KuraKon - Jilid 5 Bab 1 Bagian 6 - Lintas Ninja Translation

Bab 1
Rumor
(Bagian 6)

Akane buru-buru menyeduh teh dan menyiapkannya ke atas meja. Duduk mengelilingi meja ada Saito, Himari, Maho, dan kemudian Shisei. Shisei sudah lama selesai memakan jatah kuenya sendiri, berusaha menggigit jatah kue Saito. Di saat yang sama, Himari berbicara dengan nada minta maaf.

"Maaf, Akane…Ini semua salahku. Kalau aku tidak mengatakannya di kelas, semua ini tidak akan terjadi."

"Ini bukan salahmu, Himari! Kami-lah yang seharusnya disalahkan karena kami merahasiakan hal ini darimu!"

"…Kami?" Alis mata Himari berkedut.

"Hah? A-Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"

"Tidak, bukan apa-apa. Bagaimanapun, aku juga sedikit bersalah dalam hal ini, jadi aku akan membantu mengendalikan semuanya! Beri tahu saja aku kalau ada yang bisa aku bantu!"

Akane mendengarkan ini dengan kaget dan bertanya.

"Kamu… tidak marah?"

"Apa ada alasan bagiku untuk marah?"

"Maksudku, kami telah berbohong selama ini…"

"Ayolah, aku tidak akan marah cuma karena hal ini!" Himari menunjukkan senyum bahagia, tetapi Akane tetap gelisah.

Apa dia…benar-benar tidak marah…?

Kalau Akane berada di posisi yang sama, dia pasti akan marah besar. Akane akan sangat terluka dan kecewa karena sobat karibnya tidak pernah berkonsultasi dengannya. Walaupun rasa takut dibenci itu masih yang terbesar. Memikirkannya lagi, Himari tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan marah. Akane tidak pernah menunjukkan perasaan jujurnya, dan cuma melarikan diri. Akane tidak pernah bertengkar dengan Himari sejauh ini.

"Baiklah, mari kita mulai pesta ini! Ini akan menjadi pertemuan bertemakan 'Bagaimana kita menghilangkan rumor seputar Mbak dan Mas' yang ke-152!"

"Jadi, kalian telah mengadakan 151 pertemuan? Ini benar-benar kacau kalau kita masih belum menemukan solusinya."

"Mhm." Shisei mengangkat tangannya.

"Oke, Shii-chan! Ada ide?"

"Tangkap seluruh siswa-siswi yang menyebarkan desas-desus dan hilangkan otak mereka!"

"Bukan cuma ingatan mereka!? Mereka semua akan mati!" Saito membalas.

"Mereka tidak akan mati. Mereka akan mendapatkan otak elektronik yang ditanamkan di kepala mereka."

"Mereka masih akan tetap mati!"

"Kalau begitu otak mereka akan diganti dengan spons."

"Itu bahkan lebih buruk!"

Saito sangat takut dengan ide dan potensi Shisei yang mungkin benar-benar melakukan hal itu, dan memperlebar jarak di antara mereka. Namun, Shisei masih semakin dekat, duduk di pangkuan Saito. Mereka berdua masih sedekat biasanya.

"Aku ingin menghindari ide mengambil otak itu, tetapi aku tidak membenci ide itu secara umum."

"Bahkan ide itu secara umum sudah kacau…" Saito juga menjauh dari Akane.

"Kita akan menulis pesan di meja mereka, menaruh otak di sana..."

"Otak apa?!"

"Ada banyak! Beberapa budaya menggunakan otak untuk bahan masakan."

"Aku tahu, tetapi ini terlalu menakutkan untuk digunakan sebagai ancaman, jadi jangan."

Akane tiba-tiba bangkit.

"Mengapa?! Kalau kamu ingin mengalahkan musuh, pastikan mereka tidak akan pernah bangkit lagi!"

"Aku tidak ingin menjadikan seluruh siswa-siswi itu sebagai budakku. Dan kalau mereka tahu itu perbuatan kita, kita mungkin akan dikeluarkan."

"Itu memang benar sih, tetapi…"

Akane tidak suka dibantah oleh Saito. Itu membuat Akane merasa seperti dia mengalah.

"Kalau kamu punya masalah dengan ide-ideku, lalu mengapa kamu tidak mengemukakan ide sendiri?!"

"Kalau kalian ingin menimpa beberapa skandal di mata publik, kalian perlu menciptakan sesuatu yang akan menutupi fakta itu."

"Kalau begitu kita mulai dengan mengambil otak!"

"Itu akan berakhir buruk, jadi tidak."

Akane mulai berpikir.

"Kalau begitu mungkin ginjal…atau mungkin hati?"

"Berhenti memikirkan tentang organ, dasar psikopat!"

"Kamu benar, lagipula, mungkin keduanya mengandung terlalu banyak lemak…"

"Apakah kita sedang mengobrol tentang masakan sekarang? Tidak bisakah kamu hilangkan saja dari seluruh ide itu dari dalam pikiranmu…?"

Kelompok itu menyatukan kepala mereka sekali lagi. Di tingkat ini, rumor ini pada akhirnya akan sampai ke guru mereka dengan sendirinya, yang dapat menyebabkan konflik yang parah, serta kemungkinan skorsing dari sekolah. Kalau ini dapat berdampak negatif pada jalur masuk Akane ke sekolah kedokteran, tidak ada jalan untuk mengambilnya lagi. Jadi mereka mesti mengambil metode apapun yang ada untuk menghapus rumor ini secepat mungkin. Himari memecahkan keheningan yang panjang ini dengan menepuk tangannya.

"…Aku tahu! Mungkin ini agak melenceng sih, tetapi aku punya ide."

"Ada apa?" tanya Maho.

"Kalau rumor itu tentang Akane dan Saito-kun berpacaran ditambah tinggal bersama, maka kita cuma harus melakukan kebalikan dari apa yang rumor itu katakan."

"Jadi menghilangkan api sebelum menjadi asap. Dan bukti pasti kalau kami tidak pacaran yaitu...kematian Saito?!" Akane menampakkan seringai yang cerah.

"Berhenti menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk membunuhku dengan darah dingin!" Saito mundur dari kelompok itu ke belakang sofa.

Mereka masih dalam tahap pembuatan rencana, namun Saito sudah mengkhawatirkan hidupnya. Namun Himari menunjukkan senyuman yang masam.

"Kamu tidak perlu melakukan sejauh itu. Saito-kun cuma perlu mendapatkan pacar selain dirimu."

"Pa-Pacar?!"

Untuk sepersekian detik, pemikiran "Saito akan selingkuh?!" muncul dalam benak Akane, tetapi dia segera membuangnya. Mereka mungkin sudah menikah, tetapi itu cuma sah di mata hukum, jadi tidak ada yang dapat disebut selingkuh. Himari melanjutkan.

"Tentu saja, itu tidak mesti jadi pacar sungguhan. Cuma pura-pura saja seharusnya tidak masalah."

"Aku mengerti! Jadi kalau Mas kedapatan bermesraan cewek lain di sekolah, itu akan membuat yang lain berpikir kalau rumor ini tidak beralasan! Himarin, kamu itu sangat cerdik!"

"Bukan ide yang buruk."

Baik Maho maupun Saito menghujani Himari dengan kekaguman, dia mendapati dirinya menggaruk-garuk pipinya.

"Ehehe. Aku cukup baik dalam hal ini. Memanipulasi, kamu tahu?"

"Oh iya, waktu di SMP dulu, kamu berhasil menyingkirkan rumor buruk di sekitar teman-teman sekelas kita, dan menghentikan kasus perundungan yang sedang berlangsung, bukan?" Akane ikut menimpali.

"Apa kamu itu seorang penuntas (fixer)?!" Saito memprotes.

"Apa itu penuntas?" Himari tampak bingung.

"Itu berarti kamu sangat imut sekali dan Mas menyayangimu!" Maho menyeringai, mencoba memaksakan definisi yang tidak akurat sedikitpun.

"Ya ampun, kamu membuatku tersipu, Saito-kun…" Himari gelisah dengan canggung.

"Itu sama sekali tidak cocok dengan makna aslinya, tetapi…tentu saja, terserahlah." Saito tidak bisa mengganggu untuk berdebat.

"Tetapi, siapa yang akan berperan sebagai pacar palsu Saito?" Akane bertanya.

"Aku akan melakukannya, ini bukan masalah besar!" Maho mengangkat satu tangan.

"Shisei akan melakukannya."

"A-Aku tidak keberatan membantu, kamu tahu?" Himari semakin gelisah.

"Kalian bertiga…"

Mengapa tiga cewek yang sangat sehat menawarkan diri mereka sebagai tumbal untuk cowok yang beracun dan tidak berguna macam Saito? Itu benar-benar di luar pemikiran Akane, yang sekarang memelototi Saito.

"Pasti kamu merasa sangat hebat menjadi sepopuler ini, ya? Tetapi ingat, ya, ini cuma pura-pura! Tidak lebih dari pacar palsu!"

"Dan mengapa kamu terdengar sangat kesal?"

"Karena aku tidak melihat cukup rasa terima kasih darimu! Dan asal kamu tahu saja, aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu berani meletakkan tangan kotormu itu pada sahabat ataupun adikku!"

"Aku tidak keberatan merasakan tangan itu, Mas!"

"Secara pribadi… aku sendiri akan menyambut baik kedatangan tanganmu, hihi…"

Tidak mengejutkan siapapun, kata adik dan sahabat Akane yang tampaknya tidak terganggu dengan ide ini. Pada tingkat ini, mereka cuma akan menjadi korban hasrat Saito, mencapai tempat di mana mereka tidak akan dapat kembali.

"Err… Shisei, bolehkah Abang meminta bantuanmu dalam hal ini?"

"Tentu saja, serahkan pada Shisei."

Peran pacar palsu itu pun dengan cepat diserahkan pada Shisei, dan Akane menghela napas lega.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama