KuraKon - Jilid 4 Bab 3 Bagian 4 - Lintas Ninja Translation

Bab 3
Memikat
(Bagian 4)

Setelah berjalan di sekitar taman hiburan lagi, ketika mereka kembali ke rumah, di luar sudah gelap gulita. Akane langsung jatuh ke sofa dengan pijakan yang tidak stabil.

"Aku lelah… Aku ingin tetap di rumah selama sepuluh tahun ke depan…"

"Bertaruh."

Akane melakukan yang terbaik untuk memenuhi semua keinginan Maho, meskipun Saito tidak mengatakannya dengan lantang. Setelah kejadian di rumah hantu, mereka diseret ke sekitar ruang bersepeda, ayunan 360°, teater, dan wahana lain yang merangsang, serta melelahkan, sehingga membuat Akane berteriak setiap saat.

"Aku masih belum cukup bersenang-senang! Aku menemukan gim yang menarik, jadi mari kita mainkan bersama!" Maho mengangkat paket gim dengan zombi yang digambar di bagian depan.

"Mungkin…lain kali saja…" Akane terbata-bata, tampak seperti habis dibangunkan oleh seorang anak pada hari Minggu pagi.

Akane bahkan tidak punya waktu untuk menutup ide itu sepenuhnya karena dia sangat lelah.

"Aku akan menyiapkan makan malam untuk malam ini."

"Apa kamu mencoba untuk membunuhku?!"

Saito cuma ingin menunjukkan kebaikannya yang jarang-jarang, akan tetapi mata Akane terbuka lebar karena terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Kamu mungkin kepikiran untuk membuat bubur nasi dengan ditambah banyak protein, bukan?"

"Apa ada yang salah dengan itu?"

"Jangan beri aku tatapan bingung begitu! Rata-rata manusia manapun tidak akan mengonsumsi protein sebanyak ini di malam hari!"

"Kedengarannya cukup subjektif bagiku. Menurut perhitunganku, ada setidaknya setengah dari semua orang yang mengonsumsi protein saat makan malam."

"Tidak ada lagi bubur nasi…" Maho mulai gemetaran.

"Dan tidak ada protein…" Akane mengerang.

"Seburuk itu kah?"

Ditolak oleh kedua kakak beradik itu, Saito terpaksa mengambil pendekatan baru. Saito percaya kalau makanan apapun itu makanan yang baik, tetapi juga akan sia-sia untuk meninggalkan makanan yang dapat dimakan dengan sempurna.

"Tidak terlalu cocok dengan seleraku, tetapi…Aku dapat membuat kare dengan jagung, wortel, paprika hijau, dan beberapa daging cincang. Tanpa protein tentu saja. Apa kalian tidak masalah dengan itu?"

"Benar-benar puas! Kamu seharusnya buat itu dari awal!"

"Itu bukan hidangan yang seimbang."

"Setidaknya itu lebih baik daripada bubur nasi dengan protein!"

"…Sepertinya begitu."

Meskipun mereka berkelahi berdasarkan pendapat mereka lagi, itu cuma akan membuat mereka berdua lebih lelah. Mungkin tidak pada tingkat Akane, yang dipaksa melewati semua wahana di taman hiburan, tetapi Saito sendiri kelelahan.

"Mas, apa kepala Mas…?"

"Itu benar, kepalanya..."

Saito mengabaikan kakak beradik kasar yang berbisik di belakang punggungnya, dan langsung memasak. Saito menambahkan beras dan air ke penanak nasi, menyalakan tombol masak cepat. Saito tidak repot-repot mencuci beras, karena jumlah nutrisi akan turun selama tindakan itu. Saito memang belum pernah melihat jagung atau paprika hijau ditambahkan ke dalam kare, tetapi ia membaca di sebuah buku kalau semakin banyak warnanya, semakin seimbang gizi makanannya.

Tentu saja, tidak ada perasa, karena itu tidak masuk akal. Walaupun kamu menyesuaikan rasanya, tingkat makanannya tidak akan berubah, dan Saito juga tidak akan tahu bagaimana cara melakukannya. Saito menaruh kepercayaan penuh pada kekuatan bubuk kare Jepang. Setelah sekitar tiga puluh menit, kare kelas atas yang efisien selesai dimasak, disajikan di atas meja.

"Ini…rasanya seperti nasi kare…!"

"Itu karena itu memang nasi kare."

"Tidak ada rasa protein dan suplemen yang tersisa! Ini... merupakan hidangan yang normal! Saito, kamu akhirnya berhasil memasak sesuatu yang normal!" Akane benar-benar menangis.

"Aku selalu tahu caranya memasak, oke. Saat masih SD, aku selalu memasak ramen gelas instan."

"Iya, iya, kamu benar... kamu benar."

Menerima tatapan lembut dari Akane, Saito merasa diperlakukan seperti anak kecil.

"Itu memang masih belum bisa untuk dibandingkan dengan masakan Mbak, tetapi aku rasa…aku bisa bilang ini lolos? Mas boleh bangga pada dirimu sendiri, Mas."

"Mengapa kamu memandang rendah Mas?"

"Aku akan dengan senang hati menerima Mas sebagai istriku!" Maho menutup satu matanya, menunjukkan acungan jempol pada Saito.

Saito itu seorang cewek, dan sudah menikah, jadi tentu saja, ia dapat mengatur menu sebanyak ini. Namun, itu merupakan pertama kalinya Saito benar-benar membuat kare. Ketika Saito tinggal sendirian, ia tidak akan repot-repot memasak sesuatu. Meskipun Saito diejek seperti biasa oleh kedua kakak beradik itu, melihat mereka memakan makanan itu sambil tersenyum itu tidak terasa buruk. Dan dengan pemikiran ini, Saito bergabung dengan mereka untuk makan malam.


←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama