Shimotsuki-san wa Mob ga Suki [WN] - Seri 3 Bab 143 - Lintas Ninja Translation

baca-shimotsuki-san-wa-mob-ga-suki-wn-seri-3-bab-143-lintas-ninja-translation

Bab 143
Yuzuki Hojo

Yuzuki Hojo.

Kalau dia mesti dijelaskan dalam satu kalimat, dia akan jadi "Yamato Nadeshiko"*.

(TL Note: personifikasi wanita Jepang yang diidealkan)

Dia itu seorang cewek cantik yang berambut hitam panjang dan berkilau. Dia itu bertubuh kecil, tetapi punya fisik yang berkembang dengan baik dan payudara yang besar. Dia memang tidak tampak populer di kalangan cewek, tetapi dia sangat populer di kalangan cowok.

Di dalamnya, dia sedalam dan sependiam kayak penampilannya.

Yang paling-paling, dia itu patuh, yang amit-amit, dia itu percaya begitu saja secara membabi buta.

Bagaimanapun, dia tidak pernah menegaskannya sendiri. Dia selalu hidup sesuai dengan orang lain dan tidak pernah menolak orang lain sama sekali.

Dia cuma pernah menolak sekali, termasuk di masa lalu.

Itulah saat dia berpisah dengan teman masa kecilnya, Kotaro Nakayama, pada upacara masuk SMA-nya.

Sejak saat itu, dia selalu mengikuti Ryoma Ryuzaki.

Dia selalu mengikuti punggung Ryoma Ryuzaki dari kejauhan.

Mary pernah mengomentari Yuzuki Hojo.

"Yuzuki memiliki kemauan yang lemah."

Sifat Mary memang tidak karuan, tetapi dia sangat memperhatikan orang.

Oleh karena itu, analisisnya pada Yuzuki Hojo juga akurat.

Dia memang punya kemauan yang lemah.

Dia itu tipe orang yang mudah terbawa arus dan menerimanya saat dia didorong.

Dia tidak mampu menyangkal.

Dia pikir kalau meskipun dia tidak menyukai sesuatu, dia dapat 'menahannya'.

Makanya dia dapat menerima meskipun itu sang protagonis harem yang menyedihkan yang sudah kehilangan akal sehat.

Ini bukanlah 'penegasan total' yang Mary lakukan untuk beberapa waktu yang lalu. Itu semacam kata penyemangat, terapi untuk membangun rasa percaya diri dengan memuaskan kebutuhan akan pengakuan.

Iya, dia memang berani melakukannya secara berlebihan, jadi itu doping, bukan terapi.

Alhasil, kisah Ryoma Ryuzaki yang rasa percaya dirinya membengkak dan sombong sudah terkuak.

Ngomong-ngomong, Yuzuki Hojo sudah menerima Ryoma Ryuzaki yang berkemauan lemah dan tidak baik.

"Ryoma-san? Eum, aku benar-benar membuat bento untukmu, apa kamu mau untuk makan siang?"

"…"

Tidak ada balasan dari Ryoma Ryuzaki. Namun, tanpa mengkhawatirkan hal itu, Yuzuki Hojo terus mengobrol dengannya.

Isinya juga mengerikan.

Mengapa dia punya bento untuk Ryoma Ryuzaki yang sudah lama absen?

Jawabannya jelas.

Saat Ryoma Ryuzaki tidak ada, dia membuatkan bento untuk Ryoma setiap hari. Kalau Ryoma tidak muncul, dia akan membuangnya di rumah, bangun pagi lagi, dan membuat satu kotak lagi… siklus yang berlanjut selama satu setengah bulan.

Tidak ada orang normal yang akan melakukan hal semacam itu.

Karena tidak ada hasil untuk usaha. Tidak ada artinya dalam upaya yang tidak dihargai.  Namun, Yuzuki Hojo tidak peduli dengan hal-hal semacam itu karena dia tidak mau diberi penghargaan.

Dia akan mengabdi, sampai pada titik pengabdian buta.

Bukan, ekspresinya akan tampak agak berbeda.

Yuzuki Hojo tidak mengabdi. Dia itu "tunduk".

Pelayanannya itu… kayak seorang hamba yang terpesona oleh tuannya.

"Menunya mau apa, ayam goreng favorit Ryoma-san, steik hamburger, lalu…"

"Tidak usah, terima kasih."

Namun, Ryoma Ryuzaki menginjak-injak pengabdian dan cinta cewek itu.

"Aku sedang tidak nafsu makan."

Satu kalimat tunggal. Dengan satu pernyataan itu, semua usahanya selama satu setengah bulan terakhir ditiadakan.

Dia sudah berusaha sangat keras untuk menyenangkan hati Ryoma Ryuzaki. Ayam goreng dan hamburger bukanlah makanan beku. Makanan-makanan dibuat dari awal. Dia rela bangun jam empat pagi setiap pagi dan meluangkan waktu untuk membuat bento, tetapi… semua usaha itu dihancurkan dengan satu pernyataan.

Cewek normal tidak akan menyukai cowok yang kayak gitu.

Seseorang akan merasa muak dengan Ryoma Ryuzaki, yang menginjak-injak kasih sayang mereka.

Namun, Yuzuki Hojo tidak bisa melakukan itu.

Dia tidak cukup berkemauan keras untuk menyangkal orang lain.

Makanya Yuzuki Hojo menerimanya.

"Iya, maafkan aku. Kalau kamu tidak nafsu makan, ya mau bagaimana lagi. Sepertinya aku memang sedikit sombong… Ryoma-san, maafkan aku."

Yuzuki Hojo menundukkan kepalanya.

Kirari Asakura, yang memperhatikannya dari dekat, memasang ekspresi sedih di wajahnya sambil memegangi dadanya.

(Yuzu-chan, kamu tidak boleh melakukan ini...)

Dia memang sudah tahu.

(Cuma menerima dan… memanjakannya saja bukanlah satu-satunya cara untuk 'mencintai', loh.)

Kalau mereka lakukan sesuatu yang salah, beri tahulah mereka kalau mereka melakukan sesuatu yang salah.

Kalau mereka melakukan kesalahan, tegur mereka dan beri tahu mereka untuk tidak melakukan itu lagi.

Itu sangat, sangat penting.

Kirari Asakura sudah tahu dari pengalaman kalau sekadar menerima dan memanjakan saja... bukanlah cinta.

Suatu kali, saat Kotaro Nakayama mengucapkan kata-kata kasar padanya, dia jadi sangat marah.

Tetapi menatap ke belakang dari waktu ke waktu, Kirari menyadari kalau itu merupakan cara Kotaro menceramahinya.

Karena itu dia dapat menatap ke depan lagi.

Jadi, kelakuan Yuzuki Hojo saat ini tampaknya kurang tepat.

(Hah… aku tidak tahu mesti berbuat apa lagi.)

Dia sedang menderita.

Cowok yang dia cintai yang sudah hancur dan saingan yang sudah menerimanya begitu... Kalau semuanya terus berlanjut, perasaan Kirari Asakura tidak akan terbalaskan.

Dia juga tidak suka itu... tetapi yang terpenting, dia paling khawatir kalau dua orang macam itu akan terus berada di jalan kehancuran ini.

(Apa ini kisah yang aku pilih untuk diceritakan...?)

Kirari Asakura cuma bisa mengeluh pada kisah komedi romantis sulit yang ada di depan…

Support kami: https://trakteer.id/lintasninja/

←Sebelumnya           Daftar Isi          Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama