Kūruna Megami-sama to Issho ni Sundara, Amayakashi Sugite Ponkotsu ni shite Shimatta Kudan ni Tsuite - Jilid 1 Bab 3 Bagian 2 - Lintas Ninja Translation

Bab 3
Menyelamatkan Sang Dewi.
(Bagian 2 dari 4)

Naho dan Yuki akan mampir ke rumahku untuk bermain.

Namun, teman sekelasku, Mikoto Rei, yang dipanggil "Dewi", sedang tinggal di rumahku.

Kalau mereka berdua mampir ke rumahku, ada kemungkinan kalau mereka akan tahu kalau Mikoto Rei tinggal di rumahku.

Aku kepikiran tentang bagaimana cara menjelaskan situasinya pada mereka berdua, tetapi Mikoto-san mungkin tidak akan menyukainya.

Kūruna-megami-1-3-2

Selain itu, aku sendiri belum terlalu paham bagaimana Mikoto-san bisa tinggal di rumahku, dan aku tidak merasa kalau aku bisa membicarakannya dengan mereka berdua dan dan berharap mereka memahaminya juga.

Jadi, sayangnya, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan yaitu mencegah mereka dari datang ke rumahku.

Ketika aku mencoba menjawab mereka berdua dengan alasan kalau aku sedang ada kerjaan.

Yuki menengok ke sampingku dengan aneh dan bergumam.

"Itu... anak sekolah kita, bukan?"

Yuki lalu menunjuk ke jalan kecil di samping jalan raya.

Lumayan jauh dari ujung jari Yuki merupakan sebuah tempat di mana ada gang sempit yang bersimpangan dan membentuk huruf T.

Area itu merupakan kompleks gedung apartemen lama dan gedung-gedung lainnya, beberapa di antaranya dalam keadaan hancur, karena tidak ada satupun orang yang belum menghancurkan tempat itu.

Ada seorang siswi berseragam berdiri di sana.

Seragam itu jelas dari sekolah kita.

"Cewek itu... Mikoto-san... iya kan?"

Seperti yang Yuki bilang, cewek itu jelas-jelas Mikoto Rei.

Meskipun dari kejauhan, rambut Mikoto-san yang panjang, perak dan terkibas sangat menonjol.

"Dia itu sekelas dengan kalian, iya kan? Aki-kun?"

"Kamu tahu banget, ya."

"Karena... Dia itu terkenal. Sang Dewi Es, bukan?"

Dia itu siswi tercantik di sekolah, dan tampaknya namanya sangat terkenal di seluruh sekolah, termasuk Yuki, yang berasal dari kelas sebelah.

Sejenak, aku kepikiran kalau Mikoto-san mungkin akan datang ke sini dan kami mungkin akan berpapasan satu sama lain, tetapi tampaknya aku tidak perlu khawatir soal itu... Karena dia bergerak lebih jauh masuk ke jalan masuk gang.

Tepat saat aku penasaran mengapa dia pergi sejauh itu, aku memperhatikan kalau ada beberapa cowok mengelilinginya.

Mereka merupakan siswa-siswa dari sekolah lain.

Mereka berseragam blazer berwarna biru laut, dan semuanya lumayan besar dan tampak kuat.

Dari kejauhan, Mikoto-san tampak ketakutan, seakan-akan dia bertikai dengan semua cowok.

Lalu, salah satu cowok tiba-tiba meraih tangannya, dan Mikoto-san mengguncangkan badannya, berusaha untuk melepaskannya.

"Itu bukanlah sesuatu yang... Mikoto-san... sukai, bukan?"

Kaho berkata, tampak khawatir.

Tepat sekali, Kaho memang benar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Mikoto-san jelas sekali sedang terlibat masalah dengan cowok-cowok itu dan hampir dibawa ke gang belakang.

Akan lebih baik untuk membantunya.

"Aku akan memeriksanya sebentar."

Ketika aku bilang begini, Kaho dan Yuki menatap satu sama lain dan kemudian menatapku dengan khawatir.

Aku rasa mereka khawatir karena mereka sudah tahu seperti apa aku sewaktu SMP.

Aku tersenyum pada mereka.

"Aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya."

"Haruto, jangan berantem, oke?"

Kaho mengatakannya dengan ekspresi serius.

Aku mengangkat bahuku.

"Aku tahu. Aku tidak akan menggunakan kekerasan. Kalian berdua pulang saja duluan. Ini berbahaya."

"Ehh? Ah- Tunggu! Haruto!"

Mendengar suara Kaho datang dari belakang punggungku, aku berlari menyusuri gang sempit.

Di saat yang sama, sosok Mikoto-san menghilang masuk ke gang di belakang gedung, di luar jangkauan mataku.

Gang itu seharusnya merupakan gang buntu, cuma reruntuhan gedung apartemen bobrok dan kumuh.

Dengan kata lain, ada kemungkinan besar kalau Mikoto-san telah dibawa ke sana.

"Tidak bagus."

Aku bergumam sendiri.

Setelah berlari sejenak, aku akhirnya memasuki gedung yang aku cari.

Aku menghilangkan tanda-tanda keberadaanku dan lanjut masuk lewat gedung itu.

Pada akhirnya, aku tiba itu area yang seperti aula di lantai dasar gedung.

Interiornya sudah hampir benar-benar hancur, itu seakan-akan tidak ada satupun yang tersisa.

Syukurlah, namun, ada yang tampak seperti bongkahan loker logam, jadi aku bersembunyi di belakangnya saat aku memindai area itu.

Mikoto-san berdiri di tengah-tengah aula.

Tiga orang cowok mengelilinginya.

"Apa maksudnya semua ini?"

Seperti biasanya, nada Mikoto-san sangat keras, tetapi kebalikan dari apa yang dia katakan, kakinya gemetaran.

Digiring oleh cowok-cowok yang lebih tinggi darinya, terjebak di gedung terbengkalai, dan dikelilingi oleh mereka, siapa saja jelas akan takut.

Cowok berambut coklat berdiri di tengah-tengah  tiga orang cowok yang menendang drum minyak terdekat dengan suara gedebuk, yang membuat suara nyaring.

Suara itu membuat Mikoto-san gemetaran.

"Jangan tersinggung, putri dari Keluarga Tomi. Aku sudah lama diminta untuk memberimu sedikit pukulan."

"Oleh siapa?"

"Kuserahkan itu ke khayalanmu. Kamu tetaplah cewek yang sangat cantik, ngomong-ngomong, metode yang mengakibatkan rasa sakit itu tergantung bagaimana aku memutuskannya..."

Cowok berambut coklat lalu menatap tubuh Mikoto-san dari atas hingga bawah, seakan-akan ingin menjilat seluruh tubuhnya.

Lalu ia menyeringai.

Mikoto-san mundur dan memeluk bahunya dengan kedua tangannya.

Wajahnya pucat dan dia tampak seakan-akan dia ingin menangis.

Saat itu, matanya tiba-tiba bertatapan dengan mataku, yang seharusnya tersembunyi dari sudut pandangnya.

Mata Mikoto-san melebar.

Aku tidak bermaksud untuk berpura-pura menjadi pahlawan, tetapi pada situasi seperti ini, tidak menolong Mikoto-san bukanlah pilihan yang tepat.

Bahkan saat aku bilang pada Kaho kalau aku tidak akan berantem dengan mereka, tampaknya aku harus melanggar janjiku.

Saat si cowok sudah meraih Mikoto-san, aku melompat ke arah mereka.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama