Genjitsu de Rabukome Dekinai to Dare ga Kimeta? [LN] - Jilid 4 Bab 1 - Lintas Ninja Translation

 [Peringatan 15+]

Bab 1
Titik Puncak Kebahagiaan

"Kerja bagus, gaes! Nah, buat kemenangan Kelas IX-A— Bersulang!!"

"""""Bersulang!!"""'""

Kling, kling, suara gelas bergema.

Perayaan kemenangan kami pun dimulai.

─Hari ini merupakan Ajang Tahunan sebelum Liburan Musim Panas, yaitu Turnamen Olahraga.

Turnamen Olahraga yakni ajang yang diadakan di SMP Swasta Akademi Akagawa tempatku bersekolah, di mana cowok-cowok bertanding di dalam permainan sepak bola dan bola basket, sedangkan cewek-cewek bertanding di dalam permainan bola voli dan bola tangan buat memperebutkan gelar juara.

Dan kami, Kelas IX-A, berhasil memenangkan pertarungan sengit itu dengan gemilang, dan meraih peringkat pertama dalam perolehan poin keseluruhan, baik putra maupun putri! Kayaknya karena banyak anggota Ekskul Olahraga di kelas kami, ditambah latihan rahasia yang kami lakukan sebelumnya, kami berhasil menang dengan selisih poin yang sangat jauh dari kelas lainnya.

Sekarang kami sedang merayakan kemenangan. Awalnya, seluruh kelas mengadakan Pesta Karaoke yang meriah, lalu kami pindah ke restoran keluarga buat Pesta Lanjutan.

Waktunya sudah mendekati jam makan malam, dan mungkin ada yang punya urusan di rumah, jadi kami memang memutuskan cuma yang mau yang ikut saja… ...tetapi entah mengapa, sebagian besar teman sekelasku ikut serta.

Iya—kelas kami memang punya kekompakan yang terbaik di sekolah.

—Ramai, riuh.

Tempat nongkrong favorit siswa-siswi, Naizeria di depan Seikyu Hands, hari ini pun dipenuhi orang-orang.

Karena lokasinya, tempat ini selalu penuh kapan pun kami datang, jadi benar sekali kalau kami sudah memesan tempat sebelumnya. Tetapi karena tokonya memang tidak terlalu luas, ditambah jumlah peserta yang lebih banyak dari yang direncanakan, akhirnya kami mesti duduk tersebar di beberapa tempat.

"Kamu sangat hebat hari ini, Kiyosato!" "Makasih banyak, Mei!" "Hai, Ketua!"

"Yei, bersulang, bersulang!"

Sambil tertawa, aku berkeliling bersulang bersama semua orang.

Pada saat yang sama, aku memeriksa susunan bangku di setiap meja.

─Pasangan sahabat Kamiizumi-chan dan Komaba-chan duduk bersebelahan, oke. Kelompok Fujimi yang sangat kompak duduk bersama di satu meja, jadi ini juga tidak ada masalah. Takaido tidak perlu melakukan apa-apa, dan Matsubara juga tampak menikmati waktunya bersama. Pasangan Kuga-kun dan Hamada-chan kabarnya baru saja bertengkar, jadi ada baiknya mereka menjaga jarak. Eh, kalau begitu yang lainnya─.

"Ikenoue-kun, tanganku tidak sampai! Kemari dong!"

"Ah, oke!"

Sambil bilang begitu, aku memanggil Ikenoue-kun yang hampir terisolasi di posisi terpisah, lalu bersulang bersamanya.

"Kerja bagus! Kamu tampil cemerlang di pertandingan bola basket hari ini!"

"Eh, benarkah begitu...?"

Ikenoue-kun menundukkan pandangannya dan menggaruk pipinya.

Hmm... ...rasanya setengah karena malu dipuji, dan setengah lagi karena merasa bersalah karena sebenarnya tidak terlalu menonjol, ya?

Memang Ikenoue-kun tidak mencetak tembakan atau melakukan aksi spektakuler, tetapi ia memanfaatkan pengalamanya di bola basket remaja buat mendukung teman-temannya. Karena ia itu tipe orang yang pemalu, mungkin ia sedang menahan diri.

Aku langsung mengambil keputusan berdasarkan insting, lalu memikirkan apa yang mesti aku lakukan selanjutnya.

Eh, kalau tidak salah saat itu—.

Saat aku melirik ke sekeliling, pandangan cewek yang terus-menerus melirik ke arahku—Micchi—bertemu dengan pandanganku.

Hm, benar saja.

Oke, mari kita lakukan begini.

"Lihatlah, sebelum tembakan tiga angka terakhir di babak pertama, kamu itu mungasih umpan balik tanpa melihat. Micchi juga lihat, bukan?"

Sambil bilang begitu, aku dengan santainya mengalihkan obrolan.

"Ah, kebetulan aku lihat itu! Aku pikir, 'Wah, keren banget!'"

Kayak yang aku duga, Micchi langsung menanggapi topik itu dengan antusias.

"Aku bahkan berpikir, 'Kamu punya mata di belakang, ya?'"

"Eh, seriusan? Aku rasa tidak sampai sebegitunya, sih..."

Melihat Ikenoue-kun yang malu-malu mendengar pujian dari Micchi, aku menarik tangannya dan membawanya ke bangku di depanku.

"Ayolah, pahlawan kita ke sini. Bersulang!"

"Bersulang!"

"Bersulang! Ngomong-ngomong, Ikenoue, mengapa kamu tidak main bola basket waktu SD? Kalau kamu sejago itu─"

Iya, oke.

Micchi memang tampak aktif, tetapi sebenarnya dia itu pemalu. Tetapi saat dia mulai bicara, dia pasti tidak akan berhenti, jadi kayaknya aku tidak perlu bantu lagi, deh.

Aku pun diam-diam meninggalkan tempat itu agar tidak mengganggu obrolan mesra mereka berdua, lalu menghela napas lega di sudut bar minuman.

─Oke, suasana sudah cukup hangat. Selebihnya pasti akan berjalan dengan lancar.

Pesta Perayaan ini, kalau semua yang hadir tidak dapat tertawa dan bersenang-senang, maka tidak ada maknanya.

Berusaha sekuat tenaga untuk itu, sebagai Ketua OSIS — eh, tunggu.

Sebagai Kiyosato Mei, aku, itu sudah semestinya.

Setelah memastikan sekali lagi kalau tidak ada masalah dari kejauhan, aku meneguk sisa jusku di gelasku itu sampai habis.

Okelah, kalau gitu, aku juga akan kembali ke bangkuku.

Aku mengisi ulang minumanku, dan di tengah jalan, sambil menyela dengan permintaan maaf, "Maaf, ini cuma buat bersulang!" pada Pelayan yang tampak tidak senang dan bilang, "Ada tamu-tamu yang lainnya juga, jadi aku mohon diam-diam...", aku pun kembali lagi ke bangkuku.

Di sudut belakang yang agak jauh, ada meja buat empat orang.

Di sana─.

"Selamat datang, Mei. Aku sudah menyisakan tempat di sebelahku."

"Kamu telat banget, Si Populer! Aku sudah bosan menunggu!"

"Ah, sudahlah, duduk saja, oke?"

─Sahabat-sahabatku.

Seluruh anggota dari kelompok pertemananku itu menungguku sambil tersenyum.

Aku membalas senyuman mereka, lalu aku duduk di bangkuku.

Lalu aku meneguk habis jus anggur putih yang aku bawa, lalu menghembuskan napas.

"Hah, tenggorokanku yang kelelahan ini mulai pulih!"

"Aduh, jangan minum begitu. Tumpah, loh."

"Inilah yang namanya 'tanpa formalitas', Mi-chan."

"Kamu salah menggunakannya. …Ayolah, lihat ke sini."

Sahabatku sejak SD yang duduk di sebelahku—Mi-chan alias Shinagawa Miharu—tersenyum masam seakan-akan tidak percaya sambil mengeluh, lalu menyeka mulutku dengan saputangan yang dia keluarkan.

Di depanku, alis mata Mi-chan yang rapi dan indah, serta mata hitam pekat yang tampak indah di balik kacamata. Rambut hitam berkilau yang dikuncir ekor kuda, dan bulu mata yang tipis dan panjang. Bibir mungil yang menonjol itu, segar dan montok bagaikan buah ceri.

Hmmm.

"Mari kita menikah, Mi-chan."

"…"

"Aduh, hentikan! Jangan mencubit lemak di perutku tanpa bilang apa-apa!"

Girigiri, lemakku menjerit.

"Hahaha, Mei itu benar-benar tidak dapat dimengerti. Pikiranmu bagaimana sih sampai dapat kayak gitu?"

Begitu kata cowok yang duduk di depanku—Zomu-kun alias Mitaka Nozomu—sambil memperlihatkan taringnya yang khas dan tertawa kayak bocil.

Baca-RabuDame-LN-Jilid-4-Bab-1-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

"Makanya kamu belum punya pacar, bukan?"

"Hm. Mungkin hati seorang cewek memang agak sulit dimengerti oleh Zomu-kun yang aneh ini?"

Saat aku menjawab sambil melambaikan tanganku, Zomu-kun membelalakkan matanya yang agak putih di bagian atas dengan ekspresi bingung dan mengulang perkataannya.

"Touhenboku? Apa maknanya itu?"

"Maknanya orang bodoh yang tidak punya rasa malu, bukan?"

Kali ini, cowok berambut ikal yang duduk di sebelah Zomu-kun —Oomori Asahi— bilang dengan nada malas sambil menyandarkan dagunya di tangannya.

Terus, Oomori-kun mengarahkan matanya yang agak sayu ke samping.

"Cocok banget buat Mitaka, bukan?"

"Hah? Hei, Asahi, kamu mau cari ribut?"

"Yang mulai duluan itu Kiyosato. Kamu itu salah sasaran, bukan?"

"Ah iya? Kamu sengaja ngomongnya susah-susah gitu, ya? Hah?"

...Dan begitulah, kedua orang cowok itu mulai berdebat.

Aduh, ya ampun, kedua orang cowok ini...

"Hei, kalian berdua, tenang dulu..."

Di antara mereka berdua yang saling berdebat sengit, Mi-chan mencoba menengahi.

Mungkin karena suasana yang agak berubah, beberapa teman sekelas yang duduk di tempat yang jauh pun melirik ke arah kami dengan tatapan "Ada apa ini?".

Sadar akan hal itu, aku langsung menepuk-nepukkan kedua tanganku.

"Hei-hei, Mi-chan itu sedang bingung. Kalau kalian benar-benar mau cewek ini, kalahkan aku dulu baru kalian boleh ambil!"

"Aduh, Mei. Sebenarnya ini semua karena kamu yang bercanda─"

"Hieh! Jangan sentuh dagingku!"

Sambil berteriak dengan nada bercanda, aku bangkit sambil menggeliat-geliat.

Melihat itu, teman-teman sekelasku tersenyum kecut seakan-akan bilang, "Ah, kayak biasanya," lalu kembali ke obrolan mereka masing-masing.

─Fiuh, syukurlah. Apa ini tampak kayak lelucon yang bagus?

Iya, memang mereka berdua tidak sebodoh itu sampai bertengkar serius di tempat kayak gini, tetapi siapa tahu teman-teman sekelas kami yang tidak tahu apa-apa jadi merasa tidak nyaman. Lebih baik berhati-hati.

Setelah mencapai tujuanku, aku langsung duduk, lalu Zomu-kun melanjutkan dengan suara kecewa, "Hah.".

"Mei, kalau saja kamu tidak punya kesan yang mengecewakan itu, kamu pasti sempurna, loh..."

"Hei, maksudmu apa sih dengan 'Kesan yang mengecewakan'? Aku minta maaf."

"Anak SMP yang menggunakan ungkapan 'Minta maaf' sambil sok tahu, apa itu normal?"

"Eh, apaan ini? Oomori-kun juga bakal mengkhianati kita?"

"Benar-benar, seumur hidup pun, sifatnya tetap kayak cowok SD..."

"Mi-chan!? Eh, apa aku dianggap cowok!?"

Ahaha, semua orang tertawa.

Melihat ekspresi mereka, aku pun ikut tertawa.

─Iya, memang begitu.

Begini, dapat tertawa bersama-sama kayak gini, itulah yang paling asyik.

 ◆ 

Di tengah keramaian, kami terus bercanda sambil mengenang hari ini.

"─Nah! Kalau tidak mencetak gol di sini, bukannya tidak lengkap, jadi aku langsung berlari ke depan dan mencetak gol sundulan yang sempurna!"

"Wah! Itu keren banget!"

Zomu-kun dengan penuh semangat menceritakan seluk-beluk gol penentu kemenangan itu.

Karena saat itu sedang berlangsung Pertandingan Final Bola Voli, aku memang sudah tahu hasilnya, tetapi belum tahu detail situasinya.

"Itu terjadi di menit terakhir, jadi suasananya sangat seru. Semua orang berteriak, 'Pahlawan baru lahir!'"

Mi-chan bilang begitu sambil tersenyum lembut.

Hah, kayak biasanya, Zomu-kun memang punya sisi kayak gitu. Dapat dibilang kalau ia punya bakat bintang sejak lahir, atau semacam keberuntungan yang membuatnya dapat bersinar di momen paling krusial.

Zomu-kun menyilangkan tangannya sambil mengangguk-angguk.

"Lagipula, bagaimana bilangnya ya. Rasa kebersamaan saat itu? Itu benar-benar luar biasa!"

Lalu, dengan wajah yang ceria, Zomu-kun tersenyum lebar.

─Zomu-kun itu cowok yang polos dan murni.

Meskipun mulut Zomu-kun kasar dan sikapnya ceroboh, ia punya kepribadian yang menawan dan sulit buat dibenci, serta karisma alami yang mampu menarik perhatian semua orang.

Saat naik dari SD ke SMP, kami pertama kali sekelas dan langsung cocok. Sejak itu, kami terus berteman dekat kayak gini. Paling tidak, menurutku Zomu-kun itu teman cowok yang paling cocok denganku.

Ngomong-ngomong, Zomu-kun itu tinggi banget, lebih dari 180 sentimeter, dan jago segala macam olahraga, jadi ia sangat populer di kalangan cewek. Mungkin ada puluhan cewek dari seluruh angkatan yang naksir dengannya. Ini bukan lebai, loh.

"Hei, hei, keren bukan, keren bukan? Aku keren banget, bukan?"

Tetapi iya, pada dasarnya Zomu-kun masih kekanak-kanakan, jadi ia suka membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan.

"Mitaka, kamu tidak perlu membicarakan hal-hal kayak gitu sendiri..."

Kayaknya Mi-chan juga merasakan hal yang sama, karena dia bersuara dengan nada kecewa.

"Miharu-chan juga boleh dipuji, loh? Ayolah, ayolah!"

"Eh... ...maaf. Jujur saja, kayaknya agak menyebalkan..."

"Wah, sikap seriusmu itu, benar-benar menyakitkan."

Dipotong habis-habisan oleh Mi-chan yang cemberut, Zomu-kun memegangi dadanya sambil merosot ke meja.

Kayak biasanya, Mi-chan memang selalu blak-blakan banget ya…. Menurutku, tidak apa-apa kalau Mi-chan agak lebih halus dalam bilang begitu. Tetapi, karena lawannya Zomu-kun, ya tidak apa-apa juga, sih.

"Cuma karena berhasil melempar bola yang sempurna, kok bisa sesombong itu?"

Oomori-kun, yang sedang asyik bermain ponsel pintar dengan wajah tenang, tiba-tiba bergumam kayak gitu.

Zomu-kun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Oomori-kun dengan ekspresi penuh kecaman.

"Ah, bagaimanapun juga itu terlalu tinggi! Kalau bukan aku, mustahil dapat meraihnya!"

"Kalau tidak dimanfaatkan di saat-saat kayak gini, buat apa sih punya tubuh sebesar ini?"

"Ck… …Mestinya kalian berterima kasih pada kemampuan lompatku yang luar biasa ini!"

"Iya, iya, makasih banyak."

Oomori-kun mengangkat bahunya dengan ekspresi seakan-akan bilang, "Ah, sudahlah."

Hm, begitu ya, jadi yang mengoper bola itu Oomori-kun. Maknanya, Oomori-kun mengoper bola yang mestinya dapat ditangkap oleh Zomu-kun, ya.

Oomori-kun itu cowok yang sangat terampil. Baik dalam belajar maupun olahraga, ia dapat mengerjakan semuanya dengan tenang dan tanpa kesulitan.

Selain itu, dibandingkan dengan cowok-cowok lainnya yang biasanya mudah terbawa emosi, Oomori-kun punya wawasan yang luas sampai-sampai dapat melihat segala sesuatu secara objektif dan tenang. Ia itu tipe yang langka di antara teman-teman sebayanya.

Ngomong-ngomong, Oomori-kun itu cowok tampan dengan wajah yang garang, dan popularitasnya di kalangan cewek tidak kalah dengan Zomu-kun.

"Hei, Asahi, jangan sibuk-sibuk jadi anggota Komite Perpustakaan yang membosankan itu, mending gabung saja ke Ekskul Sepak Bola."

"Aku tidak mau berkeringat, jadi aku lewat saja."

"Wah, kamu masih saja terlalu jutek, ya!"

Mungkin dapat dibilang kalau Oomori-kun kurang dapat bekerja sama, atau lebih tepatnya, ia jarang berusaha berinteraksi dengan orang lain—itulah satu-satunya kekurangannya….

Mungkin saja, karena Oomori-kun itu satu-satunya yang cara berpikirnya sudah kayak orang dewasa, sehingga orang-orang di sekitarnya tampak kekanak-kanakan buatnya. Makanya ia membangun tembok pemisah dengan teman-teman sekelasnya.

Selain itu, mungkin karena Oomori-kun suka bersikap sinis atau tampak licik, ia tidak terlalu disukai sama cowok-cowok lainnya, jadi sejak awal ia memang agak terisolasi di kelas.

"Ah, sudahlah, ini kan Asahi. Tetapi sebagai gantinya, kamu mesti serius di Festival Olahraga! Soalnya, kamu yang mesti jadi pasangan lari tiga kaki yang seimbang denganku."

"Aku biasanya benci kalau disandingkan dengan Mitaka."

"Oke, sudah diputuskan!"

Tetapi Zomu-kun, dalam makna yang baik, sama sekali tidak peduli soal hal-hal kayak gitu, jadi ia selalu menarik Oomori-kun ke dalam lingkaran pertemanan kelas kayak gini.

Meskipun kepribadian mereka bertolak belakang dan mereka selalu bertengkar, ...justru perbedaan yang kontras itu kayaknya cocok, dan meskipun sering berdebat, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Hubungan mereka mirip dengan yang disebut "Teman bandel".

─Ternyata, mempertemukan mereka berdua itu memang keputusan yang tepat.

Memang agak berani, tetapi entah mengapa aku merasa kami kayaknya cocok. Intuisi kayak gitu biasanya selalu tepat buatku.

Saat aku merenungkan hal itu dengan dalam, tiba-tiba Mi-chan mengerutkan jidatnya dan menunduk.

"Kalian semua dapat berolahraga, jadi bagus ya. Aku, aku benar-benar cuma jadi beban saja..."

"Aku sama sekali tidak bisa menang," kata Mi-chan sambil mengerutkan bibirnya dengan kesal.

Ah, sudahlah, Mi-chan, kamu mulai memikirkan hal itu lagi.

Aku menepuk-nepukkan kedua tanganku.

"Hei, jangan berpikiran negatif! Lagipula, bukannya tidak ada yang bilang kalau kita mesti menang?"

"Iya, benar. Miharu-chan bukannya sudah melakukan hal-hal yang mirip Manajer. Jadi, bukannya itu sepadan?"

Meskipun aku dan Zomu-kun mencoba menenangkan Miharu-chan kayak gitu, dia tetap tidak mau menerimanya.

"Aku cuma mengurus pekerjaan kasar saja. Lagipula, aku tidak perlu melakukannya."

Lalu, Mi-chan mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya.

Mi-chan memang tampak punya sifat yang tenang, tetapi sebenarnya dia cukup keras kepala; Saat dia sudah memutuskan sesuatu, dia susah buat diubah.

Menurutku, keteguhan hati Mi-chan itu memang daya tarik utamanya, tetapi kadang-kadang hal itu justru muncul dalam bentuk merendahkan dirinya sendiri, dan itu yang membuatku bingung.

"Menurutku, itu jauh lebih baik ketimbang orang-orang yang cuma jago olahraga, sih,"

…Katanya.

Oomori-kun membuka mulutnya sambil tetap mempertahankan sikapnya yang tenang.

"Yang menaikkan nilai rata-rata kelas itu kan Shinagawa. Kalau soal kontribusi, dia jelas jauh lebih unggul, bukan?"

"Eh… …mungkin, ya?"

"Bukannya memang begitu? Paling tidak, Shinagawa lebih baik ketimbang orang-orang yang cuma dapat unjuk gigi dua kali setahun itu."

"Hei, apa itu maksudnya aku, ya? Asahi-kun?"

"Kalau kamu sudah sadar, mengapa kamu tidak perbaiki saja?"

Melihat obrolan kami berdua, Mi-chan tersenyum kecil.

Wah, syukurlah, kayaknya Mi-chan sudah pulih.

Kecenderungan Mi-chan buat bersikap negatif memang sebagian berasal dari pengalaman masa lalunya, tetapi pada dasarnya semua itu disebabkan oleh kurangnya rasa percaya dirinya.

Kayak yang Oomori-kun bilang, Mi-chan itu termasuk yang terbaik di kelas dalam hal belajar, dan masih banyak kelebihan lainnya. Aku selalu berharap Mi-chan lebih bangga pada kelebihannya, bukan pada kekurangannya.

Selain itu, yang terpenting, Mi-chan itu imut. Pokoknya imut. Bahkan aku yang sesama cewek pun merasa begitu, jadi pasti benar. Mi-chan mesti lebih menyadari hal itu dan bangga akan hal itu.

"Itu… …makasih, Oomori-kun!"

Saat aku merasa begitu dengan wajah puas, Mi-chan menundukkan kepalanya sambil menatap Oomori-kun dari bawah.

"Ah, tidak apa-apa. Ini bukan saatnya buat berterima kasih, bukan?"

"Tidak. Bukan begitu… …karena kamu memperhatikanku dengan baik."

Lalu, di bagian akhir, Mi-chan bergumam dengan suara yang agak lebih pelan.

Oomori-kun mengangkat bahunya tanpa bilang apa-apa, lalu kembali menundukkan pandangannya ke ponsel pintarnya.

Aku memandangi mereka berdua dengan senyuman tipis, sambil meneguk jusku.

─Kayak yang dapat kalian tebak dari obrolan barusan.

Kayaknya Mi-chan menyukai Oomori-kun.

Aku baru kenal dengan Oomori-kun sejak masuk kelas IX SMP ini, tetapi mereka berdua sudah sekelas sejak tahun lalu, dan juga sudah akrab sejak jadi anggota Komite Perpustakaan.

Mi-chan itu, kayak yang baru saja dia lakukan saat berhadapan dengan Zomu-kun, kadang-kadang dapat berbicara blak-blakan tanpa ragu-ragu. Hal itu sebenarnya karena Mi-chan punya rasa tanggung jawab yang kuat, tetapi sering kali dia disalahpahami oleh orang yang belum mengenalnya. Makanya, pernah terjadi sedikit kehebohan saat mereka jadi anggota Komite Perpustakaan, dan saat itu Oomori-kun-lah yang membantu Mi-chan.

Oomori-kun memang kedengaran kasar saat bicara, tetapi sebenarnya ia cowok yang baik hati dan peka. Aku rasa Oomori-kun dapat menebak apa yang mau Mi-chan bilang, lalu dengan santainya memberikan bantuan. Tidak ada cowok lainnya yang dapat melakukan hal kayak gitu, jadi mungkin itulah yang membuat Oomori-kun tampak menarik di mata Mi-chan.

Di sisi lain, aku tidak tahu pasti bagaimana perasaan Oomori-kun pada Mi-chan. Tetapi karena Oomori-kun masih sering membantu Mi-chan kayak tadi, pasti Oomori-kun tidak benar-benar tidak tertarik pada Mi-chan.

Sebagai sahabat mereka, aku mau sekali membantu hubungan mereka berkembang─.

Aku melirik sekilas ke sekeliling tanpa sengaja.

Hanya saja, kalau bicara soal percintaan, kalau tidak hati-hati dalam menanganinya, bisa saja menimbulkan konflik yang tidak diinginkan.

Misalnya, ada cewek lainnya yang menyukai Oomori-kun sampai-sampai terjadi kehebohan, atau jadi sasaran iri hati teman-teman sekelas. Bagaimanapun juga, dampaknya akan sangat besar kalau terjadi masalah, jadi aku tidak dapat mendukung mereka secara terbuka, dan itulah yang membuatku galau.

Sekarang, sambil memastikan masalah semacam itu tidak terjadi, aku juga sedang beraksi penuh semangat sambil memikirkan cara agar semua orang dapat memberikan ucapan selamat dengan perasaan, "Kalian berdua memang cocok, ya."

Iya─.

Agar semua orang yang dapat aku jangkau dipenuhi dengan senyuman.

Cuma demi cita-cita itu, kayak yang selalu aku lakukan selama ini, aku terus berupaya sekuat tenaga.

"─Mei, hei, Mei!"

"…Hah?"

Tiba-tiba, aku tersadar saat Zomu-kun menyapaku.

"Kamu tidur, ya? Aku sudah memanggilmu 💯 kali, loh?"

"Ah, iya, mungkin aku tidur sambil membuka mataku. Ada apa?"

"Kamu tidak mau mengakui hal itu, ya… …duh!"

Zomu-kun menggelengkan kepalanya seakan-akan tidak percaya, lalu menjentikkan sedotan dengan bunyi "Pishin".

"Liburan Musim Panas ini! Kita mau melakukan, sih?"

"Wah, Liburan Musim Panas!"

Sambil bilang begitu, aku diam-diam mengamati sekelilingku buat memastikan kalau tidak ada teman-teman sekelasku yang lainnya yang memperhatikan kami.

Kayaknya tidak ada yang mendengarkan kami. Memang bukan cerita yang memalukan kalau didengar oleh orang lain, sih, tetapi lebih baik aman ketimbang menyesal.

"Maksudnya begitu, bukan? Kita berempat pergi jalan-jalan ke suatu tempat?"

Zomu-kun tersenyum dan mengangguk.

"Iya nih. Nah, tahun ini gimana kalau kita pergi ke... ...pantai! Atau ke Shousai, misalnya!"

"Wah, ide bagus!"

Shousai ya! Aku cuma pernah ke sana sekali waktu SD buat Karyawisata.

Berenang di laut itu memang asyik, tetapi mengelilingi kafe-kafe tersembunyi yang dulu aku takut masuk juga pasti asyik banget!

"Ah, itu, aku. Aku tidak terlalu suka pergi jauh..."

Sementara kami berdua semakin bersemangat, Mi-chan bergumam dengan raut wajah canggung.

Ah, benar juga. Keluarga Mi-chan memang ketat soal itu. Katanya, hari ini pun dia sempat berdebat sedikit buat dapat ikut.

Pergi ke luar kota cuma dengan siswa-siswi SMP saja, kayaknya agak sulit.

"Kalau begitu, kita ke dalam kota saja, ya. Kalau begitu, lebih mudah meyakinkan mereka, bukan?"

Aku memang mengusulkan begitu, tetapi Zomu-kun melambaikan tangannya dengan enggan.

"Ah, kalau begitu, bukannya cuma ada Ooba Grey yang bisa kita tuju? Atau mungkin ke arah Katou?"

"Lagipula, tidak perlu ngotot ke pantai, bukan. Lagian sedang panas juga."

"Hah? Eh, kamu, ngomong apa sih? Musim panas itu memang panas! Lagipula, musim panas tanpa berenang sekali pun itu mustahil, pasti tidak!"

Menanggapi jawaban Oomori-kun yang malas-malasan, Zomu-kun menyilangkan tangannya dengan penuh semangat sambil berteriak, "Batsubatsu!"

…Dengan sikap Zomu-kun yang sangat kaku, entah mengapa aku merasa ada niat tersembunyi di baliknya.

Tetapi iya, aku setuju dengan pendapat kalau musim panas tanpa berenang itu bukanlah musim panas yang sesungguhnya. Tahun ini kayaknya kami juga tidak dapat pergi Liburan Keluarga karena pekerjaan Ayah.

Lagipula, aku dapat Liburan Musim Panas bersama teman-teman dekatku. Aku juga mau sedikit berpetualang.

Ada tempat yang bagus tidak ya… …hmm….

Ah.

"Summer Park! Bagaimana kalau kita pergi ke Summer Park?"

Sambil menepukkan kedua tanganku, aku memandang ke sekelilingku.

Summer Park terletak di bagian barat Kota, sebuah taman hiburan yang menawarkan berbagai atraksi air yang cocok buat musim panas, kayak kolam arus, kolam ombak, dan perosotan air. Aku ingat saat masih kecil, aku pernah pergi ke sana bersama keluargaku dan para tanteku, dan itu sangat asyik.

Selain itu, ada juga atraksi biasa kayak kereta luncur dan bianglala, jadi kita dapat menikmati seharian penuh di sana.

"Wah, tempat di perkampungan itu! Bagus, bukan!?"

Zomu-kun mengangguk dengan penuh semangat, lalu langsung memeluk bahu Oomori-kun dengan erat.

"Eh, eh, Asahi juga setuju dengan itu, bukan!?"

"Ah, aku sih tidak masalah─"

"Oke, sudah diputuskan!"

Bagus, bagus, kayaknya kedua orang cowok itu sudah cepat-cepat mencapai kesepakatan.

Aku pun menyapa Mi-chan yang tampak sedang merenung di sebelahku.

"Mi-chan juga tidak apa-apa, bukan?"

"Eum..."

Mi-chan yang terdiam sejenak itu tetap tampak canggung.

Hmm, mengapa ya? Tempat itu bukannya di dalam Kota, jadi kayaknya tidak ada masalah yang terlalu serius, bukan─.

Ah, apa jangan-jangan?

Aku langsung merasa ada yang aneh, memastikan kalau kedua orang cowok itu tidak sedang memperhatikan kami, lalu perlahan mendekatkan mulutku ke telinga Mi-chan.

Lalu dengan suara pelan.

"─Aku akan membantumu memilih pakaian renang yang imut. Oke?"

Pada Mi-chan yang tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatapku, aku melemparkan kedipan mataku.

Telinga Mi-chan langsung memerah, lalu tubuhnya mulai gemetaran.

─Ahahaha.

Tuh kan? Mi-chan, imut banget, bukan?

…Tetapi, tidak lama setelah itu, dagingku kembali menjerit kesakitan.

 ◆ 

"Sampai jumpa! Hati-hati di jalan ya!"

"Kalian juga ya!"

Di depan toko, kami berpamitan dengan Zomu-kun dan yang lainnya sambil melambaikan tangan kami lebar-lebar. Karena cuma aku dan Mi-chan yang naik kereta api swasta, kami mesti berpisah dengan yang lainnya di sini.

"Ayolah, kita pulang saja."

"Oke."

Kami berdua pun mulai berjalan menyusuri kawasan hiburan malam.

Langit yang tampak di balik gedung-gedung memang sudah benar-benar gelap. Tetapi, karena kota ini seakan-akan baru benar-benar hidup di malam hari, lampu-lampu bersinar terang benderang, bahkan lebih semarak ketimbang di siang hari.

Tetapi, memang sih, buat siswa-siswi SMP saja, pulang jam segini mungkin agak keterlaluan. Semoga saja kami semua tidak dimarahi.

Sambil memikirkan hal itu dan berjalan menuju stasiun, Mi-chan tiba-tiba bergumam pelan.

"…Benar-benar, setiap hari itu asyik ya."

"Iya?"

"Aku, berangkat ke sekolah dengan perasaan kayak gini. Benar-benar, rasanya kayak mimpi."

Sambil menggeser poni yang menutupi matanya dengan tangannya, Mi-chan menyipitkan matanya seakan-akan sedang memandang ke kejauhan.

─Pertemuanku dengan Mi-chan bermula sejak kami duduk di bangku Kelas IV SD.

Awalnya aku bersekolah di SD di Prefektur lain, tetapi karena pekerjaan Ayah, keluargaku pindah ke sini dan aku pindah ke Kelas di SD Swasta Akademi Akagawa.

Ini memang pindah rumah ketiga sejak aku TK, jadi aku sudah terbiasa pindah sekolah, tetapi karena ini pertama kalinya aku masuk kelas di tengah semester, aku ingat saat itu aku agak gugup.

Tetapi, karena aku sangat jago bergaul, aku dapat langsung akrab dengan teman-teman sekelasku dan menghabiskan hari-hariku dengan asyik.

─Cuma satu hal.

Yang selalu mengkhawatirkanku yakni adanya seorang cewek yang selalu sendirian di kelas.

'Cewek itu tidak dapat membaca suasana. Selalu bilang 'Membosankan'.' 'Iya-iya, cewek itu otaku yang cuma baca buku terus-terusan.' 'Cewek itu juga biasa-biasa saja, sih dan jelek.' 'Kalau ada cewek itu, tidak asyik.'

Seluruh cewek bilang begitu, dan mengucilkan cewek itu.

…Hal kayak gitu, sering terjadi di SD-ku sebelumnya juga.

Karena mereka merasa tidak cocok, karena cewek itu sok tahu, karena cewek itu sok imut, karena cewek itu cuma main dengan cowok-cowok saja─.

Semua orang selalu menyebutkan 'Sisi buruk' cewek itu, seakan-akan itu alasan yang cukup buat mereka untuk mengucilkan cewek itu.

Dan, pada saat-saat kayak gitu.

Aku selalu menjawab begini.

'Kalau gitu─ kalau lebih asyik kalau cewek itu ada di sana, bagaimana?'

Setiap orang pasti punya kelebihan. Hanya saja, kelebihan cewek itu sulit tampak, sampai-sampai semua orang salah paham.

Kalau aku dapat menemukan kelebihan itu dan membuat cewek itu diakui oleh semua orang, pasti semuanya akan jadi lebih asyik. Kami dapat tertawa bersama cewek itu dan semua orang dengan lebih bahagia ketimbang sekarang.

Dan aku, telah mengasah kemampuanku buat itu.

Kalau gitu—tidak ada alasan buat tidak melakukannya, bukan?

Makanya aku menyapa cewek yang sedang duduk sendirian sambil membaca novel itu.

'Hei, hei, Shinagawa-san!'

'...?'

'Novel itu, asyik banget, ya!'

Itulah obrolan pertama d8 antara aku dan cewek itu—Mi-chan.

—Sejak saat itu, aku berhasil mengungkapkan banyak pesona Mi-chan: Betapa imutnya Mi-chan saat malu-malu, betapa cerdas dan pekanya dia, serta betapa dia tampak pemalu tetapi sebenarnya punya tekad yang kuat dan dapat diandalkan, dan masih banyak lagi.

Lalu, saat naik ke Kelas V SD, kesalahpahaman itu pun lenyap sepenuhnya, dan akhirnya Mi-chan pun diterima sebagai bagian dari kelompok pertemanan kami.

Tentu saja, sampai sekarang pun tidak ada seorang pun yang bilang hal buruk soal Mi-chan. Di kelas, dia dikenal sebagai sosok yang teliti dan dapat diandalkan, bahkan dalam hal-hal kecil, dan dia berperan sebagai Asistenku.

Ngomong-ngomong, meskipun kami berkenalan karena kejadian kayak gitu—berkat hobi membaca yang sama, kami pun langsung cocok.

Terutama, aku rasa fakta kalau kami sama-sama sangat menyukai novel remaja sangat berperan besar. Kami sering mengobrol sepanjang malam soal karya favorit kami, atau bersemangat menganalisis perasaan para karakter, dan sebagainya.

Yah, begitulah, sampai sekarang kami tetap jadi sahabat karib yang tidak tergantikan dan menjalani hari-hari kami dengan baik.

"─Entah mengapa, rasanya setiap hari kayak di novel remaja."

Mi-chan tiba-tiba bergumam dengan nada penuh kenangan.

"Dulu, kayak yang Mei bilang. Ternyata hal kayak gini benar-benar ada, ya?"

Aku tanpa sadar duduk di tepi trotoar, berjalan kayak di atas balok keseimbangan sambil mendengus, "Fufun."

"Bukannya sudah aku bilang. Novel remaja itu, dunia yang penuh dengan senyuman."

Maknanya─.

"Jadi begini. Kalau kita berusaha sekuat tenaga agar semua orang tersenyum, kita pasti akan mendekati tujuan itu dengan sendirinya ─ bukannya, itu sudah jelas?"

"…Hal kayak gitu, orang-orang pasti langsung menyerah karena tahu itu mustahil. Bocil SD pun tahu itu."

Mi-chan menghembuskan napas seakan-akan tidak percaya.

"Tetapi, Mei memang orang yang benar-benar melakukannya…"

Lalu, dengan penuh perasaan, aku bergumam,

"Aku tidak melakukan hal yang istimewa, kok. Aku cuma melakukan apa yang dapat aku lakukan saja."

"…Tetapi cakupan hal yang dapat kamu lakukan itu terlalu luas, Mei."

"Tidak juga, sih—tetapi kalau aku bilang begitu, pasti kedengaran sinis, jadi aku jawab aja, 'Iya, memang begitu.'"

"Mereka berdua kedengarannya sinis, loh."

Ahaha, benar juga ya….

Jujur saja, aku sadar kalau aku memang lebih beruntung ketimbang orang lain, baik dari segi penampilan maupun kemampuan. Semua orang sudah sering bilang begitu, dan kalau dilihat secara objektif dari nilai akademis atau hasil kompetisi, aku juga tahu memang begitu.

Tetapi, aku rasa aku belum pernah bersikap seakan-akan membanggakan hal itu secara berlebihan. Meskipun begitu, kadang-kadang tetap saja ada yang tersinggung.

Jadi biasanya, aku berusaha sebisa mungkin agar obrolan tidak mengarah ke topik kayak gini. Tetapi karena lawan bicaranya itu Mi-chan, aku cuma bicara secara terbuka saja.

"Tetapi sebenarnya, aku ini cuma punya banyak barang saja, isinya sih orang biasa-biasa saja. Aku tidak mau jadi dokter cuma karena dapat belajar, tidak juga mau jadi atlet tenis profesional cuma karena jago main tenis, dan meskipun penampilanku bagus, aku juga tidak mau jadi idola atau selebriti..."

Aku mendarat kembali di tanah perlahan-lahan.

"Aku cuma mau setiap hari berjalan dengan tenang dan damai, dapat tertawa bersama-sama dengan semua orang, itu saja. Itu bukan hal yang istimewa, bukan? Itu hal biasa yang dapat dipikirkan oleh siapa saja."

"…"

Tiba-tiba, aku menyadari kalau Mi-chan telah berhenti, lalu aku menoleh ke belakang.

Mi-chan tetap menunduk sambil bergumam pelan.

"Hari-hari kayak gini… …sampai kapan ya akan terus begini…"

"Teih!"

Tanpa ragu, aku langsung menepuk jidat Mi-chan. Cukup keras.

"Aduh! Eh, mengapa kamu menepuk jidatku?!"

"Tentu saja karena hasil fotonya bagus."

Sambil mengelus jidat Mi-chan, aku menatap matanya yang sedang memandangku dengan tajam.

"Kehidupan kita saat ini ada karena Mi-chan telah menunjukkan pesonamu sepenuhnya, dan semua orang pun mengakui hal itu. Karena Mi-chan telah berusaha keras, kita dapat tersenyum setiap hari kayak gini."

Lalu, aku tersenyum lembut.

"Jadi, kalau kamu terus berusaha kayak gini, kamu akan dapat terus tersenyum selamanya."

Mendengar kata-kata itu, Mi-chan terdiam sejenak.

Lalu Mi-chan mengangguk pelan.

"…Iya, benar juga. Yang penting kita terus berusaha saja, bukan?"

"Iya, iya!"

Perlahan-lahan, aku menepuk bahu Mi-chan, lalu melangkah maju dengan ringan, ton-ton-ton.

Lalu, setelah melangkah beberapa langkah, Mi-chan menoleh ke belakang dan tiba-tiba membuka kedua tangannya lebar-lebar.

"Lagipula, tidak apa-apa! Mulai sekarang, baik saat masuk SMA, kuliah, atau bahkan saat sudah dewasa nanti—"

Selamanya.

Iya, selamanya.

"—Agar kita dapat terus tertawa bersama. Aku akan terus berusaha sekuat tenaga!"

Benar.

Itulah cita-cita yang mesti diperjuangkan oleh—

Kiyosato Mei, yang diberkahi dengan bakat sedikit lebih banyak ketimbang orang lain.

Baca-RabuDame-LN-Jilid-4-Bab-1-Bahasa-Indonesia-di-Lintas-Ninja-Translation

Keluargaku merupakan keluarga kelas menengah yang sangat biasa.

Kalau ditanya apa bedanya dengan keluarga anak-anak lainnya, mungkin cuma soal menambahkan gula ke dalam teh gandum? Katanya itu kebiasaan dari kampung halaman Ayah, tetapi aku belum pernah mendengarnya di kota.

Bagaimanapun juga, itu cuma perbedaan kecil; Ini memang keluarga biasa yang dapat ditemukan di mana saja di seluruh Jepang.

Ayah itu seorang pegawai kantoran yang setiap hari berangkat kerja dengan kereta api yang penuh sesak. Ayah itu pria yang tenang dan baik hati, dan setiap hari libur beliau selalu meluangkan waktu buat keluarga.

Ibu bekerja paruh waktu di bagian pakaian di sebuah pusat perbelanjaan; Meskipun sering mengomel, masakan yang Ibu buat setiap hari benar-benar lezat.

Tetapi, karena Ayah sering dipindahkan tugas, sulit buatku untuk punya teman yang dapat tetap dekat. Selain itu, karena tidak ada saudara-saudari kandung atau sepupu sebaya, aku pernah menangis karena merasa kesepian saat masih bocil.

Tetapi, sebagai gantinya, aku sangat dimanja oleh para Tante dari pihak keluargaku. Kayaknya mereka belum dikaruniai momongan, jadi mereka memperlakukanku kayak anak kandung mereka sendiri.

Para Tante selalu tersenyum ramah dan baik hati, aku sangat menyukai mereka. Setiap kali pulang kampung, mereka mengajakku bermain ke berbagai tempat, dan pada perayaan kayak Ulang Tahun atau Natal, mereka memberiku banyak hadiah.

Saat aku jadi juara pertama di Turnamen Tenis Anak-anak, meraih medali emas di Lomba Kaligrafi, atau memenangkan Lomba Pidato Bahasa Inggris, para Tante turut bersuka cita seakan-akan itu prestasi mereka sendiri.

Saat para Tante tertawa bahagia, aku pun merasa senang.

Jadi, aku berusaha keras dalam berbagai hal.

Lalu, saat aku masih balita.

Tante tertuaku—Kakak dari Ayah—mengusap kepalaku sambil bilang,

'Mei-chan, kamu memang diberkahi dengan berbagai bakat. Orang kayak kamu mesti menggunakan kemampuanmu itu buat membuat banyak orang tersenyum.'

'Banyak? Berapa banyak?'

'Sebanyak yang dapat dijangkau oleh tanganmu, Mei-chan.'

'Kalau gitu, aku dapat jadi lebih bahagia?'

'Iya, tentu saja.'

'Oke, aku akan berusaha!'

Aku mau mereka semua selalu tersenyum.

Dan di tengah-tengah itu, aku pun mau selalu tersenyum.

Dan kalau memang itulah cara terbaik buat merasa bahagia—maka tidak ada alasan buat tidak melakukannya, bukan?

─Sejak saat itu.

Sebisa mungkin, membuat sebanyak mungkin orang tertawa.

Itulah yang jadi cita-cita yang mau aku capai.

'Selanjutnya~, di depan SMA Akademi Seijyō~, di depan SMA Akademi Seijyō~'

Suara pengumuman di dalam kereta api membuatku tersadar.

…Wah, kayaknya aku tertidur tanpa sadar. Aku baru saja bermimpi yang penuh kenangan.

Sambil menggosok mataku, aku melihat ke sekelilingku dengan tatapan bingung.

Mi-chan yang mestinya duduk di sebelahku tidak ada di sana. Stasiun terdekat sudah terlewati, jadi pasti dia turun diam-diam agar tidak membangunkanku.

Aku menguap pelan, lalu dengan linglung membayangkan kelanjutan mimpi itu.

─Kayak kata Tante, aku berusaha sekuat tenaga buat membuat banyak orang tersenyum.

Awalnya, dari hal-hal kecil kayak memberi hadiah yang aku sukai atau bermain bersama.

Selanjutnya, aku mencoba memikirkan apa yang menurut Tante asyik atau membahagiakan, dan berusaha sebisa mungkin buat melakukannya.

Seiring berjalannya waktu, aku secara alami mulai memahami perasaan orang lain, dan semakin sering tebakan intuitifku tepat sasaran. Kemudian, aku bukan cuma dapat melakukan hal yang sama pada teman-temanku yang sudah akrab, tetapi juga pada orang-orang yang baru saja aku kenal.

Tetapi di sisi lain, aku juga mulai melihat sisi-sisi buruk dan jelek dari orang lain.

Kalau cuma sisi buruk orang tersebut yang muncul ke permukaan, semua orang di sekitarnya pun akan ikut terseret dan jadi tidak bahagia. Oleh karena itu, agar hal itu tidak terjadi, kalau sisi buruk mereka terlalu menonjol, aku berusaha menekannya sebisa mungkin, dan mengangkat banyak sisi baik mereka, serta berupaya menciptakan lingkungan di mana semua orang dapat saling menghargai satu sama lain.

Meskipun sering mengalami kegagalan, setiap kali itu terjadi, aku memperbaiki kesalahan yang ada dan berusaha sekuat tenaga buat mencapai hasil yang lebih baik.

Dan, berkat usaha yang terus-menerus itu─.

Sekarang, semuanya berjalan dengan sempurna.

Tidak ada seorang pun yang terpinggirkan, tidak ada yang saling menyakiti, dan kami dapat bersatu padu dalam situasi apa saja. Sangat membahagiakan dapat menjalani kehidupan sekolah dengan penuh tawa di kelas terbaik ini.

Kehidupan sehari-hari yang dihabiskan dengan tawa bersama teman-teman dekat yang unik, menarik, dan bisa diajak bicara apa saja, sungguh membahagiakan.

Jadi, mulai sekarang dan seterusnya.

Aku akan terus memperjuangkan cita-citaku.

─Di luar jendela kereta api, deretan lampu-lampu berjejer.

Mungkin karena air mataku saat baru bangun tidur, semuanya tampak memancarkan cahaya yang berkilauan dan indah, sehingga aku merasa agak beruntung.

Pekan depan itu Liburan Musim Panas yang sudah lama aku tunggu-tunggu.

Liburan Musim Panas memang datang setiap tahun, tetapi tidak ada yang sama persis; Inilah momen yang istimewa. Sayang sekali kalau tidak dinikmati sepenuhnya.

Dengan pipi yang masih terasa rileks, aku turun dari kereta api dengan langkah enteng sambil jantungku berdebar-debar.

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

Bahasa Inggris / English

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama