Shimotsuki-san wa Mob ga Suki [WN] - Seri 2 Bab 71 - Lintas Ninja Translation

 

Shimotsuki-71

Bab 71
Meninggalkan Harem

-Hari setelahnya, Azusa secara tidak biasa berangkat ke sekolah bersamaku.

"Abang, apa yang mesti aku lakukan? ...Aku agak gugup. Aku penasaran apakah ada yang salah dengan Azusa. Bukankah ada sesuatu yang salah dengan rambutku?"

"...Itu memang tampak seperti boneka Kokeshi*, tetapi itu tidak apa-apa, bukan?"

(TL Note: Kokeshi adalah boneka Jepang kayu sederhana tanpa lengan atau kaki yang telah dibuat selama lebih dari 150 tahun sebagai mainan untuk anak-anak. Lengkapnya: Wikipedia.)

Pada akhirnya, aku tidak dapat menghilangkan citranya sebagai anak zashiki. Aku memang sudah melakukan yang terbaik dalam menyeimbangkan rambutnya, tetapi aku tidak lebih terampil daripada itu.

"Euhh... ...Abang sangat payah dalam hal ini."

"Kalau begitu mengapa kamu tidak pergi ke penata rambut saja? Itu salahmu karena menyerahkannya pada Abang."

"Maksudku, merepotkan sekali untuk keluar rumah..."

Ini pasti sudah kurang lebih dua bulan.

Tampaknya Azusa telah menjadi anak rumahan yang sempurna dikarenakan efek buruk dari menjadi tertutup.

"Abang bukan 'Nakayama-kun' saat di luar rumah lagi, nih? Abang pikir kalau Abang telah gagal menjadi abangmu?"

"Maafkan aku soal itu. Aku benar-benar minta maaf soal itu. Abang... ...hiks!"

"Oh, maafkan Abang. Tidak usah menangis, Abang cuma bercanda!"

Aku rasa dia benar-benar menyesalinya.

Iya, kala itu, dia dipaksa untuk memerankan karakter heroin sampingan yang cuma Tuan Protagonis yang bisa lihat. Aku memang merasa seperti dia jadi gila, tetapi aku tidak menyalahkannya.

Bukan berarti Azusa telah berubah tiba-tiba. Dia memang dari adik yang seperti ini.

Namun, aku akan menafsirkannya dengan artian yang baik karena... ...itu dia telah menjadi dingin pada orang-orang di sekitarnya... ...karena dari sipitnya pengelihatannya di bawah pengaruh Tuan Protagonis...

Faktanya, setelah dia berhenti terlibat dengan Ryuzaki, cakrawala Azusa telah diperluas seakan-akan racun telah mengalir keluar darinya.

Fakta bahwa dia telah berteman dengan Shiho tanpa tidak menghormatiku itu juga sebuah hal yang bagus.

"...Oke. Abang, terima kasih karena telah mau berangkat ke sekolah bersamaku. Abang memberiku keberanian untuk melakukannya! Azusa akan berjalan di depan Abang, oke?"

Tetapi kami berjalan bersama-sama cuma sejauh gerbang sekolah.

Dari sana, dia melambaikan tangan padaku dan mulai berlari.

Bagian darinya itu tampaknya pertumbuhan yang lain.

Aku yakin dia sangat ingin bersama denganku, dan akan menyedihkan kalau tidak ada aku di sisinya untuk membantunya kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.

Tetapi bukannya bergantung padaku, dia mulai bertindak mandiri.

Itu tampak seperti pernyataan niat, dengan kata lain, 'Aku bisa mengatasi masalahku sendiri di sekolah'.

Dengan begitu, apa yang ingin coba aku katakan itu... ...kami tampaknya tidak perlu terlalu khawatir tentang kasus Ryuzaki.

Namun, hal yang paling penting untuk diingat yaitu aku mesti mengawasi Azusa seperti yang biasa aku lakukan.

Dengan tekad ini, aku menuju ke ruang kelas agak lambat demi Azusa.

Dan ketika aku memasuki ruang kelas – saat itu, Azusa sudah ada di tengah-tengah keterlibatan dalam kisah Ryuzaki.

"Azusa? Aku sangat senang kamu akhirnya datang ke sekolah... ...aku telah mengkhawatirkanmu karena kamu belum menanggapi panggilan teleponku, oke? Dan ngomong-ngomong, kamu tiba-tiba punya potongan rambut yang berbeda... ...ada apa?"

Ryuzaki menyambut Azusa begitu dia sampai.

Di sebelahnya, Mary, seorang karakter baru, juga ada di sana.

"OH! KOKESHI! Imut! Nihihihi, cewek ini mungkin baik."

Dia tampaknya menyukai Azusa, yang sekarang tampak sangat mirip dengan sebuah boneka Kokeshi. Dia memeluk Azusa dengan penuh kasih sayang.

Sebaliknya, Azusa, yang telah dipeluk oleh orang asing, agak merasa bingung.

"Hai, sudah lama tidak jumpa, ya. Aku cuma beristirahat karena merasa tidak enak badan, jadi aku baik-baik saja... ...sekarang. Siapa ini? Hah?"

"Aku Mary♪, seorang siswi baru yang pindah kemarin. Tidak usah sungkan untuk memanggilku Kakak Mary."

"...Oh, aku tidak butuh seorang kakak."

Tampaknya Shiho telah membuat Azusa alergi terhadap kakak. Dia dengan terang-terangan tidak menyukai tawaran Mary.

"Iyan~. Bahkan ketika dia itu tsun-tsun, dia itu sangat imut."

Azusa yang seperti itu tentu saja menarik. Mary-san jadi luluh.

Lalu, omong kosong Mary yang menggairahkan telah dihancurkan melawan Azusa. Melihat hal ini, hidung Ryuzaki meregang.

Tampaknya kisah komedi romantis Ryoma Ryuzaki telah dimulai.

Ryuzaki telah berada dalam semangat yang rendah akhir-akhir ini, tetapi mungkin saja dikarenakan pengaruh Mary, ia telah kembali ke dirinya yang biasa.

Sang protagonis, yang telah menjadi agak aktif, juga sangat aktif dengan Azusa.

"Apa kamu sudah merasa baikan sekarang? S*al*n, kamu membuatku khawatir di sana... ...Iya, aku senang kamu sudah merasa baikan! Datanglah ke rumahku lagi dan mari kita makan malam bersama-sama!"

Segera, Azusa hampir saja terlibat dalam kisah komedi romantis Ryoma Ryuzaki lagi.

Walaupun dia telah ditolak sebelumnya, ...Namun, Azusa itu sedang dalam posisi yang lebih menguntungkan ketimbang para anggota harem lainnya karena dia telah mengakui perasaannya.

Ryuzaki pasti juga suka Azusa mengakui perasaannya padanya. Sebagai bukti untuk ini, bangku Azusa, yang sudah lama terbengkalai, masih berada tepat di sebelah bangku Ryuzaki.

Tepat hari sebelumnya, ketika Mary diminta untuk duduk di sebelah Ryuzaki, ia meminta Kirari, bukan Azusa, untuk pindah dari tempatnya. Ia pasti memiliki perasaan yang kuat terhadap Azusa.

Tetapi... ...Azusa bukanlah lagi Azusa yang sama yang Ryuzaki kenal dan cintai.

"Oh, ngomong-ngomong, Mary-chan di bangku ini. ...Azusa itu di sebelah sini, bukan? Kalau begitu, bagaimana dengan Kirari-chan?"

Dia punya perspektif yang lebih luas terhadap banyak hal, sih.

Dia sungguh menyadari kalau bangku Kirari tidak ada di sini.

"Oh, soal itu. Mary kan baru saja pindah ke sekolah baru, jadi dia akan membutuhkan banyak bantuan, bukan? Aku mesti mengambil peran itu, jadi maafkan aku, Kirari mesti bertukar bangku sedikit."

Tentu saja, Ryuzaki, yang melihat tidak ada yang salah dengan hal itu, menjelaskannya dengan terus terang.

Tetapi buat Azusa, yang dulunya seorang heroin sampingan, dia pasti menyadari betapa kejamnya itu...

"...Kirari-chan, kamu tampak sangat sedih."

Bergumam.

Azusa menatap Kirari dengan ekspresi yang menyakitkan saat dia berpura-pura tidak mendengarnya dari bangku yang jauh.

"Eh? Permisi?"

Iya, sang protagonis yang tuli dan tidak peka tidak mendengar kata-kata itu.

"Kirari-chan!"

Azusa tampaknya juga mengerti kalau mengobrol dengan Ryuzaki itu tidak akan membuatnya pergi ke mana-mana.

Dia mengakhiri obrolannya lebih awal dan menuju ke Kirari, yang sedang di jarak yang jauh.

Kemudian dia bilang sesuatu semacam ini.

"Mari kita bertukar posisi bangku. Azusa lebih nyaman di belakang, boleh kan?"

Usulan itu jelas bertolak belakang dengan permintaan Azusa yang biasanya.

Kalau posisi bangku dipindahkan masing-masing di sini, keuntungan dari berada di posisi yang menguntungkan dalam harem Ryuzaki tidak akan didemonstrasikan. Meskipun Tuan Protagonis sudah bersusah payah untuk peduli padanya, Azusa hendak menyerahkan senjata itu sendiri.

"...Eh?"

Kirari juga terkejut, seakan-akan bingung.

Itu dapat dimaklumi. Karena apa yang dia bilang barusan itu... ...seperti Azusa mencoba untuk keluar dari harem itu.

(Begitu ya. Azusa sudah membulatkan tekad.)

Aku selalu penasaran dengan apa yang akan dia lakukan, sih.

Setelah pengakuan cintanya yang gagal, Azusa tampaknya telah memutuskan... ...untuk berhenti menjadi seorang heroin yang cocok untuk Ryuzaki.


←Sebelumnya            Daftar Isi         Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama