KuraKon - Prolog Jilid 4 - Lintas Ninja Translation

Prolog

Akane sangat bersemangat di pagi hari. Akane berdiri di dapur yang masih relatif baru, bersenandung sendiri saat dia sedang menyiapkan sarapan. Langkah Akane di antara antara kulkas dan kompor seringan langkah seorang balerina, menyerupai seorang penari. Saat Akane mengaduk isi dari stimbot, bahunya melompat-lompat mengikuti irama.

"Apa ada sesuatu bagus yang terjadi?" Saito memasuki dapur, terlihat bingung lalu ia bertanya pada Akane dengan cara begitu.

"Bukan begitu. Itu masih belum terjadi."

"Apa itu tepatnya?"

"Kamu ingin tahu? Apa kamu sepenasaran itu?" Akane memegang sendok dengan satu tangan, mendekati wajah Saito, mata Akane berbinar-binar gembira.

Kepribadian Akane terkadang agak sulit ditebak sewaktu-waktu, tetapi karena kecantikannya, melihatnya sesenang ini sebagai hal pertama di pagi hari agak terlalu merangsang.

"…Tidak juga." Saito mengalihkan wajahnya.

"Apa, jujur saja dan katakan kalau kamu ingin tahu! Ini merupakan informasi rahasia kelas atas, kamu tahu?!"

"Lalu mengapa kamu sebegitu cepatnya ingin memberi tahuku tentang itu?"

"Aku tidak cepat sama sekali! Mulutku tertutup rapat!"

"Tidak terdengar begitu buatku."

"Kalau kamu sebegitu putus asanya, maka aku mungkin juga menyampaikan kabar itu buatmu!"

"Aku tidak butuh simpati, oke."

"Baiklah kalau begitu! Aku tidak peduli lagi! Aku tidak akan memberi tahumu!" Akane mengangkat panci berisi sup miso, membuat Saito ketakutan.

Gerakannya membuat Akane tampak seperti dia berencana untuk melemparkan seluruh panci itu ke arah Saito. Ini mungkin berbeda dari rumah tangga lainnya di dunia ini, tetapi di sini dengan adanya mereka berdua, bahkan sup miso pun dapat digunakan sebagai senjata membunuh. Tanpa ukuran keamanan dan postur pertahanan, sup miso akan membasahi seragam Saito bahkan sebelum meninggalkan rumah. Tentu saja, Saito waspada terhadap Akane, tetapi dia tidak berusaha untuk melempar sup itu sama sekali. Akane malah menunjukkan senyuman bahagia, menuangkan sup miso itu ke dalam mangkuk kecil.

"Kamu tidak mengguyurku dengan sup miso…?!"

"Apakah kamu ingin aku melakukannya...?" Akane menatap Saito seperti dia sedang berurusan dengan orang mesum.

"Tidak…bukan begitu…Aku cuma merasa gelisah karena kamu tidak melakukan apa-apa."

"Anak yang malang, otakmu busuk sampai ke intinya."

'Tidak sedikitpun."

"Kamu perlu mengaduk pasta bekatul beras (rice bran paste)-mu setiap hari, kalau tidak itu akan membusuk, kamu tahu? Itulah yang Nenek bilang padaku."

"Kamu akan mengacaukan pasta bekatul beras dengan sel-sel otak."

Saito yakin kalau sel-sel otaknya punya konsistensi yang jauh lebih murni daripada pasta.

"Haruskah aku membantumu mengaduknya?"

"Aku benar-benar akan mati kalau kamu melakukan hal itu, oke?!"

"Kamu akan baik-baik saja!"

"Dari mana datangnya kepercayaan diri tanpa dasar itu?!"

"Aku sangat ahli dalam hal itu!"

"Tidak ada keahlian yang harus dimiliki dalam hal mengaduk sel-sel otak!"

Terlepas dari pertengkaran verbal mereka yang begitu parah dalam hal apapun sampai yang dapat kalian aduk, Akane tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan melempar sup miso itu.

—Betapa baik hatinya Akane!

Saito mau tidak mau merasa emosional. Setelah menjalani pertempuran sengit yang terjadi setiap hari, gagasan Saito mengenai kebaikan menjadi terlalu bengkok. Meskipun begitu, ada sesuatu yang tidak beres dengan Akane pagi ini. Di dalam situasi di mana Akane biasanya hanya mengamuk karena marah, dia tersenyum.

—Apa ini berarti dia membuat kemajuan dengan rencana pembunuhannya yang menjadikanku memiliki targetnya? Apa ini sebabnya dia tersenyum?

Keraguan memenuhi kepala Saito, tetapi tidak ada tanda-tanda itu juga. Menggelikan, Akane tidak dapat menahan kegembiraannya, aura kebahagiaan yang luar biasa dan menindas terpancar dari seluruh tubuh Akane. Di saat yang sama, Akane menaruh beberapa ayam teriyaki di piring, menatap Saito secara bersamaan.

"Ka-Kamu tahu, adikku sebenarnya orang yang paling imut."

"Mengapa tiba-tiba bilang begitu?!"

Saito benar-benar kehilangan konteks yang terkait dengan percakapan itu. Sebaliknya, dia khawatir kalau Akane akan berakhir depresi lagi kalau Saito dengan ceroboh menyentuh topik almarhumah adiknya. Namun, Akane tampak seperti dia hampir tidak dapat menahan diri dari membual tanpa henti tentang adiknya.

"Ketika aku memasak sesuatu untuknya, dia akan memakan semuanya sambil berkata 'Lezat lezat lezat!'. Bahkan ketika aku membuat gratin dengan arang yang terbakar sebagian, dia masih mengatakan 'Makanan Mbak merupakan yang terbaik di seluruh dunia!', dan memaksa dirinya untuk memakannya."

"Tolong hentikan dia... Apa kamu tidak merasa kasihan?"

"Aku memang sudah menghentikannya! Aku meninggalkan masakan itu sendiri sehingga aku dapat membersihkannya nanti, tetapi dia tetap memakannya. Katanya dia tidak dapat membiarkan dirinya menyia-nyiakan masakanku."

"Adikmu yang sangat baik." Saito berbicara dengan kekaguman, saat pipi Akane mengendur.

"Iya, kan? Bahkan kucing di lingkungan kami yang terus melarikan diri dari aku melekat padanya."

"Bukankah itu cuma karena kalian terlalu lengket?"

"Tidak sama sekali. Aku cuma bermain dengannya dan beberapa buntut rubah itu selama sekitar sepuluh jam." Akane berseru, tidak ada sedikitpun penyesalan di matanya.

"Sepuluh jam..." Saito terdengar menelan ludah.

Meskipun kamu punya waktu dalam hidupmu, setelah itu berlanjut selamanya, waktu itu akan segera berubah menjadi siksaan. Kucing itu pasti sudah muak melihat buntut rubah itu. Kalau Akane pernah jatuh cinta pada seseorang, dia kemungkinan besar akan mengabdikan dirinya dan seluruh dirinya untuk orang itu, sampai mereka mulai berteriak ketakutan. Berpikir kalau ini tidak ada hubungannya dengan Saito, Saito cuma merasa simpati pada orang itu.

"Dan kemudian, dan kemudian, ketika aku pergi karena beberapa tugas atau sekolah, dia bertanya padaku 'Kapan Mbak akan pulang...?' sepertinya dia tidak tahan melihatku pergi. Saat aku melihatnya menangis seperti binatang kecil, aku tidak dapat meninggalkannya sendirian. Sepertinya dia tidak dapat hidup tanpaku, dan aku tidak dapat mengabaikannya." Akane berbicara seperti sedang melamun.

Melihat Akane terdiam dalam ingatannya, Saito mulai merasa gelisah. Tidak peduli seberapa banyak Akane merawat adiknya, ini semua adalah cerita di masa lalu. Akane mungkin sangat menginginkannya, tapi adiknya sudah berada di tempat yang jauh darinya.

"Saat dia demam, dia sangat lengket, jadi dia selalu memintaku untuk memegang tangannya sampai dia tertidur."

"Dia terdengar seperti cewek yang anggun, jujur, dan menggemaskan, tetapi juga cewek muda yang rapuh. Kebalikan dari dirimu, Akane."

"Maksudnya apa?! Aku juga bisa anggun!"

Garpu yang ditembakkan oleh lengan Akane yang kuat menusuk langsung ke meja. Melihat garpu yang terbuat dari logam berputar goyah seperti jeli, Saito sekali lagi merasakan bahaya untuk hidupnya sendiri.

"Dia bahkan bilang 'Setelah aku dewasa, aku ingin menjadi istri Mbak!', kamu tahu? Dia itu memang sangat menggemaskan!" Akane menyipitkan matanya, memeluk tubuhnya yang berputar dan berbalik badan.

(TLN: No Incest, No Yuri oke. Mimin paling anti 2-2nya.)

"Aku tidak begitu mengerti, tetapi setidaknya aku dapat mengerti betapa pedulinya kamu pada adikmu."

Kalau Akane, yang tegas dengan perasaannya sendiri, jatuh cinta pada adiknya itu, adik iparnya itu pasti sangat menggemaskan. Saito membayangkan adik iparnya sebagai seorang gadis bangsawan yang membaca buku di kamar terkunci di ranjangnya.

Aku ingin sekali bertemu dengannya sesekali, itulah yang terpikirkan oleh Saito dalam hati.


←Sebelumnya           Daftar Isi         Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama