I Was Hired as A Tutor by A Cute Devilish Junior [WN] - Seri 1 Bab 1 - Bahasa Indonesia

Bab 1
Perjumpaan

Hari itu adalah masanya untuk pulang sekolah, sepekan setelah aku naik ke kelas sebelas SMA.

Tanpa peringatan, pintu di ruang kelasku terbuka dengan suara bantingan.

Ada suara dengungan di ruang kelas, dan mata semua orang tertuju ke arah itu.

Tanpa terkecuali aku, jadi aku menghentikan obrolanku dengan temanku dan menatap ke arah sana.

Ada seorang gadis yang berdiri di sana.

Dia mengenakan rok pendek dan kardigan krem. Warna dari pita di kerahnya memberi tahuku kalau dia siswi kelas sepuluh.

Dan karena beberapa alasan, mataku bertemu dengan anak kelas sepuluh itu.

Terlebih lagi, segera setelah mata kami bertemu, dia langsung menghampiriku.

Eh, aku?

Siswi kelas sepuluh itu berhenti di depanku.

Ketika dia semakin dekat, aku melihat bahwa dia memiliki wajah yang cantik.

Dia memiliki rambut hitam mengkilap yang sepanjang bahu dan mata yang lebar dan cerah.

Dia sangat imut sampai aku tidak bisa apa-apa selain menatapnya.

"Salam kenal, Murakami Riku-senpai."

"O-Oh. Eh, bagaimana kamu bisa tahu namaku...?"

"Aku kelas sepuluh, Shiina Azusa. Sekali lagi, salam kenal."

"Eh, ah. Salam kenal."

Shiina menundukkan kepalanya saat dia lupa menyebutkan namanya.

Aku cenderung menanyakannya jika dia lupa memperkenalkan dirinya, tetapi tampaknya dia itu gadis yang sangat sopan.

Shiina Azusa...sebuah nama yang tidak aku ingat. Dia benar, lagi pula aku rasa ini pertemuan pertama kami. Jika benar begitu, ini jauh lebih seram jika dia orang yang mengetahui namaku...

Ruang kelas ini, yang telah berdengung dengan berbagai macam kegiatan, perlahan kembali ke suasananya yang biasanya ketika sudah semakin jelas kalau akulah targetnya.

Temanku yang berada di dekatku juga membaca situasinya dan mulai berbicara sedikit lebih jauh.

Pada saat itu, aku bertanya pada gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Shiina apa yang dia inginkan.

"I-Iya... Apa yang kamu inginkan dariku?"

"Iya, aku datang kemari ingin meminta tolong pada Murakami-senpai."

Permintaan dari seorang kouhai yang belum pernah aku temui sebelumnya...?

Jujur saja, aku tidak dapat membayangkannya...

Aku harap dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh yang dapat mengganggu kehidupanku yang damai...

"Senpai, maukah kamu menjadi guru lesku?"

Shiina menghancurkan ekspektasiku yang samar-samar hanya dalam beberapa detik.

Kata-katanya terlalu mendadak dan aku terdiam sejenak.

"Gu-Guru les?"

"Iya, guru les."

Shiina membalasnya dengan wajah yang normal. Dia tampak seakan-akan mengatakan, "Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"

Tidak, kepalaku dipenuhi dengan tanda tanya.

Aku tidak tahu kalau teman-teman sekelasku yang berada di sekitarku mendengarkan juga, tetapi mereka juga memiringkan kepala mereka saat mendengar frasa "guru les".

"Guru les... Maksudmu kamu ingin aku mengajarimu, bukan?"

"Iya, begitulah maksudku."

Ruang kelas mulai berdengung lagi.

Tidak mengherankan. Siswi kelas sepuluh yang cantik jelita tiba-tiba muncul dan memintaku, seorang siswa biasa, untuk menjadi guru lesnya.

Tentu saja, aku akan terkejut. Atau lebih tepatnya, akulah yang paling terkejut.

"Apa kamu serius? Shiina."

"Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang seperti ini pada seorang senpai dengan maksud bercanda. Apa kamu tidak percaya padaku...?"

Shiina mengatakan itu padaku sambil meneteskan air mata.

Ber-Berhenti menatapku seperti itu. Astaga. Itu menyakitkan jika orang orang melihatku seperti ini...

"Ti-Tidak. Aku tidak percaya padamu. Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Bagaimana bisa aku percaya padamu?"

"...Benar juga."

Ekspresi Shiina tidak senang...

Apa yang aku katakan ini terlalu berlebihan? Tetapi akulah yang bermasalah jika aku tiba-tiba diminta menjadi di seorang guru les.

"Kalau begitu. Beri tahu aku. Mengapa kamu memintaku menjadi guru lesmu?"

"Aku..."

Eh, mengapa kamu berhenti di situ?

Fakta bahwa dia memintaku untuk menjadi guru lesnya tanpa alasan apapun jelas sangat tidak bisa dimengerti.

"Sekolah ini, nilai ujian masuk tentunya sangat ketat, dan jika kamu cukup pintar untuk mengerjakan itu, aku yakin kamu pasti baik-baik saja, bukan?"

Itu merupakan pengalamanku.

Aku ingat kalau aku belajar dengan sangat keras untuk ujian masuk, tetapi aku tidak ingat kalau aku memiliki banyak masalah setelah aku masuk sekolah.

Aku memberi tahunya hal itu, tetapi Shiina menundukkan kepalanya dan tetap terdiam.

Setelah beberapa saat terdiam, Shiina membuka mulutnya.

"...Aku benar-benar ingin Murakami-senpai mengajariku."

"Apa benar-benar harus aku?"

"Iya. Aku tidak akan mau kecuali kalau yang mengajariku itu Senpai..."

Shiina berbicara sambil sedikit sedih yang terdengar dari suaranya.

Kalau dia mengatakannya begitu, itu mungkin akan sedikit lemah untuk dijadikan sebuah alasan.

Dari kelihatannya, dia pasti punya semacam rencana, tetapi aku rasa itu bukan hal yang buruk.

Dan aku selalu menjadi tipe orang yang tidak pernah bisa mengatakan tidak pada sebuah permintaan dari seseorang seperti itu.

Dan itu tidak menggangguku, aku hampir saja selalu merasa puas setelah itu.

Mungkin saja aku ini orang yang dari sananya sudah baik.

"Aku tebak, masih tidak mau ya...?"

"—Uhh."

Sambil meneteskan air mata, Shiina menatapku lagi dan memohon.

Kekuatan penghancur ini tidak bagus...

Aku tidak mampu mengatakan apa-apa karena melihat tatapan mematikan Shiina, teman-temanku di sekitarku mulai membuat kebisingan lagi.

"Eh, Si Murakami itu membuat anak kelas sepuluh itu menangis."

"Eh betulan. Anak kelas sepuluh yang malang."

Orang-orang di sekitarku mulai mengatakan apapun yang mereka inginkan.

Tidak, memang benar kalau dari sudut pandang mereka yang ada di sekitarku, itu mungkin terlihat seperti aku membuat Shiina menangis.

Aku rasa orang-orang juga akan bertindak sama sepertiku jika mereka tiba-tiba diminta menjadi seorang guru les...

Dihadapkan dengan tatapan dari orang-orang di sekelilingku, aku tidak dapat mengatakan apa-apa, jadi aku mencoba untuk keluar dari topik ini sebentar.

"Kamu tadi bilang guru les, tetapi apakah orang tua Shiina setuju?"

"Tidak, ini hanya permintaan egois dariku... Te-Tetapi aku punya uang kok!"

Shiina mengeluarkan sekitar sepuluh dari nominal terbesar di dompetnya.

Kemudian menyodorkannya padaku.

"Apa segini belum cukup?"

"Tung-Tunggu, tunggu. Bukan begitu maksudku. Jangan membawa uang sebanyak itu."

"Ma-Maaf."

Aku berusaha membujuk Shiina untuk tidak membawa sejumlah besar uang di tas kecilnya.

"Bahkan jika kamu ingin membayarku, aku dan Shiina sama-sama murid SMA. Jadi bukanlah ide yang bagus bagi kita untuk bertransaksi."

"Jadi kamu bilang kalau... kamu tidak mau mengajariku les?"

"Tidak, bukan begitu maksudku..."

Ketika aku kehabisan kata-kata, Shiina meletakkan tangannya di dagunya dan mulai berpikir. Kemudian, dengan inspirasi secepat kilat, dia menanyakanku dengan senang hati.

"Jadi kamu ingin aku membayarmu dengan sesuatu selain uang, ya?"

"Be-Begitukah caramu melihatnya...?"

"Gaji, gaji...Hah! Jangan bilang padaku Senpai kalau kamu mau aku mencoba membuatku melakukan sesuatu yang tidak senonoh!?"

"Bukan, tidak kok. Mana mungkin."

"Mengambil kesempatan dari posisimu sebagai guru lesmu untuk melakukan ini-itu padaku... Wah."

"Bukannya wah. Jangan mulai fantasi anehmu sendiri."

Shiina menempatkan tangannya di pipinya dan tersipu malu. Imajinasi macam apa yang gadis ini punya?

"Eh, Murakami-senpai, bukankah mau melakukan sesuatu semacam itu?"

"Siapa yang mau melakukan hal itu? Mana mungkin aku mau merundung seorang kouhai yang imut."

"Apa? Imut...?"

"Iya, aku tidak tahu apa tujuanmu itu, tetapi kamu memintaku untuk membantumu. Aku rasa itu tidak cukup buruk untuk merundung seorang gadis karena hal itu?"

"Be-Begitu... ya?"

Shiina bergumam, dan dia tampak agak sedih.

Aku menelan kata-kata yang hampir saja keluar dari mulutku tepat pada waktunya.

Aku merasakan bahwa ada sesuatu beberapa emosi lain di mata Shiina yang aneh.

"Murakami-senpai...?"

"A-Ada apa?"

Shiina mengambil satu napas dalam-dalam.

"Seperti yang kamu tebak, aku sebenarnya memiliki tujuan lain selain belajar."

"Iya."

"...Ah. Yang benar saja, aku cuma tidak bisa menahannya lagi, tidak peduli berapa biaya yang harus kubayar. Aku mau kamu menjadi guru lesku."

"..."

"Aku bisa melakukan apapun untukmu, termasuk gaji yang kita bicarakan barusan. Aku... Aku tidak keberatan jika itu kamu."

"Hei, bodoh, apa yang kamu bicarakan—?"

Aku mencoba menghentikan Shiina dari mengatakan sesuatu yang buruk. Tetapi itu sudah terlambat.

Seperti yang kuduga, pihak lain mulai mengoceh.

"Anak kelas sepuluh itu bilang dia akan melakukan apapun untuk Murakami."

"Hei, hentikan itu. Mungkin saja anak kelas sepuluh itu diancam dan dipaksa mengatakan sesuatu, bukan...?"

"Aku tidak bisa percaya kalau ia akan melakukan sesuatu semacam itu pada seorang kouhai, Murakami seorang p*d*f*l..."

Hei, mengapa aku yang seharusnya bersalah dari hal ini?

Dan juga, siapa itu yang menyebutku seorang p*d*f*l? Aku akan mengirimi beberapa foto cewek kecil ke ponselnya entah bagaimana.

"Senpai..."

"Uhh..."

Shiina memberiku tatapan menghancurkan itu tiga kali.

Kedua tangannya disatukan seperti posisi berdoa, ditempatkan di depan dadanya.

Tatapan penuh pesona dari mata Shiina yang berkaca-kaca.

Tatapan dingin dan tanpa ampun dari orang-orang di sekitarku.

Aku meletakkan tanganku di dahiku dan menghela napas panjang.

"...Oke, aku akan menerimanya. Permintaan mengajari Shiina itu."

"Apa kamu yakin!?"

"Iya."

Ekspresi sedih yang tampak di wajahnya tadi,  sekarang menghilang.

Shiina menatapku dengan mata yang berbinar.

Kemudian dia memegang kedua tanganku dan berkata—.

"Aku berharap dapat bekerja sama dengan baik denganmu mulai sekarang, Senpai♪."

Senyuman manis yang mekar di wajahnya, yang mana itu menggelitik hatiku.


←Sebelumnya             Daftar Isi        Selanjutnya→


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama