Tenkou-Saki no Seiso Karen na Bishoujo ga Mukashi Danshi to Omotte Issho ni Asonda Osananajimi Datta Ken [WN] - Seri 1 Bab 9 - Lintas Ninja Translation

[Peringatan 15+]

Catatan Author:

Wah, hasil rekapan malem ini nunjukin kalo ceritanya udah masuk rangking 1 berdasarkan kategori dan rangking 3 secara keseluruhan! Seneng banget deh!

baca-tenbin-web-novel-seri-1-bab-9-bahasa-indonesia-di-lintas-ninja-translation

Seri 1

~Sikapnya Cuma Balik Kayak Dulu Kalo Lagi Di Depanku Doang, Eh, Bentar Dulu!~
Bab 9
Woi?!

Mumpung searah, Hayato pun menuju ke ruang kelas bareng Haruki dari petak bunga tadi.

Waktunya udah mepet. Pintu masuk siswa-siswi masih cukup jauh, jadi mereka berdua jalan cepet berbarengan kayak masa lalu.

Di tengah perjalanan, Hayato tiba-tiba ngerasain tatapan Haruki.

"Hm, ada apa?"

"Nggak ada apa-apa kok~? Aku sama sekali nggak mikir kayak, 'kok sekarang aku yang mesti ngedongak ya?', gitu~"

"…Dasar bocil!"

"Puih!"

Haruki langsung malingin wajahnya dengan angkuh.

Ngeliat tingkah yang sangat "Haruki" banget itu, Hayato pun ngela napas sambil ketawa kecil karena heran.

Sahabat masa kecil yang gak berubah sejak dulu sampe sekarang.

Temen yang berbagi masa lalu dan kenangan yang sama.

Namun, pas mereka ngelangkahin kaki masuk ke dalam kelas, dalem sekejap mereka kembali berubah jadi "sekedar siswa pindahan yang suram" dan "siswi teladan yang gak tergapai".

​"Ah, itu Nikaidou-san."

​"Sip, mendingan kita nanya Nikaidou saja. Ini soal tugas Bahasa Inggris, bagian terjemahan yang ini…"

​"Sori, tolong ajarin yang ini juga sekalian, dong."

​"Aku juga!"

​"Eh, a-aku ya? Iya, boleh aja kok."

​Haruki yang sudah balik pakek "kedok"-nya langsung dikerumunin teman sekelas, baik cowok-cowok maupun cewek-cewek. Kepadatan penduduk di sekitar mejanya mendadak jadi sangat tinggi.

​Kayaknya mereka semua pengen nanya sama Haruki soal tugas yang diberikan kemaren.

​(Ah, kalo gak salah Haruki memang siswi teladan ya.)

Hayato keingetan apa yang ia denger kemaren. Meskipun begitu, Hayato ngerasa kalo sebagian dari mereka yang ngerubungin itu mungkin cuman sekadar pengen cari alesan buat ngobrol saja dengan Haruki.

​Dan kayaknya, Haruki pun nyadar soal itu.

​Namun, ngeliat cara Haruki ngerespon dengan lembut sambil senyum tipis, Hayato jadi paham kenapa Haruki bisa sepopuler itu.

Meskipun letak bangkunya tepat di sebelah Haruki, tapi sebagai orang kampung yang gak suka keramean, Hayato milih buat nyingkir ke arah jendela dan ngamatin tingkah sahabat masa kecilnya itu dari sana.

​(Kamu bilang itu "kamuflase", ya.)

Hayato keingetan kata-kata Haruki kemaren.

​Hayato juga termasuk salah satu orang yang awalnya tertipu oleh kamuflase itu.

​Meskipun rahasia Haruki udah kebongkar, Hayato gak niat ngelakuin apa-apa.

​Buat Hayato, Haruki tetaplah Haruki.

​Pasti ada alasan di balik kamuflase Haruki itu. Hayato juga gak niat maksa Haruki buat cerita. Kalau saatnya tiba dan Haruki perlu cerita, dia pasti akan nyeritain sendiri—ada rasa kepercayaan kayak gitu di benak Hayato.

​Sekarang, Hayato cuma bisa tersenyum getir sambil ngeliat kesibukan Haruki dan gumam, "Capek juga ya jadi dia."

​"Nikaidou populer banget, kan? Itu sih pemandangan sehari-hari di sini."

​"Hebat ya. Emang Nikaidou itu cantik sih, tapi… …eh, kamu?"

​"Ah iya, kita belum kenalan ya? Gue Mori. Mori Iori. Salken ya, Siswa Pindahan—eh, Kirishima."

​"Ah, salken."

Cowok yang ngajak Hayato ngobrol itu punya ciri khas rambut pirang hasil dicat terang. Mori ini salah satu cowok yang kemaren aktip nanya banyak hal.

​Sambil nyengir, Mori ngambil posisi di sebelah Hayato dan ikut ngalihin pandangannya ke arah Haruki.

​"Yah, buat siswa pindahan baru sih, rintangannya emang ketinggian ya kalo mo langsung terjun ke sirkel itu."

​"Aku sih nggak terlalu mikirin yang kayak gitu… …tapi kamu sendiri, gapapa nggak ke sana?"

​"Nikaidou-san itu kan bunga di puncak gunung. Lagian aku udah punya pacar, jadi Nikaidou-san itu buat dipandang aja sih."

​"Gitu ya?"

​"Selain aku, banyak juga kok cowok yang mikir kayak gitu."

​"Oh."

​Kalo ngeliat sekeliling kelas, ada yang asyik ngobrol dengan sesama temen, ada yang sibuk nyontek tugas, ada juga yang asyik masuk ke dunia buku saku yang mereka baca. Macem-macem orangnya. Ternyata gak semua orang selalu nempel ke Haruki.

​Tapi tetep aja, Haruki itu sosok yang istimewa.

​Karena Haruki itu istimewa, banyak orang yang mikir kalo dunianya jauh beda banget sama dunia mereka—dan Hayato sendiri pun termasuk salah satu orang yang mikir gitu. Mestinya gitu. Mestinya sih gitu.

​"…"

​"…Oke, oke, paham kok. Semangat ya, Kirishima!"

​"Hah? Kamu tiba-tiba ngomong apa, sih?"

​"Udahlah, nyantai aja. Aku ngerti kok."

​"Eh, tunggu dulu! Kamu salah paham!"

​"Haha!"

​Mori terus ngegoda Hayato seakan-akan lagi ngejek Hayato.

​Memang gak bisa dipungkirin kalo perasaan Hayato lagi campur aduk.

​Karena ngerasa hal itu barusan ditusuk tepat sasaran, Hayato pun protes dengan panik karena ngerasa malu.

Waktu tujuh tahun ternyata jauh lebih lama dari yang Hayato bayangkan. Mungkin ada banyak hal yang tidak mereka berdua ketahui soal satu sama lain. Tapi, mereka berdua bukan lagi bocil kayak dulu.

​(Kayaknya… …memang lebih baik kalau aku gak terlibat sama Haruki selama di sekolah.)

​Parasnya yang cantik, berprestasi dalam akademik maupun olahraga. Nikaidou Haruki itu bunga di puncak gunung yang sangat populer. Cewek yang udah kayak idola di sekolah ini.

​Haruki bilang kalau dia lagi "kamuplase". Berarti, pasti ada alesan kenapa Haruki mesti ngelakuin itu. Nyesuain diri sama keadaan itu pastilah udah jadi tugas Hayato sebagai sahabat sekaligus teman masa kecil yang gak berubah sejak dulu.

​"Fiuh…"

​"Kirishima?"

​"Hm, nggak ada apa-apa kok."

​"Masak sih?"

​Ada sedikit perasaan kesepian di dalem ati Hayato.

​Namun, Hayato ngembusin napas seakan-akan lagi ngeyakinin dirinya sendiri, lalu terus meratiin sosok Haruki dari kejauhan.

Lalu jam istirahat makan siang pun tiba.

​Sampe saat itu, Hayato terus nontonin Haruki yang gak ada henti-hentinya dikerumunin orang-orang.

—Di sekolah ini, dunia kami emang beda.

​Makanya, selama sesaat, Hayato gak paham apa maksud dari kata-kata yang barusan ia denger.

​"Kirishima-kun, bisa tolong ikut aku bentar?"

​"Hah… …Nikaidou-san?"

​Kayak Haruki sama sekali gak sepemikiran sama Hayato kayak gitu.

​Wajah cewek itu masih masang senyuman lembut yang sama kayak sebelumnya—namun matanya mancarin keseriusan yang seakan-akan lagi terdesak, bikin Haruki mustahil buat diabaiin.

​Seketika itu juga, seisi ruang kelas mulai heboh.

Catatan Author:

Buat pertama kalinya, karyaku berhasil masuk ke halaman depan rangking harian keseluruhan. Di kategori genre pun, aku berhasil ngedapetin rangking 1. Makasih banyak. Ini semua berkat dukungan dari para pembaca sekalian yang udah bersedia buat baca karya ini. Ke depannya, aku akan terus semangat buat ngapdet kisah ini.

Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F

Baca juga:

• Versi Light Novel

• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia

Baca juga dalam bahasa lain:

Bahasa Inggris / English

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama