Kūruna Megami-sama to Issho ni Sundara, Amayakashi Sugite Ponkotsu ni shite Shimatta Kudan ni Tsuite - Jilid 1 Bab 2 Bagian 4 - Lintas Ninja Translation

 

Kuruna-Megami-1-2-4

Bab 2
Tinggal Bersama Sang Dewi.
(Bagian 4 dari 5)

Sang Dewi bilang kalau dia tidak pulang kembali ke rumahnya sendiri.

Kalau memang benar begitu, aku mungkin seharusnya bertanya padanya tentang situasinya.

Tetapi ketika aku bertanya soal itu, mata biru Mikoto-san yang indah itu kemudian loyo dan dia gemetaran seakan-akan ketakutan.

Aku tidak bisa dengan tidak peka menanyakan cewek dengan tampang menderita di wajahnya begitu.

Kami itu cuma kerabat jauh, orang asing.

Aku tidak tahu harus bilang apa padanya, dan pada saat itu, keheningan pun menguasai.

Pada saat itu, suara pasokan air panas otomatis dari pemanas air terdengar menggema ke seluruh ruangan.

Tampaknya air mandinya sudah siap.

Merasa lega, aku tersenyum pada Mikoto-san.

"Mengapa kamu tidak mandi saja duluan?"

"Tetapi... Aku..."

"Jangan khawatir, jelaskan situasinya nanti saja. Hangatkan saja dirimu dulu itu hal yang paling penting untuk saat ini. Oh, benar juga, aku mesti memberimu beberapa pakaian ganti."

Aku mengambil satu stel jersi merah dari bagian atas lemari.

Kemudian aku menoleh dan menatap ke arah Mikoto-san.

Menatapnya lagi, aku menyadari kalau dia lumayan bergaya dan tinggi untuk seorang cewek.

Tetap saja, aku rasa pakaianku akan sangat kebesaran untuk seorang cewek.

Iya, mau bagaimana lagi.

Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan dengan pakaian dalamnya, tetapi tentu saja aku tidak akan bertanya padanya soal itu.

Ketika Mikoto-san menerima jersi itu, dia bilang, "Terima kasih", sambil berbisik dan menatapnya.

"Apa ini punyamu? Akihara-kun?"

"Itu benar. Aku cuma punya pakaianku dan pakaian lama ayahku. Mau tidak mau kamu harus mengenakannya."

"Apa ini sudah dicuci?"

"Tentu saja. Aku itu orangnya sangat telaten."

Mikoto-san menatap ke sekeliling ruangan, lalu mengangguk setuju.

Untuk seorang siswa SMA yang tinggal sendirian, aku rasa kamarku sangat rapi.

Bahkan cucian dan masakan juga tidak terlalu buruk.

Sebelum aku membiarkannya berendam di bak mandi, masih ada satu hal lagi yang perlu aku tanyakan padanya terlebih dahulu.

"Mikoto-san, apakah kamu sudah makan malam?"

"Belum."

Aku tahu kalau dia mungkin belum makan malam, karena dia tampaknya datang ke sini malam-malam tanpa barang bawaan sama sekali.

Aku ragu kalau dia membawa dompet.

Dan juga, aku juga belum makan malam.

Aku tersenyum.

"Apakah kamu lapar?"

"Aku? Aku sih memang lapar, tetapi memangnya mengapa?"

"Tidak, tidak apa-apa kok."

Mikoto-san menatapku dengan aneh karena kata-kataku, tetapi pada akhirnya menghilang ke kamar mandi dengan langkah yang goyah.

Aku duduk di kursi di dekat meja makan.

Lalu aku menghela napas.

Apa yang sebenarnya terjadi ini?

Bagaimanapun masa depan yang terjadi nanti, ini hampir jelas kalau Mikoto-san akan menginap di sini hari ini.

Tetapi aku punya firasat kalau itu akan menjadi ide yang buruk dalam berbagai artian.

Aku mempertanyakan kesopanan orang dewasa yang akan mendorong seorang pria dan seorang wanita yang seumuran tidur di kamar yang sama.

Iya, aku membicarakan soal Kak Amane.

Aku mengeluarkan ponsel pintarku dan meneleponnya, biang kerok dari semua ini.

Ini akan menjadi panggilan telepon internasional karena beliau sedang ada di A.S., tetapi seharusnya tidak akan semahal itu karena rencana yang aku punya.

Masalahnya ini masih terlalu pagi untuk menelepon di sisi lain dunia, mempertimbangkan perbedaan waktunya.

Aku khawatir apakah dia sudah bangun atau belum, tetapi aku dengar dari Mikoto-san kalau Kak Amane menelepon rumah Mikoto-san beberapa saat yang lalu.

Kalau itu memang benar, itu mungkin akan baik-baik saja.

"Halo? Akihara Amane di sini."

Kata-kata itu diucapkan dengan indah.

Ketika aku meneleponnya dan menerima respons seperti itu, aku sekali lagi menyadari kalau beliau sebenarnya sedang kuliah di luar negeri.

Tidak sepertiku, beliau belajar di universitas bergengsi di AS, dan beliau sangat berbakat.

"Aku Haruto. Akihara Haruto. Maafkan aku karena menelepon pagi-pagi sekali. Aku tahu kalau Kakak sudah bangun."

Ketika aku berbicara, suara yang ceria keluar dengan, "Oh!"

"Lama tidak berjumpa! Kakak baik-baik saja seperti biasanya tanpa kamu mesti bertanya kabar Kakak, tetapi bagaimana kabarmu, Haruto?"

Aku menyengir, berpikir sendiri, Kakak tidak perlu menekankan kalau Kakak baik-baik saja.

Tetapi mengobrol dengan Kak Amane juga membuatku semakin energik.

Aku menjawab pertanyaannya.

"Aku juga baik-baik saja, terima kasih. Lagipula, bukankah Kakak punya nomor ponselku di ponsel Kakak?"

"Kakak punya sih, tetapi Kakak tidak memeriksa siapa itu dan menekan tombol angkat."

"Mengapa Kakak tidak memeriksanya."

"Sudah waktunya Haruto-kun menelepon Kakak, begitulah pikir Kakak."

Aku dapat membayangkan Kak Amane yang tersenyum padaku, di akhir ujung telepon lain.

Beliau memang tipe orang yang suka punya pemikiran aneh, selalu ingin melakukan apapun yang beliau mau, dan selalu bertindak semaunya tanpa memikirkan akibat yang mungkin akan beliau buat pada orang lain.

Tetapi aku tidak benci jiwanya yang bebas itu.

"Aku dengar kalau Kakak telah memberikan kunci apartemen kita pada teman sekelasku."

"Kakak memang memberikannya. Kakak memberikannya pada sepupu kita, Mikoto Rei."

"Mengapa sih Kakak melakukan itu?"

"Karena kunci itu akan sia-sia?"

"Ehh?"

"Kalau Kakak kuliah di luar negeri, akan ada banyak kunci yang ditinggal tanpa seorangpun yang menggunakannya. Jadi Kakak pikir akan lebih baik untuk memberikannya pada seseorang yang mungkin akan menggunakannya."

"Jangan perlakukan kunci kita seperti puding yang kadaluarsa..."

"Bukankah itu tidak apa-apa  Ini juga kunci rumah Kakak."

"Akulah satu-satunya yang tinggal di sana saat ini. Ditambah lagi, bukannya itu buruk buat dua orang siswa-siswi SMA, seorang cowok dan seorang cewek, berduaan saja di rumah yang sama?"

"Oh, kamu memikirkan sesuatu yang jorok, iya kan? Tetapi kalau kamu pikir-pikir lagi, bukankah Kakak dan kamu juga tinggal di rumah yang sama berduaan saja beberapa hari yang lalu, iya kan, Haruto-kun?"

Iya, itu memang benar kalau sejak ayahku pindah sendirian, cuma ada kami berdua di rumah ini.

Tetapi itu bukanlah hal yang sama.

Kak Amane melanjutkan dengan suara yang senang dan ceria.

"Apa jangan-jangan, Haruto, ketika kamu cuma berduaan saja dengan Kakak, kamu membayangkan kalau kita mungkin bisa bercocok tanam?"

"Aku tidak kok! Tetapi aku tidak tahu bagaimana pendapat Ayah kalau Ayah tahu soal aku tinggal bersama Mikoto-san..."

"Jangan khawatir, Om sudah tahu kalau Kakak memberikan kunci itu pada Mikoto-san."

Aku hampir menjatuhkan ponselku dari tanganku.

Menurut Kak Amane, omnya, dengan kata lain, ayahku, sudah memberikan izinnya."

Aku malah tambah semakin bingung.

Tidak seperti, Kakak, Ayah itu seharusnya orang yang lebih peka.

Aku bertanya padanya.

"Aku dengar kalau Mikoto-san tidak lagi tinggal di rumahnya yang lama. Apa itu juga idemu, Kak Amane?"

"Itu benar. Dia itu nona muda dari keluarga Tomi."

Beliau mengatakannya dengan santai.

Ah, jadi begitu.

Aku telah mendengar rumor kalau Mikoto-san merupakan putri dari pimpinan sebuah  perusahaan besar, dan sampai batas tertentu, itu memang benar.

Keluarga Tomi merupakan keluarga yang memiliki grup bisnis terbesar di kota lokal ini.

The Tomi Group yang terlibat dalam sejumlah bisnis, termasuk konstruksi, telekomunikasi, lahan yasan (real estate), dan pengecer, serta membanggakan penjualan grup konsolidasi beberapa ratus miliar yen.

Keluarga Tomi merupakan anggota asli dari keluarga Akihara.

Keluarga Akihara berpisah dari Keluarga Tomi saat pertengahan akhir Zaman Edo. Sebagai tambahan, istri kakek kami, atau nenek kami, juga merupakan anggota dari Keluarga Tomi.

Sayangnya, tidak seperti Keluarga Tomi, Keluarga Akihara tidak punya kekayaan sendiri.

Makanya ayahku bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) reguler dan aku tinggal di apartemen murah ini.

Dewasa ini, istilah "keluarga utama" dan "keluarga cabang" menjadi mutlak dan aku sendiri tidak dekat dengan Keluarga Tomi dan jarang sekali mengunjungi mereka.

Tetapi tetap saja, ini masih aneh.

"Nama keluarga Mikoto-san kok berbeda sih. Kalau dia berasal dari Keluarga Tomi, mengapa nama keluarganya bukan Tomi?"

"Ada keadaan yang rumit. Kakak tidak bisa menjelaskannya sekarang?"

Aku menghela napas sekali lagi.

"Kalau itu cuma perselisihan antara orang tua dan anak sampai membuatnya kabur dari rumah, aku mungkin akan memilih untuk mengantarnya kembali ke mansion Keluarga Tomi saat ini. Tetapi tidak bisa begitu saja, bukan?"

"Dia itu bukan cewek pelarian biasa. Cewek itu benar-benar tidak bisa pulang kembali ke mansion itu. Jadi, lindungi dia."

"Lindungi Mikoto-san? Aku?"

"Jangan khawatir. Kamu bisa melakukannya, Haruto-kun. Karena kamu itu anak yang baik hati."

Kemudian beliau bilang, "Kakak sedang sibuk." dan mengakhiri panggilan teleponnya.

Aku mengerti kalau tugas akademiknya sangat sulit sehingga beliau mesti belajar dari pagi-pagi sekali, tetapi tolong pertimbangkan situasiku juga, dong, Kak Amane.

Beliau bilang kalau aku itu "baik hati" dan kalau itulah sebabnya aku dapat melindungi Mikoto-san.

Tetapi menjadi baik hati itu tidak ada gunanya buatku.

Kaho juga selalu bilang padaku kalau aku itu orang yang baik hati.

Tetapi dia masih saja menolakku.

Aku lalu berusaha menelepon ayahku, tetapi tidak ada jawaban.

Mungkin beliau sedang lembur.

Aku mendengar suara pancuran mengalir.

Aku rasa Mikoto-san sedang membasuh badannya.

Aku tidak bisa tersipu pada pemikiran itu.

Mansion Keluarga Tomi, ya?

Menyeberangi sungai sampai ke barat di pusat kota, di kaki gunung, ada mansion Keluarga Tomi.

Kapanpun seseorang mendengar nama mansion di seberang sungai, semua orang di kota ini kepikiran soal mansion Keluarga Tomi.

Aku ingat ketika aku mengunjungi mansion Keluarga Tomi saat aku masih SD.

Di belakang pagar besar dan kuno ada rumah dan kebun yang besar dan sangat bergaya Jepang.

Itu merupakan mansion besar, tetapi entah mengapa rumah itu ditutupi suasana yang gelap dan muram.

Aku memutuskan jalur pemikiranku.

Aku lapar.

Aku berencana untuk makan malam segera setelah aku sampai rumah, tetapi ini sudah terlalu larut.

Iya, mari kita siapkan makanan, meskipun yang sederhana saja.

Tentu saja, aku juga akan menyiapkan satu buat Mikoto-san.


←Sebelumnya          Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama