Kimi no Sei - Jilid 1 Bab 4 - Lintas Ninja Translation

Bab 4
Gadis yang Sangat Cantik dan Si Jenius Mi-senpai

"Hei, aku ingin pulang lewat sini hari ini~."

Setelah mengobrol di dalam ruang kelas yang kosong seperti biasanya, dan bermain Pop-Up Pirate, karena aku sudah kehabisan topik, kami memutuskan untuk pulang.

Kami memutuskan untuk berjalan ke stasiun kereta api bersama-sama, berasumsi kalau kami tidak akan ketahuan (dilihat) karena anak-anak sekolahan sudah sibuk dengan aktivitas klub. Mengejutkan bagi kami, itu hanya menghabiskan waktu sepuluh menit untuk sampai ke sana. Itu sudah sangat dekat. Bersorak untuk stasiun terdekat.

Jarak ini memang bersahabat dengan orang-orang yang bangun kesiangan. Tetapi bagiku, yang masih ingin bersama Mitsumine, itu hanyalah gangguan.

Ini baru jam 5 sore. Bukankah masih terlalu awal untuk pulang? Aku ingin mengobrol denganmu sedikit lebih lama sebelum aku pulang. Tolong tetaplah bersamaku, untuk beberapa saat lagi.

Tetapi rasa maluku menghalanginya, dan aku tidak dapat mengatakannya dengan jujur, jadi aku berjuang untuk mencegah kata-kata ini keluar dari tenggorokanku.

Ini memang hal yang berani untuk aku katakan, tetapi Mitsumine melihatku seolah-olah aku adalah seorang balita yang manja.

Apakah tidak masalah jika aku menangis?

"Lihat ke sini, A-kun. Tidak ada yang salah dengan rute ini sih. Ini adalah jalur tetap. Lihat, stasiun itu sudah tinggal di ujung. Mari kita bergegas dan pulang."

"Ehh, apakah tidak apa-apa untuk mengambil jalan memutar sesekali? Ini terlalu awal untuk pulang, mari kita mampir ke taman dan makan camilan di toko taiyaki di depan taman lalu pulang! Pastinya akan lebih seru begitu!"

(TL Note: Taiyaki/Kue Ikan adalah kue khas Jepang yang berbentuk ikan.)

"Aku tidak mengerti apa sih yang seru banget tentang itu. Sudah pasti lebih bermanfaat untuk pulang lebih awal."

"Oh, jadi kamu bilang begitu? Jadi Mitsumine-san punya pengalaman pergi ke taman saat perjalanan pulang untuk bermain dan makan taiyaki ya?"

"Kalau itu... aku tidak, tetapi."

"Jika kamu belum kalau begitu kamu tidak bisa memastikan kalau itu tidak seru! Bukankah telah dikatakan bahwa melihat adalah percaya? Baiklah kalau begitu siapapun yang tiba duluan di taman akan menang! Dan taiyaki akan jadi hukuman untuk yang kalah!!"

"HAA!? Bahkan bocil zaman sekarang tidak mulai berlari seperti itu sambil bilang begitu! Tidak dapat dipercaya!"

Selagi aku berlari menuju taman, aku melirik ke belakangku dan melihat bahwa Mitsumine menyusulku secara dekat. Selama tiga hari berturut-turut, aku rasa aku telah mempelajari bagaimana cara berurusan dengan sifat kompetitifnya.

Meskipun aku bilang begitu, aku rasa aku belum pernah benar-benar mengunjungi taman. Itu memang dekat dari sekolah, dan ada banyak tempat makan di sekitarnya, jadi itu sering digunakan untuk nongkrong, jadi aku pikir aku sudah pernah ke sini setidaknya sekali.

(... Atau mungkinkah, itu cuma betapa sibuknya aku dengannya?)

Aku rasa aku tidak harus mengatakan ini lagi, tetapi Mitsumine Iroha itu orang yang populer.

Aku tidak bisa bilang apakah itu berkat kebaikan alaminya, tetapi dia harus menjadi seorang perwakilan kelas dan sering memberikan peran kepemimpinan. Dan karena cara kerjanya yang sempurna, peran kepemimpinan itu secara alami tertarik pada Mitsumine.

Aku melihatnya dan berpikir, 'Seperti yang aku harapkan darinya, ya.' tetapi sepanjang waktu, semua yang bisa lakukan adalah melihatnya.

Daripada itu, aku mengira itu akan menjadi menyebalkan jika aku menawarkan bantuan padanya. Aku pikir dia tidak akan mengambil bantuanku karena itu akan mengurangi efesiensi kerjanya.

—–Apakah benar-benar ada satu orangpun yang dapat membantunya?

"Kalau begitu, aku akan di depanmu."

"Ehh, tentu saja tidak akan!?"

Aku merasakan sebuah dorongan kecil di punggungku dan visiku telah terguncang oleh suara hidup Mitsumine. Aku melihat ke depan dan melihat Mitsumine berlari secepat yang dia bisa, rambutnya bergoyang.

Eh, aku telah disusul. Bukankah dia benar-benar hebat!?

Mati-matian tidak ingin kalah, aku berlari di belakangnya––.

"Haa, haa, ini, ini kemenanganku..."

"Kghh... Aku pasti akan menang lain kali..."

"Fuha... Aku juga pasti akan menang lain kali tetapi, A-kun sangat baik dalam hal ini juga, iya kan....!"

"*uhuk*, benarkah?"

"Ya ampun, kita menganggapnya serius, ini yang ter-bu-ruk... Untuk saat ini, haruskah kita duduk di bangku taman di suatu tempat?"

"Iya, mari kita mencari taiyaki setelah beristirahat sejenak..."

Beberapa menit kemudian, di sanalah kami, meringkuk mati di sebuah bangku taman. Memang sulit baru saja kami berlari secepat yang kami bisa, tetapi matahari musim panas menyinari kami, membuat kami berkeringat banyak.

Aku yakin aku membuat pertarungan yang bagus, tetapi aku lelah dari kurangnya stamina yang aku habiskan tanpa pertarungan. Ini membuat frustrasi. Ini terlalu membuat frustrasi. Sebaliknya, bukankah ini benar-benar membuat frustrasi untuk kalah bahkan setelah permainan yang licik!?

"...Mitsumine, kamu memang luar biasa."

"Ada apa tiba-tiba bilang begitu? Aku takut."

Mitsumine membalas, dengan putus asa mengipasi wajahnya dengan tangannya.

"Tidak, aku hanya berpikir kalau Mitsumine selalu berhasil (makes good) dengan kata-katamu. Aku menjalani kehidupanku dengan asuransi untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi dan aku tidak bisa melakukan apapun, jadi aku sangat menghargai itu."

Mungkin saja, Mitsumine telah memutuskan untuk melaksanakannya dengan apapun yang telah dia putuskan.

Tidak seperti seseorang sepertiku, yang memiliki polis asuransi yang berlaku untuk berhadapan dengan skenario kegagalan terburuk. Tidak seperti seseorang yang mengelabui yang ada di sekitarnya dan dirinya sendiri. Dari awal, berat resolusi kami berbeda.

Itulah sebabnya, kecuali itu sesuatu seperti Pop-Up Pirate, aku tidak akan pernah menang, atau bahkan bangkit dari panggung yang sama dengannya.

"........Entah mengapa, ini terasa aneh ketika A-kun memujiku jadi tolong hentikan."

Aku hampir saja ingin mengatakan 'Mengapa tidak?', tetapi aku tersendat. Wajah Mitsumine, benar-benar berlawanan dengan kata-kata kasarnya, telah berwarna merah cerah. Aku dapat melihat air mata yang hampir meluap dari matanya yang seperti mata kucing, membentuk membran. Dan di atas segalanya, ujung mulutnya terangkat dalam kebahagiaan.

Karena penampilannya tampak lebih menggemaskan dari apapun, aku bingung. Aku benar-benar bingung.

"Tidak baik. Mitsumine harusnya lebih menyadari kehebatanmu sendiri. Maksudku, kamu adalah seorang pekerja keras bahkan dalam keadaan terberat."

"Kamu, kamu, kamu baru saja bertemu denganku baru-baru ini, jadi jangan berlagak seperti kamu mengenalku."

"Baiklah, itu benar. Tetapi bahkan dalam waktu singkat ini saja, Mitsumine sudah hebat kamu tahu?"

Aku ingin bisa mengobrol lebih banyak denganmu, aku ingin lebih mengenalmu, jadi mengapa kamu tidak membiarkanku tetap di sampingmu selama sisa hidupmu? Kamu tidak harus meninggal, kamu tahu.

Aku tidak harus mengatakan setengah hal lainnya. Itu karena aku tidak memiliki keberanian. Aku tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang berat dengan hanya tenaga sekecil ini.

".......Di-diamlah. Bahkan jika kamu memujiku sebegitu banyaknya, taiyaki itu masih jadi hukuman A-kun."

"Iya iya, haruskah kita pergi kalau begitu?"

Hubungan kami dibangun dalam suasana hati yang ringan ini. Menyedihkan, tetapi aku yakin kalau itu juga alasan kami dapat membangun hubungan ini.

(Baiklah, 'suatu hari' aku ingin mampu untuk bersamamu bahkan jika kita tidak memiliki hubungan ini.)

Dalam rangka untuk membuat 'suatu hari' itu terwujud, semua yang bisa aku lakukan untuk saat ini adalah tetap melihat ke depan.

Setelah beristirahat sejenak untuk mendapatkan kembali kekuatan kami, kami bangkit dan mulai berpindah ke toko taiyaki di depan taman. Meskipun aku bilang begitu, itu sangat dekat, bahkan tidak sampai tiga menit lamanya.

"Taiyaki di sini itu benar-benar lezat. Itu terasa seperti potensi taiyaki di sini adalah 120%."

"Aku tidak pernah mendengar istilah 'potensi taiyaki' sebelumnya."

"Tidak, betulan! Aku tidak bercanda!"

Toko taiyaki ini adalah sebuah warung seperti kios kecil yang dijalankan oleh sebuah toko manisan Jepang yang sudah lama berdiri di depan stasiun.

Tampaknya, pemilik sebelumnya dari warung itu memulainya dengan keinginan 'membuatnya lebih mudah untuk anak-anak muda memakan manisan Jepang', dan itu adalah warung yang populer di antara siswa-siswi, menjual taiyaki yang lezat dengan harga yang wajar.

Itu memang biasanya ramai di sana, tetapi berkat fakta bahwa kami sudah keluar dari keramaian sekolah, tidak ada seorangpun di warung itu.

"Oh, jika saja itu bukan Kouhai-kun. Lama tidak berjumpa~~."

"Mi-senpai! Lama tidak berjumpa!"

Dan di sinilah di mana kakak kelasku, Mochizuki Kurumi dikenal juga sebagai Mi-senpai, yang satu-satunya akrab denganku ketika aku masih seorang anggota klub hantu, dan yang bahkan lebih pemalas dariku, bekerja.

"Mi-senpai, bukankah kamu selalu di sini?"

"Tidak, bukan seperti aku sedang bekerja di sini karena aku menyukainya. Tetapi kamu tahu, seorang mahasiswi memerlukan uang mereka, bukan? Aku memiliki beberapa pakaian yang ingin aku beli, jadi aku tidak punya pilihan lain selain bekerja di sini kamu tahu~~. Waktu-waktu ini memang sulit~."

Mi-senpai berkata, dan mengambil keuntungan dari fakta bahwa kami adalah satu-satunya pelanggan, dia mengeluarkan sejilid manga yang dia sembunyikan di bawah konter dan mengacak-acaknya.

"Baiklah, tetapi setidaknya tidak ada yang marah jika aku malas-malasan di sini kamu tahu~?"

Uwaa. Seperti yang diharapkan, dia belum berubah bahkan sedikit. Aku banyak berutang padanya ketika dia mengajariku bagaimana caranya bermalas-malasan dan bagaimana caranya tidur tanpa ketahuan.

"Hei hei, duduklah kalian berdua. Hari ini benar-beeeenar panas jadi Kakak di sini akan menyajikan kalian beberapa minuman. Yang spesial! Iya, jadi apa yang ingin kalian berdua pesan?"

"Aku ingin memesan es krim musim panas. Memang panas hari ini dan aku berkeringat dari sebelumnya. Bagaimana denganmu, Mitsumine?"

"Aku ingin memesan itu juga."

"Iya iya~, dimengerti~. Kalau begitu, tolong tunggu sebentar~~."

Mi-senpai berkata, dan mulai menuang adonan ke dalam piring besi di depan kami.

Lalu, setelah menjulurkan lidahnya, dia bergumam, "Aku ingin memakannya juga, jadi mari kita masak tiga!" dan pergi kembali ke belakang untuk mencari sesuatu. Kamu benar-benar bebas, iya kan?"

"Bagaimana kamu bisa mengenal senpai itu?"

Mitsumine berbisik padaku. Karena dia berbisik di dekat telingaku, aku merasa gatal menjalar di tulang punggungku.

"Eh, Mitsumine. Jangan bilang kalau kamu cemburu dengan Mi-senpa–."

"Tidak, aku tidak cemburu."

Segera dibalas, ya?

"Aku tidak peduli tentang A-kun, lebih tepatnya ini tentang Mochizuki-senpai."

"Eh, kamu tahu tentang Mi-senpai?"

"Iya tentu saja aku tahu tentangnya. Dia adalah seorang senpai yang sangat terkenal bahkan orang-orang sepertiku yang dua tahun di bawahnya, tahu tentangnya......Ada banyak rumor juga, tentang si 'jenius' terhebat di SMA Kinosaki."

"Ahh, iya dia memang orang yang baik. Sedikit gila sih."

"Siapa yang kamu sebut gila??"

Ya ampun. Dia mendengarku.

"Mitsumine-chan? Memang gadis yang baik~!! Fufu, jika kamu mengatakan hal-hal seperti itu aku akan mulai tersipu. Iya. Faktanya, aku memanglah seorang jenius. Jadi Kouhai-kun, bukankah seharusnya kamu menunjukkanku lebih banyak rasa hormat?"

Ketika aku berbalik arah, dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba aku dengar itu, aku melihat Mi-senpai berdiri tepat di depanku.


KiminoSei4


Kapan kamu datang kembali, atau lebih tepatnya, apakah kamu benar-benar sebebas itu!?

"...Tetapi kamu benar-benar membenci dihormati seperti itu."

"Aha, jadi kamu benar-benar apa maksudku. Seperti yang diharapkan dari kouhai-ku yang unik!"

Mi-senpai tersenyum, yang meninggalkan semacam efek suara yang melekat padanya, dan menata minuman yang dia bawa bersamanya ke meja. Sepertinya dia pergi masuk untuk mengambil minuman.

Senpai meletakkan secangkir plastik sekali pakai dari café au lait di depanku dan Mitsumine. Meskipun panas menyengat di hari itu, dia tersenyum, menggoyangkan bagian lengan jaket bertudung (hoodie) berwarna hitam legam yang sedang dia kenakan. Itu sudah seperti ini sejak dia masih seorang siswi, jadi setiap kali aku melihatnya, terutama di musim panas, aku ingin bertanya padanya apakah itu tidak terlalu panas, tetapi aku yakin kalau dia akan berkata kalau itu hanyalah pernyataan fesyen lainnya, dan karena dia sangat sadar diri, dia mungkin akan tetap mengenakan jaket bertudung itu bahkan ketika cuaca menjadi lebih panas.

(Walaupun begitu, orang ini belum berubah sama sekali dari masa-masa sekolahnya.)

Mochizuki Kurumi, dikenal juga sebagai Mi-senpai, adalah seorang jenius yang terkenal. Terbaik dalam ujian tiruan. Terbaik dalam olahraga. Terbaik dalam segala sesuatu yang dia lakukan. Itulah mengapa dia memiliki julukan 'jenius'.

Dan apa lagi ya, dia memiliki semacam penampilan fisik yang sama dengan Mitsumine sampai ke titik di mana dia adalah objek kekaguman bagi banyak orang, tetapi apa yang membedakan mereka berdua, adalah bahwa Mi-senpai adalah jiwa yang sangat bebas yang hanya melakukan sesuatu yang membuatnya tertarik.

Karena dia dapat melakukan apapun, dia akan segera bosan dan lelah karena itu. Itulah mengapa dia pergi ke tempat manapun untuk untuk menemukan sesuatu yang menarik.

Alasan mengapa dia berulang kali bergabung dan keluar banyak klub adalah karena dia mencari sesuatu yang menarik. Itulah bagaimana aku dan Mi-senpai bertemu ketika aku masih di klub musik ringan untuk sementara.

"Dia itu pengacau yang sesungguhnya. Ketika aku datang untuk mencoba klub musik ringan, meskipun kami belum pernah bertemu sebelumnya, dia bilang, 'Kamu itu tipe orang yang lelah terhadap instrumen, iya kan?' Dia membawa konsol gim, meskipun kita tidak diperbolehkan untuk membawanya, dan memulai seluruh turnamen gim balapan."

"Uwaa, tidak adil untuk bilang kalau akulah satu-satunya yang bersemangat tinggi! Bahkan Kouhai-kun bersemangat tinggi, ia bilang, 'Ini yang terbaik. Kita bisa memikirkan tentang musik besok, tetapi gim itu hanya bisa dimainkan hari ini,' bukan––!?"

"Lalu, setelah itu, pembina klub mengetahuinya dan kami berdua diomeli. Tetapi kami tidak pernah kapok, dan di hari berikutnya kami mengambil alih sudut ruang klub dan bermain gim lagi. Itu benar-benar seru!"

"Aku tahu aku tahu, aku masih mengingat waktu itu dengan jelas. Benar-benar masa muda~~."

"Ada juga cerita lain itu. Jika salah seorang dari kami membolos mata pelajaran, dia harus pergi ke ruang kelas dari orang yang tidak membolos, memberi isyarat padanya dan kembali tanpa ketahuan."

"Ahh, iya iya! Itu benar-benar menyenangkan juga! Kamu harus mencobanya juga, Mitsumine-chan! Itu benar-benar seru!"

"........Tidak, em, ini adalah diskusi dari dunia yang berbeda dari duniaku jadi aku merasa pusing."

Mitsumine agak dikagetkan oleh episode b*jingan dari b*jingan seperti kami yang mungkin dia tidak pernah terlibat dengan mereka.

Pastinya telah menjadi diskusi mengejutkan dari sudut pandang Mitsumine, yang adalah seorang siswi teladan di antara siswa-siswi teladan. Aku tahu kalau ini tidak bagus. Bahkan saat ini aku tahu kalau itu bukanlah hal yang bagus.

Pada saat itu, kami mungkin putus asa untuk keluar dari kehidupan normal kami yang tidak menentang dan tidak memuaskan, bahkan jika itu hanya untuk sebentar saja.

"Iya, meskipun aku berpikir untuk hidup secara serius, dan aku telah melakukan itu sejak permulaan kuliah. Tidak ada seorangpun yang akan melakukan hal-hal yang bodoh bersamaku seperti Kouhai-kun. Oh, meskipun sepertinya Kouhai-kun masih bermalas-malasan dan menggunakan kunci yang aku berikan padanya."

"Ehehe, aku sayaaaaang kamu, Senpai!"

"Uwaa jijik. Mitsumine-chan, aku tahu kalau ia itu seorang b*jingan seperti ini tetapi tolong cobalah untuk akrab dengannya. Dia benar-benar bukan cowok yang jahat. Hanya saja dia ini orang bodoh yang tidak bisa membaca suasana hati."

"Seluruh Indonesia dan aku menangis karena menampilkan penghinaan yang berlebihan. Aku akan menuntutmu, aku tidak bisa pulih tanpa taiyaki bonus gratis."

(TL Note: Admin pakai "Indonesia" di sini karena di versi English-nya itu "Amerika Serikat", jadi ada indikasi kalau itu ganti dari "Jepang".)

"Mau bagaimana lagi~. Aku akan memberikanmu diskon satu yen. Oh, tampaknya taiyaki-nya sudah siap. Aku akan menaruhnya di kantung plastik sekarang."

Mi-senpai berkata begitu dan memberikan kami taiyaki yang baru dibuat.

Taiyaki yang beruap itu beraroma enak, dan perutku mulai keroncongan meskipun aku telah makan es krim sebelumnya.

"Apakah kalian ingin makan di sini? Ataukah kalian ingin berkeliling ke kios lain juga??"

"Ah, kami akan makan di taman."

"Kalau begitu totalnya 300 yen. Seperti yang aku bilang di awal ada minuman di sini. Jadi tolong datang lagi."

"Terima kasih banyak, aku pasti akan kembali lagi!"

"...Terima kasih banyak."

Aku membayar ke Mi-senpai saat dia mengunyah porsi taiyaki-nya, dan aku juga Mitsumine berterima kasih padanya, membawa minuman kami, dan meninggalkan toko taiyaki itu.

"Baiklah, mari kita kembali ke taman sebelum es krim di dalam tubuh kita meleleh!"

"........"

"Mitsumine-saaaan... Mitsumine?"

"....Ah, iya. tidak ada apa-apa."

Mitsumine membalas dengan agak linglung dan mulai berjalan menuju taman.

Sekarang kalau aku pikir-pikir tentang itu, dia tampaknya berada dalam semangat yang rendah untuk sementara waktu, dan pendiam.

Aku kira itu karena dia merasa aneh oleh episode b*jingan kami tetapi mungkinkah dia tidak merasa baik-baik saja?

"...Mitsumine, apakah panas itu menyengatmu? Jika kamu lelah, kita bisa pulang sekarang–."

"Se-seperti yang aku bilang, tidak ada apa-apa! Dengar, bukankah seharusnya kita makan dengan segera?"

Bagaimanapun, Mitsumine memasang tampang berani dan berjalan cepat sebelum dia duduk di ayunan. Bangku taman yang kami duduki  sebelumnya sekarang telah ditempati oleh banyak sekali burung merpati.

(...Aku khawatir.)

Aku tidak bisa membantu jika dia bilang begitu, dan dari tampangnya, dia tampak tidak terlalu pucat, jadi aku rasa dia tidak sedang dalam kondisi yang buruk. Baiklah, jika ini adalah kasus sengatan panas ringan, mungkin dia harus makan beberapa es krim untuk mendinginkannya.

Memikirkan itu, aku duduk di ayunan di sebelah Mitsumine.

Taiyaki yang kami pesan adalah versi musim panas dengan es krim vanila di dalamnya sehingga taiyaki itu akan terasa enak bahkan di musim panas. Keseimbangan antara panas dari kulit lapisan yang baru dipanggang dan dingin dari tambahan es krim itu membuat ketagihan.

"Yammm~, Hei, Mitsumine, cepatlah dan makan!"

"Tunggu, kamu sudah memakannya!? .....Ini lezat!"

Mitsumine bergumam setelah menggigit taiyaki itu. Wajahku secara alami pecah menjadi sebuah senyuman setelah mendengarnya tanpa sadar mengeluarkan suara.

"Iya kan!? Taiyaki ini benar-benar lezat! Itulah sebabnya aku benar-benar ingin Mitsumine memakannya juga! Aku sangat senang~~, entah mengapa bahkan aku sangat senang!"

"......... Jika itu tujuan dari apa yang kamu rencanakan untuk membawaku ke sini, mengapa tidak bilang begitu dari awal?"

"......? Apa yang kamu bilang barusan?"

"Tidak ada? Aku tidak bilang apa-apa."

"Tidak, kamu pasti tadi bilang sesuatu!"

"Kamulah yang menderita dari panas, benar kan? Kamu mendengar banyak hal."

S*al, karena aku berteriak dengan semangat, aku tidak bisa mendengar apa yang Mitsumine gumamkan. Lebih dari itu, tetapi dia tampaknya tidak mau berbicara lagi. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Iya, lagipula dia mungkin akan menyebutku 'menyebalkan' atau 'berisik', tetapi aku penasaran.

Aku menikmati taiyaki itu sambil memikirkan tentang ini, dan saat aku melemparkan gigitan terakhir ke dalam mulutku, Mitsumine menarik ujung seragamku. Cara dia melihatku dengan mata terbalik sangat menggemaskan. Dan fakta bahwa dia pasti tidak sadar akan hal itu juga terlalu imut.

"A-kun, bukankah ini panas?"

"Eh? Iya ini panas."

"Benar......... Kamu bisa mendorong punggungku untukku, kamu tahu?"

"Kamu memintaku untuk bekerja padamu. Baiklah, aku tidak tahan lagi. Aku akan meminta 50 yen untuk satu putaran."

"Gratis pertama kali untuk hari ini dan masa ini."

"Uwaa. Betapa buruknya waktu yang kita jalani ini."

Aku memasang wajah menjijikkan dan dengan ringan mendorong punggung Mitsumine. Ayunan itu berayun bersamaan dengan itu, dan rambut cantik Mitsumine berayun di udara.

"Kyaa–! Itu terasa agak ringan! Betapa menyegarkan!"

"Eii!"

"Kyaaaaaaa!? A-kun bodoh! Bukankah seharusnya kamu mendorongku lebih lambat!?"

"Fuhaha, itu salahmu menyerahkannya padaku! Beginilah bagaimana pelayanan gratis itu akan berjalan!"

"–––Bodoh bodoh bodoh! Bodoh–!?"

Tidak mungkin ada orang yang akan berhenti ketika diberi tahu untuk berhenti.

Setelah beberapa saat, Mitsumine, yang agak babak belur karena diayun begitu banyak, jadi marah dan turun dari ayunan dan ingin aku juga merasakan hal yang sama, tetapi dia tidak memiliki cukup tenaga jadi dia akhirnya menyerah dan kami berakhir dengan melakukan kontes lempar sepatu karena beberapa alasan.

Hah? Entah mengapa, bukankah itu telah sekali sejak aku terakhir kali bersenang-senang di taman?

"Hei lihat, Mitsumine, sepatuku itu lebih jauh dari sepatumu! Aku menang!"

"Tidak, aku sangat yakin kalau sepatuku terbang lebih jauh dari sepatumu! Kalau begitu haruskah kita bermain satu putaran lagi!?"

"Mari kita lakukan lagi!"

Dan begitulah, kami berakhir melakukan kontes lempar sepatu untuk yang kelima kalinya.

Tetapi tidak peduli seberapa banyak kami melakukannya, itu selalu menjadi waktu yang indah. Yang terpenting, Mitsumine tersenyum bahagia, meninggikan suaranya dengan cara yang tidak biasa dia lakukan. Melihat itu membuatku lebih bahagia dari apapun, dan kemudian––.

"A-kun, sembunyi!!"

Karena ini, aku benar-benar lupa untuk melihat jam tanganku. Jam di taman menunjukkan bahwa ini sudah lewat pukul enam di malam hari. Ini adalah waktu ketika semua orang telah menyelesaikan aktivitas klub mereka dan mulai pulang.

"Aku tahu kalau itu Iroha-chan! Lihat, apa kan aku bilang itu betulan dia!!"

"Eh, itu betulan dia. Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?"

Kembali ke kenyataan mendengar suara teriakan Mitsumine, aku sembunyi di dalam semak-semak di taman, dan aku mendengar suara yang tinggi dan manis dari beberapa gadis. Mereka tampaknya telah melihat Mitsumine berada di taman dari kejauhan dan telah datang mendekat.

"Hah, bukannya ada orang lain di samping Iroha-chan?"

"Tidak, aku ke sini sendirian kok?"

"Benarkah? Kalau begitu mungkin kami salah."

"Ih~, berhenti mengatakan sesuatu yang menyeramkan seperti itu!"

Para gadis itu benar-benar tertipu oleh penampilan Mitsumine.

Aku lebih seperti perwakilan dari siswa-siswi  tingkat rendah sedangkan Mitsumine adalah idola di sekolah, jadi itu akan merepotkan untuk menjelaskan mengapa kami bisa bersama, dan tidak mungkin untuk menjelaskannya di awal. Lebih baik untuk tidak ketahuan.

Meski begitu, dia luar biasa. Nada suaranya, caranya dia berbicara, dan bahkan ekspresi wajahnya semuanya sedikit berbeda dari sebelumnya. Tidak ada yang akan berpikir kalau itu Mitsumine, dengan wajahnya yang tersenyum dan seringai yang sempurna, yang sudah melaksanakan kontes lempar sepatu seperti anak kecil beberapa saat yang lalu.

"Err.... Mengapa Iroha-chan ada di tempat seperti ini?"

"...Sebenarnya, aku memiliki keinginan besar untuk makan taiyaki. Aku ke sini untuk makan itu."

Mitsumine terdiam selama beberapa saat, seolah-olah mencari kata-kata, dan kemudian dia berkata dengan senyuman lebar di wajahnya. Itu adalah wajah yang telah aku lihat beberapa kali di peron stasiun, senyuman yang jelas dimaksudkan untuk menutupi sesuatu.

"Oh jadi begitu ya~~. Tampaknya kamu telah selesai memakannya, jadi mengapa kamu tidak pulang bersama kami?"

"Hebat! Kami ingin mengobrol lebih banyak denganmu, Iroha-chan! Kamu selalu saja begitu cantik dan kami benar-benar mengagumimu!"

"Iya, mari kita foto bersama! Bolehkah aku memostingnya di media sosial?"

Para gadis itu berkata dengan bahagia. Mereka mungkin putus asa untuk mengikat kebetulan ini untuk ke (kebetulan) yang berikutnya. Fakta bahwa kalian berteman baik dengan Mitsumine adalah semacam status di SMA Kinosaki.

"Err..."

Mitsumine menatap ke arahku. Aku mengedipkan mata padanya dan berkata, 'Pergi duluan saja.'.

Kita sudah cukup bersenang-senang hari ini, dan jika kamu pergi duluan dengan para gadis itu, citra 'Mitsumine Iroha' tidak akan hancur.

Mitsumine menatap kembali ke arahku selama beberapa saat dan mengangguk sedikit seolah-olah untuk berkata iya.

Dan kemudian.

"Maaf. Aku akan bertemu dengan teman di sini. Aku ingin membuang sampah ini sebelum temanku tiba, dan aku harus menemukan tempat sampah, jadi aku sebaiknya pergi..."

Dia tersenyum dengan canggung dan berseri-seri membohongi mereka.

"Ahh, aku mengerti, jadi kamu sedang menunggu teman! Maaf, kami berakhir menahanmu..."

"Aku yakin ada tempat sampah di sebelah toko taiyaki, aku rasa itu yang paling dekat."

"Terima kasih. Aku seharusnya bebas besok. Aku akan mengobrol denganmu besok, ya?"

"Iya, maaf karena telah meminta hal-hal yang tidak masuk akal untukmu! Sampai jumpa besok!!"

Mitsumine melambaikan tangannya ke teman-temannya dan memasang senyuman kosong dari seorang idola yang dia telah lelah mengenakannya. Kemudian dia melambaikan sepotong sampah sesuai arahanku dan berjalan ke arah toko taiyaki. Sepertinya, dia benar-benar pergi ke sana agar tidak menimbulkan kecurigaan.

(....Aku benar-benar tidak kompeten, iya kan?)

Aku ingat wajah yang dimatikan yang telah Mitsumine tunjukkan padaku beberapa saat yang lalu, dan menghela napas.

Dia sangat dekat denganku, tetapi saat ini aku masih belum bisa membantunya. Tidak peduli  kata-kata apa yang aku katakan padanya, itu tampaknya menjadi klise, dan aku tidak bisa berkata apapun yang bisa menyelamatkannya.

Secara samar-samar aku mengingat tawa bahagia Mitsumine, meskipun dia sudah tersenyum bahagia padaku beberapa saat yang lalu. Aku harap dia dapat terus tersenyum seperti itu.

Tidak masalah jika kamu tidak sempurna, tidak masalah jika kamu penuh dengan kekurangan, tetapi akan lebih baik jika kamu bahagia. Aku akan membelikanmu taiyaki sebanyak yang kamu inginkan, kita akan mengadakan pesta piza, kita akan melakukan kontes somen setiap hari, semua yang harus kamu lakukan hanyalah tersenyum.

(Tetapi hanya memikirkan tentang itu tidak akan berarti apa-apa, iya kan?)

Aku tidak ingin kamu hidup seperti boneka tangan, menahan sesuatu setiap hari. Tidak peduli betapa beracunnya atau kasarnya kata-katamu nantinya, aku ingin Mitsumine bernapas dengan mudah.

Jika itu tidak mungkin, kalau begitu aku akan melakukannya.

Aku ingin menjadi seseorang yang akan membuatmu bahagia.

(Tunggu, tahan. Apa-apaan. 'Aku ingin menjadi seseorang yang akan membuatmu bahagia.', itu seperti aku jatuh cinta pada Mitsumine atau apalah.)

Hentikan, hentikan. Ini aneh. Aku lebih dekat dengannya saat ini melebihi beberapa waktu yang lalu, ketika aku hanya mengaguminya dari kejauhan, jadi emosiku sedang meningkat. Tidak bagus untuk memikirkan tentang itu lagi.

Apa-apaan sih yang aku pikirkan di saat seperti ini, ketika itu ada kaitannya dengan hidup dan mati?

Mari tidak usah memikirkan tentang itu. Aku memutuskan untuk tetap di sini dan dengan tenang menunggu Mitsumine, dan menunggunya kembali, yang mana lebih lama dari yang kuduga.

"Aku kembali."

"Se-selamat datang kembali. Apakah kamu senang tidak harus pulang bersama teman-temanmu?"

"...Tidak, tidak juga."

Ketika Mitsumine datang kembali, dia tampak lebih muram dari biasanya, dan pikiranku melayang-layang.

"Mari kita pulang."

Saat dia berkata begitu, Mitsumine yang tersenyum bersama indahnya sisa-sisa matahari terbenam sebagai latar belakang, tampak terlalu cantik. Dia benar-benar cantik. Cantik, tetapi meski begitu.

Dia memang sangat cantik sehingga aku penasaran apakah dia benar-benar bernapas.

Itu seolah-seolah dia hampir saja menghilang, ditelan oleh matahari yang tenggelam. Aku penasaran apakah jantungnya masih berdetak. Aku tidak bisa apa-apa selain memastikan apakah dia benar-benar masih hidup.

Dan lebih penting lagi, jika aku tidak menahannya di sini, aku takut kalau Mitsumine akan menghilang.

"...Ada apa?"

Tidak mampu untuk menahan keinginan, aku mengambil tangannya. Itu hangat. Itu memiliki panas tubuh dari seseorang. Itu adalah pertama kalinya aku merasa seperti ingin menangis hanya dari menyentuhnya.

".......Lepaskan aku."

"Ah, maaf."

Seolah-olah aku ditarik kembali ke kenyataan oleh senyuman tipisnya. Aku melepaskan tangannya. Lalu untuk menipunya aku menyebut, "Kamu terlalu lambat." dan mulai berjalan di depannya.

Tidak peduli betapa lama aku menunggu, tidak ada balasan dari Mitsumine, yang mana membuatku bahkan lebih khawatir.

"...Katakan A-kun apa sih yang asli dari diriku?"

Setelah berjalan selama beberapa saat, Mitsumine menggumam.... Itu adalah semacam suara kecil yang biasanya aku bisa saja terlewat.

"Asli?"

"Ahh tidak, ini bukan topik yang begitu serius sih. Entah mengapa, itu terasa seperti tidak ada yang asli dari diriku."

"......"

"Bahkan teman-temanku mungkin akan meninggalkanku jika mereka melihatku menjadi tidak berguna, dan begitu juga orang tuaku dan guru-guruku. Aku benar-benar merasa seperti aku tidak memiliki apapun sama sekali..."

Segera setelah dia mengatakan begitu banyak, wajah Mitsumine tiba-tiba pecah menjadi senyuman. Itu adalah wajah yang sama yang dia pasang kapanpun dia sedang menahan sesuatu.

Aku penasaran apakah itu hanya imajinasiku saja kalau matanya tampak agak merah. Aku hanya memikirkan tentang sesuatu yang sembrono sebelumnya, dan aku merasa seolah-olah punggungku dipenuhi dengan es bukannya tulang punggung.

"Maaf karena telah membicarakan tentang sesuatu seperti itu secara tiba-tiba. Iya, itu adalah 80% lelucon, jadi kamu tidak harus mempedulikannya......"

"...Bukan seperti itu, iya kan."

Aku tidak bermaksud untuk melakukan ini,  tetapi kata-kata itu keluar dari mulutku sebelum aku menyadarinya.

"Walaupun begitu, bahkan jika itu hanya 20% topik yang serius, masih ada topik yang serius! Mengapa kamu selalu mencoba berbohong seperti itu, kamu bisa menggangguku sebanyak yang kamu mau kamu tahu? Sebaliknya, aku ingin kamu lebih terbuka lagi!"

Tenggorokanku mulai sakit karena berteriak tiba-tiba.

Ahh, ini tidak bagus. Ketika berhubungan dengan Mitsumine, aku tidak bisa menjaga ketenanganku.

"......."

"Itu semua asli. Kecerdasanmu, sifat pekerja kerasmu, segalanya, segalanya adalah hasil dari kegigihanmu, itu adalah hasil dari perjuanganmu tidak seperti orang lain!!"

Mitsumine menutup matanya rapat-rapat, seolah-olah sedang menahan. Apakah aku mengatakan sesuatu yang memalukan? Atau apakah aku menyebalkan lagi?

Uwaa, aku ingin mati. Tidak, aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati tetapi aku memohon pada-Mu, tolong berikan aku mesin waktu.

Tidak, aku tidak mengatakan yang sebenarnya, Tuhan. Tolong pastikan saja kalau Mitsumine tidak meninggal. Tolong pastikan itu sehingga Mitsumine bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia.

Aku tidak tahu apakah doaku akan dikabulkan atau tidak.

"...Aku tahu itu bahkan jika kamu tidak memberi tahuku."

Kata-kata Mitsumine tampaknya melarutkan suasana.

Aku penasaran apakah itu karena matahari terbenam yang membuat pipinya tampak agak berwarna merah. Jika begitu kenyataannya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada matahari terbenam mulai dari sekarang.

"Tetapi, terima kasih."

Pada saat itu, dadaku sangat sesak sehingga aku bisa saja kesulitan bernapas. Itu juga pertama kalinya bahwa hanya senyuman kecil dari seseorang membuat jantungku berdebar dengan kencang sehingga itu terasa seperti itu akan meledak.

Pastinya, ini adalah satu-satunya waktu di mana aku akan pernah mengalami kejadian itu.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama