[Peringatan 15+]
Catatan Author:
Mulei dari sini itu udah Seri 5 Sub-Seri 2.
Seri 5
―Meskipun, Aku Udah Gak Bisa Lagi Perlakuin Kamu dengan Frekuensi yang Sama
Bab 174
Liat Aja Nanti!
Gedung sekolah lama yang kini beralih fungsi jadi gudang, salah satu ruang kelas kosong di sana.
Tempat perlindungan buat kabur dari hiruk-pikuk jam istirahat, Markas Rahasianya Haruki sama Hayato.
Dari jendela ruangan yang mulei agak diwarnain sama suasana musim gugur, awan sirus ngalir alus kayak pasir di angkasa yang tinggi.
"...Telor bekon."
"Padahal itu onigiri?"
"Padahal itu onigiri. Telornya kerasa lembut sama lumer, terus aroma gurih bekon nyusul abis itu, ternyata cocok juga dimakan sama nasi. Iya, ini termasuk produk yang enak."
Haruki ngeluarin suara yang susah digambarin, campuran antara kaget sama kagum.
"Haruki, kalo ada produk baru, kamu pasti langsung nyerbu itu meskipun udah jelas-jelas itu produk gagal, ya."
"Onigiri moci kenyal-kenyal dengan tenaga tambahan sama susu stroberi kentel manis yang tempo hari itu emang parah..."
"Aku udah ngelarangmu, kan?"
"Abisnya kalo gak dimakan sekarang, udah keliatan jelas produknya bakalan langsung berenti dijual!"
"Dasar bodoh."
Sambil ngela napes panjang karena gak abis pikir, Hayato natap Haruki seakan-akan ngeliat makhluk yang payah.
Sadar kalo dia bilang hal yang konyol, Haruki ngejulurin sedikit ujung lidah pink-nya dengan gaya canggung.
Abis mereka berdua saling ngelempar senyuman kecut, makan siang dilanjutin lagi.
Mungkin karena mapel sebelomnya itu Penjasorkes, mereka makan dengan cepet banget.
Haruki dengan sekejap mata ngabisin telor bekon sama onigiri ikan salmon andelannya, tapi perutnya masih kerasa agak laper.
Tanpa nyadar, tatapan Haruki beralih ke kotak bekal Hayato.
Di sana ada nasi kepel yang agak lebih gede dari biasanya, ditambah sama brokoli rebus sama potongan tomat.
Hayato yang juga baru selesei olahraga, dengan cepet ngabisin makanannya.
"―Ah."
"Hm?"
Haruki replek ngeluarin suara seakan-akan pengen nahan Hayato.
Sadar kalo nada suaranya kedengeran kayak orang yang pengen sesuatu, Haruki buru-buru nyari alesan.
"Ah, enggak, itu... ...Aku cuman kepikiran kalo itu belom pernah ada di makan malem, sih."
"Hmm, entahlah, aku punya imej kalo itu buat makan siang. Kayak nasi goreng ato soba gitu. Lagian, ini juga cara buat ngabisin sisa nasi."
"Ngomong-ngomong, semalem kan makan rebusan sapi. Kita semua gak banyak makan nasi, ya."
"Ngomong-ngomong, ini juga ada sisa rebusannya, loh."
"Eh, bo'ong?!"
Hayato ngebelah nasi kepel itu jadi dua pake sumpitnya.
Dari tengah nasi yang warnanya kecoklatan karena bumbu rebusan itu, baby cheese keliatan meleleh keluar. Kayaknya cocok banget sama nasi yang bumbunya pekat.
Karena baru aja keringetan, makanan itu tampak makin lezat. Haruki replek nelen ludahnya.
"Haruki, ilermu."
"Hah!?"
Haruki langsung ngelap ujung mulutnya. Tapi gak ada apa-apa di sana.
Haruki melototin temen masa kecilnya yang lagi nahan tawa di sebelahnya.
Hayato terus senyum kecut seakan-akan bilang "Sori ye", terus naro satu nasi kepal di atas tutup kotak bekalnya dan nyodorin nasi kepal itu ke Haruki.
"Tapi bo'ong, hehe."
"Hayato! Ih, awas saja ya... ...am-nyam, enak jadi kesel."
"Haha, syukur deh."
Haruki ngeluh sambil makan nasi kepel itu dengan pipi ngegembung.
Hayato nyipitin matanya ngeliat Haruki.
Ngerasa agak diperlakuin kayak bocil, Haruki ngebuang mukanya dengan kesel.
Cahaya sang surya awal musim gugur yang masuk dari jendela nyiptain bayangan yang agak manjang.
Angin sepoi-sepoi ngebawa suara siswa-siswi yang lagi maen di lapangan.
Tanpa nyadar mereka udah selesei makan siang dan nyenderin punggung mereka ke tembok.
Tempat mereka duduk dialesin sarung bantal yang warnanya biru tua polos sama putih dengan motip kucing.
Cuman ada mereka berdua doang.
Gak ada obrolan apa-apa.
Suasana yang ngalir di antara mereka masih sama tenangnya kayak sejak bocil.
Entah kenapa, rasanya udah lama banget sejak terakhir kali kayak gini.
Kalo dipikir-pikir, belakangan ini, entah gimana sering ada orang laen pas jam istirahat makan siang.
Minamo, Kazuki, Iori, sama Isami Ema. Temen-temen baru yang mereka dapetin.
Bukan cuman mereka doang, temen-temen sekelas yang sering diajak ngobrol pun nambah.
Perobahan di SMA sejak Hayato pindah kemari, sesuatu yang bahkan belom pernah Haruki bayangin sebelomnya.
Dan di rumah Hayato... ...pas mikirin sampe ke sana, tiba-tiba pikiran Haruki dipenuhin sama sosok seorang cewek.
"―Saki-chan."
"Hm?"
Tanpa nyadar nama itu keluar dari mulut Haruki.
Haruki ngerjapin matanya. Haruki gak bermaksud bilang gitu.
Hayato noleh ke arah Haruki, penasaran ada apaan.
Kepala Haruki muter-muter. Dada Haruki kerasa nyesek dan berkecamuk.
Jadi, buat nutupin perasaan itu, Haruki ngegelengin kepalanya dan maksain diri buat ngomong.
"Saki-chan kayaknya udah mutusin mo pake yukata apaan. Haruki sendiri, sih, belom samsek. Soalnya belom pernah pake yukata sebelomnya, jadi Haruki bingung mesti pilih yang kayak apaan."
"Ah, aku juga. Lagian aku gak tau ada jenis yang kayak apa."
"Hei, menurutmu yukata yang kayak apa yang cocok buatku?"
Tiba-tiba, Haruki nanyain hal itu.
Hayato ngedip beberapa kali, terus natap Haruki lekat-lekat seakan-akan pengen mastiin sesuatu. Rasanya agak... ...bikin Haruki geli.
"Entahlah. Bukannya pilih aja asal yang kamu suka? Aku juga rencananya gitu."
"Gitu, ya."
Jawabannya persis kayak yang Haruki bayangin.
Emang khas Hayato banget.
Senyuman kecut yang gak kegambar keulas di bibir Haruki.
Saat itu, bel peringetan bunyi ting-tong.
Dengan suara yang agak kedengeran kecewa, Hayato berdiri sambil berseru, "Yo."
Dan tiba-tiba, Hayato yang pengen ngebuka pintu, berenti.
"Haruki, itu, aku rasa apa aja yang kamu pake pasti cocok."
"...Eh?"
Tanpa nyadar, suara bodoh lolos dari mulut Haruki.
Sambil natap punggung Hayato, pikiran Haruki seketika kosong.
"Aku nantiin ini, loh."
Sesaat abis Hayato ngelontarin kalimat itu dengan nada suara yang bisa dibilang jail ato propokatip, pipi Haruki seketika kerasa panas.
Ekspresi Hayato gak keliatan dari sini. Hayato ngelangkah menuju kelas seakan-akan kabur.
Jantung Haruki berdegup kenceng.
"Ih! Liat aja nanti!"
Haruki tereak lantang kayak bocil.
Catatan Author:
Kita baru aja mulei Seri 5 Sub-Seri 2, sori ya, tapi karena ada koreksi naskah Author dan pengerjaan Cerpen Bonus, jadwal apadet bakalan agak berantakan.
Aku bener-bener minta maap.
Tapi, jangan lupa teken tombol 'like', ya!
Meong~.
Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/
Follow Channel WhatsApp Resmi Kami: https://whatsapp.com/channel/0029VaRa6nHCsU9OAB0U370F
