Kurasu no Daikirai na Joshi to Kekkon Suru Koto ni Natta - Prolog Jilid 5 - Lintas Ninja Translation

Prolog

Ini terjadi saat masa kelas sepuluh SMA mereka. Dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktunya di kafe lokal, Himari kebetulan bertemu Saito. Saito sedang duduk di bangku taman di dalam taman umum terdekat, sendirian tanpa seorang teman pun di sekitarnya. Diterangi oleh cahaya matahari terbenam, itu menggambarkan Saito dengan cara yang menyedihkan, seperti ia akan langsung menghilang dari dunia pada saat berikutnya. Sampai saat itu, Himari cuma mengamati olok-olokan biasa antara sobat karibnya Akane dan Saito. Sebagai penerus dari Houjo Group yang terkenal, dan terus-menerus berada di peringkat teratas sekolah, Saito terasa seperti keberadaan yang jauh bagi Himari. Namun, apakah kerentanannya saat ini yang membuat Himari memanggilnya?

"Saito-kun."

"…Oh, Ishikura?" Saito mengangkat kepalanya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Tidak ada, sebenarnya." Saito berbicara tanpa secercah emosi di dalam suaranya.

"Tidak mau pulang saja?"

"Orang tuaku sedang ada di rumah hari ini."

"Bukankah itu lebih banyak alasan untuk segera pulang, bukan?"

Saito cuma mengangkat bahu.

"Akan lebih baik kalau aku tidak pulang saat waktu-waktu ini."

"Ah…"

Karena kata-kata ini, Himari sekali lagi mulai melihat Saito dengan cara yang berbeda. Sampai saat ini, Himari menganggap Saito sebagai orang yang paling beruntung, dan diberkati sejak lahir. Terlahir dalam keluarga yang kaya, menjalani kehidupan yang memuaskan dengan orang tua yang menyayanginya, Himari cemburu karena Saito didorong ke jalan yang mudah dalam permainan kehidupan ini. Namun, itu tidak sepenuhnya benar. Sama seperti Himari, Saito juga punya masalah dan kekhawatirannya sendiri. Saito cuma cukup kuat untuk tidak menunjukkan itu di luar...seperti seorang penguasa mutlak yang duduk di singgasananya.

"Kalau begitu aku akan tetap bersamamu!" Himari tidak membuang-buang napas dan dengan penuh semangat duduk di sebelah Saito.

"Mengapa kamu mau…?"

"Kamu pasti kesepian kalau sendirian, bukan?"

"Sama sekali tidak kok. Sendirian memungkinkanku untuk memikirkan segala macam hal."

"Tetapi akan lebih baik kalau tidak memikirkan itu! Itu cuma akan membuatmu gila dalam jangka panjang."

"Iya... Kamu mungkin ada benarnya." Saito dengan enggan setuju.

Sebagai tanggapan, Himari mendorong tubuhnya ke arah Saito.

"Benar? Mari kita mengobrol! Kita tidak pernah punya banyak kesempatan untuk mengobrol satu sama lain, bukan?"

"Hah…Bisakah kamu mengikuti obrolanku yang rumit ini?"

"Tolong tetap di topik yang bisa aku mengerti!"

Saito memikirkan itu sejenak.

"Pada zaman dahulu, Momotarō berhasil mengalahkan iblis itu, dan…"

"Menurutmu berapa umurku?! Dan kamu langsung mulai dengan kesimpulan... "

"Yang efisien, bukan?"

"Itu terlalu efisien, jika kamu bertanya padaku!"

Meskipun Himari menertawakan lelucon Saito itu (?), dia tidak melewatkan satupun kesedihan yang ada di kedalaman mata Saito. Saito sendiri mungkin belum menyadari ini. Kalau ada kekosongan yang dalam di dalam diri Saito, yang  ia coba isi dengan apapun yang bisa ia temukan dengan putus asa.

Aku ingin mengisi kekosongan itu.

Di saat itulah Himari mulai tertarik pada Saito.


←Sebelumnya          Daftar Isi           Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama