[Peringatan 15+]
Seri 1
~Sikapnya Cuma Balik Kayak Dulu Kalo Lagi Di Depanku Doang, Eh, Bentar Dulu!~
Bab 10
Janji, Ya?
Ruang kelas seketika jadi heboh.
Nikaidou Haruki itu sosok "bunga di puncak gunung", setiap tindakannya selalu jadi pusat perhatian semua orang.
Haruki sendiri pun selalu bertindak sebagaimana mestinya, dan dia paham betul nilai dari citranya tersebut.
Seorang Haruki ngajak ngobrol seorang cowok tanpa ada keperluan mendesak sebelumnya—hal itu aja udah cukup buat micu berbagai spekulasi di sekitarnya. Itulah kejadian yang luar biasa.
"Nikaidou-san ngedatengin Siswa Pindahan itu?"
"Jangan-jangan, Kirishima itu tipe cowoknya Nikaidou-san…"
"Mustahil, itu pasti karena Kirishima itu siswa pindahan jadi ada urusan penting. Gue mohon, moga-moga aja emang gitu!"
Kedengeran bisik-bisik dan tatapan yang nyampur antara rasa penasaran serta rasa iri dari sekeliling.
Mereka berdua udah jadi pusat perhatian. Udah sulit buat pura-pura seakan-akan gak ada apa-apa.
Hal itu pun disadari sepenuhnya oleh Hayato maupun Haruki, suka ataupun tidak suka.
"Anu, itu… …i-itu loh. Soal anu itu."
"Hah… …Nikaidou…?"
Padahal keadaannya emang kayak gitu, tapi Haruki dengan wajah yang tetap tenang terus aja ngeracauin kata "Anu". Bener-bener cuman kata "Anu".
Namun buat orang-orang yang ngeliat dari samping, situasinya malah tampak seakan-akan Hayato lagi dipojokin karena gak kunjung paham maksudnya Haruki.
Padahal Hayato tahu banget kalo saat ini Haruki barusan nyadar soal kesalahannya dan lagi berusaha sekuat tenaga buat nutupin itu.
(Ngomong-ngomong…)
Hayato keingetan masa lalu.
Saat masih bocil dulu, Haruki pernah kegirangan dan nekat jalan di atas pager kayu yang ngebatesin peternakan dan ladang, lalu tiba-tiba pagernya roboh.
Untung aja ada orang-orang dewasa yang lagi bertani di deket sana, jadi domba-dombanya gak sampe kabur dan masalah pun diatasin.
Penyebabnya itu pager kayu yang emang udah mulei membusuk, jadi Haruki gak disalahin maupun terluka. Namun saat itu, Haruki ngerasa kalo dialah penyebab kekacoan tersebut, dan persis kayak sekarang, dia terus ngeracau, "Itu loh anu, anunya jadi begitu terus anu…" tanpa henti.
Meskipun sekarang ia masang wajah yang tenang, di mata Hayato, reaksi Haruki saat ini bener-bener sama persis kayak Haruki yang dulu. Bahkan sorot mata yang seakan-akan minta tolong itu pun masih sama kayak waktu itu.
(…Ya ampun.)
Sambil menahan ketawa yang nyaris meledak, Hayato milih kata-kata buat nanggepin situasi itu.
"Ah, soal 'anu' yang itu ya. Yang kamu minta di taman tadi pagi?"
"! I-Iya, bener, soal itu. Aku pengen segera nyelesein itu… …sekarang, apa kamu bisa?"
"Oke, aku ngerti."
"Ah, silakan bawa tasmu sekalian ya."
"Iya, iya."
Itulah improvisasi yang spontan.
Namun dengan begitu, Hayato berhasil ngubah narasinya jadi 'Nikaidou-san lagi kedesek karena pengen segera nyelesein tugas dengan minta tolong Kirishima'.
Orang-orang di sekitar pun mulei ngerasa lega dengan gumaman kayak "Oalah, ternyata itu" atau "Iya juga ya", lalu mulei keilangan minat.
Dari sudut pandang Hayato, Haruki tampak jelas-jelas ngerasa lega, lalu dia segera keluar kelas buat nutupin rasa malunya. Saat Hayato ngela napas panjang, Iori nyamperin Hayato dengan tampang nyengir.
"Menang banyak ya, Siswa Pindahan…"
"Haha, berisik ah."
◇◇◇
Tempat yang didatengin Hayato bareng Haruki itu sebuah ruangan kecil kosong yang terletak di gedung sekolah lama.
Luasnya cuma sekitar seperempat dari ruang kelas biasa, berbentuk manjang dengan lantai kayu, sebuah tempat terbengkalai yang mancarin kesan bersejarah.
Meskipun begitu, lanteinya bersih banget tanpa ada satu pun debu, nunjukin tanda-tanda kalo ruangan ini dirawat dengan bener.
"…Ini tempat apaan?"
"Markas rahasiaku. Daerah sini cuma dipake buat gudang dokumen, jadi nggak bakalan ada orang yang dateng."
"Buat ukuran markas, tempat ini terlalu kosong kali."
"Aha, bener juga. Besok-besok aku bawa sesuatu deh. Lagipula tempat ini juga ngerangkap sebagai tempat ngungsiku."
"Tempat ngungsi, ya."
Mungkin karena gak ada orang lain yang ngeliat, Haruki balik lagi ke mode "Bos Tomboi" sama kayak saat di kamarnya kemaren.
Tanpa meduliin roknya, Haruki langsung duduk selonjoran dan nyila dengan nyantei. Meskipun sempet ragu sesaat, kayaknya Haruki masih ngerasa sungkan buat sampe ngelepas koskakinya.
(Ini sih bener-bener nggak boleh sampe keliatan oleh orang-orang di kelas.)
Hayato cuma bisa mijet pelipisnya sambil ngeliat sekeliling.
Sebuah ruangan kecil kosong dengan lantai kayu.
Tempat yang kerasa sepi buat sebuah markas rahasia.
Sebuah tempat ngungsi yang cuman digunakan buat menjauh dari hiruk-pikuk sekolah.
Sekalipun disebut ruangan kosong, di sana gak ada barang atau material apapun yang diletakin. Bener-bener ruangan yang suram dan cuma punya satu jendela.
"…Dapet dari mana tempat ini?"
"Nggak sengaja nemu. Ada koncinya juga, loh."
"Emangnya boleh?"
"Gapapa asalkan nggak ketauan. Hayato juga, duduklah."
"Ya ampun."
Hayato pun duduk di depan Haruki, ikut duduk nyila dan saling ngadep-ngadepan.
"Jadi? Sebenarnya ada urusan apaan?"
"Ah, hmm… …gimana ya ngomongnya…"
Haruki ngegumam sambil ngasih jawaban yang putus-putus. Kayaknya ada sesuatu yang bikin Haruki galau.
Beberapa saat yang lalu, Haruki ngajak Hayato pergi bareng dia.
Meskipun Haruki tetap masang "kedok" kesehariannya, tindakannya itu dapat dibilang cukup gegabah. Namun, sorot mata Haruki yang seakan-akan lagi mohon sesuatu dengan sangat kuat, ninggalin kesan yang dalem buat Hayato.
Pasti ada sesuatu yang sangat pengen Haruki bilang sampe bersikap kayak gitu.
"Kamu janji nggak bakalan ketawa, ya?"
"Tergantung apaan masalahnya."
"Kalau kamu ketawa, berarti kamu ngutang sama aku, ya."
"Iya, deh."
Tatapan serius dari mata Haruki kini kekonci ke Hayato.
Hayato pun ngebales tatapan itu, bersiap buat nerima apa-apa yang pengen Haruki sampein.
"Sebenarnya, aku… …punya cita-cita buat bisa makan siang bareng teman."
"…Hah?"
Tanpa nyadar, sebuah suara bodoh keluar dari mulut Hayato.
Ngira kalo Hayato lagi ngerasa heran atau ilpil padanya, Haruki pun ngangkat alisnya yang lentik dan ngelayangin protes.
"Ih! Buatku ini tuh hal yang penting banget, loh! Aku kan, yah... ...kayak gitu, jadi kalo aku makan sama salah satu orang aja pasti bakalan memicu kehebohan… …makanya selama ini aku se-laluuu sendirian, jadi, anu…"
"…"
Suara Haruki di akhir kalimat kedengeran pelan seakan-akan hampir ngilang.
Apa yang Haruki bilang sangat gampang buat Hayato bayangin.
Nginget-nginget pemandangan di kelas tadi dan fakta kalo Haruki nyebut ruangan kosong ini sebagai "tempat ngungsi". Pasti itulah kenyataannya.
Dada Hayato kerasa sakit saat ngebayangin Haruki yang selama ini selalu ngabisin waktu istirahat makan siangnya sendirian di ruangan ini.
(Ya ampun…!)
Buat nutupin rasa sesak di dadanya, Hayato ngegaruk kepalanya dengan kasar, lalu ngeluarin kotak bekal dari tasnya.
"Gitu ya. Kalo gitu, mulei sekarang cita-cita itu bakalan jadi kenyataan tiap hari, dong."
"Hayato…"
"Salah ya?"
"Nggak, nggak salah kok. Kalo gitu, anggap ini utang dariku ya!"
"Murah banget utangnya."
"Aha, kalo gitu tiap 10 kali makan bareng, baru diitung satu utang!"
"Kalau gitu sih utangmu malah bakalan numpuk terus… …Gimana kalo kita janjian aja; Kalau nggak ada urusan apa-apa, makan siangnya ngumpul di sini. Gimana?"
"Janji… …Ah iya, janji ya… …iya, janji ya, Hayato!"
"A-Ah, oke."
Haruki sempet ngerjap-ngerjapin matanya karena tertegun, namun sesaat kemudian, senyuman polos kayak bocil ngerekah di wajahnya. Seakan-akan gak bisa ngebendung rasa senengnya, Haruki yang lagi semangat ngedeket ke arah Hayato sampe jidat mereka hampir saling nyentuh.
(Woi, i-ini terlalu deket, loh!)
Penampilan Haruki emanglah seorang cewek cantik. Itu emang fakta yang mesti Hayato akuin sendiri.
Ngeliat Haruki yang masang senyuman lebar—yang pasti gak pernah dia liatin ke orang lain—sedeket itu, wajar aja kalo jantung Hayato jadi ngedegup kencang.
Cuman, Hayato ngerasa agak kesel kalo sampe isi hatinya itu ketauan oleh Haruki.
"Jauh-jauh dong sana."
"Ah, sori, sori."
Makanya itu, dengan agak maksa Hayato ngedorong Haruki ngejauh, terus ngejulurin jari kelingking tangan kanannya dengan cuek.
Hayato nyadar kalo apa yang ia lakuin ini kekanak-kanakan banget.
"Janji, ya."
"Iya, janji. Ehehe."
Jari kelingking yang saling bertautan. Sebuah janji rahasia yang sederhana. Suara ketawa yang pecah dari mereka berdua.
Satu lagi kenangan tercipta di antara mereka berdua, persis kayak masa lalu.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
Baca juga:
• ImoUza Light Novel Jilid 1-11 Bahasa Indonesia
Baca juga dalam bahasa lain:
