KuraKon - Jilid 5 Bab 2 Bagian 2 - Lintas Ninja Translation

Bab 2
Pacar (Palsu)
Bagian 2

Begitu istirahat makan siang tiba, Himari mendekati Saito ke meja Saito.

"Saito-kun, Saito-kun! Haruskah kita pergi ke kafetaria bersama?"

"Bukankah kamu biasanya makan siang bersama Akane?"

"Tentu saja, tetapi aku mau makan siang bersamamu hari ini… Bisa tidak?"

"Aku tidak menentang itu, tetapi..."

Saito menelan keinginan untuk mengomentari fakta bahwa saat ini Akane sedang memelototi mereka. Akane tampak hampir merobek buku latihannya. Aura yang memancar dari tubuh Akane secara tidak langsung berteriak, "Beraninya kamu mencuri sahabatku dariku," meskipun Himari-lah yang memulainya.

"Bagus! Kalau begitu mari kita pergi!" Himari meraih tangan Saito dan mulai berjalan.

Himari memegang tangan Saito dengan kelembutan yang alami, tetapi tangan Himari sedikit gemetaran. Saito menatap ke arah sini, melihat Himari memasang senyuman yang tegang, menunjukkan betapa gugupnya Himari sebenarnya. Dan siapa yang dapat menyalahkan Himari? Himari sudah menyukai Saito lumayan lama, dan Himari sudah membantu mereka dengan ide terbaiknya. Dengan begini, Saito harus menanggapi tekad Himari. Himari sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat hubungan palsu ini sukses, namun Saito masih ragu-ragu. Dengan begitu, Saito benar-benar mengabaikan semua khalayak dan dengan erat menggenggam tangan Himari.

"Sa-Saito-kun…?" Himari tampak bingung.

"…Terima kasih." Saito berharap kalau  ia berhasil mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata ini.

"Tidak apa-apa." Himari sedikit tersipu, lalu mereka berjalan ke kafetaria sekolah.

Begitu mereka masuk ke dalam kafetaria, para siswa yang ada di sana langsung heboh. Jangankan kelas dua belas, adik-adik kelas mereka pun mengenal Himari dengan sangat baik. Dengan kepribadian Himari yang ceria dan penampilannya yang menawan, dia itu selalu menjadi pusat perhatian. Kalau ini memang SMA yang serius atau bergengsi, maka kalian tidak akan mendapati siswa-siswi dengan rambut pirang seperti rambut Himari. Lagipula, Himari itu bukan siswi yang tidak menganggap serius urusan sekolah, dan para guru juga tidak masalah dengan rambutnya.

Jadi kalaupun Himari datang ke kafetaria sekolah bukan dengan teman baiknya Akane, tetapi dengan seorang siswa (laki-laki) seperti Saito, itu wajar saja kalau itu akan mengumpulkan khalayak yang penasaran. Saito memesan semangkuk steik biasa sedangkan Himari memesan omuraisu. Menemukan meja terbuka di tengah kafetaria, mereka duduk saling berhadapan. Makan di dekat jendela mungkin sedikit lebih santai, tetapi ini bukanlah waktunya untuk pilih-pilih. Mereka mesti menarik perhatian sebanyak mungkin.

"Kamu itu sangat menyukai omuraisu, iya?"

"Err, bagaimana kamu bisa tahu?"

"Saat aku melihatmu makan di sini, kamu selalu memesan satu porsi itu."

"…!" Tubuh Himari menggigil.

"…Apa aku bilang sesuatu yang aneh?"

"Aku cuma berpikir kalau kamu sering memperhatikanku ya."

"I-Itu tidak disengaja. Aku cuma kebetulan melihatmu, begitu saja."

"Memangnya begitu ya~."

"Itu benar!" Saito merasa wajahnya menjadi semakin panas dalam hitungan detik.

Bahkan di masa kelas sepuluh mereka, Himari secara berkala memanggil Saito di kafetaria, dan Saito tidak bisa begitu saja melupakan apa yang Himari makan saat itu. Himari melihat reaksi Saito, dan menutup mulutnya dengan satu tangan, dan terkikik.

"Aku tahu aku tahu. Tetapi kamu tidak boleh bilang hal semacam ini kepada seorang cewek. Dia nantinya akan salah paham, kamu tahu?"

"Aku akan mengingat hal itu."

"Teman-temanku juga terus mengungkit hal itu. Bilang kalau kamu mungkin saja punya perasaan terhadapku."

"Sungguh…?" Saito memegangi kepalanya dengan putus asa.

Berpikir kalau para cewek menilai tindakannya sedemikian rupa saat Saito bahkan tidak ada seperti paku kayu yang ditancapkan ke hatinya. Saito harus memperjelas kesalahpahaman itu secepat mungkin.

"Siapa yang mengungkit hal itu? Seseorang dari kelas kita?"

"Itu rahasia. Aku tidak mau dapat saingan lagi."

"Saingan? Untuk apa?"

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengerti, Saito-kun."

"Ada…sesuatu yang aku tidak mengerti…?" Saito menggigit bibirnya sendiri karena malu.

Sejak Saito lahir, ia tidak kesulitan membaca buku atau karya tulis apapun yang ia temui. Namun, hanya satu pernyataan dari seorang siswi SMA saja sudah terlalu sulit untuk ia tangani, itu membuatnya lumpuh.

"Apa omuraisu di sini enak?"

"Kamu bisa ketagihan deh. Kalau saja aku tidak memakannya untuk waktu yang cukup lama, aku mungkin akan menderita gejala penarikan seperti berjabat tangan."

"Apa mereka menambahkan beberapa zat berbahaya di dalamnya?"

"Mereka cuma menambahkan peterseli."

"Paling tidak, itu tidak berbahaya."

"Mau coba gigit?" Himari mengambil beberapa omuraisu, menyodorkan sendok ke arah Saito.

"Tidak, itu…"

"Ah maaf. Kamu mungkin berpikir kalau itu menjijikkan karena aku sudah memakannya? Haha, apa sih yang aku lakukan… jadi terlalu bersemangat begini." Himari berusaha untuk menyembunyikan perasaannya dengan menertawakan hal itu, tetapi Saito menyadari kalau ia secara tidak sengaja telah menyakiti cewek itu.

Saito ingin memperbaiki keadaan ini, atau ia tidak akan bisa hidup lagi dengan rasa bersalah ini.

"Aku tidak merasa begitu sama sekali. Hanya saja itu... ciuman tidak langsung. Memikirkan hal itu saja cuma akan membuatku tegang."

Himari tampak bingung.

"Hah…? Kamu…gugup ya?"

"Tentu saja. Aku tidak pernah berkencan dengan seseorang, jadi bagaimana bisa aku tidak gugup."

"Oh… itu membuatku senang."

"Mengapa bisa begitu?"

Himari meletakkan tangannya ke pipinya yang memerah, dan menjelaskan dengan malu-malu.

"Karena itu berarti kamu melihatku sebagai seorang cewek."

"Ek…"

Himari memang benar dengan pernyataan itu, tetapi mendengar itu dari orangnya langsung cuma akan memberikan lebih banyak kerusakan pada Saito. Dan Himari masih belum selesai, lalu dia menatap Saito.

"Kalau begitu…haruskah kita melakukan itu? Ciuman tidak langsungnya."

"Berhentilah menggodaku."

"Aku tidak menggodamu. Aku serius… aku ingin melakukan hal itu denganmu."

"Ya ampun…" Saito merasakan suhu tubuhnya semakin naik, saat ia sedang mengunyah steik mangkuknya.

Saito tahu kalau ini memang diperlukan untuk mendapatkan kembali kehidupan SMA-nya yang tenang dan santai, tetapi ia juga sadar kalau bermain pacar-pacaran dengan Himari terlalu lama itu akan berbahaya. Kalau Saito santai sejenak, ia mungkin akan tertelan oleh pesona Himari. Makan siang mereka selesai, dengan Saito bahkan hampir tidak mengingat rasa steik itu, dan mereka berdua meninggalkan kafetaria di belakang mereka. Di jalan keluar, Saito merasakan tatapan penasaran dari siswa-siswi lain di sekitar mereka, serta tatapan dari niat membunuh Akane, bertabrakan di punggungnya, tetapi ini diperlukan untuk menghapus rumor buruk yang beredar saat ini.

"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Saito bertanya pada Himari dengan suara pelan.

"Pertanyaan yang bagus~ Kita sudah selesai makan siang bersama di kafetaria, jadi aku mau bermesra-mesraan di suatu tempat sampai jam pelajaran berikutnya dimulai."

"…Kamu mau?"

"Ah, tunggu, tidak! Aku cuma kepikiran kalau, kalau kita mau bertingkah seperti pasangan, kita mesti tetap bersama di suatu tempat!" Himari membenturkan satu tinju ke dadanya.

Mata Himari memancarkan kegembiraan. Jelas ini merupakan keinginan pribadi Himari sendiri. Namun, apa yang Himari katakan itu sangat masuk akal, jadi Saito tidak bisa membantahnya.

"Jadi tempat di mana kita bisa berduaan…Ruang persiapan biologi sepertinya kosong tuh."

"Terlalu banyak orang yang mengawasi kita!"

"Bukankah itu bagian terbaiknya? Atau apa kamu marah melihat mereka?"

"Aku bukan Shisei-chan, jadi tidak!"

"Kalau begitu tidak ada masalah bukan."

Pada hari saat Saito mengajak Shisei ke ruang persiapan, ia ketakutan saat mengetahui kalau jumlah orang berkurang setelah mereka bersama.

"Tidak ada sih, tetapi…Hmmm…"

Himari masih tampak ragu-ragu.

"Apa kamu takut dalam hal-hal yang aneh semacam itu? Aku ingat kalau kamu pernah bermain gim horor bersama Shisei sebelumnya."

"Aku biasanya tidak takut dengan hal semacam itu, aku cuma berpikir kalau lokasi yang romantis itu akan sedikit lebih baik. Diperhatikan oleh bola mata di setiap sudut cuma akan membuatku gelisah.”

(TL Note: Halah modus, dasar pelakor.) (Also TL Note: Bacot lo, Min.)

"Aku rasa begitu…?"

Saito tidak terbiasa dengan keinginan seorang cewek gadis, tetapi kalau mereka tidak dapat mengatur suasana hati yang baik, mungkin akan lebih sulit untuk meyakinkan orang-orang kalau mereka sedang pacaran. Himari menawarkan sebuah usulan.

"Mengapa tidak di ruang kelas kosong di dekat kelas kita saja?"

"Bukankah orang-orang dari kelas akan mendapati kita?"

"Itulah intinya. Mereka mesti melihat kita menghabiskan waktu bersama, atau mereka tidak akan pernah berpikir kalau ada sesuatu yang terjadi."

"Benar…"

Mereka berdua menuju ke atas tangga. Dalam perjalanan mereka, setiap kali mereka bertemu dengan siswa-siswi lain, mereka akan menyapa Himari layaknya seorang ratu yang berjalan melalui istananya. Sesampainya di lorong lantai 4, Saito membuka pintu ruang kelas yang kosong, memeriksa kalau tidak ada orang di dalamnya. Saito masuk ke dalam, dengan Himari menyusulnya segera. Mereka membiarkan pintunya terbuka cukup untuk membiarkan khalayak memeriksa bagian dalamnya. Himari melangkah maju dan bersembunyi di balik bayangan meja dan kursi, dengan Saito di sebelahnya.

"Ini terasa seperti kita melakukan sesuatu yang terlarang." Himari terkikik.

"Jangan bilang begitu."

Menyadari hal ini membuat Saito merasa semakin tidak nyaman.

"Jadi... apa yang mesti kita lakukan supaya dicap bermesraan?"

"Aku juga penasaran..." Himari membalas pertanyaan asli dengan wajah datar.

"Kamu sendiri yang memulainya, tetapi malah kamu yang tidak tahu?!"

"Aku tahu! Aku sebenarnya tahu! Cuma ada terlalu banyak hal yang mau aku lakukan! Aku ragu kalau aku akan mendapatkan kesempatan ini lagi, jadi aku berusaha untuk hati-hati memilih apa yang aku inginkan tanpa rasa sesal!"

Melihat Himari yang sangat panik dan kebingungan, Saito tidak dapat menahan tawanya.

"Me-Mengapa kamu tertawa?" Himari bertanya.

"Biasanya kamu itu akan sangat cuek, jadi melihatmu kebingungan di antara keinginanmu terlalu lucu."

Umumnya, Himari itu orang yang selalu menghentikan amukan Akane, menjernihkan suasana hati di kelas, dan bertindak sebagai guru mereka dalam kehidupan. Karena Himari dapat memprioritaskan kebutuhan orang lain ketimbang dirinya sendiri dan mendukung kebahagiaan semua orang, dia disayangi sebagai balasannya. Namun, Himari yang saat ini tidak sempurna, tetapi agak kikuk dalam mencoba menangani perasaannya pada Saito.

"…Bagaimana aku bisa tenang. Aku sangat menyukaimu, aku tidak dapat menahannya." Himari cemberut yang mengirimkan kejutan menembus dada Saito.

"Jadi apa yang mau kamu lakukan? Aku akan lakukan apapun yang kamu mau."

"Apapun?!" Himari segera menangkap kata-kata itu, yang membuat Saito terhuyung mundur.

"Selama kita tidak melewati batas-batas tertentu..."

"Kalau begitu.... Aku mau kamu menggendongku."

"…Menggendongmu?"

Tinggi Himari itu hampir sama dengan tinggi Saito, tidak melupakan sosok Himari yang hebat, jadi Saito tidak menduga permintaan kekanak-kanakan semacam ini. Untuk sesaat, Saito penasaran apa ia barusan salah dengar. Himari tampak bingung saat dia menjentikkan jari telunjuknya.

"I-Iya…Kamu sering membiarkan Shisei-chan duduk di pangkuanmu, bukan? Aku selalu iri akan hal itu. Itu membuat dia benar-benar dekat denganmu, dan sepertinya kamu dapat memanjakannya seperti itu, jadi…ya."

"A-Aku mengerti…"

Meskipun begitu, hal-hal itu sedikit berbeda saat membandingkan seorang cewek yang sekecil siswi SD, dan seorang cewek yang berperawakan dewasa yang subur. Saat menggendong Himari, segala macam tempat akan menabrak Saito atau akan ada yang keluar. Himari pasti melihat keraguan di wajah Saito, karena…

"I-Iya, aku rasa aku telah meminta hal yang mustahil! Dengan betapa beratnya aku, aku mungkin malah akan membuatmu hancur! Maaf, lupakan saja itu!" Himari menutupi wajahnya karena malu.

"Tidak… aku tidak keberatan. Kamu tidak akan menyakitiku, aku yakin."

"Be-Benarkah? Bukankah aku mungkin akan mematahkan kakimu?"

"Kamu harus lebih percaya pada kekuatan otot cowok sejati." Saito merasa harga dirinya terluka.

"Kalau begitu… tidak apa-apa kalau aku mau melakukan itu." Himari bangkit dan menghadap ke arah Saito.

Karena Himari mengenakan rok yang sependek biasanya, Saito dapat menengadah sambil melihat pahanya, dan hampir melihat apa yang ada di luar wilayah suci itu. Setelah itu, Himari duduk di pangkuan Saito, dan langsung menghadapnya. Yang terjadi selanjutnya yaitu adanya sensasi lembut, saat payudara Himari tertekan tepat ke wajah Saito, dan mencekiknya. Himari kemudian bertanya dengan khawatir.

"A-Apa aku berat…?"

"Tidak sama sekali sih, tetapi…"

Kekuatan serangan dada Himari itu cukup untuk menimbulkan kerusakan yang serius pada Saito. Saito mencoba menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk menghindari jebakan ini, tetapi ia terus tenggelam lebih dalam ke pasir hisap yang penuh kenikmatan ini. Aroma semanis madu itu melelehkan sel-sel otak Saito dan membuatnya semakin tak berdaya. Dan itu saja masih belum cukup, Himari dengan lembut berbisik.

"Posisi ini…membuat kita terasa seperti sedang melakukan sesuatu yang cabul. Mengapa ya…"

"Tidak tahu tuh…"

Aroma yang terpancarkan dari tubuh Himari saja sudah cukup untuk merampas kemampuan Saito untuk bernalar. Saito mencoba mengalihkan perhatiannya dari cewek di depannya, tetapi semua panca indra Saito tertarik ke arah Himari sampai Saito dapat mendengar desahannya.

"Mungkin ini sudah terlalu berlebihan…" Saito berusaha melarikan diri lalu Himari berbisik ke telinganya.

"Semua orang sedang menyaksikan... kita mesti melakukan hal ini dengan benar."

Seperti yang dikemukakan Himari, Saito merasakan tatapan yang datang dari arah pintu, serta suara samar dari teman-teman sekelas mereka. Mereka berusaha untuk menjaga suara mereka tetap pelan tetapi kegembiraan mereka tertekuk. Ini, tentu saja, memaksa mereka berdua untuk bersandiwara sampai akhir.

"Jadi... apa yang aku lakukan?"

"Mmm..." Himari tiba-tiba mengejang dengan erangan yang samar.

"A-Ada apa?"

"Napasmu itu membuatku geli…"

"Ma-Maaf."

"Tidak apa-apa. Rasanya enak jadi... aku tidak keberatan..."

(TL Note: Sekali lagi, dasar pelakor.) (Also TL Note: Bacod Lo, Min, berusahalah untuk netral.)

KuraKon-5-2-2

Apa sebenarnya yang Himari maksud dengan itu? Saito merasa seperti ia akan kehilangan sesuatu yang penting, jadi ia menghentikan pemikiran itu. Stimulus menjadi sedekat ini dengan Himari sudah lebih dari cukup yang harus Saito khawatirkan.

"Kalau kita mau lebih pamer, maka…Aku juga ingin dipeluk."

"Begini…?"

"Ah…"

Saat Saito dengan lembut memeluk Himari, embusan napas yang lembut namun gembira keluar dari bibir Himari. Tubuh Himari gemetaran karena terkejut tetapi juga senang, langsung tersampaikan ke lengan Saito. Sinar matahari yang lembut bersinar dari jendela menyinari rambut pirang Himari lebih jauh. Suasana manis ini melelehkan otak Saito. Dia khawatir bahwa gerakan terkecil akan memungkinkan dia untuk merasakan tubuh Himari lebih dekat, membuatnya benar-benar membeku. Napas Himari yang menggelitik Saito, tubuhnya yang berdenyut, dan dadanya ditekan padanya… itu terlalu berlebihan.

"Apa segini... sudah cukup?"

"Be-Belum, orang-orang masih menyaksikan." Himari menekan tubuhnya ke dada Saito.

Suara penasaran para khalayak sudah menghilang, tetapi Himari tentu dapat melihatnya dari posisinya.

"Sampai kapan kita mesti terus begini?"

"Aku tidak tahu… Sebentar… lagi saja ya…" Himari memohon seperti anak kecil, menempel pada Saito.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama