-kun.
Tentu saja, aku sama sekali tidak berniat menghalangi jalannya cinta Ririko-chan. Meskipun kadang-kadang aku merasa situasinya agak berbahaya, aku tidak membenci Ririko-chan secara pribadi.
Jadi, kalau mau main bareng, aku sih tidak masalah… ...tetapi melihat reaksi Mi-chan dan Oomori-kun, aku ragu apa ada baiknya kita langsung menerima ajakan Ririko-chan.
Tetapi kalau aku yang menolak atas nama semua orang, itu juga bisa bikin suasana jadi canggung. Ririko-chan pasti bakalan ngotot banget.
Andai saja ada alasan yang dapat langsung diterima dengan mudah....
Aku melirik sekilas ke arah anggota Kelas IX-B, memeriksa kondisi pakaian renang mereka, lalu aku melontarkan pertanyaan pada Ririko-chan.
"Eh, Ririko-chan dan teman-teman, kalian baru saja datang, ya?"
"Ah, aku juga mau coba yang kayak arena olahraga itu! Zomu-kun kayaknya jago banget!"
"Hei..."
Hmm, bukannya Ririko-chan agak terlalu berlebihan dalam mengabaikanku? Menurutku, bersikap berlebihan kayak gitu tidak akan memberi kesan yang baik buat orang lain, loh…?
Saat aku sedang memikirkan hal itu─.
"Sebenarnya, kegiatan kelompok itu terlalu membosankan, jadi aku tidak ikut."
─Di situlah, Oomori-kun yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara.
Seluruh tatapan langsung tertuju pada Oomori-kun.
Secara kata-kata memang kayak biasanya, tetapi ekspresi dan nada suaranya saat itu terasa sangat dingin, sehingga aku merasa ada firasat buruk.
"Eh? Asahi-kun, kamu itu jutek banget. Tidak apa-apa, dong, mari kita main bareng-bareng saja!"
Ririko-chan melanjutkan tanpa tampak peduli dengan sikap Oomori-kun yang kayak gitu.
Lalu, Oomori-kun─.
"Kalau aku jelaskan dengan lebih mudah dimengerti, maksudnya yakni, jangan seenaknya bertingkah seakan-akan kita itu berteman dan ikut campur urusan kelompok kami."
Kebencian yang terus-menerus itu membuat suasana jadi terdiam.
─Wah, ini tidak bagus, ya.
"…. Eh, apa itu? Aku tidak mengerti maksudmu. Bukannya kita berteman?"
Ririko-chan memang terdiam sejenak, tetapi tetap saja dia membalas dengan nada yang tampak ketakutan.
Oomori-kun mendengus.
"Ah iya, mendingan kamu berhenti ngomong kayak gitu, deh. Terlalu kelihatannya kalau kamu itu orang yang dangkal."
"…Hah?"
Suasana langsung jadi tegang.
"Eh, Oomori, itu terlalu berlebihan, loh." "Itu tidak benar, deh." "Lagipula, mengapa tiba-tiba jadi suka berantem gitu?"
…Ternyata memang tidak boleh ngomong begitu.
Kalau begini terus, suasananya bakalan jadi tidak ada yang dapat tertawa.
Saat menyadari hal itu, aku langsung menyelinap masuk di antara mereka berdua.
"Halo-halo! Oke, mari kita lakukan begini!"
Aku menepuk tanganku dengan keras, menarik perhatian semua orang.
Lalu aku tersenyum manis sambil menatap Ririko-chan.
"Kelompok kami, itu, sudah sepakat kalau mau naik wahana mulai sore nanti. Setelah makan siang, kami bakalan selesai main di kolam renang. Ririko-chan dan kawan-kawan, itu, baru mau mulai main sekarang?"
Aku melirik sekilas ke arah pakaian renang mereka lagi.
Dari yang aku lihat, tidak ada tanda-tanda kalau pakaian renang mereka pernah basah. Itu maknanya, mereka baru saja datang.
Aku mengikuti instingku dan langsung melanjutkan.
"Kita tidak dapat masuk ke area wahana kalau mengenakan pakaian renang, bukan? Jadi, bagaimana kalau kalian menikmati kolam renang dulu di sana, lalu kita ketemuan lagi sore nanti?"
Karena ucapan Oomori-kun, suasana sudah tidak memungkinkan lagi buat sekadar menolak begitu saja.
Jadi, satu-satunya cara yakni mengambil jalan tengah buat menenangkan situasinya.
Akibatnya, semua orang mesti agak mengalah… …tetapi secara keseluruhan, ini mestinya jadi solusi yang paling mudah diterima oleh semua orang.
Ririko-chan menatap mataku dengan tatapan datar.
Aku tidak begitu yakin apa emosi yang tersembunyi di balik mata Ririko-chan itu merupakan amarah atau rasa kesal.
─Lalu, beberapa saat kemudian.
"…Mari kita pergi, gaes. Zomu-kun, nanti kami RINE, ya!"
Ririko-chan mendengus pelan, dengan volume yang cuma dapat aku dengar, lalu wajahnya langsung kembali tersenyum kayak semula.
"Yah, kalau Ririko mau begitu..." "Pokoknya mari kita berenang. Aku sudah tidak tahan lagi!" "Kamu itu memang orangnya santai banget, ya..."
Lalu, Ririko-chan membawa teman-temannya dalam kelompok itu dan pergi meninggalkan tempat itu.
…Kayaknya Ririko-chan menerimanya, ya.
Saat aku menghela napas lega, Zomu-kun yang duduk di sebelahku dan juga menghela napas lega, membuka mulutnya dengan raut wajah seakan-akan baru saja menelan pil pahit.
"Eh, Asahi, kamu ini… …pikirkan dulu cara bicaramu, dong."
"Lalu apa gunanya?"
"Aduh, s*alan, memang begitulah orang yang susah bergaul…!"
Hahaha, Oomori-kun memang konsisten, ya… ...Tetapi maaf, kali ini aku setuju sama Zomu-kun, ya.
Buat mengubah suasana, aku berusaha bersikap ceria.
"Oke, mari kita makan! Ini dia, jus tropis yang kamu pesan! Porsi Zomu-kun agak berkurang, tetapi maaf, ya."
"Hah? Eh, kapan kamu minum!?"
"Aku tidak minum, kok, cuma menguap saja."
"Eh, kamu, kalau minum bukannya akhirnya gemuk─"
"Itu cuma menguap saja, oke?"
Zomu-kun menjawab leluconku dengan tepat, dan suasana pun kembali kayak biasanya.
Tetapi─.
Mi-chan yang diam saja selama ini, tampak sangat cemberut, dan hal itu agak menggangguku.
◆
Sore hari setelah kami mengumpulkan kembali semangat kami.
Setelah berganti pakaian, kami pun menuju zona wahana.
Kami mulai dari wahana yang bikin teriak-teriak kayak kereta luncur, lalu ke rumah hantu yang sudah jadi favorit, dan sesekali menyelingi dengan wahana yang menenangkan kayak komidi putar, sambil berkeliling taman satu per satu.
Awalnya Mi-chan memang tampak agak lesu, tetapi menjelang akhir dia sudah kembali kayak semula, sama kayak di pagi hari, dan kami semua dapat menikmati wahana dengan puas.
Dan setelah hampir selesai menaiki seluruh wahana, kami ketemuan dengan Ririko-chan dan teman-temannya.
"Hei, hei, mari kita naik kereta luncur dulu!"
"Ah, aku baru saja naik dua kali... ...Lagipula, aku mau yang lebih santai dulu─"
"Setelah itu, naik perahu! Ah, tentu saja rumah hantu juga!"
Mengabaikan sepenuhnya keinginan Zomu-kun yang tampak lelah (Ngomong-ngomong, aku menang dengan mudah dan aku dibelikan es krim), Ririko-chan menggenggam lengan Zomu-kun erat-erat dan tidak mau melepaskannya. Terasa sekali kalau Ririko-chan berniat menyeret Zomu-kun ke sana-kemari.
Wah, dapat menunjukkan rasa suka secara terbuka kayak gini juga luar biasa, ya. Tetapi itu berarti jujur pada perasaannya sendiri, dan mungkin itulah kelebihan Ririko-chan.
Aku tersenyum kecil sambil mengamati reaksi anggota Kelas IX-B lainnya.
Semua orang bersorak dengan riang, "Wah, Ririko Daily!" "Hei, video, video! Ayo rekam dan sebarkan!" Mereka melontarkan teriakan-teriakan penuh semangat kayak gitu. Awalnya suasana memang masih terasa sedikit tegang, tetapi sekarang kayaknya tidak ada yang merasa kesal lagi.
Melihat mereka kayak gini, kayaknya mereka semua mudah bergaul. Mereka memang orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu dekat denganku, jadi mungkin aku akan mencoba berinteraksi dengan mereka mulai sekarang.
Tetapi, buatku itu sudah cukup─.
"Mi-chan, kamu baik-baik saja?"
"…Ah, iya. Bukan apa-apa, sih."
Aku menoleh ke belakang dan menyapa Mi-chan yang sedang melamun.
Saat bergabung dengan anggota Kelas IX-B, suasana jadi begini lagi. Mungkin memang stres kalau mesti bersama-sama… …Terutama Ririko-chan, dia bukan tipe orang yang cocok dengan Mi-chan.
Setelah memikirkan hal itu, tiba-tiba aku teringat.
Eh… …Tetapi Mi-chan juga bukannya tahun lalu di Kelas VIII-C?
Tetapi kalau dipikir-pikir, reaksinya kayak gini… …Mungkin, mereka sebenarnya tidak terlalu akrab, ya?
Tetapi, kalau hubungan mereka memang buruk, pasti sudah jadi bahan obrolan sejak dulu, jadi aku rasa tidak separah itu─.
Tepat saat aku hendak membuka mulut buat bertanya, Oomori-kun yang duduk di sebelahku tiba-tiba mulai berjalan ke arah yang tidak terduga.
"Eh, Oomori-kun…?"
"Aku lelah, jadi mau tidur di ruang istirahat."
Setelah bilang begitu, Oomori-kun langsung kembali ke arah kubah tanpa menunggu jawabanku.
Ahaha… …Yah, aku memang sudah menduga kalau Oomori-kun akan bilang begitu.
Mungkin Oomori-kun benar-benar sedang tidak enak badan, jadi aku ragu buat menahannya; Lagipula, kalau aku memaksa Oomori-kun menetap dan suasana jadi tegang kayak tadi, itu juga masalah. Lebih baik aku diam saja dan membiarkan Oomori-kun pergi.
…Hm. Benar juga.
Ini mungkin saat yang tepat.
"Mi-chan, mau istirahat bareng Oomori-kun?"
"Hah?"
Mi-chan menatapku dengan bingung.
Mi-chan dapat menemani Oomori-kun, dan itu sekaligus memberi mereka waktu berduaan, jadi ini kayak sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Eh, kalau ditambah dengan memberi Mi-chan kesempatan buat bersantai, mungkin ini dua kali mendayung tiga-empat pulau terlampaui?
"Maaf ya, sudah membuatmu lelah. Nanti aku akan menjemputmu, jadi kita naik bianglala saja sebagai penutup, ya?"
Aku menambahkan alasan yang kayaknya tidak akan menimbulkan masalah, lalu bilang begitu dengan volume yang cukup keras agar teman-teman lainnya dapat mendengarnya.
Mi-chan mengerutkan bibirnya seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, lalu menunduk—beberapa saat kemudian, dia mengangguk pelan tanpa bilang apa-apa.
—Iya, kayaknya masalah ini sudah teratasi buat saat ini.
Aku melepas pandangan pada Mi-chan yang menjauh, lalu menepuk pinggangku sambil bergumam, "Oke."
Nah… …oke, putaran kedua, mari kita nikmati!
◆
Lalu, waktu berlalu begitu saja.
Ternyata teman-teman di Kelas IX-B memang anak-anak yang asyik, jadi meskipun awalnya agak canggung, kami dapat menikmati wahana bersama. Aku juga bertukar RINE dengan beberapa orang di antara mereka, dan aku rasa hubungan kami sudah cukup dekat buat disebut sebagai teman.
Ririko-chan juga memberikan respons yang lebih wajar ketimbang tadi, sehingga suasana tidak jadi canggung sepanjang waktu. Meskipun begitu, Ririko-chan tidak pernah yang memulai obrolan….
Kemudian, saat sang surya mulai tenggelam, aku pergi memanggil Mi-chan dan Oomori-kun yang sedang beristirahat di ruang istirahat kubah, dan kami menuju pintu naik-turun wahana terakhir hari ini—bianglala.
"Wah, kelihatannya asyik banget!"
Seruku sambil menatap bianglala yang berputar perlahan.
Meskipun bianglala ini tidak punya ciri khas tertentu, kayak jadi yang tertinggi di Jepang atau punya gondola transparan, pemandangan yang tampak dari sini konon sangat indah. Sinar sang surya tenggelam yang menyinari gondola membuatnya tampak merah, berkilauan seakan-akan diterangi lampu.
Iya, iya, ini suasana yang pas banget buat penutup.
"Tentu saja, naik bianglala itu mesti berpasangan cowok-cewek, bukan! Aku mau naik bareng Zomu-kun!"
Di sudut pandangku, Ririko-chan yang masih bersemangat memeluk lengan Zomu-kun dengan erat.
"Eh, tunggu dulu, tunggu dulu. Tenang dulu, dong."
Tetapi, Zomu-kun yang tampak kelelahan itu melepaskan ikatan itu dengan kasar lalu menghela napas.
"Sejak tadi cuma sama kamu terus, aku bosan... ...Sudahlah, biarkan aku berinteraksi dengan orang lain juga, dong."
"Eh, kejam banget!"
Aku tersenyum kecut sambil mengangkat bahuku.
Yah, memang dari awal suasananya sudah begitu, jadi wajar saja kalau Zomu-kun berpikir begitu.
Tetapi Ririko-chan, kayaknya dia tidak akan menyerah, deh. Naik bianglala berduaan saja, cowok dan cewek, itu memang situasi impian buat seorang cewek, dan kalau boleh, aku juga sebenarnya berniat membiarkan Mi-chan dan Oomori-kun berduaan saja.
Aku berpikir sejenak, lalu menepukkan kedua tanganku.
"Kalau begitu, begini saja! Bukannya ini tiket 1Day Free Pass, jadi mari kita naik beberapa kali!"
Dari segi waktu, masih ada sisa waktu buat beberapa putaran lagi. Dengan begitu, kami dapat menikmati berbagai suasana, kayak pertama kali bersama kelompok teman, lalu berikutnya berpasangan antara cowok dan cewek.
"Yah, tidak apa-apa, bukan? Ririko juga tidak bakalan protes, bukan?"
Zomu-kun, meskipun dengan nada yang agak acuh tak acuh, langsung setuju.
Ririko-chan sejenak memang tampak tidak puas, tetapi mungkin dia menyadari kalau mengeluh itu tidak ada gunanya, lalu langsung bilang, "Oke, sampai nanti ya! Jangan lupa ya!" dan naik ke gondola bersama teman-temannya. Di akhir, aku merasakan tatapan tidak menyenangkan dari Ririko-chan, tetapi iya, hasilnya oke lah.
Aku mengangguk, "Oke," dan memandang sekeliling ke arah yang lainnya.
"Oke, kita juga ikut─"
"Aku, awalnya mau naik bareng Mitaka-kun."
"─Hah?" "Hah?"
Iya, begitu saja, tanpa diduga.
Mendengar kata-kata tidak terduga yang terlontar dari Mi-chan, aku dan Zomu-kun tanpa sadar mengeluarkan suara yang benar-benar kaget.
"Eh, tunggu, Miharu-chan?"
"Sudahlah. Ayo ikut aku."
Sambil bilang begitu, Mi-chan dengan sangat memaksa—sesuatu yang jarang dia lakukan—menarik tangan Zomu-kun dan berjalan menuju tempat naik gondola.
Eh, apa? Ada apa sih, Mi-chan? Bahkan aku, sahabatnya, pun merasa bingung. Ini benar-benar misterius, loh?
Aku cuma terpaku menatap mereka berdua sampai mereka berdua naik ke gondola, dan baru tersadar saat pintu tertutup dengan keras.
"…Menurutmu, apa maksudnya?"
"Entahlah."
Dengan perasaan yang masih setengah bingung, aku bertanya pada Oomori-kun, tetapi jawaban yang aku dapat cuma satu kalimat yang singkat dan kasar.
◆
─Klik.
Kunci pintu dikunci oleh tangan seorang staf pria.
Gondola berkapasitas empat orang yang kini benar-benar tertutup rapat itu perlahan-lahan naik ke ketinggian dengan kecepatan yang lebih lambat ketimbang berjalan kaki.
"Wah, pemandangannya lumayan bagus, nih."
Aku bergumam sambil menempel di jendela, lalu melirik ke arah gondola yang berada di depan.
─Berapapun kali aku memikirkannya, tindakan Mi-chan tadi tetap jadi misteri.
Pertama-tama, kombinasi kedua orang itu sendiri sudah jarang terjadi. Tentu saja mereka memang tidak bermusuhan, tetapi biasanya saat mengobrol atau bermain, kami berempat, atau paling tidak bertiga termasuk aku.
Tetapi, kalau mereka sengaja berduaan saja, satu-satunya hal yang terlintas di dalam benakku merupakan mungkin ada hal yang mau mereka bicarakan secara rahasia dariku atau Oomori-kun, atau ada alasan yang membuat mereka tidak nyaman berada bersama.
Mungkin saja… …selama mereka beristirahat, ada sesuatu yang terjadi antara Mi-chan dan Oomori-kun.
Oomori-kun itu cowok yang agak sulit dipahami, dan ia juga bukan tipe cowok yang mudah menunjukkan perasaannya di wajah kayak Zomu-kun. Jadi, meskipun kami cuma mengobrol santai, aku mungkin tidak dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran Oomori-kun.
Makanya─.
Buat menanyakannya secara langsung, aku pun naik gondola bersama Oomori-kun.
Aku melirik ke arah Oomori-kun yang sedang bersandar dengan siku di meja sambil memandangi pemandangan di luar, yang duduk di depan sebelah kiri.
Wajah Oomori-kun tampak kosong dan datar, jadi aku tetap tidak dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan.
Aku paling baru kenal dengan Oomori-kun. Sebenarnya, ini merupakan pertama kalinya kami berdua mengobrol berduaan saja kayak gini.
Ini kesempatan yang bagus, jadi aku akan bertanya lebih dalam, bukan cuma soal kejadian tadi, tetapi juga bagaimana Oomori-kun memandang Mi-chan sendiri. Oomori-kun itu orang yang tajam, jadi aku mesti waspada agar ia tidak salah paham.
Aku menghembuskan napas pelan-pelan dengan volume yang tidak kedengaran, lalu mulai bicara sambil agak menegangkan diri.
"Wah, hari ini aku benar-benar menikmati musim panas. Bagaimana denganmu, Oomori-kun?"
Aku langsung memulai obrolan seakan-akan itu cuma sekadar pengantar.
Lalu, Oomori-kun menjawab sambil cuma mengarahkan pandangannya ke arahku.
"Aku merasa lesu sepanjang waktu. Lagipula, cuacanya panas."
"Wah, jujur banget."
"Lagipula, berisik-berisik dan bersenang-senang dengan cara konyol memang bukan gayaku."
Ah...
Saat aku sedang menggaruk pipi sambil memikirkan bagaimana mesti bereaksi, Oomori-kun mendengus.
"Tetapi iya, aku memang punya prinsip buat tidak melakukan hal-hal yang benar-benar tidak aku sukai."
"...Ahaha, begitu ya, begitu ya."
Itu maknanya, "Aku datang bermain kayak gini karena aku tidak benci itu, bukan?"
Ternyata, kamu memang jujur tetapi tidak gampang terbuka, ya, Oomori-kun. Sisi kayak gitu, mirip banget sama Mi-chan, loh.
Aku tersenyum manis dan melanjutkan.
"Kalau begitu, baguslah. Oomori-kun, kamu jarang tersenyum, jadi aku agak khawatir. Ah, bukan berarti sikapmu yang jutek itu buruk, loh."
Tidak diragukan lagi, sisi dewasa itu memang salah satu daya tarik Oomori-kun. Mi-chan pun tertarik pada hal itu.
"Tetapi... ...tergantung orangnya, bisa saja terasa jutek atau malah menimbulkan kesalahpahaman, jadi aku khawatir. Lihat saja, misalnya Ririko-chan dan yang lainnya tadi─"
"Eh, ngomong-ngomong..."
Tiba-tiba saja.
Oomori-kun memotong perkataanku─.
"Kiyosato, kenapa kamu selalu terlalu memikirkan orang lain? Apalagi orang-orang yang sebenarnya tidak penting."
─Tiba-tiba saja, Oomori-kun melontarkan kata-kata yang sangat tajam.
"Eh, anu... ...ahaha, mengapa tiba-tiba kamu ngomong begitu?"
Sambil sedikit tertekan oleh sikap Oomori-kun yang entah kenapa tampak kesal, aku pun bertanya begitu.
Namun, mungkin karena tidak suka dengan reaksiku itu, Oomori-kun mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak senang.
"Lagipula, kamu selalu mencoba mengelak dengan tertawa begitu saja, bukan?"
"Eh─"
"Waktu kamu diejek oleh Ootemachi, kamu juga tertawa-tawa begitu, bukan? Apa gunanya memperhatikan ekspresi orang luar yang cuma mengganggu kayak gitu?"
"Tung-Tunggu, Oomori-kun!"
Aku berseru dengan panik, menatap mata Oomori-kun dengan lurus.
Kayaknya aku membuat Oomori-kun marah. Aku mesti menjelaskan dengan jelas.
"Eh, kalau aku membuatmu kesal, maaf ya. Tetapi aku tertawa bukan karena mau mengelak atau membaca ekspresi wajah kalian, bukan begitu maksudku."
"…"
"Lagipula, ketimbang marah atau meremehkan orang lain, bukannya lebih bahagia kalau tetap tersenyum? Bukan cuma aku, tetapi semua orang pasti begitu."
Oomori-kun menatap mataku dengan tajam, seakan-akan mencoba membaca isi hatiku.
Menanggapi hal itu, aku memutuskan buat menyampaikan perasaanku sejujur-jujurnya.
"Kalau semua orang dapat tersenyum, itu pasti yang terbaik, bukan? Makanya aku berusaha buat tersenyum, dan aku juga mau orang-orang di sekitarku tersenyum. Jadi, aku cuma berusaha sebaik mungkin agar hal itu terwujud."
Mengenai perasaan yang tersembunyi di balik mata Oomori-kun saat mendengar kata-kata itu─.
"…Sungguh menjengkelkan."
─Itu memang amarah.
"Eh, itu─"
"Itulah masalahnya. Sejak awal, apa gunanya melakukannya dalam lingkup kayak gitu?"
Saat aku hendak melanjutkan penjelasanku, aku disela begitu saja.
"Lingkup? …Maksudnya lingkup apa?"
"Maksudnya, apa gunanya melakukannya sampai ke orang-orang yang tidak penting."
Itu… …mungkin maknanya, orang yang mengganggu bisa saja dikucilkan, ya.
Menanggapi kalimat yang sudah sering aku dengar sejak dulu, aku pun membalas dengan kata-kata yang selalu aku bilang.
"Katanya Ririko-chan juga, dia tidak bermaksud jahat… …eh, mungkin ada sedikit sih, tetapi mustahil 💯% jahat, kok."
"…"
"Sekarang, bagaimana ya, ada semacam ketidakcocokan kepentingan, jadi yang tampak cuma sisi buruk Ririko-chan saja, sih. Kalau tidak ada itu, aku yakin kita dapat tertawa bareng kayak yang lainnya. …eh, kalau kita dapat tertawa bareng, bukannya tidak ada gunanya lagi buat mengucilkan orang lain?"
Berkat sikap yang aku teruskan itu, aku mendapatkan sahabat sejati yang tidak tergantikan bernama Mi-chan. Aku juga mendapatkan teman-teman kayak Zomu-kun dan Oomori-kun, yang dapat berbagi musim panas yang tidak terlupakan bersamaku. Di kelas yang punya ikatan paling kuat, kami berhasil membawa tim kami meraih juara dalam turnamen olahraga.
Iya, aku menjalani hari-hari yang cemerlang, kayak di dalam novel remaja.
Mustahil itu merupakan kesalahan.
Dengan keyakinan itu, aku menegaskan.
"Jadi, aku merasa apa yang aku lakukan ini pasti ada maknanya."
Tetapi─.
"…Mengapa sih kamu mesti ke sana?"
Sambil mengerutkan alis matanya dengan ekspresi tidak senang, Oomori-kun bilang begitu dengan nada sinis.
"Mak-Maksudmu apa? Apa aku membicarakan hal aneh…?"
Aku pun mulai memikirkan, apa sih yang salah?
Lalu.
"Kamu tidak membicarakan apa-apa. Semuanya benar, itu argumen yang tepat."
"Kalau begitu─"
"Begitu, bukan, maksudnya?"
─Eh.
Jadi…?
"Kalau kamu benar-benar berniat mewujudkan cita-cita kayak gitu, itu bukan hal yang biasa, loh."
─Mendengar kata-kata itu, entah mengapa hatiku terasa galau.
Ini bukan hal yang biasa…?
Tidak… …aku rasa tidak begitu.
Lagipula, keinginan agar semua orang di sekitarku tersenyum bukanlah hal yang aneh. Itu pasti hal biasa yang dipikirkan oleh siapa saja, agak banyak.
Aku cuma berpikir buat melakukannya pada sebanyak mungkin orang, pada siapa saja yang dapat aku jangkau. Hanya saja, karena aku dapat melakukan agak lebih banyak ketimbang orang lain, dan jangkauan yang dapat aku capai tampak lebih luas, maka hal itu tampak kayak sesuatu yang luar biasa.
"…Tidak."
Saat aku terdiam, Oomori-kun tampak canggung dan menyibakkan rambutnya.
"Maaf. Mungkin aku terlalu berlebihan."
Oomori-kun yang bergumam begitu tampak, buat sekali ini, kayak sedang menyesali kesalahannya.
Aku menyesal telah membuat Oomori-kun menunjukkan ekspresi kayak gitu.
…Aku yang salah.
Karena jawabanku yang kurang tepat, aku membuat Oomori-kun merasa tidak nyaman.
Padahal tadi kami baru saja tertawa bersama dengan gembira, tetapi kalau begini terus, kenangan ini akan ternodai di saat-saat terakhir.
Jadi—paling tidak.
"Ah, tidak, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ketimbang itu… …makasih, Oomori-kun!"
"…"
"Kamu khawatir kalau aku terlalu memaksakan diriku, bukan?"
Aku rasa Oomori-kun mengangkat topik ini karena ia peduli padaku. Pasti karena sifat Oomori-kun yang tidak dapat bilang begitu secara langsung, sehingga akhirnya ia bilang begitu dengan nada yang agak sarkastis.
Jadi, paling tidak.
Aku mesti memahami maksud sebenarnya itu dan menjawabnya dengan tepat.
"Tetapi aku tidak apa-apa. Soalnya, selama ini aku selalu begitu, dan aku belum pernah merasa berat atau mau berhenti. Dapat menghabiskan hari-hariku bersama kalian sambil tertawa kayak gini, itu membuatku sangat bahagia."
"…"
"Jadi, tidak usah khawatir. Oke?"
Lalu, Oomori-kun menghapus segala ekspresi dari wajahnya dan mengalihkan pandangannya dariku.
Kemudian, dengan tenang Oomori-kun membuka mulutnya.
"─Mitaka memang selalu menyebalkan. Tetapi karena Mitaka terlalu bodoh sampai-sampai terasa menyegarkan, jadi tidak ada salahnya berteman dengannya."
"Eh…?"
"Shinagawa tidak ribut-ribut kayak cewek-cewek lainnya, jadi tidak membuat pusing kalau bareng dia."
Itu─.
Pendapat jujur yang tidak pernah diungkapkan oleh Oomori-kun.
"Kiyosato… …pada pertama kalinya, aku berpikir, 'Kamu itu orang yang dapat diandalkan.'"
"Hmm…"
"Jadi, selain itu, aku benar-benar tidak peduli."
─….
"Kalau kamu terus-terusan memikirkan orang-orang yang tidak penting, suatu hari nanti kamu bakalan kena batunya. Soalnya, orang-orang di sekitarmu itu, benaran semuanya tidak ada yang dapat diselamatkan."
Sejak saat itu, Oomori-kun jadi diam.
Aku memang mau bilang sesuatu, tetapi aku merasa kalau apapun yang aku bilang tidak akan diterima oleh Oomori-kun, jadi akhirnya aku diam saja.
Tentu saja, suasana saat itu tidak memungkinkan buat membicarakan Mi-chan, dan waktu berlalu dalam keheningan di antara kami.
─Tanpa aku sadari, gondola kami sudah berada di titik tertinggi.
Gedung-gedung pencakar langit yang tampak di kejauhan, diterangi oleh sang surya tenggelam, tampak memerah.
Sambil memandangi pemandangan yang mestinya begitu indah sampai-sampai membuatku terpesona, tetapi terasa samar-samar kayak dunia lain, aku merenungkan kata-kata Oomori-kun.
─Itu, bukan hal biasa.
…Sejak dulu.
Hebat, atau jenius.
Kata-kata kayak gitu, sudah sering aku dengar.
Tetapi─itu.
Ungkapan "bukan hal biasa" itu.
Entah mengapa, terus terngiang di telingaku.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:


