[Peringatan 15+]
Seri 1
~Sikapnya Cuma Balik Kayak Dulu Kalo Lagi Di Depanku Doang, Eh, Bentar Dulu!~
Bab 5
"Selamat Datang Kembali" dan "Sampai Jumpa Lagi"
"Ah—permisi."
"Nggak usah sungkan, lagian cuma ada aku kok di rumah, jadi nyantai aja."
"…Seriusan?"
Saat Hayato nyapa dengan perasaan agak tegang, jawaban yang ia terima justru kata-kata Haruki yang kedengeran sangat nyantai kayak tanpa beban.
Secara fisik, Haruki bener-bener tampak kayak cewek cantik yang anggun dan manis.
Tapi kalau Haruki ngerespon dengan gaya "bos tomboi" kayak dulu, Hayato jadi bingung sendiri mesti bersikap gimana.
Pas lagi mikirin hal itu, tiba-tiba Haruki berseru, "Ah!" seakan-akan baru nyadar sesuatu.
"Tung-Tunggu sebentar di situ ya! Pokoknya tunggu!"
"Oi!"
Sambil buru-buru ngibasin roknya, Haruki lari naikin tangga. Gak lama kemudian, kedengeran suara gaduh gedubrak-greng, suara bising yang cukup keras. Kayaknya Haruki lagi ngerapihin kamarnya.
"…Duh, terus aku mesti gimana coba."
Ditinggalin sendirian di depan pintu rumah orang yang asing buatnya, Hayato pun tanpa sadar ngela napas.
Bukan itu saja, karena Haruki lari naikin tangga dengan sangat kenceng, celana pendek tipe bokser di balik roknya—yang sama sekali nggak ada aura seksinya—sempat tampak sekilas. Rasa bersalah yang aneh pun mulei nyelimutin Hayato.
"Maap ya lama!"
"…Heh?"
Gak lama kemudian, Haruki yang napasnya terengah-engah menyilahkan Hayato masuk ke kamarnya. Kayaknya sih Haruki cuma asal lempar barang-barang ke dalem lemari, tapi sekilas kamarnya tampak rapi.
Furniturnya serba warna hitam dan cokelat gelap, rak buku yang penuh komik, rakitan model plastik, dan berbagai macam konsol gim. Kamar yang bener-bener ngegambarin sosok Haruki yang udah tumbuh gede.
Kalo aja gak ada cermin dan peralatan kosmetik yang diletakin sekedarnya di atas meja, kamar ini gak ada bedanya dengan kamar Hayato sendiri.
"Duduk aja di mana aja yang pewe… …heup."
"Oke. Eh, Haruki."
"Hm? Hayato nggak mau lepas juga? Gerah kan, pake kos kaki terus."
"…Iya, emang sih, tapi..."
Haruki ngelemparin bantal kursi ke arah Hayato, lalu tiba-tiba aja mulei ngelepas kos kakinya. Laen dengan dulu, pas sepasang kaki polos yang putih, berisi, dan feminim itu terpampang secara tiba-tiba, Hayato pun jadi gugup dibuatnya meskipun ia tau kalo itu Haruki.
Lalu pas Haruki duduk dengan mantap di atas bantal kursinya sambil bersila, kemudian ngegeser duduknya ngedeket ke arah Hayato, sosoknya benar-benar tumpang tindih dari Haruki yang dulu. Aura seksi Haruki pun seketika sirna entah ke mana, bikin tawa Hayato ketahan di dalem tenggorokan.
Namun, Haruki yang ngeliat reaksi Hayato malah natap Hayato dengan pandangan nyalahin.
"Jadi, siapa tadi yang kamu bilang siluman monyet?"
"Eh, bukan, itu..."
Kayaknya Haruki sangat dendam gara-gara perkataan Hayato tadi pagi.
Bukan sekedar marah, tapi lebih tepat kalo disebut lagi ngerajuk. Hayato pun dapat nyadar hal itu.
Tapi, saat ngeliat bibir Haruki yang ngerucut dan matanya yang natap sinis sambil terus ngerapet ke arah Hayato, keringet dingin mulai ngalir di punggung Hayato.
"Anu, aku minta maap deh. Maap ya. Anggep aja ini... 'utang' ya. Simpen aja dulu sebagai utangku."
"Hoh, 'utang' ya. Gitu, ya udah kalo gitu."
Ngerasa puas sama jawaban Hayato, Haruki ngentiin wajah cemberutnya. Haruki lalu ngegumam sambil ngeresapin kata "utang" itu, lalu mulai nyeringei nakal.
"Utang", buat mereka berdua kata itu punya makna yang istimewa.
Utang ini dianggep sebagai sesuatu yang dikasih oleh salah satu pihak, dan gak akan pernah dianggep sebagai "pinjeman". Selain itu, utang-utang ini gak akan pernah dianggep lunas atau impas, tapi bakalan terus ditumpuk sampe selamanya.
"'Utang' ya, kangen juga ya. Kira-kira dengan begini, Hayato udah punya berapa utang ya ke aku?"
"Itu sih kata-kataku. Haruki juga kan punya banyak utang ke aku."
"Ahaha, benar juga."
"...Kukuk."
"…Ahaha."
Mereka saling tatapan dan tawa pun pecah di antara mereka.
Di tengah suasana akrab itu, Hayato ngelontarin hal yang sedari tadi ngeganjel di pikirannya.
"Lagian, penampilanmu yang sekarang itu curang banget, loh?"
"Wajahku?"
Sosok Haruki yang sekarang tampak anggun, cantik, dan sangat feminim, bener-bener beda banget dari sosok "bos tomboi" di masa lalu.
Sayangnya, sifat asli Haruki sekarang udah keluar; Dia malah dengan nyantainya mamerin kaki polosnya sambil duduk bersila—sebuah pemandangan yang cukup disayangin.
"Yah, banyak hal yang terjadi sih. Makanya aku ngelakuin 'kamuplase' kayak gini."
"Kamuplase ya? Berarti bener dong dugaanku kalo kamu itu silu—"
"Hayato!"
"Haha, maap, maap. Anggap ini 'utang'-ku lagi ya."
"…Duh, kamu ini bener-bener ya."
Sejak dulu mereka emang sering ngalamin perselisihan kecil, rasa nggak puas, atau pertengkaran kayak gini. Setiap kali itu terjadi, mereka ngejadiin itu "utang" dan nganggep masalahnya selesei. Itulah cara mereka numpuk kenangan.
Mengira kalo mereka dapat saling numpuk utang lagi kayak kelanjutan masa lalu, rasanya lucu tapi juga agak malu-malu.
Hayato ngerasa agak kesel kalo perasaannya itu ketauan, jadi ia ngedarin pandangan ke sekeliling kamar nyari topik obrolan laen, lalu matanya tertuju pada sesuatu yang sangat ia kenal.
"Itu, ternyata masih ada ya."
"Kaset gimnya juga masih ada kok. Kayaknya masih terpasang di dalem."
"Kangen juga ya."
"Oke, ayo kita tanding lagi setelah sekian lama. Yang kalah dapet 'utang' satu ya."
"Dikit banget utangnya."
"Kalau gitu kita pake sistem best of five."
"Oke."
Itulah konsol gim jadul keluaran dua generasi yang lalu, yang sering mereka maenin saat masih bocil. Sebuah gim balapan mobil yang karakternya mirip jamur dan kura-kura, yang dulu sangat mereka gandrungi.
Dan ternyata, sampe sekarang pun rasanya masih sama.
"Eh, curang, curang banget! Kenapa kamu bisa dapet item itu di saat begini?!"
"Mungkin karena amal ibadahku sehari-hari memang baik?"
"Bo'ong banget! Padahal tadi barusan kamu nganggep aku siluman!"
"Haha!"
Padahal ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama, tapi mereka malah asyik main gim bareng tanpa banyak ngobrol. Kalaupun ada yang ngomong, isinya paling cuma soal gim yang ada di depan mata mereka.
Tapi, gitu aja udah cukup buat mereka.
Ada suasana yang bikin Hayato ngerasa jarak yang sempet misahin mereka berdua kini perlahan-lahan mulai terkikis.
Tanpa terasa, sinar mentari musim panas mulei redup, nandain kalo waktu udah lewat cukup lama.
"Hm, aku cabut balik dulu ya."
"Oh, oke."
Itu emang waktu yang sangat asyik. Justru karena itulah, pas mesto berakhir, muncul secercah perasaan kesepian di dalam ati.
Secara logika, Hayato memahaminya.
Dulu, ada masa di mana Hayato ngira kalo waktu bareng mereka akan berlanjut terus selamanya. Namun, semua itu ancur secara tiba-tiba.
Haruki natap punggung Hayato yang lagi make sepatu dengan raut wajah kayak bocil yang lagi ngerajuk.
Hayato pun dapat ngerasain tatapan itu. Hayato juga sangat paham apa yang Haruki rasain, karena ia pun ngerasain hal yang sama.
Makanya, seakan-akan pengen ngusir rasa cemas tersebut, Hayato berusaha ngeluarin suara seceria mungkin.
"Sampe jumpa lagi."
"…Ah."
Itulah salam perpisahan yang biasa mereka ucapin dulu.
Seluruh perasaan mereka tercurah dalem kata-kata itu. Mereka berdua bukanlah orang yang tidak paham makna di baliknya.
Sesuai dengan janji yang pernah mereka ucapin, Haruki telah balik lagi ke sisi Hayato. Makanya, buat Haruki, salam untuk nyambut reuni ini yakni—
"Iya, sampe jumpa lagi… …Ah iya, selamat datang kembali!"
"Selamat datang kembali?"
"Buatku, inilah ucapan selamat datang kembali."
"Haha, apaan sih maksudnya?"
Haruki nunjukin senyuman yang merekah indah bak bunga yang bermekaran.
Itulah senyuman tercantik yang Hayato liat sepanjang hari ini.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
