Nyanta to Pomeko – Seri 1 Bab 3

Bab 3
Ranjau Darat

Setelah aku menutup pintu itu, aku menyesali itu cuma sedikit.

–Aku tidak bisa membiarkannya pergi.

Aku seharusnya hanya membalas, tetapi aku bilang sesuatu yang tidak perlu.

Tidak ada gunanya untuk menyesalinya.

"Kamu, minggirlah––"

Ada Shinozuka-san di depanku. Dia melihatku seolah-olah dia menatap diriku yang menghalangi jalannya.

Tetapi aku bisa tahu. Dia tidak menatapku. Dia hanya bertanya.

"Permisi...."

Aku menyingkir dan Shinozuka-san berjalan menuju ruang kelas.

Dia pasti telah melupakan sesuatu.

Aku berhasil sampai ke ruang audio-visual sebelum Saito-san datang.

Pada saat istirahat makan siang, aku memakan bekal makan siangku di mejaku dan membaca buku. 

Tidak ada gunanya mengkhawatirkan Saito-san. Mari kita lupakan saja tentang itu.

Beberapa siswa-siswi mengobrol denganku selagi aku baca.

Aku tidak suka hiruk pikuknya kelas, aku benar-benar ingin makan di atap atau beberapa tempat lain, tetapi itu dilarang jadi aku tidak punya pilihan lain.

Tetap saja, jumlah siswa-siswi di ruang kelas mengejutkannya hanya sedikit karena banyak dari mereka pergi ke kelas sebelah untuk bermain atau pindah ke halaman.

Seperti biasa, hanya area di sekitarku dan Shinozuka-san yang sepi.

Saito-san terlihat depresi, jadi teman-temannya di belakang selalu menghiburnya.

Tampaknya, Saito-san tidak kelihatan sudah menyebutkan sesuatu tentangku.

Namun, aku bisa merasakan tatapan mata siswa-siswa yang di belakang padaku dari beberapa waktu yang lalu.

Itulah semacam lirikan yang kukenal. Kecurigaan dan rasa keadilan yang bengkok.... dan kecemburuan?

–Mari kita lupakan saja tentang itu dan tidur sajalah.

Aku baru saja mau menutup bukuku dan tidur ketika seorang siswi dari kelasku, yang aku tidak tahu namanya, mendekatiku.

"Hei, hei, Shin-kun. Bisakah aku makan siang denganmu? Oh, kamu sudah selesai makan. Kalau begitu mari kita bicara!"

Inilah jenis lain dari ranjau darat. Itulah salah satu dari ranjau darat yang kamu jatuhkan di akhir percobaan untuk bergaul.

Itu terjadi padaku ketika aku masih SMP.

Itulah di suatu masa di musim dingin yang dingin.

Ada seorang siswi yang datang untuk mengobrol ketika aku sedang sendirian. .... Aku lupa nama keluarganya, dia memanggil dirinya sendiri Nanako. Setelah kejadian dengan Saito-san, aku dibenci oleh orang-orang di sekitarku. Aku telah menutup pikiranku padanya.

Si Nanako ini akan datang padaku setiap jam istirahat.

Setiap siswa-siswi yang ada di sekitarku menghentikan gadis itu. –Kamu juga akan diserang, dianiaya, ditipu, dan dip*rkosa.

Tetapi Nanako, yang aku lupa nama keluarganya, tersenyum dan mencoba terlibat denganku.

Sebelum aku menyadarinya, aku secara bertahap menceritakan gadis yang cerah dan periang itu tentang situasiku.

Itu bukan berarti aku akan.... menyukainya atau apalah. Itu juga tidak berarti aku tidak suka padanya. Mungkin aku hanya memiliki masa sulit karena sendiri.

Suatu hari, dia mengundangku ke karaoke.

Aku ragu-ragu. Dua orang pria dan dua orang wanita di ruangan tertutup. Itu mungkin akan memicu sebuah rumor.

Dia bilang dia membawa seorang teman bersamanya.

Aku pikir mungkin aku bisa kembali ke kehidupan normalku.

Iya, aku memang naif. Aku seharusnya merilekskan pikiranku

"Kamukah orang yang bermain-main dengan Nanako? Kamu pria yang busuk, bukan? Itu menjijikkan."

"Nanako? Apa kamu pikir dia akan datang?"

"Maksudku, keluarkan saja tasmu. Kami akan bermain dengan isi-isinya!"

Aku mengerti. Aku telah dikhianati beberapa kali.

Aku pergi ke kotak karaoke yang ditunjuk dan mendapati sekelompok pria genit. Aku penasaran apakah mereka siswa-siswa dari SMP lain.

Salah satu dari pria-pria genit itu sedang teleponan dengan seseorang.

Dia menahan ponselnya dengan mode berbicara (speaker).

'Oh, apa kamu mendengarkannya juga, Shin-kun? Aku tidak bisa ke sana... tetapi jika kamu mau, kamu bisa nongkrong bareng pria-pria itu! Mereka semua orang-orang yang baik!'

Itu suaranya yang familier.

Aku mengerti, bermain dengan mereka hah....

Suara tertawa para penipu menggema melalui kotak karaoke.

Aku membenci diriku sendiri karena mengulangi kesalahan yang sama.

Aku masih belum bisa ingat bagaimana caranya aku melarikan diri. Aku punya perasaan kalau aku menyebabkan masalah untuk keluargaku lagi. Kupikir adik tiriku akan mengolok-olokku.

Tidak ada air mata yang keluar dari mataku. Sebagai gantinya, aku ingat dengan luka lamaku dari Saito-san berdenyut rasa sakit.

"Hei, heii, Shin-kun? Kamu terlihat menjauh, apa semuanya baik-baik saja?"

Aku baik-baik saja. Aku tidak masalah. Aku bukan diriku yang dulu.

"Terima kasih telah perhatian padaku. Tetapi aku sedang membaca——"

"Iya, kamu baru saja ingin menutupnya, bukan? Ayolah, mari kita mengobrol!"

Aku tidak merasakan apa-apa selain niat baik darinya. Jangan menyerah karena ini. Kamu akan berakhir dengan penyesalan.

Namun, dia gadis yang cukup pemaksa. Aku bahkan tidak tahu namanya.

Aku melirik ke orang yang duduk di sebelahku, Shinozuka-san.

—Haruskah aku dibenci sampai segitunya padahal aku tidak menyebabkan masalah.

Shinozuka-san terlihat kesal dengan kerutan di antara kedua alis matanya.

Dia terlihat menyeramkan, tetapi aku rasa itu seperti yang biasanya.

Aku memutar kata-kataku dengan sendirinya.

"Shinozuka-san, aku telah selesai membaca yang ini, jadi tolong pinjamkan aku buku itu."

"Eh? Shi-Shinozuka-san?"

Aku tidak tahu bagaimana aku bilang ini. Aku yakin dia lebih memilih untuk memiliki kedamaian dan ketenangan juga.

"............. Hei, lihat."

Shinozuka-san memberikanku buku itu dengan tatapan yang sangat jijik di matanya.

Aku bisa merasakan nuansa "Jangan seret aku ke masalah ini."

Dia tidak melempar buku itu padaku, menanganinya dengan hati-hati.

Aku memberikan bukuku pada Shinozuka-san juga.

"Terima kasih banyak...."

Kami mulai membaca buku dalam hati.

Tidak ada yang ingin terlibat dengan Shinozuka-san. Dia dibenci. Ada banyak sekali rumor buruk.

Kami bahkan tidak tahu kebenaran tentang rumor-rumor itu, tetapi orang-orang menilai sekelompok orang lain berdasarkan rumor.

Aku mau orang-orang yang seperti itu menjauh dariku.

Seorang siswi di kelasku, yang bahkan tidak kutahu namanya, melihat ke arahku dan Shinozuka-san beberapa kali dan berbalik arah untuk kembali ke teman-temannya.

Sekarang kalau aku pikir lagi, mungkin aku seharusnya mengabaikannya dan menjauh.

Aku tidak tahu apa yang kulakukan ini.

Ketika dia pergi, aku bahkan tidak tahu namanya, Shinozuka-san dan aku bertukar buku kembali dalam keheningan.

——————————————————————————————

"Miyu~ sekarang dalam suasana hati yang baik dan ingin pergi ke karaoke~"

"Itu benar, Miyu! Aku akan mentraktirmu minuman."

"Jika kamu butuh apapun, bilang saja pada kami, oke? Kami teman-temanmu dan kami akan melindungimu!"

"Iya, itu benar, teman-teman! Mari kita pergi ke karaoke!"

Kelompok yang menghadap ke belakang selalu bermaksiat. Mereka selalu tampak bertarung untuk memperebutkan singgasana yang tidak terlihat.

–Mari kita pulang lebih awal, aku tidak bisa diganggu dengan terlibat dengan siapapun. Aku harus memperbarui novelku hari ini. Aku menulis papan statusku bahwa aku akan memperbaruinya malam ini.

Aku mendengar sebuah suara yang familier.

Aku ingin mengabaikannya jika aku bisa.

"A-Abang! Pulanglah bersamaku! Li-lihat, aku punya banyak sekali belanjaan yang harus kubeli yang Ibu suruh aku lakukan dan aku ingin Abang membawakannya!"

Aku tidak bisa mengabaikannya karena kami keluarga. Aku akan terlibat masalah lagi dengan keluargaku.

Adik tiriku mendatangi ruang kelasku.

Ini adalah pertama kalinya dia melakukan ini.

Tetapi jika ini urusan keluarga, aku tidak bisa apa-apa selain.... melakukannya.

"Baiklah. Kasih saja Abang daftar belanjanya. Abang yang akan membelinya, jadi pulang duluan saja, Haruka-san."

"Eh, ah uu... daf-daftarnya di dalam... kepala Haruka, karena aku menghilangkannya. Iya, jadi pergilah bersamaku!"

Sia-sia saja untuk menanyakannya. Mari kita selesaikan saja ini.

"..... Dimengerti."

Aku bangun dari bangkuku.

Tatapan dari para lelaki menyakitkan. Mereka tampak cemburu kalau aku pergi keluar dengan adik tiriku yang cantik.

Ini sangat merepotkan.

Kapan ini dimulai? Selagi aku tumbuh lebih tinggi saat percepatan pertumbuhanku. Aku berusaha untuk bersih dan serius tentang kehidupan sekolahku agar tidak menyebabkan masalah untuk keluargaku. Aku menulis novel sebagai hobi di masa senggangku. Itulah semua yang kulakukan.

Sejak saat itu, aku punya lebih banyak pengakuan dan ranjau darat yang merepotkan. Dan sekarang masih seperti itu.

Lirikan yang tidak setuju dari para lelaki itu menusukku.

Aku memberikan mereka senyum palsu, dan tekanan dari tatapan mereka melemah.

Iya, itu penting untuk melepasnya pergi.

Kami meninggalkan sekolah.

Aku jalan beberapa langkah di belakang adik tiriku.

'Jika aku berjalan bersama kriminal, mereka akan berpikir kalau aku anak bandel. Menjauhlah dariku!'

'Para penganiaya menjijikkan, menjauhlah darinya!'

'Kasihan Haruka, dia tidak bisa tahan tinggal di bawah atap yang sama dengan anak m*s*m...."

Aku harus menjaga jarakku dari adik tiriku atau ibu tiriku akan marah padaku.

Adik tiriku juga akan mengamuk.

"Hei, heei, ki-kita bisa berjalan bersama? Me-mengapa Abang jauh sekali?"

Jadi aku menyadari kalau jarak ini sudah optimal.

Ketika adik tiriku berhenti, aku juga ikut berhenti.

Jika dia mencoba untuk lebih dekat dariku, aku pindah menjauh.

"...Ini sangat menyebalkan."

"Maafkan Abang, tetapi Ibu Tiri akan sangat marah nantinya."

Ketika aku menyebutkan nama ibu tiriku, adik tiriku memberiku tatapan pahit dan mulai berjalan lagi. Dia terlihat persis seperti ibu tiriku.

"Hei, hei, aku akan membawa satu juga. Itu berat, kan?"

Aku menaruh bahan makanan yang aku dengar dari adik tiriku ke keranjang dan berlari di sekitar pasar swalayan terpisah dengannya. Belanjaannya selesai dengan cepat.

Adik tiriku tampak tercengang, tetapi belanjaanku selalu seperti ini.

"Tidak masalah. Jika Abang membiarkan Haruka-san membawa bawaan Abang, Ibu Tiri akan marah."

"Ah, i-iya ...., mari kita pergi kalau begitu."

Adik tiriku dan aku meninggalkan pasar swalayan lagi, menjaga jarak kami.

Jarak ini adalah faktor yang menenangkan bagiku.

"Wah.... ada seorang yankee sedang jalan-jalan.... menyeramkan."

Shinozuka-san, mengenakan seragam sekolah dengan tas belanjaan tergantung di tangannya, berjalan dari arah depanku.

Dia terlihat luar biasa dengan ponselnya di tangannya.

"Aku takut pada cengiran....hah? Seragam kita?"

Shinozuka-san dan aku saling memandang satu sama lain. Tatapan yang melotot.... Alis mataku mengkerut seperti biasa, seolah-olah aku rabun jauh.

Aku mencoba senyum dengan senyuman palsu seperti yang biasa kulakukan, tetapi aku tidak bisa.

Tetapi aku tidak bisa.

Aku tidak tahu mengapa.

Aku harus menjaga wajah datarku. Bukankah aku ingin menyembunyikannya?

–Kami hanya berpapasan.

Tanpa salam, tanpa sapa, kami hanya bertukar tatapan.

Itu keseimbangan yang baik.

"Hei, hei, Abang, apa dia dari sekolah kita? Ah, itu gadis yankee yang aku dengar tentangnya! Dia punya tatapan yang menyeramkan di matanya! Maksudku, orang-orang yankee memang.... payah."

"......"

"Eh, apa? Aku tidak bisa mendengar Abang! Lebih dekat lagi dong!"

Kata-kata adik tiriku membuat ngilu telingaku.

Kami berjalan melewati sebuah taman.

"Hei, Abang! Taman ini membawakan kembali kenangan! Kita memiliki banyak kesenangan di sini!"

".....Mari kita pulang!"

"Ayolah, mari kita bermain seperti kita biasa dulu."

Adik tiriku berjalan ke taman.

Aku mengeluarkan desahan dan mengikutinya.

"Wawa, ini membawakan kembali kenangan, Abang dan aku bisa membuat istana pasir di sini!"

"Iya, kita dulu begitu."

–Aku mengingatnya. Tetapi bukan kenangannya.

Tas belanjanya masuk ke lenganku dan membuatku sakit. Aku mau pulang secepat mungkin. Ada orang-orang yang menungguku.

Adik tiriku tiba-tiba jadi terdiam.

"Hei, Abang, .... Mengapa ya? Haruka dan Abang tidak lagi dekat...."

".......Eh."

Aku tidak bisa apa-apa selain berteriak. Aku rasa itu mungkin saja semacam syok.

"Abang tahu kan, Abang sangat setia pada Shizuka-chan sehingga Abang tidak pernah menghiraukan Haruka sama sekali. .... Itu membuatku ingin bersikap kejam padamu ketika aku masih anak-anak..."

Aku mengerti, pengertian yang berbeda akan benar dan salah.

Mempercayai rumor dan menyerangku dengan buruk. Berbohong pada orang tua kami.

Aku tidak berpikir tindakanku akan menyakiti siapapun.

Adik tiriku naik ke ayunan dan terus berbicara.

"Ini salah Abang karena tidak peduli padaku, Abang tahu? Hehe, tetapi, aku tahu sekarang kalau rumor tentang Abang selama ini salah..... tidak mungkin Abangku, yang sangat keren, akan melakukan hal semacam itu! Aku satu-satunya orang yang percaya pada Abang!!"

Adik tiriku melompat turun dari ayunan.

Ayunan itu berayun dengan suara melengking.

Aku tetap melihatnya.

Aku menenangkan pikiranku. Aku tidak ingin membuat kesalahan.

Sebuah senyuman palsu muncul dari wajahku.

Aku tidak punya hak untuk berbicara dengan lantang pada keluargaku.

Dan sekarang, aku melakukannya.

"Maafkan Abang..... tolong jangan panggil aku Abang lagi mulai saat ini. Masa lalu tidak akan berlalu begitu saja. ....., Haruka-san, mari kita pulang."

Adik tiriku memiliki tampang yang bingung di wajahnya.

Tampaknya kata-kataku tidak dimengerti.

Apakah kamu benar-benar memaknainya dan apakah kamu sudah lupa dengan apa yang kamu katakan dan lakukan di masa lalu?

"Eh, iya.....iya? A-Apa maksud Abang? Hei, hei, Abang? Ehm Makoto-kun? Oke, mari kita pulang."

Aku rasa aku bisa saja membuangnya jauh-jauh.

Itu hanya akan jadi masalah jika itu menyebabkan masalah dengan keluargaku.

"Maafkan aku, makanan bekunya meleleh, jadi aku pulang duluan. Tolong pulangnya agak lambat ya." (TL Note: Sudah tidak mau dipanggil Abang kan, jadi gue turutin, wkwk)

"Eh, A-Abang?"

Aku mulai berlari. Tasnya mulai masuk ke lenganku. Itu tidak usah dipedulikan.

Aku terus berlari sampai aku ngos-ngosan.

Rasa sakit secara fisik jauh lebih menyenangkan.

–––——————————————————————————

Pikiranku kacau dan tulisanku tidak sebagus seperti yang aku inginkan.

Aku mendapatkan sebuah pesan di kotak notifikasi.

–Ada sebuah pesan.

Nama: Pomeko

Subjek: Menyemangati!

"Pembaruan hari ini adalah satu-satunya yang membuatku tetap rasional! Aku sangat menantikan kelanjutannya! Hehe, aku sangat pemurung di sekolahku sehingga satu-satunya hal yang menolongku adalah cerita-cerita Sensei..... Semoga sukses!"

Ketika aku melihat pesan itu, aku mampu untuk melanjutkan tulisanku.

Aku mampu untuk menempatkan pikiranku dalam keadaan datar.

Terima kasih, Pomeko––.

Lalu, di larut malam, aku mendengar tangisan dan teriakan dari kamar adik tiriku.

"Eeeee! I-itu apa maksudnya itu?! Me-mengapa... A-Abang...  ampun... A..."

Aku berhasil memostingnya kemudian pada hari itu.

–––——————————————————————————


←Sebelumnya              Daftar Isi             Selanjutnya→

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama