Genjitsu de Rabukome Dekinai to Dare ga Kimeta? [LN] - Jilid 4 Prolog 2 - Lintas Ninja Translation

[Peringatan 15+]

Prolog 2
Akhir yang Sebenarnya

Baca-RabuDame-LN-Jilid-4-Prolog-2-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

Hari itu.

Kenyataan ini bermula dari surat di kotak sepatuku.

Kenyataan yang mau aku hindari sejak awal.

…Mungkin, pasti.

Sangat asyik, yang terpenting sangat bersinar, dan sangat memuaskan.

Dan─.

Sebuah kenyataan yang ideal, di mana semua orang bisa terus tertawa─.

Mari kita tulis ulang kenyataan itu.

 ◆ 

"Mengapa, kamu ada di sini…?"

Nagasaka-kun menatapku dengan wajah ternganga.

Setelah meninggalkan Sachi-senpai yang kebingungan dengan hasil Pemilihan Umum Ketua OSIS, aku pun datang ke atap gedung ini. Sambil memikirkan keadaan saat ini yang berjalan persis kayak yang aku duga, aku menggigit bibirku dengan erat.

Ternyata… …memang begini jadinya.

Melihat kembali kenyataan yang terungkap ini, aku merasa sangat tidak enak hati.

Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri yang telah menyebabkan situasi kayak gini.

…Tidak, itu salah. Tidak boleh.

Sebanyak apapun aku menyiksa diriku sendiri kayak gitu, tujuanku tidak akan tercapai.

Karena memanfaatkan situasi ini memang pilihan terbaik, dan karena aku sudah memutuskan buat memilihnya, tidak ada alasan buatku untuk mengeluh sekarang.

Kalau tidak, aku tidak akan bisa meminta maaf pada orang yang telah membuatku tidak bisa tertawa, pada orang yang tidak punya pilihan selain membuatku tidak bisa tertawa.

Jadi, aku——membekukan hatiku.

Berhadapan dengan akar dari segala kejahatan.

"Angka itu mudah dimengerti, bukan? Karena angka menunjukkan kenyataan dengan jelas."

"Eh..."

"Bukannya Nagasaka-kun yang paling mengerti hal itu?"

Hah, Nagasaka-kun membelalakkan matanya.

Angka—maknanya, informasi objektif.

Dari Sachi-senpai, aku dengar kalau Nagasaka-kun sangat ahli dalam mengolah informasi.

Akhirnya, aku pun memahami rasa janggal yang selama ini aku rasakan pada Nagasaka-kun—

Alasan mengapa aku menganggap Nagasaka-kun sebagai cowok yang tidak biasa.

—Nagasaka-kun yang aku lihat selama ini, selalu membuat pilihan terbaik.

Kalau soal hal-hal kecil, misalnya saat Nagasaka-kun ngobrol santai dengan seseorang. Nagasaka-kun akan dengan santainya mengangkat topik obrolan yang pasti menarik buat kami, lalu mengembangkan obrolan agar kami merasa nyaman.

Kalau denganku, topiknya soal novel; Kalau dengan Tokiwa-kun, topiknya soal olahraga; Kalau dengan Torisawa-kun, topik yang menantang dan menginspirasi, semacam itulah. Tentu saja, cara bicara dan nada suara Nagasaka-kun juga disesuaikan secara detail sesuai dengan orang-orang tersebut.

Dan Nagasaka-kun melakukannya pada semua orang di kelas—Tidak, lebih dari itu, bahkan pada seluruh siswa-siswi di angkatan kami, seakan-akan Nagasaka-kun bisa melakukannya pada siapa saja.

Selain itu, saat seseorang bingung dengan jati dirinya, Nagasaka-kun bisa menebak keinginan mereka kayak 'Seandainya begini pasti paling bagus', lalu menunjukkan jalan buat mewujudkannya, atau bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Hal itu paling menonjol saat Ayumi mengalami masalah. Bahkan Hibiki-chan, teman terdekatnya, tidak bisa melihat esensi Ayumi, tetapi Nagasaka-kun berhasil menebak semuanya dan memberikan solusi terbaik.

Dan Nagasaka-kun berhasil membuat kelas yang tadinya begitu kacau balau itu mengakui apa yang terbaik.

Tanpa pemborosan dan dengan pasti, Nagasaka-kun selalu memilih jawaban yang paling tepat, lalu melaksanakannya.

Cowok yang mampu melakukan hal kayak gitu—tidak diragukan lagi, bukanlah cowok biasa.

Namun, aku tidak mengerti mengapa Nagasaka-kun bukanlah cowok biasa.

Lagipula, Nagasaka-kun bukanlah tipe cowok yang peka pada seluk-beluk hati orang lain kayak Tokiwa-kun, juga bukan tipe orang yang berpikiran cepat kayak Ayano ataupun Torisawa-kun. Pada dasarnya, aku menganggap Nagasaka-kun sebagai orang yang sederhana dan jujur, mirip dengan Ayumi.

Makanya aku selalu merasa heran mengapa Nagasaka-kun bisa melakukan hal kayak gitu, dan itulah juga alasan mengapa tindakannya sulit diprediksi.

Kalau aku tidak mengungkap hal itu terlebih dahulu, aku tidak akan tahu bagaimana mesti menghadapi Nagasaka-kun—dengan pemikiran kayak gitu, aku menghabiskan waktu buat mengumpulkan informasi, mulai dari mengamati apa yang Nagasaka-kun pikirkan dan bagaimana ia bertindak, sampai secara diam-diam menghubungi orang-orang yang berhubungan dengannya buat menanyakan kayak apa ia sebenarnya.

 ─Dan, menjelang Pemilihan Umum Ketua OSIS.

Dari Sachi-senpai, yang entah mengapa menjalin hubungan dengan Nagasaka-kun dan bahkan membantu pekerjaannya, aku mendengar penilaian soal dirinya.

Pada saat yang sama, aku teringat kalau aku pernah mendengar keahlian Nagasaka-kun yakni melakukan penelitian, dan secara intuitif aku paham.

Nagasaka-kun—dengan cerdik memanfaatkan informasi yang telah ia kumpulkan sebelumnya, ia sudah mengambil langkah terbaik lebih dulu.

Kalau memang benar begitu, hal itu bisa menjelaskan perilaku yang selama ini terkesan terlalu dioptimalkan secara tidak wajar.

Namun, kayak pepatah 'Mudah diucapkan, sulit dilakukan', aku memang merasa ragu apa hal itu benar-benar dapat dilakukan… …tetapi kalau dipikirkan lebih dalam, mungkin saja bisa. Asalkan menghabiskan banyak waktu dan benar-benar fokus pada hal itu.

Bagaimanapun juga, aku menyimpulkan kalau informasi itulah senjata yang membuat Nagasaka-kun jadi cowok yang tidak biasa, dan sumber kekuatannya.

─Makanya, aku.

Dengan sengaja memberikan informasi yang diandalkan Nagasaka-kun.

Aku memutuskan buat membuat Nagasaka-kun memahami kenyataan.

"—Angka itu merupakan buktinya. Sebagian besar siswa-siswi di sekolah ini — 'Orang-orang biasa' —katanya sudah kecewa setelah disuguhi sandiwara konyol kali ini."

"Sandiwara… …konyol…?"

Nagasaka-kun, yang sebelumnya memandang ke sana-sini dengan galau, tiba-tiba menghentikan gerakannya.

"Sejauh yang aku dengar, 'Rasanya menjengkelkan melihat mereka bersemangat sendiri', 'Jangan libatkan orang lain', 'Terpilih atau tidak, kayaknya akan merepotkan', 'Sejak awal sampai akhir, aku tidak peduli'─"

"…"

"'Terlalu banyak baca manga.'"

Mendengar kata-kata itu, Nagasaka-kun mengepalkan tinjunya dengan kuat.

Aku tidak melewatkan reaksi itu.

─Ternyata, memang begitu.

Tujuan ideal yang Nagasaka-kun bayangkan itu ─ memang tidak biasa, ya?

Setelah menggigit bibir di dalam hati, aku berusaha tetap tenang dan melanjutkan obrolan.

"Penampilan penuh semangat Shiozaki-senpai bukannya sampai ke hati mereka, malah kayaknya justru berakibat sebaliknya. Karena mendengar itu, semua orang langsung kehilangan antusiasme."

"…"

"Sesi Tanya Jawab Daring bersama Sachi-senpai juga, loh. Awalnya kayaknya semua orang menikmatinya karena merasa itu hal yang baru, tetapi setelah dipikir-pikir dengan jernih, mereka kayaknya berpikir, 'Itu bukannya cuma cara pencitraan saja.'"

"…!"

"Bahkan ada yang mengkritik Sachi-senpai dengan menyebutnya 'Orang yang labil' atau 'Orang yang suka cari perhatian'. Padahal mereka itu orang-orang yang sama sekali tidak mengenal Sachi-senpai, orang-orang yang tidak ada hubungannya. Selain itu─"

"Ki-Kiyosato-san!"

Seakan-akan mau menimpali suaraku, Nagasaka-kun berteriak seakan-akan tidak tahan lagi.

Tidak lama kemudian, wajah Nagasaka-kun tampak terkejut, dan mulutnya bergerak-gerak tidak jelas.

"Ah, Kiyosato-san, itu… …anu…"

Hm…?

"Mengapa… …tiba-tiba bicara soal yang lain itu…?"

Pertanyaan itu kedengaran samar dan agak membingungkan. Mungkin Nagasaka-kun sedang bingung dan belum bisa mengatur pikirannya dengan baik.

Tetapi, aku bisa menebak apa yang mau Nagasaka-kun ketahui.

"Begini. Aku mau kalian tahu bagaimana akhir dari apa yang kalian lakukan. Makanya aku datang ke sini buat memberitahukannya."

"Akhir dari kami…?"

"Iya. Sejak awal, aku sudah tahu kalau Pemilihan Umum Ketua OSIS ini akan berakhir dengan cara yang aneh."

"─!?"

Meskipun begitu, bukan berarti aku melakukan upaya khusus buat hasil Pemilihan Umum Ketua OSIS ini.

Misalnya, memanipulasi opini publik agar mosi tidak percaya disetujui, atau mengendalikan perilaku orang agar memberikan suara kosong… …hal-hal kayak gitu, mustahil dapat aku lakukan.

Hanya saja, aku sedikit mendorong agar kesadaran semua orang tertuju pada Sachi-senpai dan Shiozaki-senpai — orang-orang yang berusaha melakukan hal yang tidak biasa. Aku cuma membuat reaksi "Orang-orang biasa" yang bisa saja terjadi, tampak lebih jelas.

…Iya.

Aku cuma tahu kalau hal ini akan terjadi, itu saja.

"Orang-orang ‘biasa’ itu, loh. Kalau mereka merasa akan terseret ke dalam sesuatu yang tidak biasa—eh, kalau ada orang-orang yang tidak biasa ada di dekat mereka, mereka pasti tidak bisa menerimanya."

"…"

"Tidak ada hubungannya sama sekali dengan baik atau buruknya apa yang kalian lakukan; Orang-orang yang jauh dari akal sehat kita itu dianggap 'orang aneh' dan kita langsung menolaknya dengan berpikir 'Tidak mau terlibat'."

"…"

"Akibatnya, pada akhirnya kita akan menghadapi akhir yang tidak lucu buat siapa saja. Bukan cuma pihak yang terlibat saja, tetapi orang-orang di sekitarnya pun ikut terseret, bukan?"

"…Tidak ada seorang pun yang dapat tertawa…"

Gumam Nagasaka-kun seakan-akan sedang mengoceh.

Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu melangkah maju selangkah.

─Dan.

Di Kenyataan ini.

Yang mulai melibatkan "Orang-orang biasa" dan melakukan hal-hal yang tidak biasa yakni─.

"Nagasaka-kun."

Kamu.

"Orang-orang bodoh yang berani mewujudkan cita-cita yang tidak biasa kayak kita ini─Cuma dengan keberadaannya saja, sudah membuat semua orang menderita."

─Itulah aku, yang dulu.

Nagasaka-kun membelalakkan matanya, lalu mundur selangkah seakan-akan hampir terjatuh.

"Ki-…-ta…?"

Baru saja hendak bilang begitu, Nagasaka-kun menggigit giginya seakan-akan menahan diri.

"Tidak… …maaf, sebentar, cukup sampai di sini saja hari ini."

Lalu Nagasaka-kun mulai berjalan dengan tergesa-gesa, seakan-akan mau segera pergi dari tempat itu.

Aku langsung menyela.

"Mungkin kamu berpikir, 'Pertama-tama mesti menyelidikinya dulu,' ya? 'Kumpulkan informasi dengan baik, baru kemudian putuskan apa yang mesti dilakukan,' begitu. …Bersama Ayano, bukan?"

"Eh…!?"

"Menurutku itu tidak perlu. Sejak awal, aku memang berniat memberitahukan semua informasi yang diperlukan buat mengambil keputusan."

Sambil menyisipkan rambutku yang berterbangan dan menempel di pipiku ke belakang telingaku, aku mengamati sekeliling.

─Menyusul hasil Pemilihan Umum Ketua OSIS yang tidak terduga, OSIS sedang dalam kekacauan. Bapak-Ibu Guru sedang sibuk rapat membahas apa mesti menerima hasil ini, sehingga tidak punya waktu buat memikirkan hal lainnya. Seandainya saja kunci atap terlambat dikembalikan sedikit, mestinya tidak jadi masalah.

Dan Ayano, yang kemungkinan besar akan jadi hambatan terbesar, juga sudah ditahan dengan baik.

Aku menghembuskan napas, "Fiuh," lalu bersandar pada dinding gudang di atap.

Langit yang aku lihat di atas tertutup awan abu-abu pekat. Meskipun tidak hujan, langit biru terasa sangat jauh; Begitulah cuaca saat itu.

"…Mengapa aku tahu hal ini akan terjadi. Aku akan menceritakannya sekarang."

─Lalu aku mulai bercerita.

Dulu, aku yang tidak biasa itu.

Berjuang menuju, dan akhirnya sampai di sana.

"Itu terjadi saat aku masih duduk di bangku SMP─"

─Akhir dari Kenyataan.

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

Bahasa Inggris / English

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama