KuraKon - Jilid 5 Bab 2 Bagian 4 - Lintas Ninja Translation

Bab 2
Pacar (Palsu)
(Bagian 4)

"Saaaaito-kun~."

Jam pelajaran kelima telah berakhir, dan tepat saat Saito memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas sekolahnya, Himari memeluknya dari belakang. Lengan Himari yang ramping melingkari dada Saito, dan pipi Himari digosokkan ke leher Saito.

"Hei... jangan lakukan hal itu secara tiba-tiba."

"Mengapa? Aku rasa seorang pacar punya hak untuk memeluk pacarnya, bukan?"

"Itu benar, tetapi kita kan…" Saito ingin membantah dengan kalimat kalau mereka cuma berpura-pura, tetapi Himari berbisik.

"…Jangan lengah."

"…!"

Saito mengamati ke sekeliling mereka, melihat beberapa teman sekelas mencuri-curi pandang ke arah mereka. Himari tampaknya berhasil meyakinkan sebagian besar temannya, tetapi masih ada beberapa orang yang masih meragukan. Himari berusaha sekuat tenaga untuk menghapus rumor itu, jadi satu kata ceroboh dari Saito saja dapat merusak semuanya. Saito mesti mencurahkan semua fokusnya untuk bersandiwara.

"Melakukan hal ini... di depan orang-orang itu sedikit..."

"Semua orang sudah tahu kalau kita pacaran, jadi apa masalahnya? Malahan, aku mau membual tentang itu."

"Membual…"

Merasakan kekuatan dalam pelukan Himari, Saito menyadari kalau Himari itu serius, dan bukan cuma karena orang-orang menyaksikan.

"Kamu itu bisa sangat posesif, ya?"

"Tentu saja. Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapapun."

Genggaman Himari semakin kuat. Merasa kalau ia sudah menjadi milik Himari, membuat dada Saito berdebar-debar. Himari biasanya cukup berpikiran terbuka terhadap segala hal dan semua orang, tetapi anehnya, tampaknya dia itu sangat bersemangat dalam urusan cinta.

"Mari kita pergi ke ruang kelas sebelah, oke?"

"Oke."

Saito bangkit dengan Himari menempel pada lengannya.

"Aku tidak dapat berjalan kalau begini."

"Tidak masalah~."

"Ini masalah yang besar bagiku."

"Merasa malu karena payudaraku mengenaimu?" Himari bertanya dengan nada yang menggoda.

"Kalau kamu sudah sadar maka hentikan!"

"Ini juga hak istimewa sebagai pacarmu."

"Dan ada berapa banyak hak istimewa yang ada?"

"108, menurutku."

"Seperti 108 kilesa dalam ajaran Buddha?!"

Dengan sedikit olok-olokan yang berputar-putar, mereka berdua berjalan menyusuri lorong. Himari tampaknya menikmati reaksi Saito karena dia berpegangan pada Saito dengan lebih erat. Himari jelas jauh lebih dekat daripada rata-rata teman-teman kalian di sekolah, itulah sebabnya mereka menarik banyak perhatian dari siswa-siswi lain yang berjalan di lorong. Bahkan para siswi dari kelas lain pun memanggil mereka.

"Himari, jadi kamu jadi benar-benar pacaran dengan Houjo-kun?"

"Benar sekali. Kami itu sangat mesra."

"Aku juga bisa tahu cuma dengan melihatnya! Aku sangat cemburu."

"Kamu sebaiknya begitu~."

Para siswi itu mengobrol dengan penuh semangat. Saito seharusnya menjadi bagian dari obrolan ini, namun para siswi itu cuma memperlakukannya seperti aksesori. Ini pasti yang dirasakan seorang cowok ketika pacarnya berpapasan dengan temannya yang sedang pacaran.

"Sudah seberapa jauh hubungan kalian berdua? Apa kalian sudah berciuman?"

"Emm…sudah seberapa jauh ya hubungan kita, Saito-kun…?" Himari bertanya sambil menatap Saito.

Saito mau sekali melontarkan bantahan tetapi mampu menahan dirinya.

"Kami... masih belum, saat ini."

"Belum? Aku merasa tidak kasihan padamu, Himari."

"Aku tidak keberatan melakukan hal itu sesegera mungkin…kamu tahu, Saito-kun?"

"Aku yakin~." Saito cuma berkomentar dengan respons yang monoton.

Wajah Saito pasti datar di luar kepercayaan.

"Kalau begitu turuti permintaannya, Houjo-kun~."

"Secepatnya…"

"Mengapa tidak di sini saja?"

"Penyiksaan macam apa yang kalian usulkan ini?!" Saito merasakan dorongan untuk melarikan diri sebelum ia dipaksa melakukan sesuatu yang aneh.

Apa pacaran itu benar-benar selalu semelelahkan ini? Karena Saito belum pernah berhubungan dengan percintaan sebelumnya, ia cuma ingin kembali membaca. Mereka berdua akhirnya terbebas dari para siswi tadi, sudah terlambat untuk masuk ke jam pelajaran mereka berikutnya. Mereka berlari menyusuri lorong sambil terengah-engah.

"Maaf, aku terlambat, Saito-kun!"

"Jangan bicara sambil berlari atau lidahmu akan tergigit!"

"Ah, benar! Tunggu sebentar!" Himari berpegangan pada lengan Saito dan berhenti.

Saito hampir tidak dapat berhenti, yang membuat mereka hampir saja terjatuh.

"Kita akan terlambat pada titik ini."

"Tidak apa-apa. Mari kita datang terlambat beberapa menit."

"Mengapa kita harus melakukannya…?"

"Percayakan saja padaku~."

Himari pasti punya pemikiran tersendiri tentang hal ini. Saat punya ide untuk mengendalikan pendapat orang lain, Saito menduga akan lebih baik untuk menyerahkan hal ini pada Himari. Dengan keputusan itu, mereka berdua menghabiskan waktu tambahan di dekat tangga. Bel berbunyi dengan cepat dengan sebagian besar siswa-siswi menghilang dari lorong, karena cuma ada mereka berdua yang tersisa di dekat jendela. Himari mengacak-acak rambut panjangnya, menatap Saito dengan ekspresi yang agak malu-malu. Matahari menyinari punggung Himari, menciptakan sesuatu yang bersinar seperti bidadari.

"…Begini, mengapa kita tidak bolos mata pelajaran saja?" Himari menyeringai saat dia bertanya.

"Apa kamu biasanya itu tipe orang yang suka bolos mata pelajaran?"

Himari mungkin tampak seperti seorang gyaru, tetapi dia punya kepribadian yang cukup rajin meskipun tampak begitu.

"Aku biasanya tidak begitu. Tetapi aku rasa itu akan menyenangkan kalau aku bisa membuatmu menurutiku. Jadi mari kita lakukan?" Himari duduk di ambang jendela di sebelah Saito.

Rok Himari berkibar sedikit karena angin sepoi-sepoi.

"Lalu apa yang akan kita lakukan, kalau begitu?"

"Biar aku pikir-pikir dulu... Kita bisa naik kereta secara acak untuk meninggalkan negara ini dan tidak akan pernah kembali?" Himari berbicara tentang petualangan liar.

"…Apa kamu sebegitu stresnya?"

"Sama sekali tidak kok. Pergi ke Antartika itu akan menyenangkan, bukan? Tidak ada yang mengenal kita, dan kita tidak akan bertemu siapapun. Kita dapat membangun rumah yang jauh dari penguin dan anjing laut untuk hidup dalam isolasi selama 100 tahun ke depan."

"Ada sesuatu yang aneh denganmu, bukan?" Saito benar-benar khawatir pada Himari.

Himari mungkin cuma menderita dari kekhawatiran dan masalah yang tidak disadarinya.

"Lalu bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling kota?"

"Kita dapat melakukannya setelah jam pelajaran selesai, bukan?"

"Kamu mau melakukannya denganku?" Mata Himari berbinar.

"Ehh…"

"Pasangan sejati pasti akan pulang bersama, bukan? Dan agar yang lain benar-benar percaya kalau kita pacaran, kita mesti mesra bahkan di luar sekolah."

"Itu mungkin benar, tetapi…"

Himari melingkarkan kedua tangannya ke sekitar tangan Saito, berbicara dengan semangat yang meluap dari suaranya.

"Kalau begitu mari kita berkencan sepulang sekolah, oke? Ini bisa jadi kencan pura-pura! Aku akan membayar semuanya, dan kita dapat melakukan apapun yang kamu suka! Aku bahkan akan membawakan barang-barangmu!"

Melihat betapa tulusnya Himari dengan ajakannya, Saito kesulitan untuk menolaknya. Rasa bersalah karena sebelumnya menolak Himari yang masih melekat di dadanya, dan Saito tidak mau menyakiti Himari lebih jauh. Melihat Himari sebagai manusia lajang, bagaimanapun juga, Saito agak menyukainya.

"…Mengerti. Kalau itu dapat membantu kita untuk berpura-pura."

"Yei~! Kamu sangat baik, Saito-kun!"

"Ap…"

Himari melompat ke pelukan Saito, membuatnya bingung dan tidak yakin harus bereaksi bagaimana. Menyingkirkan Himari begitu saja pasti tidak sopan, tetapi sesuatu menghalangi Saito untuk membalas pelukan itu.

"Pokoknya kita mesti pergi sekarang. Kalau kita terlambat, itu akan berdampak negatif pada nilaimu."

"Aku tahu itu, kamu sangat baik. Kamu khawatir padaku, bukan?"

"Tentu saja. Kalau nilaimu turun lebih jauh lagi, kamu akan berada dalam masalah besar."

Himari cemberut.

"Hm? Maksudnya itu apa ya?"

"Tepat seperti yang aku katakan."

"Iya, itu akan baik-baik saja! Bapak akan membantu meningkatkan nilaiku sepuluh kali lipat, jadi aku tidak khawatir sama sekali, Pak Guru!"

"Sejak kapan aku jadi gurumu?"

Langkah kaki mereka bergema melalui gedung sekolah yang sepi saat mereka menuruni tangga. Namun, Himari tampaknya bersenang-senang, hampir menuruni tangga dengan ritme. Begitu mereka memasuki ruang kelas kimia, suara heboh meledak dari teman-teman sekelas mereka.

"Mereka terlambat!"

"Apa yang mereka lakukan sampai datang terlambat?!"

"Apa kamu benar-benar harus menanyakannya?"

"Terkutuklah kamu, Houjo…"

"Sangat mesra!"

Mereka dihujani dengan tatapan kegembiraan dan disambut dengan sorak-sorai.

"Tenanglah, kita sedang di tengah-tengah jam pelajaran." Guru memarahi mereka, tetapi obrolan itu tidak berhenti.

—Begitu, jadi itu yang Himari mau...

Cuma dalam waktu lima menit, kesan mereka berdua dalam berpacaran semakin kuat. Itu dilakukan dengan terampil, sekali lagi. Saito meminta maaf karena terlambat dan duduk di kursinya. Tepat saat Saito membuka buku pelajarannya, ia merasakan keringat dingin mengalir di tulang punggungnya. Melihat ke sampingnya, Saito mendapati Akane sedang memelototinya. Akane memancarkan niat membunuh yang jelas, yang membuat Saito kewalahan dengan tekanan yang mengintainya. Di tangannya, Akane punya pulpen yang dia patahkan menjadi dua. Saito merasa ketakutan, berpikir kalau ia mungkin akan terbunuh begitu ia pulang hari itu.


Saat bel berbunyi untuk kedua kalinya, Akane menyadari kalau tidak ada Saito ataupun Himari. Akane bertanya-tanya apa yang mereka lakukan, mengirim pesan Himari di sana-sini. Namun, tidak ada balasan yang datang. Himari bahkan tidak mau membaca pesannya. Begitu mereka berdua bergegas ke kelas, Akane dapat melihat kalau pipi Himari memerah. Akane belum pernah melihat ekspresi macam itu pada Himari sebelumnya. Rambut Himari yang acak-acakan. Himari cuma menempel pada lengan Saito seperti dia itu seekor kucing.

—Yang benar saja deh… apa sih yang mereka lakukan?

Bagi Akane, rasanya seakan-akan mereka berdua telah meninggalkannya, menuju ke tempat lain tanpa dia. Akane merasa ketakutan, seperti dia akan terjatuh dari kursinya, jadi dia berpegangan pada sudut mejanya. Akane tidak tahu mengapa hatinya merasa galau begini. Akane tahu kalau mereka cuma berakting, namun… Saat Akane melihat mereka berdua saling tersenyum lagi dan lagi selama jam pelajaran, rasanya seperti satu jarum kecil ditusukkan tepat ke dadanya. Ketika jam pelajaran berakhir dan Akane mendapati Himari memperbaiki dasi Saito yang bengkok, dia merasakan dorongan untuk memutuskan antara mereka berdua...Tetapi, dia tidak bisa.

Kalau Akane melakukan itu, itu akan membuat teman-teman sekelas mereka meragukan hubungan mereka lagi. Himari berusaha sekuat tenaga untuk meredakan situasi ini untuk mereka, jadi Akane akan merusak semua itu. Akane tidak dapat mendekati Saito dengan cara apapun. Bahkan pertengkaran sehari-hari mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir sekarang ditahan. Tepat saat kelompok di sekitar Himari melemah, Akane melihat kesempatannya untuk mendekati temannya.

"Jadi…Himari? Apa kamu tidak berlebihan?"

"Apa maksudmu?" Himari terdengar bingung.

Akane menerka-nerka penjelasannya, berusaha untuk berbicara.

"Ten-Tentang Saito. Kamu tidak mesti berlebihan, bukan? Kalian tampak seperti… pasangan yang cuma saling memperhatikan satu sama lain."

"Kami tampak seperti itu ya?" Suara Himari memendam kegembiraan.

"Mengapa kamu kedengarannya sangat bahagia?!"

"Maksudku, menjadi pasangan macam itu dengan Saito-kun itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan! Jadi kami tampak seperti itu ya…? Hehe, aku sangat senang." Himari tersenyum senang.

Melihat temannya senang, tentu membuat Akane juga senang…atau begitulah seharusnya. Namun untuk beberapa alasan, Akane tidak bisa senang. Akane cuma memeluk buku paketnya dekat dengan dadanya, seakan-akan untuk melindungi hatinya.

"Ngomong-ngomong, aku tidak merasa kalau kamu mesti bersikap sangat menempel padanya."

"Itulah intinya. Itu akan menghilangkan rumor ini lebih cepat. Paling lebih baik dari melakukannya setengah hati."

"Tetapi tetapi…"

Karena Himari berbicara semata-mata dengan alasan, Akane tidak punya ruang untuk berdebat. Mengapa Akane bahkan berusaha untuk menghentikan mereka dari bertindak sebagai pasangan dari awal? Kalau rencana pura-pura pacaran mereka saat ini berhasil, seharusnya tidak ada alasan untuk menghentikan itu. Saat Akane sedang bingung dengan perasaannya sendiri, Himari sekali lagi dikelilingi oleh teman-teman sekelasnya, tidak membiarkan Akane berbicara sepatah katapun, yang cuma bisa melenggang pergi dengan kekalahan.


←Sebelumnya            Daftar Isi         Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama