[Peringatan 15+]
Seri 3
"―Ya Ampun, Gayamu dari Dulu Emang Nggak Pernah Berobah, Ya!"
Bab 111
―Takura Mao
Alun-alun Jam di Shine Spirits City emang sebuah ruang terbuka di mana jam tembok raksasa yang ditaro di area pertokoan khusus jadi markah tanahnya.
Dengan struktur langit-langit terbuka dari lantei satu bawah tanah sampe lantei tiga di atas tanah, tempat ini sering dipake buat macem-macem ajang karena gak dipengaruhin sama cuaca. Tempat ini juga sering masuk dalem pemberitaan media.
Pas ngeliat Alun-alun Jam, Himeko nyeru dengan penuh semangat, "Eh, aku pernah liat itu!", tapi dia langsung ciut karena jadi pusat peratian dan diketawain sama orang-orang di sekitarnya.
Alun-alun Jam dipenuhin sama cewek-cewek sepantaran mereka.
Mereka semua saling bisik dengan antusias soal ajang yang bakalan langsung dimulei.
Di layar gede yang dipasang di atas panggung, kepampang logo yang udah gak asing lagi.
"Loh, itu kan logo operator pulsa yang kita pake..."
"Himeko-chan dan Nikaidou-san juga pake itu ya... ...Tapi, ada apa ya?"
"...Yah, mumpung ngeliatnya juga gratis, kan."
Hubungan antara operator pulsa sama cewek-cewek itu gak bisa mereka pahamin dengan baek. Sembari miringin kepala mereka, mereka pun ngambil tempat di bagian pinggir dengan ragu-ragu.
Tapi, keraguan itu pun sirna berbarengan sama munculnya seorang cewek dengan kesan nyolok di atas panggung.
'Halo, gaes! Hari ini Airi bakalan ngedemonstrasiin fitur kamera yang jadi andelan di model baru ini, sekaligus cara make aplikasi edit poto gaya Airi, loh!'
"Wah!", sorakan heboh cewek-cewek yang mekakin kuping menggema dan nyebar ke seluruh penjuru Alun-alun Jam.
Haruki kesentak dan badannya gemeteran ngedenger volume tepuk tangan yang gede banget itu.
"Haru-chan, itu Airi, loh, Airi! Wah, aslinya, itu sosok aslinya! Haru-chan!"
"Eh, mustahil, terus... ...apa, mereka bakalan ngedit poto yang diambil bareng... ...S*alan, make sistem undian, ya!"
"Ah, gitu rupanya..."
Beda dari Haruki yang tampak agak ngejauh, Himeko sama Isami Ema bener-bener lagi ngerasa gembira.
Di bagian depan, tampak staf keluar buat ngebagiin nomer antrian.
Satou Airi itu seorang model majalah yang baru naek daon dalem beberapa bulan terakhir ini, yang bahkan Haruki pun tau soal itu.
Haruki inget sering ngeliat Airi di majalah yang Himeko pinjemin. Tampaknya Airi emang populer banget.
Meskipun begitu, buat Haruki, wawasannya cuman sebates tau muka Airi aja. Haruki gak punya ketertarikan mendalem kayak mereka berdua.
"Itu, aku ngerasa agak capek, jadi aku bakalan istirahat di sebelah sana. Hime-chan sama Isami-san, kalian berdua pergi aja ke sana."
"Eh, gapapa nih, Haru-chan!?"
"Ah, Nikaidou-san―"
Haruki ninggalin tempat itu tanpa nungguin jawaban.
Sesaat sebelom pergi, Haruki ngelirik ke arah panggung. Tatapan mata Haruki tampak kaku.
Abis ngejauh sampe ke posisi di mana situasi Alun-alun Jam cuman tampak samar-samar, Haruki ngela napas panjang dan nyenderin punggungnya ke tembok.
Haruki gak punya masalah pribadi sama Satou Airi. Tapi, Haruki punya masalah sama "selebriti".
(...Mama.)
Haruki nempelin satu tangannya erat-erat ke dadanya. Haruki berusaha keras neken perasaan nyesek yang seakan-akan pengen meledak keluar.
Baru beberapa hari yang lalu Haruki ditolak lagi. Tanpa nyadar, Haruki nyentuh pipinya yang pernah ditampar.
Satou Airi itu seorang model. Airi emang bukan aktris, dan gak ada hubungannya. Mestinya gak ada titik ketemuan di antara mereka.
Tapi, kalo andaikan aja Haruki papasan sama Mamanya di sini― mikirin hal itu aja udah bikin Haruki pengen langsung pulang ke rumah.
Dan entah kenapa, rumah yang Haruki bayangin sebagai tempat buat pulang bukanlah rumahnya sendiri, tapi apartemennya Hayato.
Apalagi, dalem bayangan Haruki, sosok Hayato lagi nyambut kedatengan Haruki dengan cara yang wajar banget.
"...Khkh."
Haruki ngerasa konyol karena sempet mikirin hal itu, sampe-sampe tanpa nyadar ketawa aneh keluar dari mulutnya.
Beberapa hari yang lalu, Haruki langsung kabur pas ngedapetin Mamanya ada tepat di depan matanya. Itu karena Haruki diserang secara tiba-tiba dan belom punya persiapan mental. Haruki membatin, andaikan aja mereka ketemu sekarang, meskipun nantinya hukuman pisik menanti, dia ngerasa bakalan bisa nerima hal itu dengan tenang― saat itulah hal itu terjadi.
"Kamu gak pergi ke tempatnya Airi?"
"!?"
"Mestinya Airi itu populer banget di kalangan generasimu... ...yah, tapi Airi emang punya kepribadian yang cukup sulit, sih."
"...An-Anda siapa?"
Bahu Haruki kesentak karena dipanggil secara gak keduga.
Pas mengangkat muka, di mata Haruki tampak seorang pria gagah berusia awal 30-an yang make setelan jas dengan rapih dan punya muka yang ganteng.
Gak ada orang laen di sekitar mereka. Kalopun ada, peratian mereka semua tertuju ke arah Alun-alun Jam. Ditambah sama situasi tersebut, Haruki pun ningkatin kewaspadaannya. Tapi, ada sesuatu yang kerasa ngeganjel di dalem benak Haruki.
"Ups, hari ini pun aku nemuin kamu secara gak sengaja. Anu, sori ya soal keenggaksopananku di rumah sakit waktu itu."
"...Ah."
Pria itu nunjukin ekspresi bingung di muka beliau yang ganteng, terus ngangkat kedua tangan beliau seakan-akan lagi bercanda. Tiba-tiba, Haruki keinget kalo mereka pernah ketemu di rumah sakit. Bener-bener sosok yang gak keduga. Tapi, Haruki gak ngerti kenapa pria itu ngajak Haruki ngobrol.
Haruki ngamatin pria itu dengan seksama.
Meskipun Haruki nyoba ngegali ingetannya lagi, pria ini emang sosok yang gak dia kenalin. Wajar aja, muka Haruki pun jadi tegang.
"Haha, aku mohon jangan melotot gitu. Muka cantikmu jadi sia-sia, loh."
"...Makasih atas pujiannya, tapi muka saya emang gini. Kalo Anda berniat ngegoda, saya nolak."
"Bukan, bukan gitu. Ah, aku ini, anu, salah satu orang yang terlibat dalem ajang ini."
"Terus, apa urusan 'orang yang terlibat dalem ajang ini' dengan saya?"
"Kamu yang sekarang pun udah cukup cantik, tapi menurutku kalo dipoles, kamu bakalan bersinar terang. Bahkan ngelebihin Airi yang ada di sana. Apa kamu gak tertarik sama dunia hiburan?"
"...! Enggak, sama sekali enggak, sedikit aja enggak...!"
"Ah, sori, sori! Ini kayaknya udah jadi penyakit akibat pekerjaan."
"Aku mohon, carilah, orang laen aja!"
Rasa kesel Haruki makin muncak.
Segalanya kerasa gak asyik buat Haruki. Mulei dari sikap pria itu yang tampak ngeremehin, sampe topik obrolan yang beliau lontarin. Haruki bahkan gak sudi mikirin hal ini.
Tanpa niat nyembunyiin emosi tersebut, pas Haruki balik arah buat ninggalin tempat itu, suara tajem pria itu manggil Haruki dari belakang.
"―Takura Mao."
"!?"
Bahu Haruki kesentak hebat.
Pas Haruki noleh ke belakang, pria itu udah berobah total dari sebelomnya—pria itu kini natap tajem ke arah Haruki dengan ekspresi serius, ato lebih tepatnya, ekspresi yang kelam penuh sama keyakinan.
Catatan Author:
Aku dapet kiriman "Fan-L*quor" (M*ras dari Penggemar)!
Eh, apa maksudnya? Iya, tenang aja, aku sendiri pun nggak paham, kok.
Ke bagian editorial― yang sampe bukannya surat penggemar, tapi malah m*ras. Makanya namanya jadi Fan-L*quor. (Muka lempeng)
Enggak sih, aku emang suka m*bok dan nama-nama karakter heroinnya emang diambil dari merek Sh*uchu, sih. Tapi ya nggak gitu juga, kale, kalo ditanya aku mo bilang apa, ya jadinya gini.
Meong!! (Kirim surat penggemar juga dong, isinya "Meong" doang juga gapapa, kok!)
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
